• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Perangkap

Perangkap yang dirancang memiliki tipe multiple live-trap yaitu perangkap yang dapat menangkap lebih dari satu ekor tikus. Perangkap yang dirancang berbentuk balok dan memiliki ukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm (panjang x lebar x tinggi). Pintu masuk perangkap dipasang pada dua sisi perangkap yang berukuran 10 cm x 5 cm (panjang x lebar), sedangkan jarak dari dasar perangkap ke pintu masuk adalah 5 cm. Pintu masuk berbentuk lorong untuk mempermudah tikus menemukan pintu masuk perangkap.

Rodentisida

Rodentisida dengan bahan aktif brodifacoum dan bromadiolone dipilih untuk pengujian tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah karena kedua jenis rodentisida ini merupakan racun kronis yang memiliki kelebihan seperti: tidak menyebabkan jera umpan pada tikus, mudah dalam pengaplikasian terhadap pengendalian tikus, tidak memerlukan umpan pendahuluan, memiliki konsentrasi rendah sehingga mudah diterima oleh tikus, memiliki harga relatif terjangkau, dan terdapat antidot bagi makhluk bukan sasaran yang keracunan rodentisida (Priyambodo 2003).

Perilaku Tikus pada Pengujian di Laboratorium

Perilaku Tikus di Dalam Arena

Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mula-mula mengonsumsi umpan gabah yang berada di dalam perangkap serta umpan di luar perangkap dengan jumlah konsumsi yang sangat sedikit ketika pengujian pendahuluan dan pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan dilakukan. Setelah mengetahui bahwa umpan tersebut tidak menimbulkan reaksi buruk di dalam tubuhnya, tikus kemudian melanjutkan untuk mengonsumsinya.

Pada saat arena pengujian ditutup dengan menggunakan kain hitam, tikus mulai aktif mencari makan. Tikus termasuk hewan nokturnal atau aktif pada

20

malam hari sehingga ketika suasana di dalam arena gelap, tikus dapat melakukan kegiatannya untuk mencari makan.

Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mengelilingi perangkap dan setelah tertarik serta merasa aman, tikus tersebut mencari pintu masuk ke dalam perangkap. Adanya lorong menuju pintu masuk dapat membantu tikus menemukan pintu masuk perangkap. Setelah masuk di dalam perangkap, tikus mencoba untuk mengonsumsi sedikit umpan gabah yang berada di dalam perangkap. Akibat tidak adanya pengaruh apa-apa maka tikus melanjutkan untuk mengonsumsinya.

Pada pengujian perangkap vs. rodentisida, ketika dihadapkan dengan dua jenis perangkap dan dua jenis rodentisida, ketiga jenis tikus cenderung menyukai untuk tetap berada di dalam wadah plastik atau bumbung bambu untuk bersembunyi. Setelah dua hari berada di dalam arena, tikus mulai dapat beradaptasi dengan perangkap yang disediakan. Hal ini terlihat dari seringnya tikus yang masuk ke dalam arena. Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mengonsumsi rodentisida yang disediakan setelah dua sampai tiga hari berada di dalam arena. Ketiga jenis tikus yang mengonsumsi rodentisida terjadi akibat adanya aroma khas yang dapat menarik tikus untuk mengonsumsinya.

Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah lebih menyukai perangkap yang berada di bagian pojok arena pengujian. Pengacakan letak perangkap yang dilakukan setiap hari pengamatan tidak memberikan banyak pengaruh terhadap hasil pemerangkapan. Pada ketiga pengujian yang dilakukan, tikus tidak merasa takut untuk masuk dan berada di dalam perangkap, dimana kejadian ini ditunjukan dari seringnya tikus masuk ke dalam perangkap. Tidak adanya rasa takut tikus untuk masuk ke dalam perangkap karena pada setiap pengamatan, tikus yang telah masuk ke dalam perangkap kemudian dilepaskan untuk dibebaskan kembali keluar arena pengujian.

Untuk menghilangkan bau urin di sekitar perangkap yang dapat menyebabkan tingkat kecurigaan tikus terhadap perangkap, maka setiap pengamatan yang dilakukan perangkap dibersihkan dengan cara mengelapnya dengan kain basah. Akan tetapi pembersihan terhadap perangkap ini tidak

berpengaruh terhadap pemerangkapan antara tikus yang masuk ke dalam Perangkap Pasar dan Perangkap Baru.

Jumlah Umpan yang Dikonsumsi Tikus

Tikus Pohon (Rattus tiomanicus). Pada saat pertama kali dilepaskan ke dalam arena, tikus pohon menunjukan perilaku diam di salah satu sudut arena dan tidak banyak bergerak. Setelah beberapa saat, tikus masuk ke dalam wadah plastik yang disediakan, untuk bersembunyi. Tikus pohon yang memiliki bobot tubuh lebih dari 70 g dan kurang dari 70 g, menunjukan perilaku yang sama ketika dilepaskan ke dalam arena.

Tikus pohon mengalami kenaikan bobot tubuh yang berkisar antara 25 g sampai 50 g setelah dilakukan ketiga pengujian. Apabila dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya, tikus pohon mengalami kenaikan bobot tubuh yang lebih tinggi.

Sebagian besar tikus pohon mengonsumsi umpan gabah yang disediakan pada hari pertama ketika dilakukan pengujian pendahuluan dan sebagian tikus pohon yang digunakan untuk pengujian selanjutnya (perangkap dan perangkap vs. rodentisida vs. umpan) mengonsumsi umpan di dalam perangkap serta di luar perangkap pada hari kedua pengamatan.

Ketika pengujian pendahuluan dilaksanakan, tikus pohon banyak yang mengonsumsi umpan gabah yaitu tiga gram dari jumlah total umpan gabah, sedangkan pada pengujian perangkap umpan gabah yang dikonsumsi tikus saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara dua sampai empat gram.

Pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, tikus pohon lebih menyukai untuk mengonsumsi umpan yang berada di luar perangkap dengan jumlah gabah dan beras yang dikonsumsi pada saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara dua sampai lima gram.

Tikus Rumah (Rattus rattus diardii). Pada saat pertama kali dilepaskan ke dalam arena, tikus rumah menunjukkan perlaku yang aktif bergerak. Tikus rumah berputar-putar mengitari arena dan memanjat ram kawat penutup arena. Setelah beberapa saat, tikus rumah masuk ke dalam bumbung bambu untuk bersembunyi. Tikus rumah yang memiliki bobot tubuh lebih dari 80 g

22

menunjukan perilaku yang lebih aktif bergerak dibandingkan dengan tikus yang memiliki bobot kurang dari 80 g. Setelah dilakukan pengujian, tikus rumah mengalami kenaikan bobot yang berkisar antara 17 g sampai 23 g dari bobot tubuh awal.

Tikus rumah mengonsumsi umpan gabah yang disediakan saat pengujian pendahuluan pada hari pertama setelah tikus dilepaskan ke dalam arena, sedangkan pada pengujian perangkap serta pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, sebagian tikus rumah mengonsumsi umpan di luar perangkap pada hari pertama serta sebagian lainnya mengonsumsinya pada hari kedua.

Pada saat pengujian pendahuluan dilaksanakan, tikus rumah banyak yang hanya mengonsumsi umpan gabah kurang dari dua gram dari jumlah total umpan gabah, sedangkan pada pengujian perangkap, umpan gabah yang dikonsumsi tikus saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara satu sampai dua gram. Pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, tikus rumah lebih menyukai untuk mengonsumsi umpan yang berada di luar perangkap dengan jumlah gabah dan beras yang dikonsumsi pada saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara satu sampai tiga gram.

Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Tikus sawah ketika dilepaskan ke dalam arena menunjukkan perilaku yang sering bergerak dan mengitari seluruh bagian arena. Tikus sawah yang memiliki bobot tubuh lebih dari 60 g lebih aktif bergerak dibandingkan dengan yang memiliki bobot tubuh kurang dari 60 g. Setelah dilakukan pengujian, tikus sawah mengalami kenaikan bobot tubuh berkisar antara 17 g sampai 23 g.

Tikus sawah mengonsumsi umpan gabah yang disediakan saat pengujian pendahuluan, pengujian perangkap, dan pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan pada hari pertama setelah dilepaskan ke dalam arena.

Pada saat pengujian pendahuluan dilaksanakan, tikus sawah mengonsumsi umpan gabah berkisar antara dua sampai tiga gram dari jumlah total umpan gabah, sedangkan pada pengujian perangkap, umpan gabah yang dikonsumsi tikus saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara tiga sampai empat gram. Pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, tikus sawah lebih menyukai untuk mengonsumsi umpan yang berada di luar perangkap dengan jumlah gabah

dan beras yang dikonsumsi pada saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara tiga sampai lima gram.

Pengujian Perangkap pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah

Posisi Tikus

Pada pengujian perangkap, data yang diperoleh menunjukkan bahwa ketiga jenis tikus yang diuji lebih banyak tertangkap pada Perangkap Pasar dibandingkan pada Perangkap Baru dan di luar. Hasil ini terlihat pada Tabel 1 bahwa persentase ketiga jenis tikus yang masuk pada Perangkap Pasar lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dibandingkan dengan Perangkap Baru dan posisi tikus di luar, sedangkan posisi ketiga jenis tikus pada Perangkap Baru tidak berbeda nyata dengan di luar perangkap.

Tabel 1 Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap

Posisi Tikus (%)

Posisi Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah

Perangkap Baru 20,37 bB 9,26 bB 22,22 bB Perangkap Pasar 59,26 aA 70,37 aA 55,55 aA Luar 20,37 bB 20,37 bB 31,42 bB Pr > F 0,0001 0,0001 0,0066

Keterangan: Angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan

tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)

Sebagian dari ketiga jenis tikus yang diuji tidak memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi terhadap perangkap. Hal ini dilihat dari tingginya tikus yang masuk ke dalam dua perangkap dibandingkan dengan tikus yang berada di luar perangkap.

Posisi tikus pohon yang berada di luar perangkap dengan yang tertangkap pada Perangkap Baru menunjukan nilai yang sama. Kejadian ini dikarenakan tikus pohon lebih sulit menjangkau dan masuk ke dalam Perangkap Baru.

Sebanyak 20,37% dari total 54 pengamatan tikus pohon masih mengalami kecurigaan terhadap kedua perangkap. Pada saat pengamatan, sebagian tikus pohon yang dibebaskan kembali dari perangkap ke dalam arena memperlihatkan

24

bahwa keesokan harinya tikus pohon lebih memilih untuk berdiam di bumbung bambu atau wadah plastik di luar arena.

Tidak masuknya kembali tikus ke dalam perangkap disebabkan oleh tikus yang merasa tidak bebas setelah masuk ke dalam perangkap. Adanya tikus yang tetap memasuki perangkap hingga akhir pengujian menunjukkan bahwa tikus tersebut merasa aman di dalam perangkap dan menganggap bahwa perangkap sama dengan bumbung bambu atau wadah plastik, sebagai tempat persembunyian tikus.

Posisi tikus rumah dan tikus sawah yang berada di luar perangkap lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang masuk ke dalam Perangkap Baru. Hal ini dikarenakan pada saat dilepaskan ke dalam arena tikus rumah dan tikus sawah lebih banyak mengelilingi arena dan aktif untuk mengenali arena sehingga hal ini menyebabkan kedua jenis tikus tersebut lebih lama berada di luar perangkap dibandingkan untuk masuk ke dalam perangkap.

Tikus sawah cenderung lebih curiga terhadap perangkap yang tersedia, kejadian ini ditunjukan dari total tikus sawah yang masuk ke dalam Perangkap Baru dan Perangkap Pasar lebih rendah dibandingkan dengan tikus pohon dan tikus rumah. Total tikus sawah yang masuk pada kedua perangkap adalah 77,77%, sedangkan dua jenis tikus lainnya yaitu 79,63%.

Pada pengujian ini tikus rumah lebih tinggi terperangkap pada Perangkap Pasar, sedangkan tikus sawah lebih tinggi terperangkap pada Perangkap Baru dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya. Ketertarikan ketiga tikus terhadap setiap perangkap yang berbeda disebabkan oleh adanya keragaman pada individu tikus yang dipengaruhi oleh faktor genetik.

Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah yang diuji tidak mengalami

trap-shyness karena tikus tidak merasa bahaya ketika masuk ke dalam perangkap. Selain itu, adanya perlakuan yang membebaskan tikus yang telah terperangkap untuk dikeluarkan kembali ke arena menyebabkan tikus terbiasa dan pada keesokan harinya tikus tidak curiga memasuki perangkap kembali.

Pada pengujian ini, terdapat perbedaan antara tikus yang masuk ke dalam dua jenis perangkap dengan tikus yang berada di luar perangkap. Hal ini dilihat apabila posisi tikus di kedua perangkap dijumlahkan dan dibandingkan dengan

posisi tikus di luar perangkap maka akan menghasilkan nilai yang berbeda. Pada tikus pohon dan tikus rumah jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 79,63%, sedangkan yang berada di luar sebesar 20,37%; pada tikus sawah jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 77,77%, sedangkan yang berada di luar sebesar 31,42%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketiga jenis tikus yang diuji lebih tertarik untuk masuk ke dalam perangkap dibandingkan dengan di luar perangkap karena tidak adanya umpan di luar perangkap.

Perangkap Pasar dengan bentuk balok persegi, memiliki pintu masuk tikus dengan ukuran lebar sehingga memudahkan tikus untuk masuk ke dalam Perangkap Pasar. Perangkap Baru memiliki bentuk balok persegi dan memiliki dua buah pintu masuk tikus, akan tetapi ukuran pintu lebih kecil dibandingkan dengan Perangkap Pasar. Tanjakan antara dasar perangkap ke pintu masuk pada Perangkap Baru lebih curam dibandingkan dengan Perangkap Pasar yang memiliki tanjakan lebih landai sehingga terjangkau bagi tikus untuk memasukinya.

Konsumsi Umpan Gabah

Hasil yang didapat menunjukkan bahwa tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah lebih banyak mengonsumsi gabah yang terdapat pada Perangkap Pasar dan berbeda sangat nyata dengan Perangkap Baru (Tabel 2). Pada Perangkap Baru, umpan gabah yang dikonsumsi oleh ketiga jenis tikus berbanding lurus dengan posisi tikus. Posisi tikus sawah pada Perangkap Baru lebih tinggi dibandingkan dengan tikus pohon dan tikus rumah dan hal ini ditunjukan dari adanya konsumsi umpan gabah yang lebih banyak dibandingkan dengan dua jenis tikus lainnya.

26

Tabel 2 Konsumsi umpan gabah tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap

Konsumsi Umpan Gabah (g) *

Perangkap Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah Perangkap Baru 1,835 bB 0,805 bB 2,126 bB Perangkap Pasar 5,707 aA 4,438 aA 5,873 aA Pr > F 0,0001 0,0001 0,0009

Keterangan: Angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan

tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)

*) Konsumsi tikus terhadap gabah relatif terhadap 100 g bobot tubuh (%)

Tikus sawah lebih banyak mengonsumsi umpan gabah dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya karena tikus sawah lebih sering dijumpai pada habitat persawahan dan terbiasa untuk mengonsumsi umpan gabah sehingga mudah mengenali umpan gabah yang disediakan (Sipayung et al, 1987). Hal ini dilihat dari banyaknya umpan gabah yang dikonsumsi oleh tikus sawah pada Perangkap Baru maupun Perangkap Pasar.

Pada Perangkap Pasar, umpan gabah yang dikonsumsi oleh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah berada dalam jumlah yang sama. Berdasarkan data posisi tikus (Tabel 1), tikus rumah yang terperangkap pada Perangkap Pasar lebih tinggi dibandingkan dengan tikus pohon, akan tetapi gabah pada Perangkap Pasar lebih tinggi dikonsumsi oleh tikus pohon. Hal ini karena tikus rumah biasa dijumpai di areal permukiman penduduk dimana gabah jarang tersedia sehingga tikus rumah kurang mengenali pakan gabah yang disediakan.

Bobot Tikus

Tikus yang digunakan dalam pengujian ini memiliki bobot tubuh yang berbeda-beda. Tikus pohon dan tikus rumah memiliki rata-rata bobot awal yang lebih besar dibandingkan dengan tikus sawah.

Tikus pohon dan tikus rumah yang diperoleh dari tempat penangkapan tikus di sekitar kampus IPB Dramaga beradaptasi di lingkungan masyarakat dan lebih sering mengonsumsi bahan makanan manusia, sehingga kedua jenis tikus ini memiliki bobot tubuh tikus yang besar. Sedangkan tikus sawah memiliki bobot tubuh yang lebih kecil karena pada saat di lingkungan persawahan, gabah yang tersedia tidak selalu berada dalam jumlah yang banyak. Tinggi dan rendahnya gabah dipengaruhi oleh hasil panen, sehingga mungkin saja tikus sawah yang ditangkap sedang tidak menghadapi musim panen sehingga jumlah gabah hanya sedikit yang dikonsumsi dan berpengaruh terhadap bobot tubuh tikus sawah.

Tabel 3 Rata-rata bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap

Bobot tikus (g)

Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah

Bobot awal 73,547 84,552 57,628

Bobot akhir 101,504 102,367 75,125

Perubahan 27,957 17,815 17,497

Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mengalami kenaikan bobot tubuh karena tikus yang digunakan dalam pengujian sedang mengalami pertumbuhan optimal sehingga adanya umpan gabah yang dikonsumsi memberikan pengaruh kenaikan bobot tubuh tikus.

Rata-rata bobot tubuh akhir ketiga jenis tikus mengalami kenaikan dari rata-rata bobot tubuh awal. Tikus pohon mengalami kenaikan bobot lebih tinggi dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya. Kenaikan bobot tubuh ini merupakan konversi energi dari jumlah gabah yang dikonsumsi oleh tikus pohon di kedua jenis perangkap selama pengujian dilakukan.

Tikus sawah memiliki total konsumsi umpan gabah yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya (Tabel 2), akan tetapi kenaikan bobot tubuh tikus sawah lebih rendah dibandingkan dengan tikus pohon karena sebagian gabah yang dikonsumsi oleh tikus sawah tidak seluruhnya terkonversi

28

untuk diubah menjadi energi sehingga tidak berpengaruh terhadap penambahan jumlah sel yang pada akhirnya tidak berpengaruh terhadap penambahan bobot tubuh tikus sawah.

Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah

Posisi Tikus

Hasil yang diperoleh dari pengujian perangkap dan rodentisida terhadap tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah menunjukkan bahwa posisi tikus tertinggi terdapat di luar perangkap (Tabel 4). Posisi tikus pohon dan tikus rumah pada Perangkap Pasar lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan Perangkap Baru.

Pada tikus pohon dan tikus rumah, posisi tikus pada Perangkap Baru berbeda nyata dengan Perangkap Pasar dan di luar perangkap, sedangkan posisi tikus pada Perangkap Pasar dengan di luar perangkap menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata.

Pada tikus sawah, posisi tikus pada Perangkap Baru tidak berbeda nyata dengan Perangkap Pasar dan berbeda nyata dengan di luar perangkap. Posisi tikus pada Perangkap Pasar dengan tikus di luar perangkap menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata.

Tabel 4 Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida

Posisi Tikus (%)

Posisi Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah

Perangkap Baru 12,41 bB 4,07 bB 18,89 bB Perangkap Pasar 41,11 aA 46,85 aA 30,74 ab AB Luar 46,48 aA 52,78 aA 50,37 aA 0,0437 0,0073 0,0148

Keterangan: Angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan

tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)

Sebagian tikus pohon yang dilepaskan ke dalam arena langsung memasuki perangkap yang disediakan dan sebagian lainnya lebih memilih untuk

bersembunyi di dalam bumbung bambu dan wadah plastik. Adanya tingkat keragaman yang berbeda pada individu tikus menyebabkan tikus pohon yang diuji tidak memiliki keseragaman perilaku ketika dimasukan ke dalam arena. Setelah dua hari pengamatan, tikus pohon terlihat sudah dapat beradaptasi dengan perangkap. Hal ini terlihat dari seringnya tikus yang memasuki perangkap.

Tikus rumah yang termasuk ke dalam golongan tikus arboreal dan tikus sawah yang termasuk ke dalam golongan tikus terestrial, lebih lama berada di luar perangkap dan cenderung sulit untuk memasuki kedua perangkap. Jumlah tikus rumah dan tikus sawah yang berada di luar perangkap lebih besar dibandingkan dengan tikus pohon. Tikus rumah dan tikus sawah yang masuk ke dalam perangkap lebih sedikit dibandingkan dengan tikus pohon.

Pada pengujian ini Perangkap Baru lebih banyak dimasuki oleh tikus sawah, sedangkan Perangkap Pasar lebih banyak dimasuki oleh tikus rumah. Sebagian tikus rumah dan tikus sawah yang berada di luar perangkap merasa tertarik dengan perangkap yang disediakan, sehingga masuk ke dalam dua perangkap, akan tetapi jumlah tikus pohon yang masuk ke dalam dua perangkap masih jauh tinggi dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya karena sebagian tikus rumah dan tikus sawah masih memiliki kecurigaan yang tinggi terhadap dua jenis perangkap.

Pada pengujian ini, masuknya tikus ke dalam dua jenis perangkap dengan tikus yang berada di luar perangkap relatif tidak berbeda. Pada tikus pohon jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 53,52%, sedangkan yang tetap berada di luar 46,48%; pada tikus rumah 50,92% berbanding 52,78%; pada tikus sawah 49,36% berbanding 50,37%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketertarikan ketiga jenis tikus di dalam perangkap dan di luar perangkap relatif sama. Ketiga jenis tikus yang diuji dalam pengujian ini tidak mengalami trap-shyness dan tikus menganggap bahwa perangkap adaalah tempat persenbunyian yang sama dengan bumbung bambu atau wadah plastik.

Konsumsi Rodentisida

Hasil yang diperoleh dari pengujian konsumsi rodentisida terhadap tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah menunjukkan bahwa dua jenis rodentisida yang diuji memberikan hasil yang tidak berbeda nyata. Bromadiolone lebih

30

banyak dikonsumsi oleh ketiga jenis tikus dengan nilai konsumsi total 1,455 g dan rodentisida ini paling banyak dikonsumsi oleh tikus sawah. Rodentisida ini lebih disukai karena memiliki aroma khas yang dapat menyebabkan tikus lebih memilih untuk mengonsumsi racun tersebut. Hal ini juga dapat disebabkan tikus cenderung lebih menyukai makanan dengan bentuk patahan atau hancur dibandingkan dengan bentuk blok (Priyambodo 2002). Rodentisida bromadiolone berbentuk batangan dan dipatahkan sebelum digunakan. Brodifacoum lebih sedikit dikonsumsi dengan nilai konsumsi total 0,759 g dan rodentisida ini paling

Dokumen terkait