• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi masyarakat terhadap Tahura Bukit Barisan

Persepsi masyarakat Desa Dolat Rayat yang berada di Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Merdeka dan Desa Jarang Uda yang berada di Kecamatan Merdeka. Kabupaten Karo terhadap Tahura Bukit Barisan berada pada tingkat persepsi sedang (Gambar 1). Hal ini berdasarkan pada hasil jawaban dari semua responden.

Gambar 1. Persepsi masyarakat terhadap Tahura Bukit Barisan, Kawasan Hutan Sibayak II, Kabupaten Karo

Hasil penelitian diketahui bahwa seluruh responden sudah jarang bahkan tidak pernah lagi masuk ke dalam kawasan Tahura Bukit Barisan. Dengan kata lain bahwa interaksi antara masyarakat dengan sumber daya hutan sudah mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu aktivitas masyarakat (pekerjaan) dan lama bermukim. Mayoritas pekerjaan masyarakat ialah sebagai

Dolat Rayat Jarang Uda Merdeka

2,22 2,22 4,44 22,22 27,78 17,78 8,89 3,33 11,11 Persentase Persepsi Masyarakat

petani sehingga masyarakat menjadi lebih fokus melakukan kegiatan di lahan pertanian baik itu di lahan pribadi maupun buruh petani di lahan milik orang lain. Selain itu, masyarakat lokal hanya sebagian kecil bermukim lebih dari 60 tahun sehingga persepsi mengenai keberadaan Tahura Bukit Barisan masih minim. Tentu saja masyarakat lokal yang bermukim kurang dari 60 tahun akan memiliki pengalaman berinteraksi dengan sumber daya hutan lebih rendah daripada masyarakat lokal yang bermukim lebih dari 60 tahun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Umar (2009) yang menyatakan bahwa persepsi manusia terhadap lingkungan (environmental perception) merupakan persepsi spasial yakni sebagai interpretasi tentang suatu setting (ruang) oleh individu yang didasarkan atas latar belakang, budaya, nalar dan pengalaman individu tersebut. Walaupun demikian, masyarakat mengakui masih memiliki kepentingan terhadap sumber daya hutan baik secara langsung maupun tidak langsung antara lain sebagai sumber mata air, penghasil udara yang bersih bahkan disebut sebagai paru-paru dunia, pengatur iklim, dan mencegah bencana alam seperti banjir, erosi, dan tanah longsor sehingga masyarakat menyimpulkan bahwa keberadaan Tahura Bukit Barisan sangat penting. Maka dari itu, masyarakat dan hutan tidak dapat dipisahkan sebagaimana yang ditampilkan mengenai persepsi masyarakat terhadap sumber daya hutan antara lain persepsi tentang peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan, kondisi Tahura Bukit Barisan, kelembagaan pengelolaan Tahura Bukit Barisan, hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan, fungsi dan manfaat Tahura Bukit Barisan, keterlibatan masyarakat terhadap pengeloaan Tahura Bukit Barisan, keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan, sikap/attitude masyrakat terhadap Tahura Bukit Barisan.

Persepsi masyarakat terhadap peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Gambar 2, Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Mengenai pertanyaan terhadap 90 responden tentang peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan, hanya 24 responden yang tahu tentang peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan. Para responden menjawab bahwa peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan antara lain adanya undang-undang kehutanan yang mengatur bahwa hutan lindung harus dijaga dan dilestarikan, tidak ada penebangan liar, pengambilan humus. Namun, 52 responden tidak tahu sama sekali mengenai peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan dan wawasan yang dimiliki oleh masyarakat tentang hutan dan 14 responden ragu-ragu terhadap pengetahuan mereka mengenai peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan. Penyebabnya tidak jauh beda dengan responden yang tidak tahu sama sekali mengenai peraturan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan yaitu disebabkan oleh pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang hutan sangat

Peraturan dalam pengelolaan Tahura BB 57,77

15,56

26,67

rendah. Tinggi rendahnya pengetahuan dan wawasan yang dimiliki oleh masyarakat terhadap hutan juga dipengaruhi oleh pendidikan terakhir yang diemban oleh masyarakat yaitu sebagian besar masyarakat lulusan Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA).

Persepsi masyarakat terhadap kondisi Tahura Bukit Barisan

Gambar 3. Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah kondisi Tahura Bukit Barisan cukup baik

Pada pertanyaan mengenai kondisi Tahura Bukit Barisan yang dapat dilihat pada Gambar 3 bahwa dari 90 responden terdapat 48 responden memiliki persepsi bahwa kondisi Tahura Bukit Barisan cukup baik. Masyarakat mengatakan kondisi Tahura Bukit Barisan cukup baik karena adanya perlindungan hutan dan hutan masih terawat dengan baik. Namun 6 responden tidak tahu bagaimana kondisi Tahura Bukit Barisan karena adanya aktivitas lain yang dianggap lebih penting sehingga menyebabkan sikap kurang peduli terhadap hutan di sekitarnya dan 36 responden memiliki persepsi yang berbeda yaitu kondisi Tahura Bukit Barisan tidak baik disebabkan masih adanya pelanggaran- pelanggaran yang terjadi seperti pembalakkan liar dan adanya polusi. Hal ini juga

Kondisi Tahura BB 6,67

40

53,33

didukung dengan data sekunder dari pihak UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan yaitu data-data pelanggaran di bidang kehutanan tahun 2008-2011 yang terdapat di wilayah kawasan Tahura Bukit Barisan. Pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi di wilayah kawasan Tahura Bukit Barisan ialah pencurian humus, pengerukan tanah, perambahan, penebangan kayu, pencurian kayu.

Persepsi masyarakat terhadap kelembagaan pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Gambar 4. Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang kelembagaan pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Persepsi masyarakat sebagian besar yaitu sebanyak 63 responden tidak tahu sama sekali mengenai kelembagaan pengelolaan Tahura Bukit Barisan. Pekerjaan masyarakat yang mayoritas sebagai petani menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi interaksi masyarakat dengan sumber daya hutan semakin berkurang atau kurang terlalu memperhatikan hutan karena mereka berpendapat bahwa mengelola lahan pertanian lebih menguntungkan daripada hutan karena dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga masing-masing. Selain itu, ada juga 19 responden menjawab ragu-ragu terhadap kelembagaan dalam pengelolaan

Kelembagaan Pengelolaan Tahura BB 70

21,11

8,89

Tahura Bukit Barisan karena masyarakat belum pernah datang ke Tahura Bukit Barisan. Namun, 8 responden mengatakan bahwa UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan merupakan wadah atau tempat penyampaian inspirasi masyarakat untuk melestarikan hutan yang dikepalai oleh seorang kepala UPT beserta anggotanya namun dalam pengelolaannya bahwa UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan tidak pernah melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan, namun ada juga persepsi masyarakat mengatakan bahwa pihak UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan bekerja sama dengan beberapa pihak lain dalam mengelola Tahura Bukit Barisan seperti Dinas Kehutanan, Kelompok Tani Mitra Tahura, Kelompok Tani Usait. Berdasarkan data laporan tahunan UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara tahun 2012 bahwa struktur atau hierarki organisasi UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan ialah terdiri dari 1 kepala UPT, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pemanfaatan, dan Kelompok Jabatan Fungsional. Adapun strukutur atau hierarki organisasi tersebut saling bekerjasama dan bertanggungjawab dengan beberapa pihak seperti Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, LSM Indonesia Orang Utan Center (IOC) guna menciptakan pengembangan pengelolaan Tahura Bukit Barisan yang berwawasan lingkungan untuk mewujudkan kelestarian hutan sebagai sistem penyangga kehidupan.

Persepsi masyarakat terhadap hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Gambar 5. Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang ada tidaknya hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Mengenai hak dan kewajiban masyarakat dalam mengelola Tahura Bukit Barisan, sebanyak 54 responden memiliki persepsi bahwa masyarakat memiliki hak dan kewajiban yaitu antara lain haknya ialah hak pemanfaatan hasil hutan dan kewajibannya iaalah menjaga serta melestarikan hutan. Sedangkan 24 responden mengatakan bahwa masyarakat tidak memiliki hak dan kewajiban dalam mengelola Tahura Bukit Barisan karena memiliki pemikiran bahwa masyarakat tidak memiliki wewenang dalam mengelolanya dan sudah ada pihak-pihak tertentu yang bertugas menjaga dan mengelola kawasan Tahura Bukit Barisan. Selebihnya yaitu 12 responden tidak tahu menahu mengenai apakah ada hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan karena disebabkan oleh sikap masyarakat itu sendiri yang lebih mengutamakan pekerjaan daripada memperhatikan lingkungan dan hutan sekitar.

Hak dan Kewajiban Masyarakat Dalam Pengelolaan Tahura BB

13,33

26,67

60

Persepsi masyarakat terhadap fungsi dan manfaat Tahura Bukit Barisan

Gambar 6. Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang ada tidaknya hak dan kewajiban masyarakat terhadap fungsi dan manfaat Tahura

Bukit Barisan

Tingkat persepsi responden mengenai fungsi dan manfaat Tahura Bukit Barisan dapat dikatakan tergolong cukup baik dikarenakan bahwa hampir semua responden mengetahui bahwa hutan tersebut sangat bermanfaat dan memiliki fungsi baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebanyak 86 responden memiliki persepsi yang kuat dan cukup jelas mengenai fungsi dan manfaat sumber daya hutan yaitu pengaturan tata air, paru-paru dunia, mencegah bencana alam, mengurangi polusi atau pencemaran bahkan dapat dijadikan sebagai objek wisata (fungsi ekonomi). Hal ini sesuai dengan pernyataan Suparmoko (1997) dalam Umar (2009) yang menyatakan fungsi hutan antara lain mengatur tata air, mencegah dan membatasi banjir, erosi, serta memelihara kesuburan tanah, menyediakan hasil hutan untuk keperluan masyarakat, melindungi suasana iklim dan memberi daya pengaruh yang baik, dan memberikan keindahan alam. Namun, 4 responden memiliki persepsi bahwa hutan tersebut tidak bermanfaat. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pendidikan yaitu minimnya pengetahuan dan sikap peduli

Fungsi dan Manfaat Tahura 4,44 0

95,55

terhadap hutan di sekitarnya, sesuai dengan pernyataan Wibowo (1998) dalam Telaumbanua (2008) yang menyatakan bahwa persepsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial budaya dan sosial ekonomi seperti pendidikan, lingkungan tempat tinggal, suku bangsa, dan lainnya.

Persepsi masyarakat terhadap keterlibatan masyarakat terhadap pengelolaan Tahura Bukit Barisan

Gambar 7. Persentase jawaban respomden terhadap pertanyaan tentang bersedia tidaknya masyarakat dilibatkan atau terlibat dalam mengelola hutan

Keterlibatan masyarakat desa dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan dapat dilihat pada gambar 7 yaitu sebanyak 62 responden bersedia terlibat atau dilibatkan dalam mengelola Tahura Bukit Barisan karena masyarakat tersebut memiliki persepsi bahwa hutan sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan karena menganggap hutan sebagai sumber kehidupan. Namun ada juga 14 responden yang kadang-kadang bersedia dan 14 responden yang tidak bersedia dilibatkan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain umur yang tidak memungkinkan lagi untuk ikut serta terlibat atau dilibatkan dalam pengelolaan Tahura Bukit Barisan dan adanya aktivitas lain

Keterlibatan Masyarakat Dalam Pengelolaan Tahura BB

15,56 15,56

68,89

dan pekerjaan yang menyebabkan kurangnya waktu untuk ikut serta dalam mengelola hutan.

Persepsi masyarakat terhadap keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan

Gambar 8. Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan

Persepsi masyarakat mengenai kawasan Tahura Bukit Barisan dari segi keamanan sebanyak 66 responden mengatakan cukup baik. Keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan dikatakan cukup baik karen masyarakat melihat dari segi penjagaan yang dilakukan terhadap kawasan Tahura Bukit Barisan cukup baik dan ketat sehingga dapat meminimalisasikan terjadinya pelanggaran dan tidak pernah menimbulkan keributan. Sedangkan ada juga 17 responden yang berpendapat bahwa keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan tidak baik. Masyarakat memiliki persepsi seperti itu karena masih ada penebangan liar bahkan pengambilan humus di dalam kawasan. Pada kenyataannya keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan memang tidak baik, sesuai dengan data kasus tahun 2008-2011 yang terdapat di wilayah kawasan Tahura Bukit Barisan dapat dilihat bahwa masih ada pelanggaran-pelanggaran yang terjadi seprti pencurian humus, pengerukan tanah,

Keamanan Kawasan Tahura BB 18,89

73,33

7,77

perambahan, penebangan kayu dan pencurian kayu. Namun ada juga masyarakat yang mengatakan bahwa keamanan kawasan Tahura Bukit Barisan sangat baik dikarenakan masyarakat tersebut hanya melihat secara umum keadaan Tahura Bukit Barisan.

Gambar 9. Penebangan Kayu Gambar 10. Pencurian Kayu

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai hutan maka intensitas terjadinya pelanggaran sudah menurun, misalnya dalam pengambilan humus. Sebelumnya hampir seluruh masyarakat masuk ke dalam kawasan untuk mengambil humus untuk lahan pertanian masing-masing namun sekarang pelanggaran mengambil humus sudah sangat berkurang. Hal ini dikarenakan meningkatnya pengetahuan masyarakat bahwa tidak hanya dengan humus dapat menyuburkan tanaman namun dapat diganti dengan yang lain seperti pupuk kandang (kompos) dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya hutan bagi masyarakat misalnya sebagai sumber mata air yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun dengan demikian, masyarakat masih kurang peduli terhadap Tahura Bukit Barisan (Gambar 11).

Persepsi masyarakat terhadap sikap/attitude masyarakat terhadap Tahura Bukit Barisan

Gambar 11. Persentase jawaban responden terhadap pertanyaan tentang bagaimana

respon masyarakat dalam menanggapi setiap kegiatan pengelolaan hutan Dalam penelitian ini sikap/attitude masyarakat terhadap Tahura Bukit Barisan dibagi atas 3 antara lain sikap netral yaitu masyarakat tidak terlalu antusias dalam menanggapi setiap kegiatan pengelolaan hutan, sikap pasif yaitu masyarakat antusias dalam menanggapi setiap kegiatan pengelolaan hutan apabila dapat perintah dari pihak yang terkait misalnya UPT Pengelola Tahura Bukit Barisan, Dinas Kehutanan, dan sebagainya dan yang terakhir ialah sikap aktif yaitu masyarakat terlalu antusias dalam menanggapi setiap kegiatan pengelolaan hutan walaupun tanpa harus menunggu perintah dari pihak yang terkait atau bisa dikatakan bahwa sikap aktif ini memiliki inisiatif yang tinggi dalam mengelola hutan Dari hasil penelitian, masyarakat mengakui bahwa kurangnya perhatian terhadap hutan baik dalam menjaga maupun mengelola hutan secara lestari. Sebanyak 62 responden memiliki sikap netral sejauh mereka tidak mengganggu dan merusak sumber daya hutan. Masyarakat mengatakan bahwa masih ada

Sikap/attitude masyarakat Terhadap Tahura BB 68,89

16,67 14,44

Dokumen terkait