• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parameter Fisika Kimia Perairan

Hasil pengukuran parameter fisika kimia perairan menunjukkan bahwa kualitas fisika kimia perairan berbeda pada ke-tiga stasiun dan terjadi fluktuasi selama tiga bulan pengamatan. Kualitas fisika kimia perairan pada ke-tiga stasiun disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Parameter fisika kimia perairan

Parameter

lingkungan Satuan

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Okt Nov Jan Okt Nov Jan Okt Nov Jan

Nitrat µg.At/l 1,50 1,00 2,40 1,80 0,95 2,10 2,80 1,70 2,30 Nitrit µg.At/l 0,06 0,03 0,09 0,04 0,05 0,06 0,09 0,08 0,08 Ammonia µg.At /l 0,27 0,41 0,33 0,33 0,32 0,24 0,43 0,43 0,40 Fosfat µg.At /l 0,21 0,23 0,35 1,23 0,14 0,20 0,55 0,24 0,16 pH 8 8 8 8 7 7 8 7 7 Salinitas psu 32 32 31 34 34 33 35 35 34 Suhu (°C) 32 34 29 33 34 32 34 34 34 Kecepatan arus m s-1 0,40 0,45 3,66 0,02 0,02 0,05 0,03 0,03 0,04

Substrat Berbatu Berpasir Berpasir

Nutrien di perairan bersama suhu, cahaya dan pergerakan air memiliki peranan dalam mestimulasi pertumbuhan alga termasuk P. australis (Smith 2002). Perubahan nutrien dapat mempengaruhi struktur komunitas dan mestimulasi pertumbuhan alga (Anderson et al. 2002). Umumnya nitrogen dibutuhkan dan dimanfaatkan dalam bentuk yang luas seperti ammonia, nitrat dan asam amino. Nitrat dan ammonia merupakan bentuk utama nitrogen yang dibutuhkan dalam meningkatkan aktivitas fotosintesis melalui sintesis klorofil a dan fikoeritrin. Nitrogen berperan dalam pembentukan makromolekul (protein, asam nukleat, pigmen) dan pertumbuhan rumput laut (Lobban dan Horrizon 1994).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata nitrat, nitrit dan ammonia relatif lebih tinggi pada stasiun 3 dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 2. Karakteristik stasiun 3 yang merupakan perairan yang relatif tenang memberikan pengaruh terhadap tingginya konsentrasi nutrien di lokasi tersebut. Luasan area

(surface area), kedalaman, volume, laju pembilasan (flushing rate), waktu tinggal

air (residence time), pasang surut (tidal exchange), percampuran (vertical mixing) dan stratifikasi merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi respon perairan terhadap masukan bahan organik dan akan berpengaruh terhadap transport, transformasi, retensi dan ekspor nutrien (Cloern 2001; Koropitan et al. 2009).

Fluktuasi nutrien selain dipengaruhi oleh lokasi, juga dipengaruhi oleh waktu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar nutrien di ke-tiga stasiun relatif lebih tinggi pada bulan Januari dibandingkan pada bulan Oktober dan November. Hal ini disebabkan bulan Januari merupakan musim hujan yang dapat membawa material bahan organik dari daratan melalui limpasan air hujan.

17 Lobban dan Harrison (1994) dan Choi et al. (2010) menyatakan bahwa parameter kualitas air yang sangat berperan terhadap pertumbuhan, pembentukan tallus dan perkembangan morfogenetik rumput laut adalah salinitas, karena terkait langsung dengan osmoregulasi yang terjadi di dalam sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas stasiun 1 (31–32 psu) lebih rendah dibandingkan stasiun 2 dan 3 (34–35 psu). Hal ini menunjukkan bahwa P. australis dapat tumbuh pada kisaran salinitas 31 sampai 35 psu.

Derajat keasaman atau pH digambarkan sebagai keberadaan ion hidrogen. Nilai pH berpengaruh terhadap kelarutan dan ketersediaan ion mineral sehingga mempengaruhi penyerapan nutrien oleh sel. Kisaran pH di stasiun 1 lebih tinggi dibandingkan stasiun 2 dan 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH di tiga stasiun berkisar antara 7 sampai 8. Rata-rata stasiun menunjukkan penurunan nilai pH pada bulan Januari yang merupakan musim hujan. Kisaran pH di tiga stasiun penelitian menunjukkan kisaran pH yang normal pada perairan laut.

Suhu mempengaruhi adaptasi morfologi, ultrastruktur, aktivitas enzim, fisiologi, komposisi biokimia dan ekspresi gen (Stibal dan Elster 2005). Kim et al. (2007) menyatakan bahwa suhu berpengaruh secara signifikan terhadap laju pertumbuhan rumput laut. Penelitian yang dilakukan oleh Pedersen (2004) menunjukkann bahwa peningkatan suhu 10 °C dapat meningkatkan pertumbuhan rumput laut jenis P. suborbiculata.

Kisaran suhu di stasiun 1 berkisar antara 29 sampai 34 °C, stasiun 2 berkisar antara 32 sampai 34 °C sedangkan suhu di stasiun 3 selama tiga kali pengamatan adalah 34 °C. Hal tersebut menunjukkan bahwa P. australis mampu mentoleransi suhu 29–34 °C. Berbeda dengan yang dikemukakan oleh Subbaraju et al. (1982) yang menyatakan bahwa suhu yang dapat ditoleransi oleh genus Padina berkisar antara 23 sampai 28 °C. Menurut Komarawidjaja (2003) kebutuhan suhu rata-rata rumput laut adalah berkisar antara 20 sampai 30 °C. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suhu memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap penyerapan nutrien oleh alga (Ozaki et al. 2001).

Pergerakan air seperti arus dan gelombang sangat berpengaruh terhadap fisiologis dan ekologi rumput laut. Pada tingkat sedang, gerakan air memberikan manfaat bagi rumput laut melalui beberapa cara yaitu menyerap nutrien, menghindari sedimentasi, menjaga dari grazer dan memberikan kesempatan rumput laut dalam memanfaatkan cahaya (Hurd 2000). Gerakan air yang sangat lemah (< 0,02 sampai 0,2 m s-1) dapat membatasi pertumbuhan rumput laut melalui membatasi penyerapan nutrien N dan P oleh rumput laut (Hurd 2000).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kecepatan arus di stasiun 1 berkisar 0,40 sampai 3,66 m s-1, stasiun 2 berkisar antara 0,02 sampai 0,05 m s-1, sedangkan nilai kecepatan arus di stasiun 3 rata-rata selama tiga bulan adalah 0,03 m s-1. Nilai tersebut menunjukkan bahwa stasiun 1 memiliki kisaran arus yang lebih kuat dibandingkan dengan stasiun 2 dan 3. Pada stasiun 1, nilai kecepatan arus terlihat lebih kuat pada bulan Januari dibandingkan bulan Oktober dan November, hal ini karena bulan Januari telah masuk musim hujan sehingga adanya pengaruh dari angin musim barat terhadap kecepatan arus. Angin merupakan salah satu bentuk energi yang dapat membangkitkan gelombang dan arus permukaan di suatu perairan. Kecepatan arus di stasiun 2 dan 3 tidak berbeda nyata pada tiga bulan pengamatan. Hal ini karena stasiun 2 dan 3 merupakan perairan yang cukup terlindung.

Kepadatan dan Biomassa P. australis

Hal utama yang membedakan stasiun 1, 2 dan 3 adalah substrat tempat melekat dan tumbuh P.australis. Pada stasiun 1, P. australis tumbuh dan melekat pada substrat berbatu, sedangkan di stasiun 2 dan 3 melekat pada substrat berpasir dan beberapa berasosiasi dengan lamun. Secara fisik, P. australis tumbuh lebih baik di stasiun 1 dibandingkan stasiun 2 dan 3, hal ini dapat dilihat dari kondisi fisik (Tabel 4) serta kepadatan dan biomassa yang lebih tinggi di stasiun 1 dibandingkan stasiun 2 dan 3 (Gambar 9).

Tabel 4 Kondisi fisik P. australis

Lokasi dan Waktu Pengamatan Kesegaran Warna Jumlah lembaran rata-rata Panjang tallus (cm) Substrat tempat melekat Kedala man (m) Stasiun 1 Okt Segar Coklat

muda 4 15 Batu 0 - 1

Nov Segar Coklat

muda 4 15 Batu 0 - 1

Jan Segar Coklat

muda 2 11 Batu 0 - 1

Stasiun 2 Okt Segar Coklat

muda 3 13

Pasir +

lamun 0 - 1 Nov Segar Coklat

muda 4 13

Pasir +

lamun 0 - 1 Jan Layu Coklat

muda 3 10

Pasir +

lamun 0 - 1

Stasiun 3 Okt Segar Coklat

muda 3 13

Pasir +

lamun 0 - 1 Nov Layu Coklat

muda 3 13

Pasir +

lamun 0 - 1

Jan Segar Coklat

muda 4 12

Pasir +

lamun 0 - 1 Kepadatan dan biomassa P. australis tiap stasiun pada tiga bulan pengamatan yang diamati pada 30 plot berukuran 1 x 1 m2 disajikan pada Gambar 9. Hasil analisis ragam menunujukkan bahwa kepadatan dan biomassa P. australis di ke-tiga stasiun berbeda nyata (p<0,05). Kepadatan pada masing-masing stasiun berbanding lurus dengan jumlah biomassa. Kepadatan dan biomassa P. australis

tertinggi diperoleh di stasiun 1 pada bulan Oktober dan relatif lebih rendah pada stasiun 3. Perbedaan kepadatan dan biomassa di ke-tiga stasiun terkait dengan karakteristik fisika kimia dan sustrat perairan.

19

(a) (b)

Keterangan: huruf pada histogram (a, b dan c) menunjukkan beda nyata antar bulan pengamatan pada masing-masing stasiun, sedangkan huruf (p, q) menunjukkan beda nyata antar stasiun pengamatan

Gambar 9 (a) Kepadatan (ind/m2) dan (b) Biomassa (g basah/m2) P. australis

Tingginya kepadatan (jumlah individu) dan biomassa P. australis pada bulan Oktober di stasiun 1 disebabkan oleh substrat dari stasiun 1 yang berbatu sehingga merupakan substrat yang kuat sebagai tempat melekatnya P. australis. Tersedianya nutrien (nitrat, nitrit, ammonia dan fosfat) dan kecepatan arus yang relatif sedang pada bulan Oktober yaitu 0,45 m s-1 memberikan manfaat pada P.

australis. Kecepatan arus dalam kisaran sedang memberikan kesempatan dalam

penyerapan nutrien, membersihkan rumput laut dari sedimen dan tidak membuat tallus terlepas dari substrat tempat menempel (Hurd 2000). Pada bulan Januari, kecepatan arus di stasiun 1 mencapai 3,66 m s-1 dan termasuk arus yang kuat dibandingkan dengan arus bulan Oktober, kisaran kecepatan arus pada bulan Januari memberikan dampak negatif terhadap P. australis, hal ini dapat dilihat dari rendahnya jumlah P. australis pada bulan tersebut. Pada penelitian ini, arus dengan kecepatan sekitar 3,66 m s-1 mengakibatkan terlepasnya P. australis dari substrat tempat melekatkan diri. Kisaran arus yang kuat, juga berpengaruh terhadap kurangnya penyerapan nutrien oleh alga.

Suhu pada bulan Oktober yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Januari, juga diduga sebagai faktor yang mempengaruhi kepadatan P.

australis di stasiun 1. Menurut Pedersen et al. (2004) peningkatan suhu

menyebabkan penyerapan nutrien lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan alga. Hasil penelitian ini, dapat dikatakan bahwa suhu 32 °C lebih baik dibandingkan dengan suhu 29 °C dalam mendukung kehidupan P. australis.

Kepadatan (jumlah individu) dan biomassa P. australis di stasiun 2 dan stasiun 3 relatif lebih rendah dibandingkan dengan stasiun 1. Hal ini disebabkan oleh P. australis di stasiun 2 dan 3 hidup melekat pada substrat berpasir sehingga membuat P. australis lebih mudah terlepas dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Pada stasiun 2 dan 3, P. australis juga memanfaatkan lamun sebagai tempat untuk menempel sehingga terjadi persaingan dalam pemanfaatan nutrien oleh alga dan lamun. Kadi (2007) menyatakan bahwa kepadatan suatu organisme ditentukan oleh kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidup dan adanya dominasi spesies dimana yang lain akan menggeser jenis yang lain. Salinitas di stasiun 2 dan 3 yang berkisar 34 sampai 35 psu juga diduga sebagai faktor yang mempengaruhi rendahnya

a a a b a a c b b 5 10 15 20 25 30

stasiun 1 stasiun 2 stasiun 3

K e p ad ata n (i n d /m 2)

Oktober November Januari

q p p a a a b a a c b b 0 10 20 30 40

stasiun 1 stasiun 2 stasiun 3

B io m a s s a ( g /m 2)

Oktober November Januari

q

p

kepadatan P. australis. Penelitian yang dilakukan oleh Subbaraju et al. (1982) menunjukkan bahwa Padina toleran pada salinitas 27 sampai 32 psu. Pada salinitas < 17,9 dan > 32 psu spora tidak dapat berkembang dengan baik. Suhu antara 23 sampai 28 °C dan pH 8.0 sampai 8,5 merupakan kisaran optimal untuk pertumbuhan Padina. Pada penelitian ini dapat dikatakan bahwa karakteristik perairan stasiun 2 dan 3 kurang baik dalam mendukung kehidupan P. australis.

Perbedaan kepadatan dan biomassa P. australis di ke-tiga lokasi penelitian selama tiga bulan pengamatan menunjukkan bahwa adanya fluktuasi jumlah dan biomassa dipengaruhi oleh lokasi dan waktu. Wong dan Phang (2004) menyatakan bahwa kepadatan makroalga sangat dipengaruhi oleh pergantian musim dan kondisi substrat dasar. Kelimpahan alga dapat berfluktuasi karena perubahan musim yang menyebabkan perubahan parameter fisika perairan atau disebabkan oleh gangguan lainnya (Downes et al. 2000). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rogerio et al. (2012) menunjukkkan bahwa variasi temporal dan spasial mempengaruhi kelimpahan dan keragaman makroalga.

Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara pH dan fosfat dengan biomassa, sedangkan nitrat, nitrit, ammonia, salinitas dan suhu memiliki korelasi yang negatif dengan biomassa dan untuk arus memiliki korelasi positif yang sangat lemah. Nilai korelasi Pearson antara parameter lingkungan dengan biomassa P. australis disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Nilai korelasi Pearson antara parameter lingkungan dengan biomassa P. australis

Hubungan antar parameter dengan biomassa Korelasi Pearson 1. Nitrat -0,47 2. Nitrit -0,51 3. Ammonia -0,48 4. Fosfat 0,21 5. pH 0,52 6. Salinitas -0,43 7. Suhu -0,34 8. Arus 0,03

Korelasi positif antara pH dengan biomassa terkait dengan peranan pH dalam penyerapan nutrien. Natasya (2009) menjelaskan bahwa derajat keasaman (pH) menentukan kelarutan dan ketersediaan ion mineral sehingga mempengaruhi penyerapan nutrien oleh sel alga. Hal ini juga diungkapkan pada penelitian yang dilakukan oleh Johnson et al. (2012) yang menyatakan bahwa penyerapan mineral dan pembentukan klorofil a dan klorofil b dipengaruhi oleh pH dan berdampak pada peningkatan biomassa alga.

Nitrat, nitrit, ammonia, salinitas dan suhu memiliki korelasi negatif terhadap biomassa P. australis. Pada umumnya nitrat, nitrit dan fosfat dibutuhkan oleh tanaman termasuk rumput laut untuk pertumbuhannya. Pada penelitian ini, nilai korelasi negatif yang diperoleh antara nitrat, nitrit dan ammonia dengan biomassa diduga dipengaruhi oleh adanya interaksi dan pengaruh dari faktor lain seperti arus, substrat dan salinitas. Menurut Walpole (1995), nilai korelasi Pearson antara

21 satu parameter dengan parameter lainnya biasanya dipengaruhi oleh interaksi parameter lainnya. Hal ini dapat dilihat di stasiun 3 yang memiliki konsentrasi nitrat, nitrit dan ammonia yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 1, namun memiliki biomassa yang rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya pengaruh dari substrat dan arus. Substrat berpasir yang terdapat pada stasiun 3 menyebabkan P.australis tidak dapat tumbuh dan melekat dengan kuat, sehingga tingginya konsentrasi nitrat, nitrit dan ammonia tidak memberikan dampak yang positif terhadap biomassa P. australis. Nilai korelasi tersebut juga dipengaruhi oleh arus. Pergerakan yang lambat diduga membatasi penyerapan nutrien. Menurut Hurd (2000) dan Barr et al (2008) menunjukkan bahwa pada gerakan air yang lambat, nitrogen tidak memberikan dampak terhadap pertumbuhan rumput laut, hal ini disebabkan oleh lambatnya penyerapan nutrien karena terganggunya proses difusi yang biasanya distimulasi oleh adanya gerakan air pada permukaan rumput laut. Berbeda dengan unsur nitrogen, fosfat memberikan korelasi positif namun nilai korelasinya tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai fosfat dapat meningkatkan nilai biomassa P. australis. Menurut Effendi (2003), fosfat merupakan unsur esensial bagi alga dan berperan dalam transfer energi dalam sel yang akhirnya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan biomassa alga. Nilai korelasi antara fosfat dengan biomassa tergolong rendah, hal tersebut sama halnya dengan unsur nitrogen yang umumnya disebabkan adanya pengaruh dari beberapa parameter lainnya seperti substrat, arus, salinitas dan suhu yang dapat mempengaruhi penyerapan nutrien termasuk fosfat. N itrat, nitrit, ammonia dan fosfat sangat berperan dalam pertumbuhan rumput laut yang tumbuh di zona intertidal termasuk P. australis namun pengaruhnya sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan parameter perairan lainnya.

Korelasi negatif yang ditunjukkan oleh salinitas terkait dengan proses osmoregulasi oleh organisme. Semakin tinggi salinitas lingkungan, maka semakin banyak energi yang digunakan dalam menyeimbangkan konsentrasi di dalam tubuh, hal ini berdampak pada berkurangnya energi yang digunakan dalam pertumbuhan alga (Xiong dan Zhu 2002). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa

P. australis mampu mentoleransi salinitas 32–35 psu dan dapat tumbuh dengan

baik di stasiun 1 yang memiliki salinitas 32 psu. Subbaraju et al. (1982) menyatakan bahwa kisaran salinitas yang dapat ditoleransi oleh Padina adalah 31–35 psu. Nilai korelasi negatif, selain ditunjukkan oleh salinitas perairan, juga ditunjukkan oleh suhu. Suhu memiliki korelasi yang negatif, namun nilai korelasinya sangat lemah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu tidak diikuti dengan peningkatan biomassa P. australis. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pereira et al. (2006) menunjukkan bahwa P. ceoucosticta, P. linearis, P.

umbilicalis meningkat dengan menurunnya suhu perairan sedangkan pertumbuhan

P. amplissima meningkat dengan meningkatnya suhu perairan. Berdasarkan hasil

penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh Pereira et al. (2006) menunjukkan bahwa suhu memberikan pengaruh yang berbeda terhadap jenis alga yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tidak memberikan pengaruh yang kuat terhadap biomassa P. australis.

Korelasi antara arus dengan biomassa yaitu 0,03 tergolong dalam korelasi yang sangat lemah atau dapat diartikan tidak adanya hubungan yang linear antara arus dengan biomassa. Walpole (1995) menyatakan bahwa nilai korelasi r = 0 berimplikasi tidak adanya hubungan linear dan bukan berarti antara ke-dua

peubah tidak terdapat hubungan, namun hubungannya tidak linear. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan nilai kecepatan arus tidak diikuti dengan peningkatan dan penurunan jumlah dan biomassa P. australis, dan menunjukkan bahwa P. australis memiliki kisaran nilai kecepatan arus yang optimum dalam menunjang kehidupan dan pertumbuhannya. Tidak adanya hubungan yang linear yang ditunjukkan oleh korelasi antara arus dengan biomassa terkait dengan pengaruh negatif arus lambat dan arus kuat. Arus lambat akan menghambat penyerapan nutrien karena tidak dapat menstimulasi terjadinya proses difusi pada permukaan rumput laut sedangkan arus yang terlalu kuat akan melepaskan rumput laut dari substrat tempat melekat (Buschmann et al. 2004; Barr et al. 2008). Dampak arus terhadap rumput laut coklat sangat kuat dibandingkan dengan rumput laut lainnya (Engelen et al. 2005; Wernberg dan Thomsen 2005; Fowler-Walker et al. 2006; Tuya dan Haroun 2006). Dampak negatif dari arus yang kuat, dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pada bulan Januari di stasiun 1 yang memiliki arus yang kuat (3,66 m s-1) memberikan efek negatif terhadap penurunan biomassa P.

australis sedangkan dampak negatif dari arus yang lemah dapat dilihat pada

stasiun 2 dan 3 yang memiliki arus yang sangat tenang namun memiliki biomassa yang sangat rendah.

Hasil korelasi Pearson antara semua parameter fisika kimia perairan dengan biomassa P. australis tergolong rendah, hal ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang sangat mempengaruhi biomassa P. australis. Pada penelitian ini, faktor tersebut adalah substrat. Perbedaan substrat antara stasiun 1 dengan stasiun 2 dan 3 menyebabkan perbedaan jumlah biomassa P. australis. Penelitian ini menunjukkan bahwa substrat berbatu merupakan substrat yang lebih disukai oleh

P. australis sebagai tempat melekat dibandingkan substrat berpasir. P. australis

yang melekat kuat pada substrat berbatu tidak akan mudah terlepas dari substrat sehingga lebih mudah menyerap nutrien dan tidak mudah terlepas oleh pengaruh arus. Berbeda dengan substrat berbatu, P. australis yang melekat pada substrat berpasir akan mudah terlepas oleh adanya peningkatan nilai kecepatan arus sehingga tingginya konsentrasi nutrien yang ada pada stasiun 2 dan 3 tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan biomassa P. australis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa substrat dan interaksi antara parameter fisika kimia perairan sangat mempengaruhi biomassa P. australis. Wernberg dan Connell (2008) menyatakan bahwa komunitas daerah intertidal merupakan hasil dari kombinasi faktor fisika dan kimia perairan. Kondisi substrat berbatu pada stasiun 1 dan interaksi parameter fisika kimia perairan yaitu arus 0,45 m s-1, pH 8, nitrat 1,5 µg.At /l, nitrit 0,06 µg.At /l, ammonia 0,27 µg.At /l, fosfor 0,21 µg.At /l, pH 8, suhu 32°C dan salinitas 32 psu merupakan kombinasi parameter fisika kimia perairan yang mendukung kehidupan P. australis.

Kandungan Natrium Alginat P. australis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan natrium alginat di ke-tiga stasiun berbeda nyata (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa P. australis

dipengaruhi oleh kondisi tempat tumbuh. Kandungan alginat pada tiga bulan pengamatan menunjukkan bahwa kandungan natrium alginat di stasiun 1 relatif

23 lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 2 dan stasiun 3. Kandungan natrium alginat tertinggi diperoleh pada stasiun 1 bulan Oktober yaitu 6,65% sedangkan relatif lebih rendah pada stasiun 2 dan stasiun 3 pada bulan Januari. Rata-rata kandungan natrium alginat di ke-tiga stasiun menunjukkan penurunan pada bulan Januari yang merupakan musim hujan. Kandungan natrium alginat pada masing-masing stasiun disajikan pada Gambar 10.

Keterangan: huruf pada histogram (a, b) menunjukkan beda nyata antar stasiun Gambar 10 Kandungan natrium alginat P. australis (% )

Hasil korelasi Pearson (Tabel 6) menunjukkan bahwa pH perairan memiliki korelasi positif dengan kandungan alginat. Hal ini terkait dengan pH yang memberikan pengaruh terhadap kerja enzim dan metabolisme dalam sel. Kondisi pH asam mengakibatkan terganggunya proses biokimia dalam sel. Hal ini termasuk dalam proses biokimia pembentukan alginat dalam sel. Pada penelitian ini terlihat bahwa nutrien (nitrat, nitrit, ammonia dan fosfor) memiliki nilai korelasi yang tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa nutrien tidak memberikan hubungan yang linear terhadap kandungan alginat. Hal ini sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rodríguez et al. (2008) yang menunjukkan bahwa nutrien bukan faktor utama yang mempengaruhi kandungan alginat pada Sargassum namun kandungan alginat lebih dipengaruhi oleh pH, salinitas dan suhu. Menurut Hu dan Gao (2006), peningkatan konsentrasi nitrat di perairan dapat menurunkan kandungan polisakarida pada alga termasuk alginat.

Tabel 6 Nilai korelasi Pearson parameter lingkungan dengan kandungan natrium alginat P. australis

Hubungan antara parameter lingkungan dengan kandungan alginat

Korelasi Pearson 1. Nitrat -0,46 2. Nitrit -0,28 3. Amonia 0,08 4. Fosfat 0,00 5. pH 0,65 6. Salinitas -0,54 7. Suhu -0,25 8. Arus 0,13 b a a 0 1 2 3 4 5 6 7

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun3

K a n d u n g a n n a tr iu m a lg in a t (% )

Faktor lain yang diduga berkaitan dengan tingginya kandungan natrium alginat di stasiun 1 pada bulan Oktober dan November adalah ukuran individu P.

australis yang lebih besar dibandingkan dengan bulan Januari. Pada bulan Januari

di stasiun 1, ukuran P. australis lebih kecil sehingga diduga bahwa P. australis

berada pada masa pertumbuhan. Mafra dan Cunha (2006) menyatakan bahwa pada masa pertumbuhan energi dialokasikan pada pertumbuhan somatik, sehingga energi dalam pembentukan alginat menjadi berkurang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rao (1994) menyatakan bahwa kandungan alginat C. indica dan S.

johnstonii meningkat dengan meningkatnya biomassa dan menurun pada periode

reproduksi. Hasil penelitian Parthiban et al. (2012) melaporkan bahwa alginat, karbohidrat, protein, lemak dan kandungan abu dipengaruhi oleh parameter lingkungan. Diduga bahwa parameter lingkungan mempengaruhi jalur biosintesis pada pembentukan polisakarida termasuk alginat. Salinitas yang berkisar antara 34 sampai 35 psu di stasiun 2 dan stasiun 3 diduga mempengaruhi rendahnya kandungan alginat. Hal ini terkait dengan proses osmoregulasi yang dilakukan oleh rumput laut untuk menyeimbangkan cairan dalam sel agar menjadi isotonis.

Karakteristik dan Kandungan Pb Natrium Alginat P. australis

Karakteristik natrium alginat yang meliputi kadar abu, viskositas dan kekuatan gel serta kandungan Pb alginat P. australis disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Karakteristik dan kandungan Pb natrium alginat P. australis Karakteristik Satuan

Stasiun dan Waktu Pengamatan

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Okt Nov Jan Okt Nov Jan Okt Nov Jan

Kadar Abu % 40,23 40,54 38,81 38,48 39,91 41,76 39,76 39,96 41,22

Kekuatan gel g/cm2 18,67 12,23 19,33 12,73 15,37 12,50 7,43 7,30 15,77

Viskositas cps 78 153 128 75 142 99 25 115 30

Kadar Pb ppm ttd ttd ttd ttd ttd ttd ttd ttd ttd

Keterangan: ttd = tidak terdeteksi

Kadar Abu

Kualitas kandungan rumput laut ditentukan oleh persentase kadar abu. Kadar abu yang relatif tinggi akan menyebabkan rendahnya kualitas hasil panen. Nilai kadar abu diperoleh setelah dilakukan proses pembakaran atau pengabuan dalam alat pembakaran (tanur). Bagian jaringan rumput laut berupa serat dan bahan-bahan yang mengandung karbon serta beberapa mineral tersisa menjadi abu setelah proses pembakaran. Kadar abu dalam tanaman rumput laut ditentukan oleh bahan penyusun jaringan. Semakin tinggi bahan serat dan senyawa-senyawa yang mengandung karbon dalam jaringan, maka semakin tinggi pula kadar abu yang dihasilkan saat pembakaran. Kondisi hidrologi dan hidrokimia mempengaruhi

Dokumen terkait