REVITALIZATION OF THE GENERAL ELECTION LAW WITH FAKE NEWS SPECIFICATIONS AS PART OF THE PROHIBITION OF THE CAMPAIGN
4. Hasil dan Pembahasan
295 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
Masifnya penyebaran berita bohong terkhusus pada rezim pemilu dan pilkada menjadi suatu fenomena buruk sekaligus penyakit akut dalam penyelengaraan demokrasi di Indonesia. Momentum kampanye yang seharusnya memberikan pendidikan politik bagi masyarakat sebagai visi utama diadakannya kampanye justru di dominasi oleh tindakan yang merusak moral dan mengancam keutuhan masyarakat melalui masifnya penyebaran berita bohong. Melihat sulitnya menjaring para oknum penyebaran informasi bohong sebab regulasi yang mengatur masih sebatas aturan yang bersifat materiil. Telah dijelaskan pada pendahuluan dalam tulisan ini Konsep pemidanaan materiil menghendaki adanya sanksi pidana dikarenakan sudah ada akibat dari perbuatan yang dilakukan.
Hal ini tentunya sangat sulit dibuktikan dari masa kampanye, karena akibat yang paling memungkinkan dan nyata dari berita bohong pada masa kampanye adalah rendahnya tingkat elektabilitas suatu pasangan calon yang berada dalam episentrum serangan berita bohong. Hal ini dapat diketahui dari rendahnya suara calon di pusaran episentrum tersebut. Ini hanya menjadi norma yang cenderung tidak berisi ketika diterapkan dalam pemilihan umum karena akibat dari adanya penyebaran berita bohong hanya dapat diketahui ketika telah
terjadi perhitungan suara, sehingga upaya hukum yang ditempuh terkait penyebaran berita bohong menjadi tidak berpengaruh. Selain itu konteks penjeratan dalam UU ITE lebih bersifat general dengan unsur-unsur yang lebih berfokus pada perlindungan konsumen, sehingga sangat sulit menjadikannya aturan praktis dalam penyelenggaraan kampanye yang diatur dalam peraturan teknis. Berangkat dari kondisi tersebut tulisan ini hendak menciptakan penormaan baru dan relevan dengan tantangan pada dewasa ini. Penormaan yang dimaksud adalah melahirkan penormaan yang bersifat formil dan merupakan lex specialis terhadap pengaturan berita bohong yang diatur dalam UU ITE.
Gagasan terkait penormaan terkait dalam penyebaran informasi bohong tersebut juga merupakan refleksi pada beberapa pertimbangan perspektif teori yang telah dijelaskan pada poin perspektif teori yang yakni
Ultima Ratio Principle Hukum pidana tidak
lagi diartikan sebagai ultimum remedium saja melainkan harus pula dapa dimaknai sebagai premium remedium. Dalam konteks penyebaran berita bohong, pemberian sanksi pidana tidak harus dianggap sebagai suatu tindakan yang berlebihan. Melainkan merupakan tindakan pencegahan dari timbulnya suatu pidana yang lebih berat daripadanya, seperti kericuhan, bentrok
296 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
yang berkepanjangan yang mengganggu ketertiban umum dan keutuhan bangsa.
Pertimbangan kuat lainnya didasarkan pula pada Precision Principle dan
Clearness Principle yang mana pada
prinsipnya hukum pidana harus memberikan perumusan aturan hukum jelas dan tidak samar, apabila dikaitkan dengan regulasi hukum terkait pelarangan penyebaran berita bohon dalam UU ITE dalam hal ini masih samar karena klausul yang diatur bahwa aktivasi terkait aturan dalam UU ITE hanya berlaku apabila menimbulkan akibat nyata seperti kebencian. Konteks ini tidak terlalu terlalu tepat melihat sulitnya pembuktiannya dan disaat yang sama intensitas dan laju penyebaran berita bohong sangat cepat.
Tuntutan pembaharuan dan inovasi dalam aturan hukum juga didasarkan pada
Principle of Differentiation harus jelas
perbedaan yang satu dengan yang lainnya. Hindarkan perumusan yang bersifat luas/ global (multipurpose/ all embracing). Mengevaluasi dari UU ITE yang mengatur tentang informasi bohong merupakan norma yang begitu luas cakupannya. Keluasan tersebut menjadikannya sulit jika harus direduksi dalam suatu peristiwa ayang bersifat lebih khusus seperti pemilihan umum. Dalam pembahasan ini juga ikhtiar dalam menekan penyebaran
informasi bohong didasarkan bahwa Informasi bohong jelas merupakan bentuk pelanggaran norma bukan hanya norma hukum melainkan norma-norma agama, norma kesopanan, dan norma kesusilaan. Oleh sebab itu tindakan yang berkaitan dengannya dapat dikategorisasikan sebagai dolus ataupun culpa.
Dengan melihat fakta dan data terkait masifnya penyebaran berita bohong sudah seharusnya ada inovasi hukum berupa pemabaharuan aturan. UU ITE Pada kenyataannya belum mampu mengakomodir banyaknya penyebaran berita bohong dari tahun ke tahun. Sehingga suatu keharusan mengadakan penormaan dalam undang-undang pemilhan umum yang mengatur secara spesifik terkait larangan penyebaran berita bohong yang dalam hal ini bersifat formil.
Delik bersifat formil adalah delik yang perumusannya lebih menekankan pada perbuatan yang dilarang, dengan kata lain pembentuk undang-undang melarang dilakukan perbuatan tertentu tanpa mengisyaratkan terjadinya akibat apapun dari perbuatan tersebut. Dengan demikian suatu delik formil dianggap telah selesai dilakukan apabila pelakunya telah menyelesaikan (rangkaian) perbuatan yang dirumuskan dalam rumusan delik. Dalam delik formil yang hendak dimasukkan
297 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
dalam klausul Undang-undang Pemilihan umum terkait larangan penyebaran berita bohong nantinya menjadikan akibat bukan hal penting dan bukan merupakan syarat selesainya delik. Melalui rumusan sifat dari delik dalam Undang-undang tersebut akan lebih efektif untuk menekan penyebaran berita bohong dalam rezim Pemilu dan Pilkada
5. Simpulan
Penyebaran berita bohong dalam rezim pemilu adalah sebuah fenomena buruk yang seharusnya ditangani secara progresif. Upaya progrsif yang dimaksud adalah revitalisasi undang-undang pemilihan umum dengan spesifikasi berita bohong sebagai bagian larangan dalam kampanye. Delik dalam klausul regulasi tersebut adalah delik formil yang tidak menjadikan akibat sebagai syarat selesainya delik melainkan apabila ada oknum tidak bertanggung jawab yang telah memenuhi rangkaian perbuatan yang diatur dalam rumusan pasal terkait larangan menyebarkan berita bohong. Tulisan yang disusun melalui metodologi penelitian normatif dengan melakukan pendekatan terhadap undang-undang, sekaligus pendekatan konsep dengan menelisik unsur-unsur hukum yang berkenaan dengan berita bohong, sehingga menemukan penormaan undang-undang terkait dengan
larangan kampanye yang dapat lebih optimal dalam menjamin terwujudnya demokrasi konstitusional yang ideal. penormaan dalam undang-undang pemilihan umum yang mengatur terkait larangan penyebaran berita bohong sebagai bentuk lex specialis dari UU ITE. Upaya ini diyakini lebih efektif .
298 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
DAFTAR PUSTAKA Buku
Proyono, A.E. dan Usman Hamid, (ed). 2014. Merancang Arah Demokrasi Indonesia Pasca Reformasi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Gaffar, Janedjri M. 2012. Demokrasi Konstitusional Praktik Ketatanegaraan Indonesia Setelah Perubahan UUD 1945. Jakarta: Konstitusi Perss.
Manan, Abdul. 2013. Aspek-Aspek Pengubah Hukum. Cetakan ke-4. Jakarta: Kencana.
Zaidan, M.A. (2015). Menuju Pembaharuan Hukum Pidana. Cetakan Pertama. Jakarta: Sinar Grafika. Jurnal
Elcaputera, A dan Ari Wirya Dinata. (2019). Penegakan Hukum Penyebaran Berita Bohong (Hoax) Dalam Penyelenggaraan Pemilu 2019 Ditinjau Dari Konsep Keadilan Pemilu. Jurnal KPU. 9. Diakses dari file:///D:/LeDHaK/Lain-Lain/Jurnal%20Bawaslu/New%20folder/154-Article%20Text-499-2-1020200316.pdf.
Na’im, Moh. Abu. (2017). Hoaks Sebagai Konstruksi Sosial Untuk Kepentingan Politik Praktis Dalam Pilgub DKI Jakarta. Jurnal Darussalam, 8(2), 363. Diakses dari http://202.0.92.5/ushuluddin/SosiologiAgama/article/view/1597/1370
Prastowo, Budi. RB. 2006. Delik Formil/Materiil, Sifat Melawan Hukum Formil/Materiil dan Pertanggungjawaban Pidana Dalam Tindak Pidana Korupsi “Kajian Teori Hukum Pidana terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi RI Perkara Nomor 003/PUU-IV/2006.Jurnal Hukum
Pro Justitia 24(3),214 diakses dari
http://journal.unpar.ac.id/index.php/projustitia/article/view/1157/1124
Sirait, Ferdinand, E.T. 2019. Ujaran Kebencian, Hoax, dan Perilaku Memilih (Studi Kasus Pemilihan Presiden di Tahun 2019). Jurnal Penelitian Politik, 16(2). 184. Diakses dari http://ejournal.politik.lipi.go.id/index.php/jpp/article/download/806/548.
Timoera, D.A. (2011). Asas Legalitas Dalam Doktrin Hukum Indonesia: Prinsip Dan Penerapan. Jurnal
Mimbar Demokrasi, 10(2). 4.
http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jmb/article/view/2298/1781. Internet
Ardianto, Robi. (2020). Prediksi Kampanye Hitam Marak saat Pilkada, Dewi Sebutkan Empat Modusnya. Diakses dari https://www.bawaslu.go.id/id/berita/prediksi-kampanye-hitam-marak-saat-pilkada-dewi-sebutkan-empat-modusnya.
Kumparan. (2019). KPU: Saat Ini Hoaks Sudah Menjadi Strategi Kampanye. Diakses dari https://kumparan.com/kumparannews/kpu-saat-ini-hoaks-sudah-menjadi-strategi-kampanye-1553851475163934706/full.
Kompas. (2017). Mengapa "Hoax" Lestari dalam Pemilihan Umum di Indonesia? Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2017/05/03/20162671/mengapa.hoax.lestari.dalam.pemiliha n.umum.di.indonesia.?page=all
Rahayu, Lisye Sri. (2019). KPU Sebut Serangan Hoaks Meningkat Pesat di Pemilu 2019. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-4672954/kpu-sebut-serangan-hoaks-meningkat-pesat-di-pemilu-2019
299 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
IMPLIKASI HUKUM MUTASI APARATUR SIPIL NEGARA