Adi Djoko Guritno
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Studi Kasus pada Rantai Pasok Ikan Tangkap
Rantai pasok ikan tangkap secara garis besar terdiri dari 6 pelaku utama yaitu nelayan, pengepul, pedagang, unit pengolahan ikan, pedagang (di pasar ikan dan di pasar tradisional), retailer, dan konsumen. Gambar 1 merupakan gambar rantai pasok ikan tangkap.
Gambar 1. Sistem rantai pasok ikan tangkap
Berdasarkan pelaku rantai pasok tersebut, dilakukan perhitungan biaya logistik pada nelayan, pengepul, pedagang, dan pengecer (retailer). Kegiatan logistik dalam penelitian ini terbagi menjadi enam kegiatan, yaitu pengadaan (procurement), penanganan material (material handling), pemeliharaan (maintenance), penyimpanan (inventory), transportasi, dan informasi. Gambar 5 menunjukkan biaya logistik rantai pasok ikan laut tangkapan.
Proporsi biaya tertinggi adalah kegiatan material handling sebesar 64,94% yang terdiri dari biaya bongkar muat, biaya inspeksi, biaya penyusutan perkakas, dan biaya kerugian.
(Guritno dkk. 2016). Proporsi biaya kedua tertinggi adalah pengadaan yang mencapai 13,66% dari total biaya logistik. Hal ini disebabkan mahalnya perbekalan yang dibawa oleh nelayan saat melaut. Sedangkan biaya tertinggi ketiga adalah aktivitas persediaan (13,47% dari total biaya logistik). Kemudian proporsi biaya kegiatan pengangkutan, pemeliharaan dan informasi masing-masing sebesar 4,13%, 3,53%, dan 0,27%.
Hasil perhitungan biaya logistik, nelayan merupakan pelaku yang memiliki biaya logistik tertinggi, total biaya logistik yang dihitung untuk nelayan sebesar Rp. 21.495.
Kemudian, biaya logistik untuk pengepul, pedagang, dan pengecer adalah Rp 8.561, Rp 7.938, dan Rp 7.538. Dimana nelayan juga memiliki risiko ikan pecah dengan nilai RPN
= 9. Maka pengepul memiliki risiko paling besar diantara tingkatan lainnya yaitu risiko kerugian selama penyimpanan (RPN = 12), risiko kerugian saat pengiriman (RPN = 6), dan risiko perut pecah saat menerima (RPN = 12). Pedagang hanya memiliki satu risiko, yaitu risiko perut pecah saat penerimaan (RPN = 6). Sedangkan pengecer memiliki risiko penurunan kualitas ikan (RPN = 6) untuk pengecer. Hasil analisis biaya logistik dan penilaian risiko dapat dirangkum pada Tabel 1.
Tabel 1. Hubungan antara risiko dan biaya logistik pada rantai pasok ikan tangkap
Kategori Nelayan Pengepul Pedagang Pengecer
Risiko Risiko ikan
(Rp) Rp. 21.495 Rp 8.561 Rp 7.938 Rp 7.538
Biaya Logistik/
RPN (Rp/unit) Rp. 2.388,9 Rp 356,7 Rp 1323 Rp 1256,3
Pada Tabel 1 dapat dilihat pengepul memiliki rasio biaya logistik dan RPN yang paling rendah (Rp 356,7) artinya adalah nilai ekuivalensi risiko terhadap biaya logistik paling rendah, hal itu dapat disebabkan karena jumlah risiko yang dimiliki oleh pengepul cukup banyak. Selain itu pengepul juga memiliki risiko lainnya yang belum teridentifikasi dalam penelitian, misalnya pengepul harus memiliki modal yang banyak untuk membeli hasil tangkapan nelayan. Nelayan memiliki rasio biaya logistik dan RPN yang paling tinggi (Rp 2.388,9) artinya nilai ekuivalensi risiko terhadap biaya logistik cukup tinggi, dimana contohnya RPN dengan nilai 1 senilai dengan Rp 2.388,9. Hal tersebut berarti bahwa risiko nelayan tidak banyak namun dapat berdampak pada kerugian yang besar.
Strategi yang dapat diterapkan pada tingkat nelayan ini adalah strategi responsif, sehingga nelayan dapat berlayar dengan waktu yang lebih lama (lebih dari 1 bulan untuk kapal ukuran 30 Gross Ton keatas) untuk mendapatkan ikan lebih banyak sesuai dengan permintaan konsumen, dan tetap menyimpan hasil tangkapan di kapal untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan dari konsumen (pengepul). Strategi yang dapat ditetapkan untuk pedagang dan pengecer adalah strategi efisien, karena pelaku rantai pasok (pengepul dan pedagang) mensuplai permintaan dari konsumen dengan biaya rendah (Chopra dan Meindl, 2007), sejalan dengan tujuan utama strategi efisien rantai pasok. Oleh karena itu, pengepul dan pedagang harus memaksimalkan pelayanan dengan memenuhi kualitas dan kuantitas permintaan konsumen dengan biaya logistik yang minimal. Selain itu, pengepul dan pedagang menetapkan margin yang rendah untuk menjaga kontinuitas permintaan. Berdasarkan strategi dan hasil perhitungan biaya logistik yang telah dilakukan, maka strategi push supply chain dapat digunakan dengan menempatkan nelayan dan pengumpul sebagai decoupling point.
2. Studi Kasus pada Rantai Pasok Sayur Segar
Sayuran merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia, produksi sayuran nasional juga meningkat setiap tahunnya namun peningkatan produksi tersebut harus diikuti dengan kualitas sayuran yang baik (Guritno dan Khuriyati, 2017). Rantai pasok sayur segar secara umum terdiri dari 4 pelaku, yaitu petani, pengepul, pedagang, dan pengecer (retailer). Sistem rantai pasok digambarkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Sistem rantai pasok sayur segar
Pada sistem rantai pasok sayur, biaya material handling memiliki proporsi yang paling tinggi dibandingkan dengan aktivitas lainnya, hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Material handling memiliki persentase 65,80% dari total biaya logistik yang ada, persentase tertinggi kedua selanjutnya adalah procurement dengan nilai persentase
proporsi biaya logistik berturt-turut diikuti oleh aktivitas inventory, maintenance, dan information dengan nilai sebesar 7,24%, 1,02%, dan 0,91% (Dharmawati dkk. 2020).
Gambar 3. Proporsi biaya rantai pasok sayur pada setiap aktivitas logistik Sumber: Dharmawati dkk (2020).
Jaffe (2010) menyatakan bahwa RapAgRisk bertujuan untuk membantu menilai risiko melalui identifikasi risiko, analisis risiko, dan penilaian risiko. Berdasarkan 8 jenis risiko dalam metode RapAgRisk, terdapat 6 jenis risiko yang teridentifikasi dari rantai pasokan sayuran segar: risiko cuaca, risiko bencana alam , risiko biologis dan risiko lingkungan, risiko pasar, serta risiko logistik dan infrastruktur. Dalam kasus bencana alam seperti erupsi Gunung Merapi yang tergolong sangat rawan, petani harus berbagai cara untuk mengurangi risiko. Berdasarkan analisis data historis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2014), rata-rata letusan Gunung Merapi terjadi setiap 4 tahun sekali. Selain itu, petani harus meningkatkan kualitas kegiatan prapanen yang meliputi pola tanam, penerapan pemupukan, pengairan, pengendalian rutin, dan teknik panen untuk mencegah risiko. Di tingkat pengepul, pengepul harus memperkuat koordinasi dengan petani dan pedagang, membuat kesepakatan dan membuat prediksi terkait harga dan jumlah pesanan.
Tabel 2. Hubungan antara risiko dan biaya logistik pada rantai pasok sayur segar
Kategori Petani Pengepul Pedagang Pengecer
Risiko Risiko cuaca (RPN
= 6)Risiko bencana
(Rp) Rp 2679.29 Rp 772.65 Rp 1760.96 Rp 1370.92
Rasio Biaya Logistik/RPN
(Rp/unit) Rp 267,92 Rp 48,29 Rp 125,78 Rp 114,24
Pada Tabel 2 dapat dilihat pengepul memiliki rasio biaya logistik dan RPN yang paling rendah (Rp 48,29) artinya adalah nilai ekuivalensi risiko terhadap biaya logistik paling rendah, hal itu dapat disebabkan karena jumlah risiko yang dimiliki oleh pengepul lebih banyak dibandingkan pelaku lainnya. Petani memiliki rasio biaya logistik dan RPN yang paling tinggi (Rp 267,92) artinya nilai ekuivalensi risiko terhadap biaya logistik
cukup tinggi, dimana contohnya RPN dengan nilai 1 senilai dengan Rp 267,92. Hal tersebut berarti bahwa risiko petani tidak banyak jenisnya, namun dapat berdampak pada kerugian yang besar.
Strategi yang ditetapkan berdasarkan biaya logistik adalah penerapan strategi efisien dan responsif pada petani, penerapan strategi pull supply chain pada pelaku pengepul, penerapan strategi pull-push supply chain pada pelaku pedagang besar. Konsep Continous Planning Forecasting and Replenishment (CPFR) dapat diaplikasikan pada sistem rantai pasok sayur ini untuk meningkatkan efektifitas kolaborasi antar pelaku. Detail strategi efisien pada pelaku rantai pasok sayur dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Strategi efisiensi rantai pasok pada petani, pengepul, dan pedagang Pelaku Aktivitas Logistik Strategi Efisien Rantai Pasok Petani Material Handling
Memilih benih, pupuk, dan pestisida yang paling ekonomis dan berkualitas baik
Pembuatan pupuk buatan dari sayuran yang sudah rusak pada saat penanganan
Pengepul
Material Handling Memilih kemasan yang paling ekonomis
Melakukan pembelian dalam jumlah banyak Transportation Meningkatkan kapasitas kendaraan
Mempertimbangkan jarak, waktu, dan jumlah pengiriman
Pedagang
Material Handling Memilih kemasan penanganan yang paling ekonomis Transportation Meningkatkan kapasitas kendaraan
Menggabungkan beberapa pesanan untuk dikirim dalams atu waktu
Sumber: Guritno dkk. 2015.
KESIMPULAN
Sistem rantai pasok produk agroindustri secara keseluruhan memiliki pelaku produsen (petani/ nelayan), pengepul, pedagang, dan pengecer (retailer). Biaya logistik produsen selalu paling tinggi dibandingkan dengan pelaku lainnya. Dari segi risiko, pengepul selalu memiliki risiko dengan jumlah yang lebih banyak dan memiliki nilai RPN yang tinggi. Berdasarkan nilai rasio, produsen juga memiliki rasio biaya logistik terhadap RPN yang paling tinggi jika dibandingkan dengan pelaku lainnya. Hal tersebut berarti bahwa risiko pada tingkat produsen tidak banyak, namun dapat berdampak pada kerugian yang besar, sehingga mitigasi risiko sangat penting untuk dilakukan. Pada sistem rantai pasok ikan tangkap strategi push supply chain dapat diterapkan, sedangkan pada sistem rantai pasok sayur segar, strategi push-pull supply chain lebih tepat diterapkan dengan menambahkan konsep CPFR untuk meningkatkan efektifitas kolaborasi antar pelaku rantai pasok.
DAFTAR PUSTAKA
Chopra, Sunil dan Peter Meindl. 2007 Supply Chain Management: Strategy, Planning &
Operations 3rd Editions. New York: Pearson Prentice Hall.
Dharmawati, Melinda Sugiana, Adi Djoko Guritno, dan Henry Yuliando. 2020.
Penyusunan Strategi Rantai Pasok Komoditas Sayur Menggunakan Analisis Strukur Biaya Logistik. Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri. Volume X Nomor X: XX-XX (20XX) (in review)
Guritno, Adi Djoko. 2016. Supply Chain Risk Management: An Approach to reduce The Agricultural Product’s Logistics Cost. ICoA Conference Proceedings. Vol 3: 6-Guritno, Adi Djoko, dan Meirani Harsasi. 2013. Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain11.
Management), Edisi ke 2. Yogyakarta: Universitas Terbuka.
Guritno, Adi Djoko, Endy Suwondo, dan Henry Yuliando. 2016. Development of Cold Supply Chain Strategies in Java Island Coastal Area, Indonesia. Foreign Agriculture Economic Report pp 101-106
Guritno, Adi Djoko dan Nafis Khuriyati. 2017. An Application of RapAgRisk (Rapid Agricultural Supply Chain Risk Assessment) Method on Fresh Vegetbale for Identifying and Reducing Damage during Delivery to Consumers. The 3rd International Conference on Agro-Industry 2016. KnE Life Science. Vol 17: 1-7 Guritno, Adi Djoko, Novita Erma Kristanti, Henry Yuliando, Endy Suwondo, Kuncoro
Harto Widodo, Ibnu Wahid Fakhrudin Aziz, dan Darmawan Ari Nugroho. 2015.
Analysis of Risk Mitigation and Logistics Cost of Supply Chain for Fresh Vegetables In Indonesia. Book Chapter 4. Agri-Food Supply Chain
Heizer, Jay dan Barry Render. 2011. Operations Management. Global Edition. Pearson.
New Jersey
Heizer, Jay dan Barry Render. 2015. Manajemen Operasi. Jakarta: Salemba Empat
Jaffe, Steven, Paul Siegel, Collin Andrews. (2010). Rapid Agriculturan Supply Chain Risk Assessment: A Conceptual Framework. Agriculture and Rural Development Discussion Paper 47. The World Bank. Washington.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2014. Gunung Merapi. api.
http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/542-g-merapi?start=1. Diakses pada 22 September 2014.
Siahaan, H. 2009. Manajemen Risiko pada Perusahaan dan Birokrasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Waters, Donald.2003. Logistic: An Introduction to Supply Chain Management. Palgrave Macmillan. New York
Waters, Donald. 2007. Supply Chain Risk Management: Vulnerability and Resilience in Logistic. The Chartered Institute of Logistics and Transportation. London.
Zeng, A., dan Rossetti, C. 2003. Developing a framework for evaluating the logistics costs in global sourcing processes: An implementation and insights. International Journal of Physical Distribution and Logistics Management. Vol. 33, No 9, pp.
786 - 803.
Studi Awal Perencanaan Bisnis Aplikasi Tepung Glukomanan PorangB-09 Menjadi Produk Slimming Jelly