• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Dalam dokumen Volume 1, Tahun ISSN KATA PENGANTAR (Halaman 110-113)

Hamidah, 2 Ratna Sariningsih, 3 Gida Kadarisma STKIP Siliwangi Bandung

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 99 a. Observasi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas MIN 1 Bandung

Observasi ini dilakukan pada tanggal 19 April 2013 pada hari jumat, dimulai pukul 09.30 – 11.00, oleh bu Aan, pada kelas 3 dengan materi mengenai bangun datar. Pada Awal pembelajaran seperti biasa siswa membaca surat pendek Al-quran. Hal itu rutin dilakukan oleh setiap siswa sebelum memulai pelajaran, hal ini dikarenakan MIN adalah sekolah khusus Islam yang mengutamakan ketakwaan pada Tuhan YME. Guru cukup interaaktif mengeksplor pengetahuan siswa. Selama pembelajaran berlangsung, terlihat keaktifan siswa dalam menerima pelajaran. Kemudian siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Terlihat siswa kurang tertib dalam pengerjaan berkelompok ini, ada siswa yang mundar-mandir, asik dengan mainannya sendiri. Pembelajaran berakhir pukul 11.00

b. Observasi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas MIN 1 Bandung SD PN Sabang

Penelitian ini dilakukan pada hari rabu, 24 April 2013. Observasi kali ini dimulai pukul 09.50 WIB, guru yang diteliti Bu Eni Yuliawani, S.Pd, dengan materi mengenal berat dan ringan di kelas I. Pada awal pembelajaran, guru mengajak siswa mengenal istilah berat dan ringan dengan model yang digunakan ialah bola basket dan bola sepak. Kemudian guru memotivasi siswa dengan melakukan tepuk cerdas, hal ini menarik perhatian siswa dan siswa terlihat lebih bersemangat untuk memulai materi. Siswa terlihat senang mendapatkan pembelajaran seperti ini. Mereka lebih aktif dan dapat mengeksplorasi kemampuannya, siswa yang tadinya diam pun ikut membantu kelompoknya dalam mengerjakan LKS kelompok.

c. Observasi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas SMPN 12 Bandung

Pada awalnya, penelitian ini dilakukan pada hari Kamis, 16 Mei 2013, karena tidak adanya narasumber maka penelitian diundur pada Jumat, 17 Mei 2013. Namun pada hari pertama kami cukup banyak mengumpulkan data mengenai perkembangan PMRI di sekolah tersebut. Observasi dilakukan Hari jumat, 17 Mei 2013 pada pukul 09.30, materi yang diberikan adalah volume dan luas permukaanbangun ruang pada kelas VIII, yang diberikan oleh Bu Ratna, beliau adalah salah satu guru mata pelajaran matematika di SMPN 12 Bandung yang biasanya menerapkan PMRI pada pembelajaran matematika dan sering mengikuti pelatihan-pelatihan mengenai PMRI. Untuk merangsang pengetahuan siswa mengenai bangun ruang, terlebih dahulu guru memberikan soal mengenai bangun datar yaitu segitiga siku-siku, siswa diminta untuk mengerjakannya didepan kelas. Terlihat siswa begitu antusias menghitung banyak sisi dan rusuk dari bangun tersebut, Kemudian guru memberikan soal yang sejenis dengan bangun tersebut dan siswa diminta untuk mengerjakannya dipapan tulis; dalam hal ini siswa sudah mengetahui cara mencari volume dan luas permukaan, karena materi ini telah diajatkan sebelumnya.

2. Angket dan Wawancara

Angket dan wawancara ini diberikan kepada guru untuk mengungkap sejauh mana kesulitan-kesulitan yang dialami guru dalam penerapan PMRI dan bantuan-bantuan apa yang diperlukan guru untuk pengembangan PMRI (instrumen terlampir)

a. MIN 1 Bandung

Angket dan pedoman wawancara diberikan kepada dua orang guru kelas di MIN 1 Bandung yaitu Ibu Onis Aisyah, S.Pd, dan Ibu Masturoh ,S.Pd. Beliau-beliau ini sudah pernah mengikuti Workshop PMRI dan sering menggunakan PMRI dalam pembelajaran matematika. b. SD PN Sabang

Angket dan pedoman wawancara diberikan kepada dua orang guru mata pelajaran matematika yaitu Ibu Nylla Ismayanti, S.Pd, dan Ibu Eni Yuliawani, S.Pd,. Para guru ini sudah sering mengikuti Pelatihan mengenai PMRI dan bahkan salah satu diantara mereka sering menjadi pembicara dalam seminar mengenai PMRI.

100 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung c. SMPN 12 Bandung

Angket dan pedoman wawancara diberikan kepada Ibu Ratna, S.Pd, beliau sering mengikuti pelatihan dan workshop yang diadakan IP-PMRI.

B. Pembahasan

Dari hasil observasi di peroleh dalam pembelajaran PMRI yang telah kami amati dari masing-masing guru yang menyajikan dan dari beberapa sekolah, hakekat/ ciri-ciri PMRI,ciri yang pertama yaitu kontekstual, dimulai dari hal-hal yang kontekstual seperti benda-benda disekitar siswa yang mirip sebagai bangun datar dalam memulai pengenalan bangun datar, dan menggunakan alat-alat tulis yang siswa bahwa untuk membandingkan mana yang lebih berat. Namun disalah satu sekolah penggunaan kontekstualnya masih sangat kurang. Sehingga siswa tidak sepenuhnya dapat mengeksplor dan membayangkan bentuk dari materi yang akan dipelajari. Akan tetapi untuk aspek penggunaan kontekstual agamis secara umum guru melaksanakan pembelajaran PMRI di sekolah belum menerapkan kontekstual agamis dalam menerapkannya dalam pembelajaran PMRI. Bahkan sebagian besar guru menyatakan bahwa belum mengenal istilah tersebut. Kontekstual agamis memperluas pemahaman siswa mengenai ajaran agamanya serta mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membantu akhlak dan kepribadian siswa. Hal ini menunjukkan pentingnya pengetahuan bagi para guru dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual agamis

Ciri PMRI yang kedua yaitu penggunaan model, ciri ini dilihat pada aspek “penggunaan model matematis” yaitu secara umum pembelajaran matematik di kelas sering menggunakan alat peraga atau model matematik untuk membantu pengajaran. Hal ini sesuai dengan fakta yang di amati, para guru relatif sering menggunakan alat peraga dalam menyampaikan materi. ini terlihat ketika guru memperlihatkan bola basket dan bola sepak kemudian meminta siswa membandingkan mana yang lebih berat, dalam materi membedakan yang ringan dan yang berat, model juga digunakan dalam materi bangun ruang yang digunakan oleh salah seorang guru, beliau membawa model bangun ruang berbentuk prisma dan limas, terlihat siswa lebih memahami letak rusuk dan sisinya.

Ciri PMRI yang ketiga adalah kontribusi dan konstruksi siswa yang dilihat dari aspek “penggunaan produksi dan konstruksi siswa”, yaitu terlihat saat siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui model dan permasalahan kontekstual yang ada disekitar mereka. Namun tidak semua siswa memberikan kontribusi, sebagai contoh dalam kegiatan diskusi, masih ada siswa yang hanya diam dan tidak mau mengeluarkan pendapatnya, bahkan ada yang bermain-main dengan temannya, hal ini mungkin karena jumlah siswa yang terlalu banyak dan guru harus memantau satu per satu kelompok.

Ciri PMRI yang keempat ialah interaktif yang dilihat dari aspek “penggunaan interaktivitas”, yaitu terlihat adanya komunikasi banyak arah antara siswa dengan guru, kemudian siswa dengan siswa, siswa menjadi lebih aktif mengeluarkan pendapat, mengoreksi kesalahan yang dikerjakan temannya, dengan diskusi menjadi sarana bertukar fikiran.

Ciri PMRI yang kelima ialah keterkaitan antar topik, yang dilihat dari aspek “penggunaan keterakitan” secara umum menunjukkan bahwa tidak semua guru mengkaitkan materi ajar dengan pokok bahasan lain atau mata pelajaran lain. Hal ini terlihat hanya seorang guru yang melakukannya dengan menggunakan alat olahraga sebagai model pembelajaran, kemudian mengaitkannya dengan matapelajaran olahraga. Ciri yang kelima ini yang paling sulit untuk di lakukan dalam penerapan PMRI.

Dari uraian hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa penggunaan kontekstual agamis tidak digunakan bahkan tidak dikenal oleh para guru. Sedangkan penggunaan pendekatan kontekstual tematik hanya sedikit diberikan.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 101 Angket dan wawancara yang telah diberikan kepada guru bertujuan untuk mengungkap kesulitan apa saja yang dialami dalam menerapkan PMRI dan bantuan apa saja yang dibutuhkan untuk mengembangkan PMRI. Untuk pertanyaan mengenai kesulitan apa saja yang dialami ketika menerapkan PMRI kebanyakan menjawab bahwa waktu yang dibutuhkan cukup lama dan perlu persiapan yang matang, kemudian mengenai kontekstual yang agamis rata-rata menjawab tidak tahu dan hanya dua orang yang menjawab bahwa mereka menggunakan kontektual yang agamis dalam penerapan PMRI, kami melakukan triangulasi khusus untuk pertanyaan ini, ternyata hasil dilapanganpun tidak mendukung pernyataan dari guru yang menyebutkan pembelajarannya menggunakan kontekstual agamis. Bagi yang tidak tahu, menurut kami kontekstual agamis hanya ada di sekolah yang berbasis agama saja seperti Madrasah Ibtidaiyah. Jadi wajar saja jika sebagian guru tidak mengetahui mengenai hal tersebut.

Mengenai pertanyaan „apakah menggunakan pendekatan tematik‟, para nara sumber mengaku selalu menggunakan pendekatan tematik. Sedangkan dari hasil observasi di sekolah tersebut menunjukkan tidak semua guru menggunakan pendekatan tematik dalam pembelajarannya.

Kami melakukan wawancara mengenai apakah PMRI masih digunakan dalam pembelajaran matematika akhir-akhir ini, 3 dari 5 responden yang kami wawancarai menjawab bahwa mereka sudah tidak pernah menggunakan PMRI lagi, sejak 3 tahun terakhir, 2 menjawab kadang-kadang dan jika memungkinkan baru menggunakan PMRI. Hal ini ada hubungannya dengan peninjauan dan pelatihan yang dilakukan oleh Institut pengembangan PMRI, mereka mengakui bahwa sejak 3 tahun terakhir tidak pernah ada bantuan berupa buku sumber, dan pelatihan lagi. Mereka mengatakan ketika IP PMRI masih intens membantu pengembangan PMRI sering diadakan pelatihan –pelatihan, seminar, workshop, kemudian bantuan berupa buku sumber, buku khusus guru dan khusus siswa mereka dapatkan. Tetapi, sekarang bantuan seperti itu sudah tidak pernah diperoleh lagi.

Pertanyaan terakhir yaitu mengenai bantuan berupa biaya, 5 responden mengatakan tidak pernah ada bantuan berupa biaya dari IP PMRI sebelumnya, bantuan yang diterima hanya berupa pelatihan dan sumber-sumber, responden mengakui bahwa bantuan berupa biaya dibutuhkan untuk mengembangkan PMRI, contohnya dalam pembuatan model, tidak hanya kreativitas guru saja yang diperlukan, tetapi biaya untuk membeli bahan dan alat-alatnya, kemudian untuk mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan diperlukan biaya juga.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen Volume 1, Tahun ISSN KATA PENGANTAR (Halaman 110-113)