• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil penelitian dibagi atas empat bagian yaitu data demografi responden, kecerdasan spiritual berdasarkan teori Emmons, perilaku caring responden berdasarkan sepuluh caractive factor dan mengidentifikasi apakah adanya hubungan antara kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat dalam pelayanan keperawatan di ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan pada bulan Nopember 2012.

5.1.1. Karakteristik Responden

Responden pada penelitian ini adalah perawat yang bertugas di lima ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan sejumlah 70 orang. Adapun karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, dan penghasilan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden rata-rata berusia 26 tahun. Dengan rentang usia adalah 23 dengan usia maksimum adalah 45 dan usia minimum adalah 22. Kemudian mayoritas responden adalah 92,9% perempuan dengan jumlah 65 orang. Pendidikan responden mayoritas adalah 88,6% Dilpoma dengan jumlah 62 orang. Mayoritas responden yang belum menikah adalah 68,6% yang berjumlah 48 orang, serta berpenghasilan mayoritas diatas Rp.1.000.000,00 adalah 90,0% dengan jumlah 63 orang.

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan responden di ruang inap rawat di RS ST Elisabeth Medan pada bulan Nopember 2013

N=70 Karakteristik responden Frekuensi Persentase(%) Usia 22-26 47 67,1 27-32 13 18,6 33-37 5 7,1 38-45 5 7,1 Jenis kelamin Perempuan 65 92,9 Laki-laki 5 7,1 Pendidikan Diploma 62 88,6 Sarjana 8 11,4 Status Menikah 22 31,4 Belum menikah 48 68,6 Penghasilan (Rp) 1.000.000-2.000.000 63 90,0 3.000.000-5.000.000 7 10,0

5.1.2 Kecerdasan Spiritual Responden

Berdasarkan hasil analisa data dari keseluruhan responden terhadap perawat di ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan maka diperoleh bahwa kecerdasan spiritual perawat secara keseluruhan pada kelas interval 61-80 dengan frekuensi= 68 orang dan persentase= 97,1%. Sehingga hasil yang didapatkan oleh peneliti dalam arti baik. Dan total frekuensi yang diperoleh berkisar dari nilai 60 sampai dengan 80 adalah 70 dan persentasenya 100%.

Tabel 5.2: Distribusi frekuensi dan persentase kecerdasan spiritual perawat di ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan

N=70 Kecerdasan Spiritual Frekuensi Persentase (%)

61-80 68 97,1

41-60 2 2,9

20-40 0 0

5.1.3 Perilaku Caring Responden

Berdasarkan hasil analisa data dari keseluruhan responden terhadap perawat di lima ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan maka diperoleh bahwa perilaku caring perawat secara keseluruhan pada kelas interval 61-80 dengan frekuensi = 61 orang dan persentase = 87,1%. Sehingga hasil yang didapatkan oleh peneliti dalam arti baik. Dan total frekuensi yang diperoleh berkisar dari nilai 60 sampai dengan 80 adalah 70 dan persentasenya 100%.

Tabel 5.3:Distribusi frekuensi dan persentase perilaku caring perawat di ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan

N=70

Perilaku Caring Frekuensi Persentase (%)

61-80 61 87,1

41-60 9 12,9

20-40 0 0

5.1.4. Hubungan Kecerdasan Spiritual dengan Perilaku Caring Responden Analisa hubungan kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat diukur dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Nilai diambil dari total skor dari dua variabel sehingga hasil penelitian didapat koefisien korelasi (r) antara kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat yaitu r = 0,465 dengan sig(2-tailed) sebesar .000. Hal tersebut berarti bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat dengan arah positif p<0,05 bersifat searah, dan kekuatan hubungan r=0,465 (sedang). Dengan demikian semakin baik kecerdasan spiritual sebagai variabel independen maka semakin baik juga perilaku caring responden sebagai variabel dependen.

Tabel 5.4: Hasil analisa hubungan kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat di ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan

N=70 Variabel total skor r sig(2-tailed) Kecerdasan spiritual 5201 0.465 .000 Perilaku caring 4687

5.2. Pembahasan

5.2.1 Kecerdasan Spiritual Perawat di Ruang Rawat Inap RS ST Elisabeth Medan

Hasil analisis deskriptif dari kecerdasan spiritual dari tabel menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual responden mayoritas dalam katagori yang baik dan tidak ada responden yang memiliki kecerdasan spiritual yang kurang. Hal tersebut karena seluruh responden adalah umat beragama yang bermayoritas beragama Nasrani yang mengajarkan untuk tetap berdoa sebelum melakukan segala tindakan pelayanan keperawatan dan dasar kepada penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut senada diungkapkan Ahmad (2006) bahwa yang paling sempurna kecerdasan spiritual harus bersumber dari ajaran agama yang dihayati seorang yang beragama sekaligus akan menjadi orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Sehingga Saifullah (2005) menyatakan bahwa kecerdasan spiritual yang sejati merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai tidak saja terhadap manusia tetapi juga kepada Tuhan.

Kecerdasan spiritual (SQ) adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat (Soemanto, 1983). Demikian pula seperti yang dikemukakan oleh Zuhri (Yosef, 2005) bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Asumsinya adalah jika seseorang memiliki hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusia pun akan baik pula. Pengukuran kecerdasan spiritual mengungkap berbagai aspek yang mengacu pada teori Emmons (dikutip dari Saifullah, 2005) yang menjelaskan bahwa karakteristik orang yang cerdas secara spiritual adalah yang memiliki kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material, kemampuan untuk mengalami tingkatan kesadaran yang memuncak, kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari, kemampuan menggunakan sumber-sumber spiritual dalam menyelesaikan masalah untuk berbuat baik dan memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan.

5.2.2 Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat Inap RS ST Elisabeth Medan Hasil analisis data perilaku caring perawat berdasarkan sepuluh caractive factor menurut Watson secara keseluruhan dapat dilihat dalam katagori yang baik dan tidak ada responden yang memiliki perilaku caring yang kurang. Perilaku

caring dengan mengacu pada pengembangan dari carative factor Watson (1979

dalam Poter dan Perry, 2009) yang mencakup membentuk sistem nilai humanistic-altruistic, menanamkan keyakinan dan harapan, mengembangkan

sensitifitas untuk diri sendiri dan orang lain, membina hubungan saling percaya dan saling bantu, meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif, menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis dalam pengambilan keputusan, meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal, menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi, memperbaiki mental dan sosiokultural, membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia serta mengembangkan faktor eksistensial-fenomenologis dan dimensi spiritual.

5.2.3 Hubungan Kecerdasan Spiritual dengan Perilaku Caring Perawat dalam Pelayanan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RS ST Elisabeth Medan

Hasil yang diperoleh dari uji hipotesis menunjukkan bahwa ada hubungannya positif dan tingkat hubungannya sedang antara kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat dalam pelayanan keperawatan di ruang rawat inap RS ST Elisabeth Medan. Hasil penelitian tersebut senada dengan penelitian Rudyanto (2010) yang menunjukkan bahwa adanya hubungan yang positif antara kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial perawat yaitu semakin tinggi kecerdasan spiritual perawat maka semakin tinggi pula perilaku prososialnya dimana perilaku prososial adalah tindakan-tindakan yang dilakukan bertujuan untuk menolong orang lain.

Sehingga asumsi peneliti dapat dipastikan bahwa ternyata ada hubungan perilaku caring perawat tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi, namun juga

dipengaruhi oleh kecerdasan dasar yang dimiliki setiap perawat. Kecerdasan spiritual berkaitan dengan masalah makna, nilai, dan tujuan hidup manusia. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna dan juga dapat menuntun manusia dalam meraih cita-citanya. Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Pencarian makna bagi perawat seharusnya mampu mengaitkan pemberian pelayanan keperawatan atas dasar ibadah kepada Tuhan (Yosef, 2005). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan kecerdasan spiritual berhubungan dengan perilaku caring perawat dengan arah hubungan yang positif dimana semakin tinggi kecerdasan spiritual maka perilaku caring perawat semakin baik. Dan hipotesa penelitian dengan Ha dapat diterima.

Demikian pada penelitian yang dilakukan , tingkat hubungan yang sedang antara kecerdasan spiritual dengan perilaku caring responden terjadi dikarenakan saat mengisi kuesioner, responden mempunyai banyak pekerjaan dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada klien bahkan kepada keluarga klien, sehingga kurang berkosentrasi dalam mengisi kuesioner tersebut. Sehingga peneliti menjadi kesulitan dengan menunggu sangat lama responden untuk mengisi kuesioner tersebut.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait