• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN TIPE TGT PADA KONSEP TEORI KINETIK GAS

C. HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Perangkat Pembelajaran

Silabus, RPP, LKS, Buku Siswa, Tes Hasil Belajar memiliki kategori baik, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran dengan sedikit revisi.

Kemampuan guru dalam mengelola KBM

Masing-masing aspek yang diamati dalam lembar pengamatan kemampuan guru mengelola KBM kelas STAD dan TGT memiliki kategori baikkarena skor pada semua aspek yang diamati adalah ≥ 3,00.

Aktivitas Siswa Dalam KBM

Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran telah mencerminkan aktivitas spesifik siswa dalam kegiatan pembelajaran kooperatif baik pada tipe STAD maupun tipe TGT.

Respon Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan siswa baik kelas STAD maupun kelas TGT senang terhadap komponen kegiatan belajar mengajar. Secara umum respon siswa kelas TGT lebih tinggi persentasenya daripada respon siswa kelas STAD.

Hasil Belajar

Ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah 93,59% dengn nilai rata-rata kelas 80,41. Terdapat lima siswa yang tidak mencapai nilai KKM karena skorposttest kurang dari 75. Ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah 98,67% dengn nilai rata-rata kelas 84,07. Terdapat hanya satu siswa yang tidak mencapai nilai KKM karena skor posttest kurang dari 75. Untuk membandingkan mean hasil belajar dari dua tipe pembelajaran dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan Hasil Belajar Tipe STAD dan Tipe TGT.

NO Model Pembelajaran MeanPosstest Meangain score

1. Tipe TGT 84,07 66,80

2. Tipe STAD 80,41 62,93

Uji Hipotesis

Data-data hasil belajar digunakan untuk melakukan uji hipotesis dalam penelitian ini. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorof-Smirnof. Dengan menggunakan SPSS 16.0 diperoleh ringkasan hasil uji normalitas seperti pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel. 2 Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Siswa

NO KELAS Sig (2 tailed) Keterangan

1. Tipe TGT 0,391 Berdistribusi normal

2. Tipe STAD 0,369 Berdistribusi normal

Kaidah penetapan adalah jika Sig > 0,05, maka distribusi data dinyatakan normal.

Berdasarkan Tabel 2 distribusi data kedua kelas dinyatakan normal, sehingga uji hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan uji parametrik, yaitu dengan uji-t. Dengan menggunakan SPSS 16.0 diperoleh hasil analisis seperti pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Hasil UjiLevenedan Uji-t Data Hasil Belajar Siswa

Untuk menentukan jenis uji-t yang digunakan perlu dilakukan uji homogenitas data. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji Levene. Kaidah penetapannya adalah jika Sig > 0,05, maka varians kedua kelompok data homogen. Dari hasil Uji Levene pada Tabel 4.21 diperoleh Sig > 0,05 (0,372 > 0,05), sehingga varian kedua kelompok data homogen. Karena jumlah sampel kedua kelas eksperimen tidak sama (n1≠ n2) dan varian kedua kelas eksperimen homogen (σ1= σ2), makapooled varian, dengan rincian berikut ini.

- Hipotesis Ho: µ1≤ µ2 Ha: µ1> µ2 Dimana :

µ1= mean hasil belajar siswa kelas TGT µ2= mean hasil belajar siswa kelas STAD

- Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4.20 diperoleh thitung= 4,763 ( lihat nilai t pada baris pertama).

- Nilai thitungkemudian dibandingkan dengan ttabel. Dengan df = 151 pada taraf signifikansinya 5%, maka ttabel= 1,645 ( Uji satu pihak)

- Kriteria pengujian dinyatakan bahwa jika thitung> ttabel, maka Hoditolak dan Haditerima. Dari hasil analilis uji t diperoleh harga thitung > ttabel(4,763 > 1,645), Hasil ini sekaligus menolak hipotesis nol penelitian. Dengan demikian dapat dikatakan mean hasil belajar TGT lebih baik dibandingkan dengan mean hasil belajar STAD.

Hambatan-hambatan yang Ditemui Pada Saat Penelitian

Hasil lengkap hambatan yang dijumpai selama penelitian dirangkum dalam Tabel 4 berikut.

Tabel. 4 Rangkuman Hambatan-Hambatan yang Dijumpai

NO STAD TGT

HAMBATAN SOLUSI HAMBATAN SOLUSI

1. Pada pertemuan pertama siswa kurang aktif melaporkan hasil kerjanya kepada kelompok Guru mendekati kelompok dan memberikan pertanyaan pancingan, sehingga siswa yang tidak bisa akan bertanya kepada teman anggota lainnya

Pada pertemuan pertama siswa bingung mencari meja turnamen sehingga waktu yang dibutuhkan untuk melakukan turnamen melebihi waktu yang diperlukan

Daftar pemain pada meja turnamen ditempel di papan pengumuman kelas dan meja turnamen disiapkan sebelum mulai pembelajaran. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil Belajar

Untuk menguji hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih baik dibandingkan dengan tipe STAD dilakukan uji t dengan cara menguji nilai peningkatan antara pretestdanposttest(gain score) yang diperoleh siswa. Hasil pengujian hipotesis dengan uji-t menunjukkan harga thitung > ttabel (4,763 > 1,645). Dengan demikian dapat dikatakan mean hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih baik dibandingkan dengan tipe STAD.

Slavin (1995:6) menyatakan bahwa “TGT has many of the same dynamic as STAD, but adds a dimension of excitement contributed by use of games.” TGT memiliki dinamika motivasi sebanyak yang dimiliki STAD, hanya bedanya pada tipe TGT ditambah dengan satu kegembiraan. Dengan adanya aspek kegembiraan pada tipe TGT tersebut respon siswa dan motivasi siswa dalam pembelajaran akan menjadi lebih tinggi jika dibandingkan pada kelas tipe STAD, sehingga dengan adanya perbedaan tersebut akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Selanjutya (Nur, 2008:11) menyatakan bahwa:

“Guru yang berhasil membuat siswa merasa senang dan membuat mereka merasa diterima dan dihormati sebagai individu, lebih besar peluangnya untuk membantu mereka menjadi bersemangat untuk belajar demi pembelajaran dan kesediaan berkorban untuk menjadi kreatif dan terbuka terhadap ide-ide baru.”

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada tipe STAD dan tipe TGT sama-sama bisa membuat siswa diterima dan dihormati sebagai individu karena bertanding dengan lawan seimbang (turnamen akademik) pada TGT, menyerupai sistem skor perbaikan individu pada STAD, yang memungkinkan bagi setiap siswa dari seluruh tingkat kinerja yang lalu menyumbang secara maksimal kepada skor tim mereka apabila melakukan yang terbaik. Akan tetapi, pernyataan pada kutipan di atas “guru yang berhasil membuat siswa merasa senang” ini yang membedakan antara tipe STAD dan tipe TGT. Dari pernyataan tersebut di atas dapat

diartikan bahwa guru yang berhasil membuat siswa merasa senang dalam proses pembelajaran ternyata dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Welberg dan Greenberg (dalam Darmansyah, 2010) mengemukakan bahwa lingkungan sosial atau suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademis. Pendapat tersebut diperkuat oleh DePorter dan Hernacki (1999) yang menyatakan bahwa jika guru secara sadar menciptakan kesempatan untuk membawa kegembiraan ke dalam pekerjaannya, kegiatan mengajar dan belajar akan lebih menyenangkan. Kegembiraan membuat siswa siap belajar dengan lebih mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif.

Berdasarkan pemaparan di atas, perbedaan kegembiraan dan motivasi siswa pada tipe STAD dan tipe TGT ini bisa dibuktikan pada data hasil penelitian respon siswa setelah diberikan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe TGT. Pada hasil penelitian ini menyatakan bahwa respon siswa tipe TGT lebih tinggi daripada respon siswa tipe STAD. Berdasarkan pada Tabel 4.20, diperoleh data respon siswa senang terhadap suasana kelas adalah 88,46% pada kelas STAD dan 98, 67% pada kelas TGT. Respon siswa senang terhadap strategi belajar yang dilakukan pada kelas STAD adalah 91,03% dan 100% pada kelas TGT. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru pada tipe TGT mampu meningkatkan minat siswa lebih tinggi dalam pembelajaran dibandingkan pada kelas STAD. Hal tersebut diatas berdampak pada keinginan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar fisika selanjutnya, yang ditunjukkan oleh respon siswa sebesar 91,03% pada kelas STAD dan 100% pada kelas TGT. Selain itu persentase respon siswa model pembelajaran yang digunakan memudahkan dalam strategi belajar sebesar 94,11% pada tipe STAD dan 97,10% pada tpe TGT. Berdasarkan respon senang (kegembiraan) pada tipe TGT tersebut ternyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan tipe STAD akan berdampak pada peningkatan motivasi belajar, secara otomatis dengan meningkatnya motivasi maka hasil belajar siswa akan semakin meningkat. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori motivasi yang menyatakan siswa akan belajar jika mereka yakin tujuan mereka akan tercapai jika masing-masing belajar baik (Slavin, 1995). Hasil pengamatan aktivitas siswa kelas TGT menunjukkan sebagian besar waktunya digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi turnamen. Dari motivasi yang tinggi dan banyaknya waktu yang digunakan mereka menghadapi turnamen berdampak pada peningkatan kemampuan mereka memahami materi (Slavin, 1995). Dengan demikian, hasil belajar pada pembelajaran tipe TGT lebih baik daripada hasil belajar tipe STAD sebagaimana yang ditunjukkan dari hasil pengujian hipotesis.

D. SIMPULAN

Berdasarkan deskripsi umum hasil penelitian tahap pengembangan perangkat dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan, yaitu:

1. Masing-masing aspek yang diamati dalam lembar pengamatan kemampuan guru mengelola KBM kelas STAD dan TGT memiliki kategori baik.

2. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran telah mencerminkan aktivitas spesifik siswa dalam kegiatan pembelajaran kooperatif baik pada tipe STAD maupun tipe TGT.

3. Respon siswa pada kelas TGT persentasenya lebih tinggi dibandingkan respon siswa kelas STAD.

4. Hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih baik dibandingkan dengan tipe STAD.

5. Hambatan yang dijumpai selama penelitian banyak disebabkan oleh belum terbiasanya siswa terhadap strategi belajar yang dilatihkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. I (2008). Learning to Teach. Belajar untuk Mengajar. Edisi ketujuh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Darmansyah. 2010. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta. Bumi Aksara.

DePorter, Bobbi., dan Hernacki, Mike. 1999. Quantum Learning. Terjemahan Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.

Nur, M. 2008. Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Tim Pengembang LPMP Jawa Timur dan PSMS Unesa. Surabaya: PSMS Unesa.

Slavin, R.E. (1995). Cooperative Learning Theory, Research And Practice. Massachusetts: Allyn and Bacon.

Vaugan, W. 2002. “ Effect of Cooperative Learning on Achievement and Attitude Among Students of Color”.Journal of Education Research.

Wyk. M. M. 2010. The Effects of Teams-Games-Tournaments on Achievement, Retention, And Attitudes Of Economics Education Students.Journal of Education Research.

111

PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE)BERBASIS