Pengamatan Makroskopis
Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan bahwa hati M. javanica berbentuk semilunar, dengan permukaan diafragmatika yang sangat cembung dan permukaan viseralis yang sangat cekung (Gambar 2). Hati M. javanica dipisahkan oleh tiga incisura interlobularis menjadi tujuh lobi, yaitu lobus sinister lateral, lobus sinister medial, lobus quadratus, lobus dekster medial, lobus dekster lateral, lobus kaudatus dan lobus papillaris. Lobus sinister lateral merupakan lobus terbesar pada M. javanica. Lobus terbesar kedua adalah lobus quadratus yang berada diantara lobus sinister medial dan lobus dekster medial. Lobus ini dipisahkan dari lobus sinister medial oleh incisura interlobaris disebelah kiri dan disebelah kanan ditandai dengan kantung empedu.
Lobus terbesar ketiga adalah lobus dekster lateral. Pada bagian kaudal lobus dekster lateral terdapat lobus kaudatus yang memiliki lekukan terdalam (impressio renalis). Pada salah satu sampel hati M. javanica terdapat batas yang jelas antara lobus dekster lateral dengan lobus kaudatus (Gambar 2B). Akan tetapi pada dua sampel lainnya tidak terdapat batas yang jelas antara kedua lobi tersebut. Lobus papillaris berbentuk penjuluran kecil.
Kantung empedu M. javanica merupakan suatu kantung yang terletak pada fossa vesica fellea, yaitu antara lobus dekster medial dan lobus quadratus. Pada M. javanica kantung empedu umumnya mencapai margo ventralis hati. Ukuran hati M. javanica relatif besar bila dibandingkan dengan berat tubuhnya. Berat hati M. javanica adalah 66,66 - 70,00 gram, dengan rata-rata (2,4 ± 0,60)% berat badan (Tabel 1).
Tabel 1. Persentase berat hati dibanding berat badan M. javanica
No Jenis
kelamin Berat badan (gram) Berat hati (gram) % Berat hati
1. ♀ 3200 67,11* 2,11
2. ♂ 3700 70,00* 1,90
3. ♂ 2200 66,66* 3,05
Rata-rata
3033,33±763,76 67,92±1,81 2,40±0,60
Gambar 2 Morfologi hati trenggiling (M. javanica) secara makroskopis berbentuk
semilunar dengan permukaan diagfragmatika yang sangat cembung (A) dan permukaan visceralis yang sangat cekung (B). Hati terdiri dari tujuh lobi, yaitu lobus sinister lateralis (a), lobus sininster medial (b), lobus quadratus (c), lobus dekster medial (d), lobus dekster lateral (e), lobus kaudatus (f), lobus papillaris (g), kantung empedu (h), Impressio renalis (i) merupakan lekukan terdalam pada lobus kaudatus, ligamentum falciformis (anak panah) berkembang subur, Vena cava posterior (kepala anak panah), dan Daerah porta hepatis (lingkaran). (Bar = A dan B = 1 cm).
Lobus
Rata-rata
Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm)
A 5,5 ± 4,7 ± 2,2 ± B 3,0 ± 1,8 ± 1,4 ± C 4,7 ± 4,0 ± 2,1 ± D 3,1 ± 1,2 ± 1,3 ± E 3,6 ± 3,5 ± 2,0 ± F 2,0 ± 2,5 ± 1,5 ± G 1,2 ± 2,0 ± 1,0 ± Keterangan :
A : Lobus sinister lateral B : Lobus sinister medial C : Lobus quadratus
D : Lobus dekster medial E : Lobus dekster lateral
F : Lobus kaudatus G : Lobus papillaris
Pengamatan Mikroskopis
Hati M. javanica memiliki lobulasi yang tidak jelas, Balok-balok sel hati (hepatosit) tersusun secara radier mengelilingi vena sentralis. Semakin ke bagian tepi dari lobulus, alur hepatosit semakin tidak radier dan tidak teratur. Alur hepatosit kembali radier untuk membentuk lobulus yang lainnya (Gambar 3).
Hepatosit M. javanica berbentuk poligonal, dengan deretan hepatosit mempunyai batas antar sel yang cukup jelas (Gambar 3). Inti hepatosit atau nukleus M. javanica relatif besar, berbentuk bulat dan berada di tengah. Sebuah hepatosit dapat memiliki 1 - 2 buah nukleus dan masing-masing nukleus dapat juga memiliki 1 - 2 buah nukleolus.
Sitoplasma hepatosit M. javanica bersifat asidofilik mengadung butiran-butiran dan vakuola-vakuola kosong yang diduga sebagai endapan lemak. Dengan pewarnaan Hematoksilin eosin (HE) sitoplasma terlihat mengambil warna merah cerah (Gambar 4).
Gambar 3 Gambaran mikroskopis lobulasi hati M. javanica. a. Vena sentralis; b. Daerah trias hepatica terletak diantara tiga vena sentralis; c. Balok hepatosit membentuk alur radier, semakin ketepi bagian alur radier hepatosit semakin tidak jelas. (Pewarnaan HE, bar = 50 µm).
Sinusoid M. javanica berliku-liku dan tidak teratur yang membentuk alur radier dalam lobulus, serta memisahkan deretan balok hati yang satu dengan yang lainnya (Gambar 4). Pada dinding sinusoid M. javanica terdapat sel Kupffer yang
memiliki inti berbentuk oval dengan ukuran yang lebih kecil serta warna yang lebih pekat bila dibandingkan dengan inti sel hepatosit.
Gambar 4 Gambaran mikroskopis hati M. javanica. a. Vena sentralis; b. Sinusoid; c. Hepatosit dengan inti 1-2 buah; d. Butiran sitoplasma yang mengambil warna merah; e. Sel endotel; Sel Kupffer yang berwarna lebih gelap dari pada inti hepatosit (anak panah); Vakuola yang mengandung lemak dan protein (kepala anak panah). (Pewarnaan HE, bar A= 30µm dan B= 50µm).
Pada hati M. javanica gambaran epitel mukosa duktus empedu interlobularis adalah berbentuk kubus dengan inti bulat dan terletak di basal (Gambar 5). Duktus ini merupakan salah satu unsur trias hepatica. Kearah kantung empedu bentuk sel epitel semakin mendekati bentuk silindris sebaris.
Gambar 5 Daerah trias hepatica diantara lobulus hati M. javanica. a. Vena interlobularis; b. Arteri interlobularis; c. Duktus empedu interlobularis dengan sel-sel epitel berbentuk kubus; d. Vena sentralis.(Pewarnaan A = HE, B = Masson’s trichrome, bar A dan B = 50 µm).
Dengan pewarnaan Alcian blue (AB), memperlihatkan hasil negatif pada sitoplasmanya (Gambar 6A). Sedangkan dengan pewarnaan periodic acid Schiff (PAS), butir-butir sitoplasma hepatosit menunjukkan reaksi positif dengan memperlihatkan warna merah keunguan (Gambar 6B).
Gambar 6 Gambaran mikroskopis hati M. javanica. a. Hepatosit; b. Inti hepatosit; butir-butir sitoplasma yang bereaksi positif terhadap pewarnaan PAS dengan mengambil warna merah keunguan (anak panah). (Pewarnaan A = Alcian blue, B = Peiodic acid Schiff, bar = A dan B = 20µm). Dinding kantung empedu M. javanica terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan mukosa, lapisan otot polos dan lapisan serosa. Mukosa dinding kantung empedu M. javanica membetuk lipatan-lipatan kearah lumen, dengan ketinggian yang tidak sama. Pada bagian pangkal kantung empedu lipatan mukosa cukup tinggi dan rapat, namun semakin ke ujung lipatan semakin rendah dan renggang.
Permukaan mukosa kantung empedu M. javanica mempunyai sel epitel berbentuk epitel silindris sebaris dengan inti yang terdapat dibagian membran basal. Lapisan propia berupa jaringan ikat yang tipis dengan pembuluh-pembuluh darah. Pada M. javanica lapisan otot polos kantung empedu tidak begitu tebal, namun dengan pewarnaan Masson’s trichrome terlihat dua macam lapisan otot, yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler (Gambar 7).
Gambar 7 Dinding kantung empedu hati M. javanica. a. Epitel silindris sebaris dengan inti terletak di basal; b. Lamina propia yang mengambil warna hijau; c. Lapisan otot polos sirkuler; d. Lapisan otot polos longitudinal; e. Lapisan serosa. f. Pembuluh darah; g. Lumen (Pewarnaan Masson’s trichrome, bar A= 50 μm dan B = 20 μm).
PEMBAHASAN
Pengamatan Makroskopis
Hasil pengamatan secara makroskopis memperlihatkan bahwa hati M. javanica berbentuk semilunar dan berukuran relatif besar. Bentuk semilunar hati M. javanica mirip dengan bentuk hati anjing (Getty 1975), S. kuhlii (Chairani 1998) dan T. javanica (Gustina 1999). Permukaan hati M. javanica dibagi atas dua bagian, yaitu facies diafragmatica yang berbatas dengan permukaan diafragma dan facies visceralis yang berbatasan dengan organ-organ viscera. Permukaan diafragmatika berbentuk cembung sesuai dengan kelengkungan dari diafragma dan dinding ventral abdomen tempat hati melekat.
Pada bagian cranial permukaan diafragmatika terdapat ligamentum falciformis yang berfungsi untuk menghubungkan hati dengan diafragma di ruang abdomen. Pada posisi bertahan.M. javanica sering kali melingkarkan tubuhnya dan berguling seperti bola (Lekagul dan Mc Neely 1977; Rahm 1990). Sehingga diperlukan penggantung yang cukup kuat untuk menahan posisi median hati di ruang abdomen agar tetap melekat pada dinding diafragma. Diduga karena alasan tersebut menyebabkan ligamentum falciformis pada M. javanica berkembang subur. Gambaran ini tidak ditemukan pada hati anjing dan ruminansia (Getty 1975), S. kuhlii (Chairani 1998) serta T. javanica (Gustina 1999).
Hati M. javanica dipisahkan oleh tiga incisura interlobularis menjadi tujuh lobus, yaitu lobus sinister lateral, lobus sinister medial, lobus quadratus, lobus dekster medial, lobus dekster lateral, lobus kaudatus dan lobus papillaris. Sama seperti pada anjing (Getty 1975), lobus sinister lateral merupakan lobi yang paling besar. Lobi terbesar kedua adalah lobus quadratus yang berada diantara lobus sinister medial dan lobus dekster medial. Pada manusia lobus quadratus adalah nama lain dari lobus dekster sentralis (Getty 1975). Lobus quadratus M. javanica dipisahkan dari lobus sinister medial oleh incisura interlobaris di sebelah kiri dan di sebelah kanan ditandai dengan lekukan yang dalam sebagai tempat kantung empedu. Menurut Carola et al. (1976), lobus quadratus dibatasi oleh kantung empedu di sebelah kanan dan ligamentum teres di sebelah kiri. Menurut Getty (1975), lobus qudaratus terletak di bawah lekukan portal dan berada di sebelah
kiri dari kantung empedu dan ductus cycticus. Pada bagian caudal lobus dekster lateral terdapat lobus kaudatus yang memiliki lekukan terdalam (impressio renalis) pada permukaan viseralis akibat tekanan dari ginjal kanan yang merupakan ciri khas dari lobi tersebut.
Pada salah satu sampel hati M. javanica terdapat batas yang jelas antara lobus dekster lateral dengan lobus kaudatus. Akan tetapi pada dua sampel lainnya tidak terdapat batas yang jelas antara kedua lobi tersebut. Hal ini menunjukkan adanya variasi mofologi batas kedua lobi tersebut.
Lobus papillaris berbentuk penjuluran kecil di bagian medial permukaan viseralis hati M. javanica dan merupakan bagian dari lobus kaudatus yang dipisahkan oleh lekukan sekunder. Keberadaan lobus papillaris ditemukan juga pada hati anjing (Getty 1975), S. kuhlii (Chairani 1998) dan T. javanica (Gustina 1999). Seperti pada umumnya mamalia, kantung empedu M. javanica merupakan suatu kantung yang terletak pada fossa vesica fellea, yaitu antara lobus dekster dan lobus quadratus (Getty 1975). Posisi kantung empedu ini mirip dengan anjing, tetapi bedanya ialah pada ukuran panjang kantung empedu. Pada anjing, ujung kantung empedu biasanya tidak mencapai batas ventral hati. Pada M. javanica umumnya mencapai margo ventralis hati. Gambaran ini mirip dengan hati S. kuhlii (Chairani 1998) dan T. javanica (Gustina 1999).
Berat hati M. javanica adalah 66,66 - 70,00 gram atau sekitar 2,4 - 3,0% dari berat badan. Apabila dibandingkan dengan mamalia lain, maka terlihat bahwa persentase berat hati M. javanica jika dibandingkan dengan berat badan cukup tinggi. Menurut Getty (1975), berat hati kuda sekitar 5 kg, kuda beban 9 kg, sapi 4,5 - 5,5 kg dan domba 550 - 700 gram. Berat ini bila dikonversikan dengan berat badan rata-rata masing-masing spesies tersebut adalah sekitar 1%. Persentase berat hati terhadap berat badan pada beberapa hewan lainnya adalah sebagai berikut : Anjing sekitar 3% (Getty 1975), kelelawar pemakan serangga S. kuhlii sekitar 3,5% (Chairani 1998) dan tupai T. javanica yang juga pemakan serangga sekitar 2,8 - 3,8% (Gustina 1999). Sedangkan pada manusia persentase berat hati adalah sekitar 2 - 2,5% (Warwick dan Williams 1973).
Berdasarkan jenis pakannya, hewan dapat dikelompokan sebagai berikut : herbivora (pemakan tumbuhan), omnivora (pemakan daging dan tumbuhan) dan
karnivora (pemakan daging). Berat hati masing-masing kelompok hewan tersebut adalah sekitar 1%, 2 - 2,5% dan 3% dari berat badan. Secara lebih spesifik juga dikenal hewan insektivora (pemakan serangga), piscivora (pemakan ikan) dan sebagainya. Karnivora mengkonsumsi protein dan lemak relatif lebih tinggi dibandingkan herbivora dan omnivora. Karena konsumsi protein dan lemak yang tinggi pada karnivora, maka dibutuhkan tempat yang cukup besar untuk dapat melakukan metabolisme tersebut. Diduga karena alasaan tersebut menyebabkan persentase berat hati dibanding berat badan pada karnivora relatif lebih besar dibanding hewan lain. M. javanica mempunyai persentase berat hati 2,4 - 3,0%. Persentase ini lebih mendekati karnivoa dan insektivora. M. javanica adalah pemakan semut dan rayap, hal ini menunjukkan bahwa jenis pakan serangga yang dikonsumsi oleh M. javanica kemungkinan mempunyai kandungan protein dan lemak yang tinggi.
Salah satu fungsi hati adalah melakukan sebagian besar metabolisme tubuh, seperti metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Walaupun metabolisme lemak dapat berlangsung pada hampir semua sel tubuh, aspek tertentu dari metabolisme lemak terjadi jauh lebih cepat di dalam hati dari pada di dalam sel lain. Fungsi terpenting hati pada metabolisme protein adalah : Deaminasi asam amino, pembentukan urea untuk pembuangan amonia dari cairan tubuh, pembentukan protein plasma dan interkonversi berbagai asam amino dan senyawa lain yang penting pada proses metabolisme tubuh (Guyton 1990).
Pengamatan Mikroskopis
Secara mikroskopis, gambaran histologis dari lobulasi hati M. javanica tidak jelas. Septa interlobularis sangat tipis tidak dapat teramati dengan jelas, sehingga sulit melihat batas antara lobulus satu dengan yang lainnya.
Balok-balok sel hati atau hepatosit M. javanica tersusun secara radier mengelilingi vena sentralis. Semakin kearah tepi lobulus, alur hepatosit semakin tidak radier. Kemudian alur hepatosit kembali radier untuk membentuk lobulus yang lainnya.
Hepatosit merupakan sel-sel yang berbentuk poligonal (Dellman dan Brown 1993; Ross et al. 1995). Batas antara sel hepatosit hati M. javanica cukup
jelas. Gambaran ini mirip dengan hepatosit S. Kuhlii (Chairani 1998) dan T. javanica (Gustina 1999), namun tidak sejelas hepatosit hati domba dan babi (Dellmam dan Brown 1993), inti sel atau nukleus hepatosit relatif besar, berbentuk bulat dan berada di tengah. Sebuah hepatosit dapat memiliki 1 - 2 buah nukleus dan masing-masing nukleus dapat juga memiliki 1 - 2 buah nukleolus. Jumlah inti yang lebih dari satu ini dapat disebabkan oleh pembagian sitoplasma yang tidak sempurna setelah terjadi pembelahan inti atau karena adanya kemampuan hepatosit untuk mengadakan regenerasi sel ketika terjadi kematian sel akibat hepatotoksik atau karena penyakit (Ross et al. 1995).
Sitoplasma hepatosit M. javanica bersifat asidofilik mengadung butiran-butiran dan vakuola-vakuola kosong yang diduga sebagai endapan lemak. Gambaran ini sama seperti hepatosit mamalia pada umumnya (Dellman dan Brown 1993; Ross et al. 1995). Dengan pewarnaan Hematoksilin eosin (HE) sitoplasma terlihat mengambil warna merah cerah.
Pada hepatosit M. javanica ditemukan butir-butir sitoplasma yang bereaksi positif terhadap pewarnaan PAS. PAS merupakan salah satu metode untuk mendeteksi karbohidrat yang bersifat netral (Kiernan 1990). Dengan pewarnaan PAS, dapat terlihat bahwa butir-butir sitoplasma tersebut mengambil warna merah keunguan. Menurut Guyton (1990) dan Ross et al. (1995), lemak-lemak disintesis di dalam hati dan ditransfer dalam bentuk lipoprotein, sedangkan protein yang disintesis di dalam hati adalah protein plasma. Kedua protein ini bereaksi negatif terhadap pewarnaan PAS. Dengan pewanaan Alcian blue (AB) pH 2,5 menunjukkan hasil negatif. AB digunakan untuk mendeteksi mukopolisakarida yang bersifat asam (Kiernan 1990) yang umumnya terdapat pada saluran pencernaan terutama usus.
Celah diantara sel-sel hepatosit disebut sinusoid, sinusoid M. javanica berliku-liku dan tidak teratur yang meneruskan alur radier dalam lobulus, serta memisahkan deretan balok hati yang satu dengan yang lainnya. Menurut Dellman dan Brown (1993), sinusoid hati merupakan kapiler darah yang membawa darah dari arteri hepatika interlobularis dan vena porta ke dalam vena sentralis. Pada dinding sinusoid M. javanica terdapat sel Kupffer yang merupakan ciri khas dari sinusod hati (Ross et al. 1995). Sel Kupffer memiliki inti berbentuk oval dengan
ukuran yang lebih kecil dan warna yang lebih pekat dibandingkan dengan inti sel hepatosit. Sitoplasma sel Kupffer relatif lebih gelap, karena berfungsi sebagai makrofag. Sitoplasma sel Kupffer berisi butiran asing dan pecahan eritrosit di dalam hati (Frandson 1981; Ross et al. 1995).
Gambaran histologis epitel mukosa duktus empedu M. javanica sama seperti mamalia lainnya Pada umumnya, semakin besar suatu duktus tinggi epitelnya semakin meningkat dan menjadi silindris pada ductus hepaticus (Dellman dan Brown 1993).
Mukosa dinding kantung empedu M. javanica membentuk penjuluran menyerupai vili usus. Pada bagian pangkal kantung empedu penjuluran mukosa cukup tinggi dan rapat, namun semakin ke ujung penjuluran tersebut semakin pendek dan renggang. Hal ini sebabkan karena kantung empedu dibagian ujung terisi penuh cairan empedu, sehingga dinding kantung empedu menjadi teregang dan penjuluran mukosa menjadi terlihat pendek dan renggang. Lapisan epitel mukosa terdiri atas barisan sel silindris sebaris dengan inti sel terletak dibasal.
Dinding kantung empedu M. javanica terdiri tiga lapisan, yaitu lapis mukosa, lapis otot polos dan lapis serosa. Gambaran ini sama seperti dinding kantung empedu mamalia lainnya (Getty 1975; Dellman dan Brown 1993; Junqueira 1998). Pada M. javanica lapisan otot polos kantung empedu tidak begitu tebal, namun dengan pewarnaan Masson’s trichrome terlihat dua macam lapisan otot, yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler. Keberadaan kedua lapisan otot polos ini berfungsi untuk memperkuat kontraksi ketika mensekresikan cairan empedu ke dalam saluran pencernaan. Gambaran ini mirip dengan struktur lapisan otot pada dinding kantung empedu karnivora, terutama anjing (Trautmann dan Fiebiger 1957).
KESIMPULAN
Hati M. javanica berbentuk semilunar, dengan permukaan diafragmatika yang sangat cembung dan permukaan viseralis yang sangat cekung. Serta dipisahkan oleh tiga incisura interlobularis menjadi tujuh lobi, yaitu lobus sinister lateral, lobus sinister medial, lobus quadratus, lobus dekster medial, lobus dekster lateral, lobus kaudatus dan lobus papillaris. Adanya variasi batas antara lobus dekster lateral dengan lobus kaudatus, ligamentum falciformis yang berkembang subur dan besarnya persentase perbandingan berat hati dengan berat tubuh serta bentuk kantung empedu yang mencapai batas tepi hati. Secara mikroskopis lapisan otot polos pada M. javanica terlihat dua macam lapisan otot, yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui secara spesifik kandungan senyawa-senyawa kimia seperti, senyawa-senyawa kompleks karbohidrat, protein dan lemak di hepatosit maupun empedu.
Daftar Pustaka
Attenborough D. 2007. Ecology Asia. http://en.wikipedia.org/wiki/pangolin. [4 Agustus 2007].
Carola R, Harley JP, Noback CR. 1976. Human Anatomy and Physiology. Mc. Graw Hill Publishing Company. USA.
Chairani R. 1998. Morfologi Hati Kelelawar Pemakan Serangga. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB.
Corbet GB, Hill JE. 1992. The Mammal of Indomalayan Region: A Systematik Review. Natural History Museum Publikations, Oxford Univercity Press, New York.
Dellman HD, Brown EM. 1993. Text Book of Veterinary Histology. Lea & Febiber. Philadelphia. London. Pp : 161-164.
Djuwita I, Boediono A, Mohamad K. 2000. Embriologi Organogenesis. Laboratorium Embriologi. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB.
Dyce KM, Sack WO, Wansing CJ. 2003. Text Book of Veterinary Anatomy. 3rd Edition. Philadelphia : WB. Saunders.
Frandson RD. 1981. Anatomy and Physiology of Farm Animals. 3rd Edition. Lea & Febiger. Philadelphia. London.
Getty R. 1975. The Anatomy of the Domestic Animals, 5th edition. W.B Saunders Company. Philadelphia. London.
Gaubert P, Antunes A. 2005. Assesing the Taxonomic Status of the Palawan Pangolin Manis culionensis (Pholidota) Using Discrete Morfological Characters. Jurnal of Mammalogy, 86 (6): 1068-1074.
Gustina N. 1999. Morfologi Hati Tupai Jawa. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB.
Guyton AC. 1990. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Bagian 2. edisi 5. EGC. Jakarta.
Junqueira LC. 1998. Basic Histology. 7th edition. Drawer. L. California. USA. Kiernan JA. 1990. Histological & Histochemical Methods. Theory and Practice.
2rd edition. Pergamon Press. Oxford.
Lekagul B, McNeely JA. 1977. Mammals of Thailand. Association for the Concervation of Wildlife. Sahakarnbhat co., Bangkok.
Nisa’ C. 2005. Morphological Studies of The Stomach of Malayan Pangolin (Manis javanica) [disertasi]. Graduate School Bogor Agricultural University, Bogor .
Nowak RM. 1997. Order pholidota. dalam Walker’s Mammal of the world, 6th ed. Vol. II, The Jons Hopkins Univercity Press, Baltimore and London, pp. 1239-1242.
Rahm U. 1990. Modern Pangoin. dalam Parker, S. P. (Eds.). Gizimek’s Encyclopedia of Mammal. Vol. 2. McGraw-Hill Publishing Company, New York. pp. 630-641.
Ross MH, Romrell LJ, Kayne GI. 1995. Histology a Text and Atlas. 3rd
ed. A Waverly Company, Tokyo.
Trautmann A, Fiebiger J. 1957. Fundamentals of the Histology of Domestic Animal. Comstock Publishing Associates. Ithaca. New York.
Warwick, R. and PL. Williams. 1973. Grays Anatomy. 35th.British edition. W.B. Saunders Company. Philadelphia. London.
Lampiran 1
Prosedur Pewarnaan Hematoksilin eosin (HE)
1. Proses penghilangan parafin (deparafinisasi), diikuti dengan proses rehidrasi dalam alkohol bertingkat 100%-70% masing-masing 1-3 menit. 2. Pembilasan dengan air mengalir selama 15 menit diikuti dengan
pembilasan dengan akuades selam 5 menit.
3. Perendaman dalam larutan hematoksilin selama 5-7 menit.
4. Pembilasan dengan air mengalir selama 30-60 menit diikuti dengan pembilasan menggunakan akuades selama 5 menit.
5. Perendaman dalam larutan eosin selama 30 menit. 6. Pembilasan dengan akuades selama 1 menit.
7. Pengeluaran air dari jaringan (dehidrasi) dengan alkohol bertingkat 70%-100%, proses penjernihan jaringan (clearing) dengan larutan silol.
Lampiran 2
Prosedur Pewarnaan Periodic Acid Schiff (PAS)
1. Proses penghilangan parafin (deparafinisasi) diikuti dengan proses rehidrasi dalam alkohol bertingkat 100%-70% masing-masing 1-3 menit. 2. Pembilasan denganair mengalir selama 15 menit diikuti dengan
pembilasan menggunakan akuades 5 menit.
3. Perendaman dalam larutan 1% periodic acid selam 10 menit. 4. Pembilasan dengan akuades 3x masing-masing 5 menit. 5. Perendaman dalam larutan reagens Schiff selama 15-30 menit. 6. Perendaman dalam campuranlarutan :
10% sodium bisulfat 10 ml
1 N HCl 10 ml
DW (Aguadest) 200 cc
7. Pembilasan dengan air mengalir selama 10 menit diikuti dengan pembilasan menggunakan akuades 5-10 menit.
8. Pembilasan dengan larutan hematoksilin beberapa detik.
9. Pengeluaran air dari jaringan (dehidrasi) dengan alkohol bertingkat 70%-100%, proses penjernihan jaringan (clearing) dengan larutan silol.
Lampiran 3
Prosedur Pewarnaan Alcian blue (AB) pH. 2,5
1. Proses penghilangan parafin (deparafinisasi), diikuti dengan proses rehidrasi dalam alkohol bertingkat 100%-70% masing-masing 1-3 menit. 2. Pembilasan dengan air mengalir selama 15 menit diikuti dengan
pembilasan dengan akuades selam 5 menit.
3. Penurunan pH dengan asam asetat 3% selama 5 menit 4. Perendaman dalam AB pH 2,5 selama 30 menit
5. Pencucian dengan 3% asam asetat sebanyak 3 kali selama masing-masing 5 menit
6. Perendaman dalam DW (aquades) 3 kali selama masin-masing 5 menit 7. Counterstrain (nuclear pastred)
8. Perendaman dalam aquades masing-masing 2 kali selama 5 menit
9. Pengeluaran air dari jaringan (dehidrasi) dengan alkohol bertingkat 70%-100%, proses penjernihan jaringan (clearing) dengan larutan silol.
Lampiran 4
Prosedur Pewarnaan Masson’s trichrome
1. Deparafinasi, air mengalir, dan DW. 2. Pewarnaan Hematoksilin
3. Perendaman dalam air kran sampai warna Hematoksilin berubah menjadi biru ungu cerah, lalu dicuci dengan DW secukupnya.
4. Pewarnaan dengan Acid Fuchsin + Ponceau 2R selama 10-15 menit 5. Perendaman dalam 1% acetic acid (in DW) beberapa detik.
6. Pewarnaan dengan Orange G + Phosphotungstic acid selama 5 menit. 7. Ulangi no. 5
8. Pewarnaan dengan Light Green Beberapa detik 9. Ulangi no. 5
10.Dehidrasi dengan alkohol absolut 2 x 5 menit
11.Proses penjernihan jaringan (clearing) dengan larutan silol.
Lampiran 5
Data ukuran panjang, lebar dan tebal hati M. javanica
1. Lobus sinister lateral
No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 5,5 5,0 2,5 2. ♂ 5,5 4,0 2,0 3. ♂ 5,5 5,0 2,0 Rata-rata 5,5 ± 0,0 4,7 ± 0,6 2,2 ± 0,3
2. Lobus snister medial
No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 3,2 1,9 1,4 2. ♂ 2,9 1,6 1,1 3. ♂ 2,9 2,0 1,7 Rata-rata 3,0 ± 0,2 1,8 ± 0,2 1,4 ± 0,3 3. Lobus quadratus No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 4,0 3,8 2,5 2. ♂ 5,0 3,5 2,0 3. ♂ 5,0 5,0 1,8 Rata-rata 4,7 ± 0,6 4,0 ± 0,8 2,1 ± 0,4
4. Lobus dekster medial No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 2,9 1,3 1,8 2. ♂ 2,8 0,9 0,7 3. ♂ 3,7 1,4 1,7 Rata-rata 3,1 ± 0,5 1,2 ± 0,3 1,3 ± 0,6
5. Lobus dekster lateral
No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 2,0 3,5 2,0 2. ♂ 3,5 2,0 2,0 3. ♂ 4,5 3,5 2,0 Rata-rata 3,6 ± 1,3 3,5 ± 0,9 2,0 ± 0,0 6. Lobus kaudatus No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 1,1 1,6 1,9 2. ♂ 2,5 2,4 0,7 3. ♂ 2,5 3,5 2,0 Rata-rata 2,0 ± 0,8 2,5 ± 1,0 1,5 ± 0,7
7. Lobus papillaris No Jenis kelamin Panjang (cm) Lebar (cm) Tebal (cm) 1. ♀ 0,7 1,0 1,0 2. ♂ 1,5 2,0 0,5 3. ♂ 1,5 3,0 1,5 Rata-rata 1,2 ± 0,5 2,0 ± 1,0 1,0 ± 0,5