METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukanpada siswi SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan didapatkan 69 responden yang menjadi subjek penelitian. Usia menarche pada wanita di Indonesia adalah usia antara 10-15 tahun. Hasil penelitian pada siswi SMP GKPI Padang Bulan Medan menunjukkan rata-rata usia menarche yaitu 12 tahun.
Tabel 5.1
Distrbusi Frekuensi Responden berdasarkan usia menarche Di
SMP GKPI Padang Bulan Tahun 2015
No U.Menarche Responden Frekuensi Presentase (%)
1 11 tahun 15 10,35 2 12 tahun 35 24,15 3. 13 tahun 16 11,04 4. 14 tahun 3 2,07
Total 69 100
Berdasarkan tabel 2 diatas diketahui bahwa hasil dari 69 responden berdasarkan usia menarche di SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan mayoritas 12 tahun 35 responden (24,15%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Di
SMP GKPI Padang Bulan Medan Tahun 2015
No Pengetahuan Responden Frekuensi Presentase (%)
1 Baik 17 2,56 2 Cukup 48 71,64
3. Kurang 4 2,76 Total 69 100
Berdasarkan tabel 5.3 di atas diketahui bahwa hasil dari 69 responden berdasarkan pengetahuan di SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan mayoritas pengetahuan cukup yaitu sebanyak 46 responden (66,7%).
Table 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi
Di SMP GKPI Padang Bulan Medan Tahun 2015
No Sumber Informasi Frekuensi Presentase (%)
1 Tenaga Kesehatan 6 8,7 2 Media Cetak 15 21,7
3. Masyarakat 48 69,7 Total 69 100
Berdasarkan tabel 2 di atas diketahui bahwa hasil dari 69 responden berdasarkan sumber informasi di SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan mayoritas pada masyarakat 48 responden (69,7%).
Tabel 5.4
Distrbusi Frekuensi Pengetahuan Berdasarkan Usia Menarche
Di SMP GKPI Padang Bulan Medan Tahun 2015
No
Usia menarche
Baik Cukup Kurang
Jumlah Presentase
f % F % f %
1 11 tahun 6 4,14 9 6,21 0 0 15 10,35
2 12 tahun 8 5,52 24 16,56 3 2,07 35 24,15
4 14 tahun 0 0 3 2,07 0 0 3 2,07
Total 18 12,42 44 30,36 4 2,76 69 100
Berdasarkan tabel 5.4 diatas diketahui bahwa hasil responden berdasarkan usia menarche di SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan mayoritas berpengetahuan cukup di usia menarche 12 tahun sebanyak 35 responden (24,15%).
Tabel 5.5
Distrbusi Frekuensi Pengetahuan Berdasarkan Sumber Informasi
Di SMP GKPI Padang Bulan Medan Tahun 2015
No Usia menarche Tenaga Kesehatan Media Cetak Masyarakat Jumlah Presentase f % F % f % 1 11 tahun 1 0,69 4 2,76 9 6,21 14 9,66 2 12 tahun 5 3,45 7 4,83 24 16,56 36 24,84 3 13 tahun - - 3 2,07 14 9,66 17 47,61 4 14 tahun - - 1 0,69 2 1,38 3 2,07 Total 6 4,14 15 10,35 49 33,81 69 100
Berdasarkan tabel 5.5 diatas diketahui bahwa hasil responden berdasarkan sumber informasi di SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan mayoritas mendapatkan sumber informasi dari masyarakat sebanyak 49 responden (33,81%).
5.3. Pembahasan
Istilah menarche adalah saat pertama kali menstruasi datang pada remaja putri. Selama dekade terakhir ini diketahui bahwa menarche terjadi pada umur yang lebih muda. Usia menarche pada wanita di Indonesia adalah usia antara 14– 15 tahun dan menurun menjadi 10–16 tahun dan rata–rata 12 tahun.
Berdasarkan table 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar usia menarche responden rata-rata usia 12 tahun sebanyak 35 reponden (24,15%). Hal ini diakibatkan banyaknya faktor–faktor yang mempengaruhi menarche. Faktor– faktor yang mempengaruhi menarche adalah status gizi, faktor keturunan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, status kesehatan dan paparan media massa. Semakin dini usia remaja mengalami menarche, maka semakin banyak pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan, remaja yang mengalami menarche lebih dini memiliki rentang usia yang lebih panjang untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi dibandingkan remaja lain yang mengalami menarche pada usia yang lebih tua. Meningkatnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi disebabkan oleh berkembangnya sisitem reproduksinya sebagai akibat dari perubahan biologis dan pengaktifan hormon yang mebuat remaja bertanya–tanya dan ingin mendapatkan jawaban tentang reproduksinya sehingga remaja selalu berusaha mencari informasi yang lebih banyak. Penurunan usia menarche harus disertai dengan pemberian pengetahuan kesehatan reproduksi yang lebih dini. Hal ini dikarenakan remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri seiring dengan munculnya dorongan rasa ingin tahu yang tinggi (Husodo.2008, hal.59-62).
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dengan kategori cukup yaitu sebanyak 48 responden (71,64%) dan sebanyak 17 responden (25,6%) mempunyai tingkat pengetahuan baik. Hal ini dimungkinkan karena semakin banyaknya akses informasi yang bisa mereka dapatkan. Penelitian Huruah dan Nisa tahun (2008) menyatakan bahwa pada masa usia 10–14 remaja sangat dekat dan terbuka sekali dalam masalah kesehatan reproduksi (Huria & Nisma 2008). Hal ini jika dibimbing dan diarahkan dengan baik akan berakibat positif. Pengaruh dari faktor luar sering kali membuat remaja cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan negatif. Oleh karena itu, remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar dan memiliki sikap serta tingkah laku yang bertanggung jawab terhadap proses reproduksinya (Muadz 2008).
Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu tahu (know), memahami (komprehention), aplikasi (aplication), analisi (analysis), sintesis (syntesis), evaluasi (evaluation). Remaja putri dimungkinkan hanya sampai tahu mengenai informasi tentang kesehatan reproduksi tanpa memahami, menganalisis atau bahkan mengevaluasi informasi yang telah diperoleh itu benar atau tidak.
Hal ini juga disebabkan tidak adanya mata kuliah Kesehatan Reproduksi di Yayasan Pendidikan Swasta GKPI Padang Bulan. Namun seharusnya pengetahuan kesehatan reproduksi siswi di SMP Swasta GKPI Padang Bulan lebih baik karena lokasi sekolah tersebut berada didaerah perkotaan sehingga lebih banyak mendapatkan sumber informasi dari media dan teman sebaya (peer
grup) dan bila perlu dilakukan bimbingan kelompok terhadap tingkat pengetahuan
Meilani tahun 2012 dan hasilnya menunjukkan bahwa bimbingan kelompok berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja.
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai mendapatkan informasi lebih banyak dari masyarakat yaitu sebanyak 49 responden (33,81%). Hasil penelitian Muadz (2008) tentang pengetahuan kesehatan reproduksi remaja, menjelaskan bahwa kebanyakan remaja memperoleh pengetahuan kesehatan reproduksi dari media cetak dan elektronik serta informasi yang mudah dijangkau antara lain teman–teman sebaya (peer group) bacaan popular dan akses internet yang belum tentu benar terbaik dan bermutu (Nisma 2008).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan individu. Salah satu yang mempengaruhi adalah usia (Hartati 2009). Usia merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi perilaku seseorang. Proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaanya dari mulai 12-20 tahun, pada usia 12 tahun, walaupun secara intelektual remaja termasuk anak berbakat dan mampu memecahkan masalah secara benar, tetapi tidak seterampil remaja yang lebih tua usianya (Poltekes Depkes 2010). Remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikanya dengan pemikiran mereka sendiri seiring dengan munculnya dorongan rasa ingin tahu yang tinggi (Husodo 2008).
Remaja yang sedang dalam masa ingin tahu dan ingin mencoba apa yang dilihat dan didengarnya sangat mudah dipengaruhi oleh hal–hal yang bersifat negatif. Ketika keingintahuan remaja akan segala hal yang menyangkut
seksualitas meningkat dan pendidikan seks di sekolah yang tidk memadai ditambah kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja dari orang tuanya menyebabkan remaja mencari informasi sendiri (Kurniawan 2002; Omarsari 2008).
Hal ini akan meningkatkan keretanan remaja putri atas sejumlah masalah, oleh karena itu remaja perlu megetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar megenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya dan diharapkan remaja memiliki sikap serta tingkah laku yang bertanggung jawab terhadap proses reproduksinya (Muadz 2008).
Keterbatasan penelitian ini yaitu kemungkinan terjadinya bias informasi. Salah satu bias informasi pada penelitian ini adalah kemungkinan respoden mengetahui bahwa dirinya sedang diamati (diteliti) sehingga dikhawatirkan jawaban tidak objektif dan kejujuran responden dalam pengisian kuesioner juga akan mempengaruhi hasil penelitian.
BAB VI
KESIMPULAN
6.1KESIMPULAN
Dari hasil penelitian tentang tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi berdasarkan usia menarche di SMP Swata GKPI Padang Bulan Medan sebagai berikut:
1. Rata–rata usia menarche siswi SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan adalah ≥12 tahun.
2. Tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi siswi SMP Swasta GKPI Padang Bulan Medan adalah sebagai berikut berpengetahuan baik sebanyak 18 responden (12,42%), berpengetahuan cukup sebanyak 44 responden (30,36%), berpengetahuan kurang sebanyak 4 responden (2,76%).
3. Tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi remaja didaerah perkotaan seharusnya lebih baik karena sumber informasi di daerah perkotaan jauh lebih banyak di dapatkan daripada dipedesaan.
6.2SARAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi berdasarkan usia menarche di SMP Swata GKPI Padang Bulan Medan,
maka diberikan saran berupa:
1. Diharapkan kepada seluruh siswi remaja agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang pengertian menarche, usia menarche, pengetahuan kesehatan
reproduksi dan peran pengetahuan kesehatan repoduksi dalam perkembangan remaja dengan cara bertanya kepa
2. da tenaga kesehatan, media cetak dan masyarakat.
3. Bagi seluruh bidan atau tenaga kesehatan yang terkait oleh remaja agar memberikan penyuluhan atau konseling mengenai kesehatan reproduksi.
4. Bagi profesi bidan
Dapat meningkatkan pemberian informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja putri.