BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
Berikut ini akan disajikan mengenai hasil wawancara yang di lakukan oleh peneliti mengenai Strategi Bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah:
1. Ibu Litta (Pedagang es juice )
Bu litta merupakan salah satu pengusaha yang memiliki stand di Foodcourt Urip Sumoharjo Surabaya stan 5 di Surabaya. Bu litta memulai bisnisnya untuk berjualan es juice sejak tahun 2007. Ia memilih bisnis ini karena bisnis in cukup menguntungkan dan dapat membantu perekonomian di kehidupan sehari-harinya. Ibu Litta tidak mempunyai pengalaman bisnis, tetapi memilih mengambil bisnis ini karena lebih mudah dan praktis. Memilih di lokasi disni Karena ini merupakan tempat fasilitas yang sudah di sediakan oleh pemerintah kota Surabaya untuk masyarakat yang akan berjualan di sini. Karena tempat ini diberikan oleh pemerintah kota Surabaya dengan gratis, dengan melakukan pearikan uang retribusi sebesar Rp. 5000 pada setiap harinya.
Bu Litta mengaku bahwa sumber modal yang di dapatkan oleh PKL yang ada di food court sumoharjo tersebut diberikan oleh dinas koperasi dan pemerintah kota. Untuk menentukan harga jual pada es juice tergantung dengan harga bahan baku yang di perlukan untuk pembuatan juice tersebut. Bu Litta menyatakan bahwa dalam sehari hanya mendapatkan keuntungan sebesar Rp50.000 – Rp. 100.000 setiap harinya. Jika sepi dan hujan telah tiba mereka terkadang mendapatkan kerugian. Dengan memisahkan secara sebagian untuk kebutuhan sehari-hari dan setengahnya untuk kebutuhan berjualan setiap harinya.
Dengan memilih buah yang bagus dan baik maka vitamin yang ada pada juice akan lebih baik untuk di konsumsikan oleh konsumen atau pelanggan. Bahan baku yang di gunakan adalah buah-buahan segar yang dapat di gunakan untuk di buat juice. Bu litta mengaku bahwa mendapatkan baku dari pasar dengan harga yang relatif. Cara memproduksi juice adalah pertama buah- buah yang akan di gunakan untuk membuat juice tersebut di cuci terlebih dahulu, setelah di cuci buah tersebut dipotong menjadi beberapa bagian setelah itu barulah buah-buah tersebut di masukkan ke dalam mesin yang digunakan untuk membuat juice, setelah itu baru dituangkan kedalam gelas dan di sajikan kepada pelanggan atau konsumen.
Dalam mencari tenaga kerja bu litta mengaku di hanya mengambil tenaga kerja dari orang yang ada disekitarnya seperti tetangganya dan bantuan yang lain. Karena mereka tersebut pengangguran dan membutuhkan pekerjaan. Ibu litta mengaku bahwa setiap harinya ia memberikan upah kepada pekerja sebesar Rp. 15.000,00 berserta makanan dan minuman yang ia dapatkan setiap harinya. Jika tenaga kerjanya tidak dapat masuk kerja maka ia tidak mendapatkan gaji pada saat itu tetapi di berikan kesempatan untuk beristirahat pada saat itu, jika sakitnya parah baru di bawa ke dokter. Jika pekerjaan tenaga kerjanya baik dan mempunyai pretasi yang baik maka biasanya dia mendapatkan bonus.
Strategi yang dilakukan oleh bu litta dalam menghadapi pesaing yang ada mengaku tidak akan mengubah rasa yang ada, mengikuti dengan pesanan yang diinginkan oleh pelanggan atau konsumen yang ada dengan memberikan keunggulan pada usaha ini. Ibu litta hanya berharap jika usahanya dapat maju dan berjalan dengan lancar untuk tahun-tahun kedepannya. Kemudian untuk strategi
yang digunakan untuk mengembangnya usaha ini adalah hanya menjaga kualitas rasa.
2. Ibu Tiami (Pedagang Bebek Goreng)
Ibu tiami adalah salah satu pengusaha yang memiliki stand di Food Court Urip Sumoharjo no 29 di Surabaya. Bu tiami memulai bisnisnya untuk berjualan bebek goring sejak tahun 2001. Ia memilih bisnis ini untuk mendapatkan keuntungan dan perekonomian sehari-hari. Pada awal melalui usaha ibu tiami tidak pernah memiliki pengalaman bedagang. Kemampuannya membuat bebek goreng itu diperoleh berawal dari coba-coba dalam artian beliau membuat resep sendiri untuk bebek goreng yank akan di jual. Namun desakan ekonomi guna memenuhi kebutuhan sehari – hari, maka beliau memberanikan diri dan membulatkan tekad untuk memulai usaha bebek goreng tersebut.
Ibu Tiami berjualan bebek goreng ini karena warga sekitar dan keluarga berjualan yang sama. Selain itu lokasi yang ditempatinya adalah dekat dengan apa saja dan lebih strategis, dekat dengan kost-kostan dan perkantoran. Karena lokasinya dekat dengan kost-kostan maka orang dapat lebih gampang untuk mencari makanan dengan mudah dan perkantoran dimana akan lebih mudah mncari makan jika istirahat telah tiba dan dapat menghemat waktu karena tempatnya tidak jauh dari perkantoran. Untuk menempati tempat pada saat ini bu tiami mendapatkan dari pemerintah kota, dimana setiap harinya dikenakan biaya retribusi sebesar Rp.5000 untuk distribusi tempatnya.
Ibu Tiami mengaku bahwa sumber modal untuk berjualan bebek goreng ini awalnya dari uang pribadinya dengan modal Rp.750.000,00 dan mendapatkan dana dari pemerintah kota sebesar Rp. 2000.000,00 . dalam menentukan harga ibu tiami menyesuaikan dengan pikirannya sendiri sesuai dengan harga bahan bakunya. Dalam penjualan bu Tiami mengaku memperoleh keuntungan sebesar Rp. 100.000,00 – Rp. 150.000,00 jika dalam keadaan rame pelanggannya jika sepi maka memperoleh keuntungan sebesar Rp. 50.000. akan tetapi juga pernah mendapatkan kerugian jika sepi pelanggannya. Selama satu bulan dalam berjualan bebek goreng, bu Tiami bisa mendapatkan uang penghasilan kotor kira-kira sebesar Rp 3.000.000,00 – Rp.4.500.000,00. Adanya hal tersebut menunjukkan bahwa bu Tiami selalu berusaha untuk menjual barang dagangnya hingga habis terjual, meskipun kadang-kadang juga tidak sampai habis terjual.
Selain itu, bu Tiami mengaku tidak dapat memisahkan antara uang penghasilan dan kepentingan pribadi, uang tersebut langsung digunakan kebutuhan sehari-hari, jika anak-anak sakit dan untuk keperluan berjualan setiap harinya. Dalam berjualan, bu Tiami memiliki keunggulan produk dari pedagang yang lainnya yaitu : banyak yang suka, daging bebek yang empuk,tidak bau, rasanya enak,bumbunya nikmat dan sedap. Sehingga rasa daging yang empuk lebih terasa dari bumbunya & tidak adanya bau dari daging yang di sajukan dengan campuran bumbu-bumbu yang lainnya.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan bebek goreng yang dibuat bu Tiami yaitu daging bebek, bawang, cabe, minyak, gula, garam, beras, tomat, mecin, daun kemangi,timun dan lain-lainnya. Untuk membeli bahan bakunya
tersebut bu Tiami mengaku dalam membeli bahan baku yang di perolehnya dari pasar atau di kampong halamannya dengan mendapatkan harga yang relatif murah. Dalam pembuatan bebek goreng bu Tiami dengan cara biasanya menggunakan cara biasanya yaitu dengan memberikan bumbunya, garam dan diberikan mecin dan daging bebekya direbus smpe empuk dan tidak bau lagi.
Bu Tiami mengaku memperoleh ilmu tersebut dengan belajar sendiri dengan demikian maka smpai saat ini ilmu yang dimiliki bu Tiami dapat bermanfaat untuk usahanya saat ini. Dalam berproduksi barang dagangannya, bu Tiami mengaku tiap hari berjualan dan juga selain itu menerima pesanan. Perhari bebek goreng yang di jualkan dapat mencapai 8-10 ekor per/harinya.
Dalam mencari tenaga kerja, bu Tiami mendapatkan tenaga kerja tersebut dengan menawarkan atau mengajak saudara sendiri dan bu Tiami dapat mengontrolnya dan mudah untuk mengendalikannya. Bu Tiami mengaku bahwa ia memberikan upah pada tenaga kerja sebesar Rp. 10.000 – Rp.15.000 per/harinya. Jika tenaga kerjanya ada yang sakit bu Tiami akan membawanya ke dokter ataupun ke tukang pijit untuk di obati dan jika tenaga kerja tersebut masih sakit, maka sementara bu Tiami akan melakukannya sendirian.
Dalam strategi pemasaran bu Tiami memiliki cara sendiri yaitu konsumen datang langsung ke tempat buTiami berjualan, kemudian memasarakn buTiami dengan tidak membuka cabang yang baru. Selama itu bu Tiami dalam menarik pelanggan yaitu : dengan cara menjaga perasaan, becanda, ketawa maupun tidak menyinggung persaan orang lain dan bersih.
Perkembangan usaha yang dimiliki oleh bu Tiami sudah cukup baik dimana bu Tiami bisa mengidupi keluarganya dan dapat lancar dan sukses. Sedangkan kiat-kiat yang dimiliki oleh bu Tiami adalah jagan menyerah, lancar dan selalu sukses,dan selalu berdoa dan berusaha.
3.Bapak Panimin (Pedagang Bakso)
Bapak Panimin adalah salah satu pengusaha yang memiliki stand no 22 di Food Court Urip Sumoharjo Surabaya. Tetapi pada saat ini bapak Panimin tidak menempati tempat stan yang di berikan pemerintah kota surabaya untuk PKL. Karena pak panimin lebih memilih berjualan di dekat kawasan pintu gapura perkampungan yang tidak jauh dari Food Court Urip Sumoharjo Surabaya. Pak Panimin memulai bisnisnya untuk berjualan bakso sejak tahun 1967. la memilih bisnis ini karena bisnis ini banyak menghasilkan keuntungan. Pada awal memulai usaha pak Panimin pernah memiliki pengalaman berdagang berawal dari menjual kacang ijo panas dan es kacang ijo. Kemampuannya membuat bakso itu diperoleh berawal dari berjualan kacang ijo panas dan es kacang ijo terus coba-coba untuk berjualan bakso dan es campur pada saat ini, beliau mendapatkan resep dari teman – teman untuk membuat bakso yang akan di jual. Namun desakan ekonomi guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka beliau memberanikan diri dan membulatkan tekad untuk memulai usaha kacang ijo panas,dan kacang es kacang ijo, dan saat ini pak panimin berjualan bakso dan es campur.
Pak Panimin berjualan bakso ini karena pasarnya sangat mudah dan kerugiannya kecil. Selain itu lokasi yang ditempatinya adalah dekat dengan
pemukiman masyarakat, kost-kostan dan lebih strategis. Karena lokasinya dekat dengan jalan besar dan pemukiman masyarakat maka orang memilih karena dekat dengan jalan besar dan pemukiman masyarakat. Untuk mendirikan tempat saat ini pak Panimin tidak mnggunakan ijin dari manapun, karena tempatna di daerah pemukiman masyarakat.
Pak Panimin mengaku bahwa sumber modal untuk berjualan bakso ini dari uang pribadinya sendiri dan modal awalnya sekitar Rp.200.000,00. Dalam menentukan harga pak Panimin menyesuaikan dengan pedagang lain dan juga tergantung dengan bahan pokoknya. Dalam penjualan pak Panimin mengaku memperoleh keuntungan sebesar Rp. 50 ribu per/hari. Akan tetapi kita juga kadang-kadang mendapatkan kerugian sedikit. Selama satu bulan dalam berjualan bakso, Pak Panimin bisa mendapatkan uang penghasilan kira-kira sebesar “Rp. 1 juta”. Adanya hal tersebut menunjukkan bahwa pak Panimin selalu berusaha untuk menjual barang dagangannya hingga habis terjual, meskipun kadang-kadang juga tidak sampai habis terjual.
Selain itu, pak Panimin mengaku telah memisahkan antara uang penghasilan yang digunakan dan untuk kepentingan pribadi, uang tersebut langsung diputar untuk usahanya dan juga untuk keperluan sehari-harinya. Dalam berjualan, pak Panimin memiliki keunggulan produk dari pedagang yang lainnya yaitu “kita menggunakan daging kualitas bagus,rasa enak dari bumbunya, sehingga bumbunya terasa daripada rasa dagingnya da campurannya.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan bakso yang di buat pak Panimin yaitu daging, terigu dan bumbu-bumbu yang lainnya. Untuk membeli
bahan baku tersebut pak Panimin mengaku dalam membeli bahan baku yang diperolehnya dari pasar dan harganya relatif lebih murah. Dalam pembuatan bakso pak Panimin biasanya menggunakan penggilingan untuk daging yang akan digunakan sebagai bakso nantinya.
Pak Panimin mengaku memperoleh ilmu tersebut dari orang lain yang pernah berjualan bakso, dengan demikian maka sampai saat ini ilmu yang dimiliki pak Panimin dapat bermanfaat untuk usahanya saat ini. Dalam berproduksi barang dagangannya, pak Panimin mengaku tiap hari berjualan dan jika beliau capek tidak berjualan. Perhari bakso yang dijualnya dapat mencapai kira-kira 25 porsi perhari.Pak panimin tidak mempunyai seorang tenaga kerja di karenakan pak Panimin sudah terbiasa berjualan sendiri dari pertama mulai membuka bisnis sampai sekarang.
Dalam strategi pemasaran pak Panimin memiliki cara sendiri yaitu konsumen datang dan memberikan tahukan kepada orang lain secara mulut ke mulut dan pelanggan yang lama. Selain itu pak Panimin dalam menarik pelanggan dengan cara rasa yang enak dan standart banyak yang kembali.
Perkembangan usaha yang dimiliki oleh pak Panimin sudah cukup baik dimana pak Panimin bisa menghidupi keluarganya dengan baik serta bisa untuk menabung dan menyekolahkan anak-anaknya. Sedangkan kiat-kiat yang dimiliki oleh pak Panimin adalah tekun,telaten, jujur,berhasil dan sukses dan lain-lainnya.
4.Ibu Dewi (Pedagang es oyen)
Ibu dewi adalah salah satu pengusaha yang memiliki stand di Food Court Urip Sumoharjo Surabaya no 12. Ibu Dewi memulai bisnisnya untuk berjualan es oyen tahun 2007 hingga sekarang. Ia memmilih bisnis ini karena mudah dan kemampuan yang dimiliki oleh ibu dewi dan yang didukung oleh kakaknya. Selama berdagang ibu Dewi mengaku pernah memiliki pengalaman berjualan sebelumnya di rumah susun di urip sumoharjo dan memulai bisnis dari berjualan berbagai macam yang ia lakukan dan sekarang berjualan es oyen.
Selain itu soal tempat,ibu Dewi mengaku tempat yang di tempatinya adalah pemberian pemerintah dengan Cuma-Cuma atau gratis dan dekat dengan jalan raya yang banyak di lewati oleh banyak orang. Setiap harinya biaya retribusi sebesar Rp.5000 setiap harinya.
Ibu Dewi mengaku bahwa sumber modal untuk berjualan es oyen pada saat ini diberikan oleh pemerintahan kota Surabaya. Dalam menentukan harga ibu Dewi mengaku mengikuti dengan apa yang di keluarka sesuai dengan biaya bahan bakunya tersebut dan mengikuti penjual yang sekitarnya. Dalam penjualan ibu Dewi setiap harinya mendapatka sekitar Rp. 50.000 – Rp. 100.000 jika ramai pengujung yang datang jika tidak mereka mendapatkan hanya sedikit sekali perhari-nya. Ibu Dewi mengaku dalam memisahkan antara uang untuk yang di gunakan untuk kepentingan usaha yaitu uang usaha yang di gunakan usaha dan untuk kepentingan pribadi yaitu uang pribadinya sendri memakai 50% dan untuk yang lainnya juga 50%. Dalam berjualan, ibu Dewi memiliki keunggulan produk yaitu “Rasanya”.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan es oyen yang di buat ibu Dewi yaitu isi kelapa, mutiara, kolang-kaling, dan lain-lain. Untuk membeli bahan baku tersebut ibu Dewi mengaku membeli bahan baku yang di peroleh dari pasar. Dalam pembuatan es oyen ibu Dewi yaitu mencampurkan semua bahan baku yang ada setelah itu menggunakan susu dan menggunakan es kemudian siap di sajikan.
Ibu Dewi mengaku memperoleh semuanya beawal dengan mencoba sendiri dan belajar sendiri. Dalam memproduksi barang dagangannya akan melakukan penjualan secara terus menerus untuk berjualan es oyen tersebut. Dalam mencari tenaga kerja, ibu Dewi memiliki tenaga kerja yang diambil dari orang sekitar rumahnya seperti tetangga-tetangganya yang sedang menjadi penggangguran, cara bekerjanya dan kejujurannya.
Jika ia membuat kesalahan akan di berikan peringatan terlebih dahulu 1-2 kali dan kalau tetap maka akan memecat tenaga kerja tersebut. Sedangkan dalam memberikan upah,ibu Dewi mengaku memberikan upah harian yaitu sebesar Rp. 15.000,00 dan mendapatka makanan dan minuman. Jika ada tenaga kerja yang sakit maka ibu Dewi akan menyuruhnya istirahat dan membawanya ke puskesmas ataupun ke dokter.
Dalam strategi pemasaran yang di lakukan dengan cara lewat omongan dari orang ke orang dengan harga yang telah di tentukan, kemudian dalam memasarkan ibu Dewi mengaku hanya di tempat yang dibuatnya untuk berjualan. Selain itu ibu Dewi dalam menarik pelanggannya yaitu mengikuti seleara yang diinginkan oleh seorang pelanggam atau konsumen.
Strategi yang ibu Dewi dalam menghadapi pesaing mengaku dengan kuat harus bisa maju terus dan menghadapi smuanya dengan lapang dada saja. Rencena untuk yang akan datang tetep berjualan seprti biasanya kalau bisa maju bersyukur alahamdullillah jangan sampe mendapatkan kemunduran dalam usahanya. Kemudian untuk strategi yang digunakan untuk mengembangkan usahanya hanya berdoa kepada tuhan agar usahanya dapat berjalan lancar dan usahanya dapat ramai.
5. Ibu Yani (Pedagang susu kedelai)
Ibu Yani adalah salah satu pengusaha yang memiliki stand di Food Court Urip Sumoharjo Surabaya. Ibu Yani memulai bisnisnya berjualan saat ini memulai bisnis dengan menjual susu kedelai baru 1 tahun – 1.5 tahun ini. Ia memilih bisnis ini dikarenakan untuk menabahkan pemasokan biaya, membantu suami dan mengisi di hari tua dan untuk biaya anak sekolah. Selama berdagang ibu Yani mengaku tidak pernah memiliki pengalaman. Ibu Yani mengaku tidak mempunyai lokasi yang tepat dan tidak pernah dikenakan biaya apa pun.
Ibu Yani mengaku bahwa sumber modal untuk berjualan susu kedelai dari modal sendiri dan modal awalnya sekitar Rp. 500.000,00. Dalam menentukan harga ibu Yani mengaku dihitung dari modal dibagi dengan harga bahan baku dan melihat dari harga pasaran. Dalam penjualan Ibu Yani mengaku memperoleh keuntungan jika habis dan mendapat kerugian jika tidak habis. Selama satu hari berjualan susu kedelai ibu Yani mendapatkan uang pengahasilan kira-kira sebesar Rp. 200.000,00 sehari. Adanya hal tersebut menunjukkan bahwa ibu Yani tidak
putus asa dan selalu berusaha untuk menjual barang dagangannya hingga habis terjual, meskipun kadang – kadang juga tidak sampai habis terjual.
Selain itu, ibu Yani mengaku dalam memisahkan antara uang penghasilan yang di gunakan untuk kepentingan usaha dan untuk kepentingan pribadi, ibu Yani mengaku kita buat untuk sehari – hari.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan susu kedelai yang di buat ibu Yani yaitu kedelai dan gula. Untuk membeli bahan baku tersebut ibu Yani mengaku dalam membeli bahan baku yang diperolehnya dari pasar dengan harga yang bervariasi. Dalam pembuatan susu kedelai ibu Yani yaitu dengan cara di produksi sendiri.
Dalam berproduksi barang dagangannya, ibu Yani mengaku setiap hari melakukan produksi secara terus – menerus dan juga menerima pesanan. Untuk penjualan dalam sehari ibu Yani mengaku susu kedelainya bisa mencapai 60 gelas atau 1 kg.
Selain itu ibu Yani dalam strategi pemasarannya dilakukan dengan cara dari mulut ke mulut sehingga bnyak orang mengerti. Selain itu ibu Yani dalam menarik pelanggannya yaitu dengan memberikan kualitas rasa dan harga yang murah dengan menawarkan dari rumah ke rumah.
Strategi yang ibu Yani dalam menghadapi pesaing mengaku dengan berkurangnya mutu dan percaya keapada allah SWT. Dan ikhlas. Ibu Yani juga mempunyai rencena untuk kedepan supaya dapat berusaha maju dan terus menambah rezeki dari sini dan dapat berjalan terus- merus usaha yang di jalankan sekarang.