Capaian IKS
HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden a. Umur
Tabel IV.1
Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021 Umur
(Tahun)
Frekuensi (n)
Persentase (%)
20-30 57 24,56
31-40 97 41,82
41-50 78 33,62
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.1 menunjukkan bahwa berdasarkan umur paling banyak pada kategori umur 31-40 tahun yaitu 97 responden (41,82%) dan paling sedikit pada kategori 20-30 tahun yaitu 57 responden (24,56%).
b. Jenis Kelamin
Tabel IV.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021 Jenis
Kelamin
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Laki-Laki 67 28,9
Perempuan 165 71,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.2 menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin paling banyak perempuan yaitu 165 responden (71,1%) dibandingkan laki-laki yaitu 67 responden (28,9%)
c. Pendidikan
Tabel IV.3
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Pendidikan Frekuensi (n)
Persentase (%)
SD 55 23,7
SMP 25 10,8
SMA 112 48,3
PT 40 17,2
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.3 menunjukkan bahwa berdasarkan pendidikan paling banyak dengan pendidikan SMA yaitu 112 responden (48,3%) dan paling sedikit dengan pendidikan SMP yaitu 25 responden (10,8 %)
d. Pekerjaan
Tabel IV.4
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Pekerjaan Frekuensi
(n)
Persentase (%)
Petani 61 26,3
Wiraswasta 37 15,9
Peternak 20 8,6
PNS 14 6,0
IRT 100 43,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.4 menunjukkan bahwa berdasarkan pekerjaan paling banyak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga yaitu 100 responden (43,1%) dan paling sedikit PNS yaitu 14 responden (6,0 %)
2. Analisis Univariat
a. Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencana Tabel IV.5
Distribusi Berdasarkan Indikator Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan di Desa Limapoccoe
Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 119 51,3
Tidak 113 48,7
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.5 berdasarkan indikator Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan menunjukkan bahwa paling banyak yang berpartisipasi yaitu 119 KK (51,3%) dan tidak berpartisipasi yaitu 94 KK (40,5%)
b. Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi Tabel IV.6
Distribusi Berdasarkan Indikator Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Persalinan di Fasilitas Kesehatan
Resmi
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 232 100
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.6 menunjukkan bahwa semua KK melakukan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi (100%)
c. Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap Tabel IV.7
Distribusi Berdasarkan Indikator Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap di Desa Limapoccoe Kecamatan
Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 192 82,8
Tidak 40 17,2
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.7 berdasarkan indikator bayi memperoleh imunisasi dasar lengkap menunjukkan bahwa paling banyak bayi yang memperoleh imunisasi dasar lengkap yaitu 192 bayi (82,8%) sedangkan yang tidak sebanyak 40 bayi (17,2%)
d. Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif Tabel IV.8
Distribusi Berdasarkan Indikator Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Bayi Mendapatkan ASI
Eksklusif
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 125 53,9
Tidak 107 46,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.8 menunjukkan bahwa paling banyak bayi yang memperoleh ASI Eksklusif yaitu 125 bayi (53,9%) sedangkan yang tidak sebanyak 107 bayi (46,1%).
e. Tumbuh Kembang Bayi dan Balita Tabel IV.9
Distribusi Berdasarkan Indikator Tumbuh Kembang Bayi dan Balita di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Tumbuh Kembang Bayi dan
Balita
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 95 40,9
Tidak 137 59,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.9 berdasarkan indikator tumbuh kembang bayi dan balita menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak memantau yaitu sebanyak 137 bayi/balita (59,1%) sedangkan yang memantau sebanyak 95 bayi/balita (40,9%)
f. Penderita TB berobat sesuai dengan ketentuan
Pada saat dilakukan pengumpulan data tidak ditemukan adanya penderita TB di Desa Limapoccoe sehingga dikategorikan bahwa semua KK yang menjadi sampel memenuhi kriteria sehat untuk indicator penderita TB berobat sesuai dengan ketentuan
g. Penderita Hipertensi Berobat Teratur
Berdasarkan tabel IV.10 berdasarkan penderita hipertensi menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak hipertensi yaitu sebanyak 172 KK (40,9%) sedangkan yang hipertensi sebanyak 60 KK (59,1%)
Tabel IV.10
Distribusi Berdasarkan Penderita Hipertensi di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Penderita Hipertensi Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tidak hipertensi 172 40,9
Hipertensi 60 59,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Tabel IV.11
Distribusi Berdasarkan Indikator Penderita Hipertensi Berobat Teratur di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Penderita Hipertensi Berobat
Teratur
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 19 31,7
Tidak 41 68,3
Total 60 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.11 berdasarkan indikator penderita hipertensi berobat teratur menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak yaitu sebanyak 41 KK (68,3%) sedangkan yang berobat teratur sebanyak 19 KK (31,7%) h. Seluruh Keluarga Bebas Asap Rokok
Berdasarkan tabel IV.12 berdasarkan indikator seluruh keluarga bebas asap rokok menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak yaitu sebanyak 176 KK (75,9%) sedangkan yang bebas asap rokok sebanyak 56 KK (24,1%)
Tabel IV.12
Distribusi Berdasarkan Indikator Seluruh Keluarga Bebas Asap Rokok di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Seluruh Keluarga Bebas Asap
Rokok
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 56 24,1
Tidak 176 75,9
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
i. Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN Tabel IV.13
Distribusi Berdasarkan Indikator Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Seluruh Keluarga Menjadi
Anggota JKN
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 131 56,5
Tidak 101 43,5
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.13 berdasarkan indikator Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN menunjukkan bahwa paling banyak yang Ya yaitu sebanyak 131 KK (56,5%) sedangkan yang tidak sebanyak 101 KK (43,5%) j. Memiliki Akses Terhadap Air Bersih
Berdasarkan tabel IV.14 berdasarkan indikator memiliki akses terhadap air bersih menunjukkan bahwa paling banyak yang memiliki akses yaitu sebanyak 133 KK
(57,3%) sedangkan yang tidak memiliki akses sebanyak 99 KK (42,7%)
Tabel IV.14
Distribusi Berdasarkan Indikator Memiliki Akses Terhadap Air Bersih di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Memiliki Akses Terhadap Air
Bersih
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 133 57,3
Tidak 99 42,7
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
k. Menggunakan Jamban Sehat Tabel IV.15
Distribusi Berdasarkan Indikator Jamban Sehat di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Jamban Sehat Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 205 88,4
Tidak 27 11,6
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.15 berdasarkan indikator jamban sehat menunjukkan bahwa paling banyak yang memiliki jamban sehat yaitu sebanyak 205 KK (88,4%) sedangkan yang tidak memiliki jamban sehat sebanyak 27 KK (11,6%)
l. Keluarga dengan Gangguan Jiwa Tidak Diterlantarkan Pada saat melakukan pengumpulan data tidak ditemukan adanya KK yang mempunyai anggota keluarga mengalami gangguan jiwa di Desa Limapoccoe sehingga dikategorikan bahwa semua KK yang menjadi sampel memenuhi kriteria sehat untuk indikator keluarga dengan gangguan jiwa tidak diterlantarkan.
m. Indek Keluarga Sehat
Tabel IV.16
Distribusi Berdasarkan Indeks Keluarga Sehat di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Indeks Keluarga Sehat Frekuensi (n)
Persentase (%)
Keluarga Sehat 182 78,4
Keluarga Pra Sehat 46 19,8
Keluarga Tidak sehat 4 1,7
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.16 berdasarkan Indeks Keluarga Sehat menunjukkan bahwa paling banyak dengan kategori keluarga sehat yaitu sebanyak 182 KK (78,4%), keluarga pra sehat yaitu sebanyak 46 KK (19,8%) sedangkan keluarga tidak sehat sebanyak 4 KK (1,7%)
C. Pembahasan
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Berkaitan dengan hal itu, Undang-Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dicapai melalui penyelenggarakan pembangunan kesehatan.
Pembangunan yang dilaksanakan harus dapat menjamin bahwa
manfaatnya dapat diterima oleh semua pihak, berdampak adil bagi perempuan dan laki-laki (Kemenkes RI, 2010).
Kesehatan adalah salah satu kenikmatan Allah yang diberikan kepada umat manusia sebagaimana hal itu telah dikabarkan Rasulullah SAW, ―Dua kenikmatan yang tidak disadari oleh kebanyakan orang: kesehatan dan waktu luang.‖
(HR. Bukhari).
Bahkan kesehatan sebanding dengan sepertiga kehidupan ini sebagaimana dipahami dari sabda Nabi SAW,
“Barang siapa dari kalian yang aman dalam kelompoknya, sehat badannya dan mempunyai bahan makanan untuk kesehariannya maka seakan-akan ia menguasai dunia.” (HR.
Tirmidzi)
Yakni barang siapa yang Allah mengumpulkan padanya kesehatan badannya, keamanan hatinya dan kecukupan kehidupannya, maka Allah telah memberikannya keseluruhan kenikmatan yang dimiliki dunia, dan seakan-akan Allah telah memberikan dunia seluruhnya.
Sejalan dengan strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan bangsa yang sehat tahun 2025 ini maka untuk meningkatkan derajat kesehatan menjadi salah satu fokus pembangunan dibidang kesehatan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, maka pembangunan bidang kesehatan diarahkan kepada semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2025. Adapun misi pembangunan yaitu menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan yang bermutu, merata dan terjangkau, serta memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
(Kesehatan, 2019)
Merujuk pada Sistem Kesehatan Nasional, maka pembangunan dan upaya tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Derajat kesehatan dapat dicapai melalui upaya-upaya perbaikan sanitasi lingkungan, pengendalian dan pemberantasan penyakit menular,
pendidikan kesehatan, pengorganisasian pelayanan atau perawatan kesehatan serta pengembangan unsur-unsur sosial untuk menjamin taraf kehidupan yang layak.
Peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah menetapkan kebijakan pembanguna keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga untuk mendukung keluarga agar dapat melaksanakan fungsinya secara optimal.
Untuk dapat melangsungkan amanat Undang-undang tersebut, Kementerian Kesehatan menetapkan strategi operasional Pembangunan Kesehatan melalui Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2016). Ini kemudian menjadi titik acuan dalam pengumpulan data terkait dengan indeks kesehatan keluarga.
Berikut adalah penjabaran dari pendataan yang kami peroleh.
1. Indikator Keluarga Berpartisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencana (KB)
Program Keluarga Berencana memungkinkan pasangan dan individu untuk memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab jumlah anak dan jarak umur antar anak (spacing) yang mereka inginkan, cara untuk mencapainya, serta menjamin tersedianya informasi dan berbagai metode yang aman dan efektif. Berdasarkan UU No 52 Tahun 2009, Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan umur ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Pelayanan KB merupakan salah satu strategi untuk mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui mengatur waktu, jarak dan jumlah kehamilan, kemudian untuk mencegah atau memperkecil kemungkinan seorang perempuan hamil mengalami komplikasi yang membahayakan jiwa atau janin selama kehamilan, persalinan dan nifas, dan mencegah atau memperkecil terjadinya kematian pada seorang perempuan yang mengalami komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas.
Hasil pengumpulan data diperoleh berdasarkan indikator Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan menunjukkan bahwa paling banyak yang berpartisipasi yaitu 119 KK (51,3%) dan tidak berpartisipasi yaitu 94 KK (40,5%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan Sasaran Keluarga Berencana yang dibagi menjadi dua yaitu sasaran secara langsung dan sasaran tidak langsung. Adapun sasaran secara langsung adalah Pasangan Umur Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan. Jika dilihat dari PUS di desa Limapoccoe jumlahnya lebih banyak sehingga yang terlibat aktif dan memanfaatkan KB pun lebih banyak. Hal ini didukung dengan adanya petugas kesehatan yang aktif melakukan promosi dan edukasi terkait dengan KB. Sedangkan untuk sasaran tidak langsungnya adalah pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran hidup melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera.
Peran tenaga kesehatan sangat mendukung tercapainya keaktifan masyarakat dalam mengikuti program Keluarga Berencana. Peran tenaga kesehatan seperti bidan adalah upaya yang diberikan oleh bidan baik secara mental, fisik, maupun sosial kepada individu dengan memberikan kenyamanan fisik dan psikologis, perhatian, penghargaan, maupun bantuan dalam bentuk lainnya. Dalam Permenkes No 28 tahun 2017 dengan jelas disebutkan bidan berperan sebagai tenaga kesehatan yang memiliki kewenangan memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Dalam hal tersebut peran bidan adalah dengan cara memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi dan keluarga berencana serta memberikan pelayanan kontrasepsi.
Observasi dan wawancara yang dilakukan kepada responden dan petugas kesehatan didapatkan informasi bahwa petugas kesehatan aktif melakukan penyuluhan ketika melakukan kegiatan posyandu sehingga masyarakat utamanya sasaran KB yaitu PUS mendapatkan informasi dan edukasi terkait dengan manfaat dari penggunaan KB.
Sehingga pengetahuan terkait pentingnya menggunakan KB pada PUS diketahui oleh masyarakat dengan baik. Hal ini juga yang menjadi salah satu factor pendukung masyarakat utamanya PUS berperan aktif dalam program keluarga berencana.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lagu, AM, dkk, 2019 yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pengetahuan dengan keikutsertaan PUS dalam program Keluarga Berencana.
Jika dilihat dari tingkat pendidikan Pasangan Usia Subur di Desa Limapoccoe paling banyak pada kategori pendidikan tinggi karena paling banyak dengan tingkat pendidikan diatas sama dengan SMA. Hasil penelitian lain yang sejalan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh pratiwi AI yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pendidikan dengan keikutsertaan PUS dengan penggunaan alat konrasepsi.
2. Melakukan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah penggunaan fasilitas pelayanan yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada ketersediaan dan kesinambungan pelayanan, penerimaan masyarakat, dan kewajaran, mudah dicapai oleh masyarakat, terjangkau serta bermutu (Azwar, A., 2010)
Fasilitas Kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat (Perpres No.71 Tahun 2013). Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) wajib memberikan pelayanan primer yang komprehensif sebagai gate keeper dengan kualitas pelayanan kesehatan menjadi prioritas (Davi, M., 2016)
Pelayanan kesehatan harus memiliki beberapa aspek sebagai syarat pokok sehingga masyarakat memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut. fasilitas kesehatan harus tersedia dan berkesinambungan, dapat diterima dan wajar, mudah dicapai, mudah dijangkau dan bermutu. Kesemua aspek ini dipenuhi oleh fasilitas kesehatan yang mebawahi wilayah Desa Limapoccoe yaitu Puskesmas Cendrana. Petugas kesehatan di Puskesmas Cendrana pun aktif melaksanakan tugas dan perannya dalam meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerja puskesmas, salah satunya adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Kesehatan ibu sangat penting untuk diperhatikan.
Kesehatan ibu dan anak memiliki hubungan yang sangat erat dalam peranannya masing-masing. Kesehatan anak sangat bergantung dari sejauh mana ibu memperlakukan anaknya, baik saat melahirkan maupun saat masih dalam kandungan.
Keberhasilan dalam program kesehatan ibu dan anak adalah salah satunya dapat diukur dengan tinggi/rendahnya angka kematian ibu dan anak dalam suatu wilayah. Dalam al-Qur’an dikatakan bahwa kita harus senantiasa berbuat baik kepada orang tua serta merawat dan menjaga seorang anak.
Bahkan dikatakan bahwa seorang anak harus disapih selama 30 bulan.
Allah berfirman yang Artinya ―Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah 30 bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ya Tuhanku Tunjuklah aku untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang engkau ridhai: berilah kebaikan kepadaku dengan member kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri‖.
Hamil adalah akibat proses pembuahan yang terjadi selama 12-24 jam dari waktu dimulainya sel telur dilepaskan.
Sperma dapat bertahan kurang lebih selama 5 hari. Jika sperma berhasil membuahi telur, telur akan menuju ke uterus dan menempel di lapisan tebal yang terdapat di dalamnya.
Setelah itu, tubuh mulai memproduksi hormon kehamilan.
Proses pembuahan bisa terjadi akibat adanya hubungan seksual, yaitu aktivitas seksual yang berkaitan dengan sistem reproduksi yang melibatkan gamet pria dan wanita.
Pada masa persalinan semua KK di Desa Limapoccoe memanfaatkan fasilitas kesehatan yang resmi untuk persalinan. Fasilitas kesehatan resmi yang biasa digunakan yaitu puskesmas/pustu/pusling. Hal ini pun didukung dengan adanya himbauan dari pemerintah setempat untuk mealakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang resmi.
Pemanfaatan fasilitas kesehatan didukung dengan keaktifan masyarakat di Desa Limapoccoe sebagai peserta
JKN sehingga segala perawatan yang didapatkan sudah menjadi tanggungan Jaminan Keehatan Nasional.
Selain itu fasilitas kesehatan di Desa Limapoccoe merupakan pelayanan kesehatan yang baik karena mudah di jangkau dari sudut lokasi (Azwar, A., 2010). Aksesibilitas merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan pelayanan kesehatan yang dinilai dari jarak, waktu tempuh, dan ketersediaan transportasi untuk mencapai lokasi pelayanan kesehatan (Dever, 2008). Akses untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dibagi dalam tiga kelompok yaitu akses dekat bila dihitung dalam radius kilometer sejauh kurang dari 1 Km, sedang bila dihitung dalam radius kilometer sejauh 1-4 Km dan aksesnya jauh bila dihitung dalam radius kilometer lebih dari 4 Km (Razak, 2005).
3. Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap
Imunisasi atau kekebalan tubuh terhadap ancaman penyakit adalah tujuan utama dari pemberian vaksinasi pada hakekatnya kekebalan tubuh dapat dimiliki secara pasif maupun aktif. Keduanya dapat diperoleh secara alami maupun buatan. Oleh karena itu perlu dilakukannya imunisasi sebagai upaya pencegahan terhadap serangan penyakit yang berpengaruh terhadap status gizi anak Imunisasi telah terbukti sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat yang sangat penting. Program imunisasi telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat hemat biaya dalam mencegah penyakit menular. Imunisasi juga telah berhasil menyelamatkan begitu banyak kehidupan dibandingkan dengan upaya kesehatan masyarakat lainnya (Bankes, 2013).
Menurut data WHO (Wourd Health Organitation) dalam Tukiman (2014) sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran keanak sekitarnya.
Setiap tahun sekitar 85-95% bayi dinegara negara maju tersebut mendapat imunisasi rutin, sedangkan sisanya belum terjangkau imunisasi karena menderita penyakit tertentu,
sulitnya akses terhadap layanan imunisasi, hambatan jarak, geografis, keamanan, sosial ekonomi dan lain-lain.
Setiap tahun, lebih dari 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi merupakan salah satu usaha yang paling efektif dan banyak dilakukan untuk mencegah kematian anak. Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), seperti tuberkulosis, difteri, tetanus, hepatitis B, pertusis, campak, polio, radang selaput otak, dan radang paru-paru. Program imunisasi dasar lengkap menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 42 tahun 2013 wajib diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun, yang terdiri dari Bacillus Calmette Guerin (BCG), diphtheria pertussis Tetanus-Hepatitis B- haemophillus influenzae tipe B (DPT-HB- HiB), hepatitis B pada bayi baru lahir, polio dan campak.
Program imunisasi dasar, Lima Imunisasi dasar Lengkap (LIL), yang dicanangkan oleh pemerintah bagi bayi meliputi 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B dan 1 dosis Campak (Depkes, 2010). Namun pada kenyataannya program imunisasi dasar lengkap yang telah dilakukan tidak seluruhnya berhasil dan masih banyak bayi atau balita status kelengkapan imunisasinya belum lengkap, banyak faktor yang menyebabkan kelengkapan imunisasi, faktor tersebut antara lainsikap petugas, lokasi imunisasi, kehadiran petugas, usia ibu, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendapatan keluarga per bulan, kepercayaan terhadap dampak buruk pemberian imunisasi, status pekerjaan ibu, tradisi keluarga, tingkat pengetahuan ibu, dan dukungan keluarga.
WHO bahkan menyebutkan imunisasi merupakan investasi kesehatan yang paling hemat dan efektif. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, reaksi normal setelah mendapatkan vaksinasi diantaranya adalah demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Demam atau panas sebenarnya adalah reaksi positif, yang menandakan imunisasi atau vaksin sedang bekerja dalam tubuh balita.
Menyuntikkan vaksin ke dalam tubuh membuat sistem imun menghasilkan antibodi atau melakukan mekanisme pertahanan yang membuat tubuh jadi kebal terhadap virus
penyakit. Alhasil ketika virus itu datang untuk menginfeksi, tubuh anak sudah siap untuk melawannya. Jika tubuh bayi jadi panas setelah imunisasi, artinya tubuhnya sedang membentuk antibodi baru.
Hasil penelitian memperlihatkan berdasarkan indikator bayi memperoleh imunisasi dasar lengkap paling banyak bayi yang memperoleh imunisasi dasar lengkap yaitu 192 bayi (82,8%) sedangkan yang tidak sebanyak 40 bayi (17,2%).
Bayi yang mendapatkan imunisasi lengkap didukung oleh pengetahuan dan pendidikan anggota keluarga yang baik sehingga menjadi factor pendukung bayi mendapatkan imunisasi lengkap.
Hal ini sejalan dengan teori dari Idwar, 2012 yang menyatakan bahwa dukungan keluarga dan informasi juga motivasi ibu pada program imunisasi sangatlah penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu.
Hal ini sejalan dengan teori dari Idwar, 2012 yang menyatakan bahwa dukungan keluarga dan informasi juga motivasi ibu pada program imunisasi sangatlah penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu.