• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Hasil Penelitian dan Analisa

1. Hasil Penelitian

Hakim sebagai aparat penegak hukum dalam menjalankan kewajibannya di persidangan, memutus perkara dengan mempertimbangkan dan memperhatikan 3 (tiga) hal yakni kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan dalam amar putusannya. Kepastian hukum menjadi perlindungan dari tindakan semena-mena yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.

Kepastian hukum berlandaskan pada teori sebab akibat yang mengartikan bahwa suatu perbuatan melawan hukum dapat dihukum setimpal dengan perbuatannya34.

Dalam putusannya Hakim juga harus mempertimbangkan kemanfaatan dalam penegakan hukum. Kemanfaatan yang dimaksud yaitu dapat menghilangkan tindak pidana atau suatu efek jera bagi pelaku. Selanjutnya dalam putusannya Hakim harus memperhatikan unsur keadilan dalam menghukum pelaku tindak pidana. Keadilan menjadi tujuan utama dalam penegakan hukum. Dalam mengadili tindak pidana korupsi, pertimbangan

34 Muammar, Maulana Meldanday. Penerapan Pidana Tambahan Berupa Uang Pengganti Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Hukum. Vol. 4, No. 1, 2022. Hal. 49

44 hakim berdasar pada legal justice yang sejalan dengan norma hukum yang berlaku35.

Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini yakni Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN. Jmb. Dengan Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril dengan Dakwaan Primair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999.

Selanjutnya Dakwaan Subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999.

a) Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana Tambahan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi Pada Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb.

Menimbang, bahwa mengenai uang pengganti Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:

35 Ibid. Hal. 50

45 Menimbang, bahwa Majelis Hakim akan mempertimbangkan dakwaan Penuntut Umum Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001, yang rumusannya menentukan sebagai berikut:

(1) Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sebagai pidana tambahan adalah:

a. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut;

b. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

(2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 bulan sesudah Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut;

(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat

46 (1) huruf b maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan Pengadilan.

Menimbang, bahwa berdasarkan rumusan yang termasuk dalam Pasal 18 ayat (1) huruf a, b, dan ayat (2), ayat (3) Undang-Undang R.I Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang R.I Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka Majelis Hakim akan mempertimbangkan apakah dakwaan Penuntut Umum ini yaitu telah terjadi adanya Kerugian Keuangan Negara yang harus dibebankan kepada Terdakwa Ir. H. Rosmansyarah, MM Bin Syahril.

Menimbang, bahwa sebagaimana telah diuraikan dalam pertimbangan-pertimbangan unsur pada Ad. 1 (Unsur Setiap Orang), Ad.

2 (Unsur Yang Dengan Tujuan Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang Lain atau Suatu Korporasi), Ad. 3 (Unsur Melakukan Perbuatan Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi), Ad. 4 (unsur yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara), Ad 5 dan Ad. 6 (unsur beberapa perbuatan perhubungan yang dipandang sebagai suatu perbuatan yang diteruskan) di atas ternyata akibat dari perbuatan terdakwa Ir. H Rosmansyah, MM Bin Syahril dan kawan-kawan telah terbukti menimbulkan kerugian negara atas dugaan tindak pidana korupsi dalam penyelenggaraan ADEKSI dan BINTEK anggota DPRD Kota Jambi Tahun 2012, 2013, dan 2014 dari Badan

47 Pengawan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Jambi Nomor : SR-26/PW05/5/2017 tanggal 10 Februari 2017, disimpulkan telah terjadi penyimpangan yang menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp. Rp4.093.325.538,00 (empat miliar sembilan puluh tiga juta tiga ratus dua puluh lima ribu lima ratus tiga puluh delapan rupiah).

Menimbang, bahwa dari keterangan saksi Nurikhwan yang menerangkan uang di Sekretariat DPRD Kota Jambi Tahun 2012, Tahun 2013, dan Tahun 2014 diberikan kepada :

Tahun 2012, kepada :

1. Terdakwa sendiri (Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril) sebesar Rp.315.000.000,00 (tiga ratus lima belas juta rupiah) secara bertahap, tidak sekaligus;

2. H. Zainal Abidin, S.E,. (Ketua DPRD Kota Jambi) sebesar Rp.207.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), seccara bertahap, tidak sekaligus.

Tahun 2013, kepada:

1. Terdakwa sendiri (Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril) sebesar Rp.271.000.000,00 (dua ratus tuju puluh satu juta rupiah), secara bertahap, tidak sekaligus;

2. H. Zainal Abidin, S.E., (Ketua DPRD Kota Jambi) sebesar Rp.359.500.000,00 (tiga ratus lima puluh sembilan juta lima ratus ribu rupiah secara bertahap, tidak sekaligus).

48 Tahun 2014, kepada:

1. Terdakwa sendiri (Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril) sebesar Rp.363.000.000,00 (tiga ratus enam puluh tiga juta rupiah), secara bertahap tidak sekaligus;

2. Dr. Jumisar, S.H., M.E., dengan total sebesar Rp.128.500.000,00 (seratus dua puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah) secara bertahap, tidak sekaligus.

Sehingga berjumah sebesar Rp.1.644.000.000,00 (satu miliar enam ratus empat puluh empat juta rupiah);

Menimbang, bahwa apabila dijumlahkan uang yang diperoleh oleh Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril untuk Tahun 2012, Tahun 2013, dan Tahun 2014 menurut keterangan saksi Nurikhwan adalah sebesar Rp. 949. 000.000,00 (sembilan ratus empat puluh sembilan juta rupiah), kemudian ditambah dengan 1/3 dari sisa kerugian negara Tahun 2014 yang tidak bisa dipertanggung jawabkan sebesar Rp. 92. 895. 333, 33 (sembilan puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh lima ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah, koma tiga puluh tiga sen), sehingga berjumlah Rp1.041.895.333,33 (satu miliar empat puluh satu juta delapan ratus sembilan puluh lima ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah, koma tiga puluh tiga sen).

Menimbang, bahwa jumlah kerugian negara sebesar Rp4.093.325.538,00 – (dikurangi) Rp.1.644.000.000,00 (uang yang diperoleh nyata-nyata oleh orang per orang sebagaimana

49 dipertimbangkan di atas, maka hasilnya adalah sebesar Rp.2.449.325.538,00 sebagai uang yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.

Menimbang, bahwa terhadap uang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara administrasi dan laporan keuangan yang sah, maka uang kerugian tersebut tidak berkeadilan dibebankan kepada Terdakwa Rosmansyah seluruhnya, maka Majelis Hakim berpendapat kepada terdakwa Ir. Rosmandyah, MM Bin Syahril terhadap uang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan sebesar Rp. 2. 449. 325. 538, 00, hanya dapat dibebankan kepada Terdakwa secara proposional yakni 1/3 dari jumlah tersebut, sehingga berjumlah sebesar Rp. 816. 441. 846,00 (delapan ratus enam belas juta empat ratus empat puluh satu ribu delapan ratus empat puluh enam rupiah).

Menimbang, bahwa dengan memperhatikan ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Undang-Undang Noor 20 Tahun 2001, serta ketentuan Pasal 1, Pasal 4 dan Penjelasan Pasal 4 PERMA Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi, Penjelasan Pasal 4 ayat (1) PERMA Nomor 5 Tahun 2014, menentukan : “Proporsional yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah mengacu kepada peran yang dilakukan oleh terdakwa, jika peran seorang terdakwa sangat signifikan dalam pelaksanaan tindak pidana korupsi, maka pembebanan uang pengganti yang dijatuhkan akan semakin tinggi. Sedangkan yang

50 dimaksud dengan objektif adalah hakim dalam menentukan besaran uang pengganti diharuskan dari fakta-fakta yang di dapat dari pembuktian”.

Menimbang, bahwa oleh karena itu Majelis Hakim berpendapat terhadap Uang Pengganti kerugian Keuangan Negara yang harus dibebankan kepada Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril adalah sebesar Rp1.041.895.333,33 (uang yang diperoleh terdakwa dan sisa dengan Jumisar) + (ditambah) Rp.816.441.846,00 (sebagai uang sisa yang tidak dipertanggungjawabkan Tahun 2012, 2013), sehingga berjumlah sebesar Rp.1.858.337.179,33 (satu miliar delapan ratus lima puluh delapan juta tiga ratus tiga puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, koma tiga puluh tiga sen).

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kepada Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril dibebankan untuk membayar uang pengganti sebesar Rp.1.858.337.179,33 (satu miliar delapan ratus lima puluh delapan juta tiga ratus tiga puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, koma tiga puluh tiga sen).

b) Pertimbangan Hakim Dalam Memberikan Pidana Subsider Terhadap Terpidana Jika Tidak Mampu Membayar Uang Pengganti Pada Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb

Berikut Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana subsider bagi terdakwa :

51 Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril sudah menitipkan uang sebesar Rp.450.000.000,00 (empat ratus lima puluh juta rupiah), diperhitungkan sebagai pengembalian kerugian keuangan negara yang dibebankan kepada terdakwa Ir. H.

Rosmansyah, MM Bin Syahril sehingga masih bersisa sebesar Rp.

1.408.337.179,33 (satu miliar empat ratus delapan juta tiga ratus puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, tiga puluh tiga sen).

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa belum mengembalikan seluruh kerugian keuangan negara dan kerugian keuangan negara yang dibebankan kepada Terdakwa belum dipulihkan seluruhnya sebelum putusan ini diucapkan, maka pernyataan jika terdakwa telah berubah status menjadi terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) paling lama dalam waktu 1 bulan sesudah Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut, dan dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi utuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, sangat relevan untuk ditetapkan kepada Terdakwa, maka kepada terdakwa dipidana dengan pidana penjara, sebagaimana amar putusan di bawah ini;

Menimbang, bahwa dengan memperhatikan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, yang menentukan : “Pengembalian Kerugian Keuangan

52 Negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan pidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3”, sedangkan ketentuan Penjelasan Pasal 4 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, menentukan : “Dalam hal pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 2 dan Pasal 3 telah memenuhi unsur-unsur pasal dimaksud, maka pengembalian kerugian negara atau perekonomian negara, tidak menghapuskan pidana terhadap pelaku tindak pidana tersebut. Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara hanya merupakan salah satu faktor yang meringankan”.

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa Ir. H. Rosmandyah, MM Bin Syahril telah menitipkan sebagian kerugian keuangan negara yang dibebankan kepadanya kepada Penuntut Umum, maka ketentuan penjelasan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Udnang Nomor 20 Tahun 2001, dapat diterapkan sebagian juga kepada Terdakwa sebagai hal yang meringankan hukuman bagi Terdakwa untuk sebagian.

2. Analisa

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus- TPK/2017/PN.Jmb terkait dengan menjatuhkan uang pengganti terhadap terdakwa sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya,

53 penulis menganalisa adanya 3 (tiga) point penting dalam pertimbangan-pertimbangan tersebut yakni :

1) Dalam menjatuhkan pidana tambahan kepada terdakwa Hakim mempertimbangkan adanya unsur kerugian negara sebagai unsur utama atau pokok. Sebagaimana dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 JO Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang menyatakan bahwa :

Pasal 2 ayat (1) :“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan

Dokumen terkait