BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di Balai Pengobatan Penyakit Paru – Paru (BP4) Medan yang dapat dideskripsikan sebagai berikut:
5.1.1.1 Kedudukan BP4 Medan
Dalam PERDA No. 3 Tahun 2001 dan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 061-437.K/Tahun 2002 dinyatakan bahwa kedudukan BP4 adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang kesehatan paru dalam lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
5.1.1.2 Tugas BP4
Melaksanakan upaya kesehatan yang menyeluruh (preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif) terhadap gangguan kesehatan paru masyarakat akibat infeksi bakteri, virus, jamur , parasit, pengaruh kebiasaan, lingkungan hidup dan pekerjaan, serta dalam upaya pengembangan kesehatan paru masyarakat.
5.1.1.3 Fungsi BP4
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, BP4 menyelenggarakan fungsi:
a. Perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pencegahan, pengobatan dan pelayanan penunjang kesehatan paru masyarakat.
b. Perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi
c. Perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan rujukan kesehatan paru masyarakat .
d. Perencanaan, koordinasi, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan tenanga kesehatan dan non kesehatan di bidang kesehatan paru masyarat.
e. Perencanaan, koordinasi, pelaksanaan dan evaluasi penelitian dan pengembangan teknologi tepat guna di bidang kesehatan paru masyarakat.
f. Perencanaan, koordinasi, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan kemitraan dan sosialisasi kesehatan paru masyarakat.
g. Pelaksanaan urusan ketatausahaan, keuangan dan kerumahtanggaan Balai Penyakit paru –paru Masyarakat.
5.1.1.3 Visi dan Misi BP4 Medan Visi
Menjadi pusat pelayan kesehatna paru prima dan terjangkau bagi masyarakat untuk mendukung terwujudnya Indonesia Sehat 2010.
Misi
1. Meningkatkan pemerataan, mutu, dan keterjangkauan pelayanan di bidang kesehatan paru masyarakat.
2. Melakukan promosi kesehatan paru untuk pemberdayaan masyarakat.
3. Mengembangkan jejaring kemitraan dan koordinasi dengan institusi terkait dalam mengatasi masalah kesehatan paru masyarakat.
4. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap masalah kesehatan paru masyarakat.
5. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM melalui pendidikan dan pelatihan.
5.1.1.4 Sumber Daya Manusia (SDM) BP4 Medan
Sumber daya manusia yang bekerja di BP4 Medan secara garis besarnya dibedakan antara tenanga Teknis dan tenaga Administrasi. Tenaga teknis adalah tenaga yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan, sedangkan tenaga Administrasi merupakan tenaga yang melaksanakan kegiatan non teknis untuk menunjang kegiatan teknis.
Terdaftar berbagai jenis kulifikasi tenaga teknis yang bertugas di BP4 Medan, yaitu SLTA , Akademi, Sarjana, dan Pasca Sarjana.
Tenaga tingkat SLTA ada beberapa jenis kualifikasi, yaitu SMA, SMAK (Sekolah Menengah Analisis Kesehatan), SPK (Sekolah Perawat Kesehatan), SAA (Sekolah Asisten Apoteker).
Tenaga tingkat Akademi meliputi berbagai jenis kualifikasi, yaitu APRO(Akademi Penata Rontgen), ATEM (Akademi Teknik Medik), AKPER (Akademi Perawat), AKBID (Akademi Bidan), AKL (Akademi Kesehatan Lingkungan), AKZI (Akademi Gizi) dan lain-lain yang setaraf.
Tenaga tingkat sarjana terdiri dari berbagai jenis kualifikasi, yaitu Dokter, Sarjana, Farmasi, Sarjana Kesehatan Masyarakat dan lain-lain yang setaraf. Tenaga tingkat pasca Sarjana terdiri Dokter Spesialis Paru dan Magister Kesehatan.
5.1.1.5 Gedung dan Peralatan
- Luas Tanah : ± 2.016 m2
- Status Tanah Milik : Pemda Provinsi Sumatera Utara
- Luas Bangunan : ± 1.600,5 m2
Untuk melaksanakan pelayana, BP4 dilengkapi dengan peralatan yang dibagi menjadi peralatan umum dan peralatan teknis. Peralatan umum meliputi peralatan rumah tangga, komunikasi, dan transportasi. Adapun peralatan teknis dibagi menjadi peralatan dasar dan peralatan teknis khusus. Peralatan teknis dasar adalah peralatan yang digunakan
untuk pemeriksaan paru-paru dasar dan pemeriksaan laboratorium. Sedangkan peralatan teknis khusus digunakan untuk pemeriksaan dan tindakan spesialistik.
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden
Karakteristik responden dapat dilihat dengan menggunakan kuesioner yang meliputi kelompok jenis kelamin dan kelompok umur. Distribusi hal-hal tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan jenis kelamin (n=100) Jenis Kelamin Frekuensi (orang) Persentase (%)
Laki-Laki Perempuan 55 42 56.7 43.3 Total 97 100
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pasien TB paru yang datang berobat dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang paling banyak adalah laki-laki sebanyak 55 orang (56.7%). Sedangkan responden dalam penelitian ini yang berjenis kelamin perempuan adalah 43 orang (43.3%).
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan umur responden Kelompok Umur Frekuensi (orang) Persentase (%) Remaja ( 12-17 Tahun)
Dewasa Muda ( 18-40 Tahun) Dewasa Tua ( 40-65 Tahun)
Tua (> 65 Tahun) 3 50 39 5 3,1 51,5 40,2 5,2 Total 97 100
Pasien yang ikut dalam penelitian ini sebanyak 97 orang dan terdiri dari beberapa kategori umur dengan kategori umur yang paling banyak adalah dewasa muda (18-40 tahun) yaitu 50 orang (51,5%). Kategori umur yang paling sedikit adalah remaja (12-18 tahun) sebanyak 3 orang (3,1%). Sedangkan responden lainnya terdiri dari dewasa tua (40-65 tahun) sebanyak 39 orang (40,2%) dan dari kategori umur tua/lansia (>(40-65 tahun) sebanyak 5 orang (5,2%).
5.1.3 Hasil Analisis Data
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapati hasil yang dapat dideskripsikan melalui tabel-tabel distribusi frekuensi dan persentase.
5.1.3.1 Pengetahuan Pasien
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Penyebab TB Paru
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Bakteri Jamur Virus 76 2 19 78,4 2,1 19,6 Total 97 100
Berdasarkan data tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menjawab benar pertanyaan tentang penyebab TB paru yaitu bakteri sebesar 76 orang (78,4%), 2 orang (2,1%) responden memilih jamur dan 19 orang (19,6%) responden memilih virus sebagai penyebab TB paru. Angka ini memnunjukkan bahwa pasien masih kurang mendapat pengetahuan mengenai penyebab TB paru selama mengikuti program DOTS yaitu sebanyak 21 orang (21,7%).
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Cara Penularan TB Paru
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Kutukan Kontak Mata Bersin/Batuk 0 3 94 0 3,1 96,9 Total 97 100
Tabel 5.4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menjawab benar pertanyaan tentang cara penularan TB paru di masyarakat yaitu melalui bersin/ batuk sebanyak 94 orang (96,9%). Sedangkan yang menjawab salah hanya 3 orang (3,1%) yaitu dengan menjawab penularan TB paru melalui kontak mata.
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Cara Pemeriksaan TB Paru
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Dahak & Rontgen
Mata & Hidung Kulit & Kelamin
97 0 0 100 0 0 Total 97 100
Berdasarkan data dari tabel 5.5, dapat dilihat bahwa semua responden menjawab benar. Pertanyaan tentang cara pemeriksaan yang harus dilakukan untuk memastikan pasien menderita TB paru ini dijawab dengan dahak dan rontgen sebanyak 97 orang (100%).
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Pelaksanaan DOTS
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Obat Banyak
Sesuai Keinginan Pasien DOTS yang Benar
17 3 77 17,5 3,1 79,4 Total 97 100
Hasil dari data tabel 5.6 menunjukkan bahwa 77 orang (79,4%) menjawab dengan benar tentang arti DOTS. Hal ini sebenarnya sangat penting dijelaskan agar pasien dapat mengerti maksud dan tujuan pengobatan dengan strategi DOTS tersebut. Tetapi masih ada 17 orang (17,5%) responden yang memilih jawaban bahwa DOTS adalah pemberian obat sebanyak-banyaknya dan 3 orang (3,1%) responden memilih pemberian obat sesuai keinginan/pilihan pasien..
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Alasan Pasien Mengikuti Program DOTS
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Tidak Tahu, Ikut saja
Membantu &Tidak Putus Berobat Saran Keluarga dan Tetangga
9 66 22 9,3 68 22,7 Total 97 100
Alasan pasien mengikuti program DOTS terbanyak pada tabel 5.7 adalah untuk membantunya minum obat secara teratur dan mengawasi agar tidak putus berobat, 66 orang (68%) responden menjawab benar, 22 orang (22,7%) menjawab karena mengikuti saran keluarga dan tetangganya dan 9 (9,3%) orang tidak mengetahui secara jelas dan hanya ikut saja.
Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Jenis Obat yang Digunakan dalam Program DOTS
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Obat DOTS
Penisilin, Panadol, OBH Paracetamol, Analgin, Morfin
93 2 2 95,9 2,1 2,1 Total 97 100
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menjawab benar pertanyaan pengetahuan pasien tentang jenis obat yang digunakan dalam strategi DOTS yaitu rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Sebanyak 93 orang (95,9%) responden menjawab benar dan 4 orang (4,2%) lainnya menjawab salah.
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Efek Samping Obat yang Menimbulkan Urin Berwarna Merah
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Tidak Tahu Rifampisin Pirazinamid 29 62 6 29,9 63,9 6,2 Total 97 100
Berdasarkan hasil dari tabel 5.9 dapat dilihat hanya 62 orang (63,9%) saja yang mengetahui bahwa ada obat yang yang dapat menimbulkan efek samping urin berubah menjadi merah. 29 orang (29,9%) menjawab tidak tahu obat yang menimbulkan efek tersebut dan 6 orang (6,2%) lainnya menjawab pirazinamid.
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Tindakan Bila Terjadi Efek Samping Obat
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Hentikan Obat Kembali ke Dokter Terus Minum 17 78 2 17,5 80,4 2,1 Total 97 100
Pengetahuan pasien tentang tindakan bila terjadi efek samping obat berbeda-beda. Sebanyak 78 orang (80,4%) responden memilih untuk kembali ke dokter bila timbul efek samping setelah minum obat anti tuberkulosis. Sedangkan 17 orang (17,5%) memilih untuk berhenti minum obat dan 2 orang (2,1%) memilih untuk terus minum sampai tanda efek samping hilang [Tabel 5.10].
Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Sumber Informasi Pasien
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Tidak Ada Penjelasan
Dokter, Petugas, PMO Teman yang Tidak Tahu juga
8 86 3 8,2 88,7 3,1 Total 97 100
Masih ada pasien yang tidak mengetahui tentang penyakit TB paru dan DOTS merupakan hambatan yang berarti dalam sistem pengobatan. Sebagian besar responden mengetahui tentang penyakit TB paru dan DOTS dari dokter, petugas kesehatan ataupun PMO. 86 orang (88,7%) responden mengetahui dari sumber yang
benar sedangkan 3 orang (3,1%) hanya mendengar dari orang yang juga tidak mengerti dan 8 orang (8,2%) responden lainnya sama sekali tidak mendapat penjelasan dari siapapun [Tabel 5.11].
Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang Tindakan Pasien Bila Berat Badan Mulai Naik
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Kembali ke Dokter
Mengurangi Makan & Perbanyak Obat Berhenti Berobat (Merasa Sembuh)
84 3 10 86,6 3,1 10,3 Total 97 100
Responden sebanyak 84 orang (86,6%) menjawab untuk kembali ke dokter sedangkan 10 orang (10,3%) menjawab untuk berhenti berobat karena beranggapan bila berat badan mulai naik artinya sudah sembuh. Sedangkan 3 orang (3,1%) responden lainnya lebih memilih untuk mengurangi makan dan perbanyak minum obat lagi [Tabel 5.12].
Tabel 5.13 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Pasien tentang TB Paru dan DOTS
Tingkat Pengetahuan Frekuensi (orang) Persentase (%) Baik Buruk 86 11 88,7 11,3 Total 97 100
Berdasarkan hasil dari tabel 5.13 dapat dilihat bahwa dari 97 orang responden yang ikut dalam penelitian ini, 86 orang (88,7%) responden memiliki pengetahuan yang baik dan 11 orang (11,3%) memiliki pengetahuan yang buruk.
5.1.3.2 Pasien Berobat Teratur
Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Pasien dalam Berobat Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Tidak Patuh pada Saran
Hanya Sebagian yang Dipatuhi Patuh pada Semua Saran
3 14 80 3,1 14,4 82,5 Total 97 100
Sikap pasien dalam berobat yang paling banyak adalah patuh pada semua saran dokter dan petugas yaitu 80 orang (82,5%) responden. Sedangkan 14 orang (14,4%) hanya mematuhi sebagian saran dokter dan petugas kesehatan dan hanya 3 orang (3,1%) responden yang menjawab tidak patuh sama sekali pada saran dokter dalam berobat [Tabel 5.14].
Tabel 5.15 Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu Pasien untuk Datang atau Periksa Ulang Kembali
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Sesuai Keinginan Pasien
Sesuai Jadwal / Saran Kadang-Kadang Datang 7 83 7 7,2 85,6 7,2 Total 97 100
Angka yang ditunjukkan pada tabel cukup besar dan menggambarkan kebanyakan pasien berobat teratur dan sesuai jadwal ataupun mengikuti saran dokter dan petugas kesehatan demi kesembuhan dirinya. Dapat dilihat bahwa 83 orang (85,6%) responden memilih datang untuk memeriksakan diri / periksa ulang kembali sesuai jadwal ataupun saran dokter dan petugas kesehatan. Sedangkan 7 orang (7,2%) memilih datang kembali
sesuai keinginannya dan tidak perlu nerulang-ulang dan 7 orang (7,2%) responden lainnya memilih untuk kadang-kadang saja datang dan periksa ulang [Tabel 5.15].
Tabel 5.16 Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Pasien dalam Mengambil Obat Anti Tuberkulosis
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Tidak Teratur
Teratur Sesuai Jadwal Teratur, Tidak Sesuai Jadwal
3 77 17 3,1 79,4 17,5 Total 97 100
Pasien yang mengikuti pengobatan TB paru dengan strategi DOTS harus minum OAT dengan teratur dan sesuai jadwal. Sebanyak 77 orang (79,4%) responden memiliki sikap teratur sesuai jadwal dalam mengambil obat anti tuberkulosis, 17 orang (17,5%) teratur tapi tidak sesuai jadwal yang telah ditetapkan sedangkan 3 orang (3,1%) responden lainnya tidak teratur sama sekali [Tabel 5.16].
Tabel 5.17 Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Pasien terhadap Obat yang Telah Diberikan
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Minum Teratur
Kadang-Kadang Saja Diminum Menyimpan dan Membiarkan
82 15 0 84,5 15,5 0 Total 97 100
Responden yang memilih untuk meminum obat tidak teratur yaitu kadang-kadang saja diminum sebanyak 15 orang (15,5%) sedangkan yang minum obat teratur sesuai
jadwal yang telah ditetapkan sebanyak 82 orang (84,5%). Tidak ada seorangpun responden yang memilih untuk menyimpan dan membiarkan obat yang telah diberikan [Tabel 5.17].
Tabel 5.18 Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu yang Tepat untuk Minum Obat Anti Tuberkulosis
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Bila Diperintah PMO atau Dokter
Terserah Kapan Saja Setiap Hari 60 4 33 61,9 4,1 34 Total 97 100
Berdasarkan data pada tabel 5.18, sebanyak 33 orang (34%) responden memilih untuk minum obat anti tuberkulosis (OAT) setiap hari.. Dapat dilihat juga bahwa 60 orang (61,9%) menjawab benar yaitu minum OAT bila diperintah oleh PMO ataupun dokter. Sedangkan 4 orang (4,1%) responden lainnya memilih untuk minum kapan saja dan tidak sesuai dengan jadwal minum obat yang ada.
Tabel 5.19 Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Pasien dalam Mengikuti Program DOTS
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Pasien Berobat Teratur
Pasien Berobat Tidak Teratur
82 15
84,5 15,5
Total 97 100
Pasien yang menjadi responden pada penelitian ini yang memiliki sikap berobat teratur sebanyak 82 orang (84,5%) dari 97 orang. Pasien yang berobat dan tidak teratur selama pengobatan sebanyak 15 orang (15,5%) responden [Tabel 5.19].
5.1.3.3 Pasien Drop Out Rendah
Tabel 5.20 Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban Pasien tentang Hal yang Paling Penting dalam Pengobatan TB Paru
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase
(%) Teratur Minum Obat, Sesuai
Dosis dan Berkelanjutan Teratur Bila Ingat, Berhenti
Setelah Merasa Sembuh Simpan Obat Teratur ke Dokter
79 17 1 81,4 17,5 1,0 Total 97 100
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 79 orang (81,4%) responden memilih teratur minum obat sesuai dengan dosis dan berkelanjutan sebagai hal yang paling penting dalam proses pengobatan TB paru dengan strategi DOTS. Sedangkan 17 orang (17,5%) responden memilih teratur bila ingat dan berhenti minum setelah merasa sembuh dan 1 orang (1%) memilih untuk menyimpan obat yang telah diberikan [Tabel 5.20].
Tabel 5.21 Distribusi Frekuensi dan Persentase tentang Lama Minimal Pengobatan TB Paru dengan Strategi DOTS
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) 2 Bulan 6 Bulan Tidak Tahu 22 66 9 22,7 68,0 9,3 Total 97 100
Berdasarkan hasil penelitian ini [Tabel 5.21] didapati bahwa sebanyak 22 orang (22,7%) menyatakan bahwa pengobatan TB paru minimal adalah 2 bulan sedangkan
9 orang (9,3%) lainnya tidak tahu sama sekali. Hanya 66 orang (68%) yang mengetahui dengan benar bahwa pengobatan minimal TB Paru adalah 6 bulan.
Tabel 5.22 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tindakan Pasien Ketika Bosan Minum Obat Setiap Hari
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Berhenti Sampai Tidak Bosan Lagi
Konsultasi dengan Dokter Tetap Minum, Tidak Sesuai Jadwal
9 82 6 9,3 84,5 6,2 Total 97 100
Pada tabel di atas [Tabel 5.22] dapat dilihat tindakan pasien saat merasa bosan minum obat setiap hari yang paling banyak dipilih adalah konsultasi dengan dokter ataupun petugas kesehatan sebanyak 82 orang (84,5%). Sedangkan 9 orang (9,3%) memilih untuk berhenti sejenak sampai tidak bosan lagi dan 6 orang (6,2%) memilih untuk tetap berusaha minum walaupun tidak sesuai jadwal lagi.
Tabel 5.23 Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban Pasien tentang Waktu yang Paling Tepat untuk Berhenti Minum Obat
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Batuk Hilang, Berat Badan Naik
Dinyatakan Sembuh Oleh Dokter Saat Tidak Diawasi Minum Obat
23 72 2 23,7 74,2 2,1 Total 97 100
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa masih banyak pasien yang menghentikan minum obat bila batuk telah hilang dan berat badannya telah naik yaitu sebanyak 23 orang (23,7%). Sedangkan 72 orang (74,2%) memilih jawaban akan
menghentikan minum obat setelah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Dapat dilihat juga bahwa pada tabel 5.23 terdapat sebanyak 2 orang (2,1%) yang akan berhenti minum obat bila tidak diawasi minum obat.
Tabel 5.24 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tanggapan Pasien tentang Akibat dari Minum Obat Tidak Teratur
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Bakteri Akan Kebal (Resisten)
Tidak Apa-Apa Tidak Tahu 59 10 28 60,8 10,3 28,9 Total 97 100
Pengetahuan pasien mengenai resistensi obat yang bisa terjadi bila pasien tidak minum obat teratur masih sangat rendah. Dapat dilihat bahwa hanya 59 orang (60,8%) responden yang mengetahui hal tersebut. 28 orang (28,9%) tidak mengetahui sama sekali dan 10 orang (10,3%) beranggapan tidak akan terjadi apa-apa dan pengobatan bisa disambung lagi [Tabel 5.24].
Tabel 5.25 Distribusi Frekuensi dan Persentase Drop Out Pasien
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Pasien Drop Out (-)
Pasien Drop Out (+)
76 21
78,4 21,6
Total 97 100
Pasien TB Paru di BP4 Medan yang menjawab pertanyaan di kuesioner dan cenderung untuk drop out adalah 21 orang (21,6%) responden dan yang tidak drop out sebanyak 76 orang (78,4%) [Tabel 5.25].
5.1.3.4 Komitmen PMO
Tabel 5.26 Distribusi Frekuensi dan Persentase Orang yang Menjadi PMO Pasien Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Orang yang Telah Dilatih Menjadi PMO
Teman yang Tidak Mengerti TB Keluarga, Tidak Ada Pelatihan
75 3 19 77,3 3,1 19,6 Total 97 100
Pengawas minum obat (PMO) yang paling tepat adalah keluarga, masyarakat umum seperti keluarga, tetangga, teman dan lain-lain atau petugas kesehatan yang telah dilatih terlebih dahulu. 75 orang (77,3%) telah menjawab benar dan tepat tetapi harus diperhatikan ada 19 orang (19,6%) responden yang memiliki PMO dari keluarga yang tinggal serumah dan tidak mendapat pelatihan ataupun penjelasan sama sekali tentang TB Paru dan tugas-tugasnya. Sedangkan 3 orang (3,1%) responden lainnya memilih teman yang tidak mengerti tentang TB untuk menjadi PMO-nya [Tabel 5.26].
Tabel 5.27 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tanggapan Pasien tentang Fungsi dari PMO
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Mengawasi dan Memberi Nasehat
Mengambil Obat, Mengikuti Pasien Mengambil Obat, Berikan ke Pasien
68 19 10 70,1 19,6 10,3 Total 97 100
Tabel 5.27 di atas menunjukkan bahwa 68 orang (70,1%) responden mengetahui tugas PMO-nya yaitu mengawasi dan memberi nasehat-nasehat, 19 orang (19,6%) menilai PMO berfungsi untuk mengambil obat di balai kesehatan dan mengikuti pasien kemana
saja pergi. Sedangkan 10 orang (10,3%) memilih bahwa fungsi PMO itu hanya untuk mengambil obat dan memberikannya kepada pasien secara rutin.
Tabel 5.28 Distribusi Frekuensi dan Persentase Orang yang Menyuruh Pasien untuk Minum Obat Anti Tuberkulosis
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Kesadaran Sendiri PMO Keluarga 36 54 7 37,1 55,7 7,2 Total 97 100
Berdasarkan tabel 5.28 dapat dilihat hanya 54 orang (55,7%) responden saja yang minum obat anti tuberkulosis karena diperintah oleh PMO-nya. Sedangkan 36 orang (37,1%) minum obat karena kesadaran sendiri dan 7 orang (7,2%) responden lainnya memilih karena keluarga.
Tabel 5.29 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tindakan yang Dilakukan PMO Ketika Pasien Minum Obat
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Sudah Pergi Menjauh
Memperhatikan Sampai Selesai Mencatat Tanpa Melihat Pasien
21 71 5 21,6 73,2 5,2 Total 97 100
Tabel 5.29 menunjukkan bahwa 71 orang (73,2%) memiliki PMO yang terus memperhatikan pasien sampai selesai minum obat. Sebanyak 21 orang (21,6%) menyatakan bahwa PMO-nya sudah pergi saat pasien minum obat anti tuberkulosis dan 5
orang (5,2%) lainnya hanya mencatat tindakan minum obat tanpa memperhatikan / melihat pasien.
Tabel 5.30 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tanggapan PMO Ketika Pasien Menyampaikan Keluhan Selama Pengobatan
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Mendengarkan & Memberi Nasehat
Mencatat Tidak Ada Solusi Tidak Pernah Mengobrol
65 12 20 67 12,4 20,6 Total 97 100
PMO yang mendengarkan keluhan pasien dan memberi nasehat yang baik selama pengobatan ini hanya 65 orang (67%). Sedangkan 20 orang (20,6%) lainnya tidak pernah mengobrol sama sekali dan membahas penyakit dan keluhan pasien dan 12 orang (12,4%) biasanya hanya mencatat tanpa mengetahui solusi untuk pasien tersebut [Tabel 5.30].
Tabel 5.31 Distribusi Frekuensi dan Persentase tentang Komitmen PMO
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Komitmen PMO Baik
Komitmen PMO Buruk
70 27
72,2 27,8
Total 97 100
Komitmen PMO pada 97 orang responden dalam penelitian ini cukup baik tapi tidak menunjukkan angka maksimal. Hanya 70 orang (72,2%) responden yang memiliki PMO yang baik dan berkomitmen untuk mengawasi dan memperhatikan pasien selama minum obat anti tuberkulosis. Dari tabel juga dapat dilihat bahwa ada 27 orang (27,8%) responden yang memiliki PMO dengan status komitmen PMO yang buruk [Tabel 5.31].
5.1.3.5 Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Tabel 5.32 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Keberhasilan Pengobatan TB Paru di BP4 Medan
Jawaban Frekuensi (orang) Persentase (%) Pengobatan Berhasil
Pengobatan Tidak Berhasil
85 12
87,6 12,4
Total 97 100
Berdasarkan data dari rekam medis dan catatan di BP4 Medan terlihat angka keberhasilan pengobatan TB paru yang diambil dengan menggunakan strategi DOTS di BP4 Medan dari responden yang mengikuti penelitian ini sebanyak 87 orang (87,6%). Sedangkan 12 orang (27,4%), sementara responden lainnya dinyatakan tidak berhasil ataupun drop out dan harus mengulang pengobatan kembali. Hal ini dikarenakan pasien tersebut tidak datang kembali berobat dan mengambil di BP4 lagi. Dari tabel 5.32 dapat disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan pengobatan pada pasien yang telah mengikuti penelitian ini adalah 87,6%. Walaupun angka ini telah melewati angka target global 85% dari WHA tetapi harus terus ditingkatkan sampai 100% sehingga pemberantasan dan pencegahan TB paru di seluruh kalangan masyarakat dapat berhasil.
5.1.4 Analisis Hasil Penelitian
Analisis hasil penelitian ini dapat dilihat pada tabel-tabel hubungan antara independent variable dengan dependent variable (tingkat keberhasilan pengobatan).
Tabel 5.33 Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang TB Paru & DOTS dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Tingkat Pengetahuan Pasien tentang TB Paru & DOTS
Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Total Berhasil Tidak Berhasil
Pengetahuan Baik Pengetahuan Buruk 79 6 7 5 86 11 Total 85 12 97
Berdasarkan hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat keberhasilan pengobatan diperoleh p value = 0,004. Maka dapat disimpulkan bahwa p value < α, Ho ditolak, hipotesis awal (Ha) diterima. Artinya, ada hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Dapat dilihat dari 97 responden terdapat 79 responden yang memiliki pengetahuan baik akan menyelesaikan pengobatan sampai berhasil [Tabel 5.33].
Tabel 5.34 Hubungan Pasien Berobat Teratur dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Pasien Berobat Teratur
Tingkat Keberhasilan Pengobatan
Total Berhasil Tidak Berhasil
Berobat Teratur Berobat Tidak Teratur
79 6 3 9 82 15 Total 85 12 97
Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pengobatan pasien TB paru. Salah satu faktor yang paling penting adalah keteraturan pasien untuk berobat. Hal ini juga dapat dilihat pada hasil penilitian ini. p value yang didapat adalah p < 0,0001 dengan α yang telah ditentukan yaitu 0,05, maka dapat dikatakan bahwa nilai p value lebih kecil dari α. Artinya Ho dapat ditolak dan terdapat hubungan antara kebiasaan pasien berobat teratur dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Pada Tabel tabulasi juga tampak
kecenderungan pasien yang berobat teratur akan menjalani pengobatan sampai pengobatan itu berhasil [Tabel 5.35]
Tabel 5.35 Hubungan Status Drop out dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan Status Drop Out Pasien Tingkat Keberhasilan Pengobatan Total
Berhasil Tidak Berhasil Drop Out (-) Drop Out (+) 75 10 1 11 76 21 Total 85 12 97
Dari tabel 5.36 di atas diperoleh bahwa ada 76 orang (78,4%) responden yang