HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan rumah sakit milik perintah. Rumah sakit ini dikelola oleh Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Rumah sakit ini terletak di pusat kota Medan Indonesia. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit kelas A. Berdasarkan SK MenKes RI No. HK.02.02/MENKES/390/2014 tanggal 17 Oktober 2014. Tentang Pedoman Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional, RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan salah satu rumah sakit di bagian Regional Barat yang merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional. Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan ini juga merupakan jenis Rumah Sakit Pendidikan, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dapat menggunakannya sebagai Pusat Pendidikan Klinik calon dokter dan pendidikan keahlian sehingga peneliti dapat melakukuan penelitian di bidang kesehatan di rumah sakit ini.
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden
Sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 42 penderita Meningitis Tuberkulosis Anak yang dirawat di RSUP. Haji Adam Malik, Medan dari periode 2011-2014. Pada tahun 2011 didapati 10 orang menderita meningitis tuberculosis. Pada tahu 2012, didapati bilangan kasus terbanyak yaitu 13 penderita. Sedangkan, pada tahun 2013 didapati bilangan kasus paling rendah yaitu sebanyak 8 penderita selama periode 2011-2014. Pada tahun 2014, sebanyak 11 orang dilaporkan menderita meningitis tuberculosis di RSUP Haji Adam Malik Medan. Karakteristik sampel pada penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
5.1.2.1. Karakteristik Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat di RSUP Haji Adam Malik Medan
Tabel 5.1. Karakteristik Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat di RSUP Haji Adam Malik Medan
Karakteristik Jumlah ( n = 42 ) Jenis Kelamin Laki-laki 24 Perempuan 18 Kelompok Umur 1-5 tahun 16 6-10 tahun 12 11-15 tahun 8 16-18 tahun 6 Sosioekonomi Keluarga Rendah 27 Sedang 4 Tinggi 6 Sangat Tinggi 5 Riwayat imunisasi BCG Imunisasikan 18 Tidak diimunisasikan 24 Skor TB ≥ ≥ - positif 42 Skor GCS Ringan 14-15 4 Sedang 9-13 16 Berat 5-8 12 Koma < 5 10
Tindakan Lumbal Pungsi Dilakukan 31 Tidak dilakukan 11 Mortalitas Meninggal 17 Dipulangkan 14 Dipaksa pulang 11
5.1.2.2. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.2. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Laki-laki 24 57,1
Perempuan 18 42,9
Jumlah 42 100,0
Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa frekuensi tertinggi penderita yang dirawat adalah pada laki-laki yaitu sebanyak 24 penderita (57,1%) sedangkan perempuan sebanyak 18 penderita (42,9%).
5.1.2.3. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Kelompok Umur
Tabel 5.3. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Kelompok Umur
Umur (tahun) Frekuensi (n) Persentase (%)
1-5 tahun 16 38,1
6-10 tahun 12 28,6
11-15 tahun 8 19,0
16-18 tahun 6 14,3
Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi penderita yang dirawat adalah pada kelompok umur 1-5 tahun yaitu sebanyak 16 penderita (38,1%) dan diikuti oleh kelompok umur 6-10 tahun yaitu sebanyak 12 penderita (28,6%). Pada kelompok umur 11-15 tahun didapati 8 penderita (19,0%) dan frekuensi terendah penderita yang dirawat adalah kelompok umur 16-18 tahun yaitu sebanyak 6 penderita (14,3%).
5.1.2.4. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Sosioekonomi Keluarga
Tabel 5.4. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Sosioekonomi Keluarga
Sosioekonomi Orang Tua Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah 27 64,3
Sedang 4 9,5
Tinggi 6 14,3
Sangat Tinggi 5 11,9
Jumlah 42 100,0
Dari tabel 5.4 frekuensi tertinggi didapati pada kelompok sosioekonomi orang tua yang rendah yaitu sebanyak 27 penderita (64,3%), diikuti oleh kelompok sosioekonomi tinggi yaitu 6 orang penderita (14.3%). Pada kelompok sosioekonomi sedang dan sangat tinggi didapati 4 penderita (9.5%) dan 5 penderita (11,9%) masing-masing.
5.1.2.5. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Riwayat Imunisasi BCG
Tabel 5.5. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Riwayat Imunisasi BCG
Riwayat Imunisasi BCG Frekuensi (n) Persentase (%)
Riwayat imunisasi positif 18 42,9
Riwayat imunisasi negatif 24 57,1
Jumlah 42 100,0
Dari tabel 5.5 didapati sebanyak 18 penderita (42.9%) telah mendapat imuisasi BCG sebelumnya dan 24 penderita (57.1%) tidak mendapat imunisasi BCG sebelumnya.
5.1.2.6. Distribusi Riwayat Imunsasi BCG Berdasarkan Sosioekonomi Orang Tua Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak
Tabel 5.6. Distribusi Riwayat Imunsasi BCG Berdasarkan Sosioekonomi Orang Tua Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak
Variabel
Sosioekonomi Orang Tua
Rendah n (%) Tinggi Sangat Tinggi Jumlah n (%) n (%) n (%) n (%) n (%) Riwayat Imunisasi BCG Positif 4 (14,8) 5 (100,0) 6 (100,0) 5 (100,0) 18 (42,9) Riwayat Imunisasi BCG Negatif 23 (85,2) 0 (0,0) 0 (0,0) 0 (0,0) 24 (57,1) Jumlah 27 (100,0) 4 (100,0) 6 (100,0) 5 (100,0) 42 (100,0)
Dari tabel 5.6 didapati sebanyak 23 penderita (85,2%) yang tidak imunisasi vaksin BCG yang mempunyai orang tua sosioekonomi yang rendah. Semua penderita yang mempunyai sosioekonomi orang tua yang sangat tinggi menerima imunisasi vaksin BCG yaitu sebanyak 5 penderita (100,0%).
5.1.2.7. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Skor TB
Tabel 5.7. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Skor TB
Skor TB Frekuensi (n) Persentase (%)
≥ 6 – Positif 42 100,0%
Jumlah 42 100,0
Dari tabel 5.7 dapat dilihat bahwa semua penderita meningitis tuberkulosis yang dirawat yaitu 42 penderita (100%) mempunyai skor TB melebihi ≥ 6.
5.1.2.8. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Skor GCS
Tabel 5.8. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Skor GCS
Skor GCS Frekuensi (n) Persentase (%)
Ringan 14-15 4 9,5
Sedang 9-13 16 38,1
Berat 5-8 12 28,6
Koma <5 10 23,8
Dari tabel 5.8 didapati bahwa frekuensi tertinggi skor GCS sedang yaitu sebanyak 16 penderita (38,1%) dan dikuti oleh skor GCS berat yaitu sebanyak 12 penderita (28,6%). Frekuensi skor GCS koma adalah sebanyak 10 penderita (23,8%) manakala frekuensi skor GCS yang ringan adalah sebanyak 4 penderita (9,5%).
5.1.2.9. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Tindakan Lumbal Pungsi
Tabel 5.9. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Tindakan Lumbal Pungsi
Tindakan Lumbal Pungsi Frekuensi (n) Persentase (%)
Dilakukan 31 73,8
Tidak Dilakukan 11 26,2
Jumlah 42 100,0
Dari tabel 5.9 didapati sebanyak 31 penderita (73,8%) telah dilakukan tindakan lumbal pungsi manakala sebanyak 11 penderita (26,2%) tidak dilakukan tindakan lumbal pungsi.
5.1.2.10. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Mortalitas
Tabel 5.10. Distribusi Penderita Meningitis Tuberkulosis Anak Yang Dirawat Berdasarkan Mortalitas
Mortalitas Frekuensi (n) Persentase (%)
Meninggal 17 40,5%
Dipulangkan 14 33,3%
Pulang Atas Permintaan Sendiri 11 26,2%
Jumlah 42 100,0
Berdasarkan tabel 5.10 dapat dilihat bahwa sebanyak 17 penderita (40,5%) telah meninggal dunia sedangkan sebanyak 14 penderita (33,3%) dipulangkan. Penderita yang pulang atas permintaan sendiri mempunyai jumlah terendah yaitu 11 penderita (26,2%).
5.2. Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan data sekunder rekam medis di RSUP Haji Adam Malik, Medan dari tahun 2011-2014, diperoleh mengenai karakteristik penderita meningitis tuberkulosis anak. Data-data tersebut akan digunakan sebagai dasar dari pembahasan hasil akhir penelitian ini dan dijabarkan sebagai berikut.
Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa penyakit meningitis tuberkulosis sering diderita oleh laki-laki yaitu sebanyak 24 penderita (57,1%), sedangkan bilangan perempuan adalah 18 penderita (42,9%). Hal yang sama dilaporkan oleh Gabriela (2015) dalam penelitiannya di mana daripada 100 anak yang menderita meningitis tuberkulosis, 47 (61,0%) adalah lelaki dan 30 (39,0%) merupakan perempuan.
Penelitian yang dilakukan oleh Kharisma Sarah (2014) juga mengatakan bahwa laki-laki adalah paling ramai menderita penyakit ini yaitu sebanyak 39 (52,0%) manakala perempuan adalah 36 (48,0%). Selanjutnya dalam penelitian ini juga dikatakan bahwa kebanyakan penderita penyakit ini adalah disebabkan oleh faktor kekurangan gizi.
Dalam hasil penelitian oleh Daulay (2002) juga menyatakan hal yang sama, dimana bilangan laki-laki adalah 10 penderita (62,5%) dan bilangan perempuan 6 penderita (37,5%). Penelitian ini juga menyatakan bahwa anak-anak yang menderita penyakit ini disebabkan oleh malnutrisi. Perubahan berat badan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak menderita penyakit meningitis tuberkulosis.
Dari tabel 5.3, didapati bahwa anak dalam kelompok umur 1-5 tahun adalah paling banyak menderita meningitis tuberkulosis. Hasil yang didapati dalam penelitian ini adalah sama dengan penelitian yang dilaporkan oleh Naufal (2003). Dalam penelitiannya, hasil sampel yang diambil adalah dari umur 0-18 tahun penderita dan paling banyak yang menderita adalah kelompok umur 0-5 tahun.
Dalam penelitian ini, angka penderita kelompok umur 16-18 tahun adalah yang paling kurang. Naufal (2003) mendapat hasil yang sama dalam penelitiannya dan menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh gizi mereka dalam tahap normal. Justru hal ini menjelaskan bahwa kecukupan gizi untuk individu akan mengurangkan resiko menderita penyakit meningitis tuberkulosis.
Dalam penelitian ini, untuk faktor sosioekonomi orang tua, frekuensi yang paling tinggi adalah pada kelompok pendapatan rendah yaitu sebanyak 27 (64,3%). Sedangkan untuk kelompok sosioekonomi orang tua yang sangat tinggi didapatkan sebanyak 5 penderita (11,9%).
Berdasarkan penelitian Lisa (2013), didapati hasil yang sama dimana kelompok orang tua yang menerima gaji rendah adalah paling banyak yaitu (53,0%) untuk penyakit meningitis tuberkulosis. Dalam penelitiannya dikatakan sosioekonomi keluarga juga mempengaruhi ketumbuhan dari segi fisik dan kesehatan seseorang anak. WHO (2012) menyebutkan 90% penderita tuberkulosis di dunia menyerang kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau miskin.
Menurut Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (2012), kemiskinan diukur dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidak- mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan lingkungan yang diukur dari sisi perbelanjaan. Jadi, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata perbelanjaan per bulan di bawah garis kemiskinan.
Dari tabel 5.5 didapati sebanyak 18 penderita (42.9%) telah mendapat imunisasi BCG sebelumnya dan 24 penderita (57.1%) tidak mendapat imunisasi BCG sebelumnya. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Robert (2015), hasilnya didapati 70% penderita meningitis tuberkulosis anak-anak usia dibawah 18 tahun tidak diimunisasikan dengan vaksin BCG. Dalam penelitian tersebut dikatakan seseorang anak yang di vaksinasi imunisasi BCG memiliki resiko yang kurang untuk menderita meningitis tuberkulosis.
Dari tabel 5.6 didapati sebelumnya bahwa sebanyak 18 (42.9%) penderita telah menerima imunisasi BCG. Sebelumnya dalam penelitian ini dapati kebanyakan sosioekonomi orang tua penderita yang menerima imunisasi BCG adalah kelompok yang menerima gaji yang tinggi. Selain itu, sebanyak 24 (57.1%) penderita tidak menerima imunisasi BCG dan kebanyakkan adalah daripada kelompok miskin yang menerima gaji yang rendah.
Dari hasil penelitian ini, didapati sebanyak 42 penderita (100 %) mempunyai skor Tb yang ≥ 6. Semua penderita ini yang sudah didiagnosis dengan
penyakit meningitis tuberkulosis telah menerima obat anti tuberkulosis. Hasil penelitian oleh Amar Whidiyani (2011) menyatakan 17 anak mempunyai nilai skor Tb yang ≥ 6 dan sebanyak 7 anak mempunyai skor Tb < 6 dengan keseluruhan sampel yang menderita meningitis tuberkulosis.
Penelitian yang dikendalikan oleh Rina Triasih (2011) dengan jumlah sampel sebanyak 146 anak. Didapati sebanyak 68 penderita (47,0%) mempunyai skor Tb ≥ 6 dan sebanyak 78 penderita (53,0%) mempunyai skor Tb< 6. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan pada jenis sampel dimana pada penelitian tersebut disertakan pasien rawat jalan yang gejala klinisnya masih belum menonjol jadi skor TB juga rendah. Dalam penelitian ini dikatakan salah satu faktor adalah kebanyakkan penderita adalah dari keluarga yang hidup dibawah garis miskin dan juga tidak menerima vaksinasi BCG.
Berdasarkan tabel 5.8 frekuensi tertinggi skor GCS adalah sedang (9-12) yaitu sebanyak 16 penderita (38,1%) dan didapati bilangan penderita skor GCS yang paling rendah adalah ringan yaitu 4 penderita (9,5%). Hasil yang sejajar dengan penelitian ini juga didapati oleh Caroline (2009) yaitu sebanyak 217 penderita (39,2%) mempunyai skor GCS sedang dan sebanyak 22 penderita (4,0%) mempunyai skor GCS ringan dimana jumlah sampel adalah 554 orang.
Penelitian oleh Rehman (2014), mendapat hasil yang berbeda dengan penelitian ini yaitu sebanyak 148 penderita (77,1%) mempunyai skor GCS sedang sementara skor GCS ringan hanya didapati pada 37 penderita (19,3%) dalam jumlah sampel sebanyak 192. Dalam penelitian ini juga dikatakan bahwa sakit
kepala dan tanda-tanda meningeal iritasi merupakan gejala umum pada anak-anak usia melebihi 5 tahun.
Berdasarkan penelitian ini didapati sebanyak 31 penderita (73,8%) yang telah dilakukan tindakan lumbal pungsi dan sebanyak 11 penderita (26,2%) tidak dilakukan tindakan lumbal pungsi. Menurut penelitian Aktar (2015), hasilnya sejajar dengan penelitian ini yaitu sebanyak 108 penderita (60,0%) telah dilakukan tindakan lumbal pungsi sedangkan sebanyak 72 penderita (40,0%) tidak dilakukan. Dalam penelitian ini juga dikatakan penderita meningitis tuberkulosis mengalami kesulitan kewangan untuk melakukan pemeriksaan klinis pada tahap awal.
Penelitian Anggraini (2011), menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian ini yaitu sebanyak 72 penderita (51,4%) mengikuti tindakan lumbal pungsi dan sebanyak 68 penderita (48,6%) tidak dilakukan lumbal pungsi. Hal ini mungkin disebabkan karena lumbal pungsi adalah satu tindakan invasif dan kebanyakkan orang tua dan pasien juga sering tidak bersetuju untuk dilakukan pemeriksaan ini. Penelitian ini juga menekankan bahwa harus berhati-hati semasa melakukan tindakan ini pada anak- anak dibawah umur 5 tahun dan keterlambatan melakukan penegakkan diagnosis akan meningkatkan resiko kecacatan pada penderita.
Berdasarkan tabel 5.10 didapati sebanyak 17 penderita (40,5%) meninggal dunia di rumah sakit semasa penjalanan pengobatan sedangkan sebanyak 14 penderita (33,3% ) dipulangkan. Hasil yang sama juga didapati dalam penelitian Dewi (2011), bahwa sebanyak 16 penderita (53,3%) meninggal dunia semasa pengobatan dijalankan dan sebanyak 14 penderita (46,7%) dipulangkan untuk mengikuti rawat jalan. Penelitian tersebut mengatakan bahwa kebanyakkan penderita meninggal karena tidak berobat ke tenaga medis pada tahap awal tetapi hanya bertemu dokter setelah ada gejala yang berat.
BAB 6