Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan diuraikan gambaran hasil penelitian tentang hambatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit TB paru di Puskesmas Aek Torop Kecamatan Torgamba di Labuhanbatu Utara setelah dilakukan pengumpulan data sejak tanggal 13 Nopember 2009 sampai dengan 5 Desember 2009.
1.1 Karakteristik Responden
Deskripsi karakteristik responden pada penelitian ini mencakup usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, suku, jarak tempat tinggal dengan pelayanan kesehatan dan lama waktu mengikuti program pengobatan.
Pada tabel 1 hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 30-39 tahun (55%) dengan usia rata-rata 35 tahun (SD = 10,33) dan berjenis kelamin laki-laki (60%). Responden pada umumnya berpendidikan SMP (40%) dan SMU (40%), pekerjaan mayoritas sebagai petani (45%), suku Batak (80%). Umumnya bertempat tinggal dengan jarak 1-2 km dari tempat pelayanan kesehatan (45%) >4 km (10%). Responden pada umumnya baru pertama kali mengikuti program pengobatan TB paru (50%) dan penderita kambuh (25%).
Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Responden (n=20)
Karakteristik Frekuensi Persentase
Usia - 18-29 Tahun 5 25 - 30-39 Tahun 11 55 - > 40 Tahun 4 20 X = 35.65 (SD = 10,33) Jenis Kelamin - Laki-laki 12 60 - Perempuan 8 40 Pendidikan - SD 4 20 - SMP 8 40 - SMU 8 40 Pekerjaan - PNS 1 5 - Wiraswasta 2 10 - Petani 9 45 - Karyawan 2 10 - Lain-lain 6 30 Suku - Batak 16 80 - Jawa 2 10 - Lain-lain 2 10
Jarak Tempat Tinggal dengan Puskesmas
- <1 km 4 20 - 1-2 km 9 45 - 2-3 km 2 10 - 3-4 km 3 15 - >4 km 2 10 Status Penderita - Pertama Kali 10 50 - Lanjutan 4 20 - Pernah gagal 5 25 - Lainnya 1 5
1.2. Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan pengetahuan TB Paru
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa 85% responden setuju datang ke puskesmas setelah merasakan adanya sesak bernafas, 30% responden setuju sudah pernah mengikuti program pengobatan tetapi tidak tuntas sesuai program, 95% setuju datang ke puskesmas setelah terlebih dahulu mencoba pengobatan lain tetapi tidak sembuh.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan pengetahuan TB Paru (n=20)
S KS TS Pernyataan
n (%) n (%) n (%) Datang ke puskesmas setelah 17 (85) 1 (5) 2 (10) merasakan adanya sesak bernafas
Pernah mengikuti program pengobatan 6 (30) 1 (5) 13 (65) tetapi tidak tuntas sesuai program.
Datang ke puskesmas setelah terle 19 (95) 0 (0) 1 (5) bih dahulu mencoba pengobatan lain
dan tidak sembuh.
1.3. Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Pemakaian OAT
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa hambatan program pemberantasan TB paru adalah 15% responden tidak minum obat secara teratur sesuai petunjuk petugas kesehatan, 55% responden tidak menjaga dan memperhatikan waktu minum obat tepat waktu, dan 45% tidak rutin minum obat selama 6 bulan karena
yakin akan sembuh, 40% responden berhenti minum obat karena merasa sudah sembuh walaupun belum 6 bulan, 25% responden tidak datang ke puskesmas untuk kontrol dan mengambil obat, 70% responden enggan makan obat karena rasa mual dan muntah setelah makan obat.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Pemakaian OAT (n=20)
S KS TS Pernyataan
n (%) n (%) n (%) Minum obat secara teratur sesuai 13 (65) 4 (20) 3 (15) petunjuk petugas kesehatan.
Selalu menjaga dan memperhati 2 (10) 7 (35) 11 (55) kan waktu minum obat agar tepat waktu.
Selalu minum obat setelah selesai makan 18 (90) 1 (5) 1 (5) walau waktu makan telah lewat.
Rutin minum obat selama 6 9 (45) 2 (10) 9 (45) bulan karena yakin akan sembuh.
Berhenti minum obat karena merasa sudah 8 (40) 5 (25) 7 (35) sembuh walaupun belum 6 bulan.
Datang ke puskesmas setiap 10 hari 10 (50) 5 (25) 2 (25) untuk kontrol dan mengambil obat.
Rasa mual dan muntah setelah makan 14 (70) 0 (0) 6 (30) obat membuat enggan makan
1.4. Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Sikap Tidak Acuh terhadap Penyakit
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa 55% responden tidak memiliki ventilasi rumah yang cukup, pintu dan jendela selalu dibuka setiap hari, 70% responden
datang ke puskesmas hanya jika sempat, 70% responden enggan datang ke puskesmas karena merasa obat yang diberikan tidak ada pengaruhnya pada penyakitnya, 70% responden tidak diawasi oleh petugas atau keluarga sewaktu minum obat.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Sikap Tidak Acuh terhadap Penyakit (n=20)
S KS TS Pernyataan
n (%) n (%) n (%) Ventilasi rumah, pintu dan jendela 5 (25) 4 (20) 11 (55) selalu dibuka setiap hari.
Datang berobat ke puskesmas 14 (70) 2 (10) 4 (20) hanya jika sempat.
Enggan datang ke puskesmas 14 (70) 2 (10) 4 (20) karena merasa obat yang di
berikan tidak ada pengaruhnya pada penyakit
Diawasi oleh petugas/keluarga 3 (15) 3 (15) 14 (70) sewaktu minum obat.
1.5. Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Permasalahan Sosial Budaya
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa 85% responden setuju penderita TB Paru berpendapat penyakit TBC lebih diakibatkan oleh mistik, 55% responden lebih suka berobat alternatif daripada ke dokter di puskesmas, 55% responden
berpendapat penyakit TBC hanya dapat disembuhkan oleh tabib di daerah tersebut.
Tabel 6. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan masalah Sosial Budaya (n=20)
S KS TS Pernyataan
n (%) n (%) n (%)
Keyakin penyakit TBC 17 (85) 0 (0) 3 (15)
lebih diakibatkan oleh mistik.
Lebih menyukai berobat alternatif 11 (55) 5 (25) 4 (20) daripada ke dokter di puskesmas.
penyakit ini hanya dapat disembuhkan 11 (55) 2 (10) 7 (35) oleh tabib di daerah tersebut.
1.6. Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Masalah Kemiskinan
Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa 90% responden penderita TB Paru tetap bekerja seperti biasa meskipun sedang sakit untuk memenuhi kebutuhan keluarga.75% responden makan apa adanya karena tidak mampu membeli makanan yang bergizi, 75% responden setelah menderita sakit TBC tidak minum susu untuk memperkuat daya tahan tubuhnya.
Tabel 7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Masalah Kemiskinan (n=20)
S KS TS Pernyataan
n (%) n (%) n (%) Tetap bekerja seperti biasa meski 18 (90) 0 (0) 2 (10) pun sedang sakit untuk memenuhi
kebutuhan keluarga
Makan apa adanya karena tidak mampu 15 (75) 1 (5) 4(20) membeli makanan bergizi.
Setelah menderita TBC minum susu 3 (15) 2 (10) 15 (75) untuk memperkuat daya tahan tubuh.
1.7. Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Petugas Kesehatan
Pada Tabel 8 dapat dilihat tentang gambaran penelitian bahwa 15% responden tidak mendapatkan penyuluhan TB paru dari petugas kesehatan selama menjalani pengobatan, 75% responden kurang setuju petugas kesehatan melakukan pemeriksaan rutin, menimbang berat badan setiap kali berkunjung.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan TB Paru berdasarkan Petugas Kesehatan (n=20)
S KS TS Pernyataan
n (%) n (%) n (%)
Mendapat penyuluhan 17 (85) 0 (0) 3 (15)
dari petugas kesehatan selama menjalani pengobatan.
Petugas kesehatan melakukan peme 2 (10) 15 (75) 3 (15) riksaan rutin, menimbang berat
badan setiap berkunjung