BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Perumusan hipotesis
H0: Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal H1: Sampel berasal dari populasi berdistribusitidak normal 2. Data dikelompokan kedalam distribusi frekuensi
3. Menetukan proposi ke-j (Pj)
4. Menentukan 100 Pj yaitu prosentasse luas interval ke-j dari suatu distribusi normal melalui tranformasi ke skor baku: ̅
5. Menghitung nilai
6. Menentukan tabel pada derajat bebas (db) = k-3, dimana k banyaknya kelompok
7. Kriteria pengujian
Jika tabel maka H0 diterima Jika tabel maka H0 ditolak
8 Kadir, Statistika Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: PT. Rosemata Sampurna, 2010), h.111
8. Kesimpulan
tabel : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal tabel : Sampel berasal dari populasi berdistribusi tidak normal
b. Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas varians digunakan untuk menguji kesamaan varians pada kedua kelompok populasi. Apabila hasil pengujian menunjukkan kesamaan varians maka untuk uji kesamaan dua rata-rata digunakan uji t (apabila berdistribusi normal) dan digunakan varians gabungan. Apabila hasil pengujian menunjukkan tidak homogen maka untuk uji kesamaan dua rata-rata digunakan uji t (apabila berdistribusi normal) dan tidak digunakan varians gabungan.
Uji homogenitas varians dua buah variabel independen dapat dilakukan dengan Uji F, adapun langkah-langkah statistik uji F yang dimaksud diekspresikan sebagai berikut:9
1) Perumusan Hipotesis
Ho : σ12= σ22
Distribusi populasi kedua kelompok mempunyai varians yang sama
Ha : σ12 σ22
Distribusi populasi kedua kelompok mempunyai varians yang tidak sama
2) Menghitung nilai F dengan rumus Fisher:
2 2 k b S S F 9 Kadir. Ibid., h. 118
Keterangan: 2 b S = varians terbesar 2 k S = varians terkecil
3) Menentukan taraf signifikan α = 5 %
4) Menentukan Ftabel pada derajat bebas db1 = (n1 – 1) untuk pembilang dan db2 = (n2 – 1) untuk penyebut, dimana n adalah banyaknya anggota kelompok
5) Kriteria pengujian
Jika Fhitung≤ Ftabel maka H0 diterima Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak
6) Kesimpulan
Fhit ≤ Ftab : Distribusi populasi mempunyai varians yang sama atau homogen
Fhit > Ftab : Distribusi populasi mempunyai varians yang tidak homogen
2. Uji Hipotesis (Uji-t)
Pengujian yang harus dilakukan selanjutnya adalah uji hipotesis, uji hipotesis ini dilakukan jika pada uji normalitas dan uji homogenitas menghasilkan kesimpulan bahwa data populasi berdistribusi normal dan data populasi homogen. Uji hipotesis ini digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan antara kemampuan berpikir kritis matematik siswa yang menggunakan metode Penemuan Terbimbing Berbantuan Media Benda Kongkrit (kelompok eksperimen) dengan siswa yang menggunakan Pembelajaran dengan Metode Konvensional (kelompok kontrol).
Langkah-langkah pengujian hipotesis yaitu: 1. Rumusan Hipotesis
Ho : 1 2 Ha : 1 > 2
2. Tentukan Uji Statistik.
Rumus yang digunakan :
1). Jika varians populasi homogen
Rumus : t hitung = 2 1 2 1 1 1 n n S X X gab ; dengan db = (n1 + n2– 2)
2). Jika varians populasi heterogen
Rumus : t hitung = 2 2 2 1 2 1 2 1 n S n S X X Dimana : ) 2 ( ) 1 ( ) 1 ( 2 1 2 2 2 2 1 1 n n S n S n Sgab Keterangan: 1
X = rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik dari kelompok eksperimen
2
X = rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik dari kelompok kontrol
S12 = standar deviasi (varians kelompok eksperimen) S22 = standar deviasi (varians kelompok kontrol) n1 = jumlah sampel kelompok eksperimen n2 = jumlah sampel kelompok Kontrol Sgab = varians gabungan
3. Tentukan Tingkat Signifikan
Tingkat signifikan yang diambil dalam penelitian ini adalah dengan derajat keyakinan 95% dengan = 5% dan rumus ttabel = t (, db).
4. Tentukan kriteria Pengujian
Untuk menentukan kriteria pengujian pada pengolahan data dilakukan dengan operasi perhitungan, pengujiannya dengan melihat perbandingan antara thitung dengan ttabel.
5. Lakukan Pengambilan Kesimpulan
Jika operasi perhitungan pada poin (4) ternyata: a). thitung < ttabel maka terima Ho.
b). thitung > ttabel maka tolak Ho.
H. Hipotesis Statistik
Hipotesis yang diajukan dalam pengujian pada penelitian ini adalah:
Ho : 1 2
Ha : 1 2
Keterangan:
1
= rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik siswa matematis siswa pada kelas eksperimen
2
= rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik siswa matematis siswa pada kelas kontrol
Tingkat signifikasi yang diambil dalam penelitian ini adalah derajat kepercayaan 95 % dan = 5 %. Dengan kriteria penerimaan sebagai berikut : Terima Ho, jika t-hit t tabel dan Tolak Ho, jika t-hit t tabel.
H0 : Rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik pada kelompok eksperimen lebih kecil atau sama dengan rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik pada kelompok kontrol.
H1 : Rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik satu variabel pada kelompok kontrol.
41
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Darul Ma’arif Jakarta Selatan. Peneliti mengambil dua kelas untuk dijadikan kelompok penelitian. Sampel yang digunakan sebanyak 70 siswa yang terdiri dari 36 siswa di kelompok eksperimen dan 34 siswa di kelompok kontrol. Pada penelitian ini, kelas VIII-C sebagai kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan metode penemuan terbimbing berbantuan media benda kongkrit dan kelas VIII-A sebagai kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode konvensional.
Pokok bahasan yang diajarkan adalah Bangun Ruang Sisi Datar dengan delapan kali pertemuan. Untuk mengukur kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar siswa pada kedua kelompok tersebut diberikan tes berbentuk essay. Sebelum tes diberikan kepada siswa, terlebih dahulu dilakukan uji kelayakan konten kepada pakar melalui metode content validity ratio (CVR) kepada tujuh orang pakar, hasilnya dari sebelas soal yang diuji, delapan diantaranya valid hasil bisa dilihat pada lampiran 5 . Kedelapan soal yang valid melalui metode CVR diperbaiki konten kalimat sesuai yang disarankan oleh pakar yang menilai.
Setelah diperbaiki, uji coba berlanjut kepada siswa kelas IX SMP Darul Ma’arif Jakarta Selatan. Uji coba sebanyak delapan soal yang telah valid dengan metode CVR di uji coba kembali pada 34 siswa. Setelah dilakukan uji coba instrumen selanjutnya dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, uji taraf kesukaran dan uji daya pembeda. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh delapan soal yang valid dengan reliabilitas soal sebesar 0, 72, maka instrumen penelitian tersebut dapat disimpulkan memiliki kriteria koefisien reliabilitas yang tinggi, dan memenuhi persyaratan instrumen yang memiliki ketetapan jika
digunakan. Perhitungan uji taraf kesukaran diperoleh 1 soal dengan tingkat kesukaran “mudah”, 7 soal dengan tingkat kesukaran “sedang”. Perhitungan uji daya pembeda diperoleh 7 soal memiliki daya pembeda “cukup”, 1 soal memiliki daya pembeda “baik”. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 13.
Sebelum diberikan posttest, selama delapan kali pertemuan pada kelas eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing berbantuan media benda kongkrit sedangkan pada kelas kontrol diberikan metode pembelajaran konvensional. Pada akhir pembelajaran kedua kelompok belajar siswa di atas diberikan posttest untuk mengetahui bagaimana kemampuan berpikir kritis metematik pada bangun ruang sisi datar antara siswa yang menggunakan metode penemuan terbimbing berbantuan media benda kongkrit dan siswa yang menggunakan metode konvensional, serta mencari tahu apakah terdapat pengaruh pembelajaran yang menggunakan metode penemuan terbimbing berbantuan media benda kongkrit terhadap kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar.
Berikut ini akan disajikan data hasil tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar yang berupa hasil perhitungan akhir pada kelas eksperimen.
a. Kemampuan Berpikir Kritis Matematik Bangun Ruang Sisi Datar Kelompok Eksperimen
Hasil tes indikator berpikir kritis matematik yang terdiri dari empat indikator, yaitu memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, menjawab pertanyaan yang menentang, serta membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan telah diberikan kepada kelompok eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing berbantuan media benda kongkrit. Hasilnya pada kelompok eksperimen nilai terendah adalah 37 dan nilai tertinggi adalah 81 dengan nilai rata-rata 63,17. Untuk lebih jelasnya, data hasil tes kemampuan berpikir kritis matematik bangun ruang sisi datar kelompok eksperimen akan disajikan dalam bentuk tabel 4.1:
Tabel 4.1
Kemampuan Berpikir Kritis Kelas Eksperimen Statistik Kelompok Eksperimen
Banyak sampel 36 Nilai terendah 37 Nilai tertinggi 81 Mean 63,17 Median 65,071 Modus 71,5 Varians 159,09 Simpangan Baku 12,61 Kemiringan -0,66
Berdasarkan data tabel 4.1, terlihat bahwa banyak sampel pada kelas eksperimen yaitu sebanyak 36 siswa. Selisih nilai tertinggi dan nilai terendah kemampuan berpikir kritis matematik adalah 44, dengan nilai terendah yaitu 37 sedangkan nilai tertinggi yaitu 81. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata ( ̅ 63,17, median (Me) sebesar 65,071, dan modus (Mo) sebesar 71,50,. Varians ( kelompok eksperimen sebesar 159,09 berarti penyebaran data kolmpok eksperimen merata, dengan simpangan baku ( sebesar 12,61. Tingkat kemiringan di kelompok eksperimen sebesar – 0,66. Karena bernilai negatif, maka kecenderungan data mengumpul di atas nilai rata-rata.
Sebagai rincian data hasil tes kemampuan berpikir kritis matematik kelas ekperimen yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.2
Tabel Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Kritis Matematik Siswa Kelas Eksperimen
No. Interval Frekuensi fi fi(%) fk 1 37-44 4 11,11 4 2 45-52 4 11,11 8 3 53-60 6 16,67 14 4 61-68 7 19,44 21 5 69-76 10 27,78 31 6 77-84 5 13,89 36 Jumlah 36 100,00
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi, dapat diketahui bahwa nilai terbanyak terdapat pada interval 69 - 76 sebanyak 10 siswa dengan persentase 27,78% dan siswa yang memperoleh nilai terendah berada pada interval 37 - 44 sebanyak 4 siswa dengan persentase 11,11%, sedangkan nilai tertinggi berada pada interval 77-84 sebanyak 5 siswa dengan persentase 13,89% (lampiran 21). Dengan rata-rata 63,17, nilai diatas rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik siswa mencapai 19 orang (4 siswa pada interval 61 – 68, 10 siswa pada interval 69 – 76, 5 siswa pada interval 77 – 84) dengan persentase 52,78%, sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata sebanyak 17 siswa (4 siswa pada interval 37 – 44, 4 siswa pada interval 45 – 52, 6 siswa pada interval 53 – 60, 3 siswa pada interval 61 – 68) dengan persentase 47,22%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelompok eksperimen atau kelompok yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing mendapat nilai di atas rata-rata.
Nilai KKM pada tempat penelitian yaitu sebesar 65 untuk mata pelajaran matematika, maka sebanyak 19 siswa kelompok eksperimen mendapat nilai diatas KKM. Sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM sebanyak 17 siswa. Secara visual penyebaran data hasil kemampuan kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar di kelas eksperimen dengan menggunakan metode penemuan terbimbingdapat dilihat pada kurva dibawah ini:
Gambar 4.1
Histogram Skor Kemampuan Berpikir Kritis Bangun Ruang Sisi Datar Kelas Eksperimen 0 2 4 6 8 10 12 Fr e ku e n si 36,5 44,5 52,5 60,5 68,5 76,5 84,5
Dari histogram di atas, median dan modus berada di atas rata-rata. Ini menunjukan bahwa X < Me < Mo. Histogram kemampuan berpikir kritis di atas, memiliki koefisien -0,66 (negatif). Hal ini menggambarkan bahwa data menyebar pada nilai-nilai di atas rata-rata. Sehingga siswa yang memperoleh nilai di atas rata-rata lebih banyak dibanding siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata. (lampiran 21).
Ditinjau dari indikator kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar kelas eksperimen diperoleh rata-rata secara keseluruhan sebesar 4,8.Rata-rata standar deviasi sebesar 1,11 dan rata-rata persentase mencapai 70,5%. Deskripsi data indikator kemampuan berpikir kritis disajikan pada table 4.2:
Tabel 4.3
Deskripsi Data Kelas Eksperimen
Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Matematik
No Indikator Berfikir Kritis n Skor
Ideal Mean SD (%)
1 Memfokuskan pertanyaan 36 8 6,28 1,45 78,47
2 Menganalisis argument 36 6 3,97 0,93 66,2
3 Menjawab pertanyaan yang
menentang 36 6 3,67 1,03 61,11
4 Membuat dan mengambil keputusan 36 7 5,36 1,06 76,59
Rata-rata 4,81 1,11 70,5
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa terdapat 4 indikator kemampuan berpikir kritis matematik yaitu memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, menjawab pertanyaan yang menentang, dan membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan. Pada indikator memfokuskan pertanyaan kemampuan yang diukur yaitu kemampuan siswa untuk mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan dan mempertimbangkan kemungkinan-kemingkinan pemecahan masalah lain yang dapat menjadi alternatif. Pada indikator menganalisis argumen kemampuan yang diukur adalah menerapkan mengidentifikasi alasan (sebab) yang
tidak dinyatakan (implisit) dan mencari persamaan dan perbedaan dari masalah yang diberikan dengan memberi penjelasan atas argumen yang diberikan. Indikator yang ketiga adalah menjawab pertanyaan yang menentang kemampuan yang diukur adalah kemampuan siswa dalam menjelaskan sebab yang mengakibatkan siswa menentang pertanyaan yang diberikan. Ketiga indikator tersebut masuk pada klasifikasi keterampilan berpikir kritis ”memberikan penjelasan sederhana”. Indikator yang terakhir adalah membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, kemampuan yang diukur adalah menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk membuat keputusan dan dapat menyeimbangkan dan memutuskan menjadi suatu kesimpulan.
Untuk kelas eksperimen, persentase tertinggi pada indikator memfokuskan pertanyaan yaitu 78,47% berarti dalam indikator memfokuskan pertanyaan, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas eksperimen hanya mampu mencapai 78,47% dari skor ideal yang diharapkan. Sedangkan untuk indikator menganalisis argumen, memperoleh persentase 66,2%. berarti dalam indikator menganalisis argumen, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas eksperimen hanya mampu mencapai 66,2% dari skor ideal yang diharapkan. Untuk indikator menjawab pertanyaan yang menentang, memperoleh persentase 61,11%. berarti dalam indikator menjawab pertanyaan yang menentang, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas eksperimen hanya mampu mencapai 61,11% dari skor ideal yang diharapkan. Dan pada indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, memperoleh persentase sebesar 76,59%. berarti dalam indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas eksperimen hanya mampu mencapai 76,59% dari skor ideal yang diharapkan. Berikut ini akan disajikan diagram batang perbedaan setiap indokator kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar pada kelas eksperimen.
Gambar 4.2
Diagram Batang Presentase Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Kelas Eksperimen
Dari gambar 4.2, terlihat indikator memfokuskan pertanyaan, lebih tinggi daripada ketiga indikator lainnya. Artinya, siswa kelas eksperimen lebih mampu mengidentifikasi dan merumuskan pertanyaan dengan mempertimbangkan kemungkinan yang lain. Sedangkan indikator menjawab pertanyaan yang menentang, memiliki persentase paling rendah. berarti jawaban siswa kelas eksperimen kurang dapat menentang pertanyaan yang diberikan.
b. Kemampuan Berpikir Kritis Matematik Bangun Ruang Sisi Datar Kelompok Kontrol
Hasil tes indikator berpikir kritis matematik yang terdiri dari empat indikator , yaitu memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, menjawab pertanyaan yang menentang, dan membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan juga telah diberikan kepada kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasilnya kelompok kontrol memiliki nilai terendah adalah 30 dan nilai tertinggi adalah 78. Untuk lebih jelasnya, data hasil tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar kelompok kontrol disajikan dalam bentuk tabel 4.4 sebagai berikut:
78.47 66.2 61.11 76.59 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 memfokuskan pertanyaan menganalisis argumen menjawab pertanyaan yang menentang membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan
Tabel 4.4
Kemampuan Berpikir Kritis Bangun Ruang Sisi Datar Kelas Kontrol Statistik Kelompok Kontrol
Banyak sampel 34 Nilai terendah 30 Nilai tertinggi 78 Mean 56,26 Median 51,50 Modus 54,80 Varians 129,84 Simpangan Baku 11,39 Kemiringan 0,12
Berdasarkan data tabel 4.3, terlihat bahwa banyak sampel pada kelas kontrol yaitu sebanyak 34 siswa. Selisih nilai tertinggi dengan nilia terendah pada kelompok kontrol adalah 48, dengan nilai terendah kelompok kontrol yaitu 30, sedangkan nilai tertinggi yaitu 78. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata ( ̅ 56,26, median (Me) sebesar 51,50, dan modus (Mo) sebesar 54,80. Varians ( kelompok kontrol sebesar 129,84, berarti penyebaran data merata dengan simpangan baku ( sebesar 12,39. Tingkat kemiringan di kelas kontrol sebesar 0,12. Karena bernilai positif, maka kecenderungan data mengumpul di bawah nilai rata-rata.
Sebagai rincian data hasil tes kemampuan berpikir kritis matematik kelas ekperimen yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.5
Tabel Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Kritis Matematik Siswa Kelas Kontrol
No. Interval Frekuensi fi fi(%) fk 1 30-36 2 5,88 2 2 37-43 3 8,82 5 3 44-50 5 14,71 10 4 51-57 7 20,59 17 5 58-64 9 26,47 26 6 65-71 5 14,71 31 7 72-78 3 8,82 34 Jumlah 34 100,00
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi, dapat diketahui bahwa nilai terbanyak terdapat pada interval 58-64 sebanyak 9 siswa dengan persentase 26,47% dan siswa yang memperoleh nilai terendah berada pada interval 30-36 sebanyak 2 siswa dengan persentase 5,88 %, sedangkan nilai tertinggi berada pada interval 72-78 sebanyak 3 siswa dengan persentase 8,82%.
Dengan rata-rata 56,26, nilai diatas rata-rata kemampuan berpikir kritis matematik siswa pada kelas kontrol mencapai 17 orang (9 siswa pada interval 58 – 64, 5 siswa pada interval 65 – 71, 3 siswa pada interval 72 – 78) dengan persentase 50%, sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata sebanyak 17 siswa (2 siswa pada interval 30 – 36, 3 siswa pada interval 37 – 43, 5 siswa pada interval 44 – 50, 7 siswa pada interval 51 – 57) dengan persentase 50%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai siswa yang diatas rata-rata pada kelompok eksperimen sama dengan nilai siswa yang dibawah rata-rata pada kelompok kontrol.
Nilai KKM pada tempat penelitian yaitu sebesar 65 untuk mata pelajaran matematika, maka sebanyak 6 siswa kelompok kontrol mendapat nilai diatas KKM. Sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM sebanyak 28 siswa. Secara visual penyebaran data hasil kemampuan kemampuan berpikir kritis matematika siswa di kelas kontrol dengan menggunakan metode konvensional dapat dilihat pada gambar 4.3 sebagai berikut:
Gambar 4.3
Histogram Skor Kemampuan Berpikir Kritis Matematik Kelas Kontrol 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Fr e ku e n si 29,5 36,5 43,5 50,5 57,5 64,5 71,5 78,5
Dari histogram di atas, nilai median memiliki nilai lebih kecil dari nilai rata-rata dan nilai modus, nilai modus berada diantara nilai rata-rata-rata-rata dan nilai median, sedangkan nilai median memiliki nilai lebih rendah dari nilai rata-rata dan nilai modus. Ini menunjukaan bahwa Me < Mo < X . Histogram kemampuan berpikir kritis di atas, memiliki koefisien 0,12 (positif), hal ini menggambarkan bahwa data menyebar pada nilai-nilai di bawah rata-rata. Sehingga siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata lebih banyak dibanding siswa yang memperoleh nilai di atas rata-rata.
Ditinjau dari indikator kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar kelas kontrol diperoleh rata-rata secara keseluruhan sebesar 3,91, dengan rincian indikator memfokuskan pertanyaan sebesar 4,94, indikator menganalisis argumen sebesar 2,85, indikator menjawab pertanyaan yang menentang 2,91, dan indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan 4,94 . Deskripsi data inidkator kemampuan berpikir kritis meliputi mean standar deviasi dan presentase akan disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.6
Deskripsi Data Kelas Kontrol
Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis No Indikator Berfikir Kritis n Skor Ideal Mean SD (%) 1 Memfokuskan pertanyaan 34 8 4,94 1,16 61,76 2 Menganalisis argument 34 6 2,85 0,81 47,55 3 Menjawab pertanyaan yang menentang 34 6 2,91 1,31 48,53 4 Membuat dan mengambil keputusan 34 7 4,94 0,80 70,59 Rata-rata 3,91 1,02 57,11
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa terdapat 4 indikator kemampuan berpikir kritis yaitu memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, menjawab pertanyaan yang menentang, dan membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan. Pada indikator memfokuskan pertanyaan kemampuan yang diukur yaitu kemampuan siswa untuk mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan dan mempertimbangkan kemungkinan-kemingkinan pemecahan masalah lain yang dapat menjadi alternatif. Pada indikator menganalisis argumen kemampuan yang diukur adalah menerapkan mengidentifikasi alasan (sebab) yang tidak dinyatakan (implisit) dan mencari persamaan dan perbedaan dari masalah yang diberikan dengan memberi penjelasan atas argumen yang diberikan. Indikator yang ketiga adalah menjawab pertanyaan yang menentang kemampuan yang diukur adalah kemampuan siswa dalam menjelaskan sebab yang mengakibatkan siswa menentang pertanyaan yang diberikan. Ketiga indikator tersebut masuk pada klasifikasi keterampilan berpikir kritis ”memberikan penjelasan sederhana”. Indikator yang terakhir adalah membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, kemampuan yang diukur adalah menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk membuat keputusan dan dapat menyeimbangkan dan memutuskan menjadi suatu kesimpulan.
Untuk kelas kontrol, persentase tertinggi pada indikator memfokuskan pertanyaan yaitu 61,76% berarti dalam indikator memfokuskan pertanyaan, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas kontrol hanya mampu mencapai 61,76% dari skor ideal yang diharapkan. Sedangkan untuk indikator menganalisis argumen, memperoleh persentase 47,55%. berarti dalam indikator menganalisis argumen, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas kontrol hanya mampu mencapai 47,55% dari skor ideal yang diharapkan. Untuk indikator menjawab pertanyaan yang menentang, memperoleh persentase 48,53%. berarti dalam indikator menjawab pertanyaan yang menentang, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas kontrol hanya mampu mencapai 48,53% dari skor ideal yang diharapkan. Dan pada indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, memperoleh persentase sebesar 70,59%. berarti dalam indikator
61.76 47.55 48.53 70.59 0 10 20 30 40 50 60 70 80 memfokuskan pertanyaan
menganalisis argumen menjawab pertanyaan yang menentang
membuat dan mempertimbangkan
hasil keputusan
mwmbuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, kemampuan berpikir kritis seluruh siswa kelas kontrol hanya mampu mencapai 70,59% dari skor ideal yang diharapkan. Berikut ini akan disajikan diagram batang perbedaan setiap indokator kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar pada kelas kontrol.
Gambar 4.4
Diagram Batang Presentase Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Kelas Kontrol
Dari gambar 4.4, terlihat indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, lebih tinggi daripada ketiga indikator lainnya. Artinya, siswa kelas kontrol lebih mampu menerapkan prinsip-prinsip yang mendasari pemecahan masalah yang dimaksud oleh soal. Sedangkan indikator menganalisis argumen, memiliki persentase paling rendah. Yang artinya siswa kelas kontrol kurang dapat memberikan alasan dari argumen yang diberikan dalam soal.
2. Analilis Data
Data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah data tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar.
a. Tes Kemampuan Berpikir Kritis Bangun Ruang Sisi Datar
Analisis data tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian, yaitu kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar yang pembelajarannya menerapkan metode penemuan terbimbing lebih tinggi daripada siswa yang pembelajarannya menerapkan pembelajaran konvensional. Akan tetapi, sebelum dilakukan pengujian hipotesis penelitian, terlebih dahulu akan dilakukan uji prasyarat analisis data dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas data.
1)
Uji NormalitasDalam penelitian ini, uji normalitas yang digunakan adalah uji Chi Kuadrat. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika memenuhi kriteria diukur pada taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu.
Pasangan hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut: H0 : data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : data sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
Hasil perhitungan uji normalitas kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.7
Hasil Perhitungan Uji Normalitas
Kelompok N 2hitung 2tabel Kesimpulan Eksperimen 36 5,30 7,82 Berdistribusi Normal
Kontrol 34 6,72 9,49 Berdistribusi Normal
Dari hasil pengujian untuk kelompok eksperimen diperoleh nilai 2hitung = 5,30 dan dari tabel nilai kritis uji chi kuadrat diperoleh nilai 2tabel untuk n=3 pada taraf signifikan 0,05 adalah 7,82. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 26. Karena 2hitung kurang dari 2tabel (5,30 < 7,82) maka H0
diterima, artinya data yang terdapat pada kelompok eksperimen berasal dari