BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
a. Deskripsi Pengeluaran Pemerintah Kabupaten Enrekang
Pengeluaran pemerintah kabupaten Enrekang yang tercermin dalam realisasi APBD memiliki beberapa fungsi alokasi dan fungsi redistribusi untuk melihat sejauh mana peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah kemiskinan di Kabupaten Enrekang salah satunya adalah seberapa besar pengeluaran pemerintah yang diperuntukkan untuk pengentasan kemiskinan. Berikut ini jumlah pengeluaran pemerintah di Kabupaten Enrekang pada tahun tahun 2013 sampai tahun 2018.
Tabel 4.1 Pengeluaran Pemerintah Tahun 2013-2018
No Tahun Jumlah Pengeluaran Pemerintah
1 2013 460,054,884,757
2 2014 502,803,077,819
3 2015 445,529,861,012
4 2016 516,874,332,505
5 2017 527,100,625,245
6 2018 589,394,645,304
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019
Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 jumlah pengeluaran pemerintah sebesar RP 460,054,884,757 tahun 2014 sebesar RP. 502,803,077,819 selanjutnya pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar Rp. 445,529,861,012 pada tahun berikutnya pengeluaran pemerintah di Kabupaten Enrekang
sebesar Rp. 516,874,332,505 dan pada tahun 2017 naik sebesar Rp. 527,100,625,245 sementara pada tahun 2018 naik menjadi Rp.
589,394,645,304.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Jumlah pengeluaran pemerintah di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan, ini dapat diartikan bahwa pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Kabupaten Enrekang.
b. Deskripsi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Enrekang
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang, berikut jummlah pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang pada tahun 2013 sampai tahun 2018.
Tabel 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2013-2018
No Tahun
Jumlah
Pertumbuhan Ekonomi
1 2013 6.80%
2 2014 6.94%
3 2015 7.00%
4 2016 7.34%
5 2017 7.45%
6 2018 7.65%
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019
Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 jumlah pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 sebesar 6.80% tahun 2014 sebesar 6.94% tahun 2015 sebesar 7.00% tahun 2016
39
sebesar 7.34% tahun 2017 sebesar 7.45% sementara pada tahun 2018 naik menjadi7.65%.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Jumlah pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.
c. Deskripsi Distribusi Pendapatan Kabupaten Enrekang
Distribusi pendapatan merupakan salah satu indikator yang dapat mengurangi tingkat kemiskinan pada Kabupaten Enrekang, berikut jumlah distribusi pendapatan pada tahun 2013 sampai pada tahun 2018.
Tabel 4.3 Distribusi Pendapatan Tahun 2013-2018
No Tahun
Jumlah
Distribusi Pendapatan
1 2013 6.353%
2 2014 6.334%
3 2015 6.362%
4 2016 6.431%
5 2017 6.440%
6 2018 6.498%
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019
Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 jumlah distribusi pendapatan pada tahun 2013 sebesar 6.353% tahun 2014 sebesar 6.334% tahun 2015 sebesar 6.362% tahun 2016 sebesar 6.431% tahun 2017 sebesar 6.440% sementara pada tahun 2018 naik menjadi 6.498%
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Jumlah distribusi pendapatan di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.
d. Deskripsi Kemiskinan Kabupaten Enrekang
Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang sering terjadi khususnya di Kabupaten Enrekang,berikut jumlah kemiskinan pada tahun 2013 sampai pada tahun 2018.
Tabel 4.4 Kemiskinan Tahun 2013-2018
No Tahun
Jumlah Kemiskinan
1 2013 4.3 %
2 2014 4.3 %
3 2015 4.3 %
4 2016 4.3 %
5 2017 4.4 %
6 2018 4.4 %
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019
Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa jumlah kemiskinani pada tahun 2013, 2014, 2015, dan 2016 sebesar 4.3% kemudian pada tahun 2017 dan tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 4.4%.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.
41
2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan yang lain. Pada heteroskedastisitas kesalahan yang terjadi tidak secara acak tetapi menunjukkan hubungan yang sistematis sesuai dengan besarnya satu atau lebih variabel. Uji heteroskedastisitas yang digunakan adalah secara grafik.
Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas Secara Grafis Sumber : Data Diolah Tahun 2019
Dari grafik scatterplot yang ada pada gambar di atas dapat di lihat bahwa titik-titik menyebar secara acak, dan tersebar diatas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
e. Uji Multikolineritas
Untuk uji multikolineritas diperlukan untuk memperoleh korelasi yang sebenarnya, yang murni tidak dipengaruhi variabel-variabel lain yang mungkin terjadi saja berpengaruh.
Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolineritas Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics Tolerance VIF
1 Pengeluaran Pemerintah 14,398 0,227
Pertumbuhan Ekonomi 20,031 0,050
Distribusi Pendapatan 16,063 0,062
a. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber : Data Diolah Tahun 2019
Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dari hasil uji Variance Inflation Factor (VIF) pada hasil output SPSS.23, tabel coefficient,
masing-masing variabel independen memiliki VIF < 10 yaitu untuk variabel pengeluaran pemerintah 0,227, variabel pertumbuhan ekonomi sebesar 0,050, dan variabel distribusi pendapatan sebesar 0,062 dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas. antara variabel dependen dengan variabel independen yang lain sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini.
43
f. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memilki distribusi normal.
Dalam uji normalitas terdapat dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafis.
Uji normalitas data dengan menggunakan pengolahan SPSS 22 untuk menghasilkan grafik tersebut.
Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas Secara Grafis Sumber : Data Diolah Tahun 2019
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa titik-titik yang menyebar disekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik data searah dengan garis diagonal menandakan bahwa model asumsi regresi memenuhi asumsi normalitas dan model regresi layak untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel bebas (pengeluaran
pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan) terhadap variabel terikat (kemiskinan).
3. . Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Pembahasan sebelumnya telah di kemukakan bahwa untuk dapat menjawab hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini, yaitu pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat baik dilakukan dengan analisis regresi linear berganda. Ringkasan hasil perhitungan analisis regresi linear berganda dalam pemilihan ini dapat dlihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6 Hasil Analisis Linear Berganda
Coefficientsa
Pemerintah .493 .078 .148 6.282 .024 14,398 0,227 Pertumbuhan
Ekonomi .337 .022 .771 15.29
2 .004 20,031 0,050 Distribusi
Pendapatan .226 .103 .099 2.184 .161 16,063 0,062 a. Dependent Variable: Kemiskinan
Sumber: Data Diolah Tahun 2019
Y= a + b1X1+ b2X2+ b3X3 + e
Y= -1,204 + 0,493X1+ 0,337X2 + 0,226X3 + e
45 pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.
4. Hasil Uji Statistik
a. Koefisien Determinasi (R²)
Koefisisen determinasi (R²) bertujuan mengukur seberapa akurat
variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen. (Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai yang mendekati satu berarti adalah variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh variabel dependen (Ghozali, 2013).
Tabel 4.7 Koefisien determinasi
df1 df2 Sig. F Change
1 1.000
a 1.000 .999 .00366 1.000 2624.81
7 3 2 .000
a. Predictors: (Constant), Distribusi Pendapatan, Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi
b. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber : Data Diolah Tahun 2019
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS, diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 1,000 yang menunjukkan bahwa pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen dapat dikatakan kuat. hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,999 hal ini berarti variabel independen (pengeluaran pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan ) sangat mempengaruhi variabel dependen (kemiskinan).
b. Uji simultan
Df Mean Square F Sig.
1
Regression .105 3 .035 2624.817 .000b
Residual .000 2 .000
Total .105 5
a. Dependent Variable: Kemiskinan
b. Predictors: (Constant), Distribusi Pendapatan, Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi
Sumber : Data Diolah Tahun 2019
Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai Fhitung sebesar 2624.817 dengan nilai sig sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa nilai F hitung lebih besar dari F tabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya hubungan pengeluaran pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang.
47
C. Hasil Uji Parsial (T)
Pengujian hipotesis secara parsial dimaksudkan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Hasil hipotesis dalam pengujian ini adalah sebagai berikut
Tabel 4.9 Hasil Uji T Coefficientsa
(Constant) -1.204 1.019 -1.181 .359
Pengeluaran
Pemerintah .493 .078 .148 6.282 .024 14,398 0,227
Pertumbuhan
Ekonomi .337 .022 .771 15.292 .004 20,031 0,050
Distribusi
Pendapatan .226 .103 .099 2.184 .161 16,063 0,062
a. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber : Data Diolah Tahun 2019
Berdasarkan pada tabel Uji t di atas untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial (individual) terhadap variabel dependen adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil analisis regresi yang diperoleh untuk variabell pengeluaran pemerintah diperoleh Thitung sebesar 6,282 dengan tingkat signifikan 0,024, hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pengeluaran pemerintah terhadap kemiskinan di kabupaten Enrekang . Maka hipotesis pertama yang menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang.
2. Berdasarkan hasil analisis regresi yang diperoleh untuk variabel pertumbuhan ekonomi diperoleh Thitung sebesar 15,292 dengan tingkat signifikan 0,004, hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di kabupaten Enrekang. Maka hipotesis kedua yang menyatakan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Kabupaten Enrekang.
3. Berdasarkan hasil analisis regresi yang diperoleh untuk variabel distribusi pendapatan diperoleh Thitungsebesar 0,184 dengan tingkat signifikan 0,161, hal ini menunjukkan tidak adanya pengaruh positif dan signifikan antara distribusi pendapatan terhadap kemiskinan dii Kabupaten Enrekang. Maka hipotesis kedua menyatakan distribusi pendapatan tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Kemiskinan di Kabupaten Enrekang.