• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Identitas Informan

Nama : Sm

Umur : 24 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Padang, 24 Agutus 1992

Urutan Kelahiran : 1 (pertama) dari 2 (dua) bersaudara

2. Latar Belakang

Informan berumur 24 tahun dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan adiknya berjenis kelamin laki-laki. Informan berasal dari daerah Sumatera Utara. Informan pindah ke Yogyakarta semenjak SMA. Saat ini informan merupakan mahasiswi semester akhir di suatu Universitas swasta di Yogyakarta. Pada saat kuliah ini, informan mengaku belum pernah kembali lagi ke rumahnya di Sumatera Utara. Akan tetapi informan tetap berhubungan dengan kedua orang tuanya lewat telepon dan beberapa kali melakukan Video Call.

Semenjak tahun 2015 hingga 2016 akhir, Sm menjadi SPG (Sales Promotion Girl) untuk suatu produk rokok di Yogyakarta. Selama hampir setahun pengabdiannya sebagai SPG, Sm kini diangkat menjadi bagian administrasi untuk kota Yogyakarta dan Magelang.

40

Informan sebenarnya tidak ingin menjadi SPG pada awalnya. Sm menjadi SPG karena ada latar belakang ekonomi di belakangnya. Ayah informan jatuh sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai pegawai serabutan. Informan memiliki keinginan untuk membiayai kehidupan kuliahnya dan pengobatan ayahnya dengan gajinya sebagai SPG.

Sm sebenarnya memiliki latar belakang keluarga yang religius dan disiplin. Pada awalnya, Sm kucing-kucingan dengan orang tuanya karena takut ketahuan jika dirinya menjadi SPG. Informan takut orang tuanya mencap dirinya sebagai anak nakal dan menjadi seorang wanita yang menjual dirinya (PSK). Seiring berjalannya waktu, informan mulai terbuka dengan orang tuanya karena telah ketahuan oleh adiknya yang juga kuliah di universitas yang sama dengan Sm.

Pada saat menjadi SPG, Sm sempat berhubungan dengan beberapa pria. Hubungan tersebut Sm jalani tanpa status, akan tetapi ada hubungan seksual si dalamnya. Dalam beberapa hubungan tersebut, informan mengaku selalu merasakan kekecewaan dan sakit hati dalam menjalankannya. Akan tetapi, informan menanggapinya dengan santai dan mencari pria lain untuk menggantikan pasangan-pasangan sebelumnya.

Kehidupan percintaan Sm pernah sampai membuat Sm trauma untuk menjalin hubungan dengan pria. Pada saat itu, Sm bertemu seorang pria yang kasar pada dirinya. Sm mengaku pernah diancam untuk dibunuh dan

disakiti secara fisik oleh pria terssebut, seperti dicekik, dilempar rokok, dan perlakuan kasar lainnya.

3. Pengambilan Data

Penelitian ini, menggunakan 3 (tiga) metode dalam pengambilan data. Ketiga metode tersebut adalah wawancara, sebagai data utama; sedangkan kedua metode yang lainnya adalah tes psikologis berupa tes SSCT dan tes BFI.

Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan rappor terhadap informan. Rappor dilakukan oleh peneliti selama kurang lebih seminggu sebelum penelitian dilakukan. Jangka waktu yang dekat tersebut dikarenakan peneliti sudah kenal dengan informan selama beberapa tahun yang lalu. Rappor dilakukan untuk menjaga kedekatan antara peneliti dan informan, agar terjadi keterbukaan dan rasa percaya informan terhadap peneliti.

Wawancara pertama kali dilaksanakan oleh peneliti untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan hubungan informan dengan pasangan-pasangannya, kriteria pria idaman informan, dan berkaitan dengan syarat-syarat apa saja yag harus dipenuhi agar bisa berhubungan seksual dengan informan. Wawancara kedua dilaksanakan untuk menanyakan hal-hal yang berfokus dengan apa arti seks bagi informan.

Sebagai data pendukung dari wawancara yang diberikan oleh informan, peneliti memberikan 2 (dua) tes psikologi untuk informan. Kedua

tes psikologi tersebut adalah tes SSCT dan tes BFI. Tes SSCTdigunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang dapat menampakkan diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam interpretasi terhadap lingkungan. Sedangkan Tes BFI, digunakan untuk menggambarkan ciri-ciri individu yang membedakannya dengan individu lain.

Berikut jadwal pengumpuln data yang diakukan oleh peneliti :

No Waktu Pelaksanaan Tempat Keterangan

1 Rabu, 10 Agustus 2016 Kos Informan

Tes SSCT dan Tes BFI

2 Jumat, 9 Desember 2016 Kos Informan

Wawancara 1 pada informan 3 Senin, 12 Desember 2016 Kos

Informan

Wawancara 2 pada informan Tabel 01. Jadwal pengumpulan data

Analisa data yang digunakan dalam tes wawancara yaitu menggunakan analisis isi dengan cara memberi koding pada kalimat yang menunjukkan indikasi topik masalah kemudian dibuat suatu kesimpulan. Dalam interpretasi tes psikologi, peneliti menggunakan 1 orang interater untuk mendapatkan keabsahan data.

Kedua tes psikologi yang diberikan pada informan merupakan tes yang bersifat kuantitatif. Untuk tes SSCT, rating diberikan pada tiap-tiap kelima belas tema yang ada, lalu diberikan kesimpulan pada tiap temanya.

Sedangkan untuk tes BFI, skor diberikan pada tiap 44 soal pertanyaan, yang mengandung 5 dimensi BFI didalamnya. Informan diminta untuk menjawab 44 pertanyaan, dengan skala 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju). Lalu, jumlah tiap dimensi dijumlahkan dan diurutkan berdasarkan skor mana yang tinggi dan yang rendah.

Hasil analisa data dari wawancara dan tes psikologi digabungkan untuk mendapatkan gambaran mengenai informan. Hasil tersebut di dinamikakan dengan latar belakang informan sehingga didapatkan suatu kesimpulan mengenai motivasi informan dalam melakukan hubungan seksual.

a. Tes Big F ive Inventory

Tes BFI berisi 44 soal pertanyaan. Setiap pertanyaan diisi dengan skor yang paling menggambarkan diri informan. Terdapat 5 dimensi didalamnya. Kelima dimensi tersebut adalah O (Openess to Experience), C (Conscientiousness), E (Extraversion), A (Agreeableness), dan N (Neuroticism).

Berdasarkan data informan, pada dimensi A (Agreeableness), informan mendapatkan skor 34 poin. Kemudian, pada dimensi O (Openess to Experience), informan mendapatkan hasil sebesar 32 poin. Pada dimensi E (Extraversion), informan mendapatkan poin sebesar 31 poin. Selanjutnya, pada dimensi C (Conscientiousness), informan

mendapatkan poin sebesar 30 poin. Sedangkan pada dimensi N (Neuroticism), informan mendapatkan skor 22 poin.

Berdasarkan hasil data BFI, informan mendapatkan skor yang hampir sama antara dimensi O, A, C, dan E, yang termasuk dalam kategori tinggi. Sedangakan untuk dimensi N, subjek mendapatkan skor yang terdapat dalam kategori rendah.

Dalam dimensi O (Openess to Experience), informan memiliki kecenderungan nilai imajinasi, ingin tahu, kreatif, broadmindedness, berani mengambil resiko, dan inovatif dalam membuat rencana dan mengambil keputusan.

Pada dimensi A (Agreebleness), informan cenderung memiliki sifat yang menyenangkan, lembut, dapat dipercaya, penurut, suka membantu, pemaaf, cenderung penuh kasih sayang, dan peduli kepada orang lain.

Selanjutnya, pada dimensi C (Conscientiousness), informan cenderung teratur, berdisiplin tinggi, pekerja keras, dapat diandalkan, disiplin, tepat waktu, rapi, dan hati-hati.

Pada dimensi E (Extraversion), informan cenderung mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, aktif, banyak bicara, orientasi pada hubungan sesama, optimis, fun-loving, affectionate, ramah, dan bersahabat.

Akan tetapi pada dimensi N, informan mendapatkan skor yang paling rendah diantara kelima dimensi tersebut, yaitu 22 poin. Hal ini menunjukkkan bahwa informan memiliki kecenderungan untuk

bersikap tenang, santai, merasa aman, puas terhadap dirinya, tidak emosional, tabah, dan riang.

b. Tes SSCT

Dalam SSCT, terdapat 15 tema didalamnya. Tema yang pertama adalah sikap terhadap ibu. Pada tema ini, informan mendapat rating 1, yang menunjukkan bahwa informan memiliki masalah terhadap ibunya, akan tetapi masih bisa menyelesaikan konfliknya. Informan melihat sosok ibunya sebagai sosok yang banyak menuntut dan sering berlawanan pada dirinya. Akan tetapi, informan melihat ada nilai positif di dalamnya.

Tema yang selanjutnya adalah sikap terhadap ayah. Pada tema ini, informan mendapat rating 1. Informan memiliki masalah pada pandangannya terhadap ayahnya. Informan melihat sosok ayahnya sebagai sosok yang sangat menyayanginya, akan tetapi saat ayahnya jatuh sakit, informan merasa kehilangan sosok ayahnya tersebut.

Tema berikutnya adalah sikap terhadap kehidupan keluarga. Informan memiliki rating 1. Informan memiliki masalah terhadap kehidupan keluarganya. Informan merasa diberikan tuntutan sebagai anak pertama. Informan juga merasa bahwa keluarganya tidak sebahagia saat dirinya masih anak-anak.

Tema selanjutnya adalah sikap terhadap wanita. Informan mendapat rating 1, karena informan melihat sosok wanita sebagai sosok yang

manja dan tidak mau berusaha. Informan memiliki pandangan negatif terhadap sosok wanita dan berusaha untuk menjadi sosok yang mandiri. Tema berikutnya adalah sikap terhadap ketakutan-ketakutan. Pada tema ini, informan mendapat rating 1. Informan tidak menyukai hal-hal bersifat tidak pasti dalam kehidupannya. Informan juga memiliki fobia pada serangga. Dalam mengatasi rasa takut, informan dapat melakukan hal-hal konyol.

Selanjutnya, pada sikap pada rasa bersalah, informan mendapat rating sebesar 1. Informan merasa memiliki kesalahan pada masa lalunya, terkait dengan keterbukaan terhadap keluarganya. Informan merasa sangat bersalah saat dirinya memutuskan untuk merokok.

Pada tema berikutnya, sikap terhadap hubungan heteroseksual, informan memiliki rating 0. Informan memiliki kehidupan seksual yang cenderung biasa-biasa saja. Akan tetapi, informan memiliki relasi seksual pada pria yang tidak memiliki status hubungan dengannya.

Sikap terhadap teman-teman dan kenakalan, informan mendapatkan rating 0. Informan memiliki kriteria teman sejati adalah orang yang mendukung dirinya, humoris, dan dapat dipercaya.

Pada sikap terhadap atasan, informan mendapatkan rating 0. Informan memiliki pandangan bahwa informan melihat atasannya sebagai keluarga sendiri. Informan memiliki harapan bahwa atasannya harusnya lebih profesional dan lebih bertanggung jawab.

Selanjutnya pada sikap terhadap bawahan, informan mendapatkan rating 0. Informan memperlakukan bawahannya sebagai teman atau partner yang bisa dipercaya dan diandalkan. Informan juga dapat menyelesaikan tanggung jawabnya dengan disiplin.

Pada tema lingkungan kerja, informan mendapatkan rating 0. Informan senang bekerja dengan orang yang dapat dipercaya, mau kerja ekstra, dan pernah bekerja dengan informan sebelumnya.

Tema selanjutnya adalah sikap terhadap kemampuan diri sendiri. Informan mendapatkan rating sebesar 0. Informan melihat suatu hal positif dibalik masalah-masalah yang dihadapinya. Informan juga dirasa tabah dalam melewati masalah.

Pada sikap terhadap masa lalu, informan mendapat rating sebesar 0. Informan memiliki cita-cita yang belum tercapai saat ini dan berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama agar cita-citanya tercapai. Pada sikap terhadap masa depan, informan mendapat rating 0. Informan memiliki harapan untuk sukses dan mandiri di masa depan, setelah melakukan beberapa pengorbanan.

Tema yang terakhir adalah sikap terhadap cita-cita. Informan mendapat rating 0. Informan akan merasa bahagia bila mimpinya tercapai. Informan berharap dapat membahagiakan keluarga dan mendapatkan seorang pasangan.

Berdasarkan tema-tema yang telah diketahui dalam analisis terhadap informan, terdapat 4 tema besar.

1. Sakit Hati Terhadap Pasangan

Informan merasakan beberapa perasaan negatif yang membuat informan dapat berganti-ganti pasangan.

“Ke mental sebenernya. Jadi kaya apa yah.. misalnya gini

misalnya dia ngajak “ayo yoo main ke kos aja, nginep!”.

Gue males kan, kan awalnya kan iseng doang tu loh. Cuman karena ya iseng dan ga pengen serius tu loh yaudah, terus

dia ngomong kaya “ahh dasar perek!” (no 616)

Informan merasakan sakit hati pada saat menjadi bispak. Informan merasa telah direndahkan oleh pasangannya tersebut.

“Ya itu, kaya dia pernah bilang “udah, disini aja sama aku!”, gue kan ga suka yang posesif, terus gue jawab “ga

deh, aku pengen me time. Gue pengen nyantai sama

temen-temen gue.” Ga boleh tuh udah. Jadi tuh, ini kan ga ada

status kan tapi ngatur banget, posesif tapi kasar. Maksudnya

emang mungkin baik, cuman kasarnya itu sama emosian.”

Selain perasaan sakit hati, informan juga merasakan kekecewaan terhadap pasangan-pasangannya.

“Ohh ga iklas sih. “kok enak aja lu udah gitu sama gue (berhubungan seksual), tapi kok gitu?”. Cuma lama-lama kan emosian, maki-maki gitu.”(no 408)

Informan juga pernah merasakan tidak ikhlas pada pasangannya. Hal ini dikarenakan informan tidak mendapatkan hal yang ia inginkan setelah si pria berhubungan seksual dengan informan.

“Trauma iya, tapi bukan gue udah males ketemu cowo yah.

Males yang berhubungan sama cowo. Kaya yang ada hubungannya personal gitu.” (no 581)

Informan juga pernah merasakan trauma akan menjalin hubungan dengan pria karena telah merasa disakiti berulang-ulang.

“Biasa sih, cuman maksa. Gue ga tau sih itu itungannya

jamannya SPGan, pulang jam 2 pagi, capek dong. Nah, tu orang saking posesifnya, nungguin gue pulang kerja di

kantor. Pulang tuh dipaksa tidur di kosnya dia.” (no 537)

Informan juga kerap kali merasakkan ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual dengan pasangan-pasangannya.

“Aku sebenernya masuk ke dunianya dia, dia kuajak

keduniaku cuman ga masuk hehe. Ga terlalu nyambung tu loh, jadi obrolan sama candaannya tu ya cuman basa basi.

Gak yang akrab gitu.” (no 834)

Informan juga beberapa kali sempat terlibat dalam sebuah hubungan yang membuat dirinya tidak nyaman dalam menjalani hubungan tersebut.

2. Harapan Terhadap Relasi

Didalam kehidupannya, informan juga memiliki harapan-harapan yang terkait dengan kehidupan berelasinya.

“Ya kan siapa sih yang ga pengen punya someone yang bisa diajak bareng-bareng.” (no 392)

Informan memiliki harapan atau impian agar informan mendapat seorang pasangan agar bisa diajak melakukan beberapa kegiatan bersama-sama.

“Yaa balik lagi, gue kan pernah ngalamin tuh sama pacar

gue sama yang bukan pacar. Maksudnya ketika kamu ada komitmen, bakalan ada komunikasi mendalam, terus lebih kaya yang bisa terbuka, bisa kaya yang bisa mendalam

gara-gara ada visi kedepannya, ga ngambang.” (no 235)

Informan juga mengharapkan bahwa ia mendapatkan seorang pacar dengan ada komitmen didalamnya dan mendapatkan kepastian.

“Cowo, tinggi tapi conditional karena fisik bisa ditoleransi, lebih ke ngertiin gue, nyaman, udah.” (no 283)

Informan memiliki tipe pria idaman menurutnya. Informan tidak melihat dari sisi fisik dari seorang pria. Akan tetapi, lebih kepada pria yang bisa mengerti dan membuat informan nyaman.

Berikut adalah kebutuhan-kebutuhan yang terdapat dalam hasil wawancara informan, yang mencerminkan motivasi yang informan miliki dalam menjadi bispak.

“Ya mungkin karena gue terlalu narik diri, bener-bener ga nggagas sama sekali, dan udah jadi kebutuhan tu loh, sepi. Jadi pas dideketin tu ya bales, nanggepin. Ya faktor kebutuhan jatohnya.” (no 755)

Informan melihat seks sebagai alat dari pemenuhan kebutuhan perasaan yang dimiliki informan.

“Kasih sayang hehehe. Cuy, gue butuh affection hehehe”

(no 890)

Motivasi lain yang membuat informan menjadi seorang bispak adalah butuhnya perasaan untuk disayang oleh pasangan.

“gue masih bisa maintain kebutuhan seksual gue, karena

gue ga umm fokusnya ga disitu. Lebih ke fulfill rasa nyaman itu

Berdasarkan hasil wawancara yang telah diketahui, dalam berhubungan seksual, informan membutuhkan rasa nyaman terlebih dahulu dari pasangan. Lalu, setelah itu, informan akan menggunakan seks untuk menjaga rasa nyaman tersebut (no 885).

“Tapi jatohnya itu ke kebutuhan. Guenya juga butuh, si cowo juga butuh.” (no 173).

Informan juga menggunakan seks sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan seksual yang informan miliki.

4. Penerimaan Resiko

“Kalo gue tau orang sih, banyak tau. Cuman, ga jadi patokan. Karena kan balik lagi, kan atas dasarku sendiri”

(no 197)

Informan menerima resikonya sebagai seorang bispak. Informan menjadi bispak atas kemauannya sendiri, tanpa ada role model atau panutan dari lingkungannya.

“..ketika belum ada komitmen, cuma gue mau, berarti gue tahu tuh resiko ke depanya. Yaa udah deh. Yaa “ahh anjrit,

si kampret si kampret”. Cuma yaudah lah emang resikonya

gue gitu. Ngerti lah resikonya gimana” (no 99)

Informan berani menerima resikonya dalam menjadi seorang bispak. Sebenarnya informan sudah mengerti apa resikonya, akan tetapi informan tetap menjalani pilihannya menjadi seorang bispak.

“Bukan lebih ke malu sih, lebih ke “ahh kalo ga ngerti diem aja!”. Gue kan cuek ya orangnya, ga malu sih. Yaa biarin

sih urusan-urusan gue.” (no 142)”

Informan dapat menegenali lingkungannya. Informan juga dapat mengendalikan lingkungannya agar tidak terjadi masalah lebih lanjut.

Dokumen terkait