• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Manfaat teoritis

Sebagai sumber informasi ilmiah yang dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya dalam penyelesaian sengketa hukum kesehatan. Karena memang masihlah sangat dibutuhkan masukan yang jelas mengenai bagaimanakah penyelsaian sengketa kesehatan yang terkait dokter dengan pasien.

Pihak Ikatan Dokter Indonesia menyatakan bahwa setiap sengketa dokter dengan pasien diselesaikan melalui Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK), namun ada pendapat bahwa penyelesaian semacam ini tidaklah transparan dan memenuhi rasa keadilan karena adanya spirit the corps antara sesama dokter.

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah masukan bagi aparat penegak hukum, salah satunya bagi hakim agar dalam memperhatikan unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan, karena meskipun si terdakwa melakukan kelalaian walaupun itu dalam hal menjalankan tugasnya harus diperhatikan sudah sesuai prosedurkah tindakan yang dilakukan oleh terdakwa ketika menjalankan tugasnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian, Tujuan, dan Asas Hukum Acara Pidana

Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta menjamin segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Untuk mewujudkan pernyataan tersebut di atas, melalui TAP MPR Nomor: IV/MPR/1978, pemerintahan mengadakan usaha peningkatan dan penyempurnaan pembinaan hukum nasional dengan mengadakan pembaharuan kodifikasi serta unifikasi hukum dalam rangkuman pelaksanaan secara nyata dari Wawasan Nusantara.

Pembangunan hukum nasional salah satu diantaranya adalah di bidang Hukum Acara Pidana dengan tujuan agar masyarakat menghayati hak dan kewajibannya dan untuk meningkatkan pembinaan sikap para pelaksana penegak hukum sesuai fungsi dan wewenang masing-masing ke arah tegaknya hukum, keadilan, dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban serta kepastian hukum demi terselenggaranya negara hukum sesuai dengan UUD 1945.2

2

Lihat konsideran Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

1. Pengertian Hukum Acara Pidana

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) lahir setelah hampir 36 tahun Negara Republik Indonesia merdeka. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Hukum Acara Pidana disebut juga hukum pidana formil, hal ini untuk membedakan dengan hukum pidana materiil.3

Hukum Pidana materiil atau Hukum Pidana sendiri berisi petunjuk dan uraian tentang delik, peraturan tentang syarat dipidananya suatu perbuatan, petunjuk tentang orang yang dapat dipidana, dan aturan tentang pemidanaan, mengatur tentang kepada siapa dan bagaimana pidana itu dapat dijatuhkan. Sedangkan hukum pidana formil mengatur bagaimana negara melalui alat-alatnya melaksanakan haknya untuk memidana dan menjatuhkan pidana, jadi berisi acara pidana.4

“Menurut Poernomo5

, hukum pidana tidak dapat dilakukan apabila tidak ada aturan beracara yaitu untuk proses perkara pidana dan menentukan suatu keputusan menjatuhkan sanksi pidana atau keputusan lain kepada seseorang yang terbukti atau tidak terbukti melakukan perbuatan pidana dengan kesalahannya. Secara singkat dapat dilaksanakan melalui hukum acara pidana. Hukum acara pidana sendiri secara esensial dalam perkara pidana dapat dibedakan menjadi hukum acara pidana formil dalam arti hukum beracara pidana dan dalam arti hukum acara pidana materiil dalam arti pembuktian dari perkara pidana.”

“Menurut Wirjono Projodikoro6

bahwa hukum acara pidana berhubungan erat dengan adanya hukum pidana, maka dari itu merupakan suatau rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintahan yang berkuasa yaitu kepolisian, kejaksaan, dan

3

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1996, hlm 7.

4 Muhammad Taufik Makarao dan Suhasril, Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan

Praktek, Ghalia Indonesia, Bogor, 2010, hlm 1.

5

Endang Sri Lestari, “Pembuktian Tindak Pidana Korporasi Pada Kasus Kabut Asap di Pekanbaru (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan M.A.R.I No. 275TU/811K/Pid/2002)”, (Skripsi Hukum Acara Pidana, Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, 2007), hlm. 10

6

pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan negara dengan mengadakan hukum pidana.”

Dalam pembagian hukum pidana antara publik dan hukum privat, maka hukum acara pidana digolongkan dalam hukum publik. Sebagai bagian dari hukum publik, hukum acara pidana sering diartikan secara sempit dan secara luas. Arti sempit dari hukum acara pidana adalah berjalan apabila terjadi dugaan adanya pelanggaran terhadap undang-undang pidana materiil, sedangkan dalam arti luas apabila dipandang dari segi tugas, wewenang, kewajiban, dan hal-hal dari orang yang bersangutan dengan penyidikan, penuntutan dan mengadili delik, maka ia termasuk dalam hukum tata negara dan hukum administraasi negara.7

Menurut R. Soesilo8, hukum acara pidana itu erat kaitannya dengan hukum pidana, bahkan hukum acara pidana itu pada hakekatnya termasuk dalam pengertian hukum pidana. Kumpulan dari seluruh tindak-tindak pidana dinamakan hukum pidana, yaitu hukum pidana yang berupa materi atau materiil dan dinamakan hukum pidana materiil. Hukum pidana materiil lawannya hukum pidana formil. Hukum pidan formil adalah kumpulan peraturan-peraturan hukum yang memuat ketentuan-ketentuan mengatur soal sebagai berikut:

a. Cara bagaimana harus mengambil tindakan-tindakan jikalau ada sangkaan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana, cara bagaimana mencari kebenaran-kebenaran tentang tindak pidana apakah yang telah dilakukan;

b. Setelah ternyata, bahwa ada suatu tindak pidana yang dilakukan, siapa dan cara bagaimana harus mencari, menyelidik atau menyelidiki orang-orang yang disangka bersalah terhadap tindak pidana itu, cara menangkap, menahan dan memeriksa orang itu;

c. Cara bagaimana mengumpulkan barang-barang bukti, memeriksa, menggeledah badan dan tempat-tempat lain serta menyita barang-barang itu, untuk membuktikan kesalahan tersangka;

d. Cara bagaimana pemeriksaan dalam sidang pengadilan terhadap terdakwa oleh hakim sampai dapat dijatuhkan pidana;

e. Oleh siapa dengan cara bagaimana putusan penjatuhan pidana itu harus dilaksanakan dan sebagainya, atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa yang mengatur tentang cara bagaimana

7

Ibid, hlm 20.

8

mempertahankan atau menyelenggarakan hukum pidana materiil, sehingga memperoleh keputusan hakim dan cara bagaimana isi keputusan itu dapat dilaksanakan.

“Menurut Van Bemmelen9

, ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan yang diciptakan oleh negara, karena adanya dugaan terjadi pelanggaran undang-undang pidana. Hukum acara pidana dilukiskan sebagai berikut:

a. Negara melalui alat-alatnya menyidik kebenaran; b. Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu;

c. Mengambil tindakan-tindakan yang perlu guna menangkap si pelaku dan kalau perlu menahannya;

d. Mengumpulkan bahan-bahan bukti (bewijsmateriaal) yang telah diperoleh pada penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan membawa terdakwa ke depan hakim tersebut;

e. Hakim memberi keputusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidan atau tindakan tata tertib;

f. Upaya hukum untuk melawan keputusan tersebut;

g. Akhirnya melaksanakan keputusan tentang pidana dan tindakan tata tertib itu.”

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang No. 8 Tahun 1981) tidak menjelaskan apakah hukum acara pidana itu. Hanya diberikan devinisi-devinisi dari beberapa bagian hukum acara pidan seperti penyidikan, penuntutan, mengadili, praperadilan, putusan pengadilan, upaya hukum, penyitaan, penggeledan, penangkapan, penahanan dan lain-lain sebagaiman disebutkan di dalam Pasal 1 KUHAP.

2. Tujuan Hukum Acara Pidana

Setiap peraturan yang dibuat pasti mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai, begitu pula hukum acara pidana dibuat juga mempunyai tujuan yang hendak dicapai yaitu suatu keadilan. Sedangkan baik dan buruknya suatu tujuan akan mempengaruhi kualitas suatu peraturan atau undang-undang, oleh

9

karena itu realisasi pelaksanaan akan menjadi tolak ukur keberhasilan suatu tujuan, semakin baik tujuan yang hendak dicapai maka semakin baik pula keadilan yang diperoleh masyarakat.

Pedoman pelaksanaan KUHAP memberi penjelasan tentang tujuan hukum acara pidana sebagai berikut:

“Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum pidana secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwakan itu dapat dipersalahkan”.10

Menurut van Bemmelen11 mengemukakan tiga fungsi hukum acara pidana, yaitu sebagai berikut:

a. Mencari dan menemukan kebenaran b. Pemberian keputusan oleh hakim c. Pelaksanaan keputusan.

3. Asas Hukum Acara Pidana

Pengertian asas dalam hukum acara pidana adalah dasar patokan hukum yang mendasari KUHAP dalam menjalankan hukum. Asas ini akan menjadi pedoman bagi semua orang termasuk penegak hukum, serta orang-orang yang berkepentingan dengan hukum acara pidana.

KUHAP dilandasi oleh asas atau prinsip hukum tersebut diartikan sebagai dasar patokan hukum sekaligus merupakan tonggak pedoman bagi instansi jajaran aparat penegak hukum dalam menerapkan pasal-pasal KUHAP.

10

Ibid, hlm. 18.

11

Mengenai hal tersebut, bukan hanya kepada aparat hukum saja, asas atau prinsip yang dimaksud menjadi patokan dan landasan, tetapi juga bagi setiap anggota masyarakat yang terlibat dan berkepentingan atas pelaksanaan tindakan yang menyangkut KUHAP.12

Makna asas-asas hukum adalah merupakan ungkapan hukum yang bersifat umum, pada sebagian berasal dari kesadaran hukum serta keyakinan kesusilaan atau etis kelompok manusia dan pada sebagian yang lain berasal dari dasar pemikiran dibalik peraturan perundang-undangan serta yurisprudensi.13

Asas-asas penting yang terdapat dalam hukum acara pidana yaitu: 1. Peradilan Cepat, Sederhana, Dan Biaya Ringan

Asas ini telah dirumuskan dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang menghendaki agar pelaksanaan penegakan hukum di Indonesia berpedoman kepada asas: cepat, sederhana, dan biaya ringan. Tidak bertele-tele dan berbelit-belit. Apabila jika keterlambatan penyelesaian kasus terhadap hukum dan martabat manusia.

Asas ini mencerminkan adanya perlindungan hak asasi manusia sekalipun orang tersebut berada dalam kedudukan sebagai tersangka atau terdakwa. Walaupun dalam kondisi dibatasi kemerdekaannya karena ditangkap kemudian ditahan, namun orang tersebut tetep memperoleh kepastian bahwa

12

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan

Dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2000, hlm. 35.

13

Bambang Poernomo, Pola Dasar Teori-Asas Umum Hukum Acara Pidana Dan

tahapan-tahapan pemeriksaan yang dilaluinya memiliki batas waktu dan dijamin undang-undang.

Asas ini menghendaki adanya peradilan yang efektif dan efesien, sehingga tidak memberikan penderitaan yang berkepanjangan kepada tersangka atau terdakwa disamping kepastian hukum terjamin. Asas ini juga terdapat dalam Penjelasan Umum butir 3 huruf e KUHAP yang merumuskan:

“Peradilan yang harus dilakukan dengan cepat, sederhana, dan biaya ringan serta bebas, jujur dan tidak memihak harus ditetapkan secara konsekuen dalam seruluh tingkat peradilan”.

Beberapa ketentuan KUHAP sebagai penjabaran asas peradilan yang cepat, sederhana, dan biaya ringan antara lain tersangka atau terdakwa berhak:

1). Segera mendapat pemeriksaan dari penyidik;

2). Segera diajukan kepada penuntut umum oleh penyidik;

3). Segera diajukan ke pengadilan oleh penuntut umum;

4). Berhak segera diadili oleh pengadilan.

Menurut Andi Hamzah,14 Asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan yang dianut didalam KUHAP sebenarnya merupakan penjabaran Undang-Undang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Peradilan cepat (terutama untuk menghindari penahanan yang lama sebelum ada keputusan hakim) merupakan bagian hak-hak manusia. Begitu pula peradilan bebas, jujur, dan tidak memihak yang ditonjolkan dalam undang-undang tersebut.

2. Asas Praduga Tidak Bersalah (Presumtion of innocence)

Asas ini disebut dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009

14

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Revisi, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, hlm. 10-11.

tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan dalam Penjelasan Umum butir 3 c KUHAP, yang merumuskan:15

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, Wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”.

Asas praduga tak bersalah menjadi salah satu bukti penghargaan KUHAP pada hak asasi manusia. Cara-cara pemeriksaan tersangka atau terdakwa yang semula bersifat inquisitoir menjadi aqusatoir.

Menurut M. Yahya Harahap, sebagaimana dikutip oleh Taufik Makarao dan Suhasril, mengemukakan:16

Asas praduga tak bersalah ditinjau dari segi teknis penyidikan dinamakan “Prinsip Akusator”. Prinsip akusator menempatkan kedudukan tersangka atau terdakwa dalam setiap tingkat pemeriksaan adalah subyek bukan sebagai objek pemeriksaan karena itu tersangka atau terdakwa harus didudukan dan diperlakukan dalam kedudukan manusia yang mempunyai harkat dan martabat harga diri, yang mejadi objek pemeriksaan dalam prinsip akusator adalah kesalahan (tindak pidana) yang dilakukan oleh tersangka atau terdakwa, karena itulah pemeriksaan ditujukan.

3. Asas Oportunitas

Dalam hukum acara pidana dikenal suatu badan yang khusus diberi wewenang untuk melakukan penuntutan pidana kepengadilan yang disebut penuntut umum. Di Indonesia penuntut umum disebut juga jaksa (Pasal 1 butir a dan b serta Pasal 137 dan seterusnya KUHAP).

Wewenang penuntutan dipegang oleh penuntut umum. Asas oportunitas adalah hak yang dimiliki oleh penuntut umum untuk menuntut atau tidak

15

Ibid., hlm. 34.

16

Mohammad Taufik Makarao dan Suhasril, Hukum Acara Pidana dalam Teori dan

menuntut seseorang kepengadilan. Di Indonesia wewenang ini hanya diberikan kepada kejaksaan.

A.Z. Abidin Farid,17memberikan perumusan asas oportunitas adalah Asas hukum yang memberikan wewenang kepada penuntut umum untuk menuntut atau tidak menuntut dengan atau tanpa syarat seseorang atau koperasi yang telah mewujudkan delik demi kepentingan umum.

Andi Hamzah18 menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

“Menurut asas oportunitas penuntut umum tidak wajib menuntut seseorang yang melakukan delik jika menurut pertimbangannya akan merugikan kepentingan umum. Jadi demi kepentingan umum, seseorang yang melakukan delik tidak dituntut.”

Mengenai kriteria kepentingan umum dalam pedoman pelaksanaan KUHAP dijelaskan adalah didasarkan untuk kepentingan negara dan masyarakat dan bukan kepentingan pribadi.

4. Pemeriksaan Pengadilan Terbuka Untuk Umum

Pemeriksaan pengadilan yang terbuka untuk umum dapat dilihat dalam Pasal 153 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP sebagai berikut:

“Untuk keperluan pemeriksaan hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak”.

Pasal 153 ayat (4) KUHAP menyebutkan:

“Tidak terpenuhinya ketentuan dalam ayat (2) dan ayat (3) mengakibatkan batalnya putusan demi hukum”.

Mengenai asas pemeriksaan persidangan terbuka untuk umum, M. Yahya Harahap19 berpendapat:

17 Andi Hamzah, Op. Cit., hlm. 17.

18

“Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana menetapkan pemeriksaan perkara yang terdakwanya anak-anak dilakukan dengan pintu tertutup. Sebab jika dilakukan terbuka untuk umum akan membawa akibat psikologis yang lebih parah kepada jiwa dan batin si anak.”

Asas ini memberikan makna bahwa tindakan penegakan hukum di Indonesia harus dilandasi oleh jiwa persamaan dan keterbukaan serta adanya penerapan sistem musyawarah dan mufakat.

I. Sumantri20 menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

“Asas terbuka untuk umum ini memang tepat karena persidangan dapat dihadiri oleh umum, sehingga dapat menjamin obyektifitas peradilan dan tujuannya memberikan perlindungan terhadap hak-hak asasi terdakwa. Di lain pihak juga ditentukan pengecualian apabila kesusilaan dan terdakwanya anak-anak.”

Hakim dapat menetapkan apakah suatu sidang dinyatakan seluruhnya atau sebagian tertutup untuk umum yang artinya persidangan dilakukan di belakang pintu tertutup. Pertimbangan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada hakim yang melakukan hal itu berdasarkan jabatannya atau atas permintaan penuntut umum dan terdakwa. Saksi pun dapat mengajukan permohonan agar sidang tertutup untuk umum dengan alasan demi nama baik keluarganya.

5. Semua Orang Diperlakukan Sama Di Depan Hukum (Equality Before the Law)

Asas yang umum dianut di negara-negara yang berdasarkan hukum ini tegas tercantum dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Penjelasan Umum butir 3 a KUHAP.

Penjelasan Umum butir 3 a KUHAP merumuskan:

19 M. Yahya Harahap, Op. Cit., hlm. 56.

20

I. Sumantri, Pembahasan Perkembangan Pembangunan Nasional Tentang Hukum

“Perlakuan yang sama atas diri setiap orang dimuka hukum tidak mengadakan perbedaan perlakuan”.

Sedangkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman merumuskan:

“Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang”.

Ketentuan-ketentuan di dalam KUHAP mendasarkan pada asas ini, sehingga tidak ada satu pasal pun yang mengarah pada pemberian hak-hak istimewa pada suatu kelompok dan memberikan ketidakistimewaan kepada kelompok lain.

Menurut Andi Hamzah,21Asas ini menegaskan bahwa sebagai Negara Hukum maka dihadapan hukum semua orang sama dan sederajat. Bagaimanapun kedudukan manusia itu sama di mata hukum yang dijunjung tinggi oleh negara Indonesia sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

6. Tersangka atau Terdakwa Berhak Mendapat Bantuan Hukum

Asas tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum terdapat pada Pasal 54 KUHAP yang menyatakan bahwa:

“Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tatacara yang ditentukan dalam undang-undang ini”.

Ketentuan asas ini berkaitan dengan hak dari seseorang yang tersangkut dalam suatu perkara pidana untuk dapat mengadakan persiapan bagi

21

pembelaannya maupun untuk mendapatkan nasehat atau penyuluhan tentang jalan yang dapat ditempuhnya dalam menegakan hak-haknya sebagai tersangka atau terdakwa. Bantuan hukum dalam KUHAP tidak terdapat penjelasan atau definisi mengenai pengertian bantuan hukum.

M. Yahya Harahap,22 menjelaskan mengenai bantuan hukum diatur dalam Pasal 74 KUHAP, dimana didalamnya diatur tentang kebebasan yang sangat luas yang didapat oleh tersangka atau terdakwa. Kebebasan tersebut antara lain:

a) Bantuan hukum dapat diberikan saat tersangka ditangkap atau ditahan; b) Bantuan hukum dapat diberikan pada semua tingkat pemeriksaan; c) Penasehat hukum dapat menghubungi tersangka atau terdakwa pada

tingkat pemeriksaan pada setiap waktu;

d) Pembicaraan antara penasehat hukum dan tersangka atau terdakwa tidak didengar oleh penyidik dan penuntut umum kecuali pada delik yang menyangkut keamanan Negara;

e) Turunan berita acara diberikan kepada tersangka atau penasehat hukum guna kepentingan pembelaan;

f) Penasehat hukum berhak mengirim dan menerima surat dari tersangka atau terdakwa.

The Internasional Convenant on Civil and Political Rights article 14 sub 3d kepada tersangka atau terdakwa diberikan jaminan sebagai berikut:

“to be tried in his presence and to defend himself in person or through legal assistance of his own choosing, to be inform, if he does not have legal assistance, of his right, and to have legal assistance assigned to him, in any case where the interests justice so require, and without payment by him in any such case if he does not have sufficient means to pay for it.” (Diadili dengan kehadiran terdakwa, membela diri sendiri secara pribadi atau dengan bantuan penasehat hukum menurut pilihannya sendiri, diberi tahu tentang hak-haknya ini jika ia tidak mempunyai penasehat hukum dan ditunjuk penasehat hukum untuk dia jika untuk kepentingan peradilan perlu untuk itu, dan jika ia tidak mampu membayar penasehat hukum ia dibebaskan dari pembayarannya).”23

22

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Jilid 1

dan Jilid II), Pustaka Kartini, Jakarta, 1998, hlm. 21.

23

7. Asas Akusatoir Dan Inkisitoir (Accusatoir dan Inquisitoir)

Asas akusatoir dalam KUHAP tidak menjadikan pengakuan tersangka sebagai salah satu dari jenis alat bukti. Pengakuan yang digariskan dalam KUHAP yang demikian menunjukan bahwa KUHAP menganut asas akusatoir yaitu menempatkan kedudukan tersangka sebagai subyek pemeriksaan.

Asas inkisitoir yaitu kedudukan tersangka atau terdakwa merupakan obyek pemeriksaan sehingga pengakuan tersangka atau terdakwa menjadi hal yang sangat penting untuk diperoleh penegak hukum. dalam hal ini kedudukan tersangka sangat lemah dan tidak menguntungkan karena tersangka masih dianggap sebagai barang atau objek yang harus diperiksa. Pada asas inkisitoir pemeriksaan bersifat rahasia atau tertutup.

Asas akusatoir memperlakukan tersangka atau terdakwa yang manusiawi bukan berarti menghilangkan ketegasan yang menyebabkan tersangka atau terdakwa tidak menghormati proses penegakan hukum. Dengan menggunakan ilmu bantu penyidikan seperti psikologis, kriminalistik, psikiatri dan kriminologi maka penyidik tetap akan dapat memperoleh hasil penyidikan yang memadai.

“Menurut Andi Hamzah,24

Asas inkisitoir berarti tersangka dipandang sebagai objek pemeriksaan yang masih dianut oleh HIR untuk pemeriksaan pendahuluan. Sama halnya dengan Ned. Sv. yang lama yaitu tahun 1828 yang direvisi tahun 1885. Sejak tahun 1926 yaitu berlakunya Ned. Sv. yang baru di negeri Belanda telah dianut asas gematigd accusatoir yang berarti asas bahwa tersangka dipandang sebagai pihak pada pemeriksaan pendahuluan dalam arti terbatas, yaitu pada pemeriksaan perkara-perkara politik berlaku asas inkisitoir.”

24

8. Pemeriksaan Hakim Yang Langsung Dan Lisan

Pemeriksaan di sidang pengadilan dilakukan oleh hakim secara langsung,

Dokumen terkait