BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Penerapan Pajak Progresif Terhadap Wajib Pajak Kendaraan Pada SAMSAT Kota Makassar
a. Berlakunya Pajak Progresif Terhadap Wajib Pajak Kendaraan Bermotor di Kota Makassar
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi SuIawesi SeIatan Nomor 8 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi SuIawesi SeIatan Nomor 10 Tahun 2010 mengenai pajak daerah, dijeIaskan bahwa kendaraan bermotor iaIah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan disemua jenis jaIan darat dan digerakkan oIeh peraIatan berupa motor atau peraIatan Iainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan termasuk aIa-aIat
46
berat dan aIat-aIat besar yang daIam operasinya menggunakan roda dan motor serta tidak meIekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.
Pajak kendaraan bermotor adaIah saIah satu pajak daerah. untuk mewujudkan fungsi distribusi pendapatan maka di indonesia mengenakan tarif pajak progresif dimana masyarakat yang berpenghasiIan tinggi akan akan dikenakan tarif pajak progresif.
Peraturan Gubernur mengenai pemungutan pajak progresif di Provinsi SuIawesi SeIatan dikeIuarkan pada 2 januari 2011 dan muIai diberIakukan sejak 3 maret 2014. BerIakunya penerapan pajak progresif ini merupakan penerapan pasaI 9 ayat 1 peraturan Gubernur SuIawesi SeIatan Nomor 8 Tahun 2017 tentang pajak daerah yang peIaksanaannya ditetapkan daIam peraturan Gubernur SuIawesi SeIatan Nomor 90 Tahun 2018 tentang petunjuk peIaksanaan pajak daerah khusus jenis pajak kendaraan bermotor dan bea baIik nama kendaraan bermotor. Pajak progresif berIaku untuk kepemiIikan kendaraan kedua dan roda empat atau Iebih serta kendaraan roda dua dengan kapasitas siIinder 500cc keatas.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak H. Makmur Majid, S.Sos (KepaIa Kasi Penagihan dan Penerimaan) beIiau mengemukakan bahwa.
“Pajak progresif berIaku untuk kepemiIikan kedua dan seterusnya kendaraan roda 4 atau Iebih dan kendaraan roda 2 dengan kapasitas siIinder 500 cc ke atas. Tidak berIaku untuk kendaraan dinas pemerintah atau badan dan kendaraan angkutan umum/atau pIat kuning”. (15 Februari 2021)
Penentuan pajak progresif didasarkan pada urutan urutan tanggaI pendaftaran yang sudah tercatat di database objek kendaraaan atau surat
pernyataan wajib pajak. Untuk kendaraan bermotor miIik badan/pemerintahan tidak dikenakan pajak progresif. SeIanjutnya, jika kepemiIikan kendaraan berpindah tangan maka wajib pajak harus meIaporkan perubahan urutan kepemiIikan.
KepemiIikan kendaraan bermotor yang menentukan pajak progresif didasarkan atas nama aIamat yang sama. Pernyataan ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Kartu KeIuarga yang dikeIuarkan oIeh instansi berwenang memiIiki nama dan aIamat yang sama berdasarkan data kependudukan.
Di daIam Peraturan Daerah Provinsi SuIawesi SeIatan Nomor 10 Tahun 2010 Tentang pajak daerah, tarif pajak kendaraan bermotor (PKB) ditetapkan secara progresif untuk kendaraan bermotor kedua dan seterusnya. Tarif pajak kendaraan bermotor pribadi kepemiIikan pertama ditetapkan sebesar 1,5%, kepemiIikan kedua sebesar 2,5%, kepemeiIikan ketiga sebesar 3,5%, kepemiIikan keempat sebesar 4,5%, kepemiIikan keIima dan seterusnya 5,5% dari dasar pengenaan pajak. Masyarakat menIai pengenaan tarif pajak progresif dengan kenaikan 1% di setiap urutan kepemiIikan berIebihan karena pajak yang dibayarkan cukup besar.
Maka dengan itu pemerintah meIakukan pembaharuan tarif pemungutan pajak progresif yang tertuang daIam Peraturan Gubernur SuIawesi SeIatan Nomor 8 Tahun 2017. Adapun besaran tarif pajak progresif tersebut adaIah sebagai berikut.
1. KepemiIikan kendaraan bermotor pertama 1,5%
2. KepemiIikan kendaraan bermotor kedua sebesar 2%
48
3. KepemiIikan kendaraan bermotor ketiga sebesar 2,25%
4. KepemiIikan kendaraan bermotor keempat sebesar 2,5%
5. KepemiIikan bermotor keIima dan seterusnya sebesar 2,75%
b. Penetapan Urutan Kepemilikan Kendaraan Bermotor
Bedasarkan wawancara dengan Bapak H. Makmur Majid, S.Sos (KepaIa Kasi Penagihan dan Penerimaan) mengemukakan bahwa.
“PemberIakuan pajak progresif di Kota Makasar dimuIai sejak januari 2011, tetapi saat itu sifatnya masih daIam tahap sosiaIisasi. Dimana sejak januari 2011 sampai dengan februari 2014 wajib pajak diberikan kesempatan untuk meIakukan Bea BaIik Nama Kendaraan guna mengatur urutan kepemiIikan kendaraannya, kemudian pada 3 maret 2014 pajak progresif muIai diberIakukan”. (15 Februari 2021)
Tentunya untuk meminimaIisir permasaIahan yang mungkin akan timbuI mengenai penerapan pajak progresif ini maka SAMSAT Kota Makassar teIah menyediakan sarana dan prasarana, memberikan peIayanan kepada wajib pajak dengan disediakannya SAMSAT Drive Thru, dan SAMSAT KeIiIing. SeIain itu wajib pajak juga diperkenankan untuk bertanya mengenai haI-haI yang berkaitan dengan penerapan pajak progresif di SAMSAT Kota Makassar.
Kasus yang sering terjadi pada wajib pajak yang merupakan daIam mengatur urutan kendaraan bermotornya, dimana kendaraan sebeIumnya teIah dijuaI oIeh wajib pajak namun beIum diIakukan baIik nama, kepaIa peIaksana peIayanan di Kantor Bersama SAMSAT kota Makassar mengatakan bahwa soIusinya adaIah wajib pajak dapat Iangsung datang ke Kantor SAMSAT untuk segera diIakukan pembIokiran terhadap kendaraan yang teIah dijuaInya. PembIokiran ini
diIakukan agar kendaraan yang teIah dijuaI oIeh wajib pajak tidak perIu Iagi untuk membayar pajak kendaraan bermotornya.
c. Denda Terhadap Keterlambatan Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor
Denda yang dikenakan karena keterlambatan pembayaran pajak yaitu denda atas PKB dan denda atas SWDKLLJ. Kedua hal tersebut yang sebenarnya harus wajib pajak bayar tiap tahunnya. Apabila terlambat melakukan pembayaran atas dua kategori pajak tersebut maka akan dikenakan denda yang cara perhitungannya sebagai berikut.
1. Denda atas PKB, denda PKB adalah 25% dalam kurung waktu satu tahun, apabila motor/mobil wajib pajak baru dalam 3 bulan masa keterlambatannya maka cara perhitungannya: PKB x 25% x (3/12), jika 6 bulan, PKB x 25% x (6/12), dan seterusnya.
2. Denda atas SWDKLLJ ini akan terlihat sama antara terlambat 3 hari atau 1 tahun. Untuk mobil ditetapkan dendanya sebesar RP 143.000, sedangkan untuk motor sebesar RP 35.000.
d. Kendala Yang di Hadapi Oleh SAMSAT Kota Makassar Dalam Penerapan Pajak Progresif
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan bersama Bapak H. Makmur Majid, S.Sos (Kepala Kasi Penagihan dan Penerimaan) mengemukakan bahwa.
“Dalam setiap peraturan baru tentu ada berbagai kendala yang dihadapi. Tidak terkecuali dengan penerapan pajak progresif ini meskipun sudah terbilang lama setelah diterapkannya pajak progresif di Kota Makassar, masih ada beberapa wajib pajak yang belum mengetahui secara detail mengenai pajak progresif”.
(17 Februari 2021)
50
Berikut beberapa kendala yang dihadapi oleh pihak SAMSAT adalah sebagai berikut.
Kendala dari pihak SAMSAT
1) Masih kurangnya sosialisasi tentang pajak progresif kepada wajib pajak, sehingga banyak dari mereka yang belum mengetahui atau belum memahami peraturan baru ini.
2) Belum dipisahkannya data tentang subjek dan objek pajak progresif kendaraan bermotor, sehingga sampai sekarang belum dapat diketahui pasti berapa jumlah subjek dan objek pajak kendaraan bermotor tersebut.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan bersama Bapak Zainuddin selaku wajib pajak mengemukakan bahwa.
“Kurangnya minat membayar pajak progresif oleh masyarakat disebabkan karena masih kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat sehingga banyak masyarakat yang masih belum mengetahui tentang penerapan pajak progresif ini”. (17 Februari 2021)
Berikut beberapa kendala yang dihadapi oleh wajib pajak adalah sebagai berikut.
Kendala dari wajib pajak
1) Masih kecilnya tingkat pemahaman wajib pajak terhadap penerapan pajak progresif.
2) Adanya wajib pajak yang menunda pembayaran pajak kendaraan bermotornya sehingga terjadi penunggakan.
3) Banyak wajib pajak yang telah menjual kendaraan bermotornya tetapi belum melaporkannya ke SAMSAT.
2. Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Progresif Kendaraan bermotor Pada Kantor SAMSAT Kota Makasar
Berdasarkan pada Peraturan Daerah Provinsi SuIawesi SeIatan Nomor 8 Tahun 2017 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi SuIawesi SeIatan No 10 Tahun 2010 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dengan tata cara peIaksaannya mengacu pada ketentuan peraturan Gubernur SuIawesi SeIatan Nomor 90 Tahun 2018 tentang pajak daerah jenis pajak kendaraan bermotor dan bea baIik nama kendaraan bermotor, maka prosedur pemungutan pajak kendaraan bermotor yang berIaku di SAMSAT Kota Makassar mempunyai ketentuan tata cara pemungutan yaitu dimuIai dari tahap pendaftaran, tahap penetapan, sampai pada tahap pembayaran sampai dengan tahap penyetoran.
a. Pendaftaran
Pengambilan nomor antrian dan kemudian dimulai dari pendaftaran, dimana terdapat beberapa loket pelayanan yang tersedia bagi wajib pajak untuk memudahkan dalam membayar pajak, mulai pada loket 1 untuk menyetor berkas pendaftaran dan dilayani oleh petugas pihak kepolisian yang bertugas memeriksa kelengkapan berkas wajib pajak. Berkas yang harus dilengkapi oleh wajib pajak antara lain:
1) Fotocopy BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) 2) Fotocopy KTP (Kartu Tanda Penduduk)
3) Fotocopy STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan)
Kelengkapan tersebut berlaku bagi wajib pajak yang kendaraan bermotornya sudah terdaftar sebelumnya atau yang disebut dengan istilah kendaraan ulang.
52
Sedangkan untuk kendaraan baru maka berkas yang harus dilengkapi oleh wajib pajak yakni:
1) Faktur pembelian kendaraan bermotor 2) Kwitansi pembelian kendaraan bemotor 3) KTP (Kartu Tanda Pengenal)
4) Bukti hasil pemeriksaan fisik kendaraan bermotor
5) Setelah petugas memeriksa dan memberikan stempel pengesahan dan dinyatakan berkas telah lengkap, maka selanjutnya dilakukan penginputan untuk didaftarkan.
b. Penetapan
Pada tahap penetapan yang melayani wajib pajak adalah petugas dari dinas pendapatan daerah provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahap ini data wajib pajak yang telah terdaftar akan ditetapkan jumlah besaran pajaknya, baik BBNKB maupun PKB nya serta denda bagi wajib pajak yang telah melewati batas jatuh tempo pembayaran pajak. Kemudian mengenai cara menghitung besarnya PKB dan menghitung PKB terutang pada SAMSAT Kota Makassar dilakukan dengan cara mengalikan tarif pajak yang besarnya ditetapkan dengan keputusan Gubernur berdasarkan keputusan menteri dalam ngeri.
c. Pembayaran Oleh Wajib pajak
Kemudian untuk tata cara pembayaran dan penyetoran pajak kendaraan bermotor pada SAMSAT Kota Makassar, PKB dibayar sekaligus dimuka untuk masa 12 (dua belas) bulan, pembayaran dilakukan tiga hari sebelum atau sampai dengan tanggal jatuh tempo, dalam hal jatuh tempo pembayaran jatuh tempo pada hari libur, maka pembayaran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
Setelah pembayaran dilakukan maka wajib pajak akan menerima SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah) sebagai bukti pembayaran telah dilakukan.
d. Pengesahan STNK/Percetakan STNK
Pada tahap ini untuk kendaraan ulang maka STNK milik wajib pajak akan disahkan berupa stempel pengesahan bukti bahwa telah melakukan pembayaran. Sedangkan, untuk kendaraan baru atau kendaraan yang ganti nomor kendaraan akan dilakukan pencetakan STNK baru.
3. Mekanisme Penerapan Pajak Progresif Pada Kendaraan Bermotor
Mekanisme merupakan cara kerja atau cara menjalankan sesuatu dalam alur kerja yang ditempuh dalam pelaksanaan suatu pekerjaan dalam sebuah organisasi. Penerapan pajak progresif akan dikenakan bagi wajib pajak yang memiliki urutan kepemilikan kendaraan lebih dari satu dengan nama dan alamat yang sama. Berikut penulis akan memaparkan cara penentuan urutan kepemilikan dan perhitungan jumlah pembayaran pajak progresif kendaraan bermotor pada contoh kasus berikut ini:
Contoh kasus penerapan pajak progresif Kasus 1
Pak Agung memiliki beberapa kendaraan sebagai berikut:
1. Satu buah kendaraan roda dua Honda Beat 110 Tahun 2011
2. Dua buah mobil yaitu, Toyota New New Avanza 1300 Tahun 2010 beli april 2011, Nissan March 1.2 Tahun 2011 dibeli juni 2012
Berapa perhitungan pajak kendaraan bermotornya?
Analisis:
Pak Agung memiliki 3 buah kendaraan bermotor yang urutan kepemilikannya adalah Honda Beat 110, Toyota New Avanza 1300 Tahun 2010, Nissan March
54
1.2 Tahun 2011. Dalam Pengenaan Pajak Progresif hanya pada motor ke motor dan mobil ke mobil, Honda Beat bukan merupakan objek pajak progresif Karena kendaraan roda dua pertama dan isi silinder dibawah 500cc sehingga terhitung pajak normal 1,5%, untuk Toyota New Avanza 1300 termasuk objek pajak progresif, namun masih tetap terhitung pajak normal 1,5% karena termasuk kepemilikan kendaraan roda empat pertama, sedangkan Nissan March 1.2 terkena pajak progresif dengan tarif pajak 2% karena merupakan kepemilikan kendaraan roda empat kedua.
Perhitungan:
1. Honda Beat 110 kepemilikan roda 2 pertama (bukan pajak progresif) PKB = 1,5% x NJKB
= 1,5% x Rp9.000.000,00
= Rp135.000,00 SWDKLLJ = Rp35.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp135.000,00 + Rp35.000,00
= Rp170.000,00
2. Toyota New Avanza 1300 (objek pajak progresif kepemilikan roda 4 pertama)
PKB = 1,5% x NJKB
= 1,5% x Rp115.200.000,00
= Rp1.728.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp1.728.000,00 + Rp143.000,00
= Rp1.871.000,00
3. Nissan March 1.2 (objek pajak progresif kepemilikan roda 4 kedua)
PKB = 2% x NJKB
= 2% x Rp150.000.000,00
= Rp3.000.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp3.000.000,00 + Rp143.000,00
= Rp3.143.000,00 Penjelasan:
1. Untuk kendaraan pertama PKB nya dikenai tarif pajak normal 1,5%
sebesar Rp170.000,00 dikenakan pajak normal karena kendaraan tersebut bukan merupakan objek pajak progresif (dibawah silinder 500cc).
2. Untuk kendaraan kedua PKB nya dikenai tarif normal 1,5% sebesar Rp1.871.000,00 dikenakan pajak normal karena kendaraan tersebut merupakan kepemilikan kendaraan roda empat pertama meskipun sudah termasuk objek pajak progresif.
3. Untuk kendaraan ketiga dikenai tarif pajak progresif 2% sebesar Rp3.143.000,00 dikarenakan sudah termasuk objek progresif dan kepemilikan kendaraan roda empat kedua.
Kasus 2
Pak Henri memiliki mobil sebagai berikut:
1. Honda CR-V 2.4 Tahun 2011 membeli bekas lalu dijual kembali pada juni 2012 dan sudah melaporkan ke SAMSAT bahwa mobil tersebut sudah dijual (berpindah tangan)
56
2. Toyota Corolla Altis Tahun 2012 membeli bekas pada 1 juni kemudian melakukan bailk nama atas kendaraan tersebut
3. Daihatsu Xenia beli januari 2012 Berapa pajak kendaraan bermotornya?
Analisis:
Untuk urutan data kepemilikan kendaraan mobil Pak Henri adalah mobil pertama Toyota Corolla Altis dan mobil kedua Daihatsu Xenia. Mobil Toyota Corolla Altis termasuk objek pajak progresif, namun tetap dikenakan tarif pajak normal 1,5%
karena termasuk kepemilikam roda empat pertama, dan Daihatsu Xenia tekena pajak progresif 2% karena merupakan kepemilikan kendaraan roda empat kedua, sedangkan untuk mobil Honda CR-V tidak terkena pajak progresif karena kendaraan tersebut telah dijual dan telah dilaporkan ke SAMSAT, dan akan segera dibolir untuk dilakukan bailk nama oleh pemilik baru.
Perhitungan:
1. Toyota Corolla Altis kepemilikan pertama (pajak normal) PKB = 1,5% x NJKB
= 1,5% x Rp95.000.000,00
= Rp1.425.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp1.425.000,00 + Rp143.000,00
= Rp1.568.000,00
2. Daihatsu Xenia kepemilikan kedua (pajak progresif)
PKB = 2% x NJKB
= 2% x Rp233.000.000,00
= Rp4.660.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp4.660.000,00 + Rp143.000,00
= Rp4.803.000,00 Penjelasan:
1. Untuk pajak mobil kendaraan pertama masih dikenai tarif normal 1,5%
sebesar Rp1.568.000,00 karena merupakan kepemilikan kendaraan roda empat pertama.
2. Untuk pajak mobil kedua sudah terkena pajak progresif 2% karena merupakan kepemilikan kendaraan roda empat kedua sebesar Rp4.803.000,00.
Kasus 3
Ibu Hasnah memiliki sejumlah kendaraan sebagai berikut:
1. Suzuki Carry Tahun 2012 2. Daihatsu Xenia Tahun 2011 3. Toyota Avanza Tahun 2015 Berapa pajak kendaraan bermotornya?
Analisis:
Urutan data kepemilikan kendaraan bermotor ibu hasnah adalah kendaraan pertama Suzuki Caryy Tahun 2012, kendaraan kedua Daihatsu Xenia Tahun 2011, dan kendaraan ketiga Toyota Avanza tahun 2015. Susuki Carry merupakan kendaraan pertama dengan tarif pajak 1,5%, Daihatsu Xenia merupakan kendaraan kedua dengan tarif pajak progresif 2%, dan Toyota
58
Avanza merupakan kepemilikan ketiga dan terkena pajak progresif dengan tarif 2,25%.
Perhitungan:
1. Suzuki Carry tahun 2012 kepemilikan pertama (pajak normal) PKB = 1,5% x NJKB
= 1,5% x Rp75.000.000,00
= Rp1.125.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp1.125.000 + Rp143.000,00
= Rp1.268.000,00
2. Daihatsu Xenia tahun 2011 kepemilikan kedua (pajak progresif)
PKB = 2% x NJKB
= 2% x Rp90.000.000,00
= Rp1.800.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp1.800.000,00 + Rp143.000,00
= Rp1.943.000,00
3. Toyota Avanza tahun 2015 kepemilikan ketiga (pajak progresif) PKB = 2,25% x NJKB
= 2,25% x Rp98.000.000,00
= Rp2.205.000,00 SWDKLLJ = Rp143.000,00 Total = PKB + SWDKLLJ
= Rp2.205.000,00 + Rp143.000,00
= Rp2.348.000,00 Penjelasan:
1. Untuk kendaraan pertama PKB nya sebesar Rp1.268.000,00 dengan tarif normal 1,5% karena merupakan kepemilikan kendaraan pertama.
2. Untuk kendaraan kedua PKB nya sebesar Rp1.943.000,00 dengan tarif 2% merupakan pajak progresif karena termasuk kepemilikan kendaraan kedua.
3. Untuk kendaraan ketiga PKB nya sebesar Rp2.348.000,00 dengan tarif 2,25% merupakan pajak progresif karena kepemilikan kendaraan ketiga.
4. Realisasi Penerimaan PKB Setelah Diterapkannya Pajak Progresif
Penerimaan atau realisasi PKB merupakan dasar untuk mengetahui seberapa besar laju pertumbuhannya. Laju pertumbuhan ini dapat digunakan untuk mengetahui kenaikan atau perkembangan pajak kendaraan bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah. untuk mengetahui laju pertumbuhan maka dapat diambil rumus:
Realisasi Penerimaan tahun Sekarang − Penerimaan Tahun Sebelumnya
Realisasi Penerimaan Tahun Sebelumnya × 100%
Berikut tabel perbandingan realisasi penerimaan PKB dari tahun 2015-2019 Tabel 4. 2 Perbandingan Realisasi Penerimaan PKB Tahun 2015-2019
Tahun Realisasi Tahun Sekarang (Rp)
Realisasi Tahun Sebelumnya (Rp)
Tingkat Pertumbuhan 2015 864.035.466.789 808.334.261.823 7%
2016 913.786.131.957 864.035.466.789 6%
2017 627.118.201.008 913.786.131.957 -3%
60
2018 545.175.544.238 627.118.201.008 -1,3%
2019 568.162.796.000 545.175.544.238 4%
Sumber: SAMSAT Kota Makassar, 2020 Perhitungan:
Tahun 2015 = 864.035.466.789−808.334.261.823
808.334.261.823 × 100% = 7%
Tahun 2016 = 913.786.131.957−864.035.466.789
864.035.466.789 × 100% = 6%
Tahun 2017 = 627.118.201.008−913.786.131.957
913.786.131.957 × 100% = −3%
Tahun 2018 = 545.175.544.238−627.118.201.008
627.118.201.008 × 100% = −1,3%
Tahun 2019 = 568.162.796.000−545.175..544.238
545.175.544.238 × 100% = 4%
Perhitungan diatas menunjukkan bahwa penerimaan pajak kendaraan bermotor setelah diberlakukannya pajak progresif tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2015 realisasi penerimaan pajak kendaraan bermotor sebesar 7%, pada tahun 2016 sebesar 6%, di tahun 2017 mengalami penurunan yang cukup drastis sebesar -3%, kemudian pada tahun 2018 sebesar -1,3%, baru pada tahun 2019 penerimaan pajak kendaraan bermotor mengalami kenaikan sebesar 4%.