• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Rasio Desentralisasi Fiskal

Tingkat desentralisasi fiskal adalah ukuran untuk menunjukkan tingkat kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan.

Tingkat desentralisasi fiskal dalam penelitian ini diukur dengan cara membandingkan perolehan PAD dengan total penerimaan daerah.

Semakin tinggi pendapatan asli daerah maka semakin tinggi pula kemampuan keuangan dalam mendukung otonomi daerah. Rasio ini dirumuskan sebagai berukit:

π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ π·π‘’π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘™π‘–π‘ π‘Žπ‘ π‘– πΉπ‘–π‘ π‘˜π‘Žπ‘™ = Pendapatan Asli Daerah

Total Penerimaan Daerahπ‘₯ 100%

Hasil perhitungan rasio desentralisasi fiskal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1

Perhitungan Rasio Desentralisasi Fiskal Tahun Pendapatan Asli

Daerah (Rp)

Total Penerimaan

Daerah (Rp)

Rasio Desentralisasi

Fiskal

2015 154.772.384.000,10 1.450.811.765.394,00 10,67%

2016 187.176.036.300,40 1.612.246.983.358,60 11,61%

2017 268.339.203.299,15 1.790.263.499.730,15 14,99%

2018 217.112.642.503,37 1.781.396.471.000,37 12,19%

2019 238.239.570.974,67 1.870.608.908.440,64 12,74%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.1 di atas, diketahui bahwa Rasio Desentralisasi Fiskal Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 0,94% (11,61%-10,67%), 2016-2017 sebesar 3,38% (14,99%-11,61%), dan 2018-2019 sebesar 0,55% (12,74%-12,19%). Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2017-2018 sebesar 2,80% (14,99%-12,19%).

Grafik Rasio Desentralisasi Fiskal

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.2 2. Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Tingkat ketergantungan keuangan daerah adalah ukuran tingkat kemampuan daerah dalam membiayai aktifitas pembangunan daerah melalui optimalisasi pendapatan asli daerah. Tingkat ketergantungan keuangan daerah dalam penelitian ini diukur dengan cara membandingkan perolehan PAD dengan total penerimaan APBD tanpa subsidi (Dana Perimbangan). Semakin tinggi rasio ini maka

0,00%

5,00%

10,00%

15,00%

2015 2016 2017 2018 2019

10,67% 11,61%

14,99%

12,19% 12,74%

Rasio Desentralisasi Fiskal

Rasio Desentralisasi Fiskal

semakin besar tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Rasio ini dirumuskan sebagai berukit:

π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ πΎπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘Žπ‘›π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› = Pendapatan Asli Daerah

Total Penerimaan APBD Tanpa Subsidiπ‘₯ 100%

Hasil perhitungan rasio ketergantungan keuangan daerah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2

Perhitungan Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah Tahun Pendapatan Asli

Daerah (Rp)

Penerimaan non subsidi

(Rp)

Rasio Ketergantungan

2015 154.772.384.000,10 497.024.656.895,00 31,14%

2016 187.176.036.300,40 386.392.821.321,60 48,44%

2017 268.339.203.299,15 486.169.602.967,15 55,19%

2018 217.112.642.503,37 544.313.613.853,37 39,89%

2019 238.239.570.974,67 611.704.058.324,64 38,95%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.2 di atas, diketahui bahwa Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 17,30% (48,44%-31,14%), 2015-2016-2017 sebesar 6,75%

(55,19%-48,44%). Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2017-2018 sebesar 15,30% (55,19%-39,89%), 2017-2018-2019 sebesar 0,94%

(39,89%-38,95%).

Grafik Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.3 3. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Tingkat kemandirian keuangan daerah adalah ukuran untuk menunjukkan tingkat kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pembangunannya. Tingkat kemandirian keuangan daerah dalam penelitian ini diukur dengan cara membandingkan perolehan PAD dengan bantuan pemerintah pusat dan pinjaman. Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi pula kemandirian keuangan daerah. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:

π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ πΎπ‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘Žπ‘› = Pendapatan Asli Daerah

Bantuan Pemerintah Pusat dan Pinjamanπ‘₯ 100%

Hasil perhitungan rasio kemandirian keuangan daerah dapat dilihat pada tabel berikut:

0,00%

10,00%

20,00%

30,00%

40,00%

50,00%

60,00%

2015 2016 2017 2018 2019

31,14%

48,44%

55,19%

39,89% 38,95%

Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Tabel 4.3

Perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Tahun Pendapatan Asli

Daerah (Rp)

Bantuan Pemerintah Pusat

(Rp)

Rasio Kemandirian

2015 154.772.384.000,10 1.201.383.189.499,00 12,88%

2016 187.176.036.300,40 1.309.595.572.037,00 14,29%

2017 268.339.203.299,15 1.403.726.768.455,00 19,12%

2018 217.112.642.503,37 1.387.319.773.146,00 15,65%

2019 238.239.570.974,67 1.426.977.676.116,00 16,70%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.3 di atas, diketahui bahwa Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 1,41% (14,29%-12,88%), 2015-2016-2017 sebesar 4,83%

(19,12%-14,29%), 2018-2019 sebesar 1,05% (16,70%-15,65%).

Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2017-2018 sebesar 3,47% (19,12%-15,65%).

Grafik Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.4 4. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan besarnya perbandingan antara biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan analisis pendapatan yang diterima. Tingkat efisiensi pendapatan asli daerah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rasio biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD terhadap pendapatan asli daerah. Semakin kecil rasio efisiensi maka semakin baik kinerja pemerintah daerah. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:

π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ 𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝐴𝐷 =Biaya yg dikeluarkan untuk memungut PAD

Realisasi Penerimaan PAD π‘₯ 100%

Hasil perhitungan rasio efisiensi pendapatan asli daerah dapat dilihat pada tabel berikut:

0,00%

5,00%

10,00%

15,00%

20,00%

2015 2016 2017 2018 2019

12,88% 14,29%

19,12%

15,65% 16,70%

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Tabel 4.4

Perhitungan Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Tahun Biaya yang dikeluarkan

untuk memperoleh pendapatan

(Rp)

Pendapatan Asli Daerah

(Rp)

Rasio Efisiensi PAD

2015 119.094.004.465,06 154.772.384.000,10 76,95%

2016 170.049.677.232,00 187.176.036.300,40 90,85%

2017 188.483.936.792,00 268.339.203.299,15 70,24%

2018 213.574.646.495,00 217.112.642.503,37 98,37%

2019 241.628.414.434,57 238.239.570.974,67 101,42%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.4 di atas, diketahui bahwa Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 13,90% (90,85%-76,95%), 2017-2018 sebesar 28,13% (98,37%-70,24%), 2018-2019 sebesar 3,05% (101,42%-98,37%). Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2016-2017 sebesar 20,61% (90,85%-70,24%).

Grafik Rasio Efisiensi PAD

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.5

Adapun hasil dari perhitungan analisis rasio keuangan Pemerintah Kabupaten Gowa periode 2015-2019 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Hasil Analisis Rasio Keuangan

Tahun X1 X2 X3 Y

2015 10,67 31,14 12,88 76,95 2016 11,61 48,44 14,29 90,85 2017 14,99 55,19 19,12 70,24 2018 12,19 39,89 15,65 98,37 2019 12,74 38,95 16,70 101,42 Sumber: Data primer yang diolah, 2020

0,00%

20,00%

40,00%

60,00%

80,00%

100,00%

120,00%

2015 2016 2017 2018 2019

76,95%

90,85%

70,24%

98,37% 101,42%

Rasio Efisiensi PAD

Rasio Efisiensi PAD

5. Uji Hipotesis

Analisis kinerja keuangan daerah Pemerintah kabupaten Gowa terhadap efisiensi PAD atau pengaruh rasio desentralisasi fiskal, rasio ketergantungan keuangan daerah, rasio kemandirian keuangan daerah terhadap efisiensi PAD dapat dilihat dari analisis regresi berganda dengan menggunakan SPSS (Statistical Produt Service Solution) seperti pada lampiran berikut:

Tabel 4.6

Hasil Analisis Regresi

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 224,437 6,881 32,618 ,020

rasio desentralisasi -64,243 2,947 -7,684 -21,801 ,029

rasio ketergantungan 1,116 ,120 ,765 9,277 ,068

rasio kemandirian 39,080 1,793 6,871 21,799 ,029

a. Dependent Variable: rasio efisiensi

Sumber : Data primer yang diolah, 2020

Berdasarkan hasil analisis regresi yang tertera pada tabel 4.5 diatas, diperoleh persamaan regresi yang distandarkan, yaitu:

Efisiensi = -7,684RDDF + 0,765RK + 6,871RK Di mana:

RDF = Rasio Desentralisasi Fiskal RK = Rasio Ketergantungan RK = Rasio Kemandirian

Model regresi tersebut menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikan rasio desentralisasi fiskal satu satuan akan diikuti kenaikan rasio efisiensi sebesar -7,684.

a. Uji T atau Uji Parsial

Berdasarkan data pada tabel diatas, hasil uji hipotesis parsial (uji t) dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Diketahui nilai signifikan untuk pengaruh X1 terhadap Y adalah sebesar 0,029 < 0,05 dan nilai t hitung -21,801 > t tabel 12,706, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima yang berarti terdapat pengaruh antara rasio desentralisasi fiskal terhadap efisiensi PAD.

2) Diketahui nilai signifikan untuk pengaruh X2 terhadap Y adalah sebesar 0,068 > 0,05 dan nilai t hitung 9,277 < t tabel 12,706, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis ditolak yang berarti tidak berpengaruh antara rasio ketergantungan keuangan daerah terhadap efisiensi PAD.

3) Diketahui nilai signifikan untuk pengaruh X3 terhadap Y adalah sebesar 0,029 < 0,05 dan nilai t hitung 21,799 > t tabel 12,706, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima yang berarti terdapat pengaruh antara rasio kemandirian keuangan daerah terhadap efisiensi PAD.

Dokumen terkait