• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Analaisis deskriptif bertujuan untuk menguji generalisasi hasil penelitian berdasarkan sampel penelitian. Bentuk data ini meliputi data minimum, maximum, mean, dan standar deviasi. Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel dalam penelitian, meliputi variabel independent yaitu Return On Asset, Return On Equity, Earning Per Share, dan Debt To Equity Ratio serta variabel dependen yaitu harga saham.

Data yang diambil untuk penelitian ini adalah data Triwulan I 2020-Triwulan I 2021. Hasil statistik deskriptif pada penelitian ini disajikan pada tabel 4.1 sebagai berikut:

Tabel 4.1

Hasil Statistik Deskriptif Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std.

Deviation

ROA 45 -1.55 24.26 4.4318 4.94675

ROE 45 -4.43 28.99 6.4698 6.32271

EPS 45 -16.00 175.00 45.7196 49.73689

DER 45 11.91 321.51 98.2229 83.19299

HARGA SAHAM 45 181 4250 1722.47 922.979

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriprif pada tabel diatas dapat diketahui bahwa N sebanyak 45 yang diperoleh data dari Return On Asset, Return On Equity, Earning Per Share, Debt to Equity Ratio, dan Harga Saham yang merupakan data yang valid tanpa ada data yang hilang.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Varibel Return On Asset di peroleh nilai minimum -1,55 dan nilai maksimum 24,26. Sedangkan nilai mean sebesar 4,4318 dan standar deviasi 4,94675.

b. Variabel Return On Equity di peroleh nilai minimum -4,43 dan nilai maksimum 28,99. Sedangkan nilai mean 6,4698 dan standar deviasi 6,32271.

c. Variabel Earning Per Share di peroleh nilai minimum -16,00 dan nilai maksimum 175,00. Sedangkan nilai mean 45,7196 dan standar deviasi 49,73689.

d. Variabel Debt to Equity Ratio di peroleh nilai minimum 11,91 dan nilai maksimum 321,51. Sedangkan nilai mean 98,2229 dan standar deviasi 89,19299.

e. Variabel Harga Saham di peroleh nilai minimum Rp181 dan nilai sebaran data pada sebuah kelompok data variabel. Uji normalitas berguna untuk menguji apakah dalam sebaran data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan one-sample Kolmogorov-smirnov dengan ketentuan jika nilai signifikan > 0,05 maka nilai residual tersebut berdistribusi normal.

hasil uji normalitas menggunakan uji one-sample Kolmogorov-smirnov disajikan pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas

Hasil One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 45

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std.

Deviation

774.88071702

Most Extreme Differences Absolute .073

Positive .073

Negative -.061

Test Statistic .073

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

a. Test distribution is Normal.

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Hasil pengujian pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai sig. (2-tailed) 0,200 > 0,05. dengan hasil tersebut maka dapat dikatakan bahwa nilai residual berdistribusi normal dan layak digunakan sebagai data penelitian.

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antar variabel bebas dalam model regresi yang digunakan. Untuk mengetahui terjadinya multikoliniearitas pada model regresi, dasar pengambilan keputusan untuk menguji adanya multikolinearitas dengan menggunakan metode tolerance value atau variance inflation factor (VIF).

Batas dalam keputusan dari tolerance > 0,100 dan nilai VIF lebih kecil dari 10,00 atau < 10,00, maka tidak terjadi multiklonearitas. Hasil uji multikoliniearitas disajikan pada tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4.3

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 (Constant)

ROA .116 8.647

ROE .131 7.620

EPS .690 1.450

DER .491 2.035

a. Dependent Variable: HARGA SAHAM

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Hasil pengujian multiklonearitas pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa nilai tolerance pada masing-masing variabel independen lebih besar dari 0,100 atau > 0,100 yaitu 0,116 untuk Return On Asset, 0,131

untuk Return On Equity, 0,690 untuk Earning Per Share, dan 0,491 untuk Debt to Equity Ratio. Hasil nilai VIF pada masing-masing variabel Independen lebih kecil 10,00 atau < 10,00 yaitu 8,647 untuk Return On Asset, 7,620 untuk Return On Equity, 1,450 untuk Earning Per Share, dan 2,035 untuk Debt to Equity Ratio. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas dan model regresi dikatakan baik.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi ini digunakan untuk mengetahui apakah ada atau tidaknya autokorelasi dalam suatu model regresi yang dilakukan dengan pengujian terhadap nilai uji Durbbin Watson. Durbbin Watson (DW) digunakan untuk mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variable lagi di antara variable independent.

Hasil uji Autokorelasi disajikan pada tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4

a. Predictors: (Constant), DER, EPS, ROE, ROA b. Dependent Variable: HARGA SAHAM

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Hasil pengujian autokorelasi pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa angka Durbin Watson pada model regresi sebesar 1,058 dimana nilai Durbin Watson diantara -2 dan +2, maka dapat dikatakan bahwa data penelitian menunjukkan tidak terdapat autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk untuk mengetahui apakah ada penyimpangan dari syarat-syarat asumsi klasik pada model regresi, dimana model regresi harus dipenuhi syarat tidak adanya heteroskedastisitas. Dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas, jika tidak ada pola yang jelas (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada gambar scatterplots, serta titik-titik menyebar di atas di dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hasil uji heteroskedastisitas disajikan pada gambar 4.2 sebagai berikut:

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Gambar 4.2

Hasil Grafik Scatterplot Heteroskedastisitas

Berdasarkan Gambar 4.2 grafik scatterplot diatas dapat dilihat bahwa titik-titik data dari variabel independent menyebar diatas dan dibawah angka 0, serta tidak membentuk pola menyempit, melebar, dan bergelombang. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk memperkuat hasil uji scatterplot, maka

diperlukan pengujian lebih yaitu uji glejser heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan, jika nilai sig lebih besar dari 0,05 atau > 0,05 maka disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. Begitupun dengan sebaliknya, jika nilai sig lebih kecil dari 0,05 atau < 0,05 maka disimpulkan terjadi heteroskedastisitas. Hasil analisis uji glejser disajikan pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5

Hasil Uji Glejser Heteroskedastisitas Coefficientsa

a. Dependent Variable: abs_RES

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa variabel independent (bebas) yaitu Return On Asset, Return On Equity, Earning Per Share, dan Debt to Equity Ratio lebih besar dari 0,05. Nilai signifikan dapat dilihat sebagai berikut, 0,924 untuk Return On Asset, 0,471 untuk Return On Equity, 0,298 untuk Earning Per Share, dan 0,114 untuk Debt to Equity Ratio. maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat gejala heteroskedastisitas.

3. Pengujian Hipotesis

a. Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Model analisis data ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel Independen yaitu rasio keuangan yang akan diukur dengan Return on Asset (X1), Return on Equity (X2), Earning per Share (X3), dan Debt to Equity Ratio (X4) terhadap variabel dependen yaitu harga saham (Y) pada perusahaan sub-sektor farmasi yang di Bursa Efek Indonesia selama pandemi covid-19. Berikut tabel hasil uji regresi linier berganda yang diolah menggunakan SPSS 25.0 yang sudah disajikan pada tabel 4.6 sebagai berikut:

Tabel 4.6

Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Coefficientsa

a. Dependent Variable: HARGA SAHAM

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Berdasarkan tabel 4.6 diatas maka persamaan regresi linier berganda yaitu sebagai berikut:

Y= 1048,734 + 72,418 ROA – 89,366 ROE + 10,790 EPS + 4,456 DER + e Hasil persamaan regresi linier berganda dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Nilai konstanta sebesar 1048,734 menyatakan bahwa apabila variabel Return On Asset, Return On Equity, Earning Per Share, dan Debt to Equity Ratio konstan maka besarnya nilai harga saham sebesar 1048,734.

2) Nilai koefisien regresi 72,418 (X1) pada variabel Return On Asset terdapat hubungan positif dengan harga saham. Hal ini menunjukkan terjadi kenaikan 1% dari Return On Asset akan mempengaruhi harga saham.

3) Nilai koefisien regresi -89,366 (X2) pada variabel Return On Equity terdapat hubungan negatif dengan harga saham. Hal ini menunjukkan terjadi kenaikan 1% dari Return On Equity akan mempengaruhi harga saham.

4) Nilai koefisien regresi 10,790 (X3) pada variabel Earning Per Share terdapat hubungan positif dengan harga saham. Hal ini menunjukkan terjadi kenaikan 1% dari Earning per share akan mempengaruhi harga saham.

5) Nilai koefisien regresi 4,456 DER (X4) pada variabel Debt to Equity Ratio terdapat hubungan positif dengan harga saham. Hal ini menunjukkan terjadi kenaikan 1% dari Debt to Equity Ratio akan mempengaruhi harga saham.

b. Uji T (Uji Parsial)

Uji t (Uji Parsial) digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen mempengaruhi variabel dependen dengan dasar pengambilan keputusan jika nilai sig < 0,05, atau t hitung > t tabel maka terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y. sebaliknya jika nilai sig

> 0,05, atau t hitung < t tabel maka tidak terdapat pengaruh variabel X terhadap Y. Hasil analisis regresi linier berganda disajikan sebagai berikut:

Tabel 4.7 Hasil Uji T

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

a. Dependent Variable: HARGA SAHAM

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat disimpulkan bahwa mengenai uji hipotesis dari masing-masing variabel independent terhadap variabel dependen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Variabel X1 terhadap variabel Y

Pengujian return on asset terhadap harga saham menunjukkan nilai signifikansi 0,326 > 0,05. Artinya berdasarkan uji hipotesis maka H1

ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa return on asset berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham selama pandemi covid-19 pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2) Variabel X2 terhadap variabel Y

Pengujian return on equity terhadap harga saham menunjukkan nilai signifikansi 0,103 > 0,05. Artinya berdasarkan uji hipotesis maka H2

ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa return on equity berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham selama pandemi

covid-19 pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3) Variabel X3 terhadap variabel Y

Pengujian earning per share terhadap harga saham menunjukkan nilai signifikansi 0,001 < 0,05. Artinya berdasarkan uji hipotesis maka H3

diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa earning per share berpengaruh signifikan terhadap harga saham selama pandemi covid-19 pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4) Variabel X4 terhadap variabel Y

Pengujian debt to equity ratio terhadap harga saham menunjukkan nilai signifikansi 0,040 < 0,05. Artinya berdasarkan uji hipotesis maka H4 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa debt to equity ratio berpengaruh signifikan terhadap harga saham selama pandemi covid-19 pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

c. Uji F (Uji Simultan)

Uji simultan atau uji F dalam penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independent secara simultan dengan kriteria sebagai berikut:

1) Jika nilai signifikansi > 0,05 maka keputusannya adalah Ho atau variabel independent secara simultaan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent.

2) Jika nilai signifikansi < 0,05 maka keputusannya adalah tolak Ho atau variabel dependent secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent.

Uji F (Uji Simultan) ditunjukkan oleh dalam tabel ANOVA yang disajikan sebagai berikut:

Tabel 4.8 Hasil Uji F

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 11063831.673 4 2765957.918 4.188 .006b Residual 26419365.527 40 660484.138

Total 37483197.200 44

a. Dependent Variable: HARGA SAHAM b. Predictors: (Constant), DER, EPS, ROE, ROA

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Hasil uji F (simultan) pada tabel 4.8 menunjukkan nilai signifikansi 0,006 < 0,05. Artinya berdasarkan uji hipotesis maka Ha

diterima dan Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa return on asset (ROA), return on equity (ROE), Earning per Share (EPS), dan debt to equity ratio (DER) secara simultan memberikan berpengaruh signifikan terhadap harga saham selama pandemi covid-19 pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

d. Koefisisen Determinasi (R2)

Koefisien determinasi ini digunakan untuk mengukur seberapa jauhkah kemampuan dalam variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu (0<R2<1). Nilai R2 yang kecil berarti menunjukkan kemampuan variabel independent dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Jika nilai yang mendekati satu itu berarti variabel independent memberikan hampir

semua informasi yang dibutuhkan dalam memprediksi variasi suatu variabel dependen. Uji Koefisisen Determinasi dapat disajikan sebagai berikut:

a. Predictors: (Constant), DER, EPS, ROE, ROA b. Dependent Variable: HARGA SAHAM

(sumber: Hasil data olahan, 2021)

Pada tabel 4.9 diatas menunjukkan nilai Koefisien Determinasi atau R Square adalah sebesar 0,225 artinya 22,5% variabel terikat yaitu harga saham dipengaruhi oleh variabel bebas yang terdiri return on asset (ROA), return on equity (ROE), earning per share (EPS), dan debt to equity ratio (DER) sisanya 77,5% dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel yang digunakan.

Dokumen terkait