• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Implementasi Pola Pembinaan Islam terhadap Anak Terlantar di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah.

Peneliti memperoleh data baik melalui observasi, wawancara maupun dokumentasi tentang implementasi pola pembinaan Islam. Adapun model pembinaan yang diterapkan di yayasan ini adalah model pesantren atau diniyah. Seperti yang dikatakakan ibu Rosmani, selaku pembina di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah mengatakan bahwa: “Model pembinaan yang kami terapkan pada yayasan ini adalah model diniyah atau pesantren”.105

Sedangkan arti pembinaan Islam menurut ibu Rosmani, beliau mengatakan bahwa “Pembinaan Islam adalah membimbing dan memelihara anak-anak ke arah

105Hasil wawancara dengan Ibu Rosmani selaku pembina Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari jumat tanggal 22 juni 2018.

57

tuntunan agama Islam agar mereka paham mengenai agama Islam, hukum-hukum Islam dan mau melakukan segala perintah dan menjauhi larangan Allah”.106

Kemudian menurut bapak Subhan, selaku pengasuh di Yayasan Kasih Sayang, beliau mengatakan:

“Pembinaan di yayasan ini menurut saya yaitu mengajarkan anak-anak tentang ajaran Islam, membimbing dan mengarahkan anak-anak untuk berperilaku sesuai dengan ajaran Islam yang berlandaskan pada Al- Quran dan hadis. Beliau juga mengatakan bahwa pembinaan yang diterapkan di yayasan ini memiliki tujuan untuk menanamkan Islam di hati anak-anak, sehingga nantinya jika anak-anak ini telah keluar dari yayasan, mau jadi apapun, apakah lanjut sekolah ataupun tidak. Islam sudah tertanan di hati mereka sehingga tidak mudah untuk dikecohkan, dan tidak berani untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Islam.107

Senada yang dikatakan oleh ibu Wahdini selaku ustadzah di yayasan tersebut, beliau mengatakan bahwa:

“Pembinaan Islam adalah membina dan mengarahkan anak-anak untuk mengamalkan ajaran Islam dan tidak melenceng dari Al-Quran dan hadits. Tujuan pembinaan Islam ini bisa dilihat dari tujuan didirikannya yayasan ini adalah untuk menciptakan anak didik yang tegas dalam aqidah Islam dan memiliki komitmen kuat dalam menjalankan ajaran agama Islam, sehingga kemanapun mereka ini nantinya, Islam menjadi patokan mereka untuk berbuat.”108

Kemudian pendapat dari Fitri, selaku anak asuh di yayasan, beliau mengatakan “saya kesini untuk menimba ilmu kak, untuk belajar agar saya menjadi orang yang baik, mau shalat, dan mengaji.”109

106Hasil wawancara dengan Ibu Rosmani selaku pembina Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari jumat tanggal 22 juni 2018.

107

Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

108Hasil wawancara dengan ibu Wahdini selaku salah satu Ustadzah di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 26 juni 2018.

109Hasil wawancara dengan Fitri selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

58

Pelaksanaan pembinaan Islam yang diterapkan terhadap anak terlantar, sebenarnya sama saja pembinaannya dengan anak-anak lain yang ada di yayasan ini. bentuk pelaksanannya sama seperti pondok pesantren yang sudah terjadwal dalam kegiatan yang biasa dilakukan setiap hari.

Berdasarkan wawancara dengan ibu Rosmani, beliau mengatakan bahwa: “Pembinaan Islam terhadap anak terlantar sebenarnya sama saja dengan anak lainnya yaitu pada shubuh hari anak-anak sholat berjamah dan mengaji. Paginya anak sekolah formal. Selain itu anak-anak mengaji pada siang hari sampai ashar, setelah ashar anak-anak istirahat dan bermain. Pada malam hari anak-anak kembali mengaji sampai jam 21.00 bagi anak-anak sedangkan yang umur 15-an sampai jam 22.00”.110

Kemudian berdasarkan wawancara kepada bapak Subhan, bahwa pelaksanaan pembinaan Islam terhadap anak, beliau mengatakan:

“Pagi biasanya anak-anak mengaji. jika anak-anak tingkat iqra’ khusus hafalan. Menghafal doa sembahyang, rukun iman, rukun Islam dan doa sehari-hari. Jika yang tingkat Al-Quran ada juga menghafal, mengulang dan mengaji. Setelah itu mereka sekolah formal. Kegiatan siang mereka mengaji lagi, untuk anak-anak belajar iqra’, yang lebih besar ada yang mengaji Al-Quran dan kitab kuning dan ada juga yang tahfidz. Setelah ashar mereka istirahat dan bermain, untuk laki-laki ada yang bermain bola kaki dan bola voli. Untuk anak-anak ada yang main karet, serimbang dan bermacam-macam kerjaan anak-anak. Malamnya kembali ngaji lagi, untuk anak-anak waktunya sampai jam 21.00 karena namanya pun anak-anak, faktor umur, kalau yang tingkat kitab kuning baru sampai jam 22.00”.111

Tidak jauh berbeda, bapak Saimin juga mengungkapkan mengenai kegiatan anak sehari-hari: “Untuk kegiatan sehari-hari bisa dilihat dijadwal

110Hasil wawancara dengan Ibu Rosmani selaku pembina Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari jumat tanggal 22 juni 2018.

111

Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

59

kegiatan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, dan untuk sholat lima waktunya diwajibkan berjamaah, jika melanggar mendapat hukuman”.112

Senada juga yang dikatakan Siska selaku anak asuh di yayasan tersebut, ia mengatakan bahwa:

“Kalau pagi kak kan kami sholat subuh berjamaah, terus ngaji kitab. Setelah itu kami makan, bersih-bersih dan sekolah. Siang kami ngaji lagi, ngaji kitab. Kitabnya beda-beda ada matan taqrib, awamel, damon, tasrif, akhlak dan Riwayat Nabi. Setelah ashar kami nyuci, ada yang piket, ada yang cerita-cerita dan ada yang bermain. Malam kami ngaji lagi sampai jam 22.00itu untuk kami yang sudah tingkat kitab, tapi kalau untuk adik-adik sampai jam 21.00”.113

Pelaksanaan pembinaan Islam terhadap anak terlantar, pengasuh maupun ustadz/ustadzah menggunakan berbagai macam metode yang bertujuan untuk memudahkan anak menerima dan mengamalkan apa yang diajarkan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Subhan, beliau mengatakan: “Metode yang digunakan itu berdasarkan tingkatan anak. Di yayasan ini ada tiga tingkatan ada tingkat iqra, Al-Quran dan tingkat kitab dan disini juga ada program tahfidz. Dalam hal belajar biasanya menggunakan metode tradisional. Untuk tingkat iqra, kami menggunakan metode yaitu pertama kami membacakan terlebih dahulu hurufnya kemudian anak mengikuti sampai anak betul-betul tau bentuk huruf dan makharizul hurufnya. Ketika anak-anak mulai lancar, selanjutnya saya tunjuk satu persatu huruf secara acak, ini bertujuan agar anak tidak hanya sekedar menghafal huruf tetapi anak memang tau itu hurufnya dan dimana tempat keluarnya. Selanjutnya kalau memang sudah bisa dan lancar baru dipindahkan ke pengajian selanjutnya. Untuk anak-anak disamping belajar iqra’ mereka juga belajar bagaimana cara shalat yang baik dan benar, cara berwudhu, selanjutnya mengenalkan rukun Iman, rukun Islam, nama-nama malaikat, nama-nama Nabi, doa sehari-hari dan doa lainnya. Biasanya waktunya 30 menit setelah mengaji. Untuk tingkat Al-Quran cara yang digunakan ialah pertama guru terlebih dahulu membacakan ayat Al-Quran sedangkan anak dituntut harus mendengarkan dan memperhatikan

112Hasil wawancara dengan bapak Saimin selaku salah satu Ustadz di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 26 juni 2018.

113Hasil wawancara dengan Siska selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

60

bacaan yang dibacakan oleh guru. Selanjutnya anak-anak diuji satu per satu untuk melihat makharijul huruf dan panjang pendeknya suatu bacaan. Sedangkan untuk tingkat kitab, anak-anak memang diwajibkan harus bawa kitab masing-masing, membawa pensil dan penghapus. Cara belajarnya pertama guru membacakan isi kitab kemudian mengartikan kata per kata sedangkan anak-anak menulis terjemahannya di kitab masing-masing, setelah guru menerjemahkan kemudian baru dijelaskan maksud dari isi kitab yang sudah diterjemahkan tersebut.114

Sesuai dengan apa yang dikatakan bapak Saimin, selaku ustadz yang mengajar di bidang kitab, beliau mengatakan bahwa:

“Metodenya, pertama saya membaca dan menterjemahkan satu per satu kata, sedangkan anak-anak wajib menulis terjemahannya dikitabnya masing- masing. Jadi anak-anak harus bawa kitab sendiri dan membawa pensil. Setelah itu baru saya jelaskan dengan bahasa yang mudah mereka pahami seperti menggunakan contoh dalam setiap penjelasan. Kemudian pada pertemuan selanjutnya saya ulang lagi dengan menguji anak-anak, untuk mengetahui mereka paham atau tidak dengan apa yang dipelajari. Disamping itu anak-anak juga dibiasakan untuk menghafal seperti damon, tasrif, dan awamel yang merupakan pembendaharaan kata bahasa Arab, hafalan tersebut disetor setelah selesai ngaji dan yang bisa saya kasih pulang sedangkan yang belum bisa, saya kasih sanksi seperti tambah hafalan”.115

Berdasarkan pengamatan peneliti, peneliti mengamati di yayasan tersebut terdapat tiga tingkatan, pertama tingkat iqra’, kedua tingkat Al-Quran dan ketiga tingkat kitab kuning. Seluruh anak-anak belajar di masjid, mereka duduk secara melingkar sesuai dengan tingkatanya. Anak-anak nampak membacakan doa shalat, doa setelah belajar dan beshalawat secara bersama-sama setelah pengajian selesai. Kemudian anak pulang sembari menyalami tangan guru.116

114

Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

115Hasil wawancara dengan bapak Saimin selaku salah satu Ustadz di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 26 juni 2018.

116

Hasil observasi mengenai pelaksanaan pembinaan Islam pada siang hari di masjid pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

61

Selain itu, menurut Ibu Rosmani bahwa metode yang diterapkan adalah metode pembiasaan, seperti penjelasan ibu Rosmani berikut ini:

“Di yayasan ini anak-anak dibiasakan untuk bangun cepat, mandiri, sopan-santun,dan sholat berjamaah. Biasanya kalau disini lima belas menit sebelum sholat wajib, memang sudah diputar rekaman ngaji atau shalawat di masjid, itu tandanya bahwa anak-anak harus siap-siap pergi ke masjid. Untuk pemberian nasihat itu tergantung kebutuhan masing-masing anak, jika anak sekiranya membutuhkan sekali, mungkin karena sering melakukan kesalahan, jadi mereka ini saya kumpulkan pada satu tempat untuk saya nasihati. Saya memberi nasihat seminggu sekali dan biasanya setelah shalat subuh.

Berdasarkan pengamatan peneliti. Peneliti mendengar rekaman ngaji diputar di masjid, 15 menit sebelum waktu shalat. Sebagian anak-anak bersiap-siap pergi ke masjid. Namun, sebagian lagi masih ada di kamar dan dipekarangan yayasan. Peneliti juga mengamati, salah seorang ustadz yang sedang memantau dan mengarahkan anak-anak yang berada di kamar dan berkeliaran agar segera menuju ke masjid pada saat yang sama.117

Selanjutnya menurut ibu Wahdini, beliau mengatakan bahwa:

“Metode dalam pembinaan Islam bagi anak adalah bermacam- macam ada dengan menghafal, pembiasaan dan pemberian nasehat. Bagi anak-anak ada yang menghafal doa-doa sembahyang, membacanya secara bersama- sama dan doa sehari- hari seperti doa makan, doa ibu bapak, doa belajar dan lain-lain. untuk tingkat Al-Quran dan Kitab, anak- anak ini dibiasakan untuk menghafal Al-Quran dan kitab kuning yang ditugaskan ustadznya. Selain itu anak dibiasakan untuk shalat berjamaah. Mereka juga belajar tentang akhlak dan riwayat hidup Rasulullah. Dan anak-anak dibimbing untuk berperilaku baik seperti mengucapkan salam sebelum masuk, adab terhadap yang lebih tua, sesama dan kepada yang lebih kecil dan meneladani akhlak Rasulullah Saw.”118

117Hasil obervasi mengenai metode yang di terapkan dalam pembinaan Islam terhadap anak terlantar di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 24 Juni 2018.

118Hasil wawancara dengan ibu Wahdini selaku salah satu ustadzah di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 26 juni 2018.

62

Berbagai upaya dan usaha dilakukan oleh pengasuh maupun pengurus dalam melakukan pembinaan terhadap anak-anak. Hal ini dilakukan supaya anak terbiasa melakukan kebaikan baik di dalam maupun di luar yayasan, pengasuh berusaha dengan berbagai upaya yang di lakukan untuk membina anak menjadi lebih baik sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Subhan: “Menurut saya, metode dalam membina anak-anak tidak cukup hanya satu metode karena karakter anak berbeda-beda, jadi metodenya pun harus berbeda-beda, Ada yang dengan harus dipuji terlebih dahulu, ada yang harus lemah lembut dan ada juga yang memang dengan keras”.119

Hasil wawancara dengan ibu Rosmani, beliau menyatakan bahwa:

“Jika anak bermasalah mungkin seperti malas shalat, malas ngaji atau melanggar tata tertib biasanya diberikan hukuman ringan. Pemberian hukuman dilakukan setelah dicari sebab atau alasan kenapa anak tidak sholat maupun ngaji, jika sakit itu harus bagaimana, namanyapun sakit. Tapi kalau memang maen-maen ataupun malas diberikan hukuman ringan seperti ngutip sampah di pekarangan yayasan, nyiram tanaman dan membersihkan kamar mandi.”120

Hasil wawancara dengan Mahdalena selaku anak asuh di yayasan tersebut beliau mengatakan bahwa:

“Biasanya kak kan, kalau yang malas-malas. tidak ikut shalat jamaah secara sengaja biasanya hukumannya membersihkan kamar mandi, membersihkan taman bahkan ada yang disiram dan direndam. Kalau yang ketahuan merokok akan di keluarkan dari yayasan dan yang bawa hp, hpnya disita dan diserahkan ke ibu. Dan itu tidak menimbulkan jera kak, bahkan makin bandel”121

119

Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

120Hasil wawancara dengan Ibu Rosmani selaku pembina Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari jumat tanggal 22 juni 2018.

121Hasil wawancara dengan Mahdalena selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

63

Selanjutnya hasil wawancara dengan Siska, beliau mengatakan bahwa: “biasanya kalau yang melanggar peraturan dinasehati kak. Tergantung kesalahan yang dibuat, misal kalau yang ringan hukumannya membersihkan kamar mandi, menyapu halaman dan mengutip sampah kalau yang berat ada yang direndam dan disiram dan ada juga yang dikeluarkan. dan itu pada sebagian anak menimbulkan jera kak, pada sebagial lagi berubahnya paling dua hari-tiga hari setelah itu dia buat kesalahan lagi, bahkan makin parah.122

Berdasarkan pengamatan peneliti, pada saat peneliti mewancarai seorang anak, terlihat tiga anak laki-laki yang sedang mengutip sampah dipekarangan masjid dan peneliti menanyai kepada anak yang sedang peneliti wawancarai, ia mengatakan bahwa anak-anak tersebut sedang dihukum karena membuat keributan, bercanda dan mengganggu teman pada saat mengaji.123

Mengenai pembinaan psikologis, di Yayasan Kasih Sayang belum diterapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Rosmani, beliau mengatakan bahwa “kalau pembinaan psikologis, memang tidak diterapkan di yayasan ini, karena anak-anak tidak bermasalah dengan mentalnya. Kalau di sekolah, sebenarnya ada bimpen tetapi bimpennya itu cuman sore ada dan itupun beliau sering balik ke Luksemawe.124

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Subhan, beliau mengatakan bahwa:

“...pembinaan khusus psikologis belum diterapkan, cuman pas awal anak masuk ke yayasan ini saja dilakukan pendekatan, karena kan ketika anak pertama masuk ke yayasan ini masih pendiam, suka merenung, belum mau

122

Hasil wawancara dengan Siska selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

123

Hasil observasi pada tanggal 27 Juni 2018

124

Hasil wawancara dengan Ibu Rosmani selaku pembina Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari jumat tanggal 22 juni 2018.

64

bergabung dengan kawan lain, pas disinilah dilakukan pendekatan, seperti sering ngajak ngomong, pemberian motivasi, sering bercanda, agar anak bisa terbuka dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.125

2. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Pola Pembinaan Islam terhadap Anak Telantar di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah.

Beberapa faktor yang menjadi pendukung penerapan pola pembinaan Islam bagi anak terlantar di Yayasan Kasih Sayang menurut bapak Subhan adalah:

“Faktor pendukung adalah fasilitas seperti perpustakaan. Kalau saya, bahan pelajaran tidak sepenuhnya saya berikan kepada anak istilahnya siap saji, tetapi terkadang saya sengaja tidak memberikan bahan materi kepada mereka agar mereka bisa mencari sendiri bahannya di perpustakaan, ini tujuannya agar anak-anak terbiasa mandiri, memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya. menurut saya perpustakaan sangat mendukung anak untuk belajar, selain itu faktor pendukung lainnya adalah tempat, bagaimana belajar jika tidak ada tempat dan adanya fasilitas lain yang memadai seperti masjid dan kitab-kitab, kalau tenaga kerja disini ada 10 pegawai ada yang tinggal di sini seperti saya dan ada juga yang pulang pergi. Kalau dari lingkungan, saya rasa mendukung karena letaknya jauh dari pusat kota dan lagipun anak-anak ini tidak dikasih sering libur dan keluar, itu tujuannya agar anak-anak tidak terpengaruh dengan lingkungan luar.126

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan ibu Rosmani mengungkapkan bahwa:

“Faktor pendukungnya yaitu sarana dan prasarana seperti adanya ustadz dan ustadzahnya, seluruh ustadz/ustadzah yang ada di yayasan ini adalah delapan pegawai tetap dan tujuh pegawai yang pulang pergi. Kemudian yayasan memiliki sekolah formal tersendiri, jadi anak-anak tidak perlu untuk sekolah di luar. Selanjutnya adanya kitab-kitab, tempat belajar dan masjid. Kalau dari segi lingkungan, termasuk mendukung karena sebagian dana dapatnya dari masyarakat sini, ada yang kasih beras, sayur-sayuran, buah-buahan, ada juga

125

Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

126Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

65

kasih uang dan anak-anak ni pun sering di bawa orang kampung ni pergi jalan-jalan, pergi kenduri, masyarakat disini termasuk mengayomi anak-anak lah.127

Menurut Fitri, yang menjadi faktor pendukung dalam hal belajar adalah: “yang membuat saya mau belajar disini karena banyak teman kak, terus kami mau dibawa kakak-kakak lain keluar pergi ke laut, pergi kenduri dan di kasih uang jajan.128

Sejalan dengan pengamatan peneliti, peneliti mengamati “sebagian anak- anak dijemput dengan dua mobil untuk pergi memenuhi undangan dan pergi jalan-jalan. Selanjutnya sarana dan prasarana terdapat di yayasan cukup memadai, seperti kitab-kitab, alat belajar, sekolah, perpustakaan, lokal, masjid dan sebagainya. Namun tidak digunakan secara efektif, peneliti melihat bahwa seluruh tingkatan belajarnya di masjid. Sehingga anak-anak tidak fokus terhadap pengajian masing-masing.129

Selain itu menurut Mahdalena, ia berpendapat bahwa: “Menurut saya yang mempelancar proses kami belajar karena ada sekolahnya sendiri, ada perpustakaan kemudian ada kitab-kitabnya, walaupun terkadang saya juga mau malas kak.”130

127Hasil wawancara dengan Ibu Rosmani selaku pembina Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari jumat tanggal 22 juni 2018.

128

Hasil wawancara dengan Fitri selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

129Hasil observasi mengenai faktor pendukung dalam pelaksanaan pembinaan Islam terhadap anak terlantar pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

130

Hasil wawancara dengan Mahdalena selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

66

Selain faktor yang menjadi pendukung pembinaan Islam terhadaap anak di Yayasan Kasih Sayang, terdapat juga faktor penghambat yang menjadi kendala dilaksanakannya pembinaan Islam. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan bapak Subhan, beliau mengatakan: “Kalau faktor penghambat antara lain dari anak-anak sendiri, ada yang malas. Ketika waktunya shalat ada yang sembunyi, ada yang bilang sakit dan banyaklah alasannya, tetapi itu masih bisa diatasi”.131

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan bapak Saimin, beliau mengungkapkan:

“Penghambatnya dikarenakan anak-anak berasal dari keluarga berlatar belakang berbeda-beda, ada yang orang tuanya meninggal sehingga anak terbengkalai, ayah ibunya bercerai sehingga anak ditinggalkan tidak berurus sehingga berpengaruh terhadap perilaku anak-anak yang sedikit bandel seperti suka berbohong, melanggar peraturan dan malas. Kemudian juga faktor lingkungan anak di kampung, sehingga ketika balik ke yayasan, anak-anak sedikit susah di atur, ini mungkin karena media sosial dan pergaulan anak.”132

Selanjutnya data yang diperoleh dari Fitri selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang, beliau mengungkapkan bahwa: “Faktor penghambatnya mungkin ya dari saya sendiri kak, terkadang saya malas untuk ngaji karena bosan dan ngantuk ”133

131Hasil wawancara dengan bapak Subhan selaku pengasuh anak di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari senin tanggal 25 juni 2018.

132Hasil wawancara dengan bapak Saimin selaku salah satu ustadz di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 26 juni 2018.

133Hasil wawancara dengan Fitri selaku anak asuh di Yayasan Kasih Sayang Aceh Tengah pada hari selasa tanggal 27 juni 2018.

Dokumen terkait