• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

a. Penggunaan Gaya Bahasa

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, berikut ini akan dikaji uraian data mengenai diksi dan gaya bahasa dalam novel garis waaktu karya Fiersa Besari.

b. Gaya Bahasa Hiperbola

Gaya bahasa hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih – lebihkan jumlahnya, ukuranya dan sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatakan kesan pengaruhnya. Gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat berikut.

“ Merasakan sebagian dirimu masih menancap di jantungku ketika aku tertatih menjauh” ( Besari, 2006 :153).

Kutipan tersebut merupakan data pertama dari tiga majas hiperbola yang ditemukan dalam analisis diksi dan gaya bahasa dalam novel garis waktu karya Fiersa Besari. Dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terkesan melebih - lebihkan kata menancap yang secara leksikal bermakna tercacak oleh benda tajam ( aplikasi KKBI V), yang biasanya digunakan pada kata

paku, pisau. Contoh: a. sebuah paku menacap pada tembok b. ibu mengambil pisau yang menacap pada kayu.

“Sambil memandang matamu merasakan jantungku ingin meledak, lalu melihat senyumanmu menghentikan duniaku” ( Besari, 2006 : 68)

Dalam Kutipan tersebut terdapat dua majas hiperbola yang ditemukan. Dalam analisis diksi dan gaya bahasa dalam novel garis waktu karya Fiersa besari. dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terkesan melebih lebihkan kata meledak yang secaera leksikal bermakna meletus (aplikasi KBBI V) Berikut contoh pada kalimat: a.ban motor Rika meledak b. Bom yang dilemparkanya itu meledak tanpa mengenai sasarannya. kata selanjutnya yang mengandung majas hiperbola pada kutipan tersebut yaitu menghentikan duniaku, karena terkesan berlebihan bahwa tidak mungkin senyuman seseorang mampu menghentikan dunia.

“Dan kau bagaikan pecandu yang rela menggandakan jiwa demi menatap matamu sekali lagi” (Besari, 2006:12)

Dalam kutipan tersebut merupakan data keempat dari majas hiperbola yang ditemukan dalam analisis diksi dan gaya bahasa dalam garis waktu kaya Fiersa Besari. kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terksesan

melebih lebihkan kata menggandakan yang secara leksikal bermakna tampak lebih dari satu (aplikasi KBBI V) yang biasanya digunakan pada kata benda seperti, Kunci dan Dokumen. Contoh:

a. Dila menggandakan kunci pagarnya b. ayah mengadakan ke uangan di tempat kerjanya.

“Disampingmu, aku sanggup melewati pijar mereka”

( Besari,2006: 72)

Dalam kutipan tersebut merupakan data keempat dari majas hiperbola yang ditemukan dalam analisis diksi dan gaya bahasa dalam novel garis waktu karya Fiersa Besari dikategorikn sebagai gaya bahasa hiperbola karena terkesan melebih lebihkan kata Pijar yang secara leksikal bermakna percikan logam (aplikasi KBBI V) berikut conth kalimat yang biasa digunakan pada kalimat benda seperti, Pisau, Besi. Contoh: a. Adik memotong sayuran di dapur dengan pisau yang tajam b. besi dirumah adik sudah lama dan berkarat.

“Jagat raya meledak menjadi jutaan kembang api”

(Besari, 2006:24)

Pada kutipan tersebut merupakan data kelima dari majas hiperbola yang ditemukan dalam analisis diksi dan gaya bahasa dalam novel garis waktu karya Fiersa Besari, dikategorikan sebagai

gaya bahasa hiperbola karena terkesan melebih lebihkan kata Jagat raya yang seara leksikal bermakna seluruh dunia (aplikasi KBBI V). Berikut contoh yang biasa digunakan pada kata seluruh dunia

a. pergantian tahun sudah dekat seluruh dunia mengadakan pesta kembang api b. seluruh dunia tetap mematuhi protokol kesehatan selamat covid 19.

“Ketika senja menguning diantara jalanan” ( Besari, 2006:76)

Pada kutipan tersebut merupakan data keenam dari majas hiperbola yang ditemukan dalam analisis diksi dan gaya bahasa dalam novel garis waktu karya Fiersa Besari, dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena matahari terbenam senja ( Aplikasi KBBI V). Berikut contoh yang bisa digunakan pada matahari terbenam. a. Sore hari Dila sedang ke dermaga melihat senja. b.

Senja di sore hari sangatlah indah.

Tapi mereka punya hati sekuat baja ( Besari, 2006: 91)

Pada kutipan tersebut merupakan data ketujuh dari majas hiperbola yang ditemukan dalam analisis diksi dan gaya bahas dalam novel garis waktu karya Fiersa Besari, dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena sesuatu yang keras baja ( Aplikasi KBBI V). Berikut contoh yang bisa digunakan pada kata baja

a. Mereka seperti baja yang keras, yang membuat sebuah lokomotif terus berjalan. b. Teruslah berjuang meski negara kita di serang oleh pandemi

B. Gaya bahasa Personifikasi

Personifikasi dalah salah satu jenis majas perbandingan. Dengan demikian, majas personifikasi adalah gaya bahasa yang menyatakan benda mati sebagai sesuatu yang seolah olah layak manusia. Personifikasi banyak digunakan di dalam karya sastra sperti puisi.

“ Aku lupa bahwa bintang pun bernyawa, hutan pun benapas” (Besari, 2006:8)

Pada kutipan tersebut terdapat dua majas personifikasi.

dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata bintang pun bernayawa dan hutan pun beranapas yang terkesan menganggap benda mati seolah hidup.

“ Dan aku hanya mampu menjadi korban dari kerinduan yang mencekik, yang tersenyum dengan pipih merah merona tatkala kau menyapaku.

( Besari,2006: 16)

Pada kutipan tersebut terdapat satu majas peronifikasi, dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata mencekik , dikateorikan sebagai majas personafiksi karena terdapat kata mencekik yang

terkesan mengangkat memengang leher sehingga yang dipegang dicekam dan tidak bernafas.

“Lagi - lagi imajinasi menertawakanku karena selalu berhasil menemuimu (Besari, 2006:24)

Pada kutipan tersebut terdapat satu majas personifikasi, dikatogorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata imajinasi menertawakanku yang teksesan menganggap bahwa imanjinasi merupakan sesuatu yang hidup layaknya seorang manusia.

“Dan bayangan dicermin tertawa mengejekku” (Besari, 2006:16)

Pada Kalimat tersebut terdapat satu majas personifikasi, dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata mengejek.

dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kalimat tersebut bertentangan dengan makna yang sebenarnya atau berlawanan dengan apa yang dikatakan, dalam hal ini terdapat pada kata mengejek (aplikasi KBBI EDISI V), yang biasa digunakan untuk menghina seseorang.

“Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang membakar langit hingga kemerahan” (Besari, 2006: 7).

kalimat tersebut terdapat satu majas personifikasi, dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata mengahargai kalimat tersebut bertentangan dengan makna menghormati ( Aplikasi KBBI V) yang biasa digunakan untuk menghargai sesuatu.

“ Aku tidak tahu caranya mencium wangi hujan yang membasahi bumi”

( Besari, 2006: 7)

Pada kutipan tersebut terdapat dua majas personifikasi, dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata mencium wangi hujan yang bumi membasahi yang terkesan menganggap membasahi tanah dan mengeluarkan wangi yang harum.

“ Dan tangan kita pernah pernah saling bergandengan di anatara perjumpaan dan selamat tinggal” ( Besari, 2006 : 8)

Pada kutipan tersebut terdapat terdapat satu majas personifikasi, dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata bergandengan yang terkesan menganggap berpegangan tangan .

“ Biarkan hatiku berpesata pora. Biarlah aku bersenandung gembira”

( Besari,2006 : 60)

Pada kutipan tersebut terdapat satu majas personifikasi, dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata bersenandung yang berarti bernanyi yang terkesan mengangap menyanyi dengan suara lembut untuk menghibur diri sendiri atau meninabobokan bayi supaya tertidur.

“ sesekali ombak menggodaku . katanya, lebih baik sendirian tapi punya seseorang yang peduli, dari pada punya pasangan tapi merasa sendiri”

( Besari, 2006: 132).

Pada kutipan tersebut terdapat majas personifikasi karena terdapat kata menggoda, yang berarti mengajak seseorang berbuat kebaikan atau berbuat kejahatan.

“ Aku sudah bersiap untuk kehilanganmu, sebagaimana aku bersiap melepaskanmu” ( Besari, 2006: 132)

Pada kutipan tersebut terdapat majas personifiksi dikategorikan sebagai majas personifikasi karena terdapat kata melepaskanmu yang terkesan menganggap melepaskan segala sesuatu.

“ Pernahka rasa bersalah mengejek dan menertwakanmu? Mati – matian aku tutup telinga, namu suara itu malah semakin kuat berteriak.

( Besari, 2006 : 143- 144) pada kutipan tersebut terdapat majas personifikasi karena terdapat kata menertawakanmu, yang berarti menghina seseorang dengan tingkah laku yang mencemooh.

C. Gaya bahasa metafora

Gaya bahasa metafora rasa kesal Pada kutipan tersebut mengandung majas sarkasme karena terkesan mengandung celaan. Metafora merupakan majas yang menggambarkan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas sifat yang hampir sama atau bahkan sama. Majas metafora disebut juga majas persamaan atau perbandingan.

“ dan pagi – pagiku hanyalah repetisi membosankan untuk mengenyangkan logika. Aku lupa bintang pun bernyawa, hutan pun bernapas.

( Besari, 2006:8).

Pagi- pagiku hanyalah repetisi yang secara leksikal dalam metafora bermakna rutinitas seperti repetisi yaitu di ulang terus menerus, di lakukakan karena pemikiran manusia yang di metaforakan dengan untuk mengenyangkan logika.

“ Kau idamkan tanganku didalam gengamanmu di dalam jabatanku selama beberapa detik. aku idamkan tanganku di dalam genggamanmu untuk selamanya. ( Besari, 2006: 11)

Kau idamkan secara leksikal dalam metafora menjelaskan mengenai dan harapan keinginan terus untuk terus bersama.

“ Mungkin kau adalah malaikat yang seedang menyamar, diturunkan bersama lusinan boom atom yang meledakkan dimensiku. Dan aku hanya bisa pasrah membiarkan perkenalan kita dimulai” ( Besari, 2006: 12)

Mungkin kau adalah malaikat yang sedang menyamar, diturngkan bersama lusinan boom atom yang sedang meledakkan.

“ Senyum seindah senja itu tak pernah gagal membuatku kelagapan, membias jingga sebelum akhirnya menggirinku pada kegelapan. ( Besari, 2006: 39)

“ Senja yang secara lekikal dalam metafora merupakan sesuatu yang indah sehingga menggambarkan sebuah senyuman yang indah”.

“Ketika senja menguning diantara jalan” (Besari,2006:76)

Senja yang secara leksikal dalam metafora bermakna setengah gelap sesudah matahari terbenam.

“ Tapi mereka punya hati sekuat baja, yang sanggup menerima pukulan bertubi – tubi demi kebahgiaan anaknya” ( Besari, 2006: 91).

Baja yang secara leksikal dalam metafora bermakna sesuatu yang keras dan kuat.

” Coba kau ingat kembali perjungan kita mencari dermaga yang semestinya melabunkan kapal kita. Walau itu kau dan aku kuat menghadang ombak dan badai.”

Yang secara leksikal dalam metafora menggambarkan keinginan agar orang dicintai mengingatkan perjuangan dalam sebuah hubungan. dengan perjuangan kita mencari dermaga yang semestinya mendarat kapal kita. Kau dan aku kuat menghadang, dan permasalahan dalam majas metafora dengan ombak dan badai.

“ kau laksana mawar yang menggoda untuk ku peluk, terus kupeluk walau dirimu melukai” ( Besari, 2006: 153)

Menggoda yang secara leksikal dalam metafora bermakna mengajak seseorang untuk menuju jalan yang lebih baik.

Kita jadi malu berpendapat karena berpendapat kita dicemooh”

( Besari, 2006: 170)

Dicemooh yang secara leksikal dalam metafora bermakna hinaan atau ejekan.

“ Bukankah hidup ini serangkaian repetisi? Lantas, haruskah kita takut jatuh hati karena karna pengalaman patah hati? ( Besari, 2006:174)

Hidup ini serangakai repetisi secara leksikal dalam metafora bermakna metafora ini bermakana pernyataan retoris sebuah pemikiran jika hidup ini seperti repetisi.

“ rasa adalah anomalia yang tidak bisa diprediksi. Rasa bisa datang dan pergi kapan pun dia mau” ( Besari, 2006: 177)

Menjelaskan mengenai perasaan. Datang dan pergi kapanpun dia mau secara leksikal metafora seperti perasaan bisa dilambangkan dengan sesuatu yang lebih konkret seperti dia datang dan pergi. Yang secara leksikal metafora bermakna seolah olah yang dicintai tersebut dapat berpengaruh dalam kehidupan.

D.Gaya bahasa smile

“ Ia laksana mentari di tengah temaram, hijau di antara gerseng, cinta tidak pernah datang tiba – tiba ia akan mengedap – ngedap menyusun ke dalam urat nadimu. ( Besari, 2006:16)

“ akupun harus mengengam hatimu. Karena entah sejauh langit , atau sedekah langit – langit, bagiku kau bintang yang kau puja sengah mati. ( Besari, 2006: 17)

“ kau jernih diantara buram, nyata diantara nanar. ( Besari, 2006: 20)

“ aku ingin pertama kali melihatmu. Kau masuk ke dalam hidupku tanpa permisi, berputar bagai gasing di dalam pikiranku . ( Besari, 2006: 43)

“ Menaruh harapan padamu seakan menggenggam duri – duri dibatang mawar, mmbuatku berdarah. ( Besari, 2006: 48)

“ Senandung lagi nyanyi – nyanyi yang membawaku beriringan denganmu.

Sebab, nadamu mampumembeli bahagia. ( Besari, 2006: 40)

“ Cita – citaku ingin fotomu ada di buku nikahku. ( Besari: 2006: 79)

Dokumen terkait