BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
Gambaran umum responden ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penerima kuesioner yang dipilih sebagai responden.
Pelaksanaan penelitian ini ditetapkan sebanyak 30 responden.
Karakteristik responden dibutuhkan untuk melengkapi analisis data penelitian agar kesimpulan yang dikemukakan sesuai dengan kenyataan.
Karakteristik yang dimaksud antara lain : jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan. Berikut akan diuraikan karakteristik responden :
a. Jenis Kelamin
Jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu kelompok laki – laki dan perempuan. Untuk lebih jelasnya akan disajikan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin yang dapat dilihat pada table 4.1 berikut ini :
Tabel 4.1
Jenis Kelamin Responden
No Jenis Kelamin Frekuensi (f) Persentase (%)
1. Laki - Laki 16 53 %
2. Perempuan 14 47 %
Jumlah 30 100 %
Sumber : Data diolah dari SPSS 2021
Dari tabel di atas, dapat dilihat karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin. Maka dari 30 orang responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini, di dominasi oleh laki - laki sebanyak 16 responden yakni sebesar 53 %. Hal ini menunjukkan bahwa rata – rata Karyawan pada PT. Kartika Hardianti Zainal didominasi oleh laki – laki dibanding perempuan.
b. Usia
Deskripsi responden menurut usia menggambarkan mengenai usia responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Oleh karena itu, gambaran karakteristik responden menurut usia dapat disajikan sebagai berikut :
Tabel 4.2 Usia Responden
No Rentang Usia (tahun) Frekuensi (f) Persentase (%)
1. < 20 1 3 %
2. 20 – 25 8 27 %
3. 26 – 30 14 47 %
4. 31 - 40 6 20 %
5. > 40 1 3 %
Jumlah 30 100 %
Sumber : Data diolah dari SPSS 2021
Berdasarkan tabel 4.2 di atas, yakni tanggapan mengenai usia responden. Maka dari 30 responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini didominasi oleh sekitar 26 - 30 tahun yakni sebesar 47
% dengan frekuensi 14 responden, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata – rata Karyawan pada PT. Kartika Hardianti Zainal memiliki usia sekitar 26 - 30 tahun.
c. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan menunjukkan pengetahuan dan daya pikir yang dimiliki oleh seorang responden. Oleh karena itu, dalam penelitian ini tingkat pendidikan responden dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian yaitu : SMP, SMA/SMK, D3 dan Strata Satu (S1). Adapun deskripsi profil responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :
Tabel 4.3
Tingkat Pendidikan Responden
No Rentang Usia (tahun) Frekuensi (f) Persentase (%)
1. SMP 1 3 %
2. SMA / SMK 5 17 %
3. D3 10 33 %
4. Strata Satu (S1) 14 47 %
Jumlah 30 100 %
Sumber : Data diolah dari SPSS 2021
Berdasarkan tabel 4.3 di atas, dapat dilihat hasil tanggapan responden menurut tingkat pendidikan sebagian besar responden lebih banyak memiliki jenjang pendidikan sebagai Strata Satu (S1) yakni sebesar 47 % dengan frekuensi 14 responden. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata – rata tingkat pendidikan Karyawan pada PT.Kartika Hardianti Zainal yaitu Strata Satu (S1).
2. Analisis Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 30 orang responden melalui kuesioner, untuk mendapatkan kecenderungan jawaban responden terhadap jawaban masing – masing variabel akan didasarkan pada rentang skor seperti pada lampiran sebagai berikut :
a. Fleksibilitas Kerja
Tabel 4.4
Tanggapan Responden Mengenai Fleksibilitas Kerja
No Item
3. X1.3 13 44% 17 56% 0 0 0 0 0 0 133 4.43 4. X1.4 18 60% 12 40% 0 0 0 0 0 0 138 4.60 5. X1.5 13 44% 17 56% 0 0 0 0 0 0 133 4.43 6. X1.6 14 47% 16 53% 0 0 0 0 0 0 134 4.47 Mean Fleksibilitas Kerja 801 4.45 Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Dari tabel 4.4 di atas, tentang jawaban responden mengenai fleksibilitas kerja, maka diperoleh nilai mean sebesar 4,45 dikategorikan baik dan mean tertinggi terdapat pada item X1.4 dengan nilai mean 4,60 sedangkan untuk mean terendah terdapat pada item X1.2 dengan nilai 4,37.
b. Tingkat Spesialisasi Pekerjaan
Tabel 4.5
Tanggapan Responden Mengenai Tingkat Spesialisasi Pekerjaan
No Item Mean Tingkat Spesialisasi Pekerjaan 807 4.48 Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Dari tabel 4.5 di atas, tentang jawaban responden mengenai Tingkat Spesialisasi Pekerjaan, maka diperoleh nilai mean sebesar 4,48 dikategorikan baik dan mean tertinggi terdapat pada item X2.4 dengan nilai 4,67 sedangkan untuk mean terendah terdapat pada item X2.1 dengan nilai 4,33.
c. Kinerja Karyawan
Tabel 4.6
Tanggapan Responden Mengenai Kinerja Karyawan
No Item
Mean Kinerja Karyawan 816 4.53
Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Dari tabel 4.6 di atas, tentang jawaban responden mengenai Kinerja Karyawan, maka diperoleh nilai mean sebesar 4,53 dikategorikan baik dan mean tertinggi terdapat pada item Y3.4 dengan nilai 4,63 sedangkan untuk mean terendah terdapat pada item Y3.6 dengan nilai 4,40.
3. Uji Instrumen Penelitian a. Uji Validitas
Uji validitas bertujuan untuk mengetahui keabsahan jawaban responden dalam kuesioner dimana dalam penguji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan item pernyataan dengan total skor. Nilai signifikansi adalah 5% dengan nilai r tabel untuk 30 responden adalah 0,361 yang diperoleh dari df = 30 - 2 = 28. Suatu item kuesioner dinyatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel. Pengujian validitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.7
Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
b. Uji Realibilitas
Uji Reliabilitas pada dasarnya mengukur kehandalan instrumen. Uji Reliabilitas dilakukan untuk menguji akurasi dan ketepatan dari pengukuran instrumen. Uji Reliabilitas bisa menggunakan Cronbach Alpha 0,60. Jika reliabilitas < 0,60 artinya kurang baik, mencapai 0,70 artinya dapat diterima, dan > 0,80 artinya sangat baik. Pengujian reliabilitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas
Cronbach's Alpha N of Items Keterangan
.774 18 Reliabel
Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Hasil uji reliabilitas pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa variabel mempunyai nilai Cronbach Alpha > 0,60. Jadi dapat dikatakan semua konsep pengukur variabel dari kuesioner adalah reliabel (dapat diandalkan) sehingga item pada masing – masing variabel tersebut layak digunakan sebagai alat ukur.
4. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas data digunakan untuk menguji apakah data yang dianalisis normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah model regresi yang terdistribusi normal. Untuk melihat derajat normalitas data digunakan pendekatan grafik yaitu Normality Probability Plot.
Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021 Gambar 4.2
Normality Probability Plot
Berdasarkan Gambar 4.2 dapat ditentukan bahwa data (titik) tersebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal,
maka dapat disimpulkan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas dilakukan untuk menguji ada atau tidaknya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebasnya. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model regresi ini digunakan analisis metric korelasi antar variabel bebas dengan perhitungan nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Apabila nilai Tolerance Value < 0.10 Tu VIF > = 10 maka terjadi multikolinearitas. Sedangkan jika nilai Tolerance Value > 0.10 Tu VIF < 10 = maka tidak terjadi
Kinerja Karyawan(X3) .783 1.277
a. Dependent Variable: return saham Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Hasil perhitungan uji multikolonieritas pada tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa Fleksibilitas Kerja, Tingkat Spesialisasi Pekerjaan, dan Kinerja Karyawan memiliki nilai tolerance diatas 0,010 sehingga hasil yang didapat menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel independen, dan hasil perhitungan
variance inflation factor (VIF) menunjukkan bahwa ke-3 variabel independen memiliki nilai VIF lebih kecil dari 10. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel independen dalam model regresi.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas ini dilakukan untuk menguji apakah terdapat ketidaksamaan varias residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain dalam model regresi. Model regresi yang baik adalah jika tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan metode Scatterplot. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan yaitu dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu yang terbentuk pada grafik Scatterplot yang terdiri atas prediksi variabel terikat (SRESID) dan residulanya (ZPRED).
Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021 Gambar 4.3
Uji Heterokedastisitas
Berdasarkan gambar 4.3, dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat pola yang jelas, serta titik – titik yang menyebar di atas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas antar variabel.
d. Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi digunakan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear terjadi korelasi antar kesalahan pengganggu pada priode t dengan kesalahan priode t-1 atau periode sebelumnya. Jika terjadi korelasi maka ada problem autokorelasi.
Salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan Uji Dirbin Watson. Jika nilai Durbin Watson mendekati angka 2 mengindikasikan tidak terdapat autokorelasi.
Tabel 4.10 Hasil Uji Autokorelasi
Model R
Change Statistics Durbin
Watson
Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Berdasarkan table 4.10, dapat dilihat bahwa nilai Durbin Datson (DW) mendekati angka 2. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terjadi autokorelasi.
5. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar Pengaruh Fleksibiltas Kerja (X1) Dan Tingkat Spesialisasi
Pekerjaan (X2) Terhadap Kinerja Karyawan (Y). Adapun hasil regresi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.11
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Model
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan (Y) Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Berdasarkan data tabel 4.11 di atas, dimana hasil analisis persamaan regresi sebagai berikut :
Y = a+ bX1+ bX2 Y = 7.351+ 0,093X1+ 0,596X2
1) Nilai konstanta sebesar 7.351. Maka hal ini dapat dikatakan bahwa apabila variabel Fleksibiltas Kerja (X1) Dan Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2) adalah konstanta (tidak berubah), maka Kinerja Karyawan (Y) sebesar 7.351
2) Variabel Fleksibilitas Kerja (X1) mempengaruhi kinerja karyawan sebesar 0,093 yang artinya, jika variabel Fleksibilitas Kerja (X1) mengalami peningkatan sebesar 1% maka kinerja karyawan akan meningkat sebesar 0,093%. Sebaliknya jika variabel Fleksibilitas Kerja (X1) mengalami penurunan maka kinerja karyawan akan menurun pula.
3) Variabel Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2) mempengaruhi kinerja karyawan sebesar 0,596 yang artinya jika variabel Tingkat
Spesialisasi Pekerjaan (X2) mengalami peningkatan sebesar 1%
maka kinerja karyawan akan meningkat sebesar 0,596%. Sebaliknya jika variabel Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2) mengalami penurunan maka kinerja karyawan akan menurun pula.
Dari hasil persamaan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Kartika Hardianti Zainal Kabupaten Pangkep adalah variabel Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2) yakni sebesar 0,596.
6. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi R2 pada dasarnya untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Nilai R2 berkisar antara 0 sampai dengan 1, bila R2 = 0 berarti tidak terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, apabila R2 = 1 berarti variabel bebas memiliki hubungan yang sempurna terhadap variabel terikat.
Tabel 4.12
Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Model Summary
a. Predictors: (Constant), Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2), Fleksibilitas Kerja (X1) Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Berdasarkan tabel 4.12, dapat dinyatakan bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0,143 atau 14,3 %. Yang berarti terdapat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah 14,3%
sedangkan sisanya–dipengaruhi oleh sebab–sebab lain di luar model.
7. Uji Hipotesis
a. Uji F (simultan)
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara keseluruhan. Jika nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Sedangkan jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, artinya ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji F pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut ini :
Tabel 4.13
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan (Y)
b. Predictors: (Constant), Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2), Fleksibilitas Kerja (X1) Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Berdasarkan tabel 4.13 di atas, dapat dilihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai F hitung lebih besar dari F tabel (11.910 > 3.350) dengan signifikan sebesar 0,001 < 0,05 sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa variabel independen berpengaruh simultan terhadap variabel dependen yaitu Fleksibilitas Kerja dan Tingkat Spesialisasi Pekerjaan.
b. Uji t (Parsial)
Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Pengujian dilakukan dengan dengan menggunakan significance level 0,05 (a = 5%). Jika nilai signifkansi t lebih kecil dari pada a, maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variable independen dan variabel dependen.
Tabel 4.14 Hasil Uji t (parsial)
Model
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan (Y) Sumber : Data diolah dari SPSS, 2021
Berdasarkan tabel 4.14 di atas, maka dapat dijelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah sebagai berikut :
1) Pengaruh Fleksibilitas Kerja (X1) terhadap Kinerja Karyawan (Y) Berdasarkan tabel 4.14 di atas, dapat dilihat besarnya nilai t hitung sebesar 0,427 sedangkan besarnya t tabel adalah 2,052.
Karena nilai t tabel lebih besar dari t hitung (2,052 > 0,427) dengan signifikan sebesar 0,673 lebih besar dari 0,05 (0,673 >
0,05) dan koefisien variabel X1 sebesar 0,093 maka dapat disimpulkan bahwa Fleksibilitas Kerja berpengaruh positif namun
tidak signifikan terhadap kinerja karyawan Pada PT. Kartika Hardianti Zainal Kabupaten Pangkep.
2) Pengaruh Tingkat Spesialisasi Pekerjaan (X2) terhadap Kinerja Karyawan (Y)
Berdasarkan tabel 4.14 di atas, dapat dilihat besarnya nilai t hitung sebesar 4.763 sedangkan besarnya t tabel adalah 2,052.
Karena nilai t tabel lebih kecil dari t hitung (2,052 < 4.763) dengan signifikan sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05 (0,001 < 0,05) dan koefisien variabel X1 sebesar 0.596 maka dapat disimpulkan bahwa Tingkat Spesialisasi Pekerjaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan Pada PT. Kartika Hardianti Zainal Kabupaten Pangkep.