BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diangkat maka sebagai deskripsi data, akan dijelaskan tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di kapal, sehingga dengan deskripsi ini penulis mengharapkan agar pembaca mampu dan bisa merasakan tentang semua hal yang terjadi selama penulis melaksanakan penelitian di atas kapal.
Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan di atas kapal MV.
Segara Mas sebenarnya sudah diterapkan dengan baik, seperti dapat dilihat dari sebelum kru melaksanakan kerja harian di atas kapal, Mualim I memberikan pengarahan kepada kru dek tentang kerja harian yang akan di laksanakan dan persiapan sebelum kerja seperti pengecekan checklist penilaian resiko atau checklist of risk assesment dan juga pengecekan alat – alat pelindung diri.
Gambar 4. 5 Checklist of Risk Assesment MV. Segara Mas
Pentingnya Sistem Manajemen Keselamatan di atas kapal dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja, namun masih saja ada temuan seperti kecelakaan kerja di atas kapal. Selanjutnya, penulis akan melampirkan data resiko kecelakaan di kapal MV. Segara Mas. Data tersebut diperoleh dari laporan Mualim I setiap bulannya yang akan dilaporkan ke Perusahaan. Data data tersebut antara lain :
a. 062’ – Ship’s damage report
b. 082’ – Notice of Damage by Stevadore to Ship c. 083’ – Notice of Loss or Damage of Gear d. 088’A – Report of Injury or Death
e. 088’C – Near miss report
Gambar 4. 6 Ship’s Damage report Sumber : Kamera Kapal
Gambar 4. 7 Report of Injury or Death Sumber : Kamera Kapal
Gambar 4. 8 Near miss Report
NO.
BULAN KEJADIAN
URAIAN KASUS DUGAAN PENYEBAB KETERANGAN
1 September 2018
Terjadi kerusakan windlass ketika akan berlabuh di Belawan, kecelakan tidak memakan korban.
Kapas rem windlass tipis
dan perlu diganti Kesalahan Peralatan
2 Januari 2019 Kaki ABK terkena twislock pada saat kapal bongkar muat di pelabuhan.
Korban tidak memakai
safety shoes Kesalahan Manusia
3 April 2019 ABK cidera pada kaki akibat tergencet drum di kamar mesin.
Korban tidak memakai
safety shoes Kesalahan Manusia
4 Mei 2019
ABK terkena chipping hammer yang tanpa sengaja jatuh akibat saat kerja harian di deck.
Korban tidak memakai
safety google Kesalahan Manusia
Tabel 4. 1 Data Kasus Kecelakaan kerja MV. Segara Mas periode September 2018 – Mei 2019
Sumber: Dokumen Kapal
Contoh kasus diatas adalah ABK terkena serpihan karat pada saat men-chipping. Saat kapal berlayar dari Makassar menuju Surabaya, Mualim I memberi tugas kepada Boatswain untuk melakukan perawatan kapal yaitu chipping di daerah buritan kapal. Selanjutnya Boatswain meneruskan perintah tersebut kepada juru mudi, dan juru mudi tersebut melakukan chipping tanpa menggunakan kacamata dan hanya memakai earplug. Tidak lama kemudian juru mudi tersebut terkena serpihan karat,
untung saja hal tersebut tidak menimbulkan iritasi pada mata juru mudi tersebut.
Berdasarkan dari data di atas, 80% dari data kecelakaan di atas adalah berasal dari faktor kesalahan manusia. Kurangnya sosialisasi mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan pengawasan dalam pelaksanaannya
mengakibatkan kecelakaan kerja dan tujuan dari ISM Code melalui pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan tidak akan tercapai sesuai yang diharapkan oleh perusahaan dan organisasi kapal itu sendiri.
2. Analisis Data
Dari contoh kejadian yang sudah didata dan diuraikan oleh penulis, kecelakaan kerja dapat menimpa kru yang bekerja di deck maupun di kamar mesin, walaupun perusahaan dan kapal telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan di atas kapal. Dari data yang sudah disajikan di atas kapal, dapat dianalisis bahwa :
a. Kejadian juru mudi terkena serpihan karat di bagian mata saat melakukan chipping di area buritan memang kondisi pada saat itu juru mudi berada di bawah dan area yang akan di chipping berada di atas kepala, sehingga karat – karat yang menempel pada saat sudah di chipping jatuh kebawah dan mengenai juru mudi tersebut. Boatswain
sebagai kepala kerja di deck sebenarnya sudah mengingatkan kepada seluruh anggotanya agar memakai alat pelindung diri secara lengkap tetapi himbuan tersebut tidak dihiraukan oleh juru mudi tersebut.
Pemahaman Anak Buah Kapal yang kurang tentang peranan dari Sistem Manajemen Keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan diakibatkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman bekerja dikapal. Sehingga apabila anak buah kapal paham akan pekerjaan yang dilakukan dan resiko – resiko bahaya yang akan menimpanya,
b. Dalam sebuah manajemen terutama manajemen kapal, Menurut George R. Terry, fungsi manajemen disingkat menjadi POAC, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Namun dalam
kenyataan dilapangan fungsi-fungsi tersebut masih kurang dipraktekkan dalam kehidupan kerja sehari-hari. Fungsi-fungsi manajemen tersebut yang paling menonjol kurang dioptimalkan penerapannya adalah fungsi controlling atau pengawasan. Penyebab kecelakaan di atas kapal selain human error yaitu, Kurangnya pengawasan secara intensif oleh perwira yang berkompeten mengenai Sistem Manajemen Keselamatan. Dalam hal ini Nakhoda dan Mualim I, merupakan penyebab yang dominan dari terjadinya penyimpangan - penyimpangan dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan diatas kapal.
c. Masalah sosialisasi dari pada Sistem Manajemen Keselamatan itu sendiri juga masih kurang maksimal, hal tersebut diindikasikan dengan adanya beberapa anak buah kapal belum mengerti tujuan dari ISM Code melalui sebuah Sistem Manajemen Keselamatan diatas kapal. Kurangnya Safety meeting dari Nakhoda juga merupakan hal penting dalam penyampaian Sistem Manajemen Keselamatan.
d. Seleksi kompetensi pengawakan yang kurang ketat, sehingga pada saat menjalani kontrak kerja (PKL) kemampuan dan skill para personil kapal terutama para kru rating di dek sangat kurang dalam memahami ISM Code mengenai Sistem Manajemen Keselamatan walaupun di kantor mereka telah mendapatkan pengarahan melalui
presentasi. Akibatnya mereka masih sering mengalami kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan yang akhirnya berakibat menjadi resiko dalam melaksanakan pekerjaan. Mereka bekerja hanya menggunakan pengalaman yang mereka miliki pada waktu melaksanakan kontrak kerja di kapal sebelumnya tanpa memperhatikan prosedur yang jelas, padahal antara kapal yang satu dengan yang lain dalam satu perusahaan belum tentu mempunyai sistem kerja yang sama.
3. Pemecahan Masalah
Untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja di atas kapal, perlu ditingkatkan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan di atas kapal, maka hal – hal yang dapat dilakukan adalah :
a. Meningkatkan kedisiplinan anak buah kapal dalam menaati peraturan keselamatan kerja terutama dalam menaati Sistem Manajemen Keselamatan. Apabila ada kru kapal yang tidak menaati maka dengan cara memberi peringatan hingga pada pemberhentian jika perlu dilakukan, apabila hal tersebut dinilai membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
b. Dari 4 (empat) fungsi manajemen yang ada, yang perlu lebih ditingkatkan adalah Fungsi Pengawasan. Jika ditinjau dari fakta – fakta dan analisa, kecelakaan - kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh kurangnya pengawasan (lack of control) lemahnya pengawasan tersebut diakibatkan oleh pelaksanaan yang kurang memadai. Pihak
Officer harus meningkatkan pengawasan kepada anak buahnya dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk selalu mengenakan perlengkapan keselamatan dalam bekerja. Nakhoda tidak segan - segan menegur atau memberi peringatan kepada para Mualim dan kru Rating jika mereka lalai menjalankan tugasnya sebelum kejadian yang merugikan terjadi.
c. Waktu yang tepat untuk menjelaskan mengenai isi dari Sistem Manajemen Keselamatan di kapal adalah pada waktu Safety meeting yang dilaksanakan seminggu sekali. Disamping itu pada saat Safety Meeting berlangsung dapat dipraktekkan secara langsung apa yang di
diskusikan sehingga sangat efisien dan dapat dikoreksi kekuranganya.
Peran Nakhoda sebagai pemimpin di atas kapal mampu memberikan manajemen kerja yang baik di atas kapal yaitu dengan memberikan motivasi kepada para personil kapal sebagai anak buahnya.
d. Pihak perusahaan hendaknya dalam menerima anak buah kapal yang baru agar diseleksi dengan baik dan memperhatikan kelengkapan dokumen / sertifikat dan pengalaman bekerja di kapal. Hal ini dimaksudkan supaya mendapatkan sumber daya manusia yang handal, terampil dan mengerti akan tugas dan tanggung jawab masing – masing. Hal ini dimaksud untuk mengurangi resiko kecelakaan dalam bekerja di atas kapal.
BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Sistem Manajemen Keselamatan sangat berpengaruh penting terhadap keselamatan kerja di atas kapal, Berdasarkan dari hasil penelitian diatas, dapat diambil kesimpulan :
1. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan di kapal MV. Segara Mas kurang dilaksanakan dengan benar. Walaupun perusahaan telah memberikan pengarahan kepada kru sebelum naik di atas kapal dan Nakhoda selalu mengadakan safety meeting, namun masih ada anak buah kapal yang kurang memperhatikan prosedur keselamatan kerja dikarenakan kurangnya kedisiplinan dan kesadaran diri.
2. Kurangnya pengawasan dari Nakhoda dan Perwira terhadap anak buahnya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Apabila mereka tidak mau melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Sistem Manajemen Keselamatan maka teguran secara langsung bisa dilakukan dan bahkan apabila masih melanggar maka dengan memberikan surat peringatan atau pemberhentian akan memberikan efek jera untuk mereka.
B. Saran
Berikut adalah beberapa saran yang bisa penulis berikan agar penerapan Sistem Manajemen Keselamatan di kapal MV. Segara Mas dapat ditingkatkan yaitu :
1. Sebaiknya faktor – faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal dapat diminimaliskan, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara familiarisasi pada saat kru yang baru naik dan melaksanakan safety meeting secara intensif. Hal ini dilakukan yang bertujuan agar kru kapal yang baru naik dapat mengerti tentang Sistem Manajemen keselamatan dan mengerti tentang kondisi kapal sebelum memulai pekerjaan di atas kapal.
2. Sebaiknya Nakhoda dan Perwira di kapal untuk selalu meningkatkan pengawasan dan kedisiplinan kepada kru kapal agar selalu malakukan pekerjaan sesuai dengan Sistem Manajemen Keselamatan. Kedisiplinan ini meliputi teguran hingga sanksi apabila kru di kapal tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Sistem Manajemen Keselamatan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja di atas kapal yang akan mengganggu operasional kapal.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Aminudin, P. (Ed.). (1990). Pengembangan Penelitian Kualitatif.
Ardiansyah. (2011). ISM CODE. http://ismcodeardiansyah.blogspot.co.id/2011/.
Diakses pada tanggal 03 April 2018.
Arianna. (2011). Macam Macam Prosedur Keadaan Darurat.
http://boeceng.blogspot.co.id/2011/07/macam-macam-prosedur-keadaan-darurat-di.html. Diakses pada tanggal 05 Juni 2017
Arikunto, S. (2006). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
Bungin, B. (2011). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.
Creswell, & W, J. (1994). Research Design Quantitative & Qualitative Approach.
London: Sage Publication, Inc.
George R. Terry. (2011: 10). Principle of Management.
Hari Soegiman. (1990: 2). Pengertian Peranan.
ISM CODE. (2010). International Safety Management Code 2010 Edition.
London: International Maritime Organization.
Koentjaraningrat. (1993: 89). Deskriptif Kualitatif.
Kusuma. (1987:25). Teknik Observasi
Moleong, Lexy J. (2000). Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: PT. Remaja Rosdakarya.
Riduwan. (2003). Dasar-dasar Statistika Cetakan Ketiga. Bandung: Alfabet.
Ridwan. (2011). Definisi Kapal, Jenis-jenis Kapal Non-Konvensi.
http://informasipelaut.blogspot.co.id/2011/06/definisi-kapal-jenis-jenis-kapal-non.html, (diakses pada 21 Mei 2017)
Rurabakara. (2017). Aturan Manajemen Keselamatan Pelayaran
https://rurabakara1.wordpress.com/2010/05/10/aturan-manajemen-keselamatan-pelayaran/. Diakses pada tanggal 7 Mei 2018
Sedarmayanti, & Hidayat, S. (2011). Metodologi Penelitian. Bandung: CV Mandar Maju.
Soleman B. Taneko. (1986: 23). Konsepsi System Sosial dan System Sosial Indonesia. Jakarta: Fajar Agung.
Sucfriyanita. (2011). Kegiatan Sertifikasi ISM CODE.
http://popaymini.blogspot.co.id/2011/11/kegiatan-sertifikasi-ism-code.html.
Diakses pada tanggal 05 Juni 2018 Sugiyono. (2009: 225). Teknik Pengumpulan Data.
Suma’mur. (1996). Hiegine Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: CV.
Agung Seto
Wikipedia. (2018). Keselamatan. https://id.wikipedia.org/wiki/Keselamatan, (diakses pada 20 Mei 2018).
Wikipedia. (2018). SOLAS Convention.
https://en.wikipedia.org/wiki/SOLAS_Convention#Later_amendments, (diakses pada 15 Juni 2018)