BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap ketiga responden diperoleh hasil yang berkaitan dengan pola asuh orangtua.
1. Pembuatan Aturan.
Segi pembuatan aturan merupakan salah satu cara orangtua berinteraksi dengan anaknya atau merupakan pola asuh yang digunakan orang tua dalam mewujudkan tanggungjawab terhadap anaknya. Segi atau kompnen ini termasuk dalam tipe pola asuh demokratis. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancaca yang dilakukan peneliti terhadap responden dibawah ini.
“pergi main sore sekitar jam tigaan palingan jam lima atau setengah enam sudah di rumah, tidak pernah sampai malam”.Tapi ketika dia pergi bermain saya ikut mengamati dari jauh. Kalau saya lihat dia dekat dengan anak laki-laki atau orang yang lebih besar dari dia, saya langsung teriak, Rere..pulang!! dan “diapun pulang”. Kalau saya pergi jualan keliling “saya suruh nonton TV di rumah tidak boleh pergi main di tempat lain”, dan diapun ikut. ( I.c.N 025-033)
Anak saya itu kalau main saya ingatkan, “kalau main tidak boleh lama-lama, tidak boleh jauh-jauh. Kalau sudah agak lama saya panggil pulang. Kalau belum pulang saya nyusul carikan dan menyuruh pulang ke rumah. Kalau sudah sore dia mau pergi saya bilang tidak usah pergi, lihat TV saja”. (I.l.N 093-098)
pakaiannya biasa saja, saya tidak pernah beli pakayan ketat, atau hanya pakai singlet saja. Kalau mainpun pakai baju dalam baru baju kaus sama celana tiga per empat. Kalau ke sekolah ya pakai pakaian sekolah dengan jilbab.(I.n.N (115-119)
Pernyataan yang disampaikan responden juga di ungkapkan oleh informan AD dan RR dengan versi yang berbeda. Pernyataan ini dapat di dilihat dari kutipan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan.
Mungkin iya ada jadwal bermain, karena kalau “ketika anaknya main dan sudah pukul 16.00WIB, atau pkl 17.00WIB anaknya sudah di jemput atau di panggil pulang”.(I.c.AD 016-019)
Penampilan dalam berpakaian biasa saja, “tidak pernah bergaya dan caranya mengungkapkan diri biasa saja, tidak seperti anak yang lain yang masih kecil tapi sudah dandan”. (I.i.AD 061-064) Main sama teman tapi cuman di dekat-dekat situ. “ibu sering ikut duduk di tempat duduk dekat situ, kalu saya main sudah jauh ke sini di panggil pulang”. (I.d.RR 018-020)
Kalau ibu pergi jualan “saya di suruh di rumah tidak boleh main keluar, hanya nonton TV di rumah, dan pintunya di kunci”. (I.e.RR
022-024)
Ngga pernah, jarang juga main, cuman kalau ada kegiatan begini saja bisa main ke sini. “Kalau pergi main di ikut sama mama, kalau sudah sore di panggil pulang”.(I.l.RR 053-055)
Tidak, saya tidak punya baju ketat, “bajunya biasa kaya gini saja.(baju kaus oblong dan celana tiga perempat, kalau ke sekolah ya pakai seragam sekolah sama jilbab”.( I.p.RR 068-070)
Dari data yang diperoleh peneliti melalui ketiga responden di atas dapat disimpulkan bahwa (N) sebagai orangtua dalam mendampingi, mendidik dan membesarkan anaknya menggunakan pola asuh demokratis. Menurut data yang diperoleh, melalui responden maupun informan yang menyatakan bahwa, orangtua (N) memberikan kesempatan bermain untuk anaknya. Namun di sisi lain, sebagai bentuk tanggungjawab, orangtua memantau dan mengajari anak untuk disiplin
dengan membatasi waktu bermain atak. Hal ini terungkap pada pernyataan yang disampaikan oleh responden dan informan bahwa, akhir waktu bermain anak tidak lebih dari jam enam sore. Sekitar jam lima atau setengah enam anak sudah harus kembali ke rumah, dan apabila anak tidak kembali maka orangtua (N) memanggil atau menjemput anaknya pulang ke rumah.
Pernyataan dari data diatas juga tertuang dalam Ciri pola asuh demokratis menurut Gordon dalam Nurmasyithah (2014) yaitu orangtua yang mengasuh anak dengan tipe ini adalah menerima, kooperatif terhadap anak, mengajar anak untuk mngembangkan disiplin diri, jujur, dan iklas dalam menghadapi masalah anak-anak, memberikan penghargaan positif pada anak tanpa di buat-buat, mengajarkan kepada anak untuk mengembangkan tanggung jawab atas setiap prilaku dan tindakannya, bersikap akrab dan adil, tidak cepat menyalahkan, memberikan kasih sayang dan kemesraan kepada anak.
2. Pemberian Hadiah/Hukuman.
Segi pemberian hadiah atau hukuman merupakan salah satu cara orangtua berinteraksi dengan anaknya atau merupakan pola asuh yang digunakan orang tua dalam mewujudkan tanggungjawab terhadap anaknya. Pemberian hadiah kepada seseorang tidak selalu dalam bentuk barang, bisa dengan kata-kata atau juga gerak tubuh. Begitu juga dengan hukuman. Hukuman yang diberikan kepada seseorang tidak selalu dalam
bentuk fisik namun bisa dalam bentuk kata-kata, atau sikap yang membuat seseorang berpikir akan setiap prilaku yang dibuatnya. Segi atau kompnen ini termasuk dalam tipe pola asuh demokratis. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancaca yang dilakukan peneliti terhadap responden dibawah ini.
“saya diamkan saja”. ( misalnya anak saya itu maunya tinggal di sini ( Bong suwung), tapi saya lihat lokasinya kaya gini, saya bilang ke anak saya, “ngga boleh di sini” De…, di sini mama kerja. Karena saya bilang kaya gitu ke dia malah tidak mau sekolah, tidak mau ini tidak mau itu. Hanya diam saja di rumah dan setiap hari nonton TV .(I.a.N 001-006). Saat dia diam saya juga ikut diam, tapi saya masak dan siapkan makan untuk dia.
(I.b.N 012-013)
“Kadang saya matikan TVnya, Saya marahin dia, dan saya suruh dia kerja. Kalau kamu tidak mau bantu mama, mama kerja sendiri, terus kalau mama sakit siapa yang ngurusin kamu”.(dengan nada suara yang keras)? Setelah itu dia baru mau kerja. (I.h.N 075-079)
Pernyataan yang disampaikan responden (N) juga di ungkapkan oleh informan AD dan RR dengan versi yang berbeda. Pernyataan ini dapat di dilihat dari kutipan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan.
Rere itu anak perempuan “jadi dia harus melakukan ini dan itu”. Kalau tidak melakukan ya “saya marah”. (I.a.AD 004-006)
Ibunya “kadang marah”, dan bilang kalau ibu tu sudah kerja cape, kamu mbok bantuin ibu to! (I.f. AD 037-038)
“ibu tu hanya diam, kadang di tanya ndak mau jawab, kadang marah-marah”. (I.a.RR 03-05)
ibu marah-marah, terus bilang anak perempuan ko malas kerja. Ibu tu sudah kerja cape, ayo cepatan cuci piring. Kalau belum berdiri cuci piring, ibu tu masih marah-marah. .(I.j.RR 045-048)
Dari hasil wawancara yang diperoleh peneliti melalui ketiga responden diatas, peneliti menyimpulkan bahwa komponen yang muncul dari pernyataan setiap responden tertuju pada pemberian hukuman. Pemberian hukuman di sini tidak dalam bentuk hukuman fisik namun dengan menunjukan reaksi tubuh, sikap dan juga kata-kata yang ditunjukan orangtua kepada anaknya. Selain itu, pernyataan di atas juga menunjukan bahwa sebagai orangtua responden (N) menunjukan tanggungjawabnya sebagai orangtua dalam memperhatikan masa depan dan kebutuhan anak serta mengajari anak untuk bekerja.
Gordon dalam Nurmasyithah (2014) Ciri orangtua yang mengasuh anak dengan tipe ini adalah menerima, kooperatif, terhadap anak, mengajar anak untuk mngembangkan disiplin diri, jujur, dan iklas dalam menghadapi masalah anak-anak, memberikan penghargaan positif pada anak tanpa di buat-buat, mengajarkan kepada anak untuk mengembangkan tanggungjawab atas setiap prilaku dan tindakannya, bersikap akrab dan adil, tidak cepat menyalahkan, memberikan kasih sayang dan kemesraan kepada anak.
3. Menunjukan Kekuasaan/Otoriter.
Segi menunjukan kekuasaan atau otoriter merupakan salah satu cara orangtua berinteraksi dengan anaknya atau merupakan pola asuh yang digunakan orang tua dalam mewujudkan tanggungjawab terhadap anaknya. Bentuk tanggungjawab sebagai orangtua melalui data yang
diperoleh peneliti berkaitan menunjukan kekuasaan yang diterapkan N adalah Segi atau kompnen ini termasuk dalam tipe pola asuh otoriter. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kutipan wawancaca yang dilakukan peneliti terhadap responden dibawah ini.
Saat dia sampaikan sama saya diam saja, setelah itu “saya marah dan mengatakan pada dia, ibu kan sudah bilang kalau mau sekolah jangan tinggal di sini, sekolah dan tinggal di tempat lain”. (I.b.N
018-022)
Saya itu maunya dia harus sekolah, jadi anak baik dan bisa hidup baik tidak seperti saya.(I.d.N 035-036)
“Saya langsung marahi dia”, saya bilang kalau “saya kerja cari uang itu untuk kamu”, malah malas sekolah. Kalau kamu tidak sekolah nanti mau jadi apa? Mama sudah cari uang susah-susah kamu malah malas sekolah. (I.f.N 057-061)
Saya tidak bertanya pada anak saya saat mau pindakan ke imogiri. Saya pindahkan dia sekolah ke imogiri tu karena dia diam dan tidak berangkat sekolah beberapa hari. Daripada dia tidak sekolah saya urus dia pindah. (I.l.N 101-103)
Dari perernyataan yang disampaikan responden (N) ada beberapa pernyataan juga di ungkapkan oleh informan AD dan RR dengan versi yang berbeda. Pernyataan ini dapat di dilihat dari kutipan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan.
Ibunya berharap agar anaknya harus sekolah, jangan sampai seperti dirinya. (I.d.AD 021-022)
Kalau anaknya ngga sekolah dia tu “sedih, dan marah”, karena sudah cari uang susah malah ngga berangkat sekolah.(I.e.AD
030-032)
Setau saya tidak ada komunikasi, karena Rere sekolah di Imogiri itu “keputusan ibunya”. (I.h.AD 050-051)
ibu tu bilang, kalau mau sekolah boleh, tapi “tidak boleh sekolah di sini”, sekolah dan tinggal di tempat lain. (I.b.RR 011-012)) Ibu tu, sering ngomong, kamu tu harus sekolah.belajar yang rajin, jangan kaya ibu. (I.g.RR 029-030)
kalau tidak berangkat sekolah di marah sama ibu. ibu tu ngomong terus kalau dia tu cari uang untuk saya, bayar sekolah tapi saya malas sekolah.(I.h.RR O37-039)
Tidak Tanya, langsung urus surat pindah dan antar saya ke Imogiri. (I.m.RR 058-059)
Dari data yang diperoleh peneliti melalui ketiga responden di atas dapat disimpulkan bahwa N sebagai orangtua memiliki tanggungjawab atas kehidupan anaknya dalam mendampingi, mendidik dan membesarkan anaknya. Bentuk tanggungjawab sebagai orangtua melalui data yang diperoleh peneliti berkaitan menunjukan kekuasaan yang diterapkan N adalah mengatur, memarahi, mengharuskan sesuatu untuk dilakukan anaknya, memutuskan sesuatu secara sepihak. Dari pernyataan ketiga responden menunjukan bahwa N sebagai orangtua menggunakan pola asuh otoriter dalam mengasuh anaknya.
Gordon dalam Nurmasyithah (2014) menyebutkan beberpa ciri orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter adalah orangtua yang sering memusuhi, tidak kooperatif, menguasai, suka memarahi anak, menuntut yang tidak realistis, suka memerintah, menghukum secara fisik, tidak memberikan keleluasaaan (mengekang), membentuk disiplin secara sepihak, suka membentak, dan suka mencaci-maki.
4. Memberikan Perhatian Atau Tanggapan
Segi pemberian memberikan perhatian atau tanggapan merupakan salah satu cara orangtua berinteraksi dengan anaknya atau merupakan pola asuh yang digunakan orang tua dalam mewujudkan tanggungjawab terhadap anaknya. Perhatian atau tanggapan setiap orangtua kepada anaknya berbeda-beda, dan tidak selalu bernada positif atau ungkapan yang baik. Peneliti menggolongkan segi atau kompnen ini dalam tipe pola asuh permisif. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancaca yang dilakukan peneliti terhadap responden dibawah ini.
Kalau saya cape saya bilang ke dia cerita sambil tiduran saja ya…tapi “saya tidak terlalu mendegarkan dia cerita dan saya tertidur”. (I.g.N 069-071)
Kalau dia tanya tentang tugas sekolah atau PR saya jawab dengan nadanya agak kasar ke dia ibu tu tidak tahu dan tidak bisa kerjakan, kamukan yang belajar. kalau sudah belajar di sekolah berarti bisa kerjakan. Ibu ngga tahu dan ngga bisa ngajarin, kerjakan sendiri (nadahnya marah). ( I.j.N 087-091)
Pernyataan yang disampaikan responden (N) juga di ungkapkan oleh informan AD dan RR dengan versi yang berbeda. Pernyataan ini dapat di dilihat dari kutipan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan.
Kalau di tanyain PR itu tidak bisa bantu untuk mengerjakan, karena ibu tu pernah cerita kalau dia tidak sekolah, jadi tidak tau ngerjain tugas sekolah dari anaknya, entah beliau sekolah sampai kelas berap tidak cerita juga ke saya. Kalau anaknya minta ngajarin, dia suruh kerja sendiri, sudah sekolah ko suruh saya yang kerjakan, begitu katanya. (I.g.AD 041-047)
Pernah, kadang di dengarkan tapi kadang ditinggal tidur. (I.i.RR
Kalau di tanya, ibu tu tidak penah ngajarin, malah marah-marah, katanya kamukan sekolah, ngapai Tanya ke ibu, ibu tidak tahu, kerjakan sendiri tugasnya. (I.k.RR 049-051)
Dari data yang diperoleh peneliti melalui ketiga responden di atas dapat disimpulkan bahwa N sebagai orangtua memiliki tanggungjawab atas kehidupan anaknya dalam mendampingi, mendidik dan membesarkan anaknya. Hasil wawancara menunjukan bahwa N sebagai orangtua memberikan tanggapan terhadap anaknya dengan menunjukan sikap kurang peduli yang terdapat pada kata “tidak terlalu mendegarkan dia cerita dan saya tertidur” dan membiarkan anaknya mengerjakan tugasnya sendiri. Tanggapan N terhadap anaknya melalui sikap yang ditunjukan ini termasuk dalam pola asuh orangtua dengan tipe permisif.
Gordon dalam Nurmasyithah (2014) menyebutkan beberpa ciri orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter adalah orangtua yang sering memusuhi, tidak kooperatif, menguasai, suka memarahi anak, menuntut yang tidak realistis, suka memerintah, menghukum secara fisik, tidak memberikan keleluasaaan (mengekang), membentuk disiplin secara sepihak, suka membentak, dan suka mencaci-maki.