BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik semi tertstruktur terhadap narasumber dengan memfokuskan pada munculnya aspek empati terhadap anak berkebutuhan khusus yang diampu oleh guru tersebut. Pelaksanaan wawancara dilakukan secara tatap muka dengan narasumber guru ABK yang mengajar Kelas I-III di rumah guru tersebut di daerah Tegal Blateran, Klaten Tengah, Klaten. Untuk guru ABK yang mengajar Kelas IV-VI wawancaraa juga dilaksanakan tatap muka di ruang komputer SD Negeri 2 Semangkak. Guru ABK yang mengajar kelas I-III sebagai narasumber pertama sudah kurang lebih tiga tahun mengajar di sekolah tersebut dan empat tahun mengajar di lembaga lainnya, sedangkan guru ABK yang mengajar kelas IV-VI sebagai narasumber kedua sudah mengajar selama kurang lebih empat tahun di SD Negeri 2 Semangkak. Adapun hasil wawancara yang dilakukan sebagai berikut :
51
a. Narasumber 1 (Guru Anak Berkebutuhan Khusus Kelas I-III) 1) Perspective Taking
Narasumber menjelaskan bahwa untuk memahami siswa ABK terutama keinginan siswa ABK merupakan hal yang mudah.
“Saya merasa mudah saja memahami dia gitu. O anak ini seperti ini, seperti itu. Sudah terbiasa ya berkutatnya itu itu terus.”
(W1.GKB.04052021.1-2).
Pengalaman narasumber dalam menangani anak berkebutuhan khusus juga mempengaruhi bagaimana narasumber mampu memahami keinginan yang ditunjukkan siswa ABK.
“Ya kan kadang anak itu kalau sudah bosan itu marah atau hilang moodnya, nah dari itu kita bisa tahu anak itu masih mau belajar atau tidak.” (W1.GKB.04052021.2-3). Seperti yang narasumber tersebut sampaikan bahwa untuk memahami keinginan siswa ABK maka biasanya guru melihat raut wajah siswa ABK dan juga bahasa isyarat yang digunakan, salah satu contohnya yaitu ketika siswa tersebut mulai bosan maka mood siwa ABK otomatis juga berubah. Melalui tanda yang ditunjukkan oleh siswa kepada narasumber/guru, maka narasumber akan dengan mudah mengenali dan menganalisis kebutuhan siswa.
Narasumber memandang siswa ABK sebagai siswa yang seharusnya dapat berkembang lebih seperti anak seumurannya.
Akan tetapi perkembangan yang dialami siswa ABK sangat terbatas. Hal tersebut yang membuat narasumber merasa kasihan dan tersentuh ketika melihat siswa berkebutuhan khusus. Selama pelaksanaan pembelajaran di kelas, narasumber/guru tidak membeda-bedakan siswa ABK terutama dalam hal membantu siswa. Guru inklusi mengutamakan dan mendahulukan siswa yang sangat membutuhkan bantuan terlebih dahulu, kemudian baru membantu siswa lainnya.
52
“Yasudah biarkan dia main dulu. Jadi untuk mengatasi anak yang kurang mood. Kalau gak tak biarin dulu nunggu sampai anak mood dulu. Ya dilihat mana yang sangat butuh dibantu dahulu mbak.” (W1.GKB.04052021.4-6). Seperti yang disampaikan narasumber, apabila terdapat siswa yang kehilangan mood maka narasumber/guru membiarkan siswa tersebut untuk bermain sampai mood siswa tersebut kembali, baru kemudian narasumber membantu apa yang menjadi kesulitan siswa ABK.
Guru berusaha membantu menyelesaikan kesulitan yang dialami siswa satu demi satu.
Menurut pendapat Narasumber, untuk beliau dapat beradaptasi dengan siswa ABK yang beliau ampu, cara yang digunakan yaitu melalui sentuhan dan pendekatan. “Hati mbak, yang jelas benar-benar dari hati mbak.” (W1.GKB.04052021.6-9). Dalam wawancara tersebut narasumber juga menegaskan bahwa yang paling penting adalah memiliki hati untuk mengajar siswa ABK tersebut.
2) Fantasy
Selama mengajar menjadi guru inklusi bagi siswa ABK, narasumber tidak pernah membayangkan berada di posisi anak berkebutuhan khusus. Akan tetapi narasumber membayangkan kesulitan yang dialami oleh orang tua siswa ABK dalam membiayai dan mengurus anak berkebutuhan khusus. “Cuma kasihan orang tuanya, dia butuh terapi, makanannya khusus, minumannya khusus, serba khusus semua mbak. Kadang saya melihat orangtuanya itu luar biasa karena apa sudah 24 jam dia menjaga, pola makanan, pola mendidiknya.”
(W1.GKB.04052021.9-12). Narasumber merasa kasihan kepada orang tua siswa ABK itu karena ada banyak hal yang dibutuhkan anak ABK, bahkan harus menjaga pola makan dan bagaimana
53
harus mendidik anak itu dengan tepat. Narasumber lebih membayangkan berada di posisi orang tua siswa ABK.
Narasumber lebih dapat membayangkan kesulitan yang dialami oleh orang tua siswa dibandingkan yang dialami oleh siswa ABK sendiri. “Kalau anaknya ya biasanya akan terkendala dengan komunikasi sama penyesuaian belajar bersama teman sebayanya mbak.” W1.GKB.04052021.9-12. Seperti yang narasumber sampaikan biasanya kendala atau kesulitan yang dialami yaitu tentang komunikasi dan juga penyesuaian siswa untuk belajar bersama dengan teman sebayanya yang tidak memiliki kebutuhan khusus.
Untuk mengkomunikasikan materi pembelajaran, guru lebih sering menggunakan media gambar.” Lebih mudah menggunakan media gambar. Pokoknya medianya semuanya gambar mbak, ujian pun gambar.” (W1.GKB.04052021.12-14). Menurut narasumber dengan adanya gambar dapat mempermudah siswa untuk memahami materi dan juga kegiatan yang diberikan oleh narasumber/ guru. Bahkan ketika ujian pun adanya gambar dapat memperjelas perintah atau soal yang harus dikerjakan oleh siswa ABK.
3) Empathic Concern
Setiap siswa ABK pasti mengalami kesulitan tertentu, mengenai hal ini narasumber berpendapat bahwa dibutuhkan kesabaran dan guru harus mampu menangani anak yang mengalami kesulitan tersebut. “Ya harus sabar mbak, juga tidak sembarangan guru dapat menangani anak itu. Harus memahami anak secara keseluruhan juga.” (W1.GKB.04052021.14-15).
Kesabaran menjadi poin penting untuk guru dapat menangani kesulitan yang siswa ABK alami, karena tidak semua guru dapat menangani hal tersebut.
54
Berdasarkan kesulitan yang siswa ABK alami ada cara yang guru gunakan untuk membantu siswa menyelesaikan kesulitan tersebut. Narasumber menjelaskan bahwa untuk menangani kesulitan yang dialami siswa ABK, terlebih dahulu guru inklusi harus mengamati dan menganalisis sejauh mana kemampuan siswa lalu fokus dengan satu hal yang belum dikuasai oleh siswa ABK tersebut.
“Kalau wali kelas atau guru lainnya melihat anak kesulitan dibiarkan saja entah tahu atau tidak tahu dibiarkan, karena ada anak yang normal lainnya juga. Kalau guru ABK dilihat kemampuan anaknya dari mana, seandainya matematika belum bisa ya kita kejar matematika, kalau belum bisa baca ya kita kejar bacanya, kita kejar terus. Jadi fokus dulu satu satu mbak mana yang anak itu kesulitan.” (W1.GKB.04052021.16-17).
Narasumber juga menekankan bahwa cara yang dilakukan oleh guru kelas berbeda dengan guru inklusi, apabila guru kelas lebih berfokus dengan materi dan juga dengan siswa umum lainnya, guru inklusi terlebih dahulu harus mengetahui kemampuan siswa ABK tersebut.
Lebih lanjut narasumber juga mengatakan bahwa di setiap tingkat kelasnya terdapat siswa yang sulit untuk diatur dan membutuhkan perhatian dan bantuan lebih. “Ada mbak, di setiap tingkatnya pasti ada yang memang butuh diperhatikan dan butuh dibantu”. (W1.GKB.04052021.17). Dalam menangani siswa ABK yang sulit diatur dan juga agar dapat beradaptasi dengan mudah biasanya guru berusaha melakukan pendekatan dengan mengajak berbincang dan juga rayuan agar dapat memulihkan mood siswa tersebut.
“Mendekati dia, banyak rayuan lah dengan mainan, dengan kita mengajak bercanda, memulihkan moodnya. Aku selalu bawa mainan mbak.”(W1.GKB.04052021.17-18). Guru juga selalu
55
membawa mainan yang dapat membantu siswa untuk tidak bosan sekaligus menjadi kegiatan siswa tersebut.
Narasumber juga menerangkan bahwa ketika mengajar beliau juga memberikan terapi kepada siswa ABK. Terapi yang diberikan yaitu melalui alat-alat peraga dan juga permainan yang biasa dibawa oleh guru. Salah satunya yaitu kartu angka yang biasanya dipakai untuk membantu anak menghapalkan dan mengurutkan angka. Narasumber juga menyampaikan bahwa terapi lebih berfokus pada pencapaian kemampuan dasar (membaca, menulis dan berhitung), dan juga perilakunya. ” Ya terapinya lewat alat-alat peraga itu mbak. Saya lebih mengajari anak-anak untuk dasarnya dulu mbak memebaca menulis gitu juga terapi perilakunya.” (W1.GKB.04052021.18).
Narasumber menerangkan bahwa biasanya beliau menyempatkan waktu setelah jam pembelajaran untuk berkomunikasi dengan siswa ABK. “Iya ada, biasanya ngobrol sama anaknya kalau habis mengajar.”(W1.GKB.04052021.18-19). Seperti yang sudah disampaikan di atas, ketika siswa ABK mengalami kesulitan maka guru akan mendekati dan menanyakan apa yang jadi kesulitan siswa. Hal tersebut juga dilakukan oleh narasumber/guru untuk mengomunikasikan kesulitan yang dialami oleh siswa ABK. Narasumber mengatakan bahwa beliau juga mendampingi di sebelah siswa yang mengalami kesulitan tersebut. Jadi untuk mengkomunikasikannya guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan memberikan perintah tetapi juga mengajak berbicara siswa.
“Tidak hanya terus berdiri di papan tulis , tapi saya dampingi di sebelahya Saya dekati, pasti kemudian diajak bicara baik-baik dibantu mana yang belum bisa mbak, jadi giliran satu selesai lainnya baru menyusul.” (W1.GKB.04052021.19).
56
Guru dan siswa ABK membuat kesepakatan untuk kegiatan pembelajaran. Hal itu disampaikan oleh narasumber dalam wawancara. Kesepakatan yang dibuat yaitu melakukan terapi perilaku terutama duduk tenang. Terapi perilaku tersebut dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. Guru mengajak anak untuk duduk tenang terlebih dahulu selama lima menit setelah itu memulai pembelajaran dan masuk ke materi. Kesepakatan juga dibuat untuk menentukan materi yang diberikan, dalam hal ini guru tidak memaksakan materi kepada siswa tetapi mengikuti sejauh mana kemampuan siswa. “Ada mbak kadang kita ajari duduk tenang, melakukan terapi dulu baru belajar. Misal “duduk tenang 5 menit”.Menyiapkan dulu perilakunya sebelum masuk ke materi. Saya juga mengikuti perkembangan anaknya, untuk materi tidak dipaksakan dengan apa yang saya mau tapi manut kemampuan mereka.”(W1.GKB.04052021.19-20).
“Ya itu tadi kadang waktu istirahat saya dekati diajak mengobrol, juga mengobrol dengan orang tuanya agar tahu perkembangan anaknya di rumah juga.”
(W1.GKB.04052021.20-21). Seperti yang diterangkan oleh narasumber, beliau melakukan pendekatan khusus kepada siswa dengan mengajak siswa dan orang tuanya untuk berbicara sekaligus mengkomunikasikan perkembangan yang siswa alami selama di sekolah dan juga di rumah.
4) Personal Distress
Narasumber menjelaskan bahwa sebagai seorang guru inklusi beliau memahami latar belakang masing-masing siswa ABK yang dia ampu.. “Paham tentang latar belakangnya mbak kalau saya, Kan kalau anak ABK kalau mau berhasil kita lihat dari riwayat waktu di dalam kandungan”.
(W1.GKB.04052021.21-24). Narasumber juga menambahkan
57
bahwa untuk membawa siswa ABK tersebut berhasil maka guru inklusi harus memahami riwayat kelahiran dan pertumbuhan siswa tersebut.
Selama melaksanakan kegiatan di sekolah, siswa tidak memiliki kendala khusus dalam bergaul dengan teman sebayanya, terutama dengan siswa yang tidak memiliki kebutuhan. “Anak ABKnya malah bermain dengan teman yang tidak memiliki kebutuhan, pokoknya dia tidak mau membeda-bedakan mbak.
Antara anak yang khusus sama anak biasa malah merangkul.”
(W1.GKB.04052021.24-26). Melalui pernyataan narasumber, dapat diketahui bahwa tidak takut dan tidak minder untuk bermain dan bergaul dengan temannya, karena siswa saling menerima dan tidak membeda-bedakan.
Berkaitan dengan tidak adanya kendala ketika siswa ABK bergaul dengan siswa umum lainnya, hal itu juga didorong dari guru yang memberikan kebebasan dan kesempatan kepada siswa ABK untuk bercengkrama dengan siswa lainnya.. “membiarkan anak-anak bermain dengan teman sebayanya, terus percaya dan tidak dikucilkan, tidak memisahkan antara anak ABK dengan anak lainnya saat jam istirahat atau bahkan belajar di kelas, kecuali saat jam inklusi.” (W1.GKB.04052021.26-29).
Narasumber menerangkan bahwa beliau menaruh kepercayaan dan tidak mengucilkan atau tidak memisahkan antara siswa ABK dengan siswa lainnya sehingga siswa dapat bergaul dengan mudah.
b. Narasumber 2 (Guru Anak Berkebutuhan Khusus Kelas IV-VI) 1) Perspective Taking
Keinginan siswa ABK dengan mudah dipahami oleh guru karena guru sudah terbiasa menangani dan juga guru melakukan observasi terlebih dahulu. Seperti yang dikatakan oleh guru
"biasanya sebelum proses awal pembelajaran, awal masuk itu
58
saya lakukan observasi dulu kurang lebih seminggu jadi saya bisa lihat karakteristik anaknya dan mudah mengenali anak-anaknya” (W2.GKA.260421.1-3). Selain mengidentifikasi karakteristik siswa, guru juga melakukan identifikasi perilakunya untuk mengenali keinginan siswa ABK. Untuk lebih memudahkan mengenali keinginan siswa guru mengatakan bahwa “Cara lainnya ya bicara secara langsung juga dengan anaknya. saya kan sudah sering berhadapan jadi tahu apakah anak ini mau tantrum atau punya keinganan sesuatu”
(W2.GKA.260421.4-7). Dari pernyataan tersebut dengan adanya komunikasi secara langsung mempermudah pemahaman guru terhadap keinginan siswa ABK. Untuk mengungkapkan keinginannya kepada guru, siswa ABK memberikan tanda yang dapat dimengerti guru. Tanda ditunjukkan melalui beberapa kata dan juga perilaku misalnya ketika keinginannya tidak dituruti siswa akan marah. “Ada yang ngomong beberapa kata gitu mbak.
Kalau misalnya keinginannya tidak dituruti biasanya anak itu tidak bisa diam atau marah.” (W2.GKA.260421.8-12).
Ketika guru dengan mudah memahami dan mengerti keinginan siswa tentunya guru ABK memiliki pandangan terhadap siswanya. Menurut narasumber siswa ABK mendapat tersendiri di hati guru tersebut. Narasumber juga menambahkan bahwa melalui kejujuran dan sikap yang ditunjukkan oleh siswa membuat guru ABK tersebut menjadi tersentuh dan berusaha membantu siswa ABK, sehingga siswa ABK menjadi siswa yang istimewa dan bukan untuk dikucilkan. “Anak ABK itu mendapat tempat tersendiri di hati saya, dari anak anak seperti ini saya belajar untuk sabar, iklas. Saya jadi tersentuh dengan kejujuran mereka, sikapnya, saya berusaha membantu anak yang seperti ini, mereka istimewa bukan untuk dikucilkan.”
(W2.GKA.260421.13-15).
59
Di kelas inklusi yang diampu oleh narasumber terdapat siswa ABK yang masing-masing siswanya memiliki kebutuhan perhatian dan memiliki kepentingan yang harus terpenuhi.
Sebagai guru ABK, narasumber berusaha untuk memperhatikan kepentingan semua siswa ABK yang diampunya. Narasumber mengatakan bahwa “semua siswa harus diperhatikan mbak, karena memang memiliki keistimewaan masing-masing, tapi mana yang lebih dahulu butuh bantuan saya bantu."
(W2.GKA.260421.15-16). Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa narasumber sebagai guru ABK berusaha mendahulukan yang sangat membutuhkan bantuan darinya baru kemudian membantu siswa lainnya. Untuk membantu siswa ABK terlebih dahulu guru ABK harus mampu beradaptasi dengan karakteristik masing-masing siswanya. Cara yang digunakan narasumber untuk dapat beradaptasi dengan siswanya yaitu diawali dengan adanya penerimaan terhadap siswa ABK baru kemudian guru mulai mengamati siswa. Setelah memahami karakter siswa, kemudian guru mulai mengajak siswa untuk berbicara secara langsung. “Untuk beradaptasi tidak butuh waktu yang lama mbak 1-2 hari, karena mungkin pengalaman juga ya mbak. Jadi lewat pengamatan dan berbicara langsung. Dilihat karakter anaknya, jadi kalau anaknya pendiam ya kita yang aktif.
Dimulai dari saya yang menerima anak ini.”
(W2.GKA.260421.17-19).
2) Fantasy
Sebagai guru ABK di sekolah inklusi, narasumber tidak dapat membayangkan apabila beliau berada di posisi siswa ABK.
Akan tetapi guru ABK memposisikan diri apabila anak beliau merupakan anak ABK. Guru lebih dapat membayangkan sebagai orang tua siswa ABK. Maka dari itu guru berusaha membantu dan
60
menguatkan orang tua siswa ABK tersebut. “Saya tidak bisa membayangkan di posisi tersebut mbak. Kadang mikirnya gini Ya Allah kalau anak saya seperti anak itu kuat tidak ya, jadi saya berusaha membantu orang tuanya, menguatkan, lewat kata kata.”
(W2.GKA.260421.20-22).
Walaupun tidak dapat membayangkan menjadi siswa ABK, narasumber menjelaskan bahwa beliau dapat membayangkan kesulitan yang dialami oleh siswanya. “Jelas mbak, mereka kesulitan untuk mengikuti pembelajaran di kelas biasa mbak.
Makanya saya lebih fokus ke perilakunya mbak tidak melulu ke materi yang harus dicapai, agar anak bisa mandiri dulu baru materinya.”(W2.GKA.260421.23-24). Dari pernyataan narasumber tersebut, dapat diketahui bahwa guru membayangkan kesulitan siswa untuk menyesuaikan diri, dan dalam hal berperilaku ketika mengikuti pembelajaran di kelas.
Ketika melaksanakan pembelajaran siswa membutuhkan bantuan guru untuk dapat menghubungkan dan mengkomunikasikan siswa dengan materi yang akan dipelajari.
Narasumber mengatakan bahwa “ untuk komunikasinya mbak kami langsung to the point mbak. Kalau untuk anak umum bisa menggunakan kalimat yang panjang, tapi anak ABK berbeda mbak harus pakai kata yang singkat hanya intinya saja”
(W2.GKA.260421.25-27). Cara yang digunakan guru untuk mengkomunikasikan pembelajaran kepada siswa ABK yaitu dengan berbicara secara langsung menggunakan kata-kata yang singkat dan berfokus pada inti pembelajarannya saja.
3) Emphatic Concern
Kembali lagi mengenai kesulitan yang dialami oleh siswa, narasumber/ guru ABK memiliki pendapat tersendiri menanggapi kesulitan tersebut. Apabila terdapay siswa ABK yang mengalami
61
kesulitan, narasumber menerangkan bahwa beliau harus membantu anak yang kesulitan satu demi satu, seperti yang menjadi tekad beliau untuk membantu siswanya. Guru berusaha untuk membantu sampai siswa ABK tersebut bisa. “Yang jelas harus bantu anak-anak yang kesusahan itu satu demi satu mbak, karena dari awal tekad saya mau bantu mereka buat bisa materi tertentu itu mbak. Saya berusaha bantu sampe anak itu bisa mbak.” (W2.GKA.260421.28-31).
Penyesuaian siswa ABK ketika belajar bersama teman lain dan juga siswa umum di kelas biasa juga menjadi tanggung jawab guru ABK. Untuk membantu siswa ABK dalam belajar agar dapat seperti siswa umum lainnya guru mendampingi siswa pelan-pelan dan menyesuaikan dengan materi yang dirasa sulit bagi siswa ABK. Selain itu guru juga berusaha membantu mempertahaknkan perilaku siswa untuk tetap stabil, hal itu juga menjadi latihan ketika siswa ABK kembali belajar dengan siswa umum di kelas. “Saya dekati anak itu mbak, saya tanya pelan-pelan materi yang mana anak itu merasa kesulitan. Yang jelas saya dampingi terus. Jadi di kelas inklusi ini saya bantu anaknya terutama untuk stabil perilakunya ya untuk latihan ketika kembali ke kelas biasa mbak.” (W2.GKA.260421.32-33).
Ketika mendampingi siswa ABK di kelas atas guru ABK tersebut mengatakan bahwa di setiap kelasnya yaitu dari kelas IV sampai kelas VI pasti terdapat siswa ABK yang sulit di atur.
Narasumber menambahkan bahwa “pasti ada yang sulit karena pasti ada anak yang tantrum dan ngamuk. Anak-anak seperti itu yang kadang sulit untuk diatur mbak” (W2.GKA.260421.33-34).
Seperti yang dinyatakan oleh narasumber setiap anak hiperaktif yang terdapat di kelas yang sering tantrum merupakan anak-anak yang tergolong sulit diatur. Untuk menanggapi siswa yang sulit diatur tersebut masing-masing guru memiliki cara agar siswa
62
tersebut dapat belajar dan beradaptasi dengan siswa lainnya.
Salah satu cara yang digunakan yaitu dengan mendampingi siswa tersebut secara intensif, dan juga mengajak siswa untuk berkomunikasi kata per kata. Guru juga mengajak siswa untuk memberikan pendapat mengenai apa yang siswa mau. “Salah satu caranya saya mendampingi anak itu secara intensif mbak, duduk di sampingnya dan saya ajak komunikasi kata per kata, baru kalau misal anak itu sudah bisa saya kembali fokus dengan teman lainnya. Adaptasinya ya dengan mengajak anak-anak itu memberikan pendapat tentang apa yang siswa mau, sambil menunggu teman lainnya sambil mendalami materi itu mbak.”
(W2.GKA.260421.35-38).
Saat menangani siswa yang sulit untuk diatur dan juga mengalami kesulitan di dalam kelas guru ABK dengan gangguan atau permasalahan tertentu, guru ABK memberikan terapi sebagai kepedulian guru terhadap siswa yang diampunya.. “Tapi yang jelas saya diskusikan dulu dengan orang tua dan juga saya mendengar dari anaknya itu, hasil observasi juga jadi acuan saya mbak. Kalau saya lebih fokus kepada terapi perilaku anaknya dulu mbak.Misalnya saya ajak anak bagaimana duduk yang bagus, tenang. Saya treatment anak untuk duduk tenang 10 menit hari ini, lalu besok lagi 15 menit, nanti naik lagi jadi setiap minggunya ada perkembangan.” (W2.GKA.260421.38-40). Dari pernyataan tersebut untuk menentukan terapi apa yang akan diterapkan kepada siswa tertentu, guru berdiskusi terlebih dahulu dengan orang tua dan siswa. Akan tetapi guru lebih berfokus untuk memberikan terapi perilaku kepada siswa ABK terlebih dahulu baru kemudian masuk ke materi. Terapi yang dilakukan salah satunya yaitu terapi bagaimana siswa dapat duduk tenang selama pembelajaran.
63
Tidak hanya memberikan terapi kepada siswa yang guru ABK tersebut ampu. Guru juga memberikan perhatian dengan menyempatkan waktu untuk berbincang dengan siswa ABK.
Seperti apa yang disampaikan narasumber “saya ajak berbincang ketika setelah pembelajaran. Biasanya saya ajak anak komunikasi mengenai pembelajaran yang dia pelajari baru saja dan juga saya tanya apa yang dia rasakan”
(W2.GKA.260421.41-42). Guru menggunakan jeda pelajarajan atau waktu setelah pembelajaran selesai untuk berbincang dengan siswa ABK. Guru mengajak siswa mengkomunikasikan materi yang dipelajari dan juga apa yang siswa rasakan ketika belajar, dari sana guru dapat mengetahui perkembangan siswa tersebut.
Lebih lagi guru ABK mengajak siswa untuk mengeksplorasi dan membebaskan siswa berpendapat mengenai materi yang akan siswa ABK pelajari. Kesempatan untuk berbincang dan berkomunikasi tersebut digunakan guru sebagai pendekatan yang dilakukan guru ABK terhadap siswa ABK secara tatap muka, selain itu guru juga dapat menganalisis kesulitan yang dialami siswa melalui komunikasi yang dibangun antara guru dan siswa tersebut.. “Biasanya saya ajak anak untuk mengekplorasi apa yang mereka pelajari dan membebaskan mereka berpendapat materi apa yang dirasa sulit atau mau dipelajari lagi. Nah dari pendapat mereka itu baru saya rangkum.”
Lebih lagi guru ABK mengajak siswa untuk mengeksplorasi dan membebaskan siswa berpendapat mengenai materi yang akan siswa ABK pelajari. Kesempatan untuk berbincang dan berkomunikasi tersebut digunakan guru sebagai pendekatan yang dilakukan guru ABK terhadap siswa ABK secara tatap muka, selain itu guru juga dapat menganalisis kesulitan yang dialami siswa melalui komunikasi yang dibangun antara guru dan siswa tersebut.. “Biasanya saya ajak anak untuk mengekplorasi apa yang mereka pelajari dan membebaskan mereka berpendapat materi apa yang dirasa sulit atau mau dipelajari lagi. Nah dari pendapat mereka itu baru saya rangkum.”