• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Variabel Penelitian a. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah penambahan output atau pertambahan pendapatan dalam suatu wilayah secara agregat dalam kurun waktu tertentu misalnya satu tahun.

Tabel 4.6

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat 2014-2019 Tahun PDRB Harga Konstan (Miliar

Rupiah)

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, 2021

44

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.

Pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi terjadi pada tahun 2010 dimana PDRB naik sebesar 11,91%, sedangkan yang terendah terjadi pada tahun 2004 dimana PDRB hanya naik sebesar 5,38%.

b. Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga-harga umum secara terus menerus selama periode tertentu.

Tabel 4.7

Inflasi Provinsi Sulawesi Barat 2014-2020

Tahun Inflasi(%)

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, 2021 Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa inflasi di Provinsi Sulawesi Barat mengalami fluktuasi antara tahun 2010-2019. Inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2007-2008 dimana tingkat inflasi sebesar 11,66%,

sedangkan inflasi terendah terjadi pada tahun 2018 dimana tingkat inflasi hanya sebesar 1,80%.

c. Upah Minimum

Upah minimum adalah upah yang paling rendah yang diizinkan untuk dibayar oleh perusahaan kepada pekerjanya.

Tabel 4.8

Upah Minimum Provinsi Sulawesi Barat 2004-2019 Tahun Upah minimum (Rupiah)

2004 455.000

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, 2021

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa upah minimum Provinsi Sulawesi Barat mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Upah minimum tertinggi pada tahun 2019 sebesar Rp. 2.381.000, sedangkan yang terendah pada tahun 2004 sebesar Rp. 455.000.

46

2. Hasil Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah nilai residual berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki nilai residual yang berdistribusi normal. Menurut Imam Ghozali (2011) model regresi dikatakan berdistribusi normal jika data ploting (titik-titik) yang menggambarkan data sesungguhnya mengikuti garis diagonal.

Gambar 4.1 Uji Normalitas

Berdasarkan gambar di atas normal probability plot, menunjukkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan menunjukkan pola distribusi normal, sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas memenuhi dan layak dipakai untuk memprediksi migrasi berdasarkan variabel bebasnya.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Menurut Imam Ghozali (2011) tidak terjadi heteroskedastisitas, jika tidak ada pola yang jelas (bergelombang, melebar kemudia menyempit) pada gambar scatterplots, serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka 0.

Gambar 4.2 Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan gambar 4.2 di atas hasil output gambar scatterplot, didapat titik menyebar di bawah serta diatas sumbu Y, dan tidak mempunyai pola yang teratur. Maka dapat disimpulkan variabel bebas di atas tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.

48

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi , maka dinamakan ada problem auto korelasi (Imam Ghozali, 2011). Metode pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji Lagrange-Multiplier dengan ketentuan sebagai berikut :

1) Jika nilai Chi Square hitung lebih kecil dari Chi Square tabel maka tidak terjadi gejala autokorelasi.

2) Jika nilai Chi Square hitung lebih besar dari Chi Square tabel maka terjadi gejala autokorelasi.

Tabel 4.9 Uji Autokorelasi Lagrange-Multiplier (LM Test) Model Summary

a. Predictors: (Constant), UT2, PERTUMBUHAN EKONOMI (X1), UT_1, INFLASI (X2)

Berdasarkan dari tabel di atas nilai R Square adalah 0,241 maka :

Sebagaimana dasar pengambilan keputusan dalam uji LM Test di atas, Chi Square hitung lebih kecil dari Chi Square table (3,256 <

5,991) dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi.

Dengan demikian maka analisis regresi linear berganda untuk uji hipotesis penelitian di atas dapat dilanjutkan.

d. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas adalah uji yang bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Menurut Imam Ghozali (2011) tidak terjadi gejala multikolinearitas, jika nilai Tolerance > 0,100 dan nilai VIF < 10,00.

Tabel 4.10 Uji Multikolinieritas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

PERTUMBUHAN EKONOMI (X1) ,644 1,552

INFLASI (X2) ,644 1,552

Berdasarkan tabel analisis output diatas hasil output VIF dari kedua variabel 1,552 < 10,00 dan tolerance 0,644 > 0,100 dapat disimpulkan bahwa antara variabel bebas tidak terjadi gejala multikolinearitas.

3. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Analisis regresi linear berganda bertujuan untuk mengetahui pengaruh dua atau lebih dua variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun hasil regresi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

50 a. Dependent Variable: UPAH MINIMUM REGIONAL (Y)

Berdasarkan pada tabel 4.11 terlihat bahwa nilai konstanta α sebesar 0,881 dan koefisien regresi β1 sebesar 0,402 dan β2 sebesar -0,012.

Dalam penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap upah minimum regional, digunakan persamaan regresi linier berganda semi-log dengan formulasi sebagai berikut :

Nilai konstanta dengan koefisien regresi pada tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Konstanta sebesar 0,881 menunjukkan bahwa jika variabel independen (pertumbuhan ekonomi dan inflasi) diasumsikan tidak mengalami perubahan (konstan) maka nilai Y adalah sebesar 0,881%.

b. Pertumbuhan ekonomi (X1) sebesar 0,402 berarti setiap perubahan sebesar 1% maka upah minimum regional akan mengalami perubahan sebesar 0,402%.

c. Inflasi (X2) sebesar -0,012 berarti setiap perubahan sebesar 1%

maka upah minimum regional akan mengalami perubahan sebesar -0,012%.

4. Uji Hipotesis

a) Analisis Koefisien Determinasi (Uji R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan himpunan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol sampai satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.

Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

Tabel 4.12 Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 ,940a ,883 ,865 ,08282 1,049

a. Predictors: (Constant), INFLASI (X2), PERTUMBUHAN EKONOMI (X1) b. Dependent Variable: UPAH MINIMUM REGIONAL (Y)

Pada tabel model summary terlihat nilai R2 sebesar 0,883. Hal ini berarti bahwa 88,3% variasi variabel Upah Minimum mampu dijelaskan oleh himpunan variasi variabel independen pertumbuhan ekonomi dan inflasi, sisanya sebesar 11,7% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model penelitian.

52

b) Uji Simultan (Uji –F)

Uji ini dimaksudkan untukan mengetahui signifikan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama.

Menurut Imam Ghozali (2011) jika nilai Sig. < 0,05 maka artinya variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.

Hipotesis simultan dalam penelitian ini adalah diduga bahwa pertumbuhan ekonomi dan inflasi berpengaruh secara simultan terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat. Dengan kriteria penerimaan dan penolakan sebagai berikut :

Ho : tidak ada pengaruh secara simultan pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat

Ha : ada pengaruh secara simultan pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat

Tabel 4.13

a. Dependent Variable: UPAH MINIMUM REGIONAL (Y)

b. Predictors: (Constant), INFLASI (X2), PERTUMBUHAN EKONOMI (X1)

Berdasarkan tabel output SPSS di atas menunjukkan pengaruh variabel pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat dengan nilai F hitung sebesar 49,222 dan nilai Sig. adalah sebesar 0,000. Karena nilai Sig. 0,000 < 0,05 dan F hitung lebih besar dari F tabel 49,222 > 3,74. Berdasarkan dasar

pengambilan keputusan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengujian hipotesis di atas Ha ditolak dan Ho diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi (X1) dan inflasi (X2) berpengaruh terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat (Y).

c) Uji Parsial (Uji –t)

Uji t pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas atau variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat atau variabel dependen. Uji t digunakan untuk membuat keputusan apakah hipotesis terbukti atau tidak dimana tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 5%. Dasar pengambilan keputusan dalam pengujian ini menurut Imam Ghozali (2011) :

1. Jika nilai Sig. < 0,05 dan t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.

2. Jika nilai Sig. > 0,05 dan t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Hipotesis yang digunakan dalam pengujian parsial ini adalah sebagai berikut :

Ho : tidak terdapat pengaruh variabel bebas (Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi) terhadap variabel terikat (Upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat.

Ha : terdapat pengaruh variabel bebas (Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi) terhadap variabel terikat (Upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat.

54

Proses pengujian ini dilakukan dengan melihat pada tabel uji parsial dengan memperhatikan kolom signifikansi dan nilai t hitung dan membandingkan dengan taraf signifikansi α = 0,05.

Tabel 4.14 a. Dependent Variable: UPAH MINIMUM REGIONAL (Y)

1. Uji parsial t (Pertumbuhan Ekonomi)

Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (X1) terhadap Upah Minimum Regional (Y) a. Berdasarkan nilai signifikansi (Sig.)

Berdasarkan tabel output SPSS di atas diketahui nilai signifikansi (Sig.) variabel Pertumbuhan Ekonomi (X1) adalah sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

b. Berdasarkan perbandingan nilai t hitung dengan t tabel

Berdasarkan output SPSS di atas diketahui nilai t hitung variabel pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6,711. Karena nilai t hitung 6,711 > 2,160 maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan perbandingan di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat.

2. Uji parsial t (Inflasi)

Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh Inflasi (X2) terhadap Upah Minimum Regional (Y)

a. Berdasarkan nilai signifikansi (Sig.)

Berdasarkan tabel output SPSS di atas diketahui nilai signifikansi (Sig.) variabel Inflasi (X2) adalah sebesar 0,120.

Karena nilai signifikansi 0,085 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak.

b. Berdasarkan perbandingan nilai t hitung dengan t tabel

Berdasarkan output SPSS di atas diketahui nilai t hitung variabel inflasi adalah sebesar 1,864. Karena nilai t hitung -1,864 < 2,160 maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan perbandingan di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel inflasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap upah minimum di Provinsi Sulawesi Barat.

Dokumen terkait