BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
pembelajaran yang dapat untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa di sekolah dasar.
b. Hasil penelitian ini memperkuat teori dari Azhar Arsyad (2011: 15) yang mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
2. Manfaat Praktis a. Bagi guru
1) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran.
2) Sebagai bahan informasi tentang penggunaan media pembelajaran pop-up
9
3) Sebagai bahan masukkan untuk petimbangan dalam pemilihan media pembelajaran sebelum pelaksanaan proses pembelajaran IPS.
b. Manfaat bagi siswa
1) Mempermudah pemahaman siswa mengenai materi pembelajaran IPS terutama pada materi Keragaman Suku dan Budaya di Indonesia secara konkret.
2) Meningkatkan peran aktif dan rasa antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPS.
3) Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS terutama pada materi Keragaman Suku dan Budaya di Indonesia.
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
1. Pengertian IPS SD
IPS SD adalah nama mata pelajaran yang membahas hubungan antara peserta didik dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana peserta didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat yang dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial di lingkungannya. Nursid Sumaatmadja (Supriatna, 2008:1) mengemukakan bahwa secara mendasar pengajaran IPS di SD berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya.
Sapriya (2009: 20) mengemukakan bahwa IPS di sekolah dasar merupakan nama mata pelajaran yang diintegrasikan dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains serta berbagai isu dan masalah sosial kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan IPS di sekolah dasar memiliki peran dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai media pelatihan bagi siswa agar menjadi warga negara yang baik. Fakih Samlawi dan Bunyamin Maftuh (1998: 1) mengemukakan bahwa IPS di sekolah dasar merupakan mata pelajaran yang memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial yang disusun melalui pendekatan pendidikan dan psikologis serta kelayakan dan kebermaknaannya bagi siswa dan kehidupannya.
Jadi, berdasarkan pendapat para ahli diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa IPS adalah salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang merupakan
11
integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial dan mengkaji terkait fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitar agar siswa menguasai pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap sebagai bekal siswa untuk menghadapi permasalahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Tujuan Pembelajaran IPS SD
Pembelajaran IPS di SD bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dan wawasan tentang konsep-konsep dasar ilmu sosial dan humaniora, memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial yang terjadi di lingkungannya, serta memiliki keterampilan mengkaji dan memecah masalah sosial tersebut.
Sapriya (2009: 157) mengemukakan bahwa salah satu tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mempersiapkan warga negara Indonesia agar dapat berpartisipasi dalam hidup di masyarakat, baik dalam masyarakat lokal, nasional, maupun masyarakat dunia. Hal ini senada dengan Ahmad Susanto (2014: 10) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran IPS di sekolah, adalah sebagai berikut.
a. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
b. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
c. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
d. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
e. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
12
Arah mata pelajaran IPS dilatar belakangi oleh pertimbangan bahwa di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat, karena kehidupan masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu, mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisi terhadap kondisi sosial masyarakat yang dinamis. Ahmad Susanto (2014: 33) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran IPS di SD secara umum, sebagai berikut.
a. Memperoleh gambaran tentang suatu daerah/lingkungan sendiri. b. Mendapatkan informasi tentang suatu lingkungan daerah/wilayah
Indonesia.
c. Memperoleh pengetahuan tentang penduduk Indonesia. d. Menumbuhkembangkan kesadaran dan wawasan kebangsaan. e. Mengetahui kebutuhan hidup.
f. Mampu merasakan sebuah kemajuan khususnya teknologi mutakhir. g. Mampu berkomunikasi, bekerja sama dan bersaing di tingkat lokal,
nasional, dan internasional.
h. Mampu berinteraksi sebagai makhluk sosial yang berbudaya. i. Memiliki kepekaan terhadap fenomena sosial budaya.
j. Memiliki integritas yang tinggi terhadap negara dan bangsa.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006: 67), mata pelajaran IPS di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, dan global.
Jadi, dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran IPS di SD adalah memberikan bekal kepada siswa berupa ilmu
13
pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan agar siswa mampu mengembangkan potensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, serta membantu pembentukan pribadi siswa agar menjadi warga nergara yang baik dan berbudaya, peka, serta peduli terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
3. Pentingnya Pembelajaran IPS SD
Dengan mempelajari IPS di SD, siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan berfikir kritis dan rasional dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Sesuai dengan tingkat perkembangannya, siswa sekolah dasar belum mampu memahami keluasan dan kedalaman masalah-masalah sosial secara utuh, tetapi mereka dapat diperkenalkan kepada masalah-masalah tersebut. Melalui pengajaran IPS, siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi hidup dengan tantangan-tantangannya.
Menurut Hidayati (2002: 16) alasan penting mempelajari IPS di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut.
a. Agar siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi, dan kemampuan yang dimiliki yang telah dimiliki mejadi lebih bermakna. b. Agar siswa dapat lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah
sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
c. Agar siswa dapat mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS di SD sangatlah penting, karena usia sekolah dasar merupakan usia yang tepat dalam menanamkan sikap peduli terhadap masalah-masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar. Melaui pembelajaran IPS di SD, guru dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam mengenal dan mempelajari
14
masyarakat yang beraneka ragam sebagai bekal siswa dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan bermsyarakat di kemudian hari.
4. Ruang Lingkup IPS SD
Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan (SKL) pada mata pelajaran IPS SD adalah sebagai berikut.
a. Memahami identitas diri dan keluarga, serta mewujudkan sikap saling menghormati dalam kemajemukan keluarga.
b. Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga, serta kerjasama di antara keduanya.
c. Memahami sejarah kenampakan alam dan keragaman suku bangsa di lingkungan kabupaten, kota dan provinsi.
d. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kota, kabupaten, dan provinsi.
e. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah nasional, keragaman suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
f. Menghargai peranan tokoh pejuang dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
g. Memahami perkembangan wilayah Indonesia sosial di Asia Tenggara serta benua-benua.
h. Mengenal gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, serta dapat melakukan tindakan dalam menghadapi bencana alam.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BSNP, 2009: 19) menyebutkan bahwa ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
a. Manusia, tempat, dan lingkungan. b. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan. c. Sistem sosial dan budaya.
d. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
Berdasarkan ruang lingkup tersebut dapat dikembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas V
15
berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas V
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu, Budha, dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
1.1 Menghargai makna peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
1.2 Menceritakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
1.3 Mengenal keragaman kenampakan alam dan buatan serta pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan menggunakan peta/atlas/globe dan media lainnya.
1.4 Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. 1.5 Mengenal jenis-jenis usaha dan
kegiatan ekonomi di Indonesia. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan ruang lingkup materi pada Standar Kompetensi 1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu, Budha, dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia dengan Kompetensi Dasar 1.4 Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia.
B. Tinjauan Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Proses belajar memiliki suatu tujuan, tujuan dalam belajar merupakan hasil belajar yang dicapai siswa. Hasil belajar merupakan suatu pencapaian tujuan pengajaran berkat tindakan guru, yang meliputi perubahan kemampuan pada siswa baik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar menjadi
16
sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Nana Sudjana, 2009: 22). Soedijarto (Purwanto, 2010: 46) mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Asep Jihad & Abdul Haris (2008: 14) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Purwanto (2010: 49) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
a. Ranah Kognitif
Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi. Proses belajar yang melibatkan kognisi meliputi kegiatan sejak dari penerimaan stimulus eksternal oleh sensori, penyimpanan dan pengolahan dalam otak menjadi informasi hingga pemanggilan kembali informasi ketika diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Bloom (Purwanto, 2010: 50) membagi dan menyusun secara hirarkhis tingkat belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Enam tingkatan hasil belajar tersebut, yaitu:
1) kemampuan menghafal (C1) merupakan kemampuan memanggil kembali fakta yang disimpan dalam otak yang digunakan untuk merespon suatu masalah,
17
2) kemampuan pemahaman (C2) merupakan kemampuan untuk melihat hubungan fakta dengan fakta,
3) kemampuan penerapan (C3) merupakan kemampuan kognitif untuk memahami aturan, hukum, rumus, dan sebagainya yang digunakan untuk memecahkan masalah,
4) kemampuan analisis (C4) merupakan kemampuan memahami sesuatu dengan menguraikannya ke dalam unsur-unsur,
5) kemampuan sintesis (C5) merupakan kemampuan memahami dengan mengorganisasikan bagian-bagian ke dalam kesatuan, dan
6) kemampuan evaluasi (C6) merupakan kemampuan membuat penilaian dan mengambil keputusan dari hasil penilaiannya.
b. Ranah Afektif.
Krathwohl (Purwanto, 2010: 51) membagi hasil belajar afektif menjadi lima tingkat, yaitu:
1) penerimaan adalah kesediaan menerima rangsangan dengan memberikan perhatian kepada rangsangan yang datang kepadanya, 2) partisipasi adalah kesediaan memberikan respon dengan
berpartisipasi,
3) penilaian adalah kesediaan untuk menentukan pilihan sebuah nilai dari rangsangan tersebut,
4) organisasi adalah kesediaan mengorganisasikan nilai-nilai yang dipilihnya untuk menjadi pedoman yang mantap dalam perilaku, dan 5) internalisasi adalah menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan untuk
tidak hanya menjadi pedoman perilaku tetapi juga menjadi bagian dari pribadi dalam perilaku sehari-hari.
c. Ranah Psikomotorik
Simpson (Purwanto, 2010: 53) mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam, yaitu:
1) persepsi adalah kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala lain,
2) kesiapan adalah kemampuan menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan,
3) gerakan terbimbing adalah kemampuan melakukan gerakan meniru model yang dicontohkan,
4) gerakan terbiasa adalah kemampuan melakukan gerakan tanpa ada model contoh,
5) gerakan kompleks adalah kemampuan melakukan serangkaian gerakan dengan cara, urutan, dan irama yang tepat, dan
18
6) kreativitas adalah kemampuan menciptakan gerakan-gerakan baru yang tidak ada sebelumnya atau mengombinasikan gerakan-gerakan yang ada menjadi kombinasi gerakan baru yang orisinal.
Jadi berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu pencapaian dari tujuan pendidikan yang diperoleh peserta didik dari pengalaman-pengalaman belajarnya dan ditandai dengan perubahan-perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ke arah yang lebih baik. Dalam penelitian ini, hasil belajar IPS yang dimaksud adalah tingkat keberhasilan siswa sekolah dasar dalam proses pembelajaran IPS pada materi Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia.
2. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Dimyati & Mudjiono (2002: 10) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar terdiri dari dua, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Salah satu faktor yang berasal dari luar siswa adalah peranan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas seperti penggunaan media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan dibahas. Clark (Nana Sudjana & Ahmad Rivai, 2001: 39) mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.
Menurut Slameto (2003: 54), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor
ekstern.
a. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Di dalam faktor intern akan dibahas beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu:
19
a) kesehatan, sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit, karena proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indera serta tubuhnya. b) cacat tubuh, adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau
kurang sempurna mengenai tubuh atau badan, seperti buta, tuli, patah kaki, dan lumpuh.
2) faktor psikologis, yang terdiri dari:
a) inteligensi, adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengn cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, dan mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
b) perhatian, adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata tertuju kepada suatu obyek, sehingga untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan yang dapat menyebabkan ia tidak lagi suka belajar.
c) minat, dapat diartikan dengan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, sehingga apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.
d) motivasi, dapat diartikan suatu penggerak pada diri individu dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai dan besarnya motivasi yang dimiliki individu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas tingkah laku yang ditampilkan.
b. Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi: 1) keluarga, merupakan lingkungan pertama dari anak dimana di
keluarga anak memperoleh pendidikan pertama, sehingga kondisi keluarga yang baik akan mempengaruhi perkembangan dan hasi belajar anak, selain itu suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, hubungan dengan orang tua, dan bimbingan orang tua sangatlah berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar anak.
2) sekolah, faktor di sekolah yang memperngaruhi hasil belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
3) masyarakat, lingkungan masyarakat di sekitar rumah peserta didik juga berpengaruh terhadap hasil belajarnya, hal ini meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
20
Jadi berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi faktor jasmaniah dan faktor rohani, sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Dalam penelitian ini, salah satu faktor ekstern yaitu sekolah, terutama penggunaan media pembelajaran pop-up untuk meningkatkan hasil belajar IPS. C. Tinjauan Media Pembelajaran Pop-up
1. Pengertian Media Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kegiatan edukatif dimana terjadi interaksi antara siswa dan guru. Kegiatan pembelajaran memiliki nilai edukatif dikarenakan guru mengarahkan siswa secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam proses pengajaran agar materi yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh siswa. Pembelajaran yang efektif dan banyak diminati siswa diperlukan media atau alat bantu pembelajaran yang dipilih secara tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikansebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Di samping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media sering diganti dengan kata mediator. Dengan istilah mediator, media
21
menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar, siswa dan isi pelajaran.
Gagne dan Briggs (Azhar Arsyad, 2011: 4) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi meteri pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, form, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. Oleh karena itu, apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran. Burden dan Byrd (Ahmad Susanto, 2014: 313) mendefinisikan bahwa media pembelajaran sebagai alat yang menyediakan fungsi-fungsi pembelajaran dalam pendidikan terutama dalam mengantarkan informasi dari sumber ke penerima, yang dapat memfasilitasi dan meningkatkan kualitas belajar siswa.
Bambang Warsita (2008: 123) mengatakan bahwa media dapat dibagai dalam dua kategori, yaitu alat bantu pembelajaran (instructional aids) dan media pembelajaran (instructional media). Alat bantu pembelajaran atau alat untuk membantu guru (pendidik) dalam memperjelas materi (pesan) yang akan disampaikan. Oleh karena itu, alat bantu pembelajaran disebut juga alat bantu mengajar (teaching aids), seperti OHP/OHT, film bingkai (slide), foto, poster, grafik, flip chart, model benda sebenarnya, dan lingkungan belajar siswa yang dimanfaatkan untuk memperjelas materi pembelajaran. Sadiman dkk (Ahmad Susanto, 2014: 314) yang mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah
22
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Berdasarkan pernyataan beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat yang berupa fisik digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran guna memperoleh proses belajar yang efektif dan efisien. Dengan menggunakan media pembelajaran, maka interaksi guru dan siswa akan lebih interaktif serta dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terutama materi keanekaragaman suku dan budaya Indonesia.
2. Manfaat Media Pembelajaran
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002: 2) mengemukakan bahwa manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, adalah sebagai berikut.
a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. b. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa sehingga memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
d. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati dan demonstrasi.
Azhar Arsyad (2011: 15) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan
23
media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran.