BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode korelasi Pearson Product Moment dengan menggunakan satu sampel kelas IV. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner sebagai alat untuk mengukur tingkat kerja sama siswa dan instrumen test untuk mengukur hasil beajar siswa. Data yang diperoleh peneliti merupakan data kuantitatif berupa data tingkat kerja sama siswa dan hasil belajar siswa. Setelah memperoleh data tersebut, maka data akan dianalisis dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistic 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% dengan menggunakan beberapa uji.
71 1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan satu kelas di SD. Siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran Yogyakarta menjadi salah satu objek penelitian. Pada kelas IV yang digunakan untuk penelitian memuat 30 siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mendeskripsikan hubungan kerja sama dengan hasil belajar muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran.
Salah satu pendekatan yang dilakukan peneliti dalam penelitian adalah menggunakan observasi dan wawancara dengan guru kelas IV di SD Kanisius Pugeran. Penelitian ini dilakukan pada saat jam pelajaran yang sudah menjadi kesepakatan antara peneliti dan guru kelas. Sebelumnya peneliti telah meminta izin kepada kepala sekolah dengan menyerahkan surat untuk izin melakukan penelitian di sekolah tersebut. Kemudian peneliti meminta izin kepada guru kelas IV untuk melakukan penelitian di kelas tersebut.
Peneliti melakukan penelitian di sekolah selama dua hari. Pada hari pertama, peneliti membagikan lembar kuesioner kerjasama. Pada saat itu pula peneliti menyampaikan petunjuk bagaimana mengisi lembar tersebut. Peneliti meminta siswa untuk mengisi lembar kuesioner tersebut sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kemudian peneliti akan membagikan soal pretest matematika sebelum memulai pembelajaran dengan tujuan untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum diberikan materi pembelajaran pada materi matematika tentang penaksiran hasil operasi hitung pecahan biasa dan campuran. Sebelum siswa mengerjakan soal pretest tersebut, peneliti menyampaikan petunjuk untuk mengerjakan soal tersebut.
Setelah siswa selesai mengerjakan soal tersebut, peneliti akan melanjutkannya
72 dengan memulai pembelajaran mengenai materi matematika yang menekankan kerja sama siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih maksimal.
Pada hari kedua, pembelajaran dilakukan sama halnya seperti hari pertama yaitu menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD dan melanjutkan materi yang kemarin. Berbeda dari hari sebelumnya, pembelajaran hari ini tidak diawali dengan pretest, namun pada akhir pembelajaran akan diakhiri dengan posttest. Hal ini bertujuan untuk melihat kemampuan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dari awal hingga akhir. Soal-soal tersebut sebanyak 13 soal essay. Soal-soal tersebut dikerjakan secara mandiri. Sebelumnya peneliti akan memberikan petunjuk untuk mengerjakan soal post test.
Uji hipotesis ini telah diperoleh dari hasil penelitian pada saat melakukan analisis data yang bertujuan untuk menguji hipotesis dari rumusan masalah. Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan uji tambahan yang bertujuan untuk mengetahui persentase dari besarnya kerja sama dan hasil belajar pada muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran Yogyakarta.
2. Deskripsi Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua data yaitu kerjasama dan hasil belajar muatan pelajaran matematika. Data deskripsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mean dan Standar Deviasi. Mean dapat diperoleh dengan menjumlahkan seluruh nilai dan membaginya dengan jumlah responden. Sedangan Standar Deviasi merupakan rata-rata penyimpangan dari setiap skor terhadap rata-rata.
73 a. Kerjasama Siswa
Data variabel kerjasama siswa diperoleh melalui adanya instrumen kuesioner yang disebarkan dengan jumlah 16 butir pernyataan dan diisi oleh 30 siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran. Peneliti menggunakan program IBM SPSS for Windows versi 20.0 untuk menghitung hasil deskripsi variabel. Berdasarkan perhitungan telah diperoleh nilai Mean sebesar 42.33 dan Standar Deviasi sebesar 6.036.
Penentuan kecenderungan variabel mengacu pada skor Mean dan populasi mengacu pada skor Standar Deviasi. Penelitian ini menggunakan 5 kriteria skor menurut Azwar (2009: 108) digunakan untuk mengetahui kategori dua variabel.
Tabel 4.4 Kriteria Penilaian dan Pemaknaan Evaluasi
No. Norma Penilaian Interpretasi
1. X ≤ (Mean – 1.5 SD) Sangat Rendah
2. (Mean – 1.5 SD) < X ≤ (Mean – 0.5 SD) Rendah 3. (Mean – 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 0.5 SD) Sedang 4. (Mean + 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 1.5 SD) Tinggi
5. (Mean + 1.5 SD) < X Sangat Tinggi
Berdasarkan tabel di atas maka data tersebut dapat dikategorikan dalam lima kelas yaitu:
Sangat rendah = X ≤ (Mean – 1.5 SD)
= X ≤ {42.33– 1.5 (6.036)}
= X ≤ 33.276
Rendah = (Mean – 1.5 SD) < X ≤ (Mean – 0.5 SD)
= {42.33– 1.5 (6.036)} < X ≤ {42.33– 0,5 (6.036)}
74
= 33.276< X ≤ 39.312
Sedang = (Mean – 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 0.5 SD)
= {42.33 – 0,5 (6.036)} < X ≤ {42.33 + 0,5 (6.036)}
= 39.312< X ≤ 45.348
Tinggi = (Mean + 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 1.5 SD)
= {42.33 + 0,5 (6.036)} < X ≤ {42.33 + 1.5 (6.036)}
= 45.348< X ≤ 51.384 Sangat Tinggi = (Mean + 1.5 SD) < X
= {42.33+ 1.5 (6.036)} < X
= 51.384< X
Berdasarkan perhitungan di atas, peneliti telah membuat distribusi kecenderungan frekuensi pada variabel kerja sama siswa terhadap hasil belajar siswa muatan pelajaran matematika. Hasil frekuensi variabel tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 4.5 Distribusi Kecenderungan Frekuensi pada Variabel Kerja sama No. Interval Frekuensi Presentase Kategori
1. X ≤ 33.276 0 0% Sangat Rendah
2. 33.276< X ≤ 39.312 11 37% Rendah
3. 39.312< X ≤ 45.348 12 40% Sedang
4. 45.348< X ≤ 51.384 4 13% Tinggi
5. 51.384< X 3 10% Sangat Tinggi
Total 30 100%
Berdasarkan tabel di atas dan hasil pie chart dapat dilihat pada gambar di bawah dapat dinyatakan bahwa terdapat frekuensi variabel kerjasama siswa
75 terhadap hasil belajar matematika kelas IV berada pada kategori sangat buruk sebanyak 0 siswa (0%), kategori buruk sebanyak 11 siswa (37%), kategori sedang sebanyak 12 siswa (40%), kategori baik sebanyak 4 siswa (13%), dan kategori sangat tinggi sebanyak 3 siswa (10%). Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kerja sama siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran berada pada kategori sedang.
Peneliti dapat menggambarkan kecenderungan frekuensi pada variabel kerjasama terhadap hasil belajar matematika dalam bentuk pie chart. Hasil dari gambar pie chart dapat dilihat sebagai berikut:
Gambar 4.4 Pie Chart Distribusi Kerjasama
b. Hasil Belajar Matematika
Data variabel kerjasama siswa diperoleh melalui penyebaran instrumen test berupa soal sebanyak 13 butir soal dan diisi oleh 30 siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran. Peneliti menggunakan IBM SPSS for Windows versi 20.0 untuk menghitung hasil deskripsi variabel. Berdasarkan hasil perhitungan dengan
0%
37%
40%
13%
10%
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
76 program IBM SPSS for Windows versi 20.0 mengenai hasil belajar telah diperoleh nilai Mean sebesar11.3000 dan Standar Deviasi sebesar 0.95231.
Penentuan kecenderungan variabel mengacu pada skor Mean dan skor Standar Deviasi. Penelitian ini menggunakan 5 jenis kategori yang diungkapkan oleh Azwar (2009: 108) dengan tujuan untuk mengetahui kategori pada dua variabel.
Tabel 4.6 Kriteria Penilaian dan Pemaknaan Evaluasi
No. Norma Penilaian Interpretasi
1. X ≤ (Mean – 1.5 SD) Sangat Rendah
2. (Mean – 1.5 SD) < X ≤ (Mean – 0.5 SD) Rendah 3. (Mean – 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 0.5 SD) Sedang 4. (Mean + 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 1.5 SD) Tinggi
5. (Mean + 1.5 SD) < X Sangat Tinggi
Berdasarkan tabel di atas maka data tersebut dapat dikategorikan dalam lima kelas yaitu:
Sangat rendah = X ≤ (Mean – 1.5 SD)
= X ≤ {11.3000– 1.5 (0.95231)}
= X ≤ 9.871535
Rendah = (Mean – 1.5 SD) < X ≤ (Mean – 0.5 SD)
= {11.3000 – 1.5 (0.95231)} < X ≤ {11.3000– 0,5 (0.95231)}
= 9.871535< X ≤ 10.8238845
Sedang = (Mean – 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 0.5 SD)
77
= {11.3000 – 0,5 (095231)} < X ≤ {11.3000 + 0,5
(0.95231)}
= 9.871535< X ≤ 11.7761155
Tinggi = (Mean + 0.5 SD) < X ≤ (Mean + 1.5 SD)
= {11.3000 + 0,5 (0.95231)} < X ≤ {11.3000 + 1.5 (0.95231)}
= 11.7761155< X ≤ 12.7283465 Sangat Tinggi = (Mean + 1.5 SD) < X
= {11.3000+ 1.5 (0.95231)} < X
= 12.7283465< X
Berdasarkan perhitungan di atas, peneliti telah membuat distribusi kecenderungan frekuensi pada variabel kerjasama siswa terhadap hasil belajar siswa muatan pelajaran matematika. Hasil frekuensi variabel tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 4.7 Distribusi Kecenderungan Frekuensi pada Variabel Hasil Belajar Matematika
No. Interval Frekuensi Presentase Kategori
1. X ≤ 9.871535 1 3% Sangat
Rendah 2. 9.871535 < X ≤ 10.8238845 5 17% Rendah 3. 9.871535 < X ≤ 11.7761155 10 33% Sedang 4. 11.7761155 < X ≤
12.7283465
12 40% Tinggi
5. 12.7283465 < X 2 7% Sangat
Tinggi
Jumlah 30 100%
78 Berdasarkan tabel di atas dan hasil pie chart dapat dilihat pada gambar di bawah dapat dinyatakan bahwa terdapat frekuensi variabel hasil belajar siswa terhadap hasil belajar Matematika kelas IV berada pada kategori sangat rendah sebanyak 1 siswa (3%), kategori rendah sebanyak 5 siswa (17%), kategori sedang sebanyak 10 siswa (33%), kategori tinggi sebanyak 12 siswa (40%), dan kategori sangt tinggi sebanyak 2 siswa (7%). Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kerjasama siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran berada pada kategori sedang.
Peneliti menggambarkan kecenderungan frekuensi pada variabel kerja sama terhadap hasil belajar matematika dalam bentuk pie chart sebagai berikut:
Gambar 4.5 Pie Chart Distribusi Hasil Belajar Matematika
3. Uji Hipotesis (Uji Korelasi)
Uji hipotesis korelatif dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan kerja sama dengan hasil belajar muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran. Analisis statistik yang dilakuan untuk mengetahui uji hipotesis ini menggunakan program komputer IBM SPSS Statistic 20.0 for Windows. Analisisnya menggunakan Correlation Pearson Product Moment dengan
3%
17%
33%
40%
7%
Chart Title
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
79 kriteria untuk menarik kesimpulan adalah jika nilai sig. (2-tailed) > 0,05 maka tidak ada hubungan antara skor kuesioner kerja sama dengan hasil belajar matematika siswa, jika nilai sig. (2-tailed) < 0,05 maka ada hubungan antara skor kuesioner kerja sama dengan hasil belajar matematika siswa. Berikut ini adalah hasil uji hubungan skor kuesioner kerjasama dengan hasil belajar matematika.
Tabel 4.8 Hasil Uji Correlation Pearson Product Moment Correlations
Kerjasama Hasil_belajar Kerjasama
Pearson
Correlation 1 .468**
Sig. (2-tailed) .009
N 30 30
Hasilbelajar
Pearson
Correlation .468** 1
Sig. (2-tailed) .009
N 30 30
*. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan hasil analisis korelasi antara kerja sama dengan hasil belajar pada tabel di atas menghasilkan koefisien korelasi yaitu 0,468. Tingkat suatu hubungan pada interval koefisien dapat dilihat dari tabel acuan interpretasi koefisien korelasi.
Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi menurut Sugiyono (2010: 231) dapat dilihat pada tabel 4.9.
80 Tabel 4.9 Acuan Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0.00-0.199 Sangat rendah/ Tidak ada hubungan
0.20-0.399 Rendah
0.40-0.599 Cukup
0.60-0.799 Kuat
0.80-1.00 Sangat kuat
Berdasarkan hasil hasil koefisien korelasi yaitu 0,468 yang berada pada interval koefisien 0,40-0,599 dengan tingkat hubungan cukup. Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat hubungan kerja sama dengan hasil belajar matematika siswa SD Kelas IV Kanisius Pugeran sudah cukup.
Kemudian pada tahap selanjutnya peneliti akan melakukan hipotesis dengan ketentuan yaitu H1 diterima dan H0 ditolak apabila r hitung > r tabel. Hal ini berlaku untuk sebaliknya yaitu H0 diterima dan H1 ditolak apabila r hitung < r tabel (Sunyoto, 2007: 37). Dari data yang sudah ada telah diketahui bahwa koefisien korelasi r hitung = 0,468, sedangkan r tabel pada taraf kesalahan 5% (α = 0,05) = 0,320 dan dapat ditulis dengan r hitung > r tabel (0,468 > 0,320), dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak yang membuktikan bahwa hipotesis dari penelitian ini menyatakan bahwa ada hubungan kerja sama dengan hasil belajar muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran.
81 C. Pembahasan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara kerja sama dengan hasil belajar siswa pada muatan pelajaran matematika kelas IV dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD atau tidak adanya hubungan antara kerja sama dengan hasil belajar siswa pada muatan pelajaran matematika kelas IV dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang berarti meneliti ada tidaknya hubungan kerja sama dengan hasil belajar muatan pelajaran Matematika. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian adalah Cooperative Learning tipe STAD karena sesuai dengan variabel yang digunakan yaitu kerjasama.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan kerja sama siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran berada pada kategori sedang. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil yang menunjukkan bahwa perolehan skor rata-rata (Mean) pada kerja sama siswa yaitu 42.33. Kemudian dihitung untuk memperoleh persentase skor pada kecenderungan kerja sama siswa yaitu pada kategori sangat rendah sebanyak 0 siswa (0%), kategori rendah sebanyak 11 siswa (37%), kategori sedang sebanyak 12 siswa (40%), kategori tinggi sebanyak 4 siswa (13%), dan kategori sangat tinggi sebanyak 3 siswa (10%). Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa masuk pada kategori sedang yang berarti mayoritas nilai yang diperoleh siswa sudah mencapai diatas rata-rata.
Peneliti melakukan penelitian ini menggunakan beberapa langkah untuk memperoleh hasil penelitian. Langkah-langah yang digunakan adalah uji asumsi
82 yang meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji linearitas. Semua perhitungan dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 20.0 Pada uji normalitas, suatu data dikatakan normal apabila harga Sig > 0,05 (Kasmadi & Sunariah, 2013:
117) dan telah diperoleh kerja sama dengan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,102 (atau p > 0,05) dan hasil belajar matematika dengan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,072 (atau p > 0,05). Pada kuesioner kerja sama dan hasil belajar matematika memiliki distribusi data normal karena nilai sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 (atau p >
0,05). Pada uji homogenitas, suatu data dapat dikatakan homogen apabila nilai Sig
> 0,05 (atau p> 0,05). Hal ini menunjukkan penerimaan H1 sehingga dapat disimpulkan bahwa varians seluruh variabel bersifat homogen (Kasmadi &
Sunariah, 2013: 119). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh signifikansi sebesar 0,117>0,05 dan data tersebut bersifat homogen. Pada uji linearitas cukup berbeda dari uji sebelumnya karena suatu data dapat dikatakan bersifat linear apabila Sig < 0,05 (Kasmadi & Sunariah, 2013: 121). Berdasarkan hasil perhitungan telah diperoleh Sig sebesar 0,025< 0,05 dan data tersebut bersifat linear. Setelah melakukan uji asumsi, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data terhadap hubungan kerja sama dengan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada atau tidak ada hubungan kerja sama dengan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran.
Siswa yang memiliki kerja sama yang tinggi dalam dirinya disebabkan oleh beberapa faktor yang mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi maksimal.
Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok
83 untuk mencapai tujuan tertentu dan merupakan bentuk hubungan antara beberapa pihak yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama (Soekanto, 2006:
66). Faktor yang mempengaruhi kerjasama siswa yaitu yaitu rasa percaya diri, sifat terbuka, dan rasa saling ketergantungan di antara setiap anggota kelompok dan dalam proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan cara pembelajaran yang tepat dan mudah dipahami oleh siswa (Kartono, 2009: 1).
Kondisi siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas dapat dikatakan cukup baik dan terkondisikan. Dengan situasi ini artinya siswa mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Pada saat diskusi kelompok terlihat bahwa setiap siswa mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Namun, masih ada beberapa siswa yang asyik dengan dirinya sendiri dan tidak mengikuti pembelajaran dengan baik. Siswa yang tidak mengikuti pembelajaran dengan baik akan terbukti pada saat mengerjakan soal. Sikap tersebut menjadi hambatan dalam proses pemahaman materi. Sikap ini juga terjadi karena belum pahamnya manfaat matematika untuk kehidupan sehari-hari. Sikap yang ada pada setiap individu siswa merupakan salah satu masa perkembangan usianya.
Seperti yang telah diketahui, bahwa pada teori perkembangan Jean Piaget dalam Suparno (2001: 87) yang mengemukakan bahwa siswa kelas IV SD berada pada tahap perkembangan operasi konkret yaitu pada rentang usia 7-11 tahun. Pada periode ini siswa berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Periode ini disebut operasi konkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Pengerjaan-pengerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang dialami oleh siswa. Pada
84 tahap ini pula siswa terkadang memilih bermain dan belajar dalam kelompok.
Maka, proses belajar dalam kelompok akan lebih efektif diterapkan pada siswa di tahap ini.
Pada sekolah dasar terdapat lima muatan pelajaran, dan salah satunya adalah matematika. Matematika merupakan salah satu ilmu yang meningkatkan kemampuan berpikir dan memberikan peran dalam menyelesaikan permasalahan sehari-hari serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Susanto, 2013: 185). Secara umum ada tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah agar siswa mampu memahami dan menggunakan matematika sebagai sarana pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kontribusi siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas sudah menunjukkan rasa kesungguhan dengan didukung oleh semangat guru dan jam pelajaran yang diberikan juga mendukung. Diberikan di awal jam pelajaran sampai sebelum istirahat. Tujuannya adalah kondisi siswa yang masih segar dan daya serap yang masih besar melihat materi matematika yang banyak dan sulit.
Hasil analisis dalam penelitian didapatkan dengan melakukan uji Correlation Pearson Product Moment dengan program SPSS versi 20.0 Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif antara kerjasama dengan hasil belajar muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran. Hubungan yang positif dapat ditunjukkan dengan nilai r hitung. Hasil korelasi diperoleh r hitung = 0,468 dan data tersebut masuk pada kriteria cukup.
Hasil data yang telah diperoleh dapat dilakukan dengan uji hipotesis untuk mengetahui ada atau tidak ada hubungan antara kerja sama dengan hasil belajar
85 matematika siswa. Uji hipotesis tersebut yaitu H1 diterima dan H0 ditolak apabila r hitung > r tabel. Begitu pula sebaliknya H0 diterima dan H1 ditolak apabila r hitung
< r tabel (Sunyoto, 2007: 37). Telah diperoleh bahwa r hitung > r tabel yaitu 0,468
> 0,320 dan data tersebut masuk pada kriteria cukup.
Kemudian untuk menarik kesimpulan dari analisis data korelasi adalah jika nilai Sig (2-tailed) > 0,05, maka tidak ada hubungan antara kerja sama dengan hasil belajar matematika siswa. Begitu juga sebaliknya jika nilai sig. (2-tailed) < 0,05 maka ada hubungan antara kerjasama dan hasil belajar matematika siswa. Telah diperoleh bahwa nilai signifikansi sebesar 0,009 yang menunjukkan bahwa Sig (2-tailed) < 0,05 yaitu 0,009< 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini membuktikan bahwa hipotesis dari penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kerja sama dengan hasil belajar muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran.
Hasil belajar yang diharapkan dalam penelitian ini adalah memperoleh hasil belajar yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik yaitu aspek fisiologis, aspek psikologis, faktor lingkungan sosial, dan faktor lingkungan nonsosial. Faktor lingkungan sosial tersebut adalah salah satu yang mempengaruhi proses kerja sama belajar siswa. Tingkat sosialisasi siswa yang kurang baik juga akan mempengaruhi hasil belajar siswa, Syah (2011: 132). Saat materi pelajaran yang sudah dijelaskan oleh guru dan masih ada siswa yang belum bisa memahami materi tersebut, maka siswa akan cenderung diam karena malu untuk bertanya. Namun siswa yang memiliki kemampuan berkomunikasi atau
86 sosial yang baik, akan bertindak untuk menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan materi pelajaran yang belum dipahami.
Telah diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perolehan skor rata-rata (Mean) pada hasil belajar matematika siswa yaitu 11.3000. Kemudian dihitung untuk memperoleh persentase skor pada kecenderungan hasil belajar matematika siswa yaitu pada kategori sangat rendah sebanyak 1 siswa (3%), kategori rendah sebanyak 5 siswa (17%), kategori sedang sebanyak 10 siswa (33%), kategori tinggi sebanyak 12 siswa (40%), dan kategori sangat tinggi sebanyak 2 siswa (7%). Dengan kesimpulan masuk pada kategori sedang. Berarti mayoritas nilai yang diperoleh siswa sudah mencapai diatas rata-rata.
Menurut analisis data di atas, maka setiap kenaikan nilai dari variabel kerjasama akan diikuti dengan kenaikan nilai variabel hasil beajar matematika.
Begitu pula sebaliknya apabila nilai variabel kerja sama menurun maka nilai variabel hasil belajar matematika juga ikut menurun.
87 BAB V
PENUTUP BAB V PENUTUP
Pada bab V ini berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran.
Kesimpulan berisi pembahasan hasil penelitian dan menentukan jawaban dari hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan yang ada selama melakukan penelitian. Saran berisi masukan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian melalui uji korelasi yaitu rhitung = 0,468> rtabel = 0,320 dan nilai Sig = 0,009< 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kerja sama belajar dengan hasil belajar muatan pelajaran matematika siswa kelas IV SD Kanisius Pugeran Yogyakarta.
B. Keterbatasan Penelitian
1. Selama kegiatan pembelajaran di kelas siswa kurang kondusif karena beberapa dari mereka tidak menyukai pelajaran matematika. Hal ini mengakibatkan penelitian berjalan dengan lambat.
2. Peneliti harus meningkatkan reliabilitas.
3. Terdapat dua indikator hasil belajar yang tidak terwakili.
88 C. Saran
Saran dalam penelitian ini adalah:
1. Peneliti sebaiknya melakukan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran untuk dapat menarik siswa lebih menggemari muatan pelajaran Matematika.
2. Peneliti perlu memperhitungkan setiap urutan materi dan alokasi waktu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung.
3. Pada penelitian selanjutnya, peneliti perlu meningkatkan reliabilitas.
4. Pada penelitian selanjutnya, peneliti perlu mengulang kembali penyusunan soal sehingga semua indikator dapat terwakili.
89
90 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Huda, M. (2011). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kartono, K. (2009). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali Pers.
Kasmadi, & Nia S. S. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung:
Alfabeta.
Kasmadi. (2013). Panduan Modern Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Masrukhin. (2007). Statistik Deskriptif Berbasis Komputer. Edisi 2. Kudus: Media Ilmu Press.
Nurgiyantoro, B. (1988). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta: BPFE.
______________. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pemerintah Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara RI No 4301. Jakarta: Sekretariat Negara. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. (2006). Nomor 20 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta: Menteri Pendidikan Nasional.
Parwati. (2014). Teori Bilangan. Yogyakarta: GRAHA ILMU.
Purwanto. (2009). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Purwanto. (2011). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Priyanto, D. (2012). Belajar Praktis Analisis Parametrik dan Non Parametrik dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media.
Rusman. (2010). Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru Edisi Kedua). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sarwono, J. (2010). Belajar Statistik Menjadi Mudah & Cepat. Yogyakarta: Andi Oset.
Siregar. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif: Jakarta: Kencana.
91 Soekanto. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grapindo Persada Sudirman. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar dan Mengajar. Jakarta: PT.
Grafindo Indonesia
Sudjana. (1980). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sudjana. (1988). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sudjana & Susanta. (1989). Pendekatan Sistem Bagi Administrator Pendidikan
Sudjana & Susanta. (1989). Pendekatan Sistem Bagi Administrator Pendidikan