• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: FITRIANI NURHIDA (Halaman 54-73)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Model tindakan dalam peneltian tindakan kelas ini berupa penerapan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) yang diharapkan dapat meningkatan hasil belajar kognitif siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Luwu Timur. Setiap siklus dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi.

Sebelum melaksanakan keempat tahapan dalam penelitian tindakan kelas, peneliti dan guru terlebih dahulu memberikan tes awal (pra tindakan/ pra siklus) kepada siswa yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal siswa terhadap materi sistem peredaran darah, membentuk kelompok siswa secara heterogen berdasarkan kemampuan kognitifnya, dan digunakan bagi peneiliti dan guru sebagai acuan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Adapun nilai tes awal (pra tindakan/pra siklus) yang diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Statistik nilai tes awal (Pra tindakan/ pra siklus) hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur

Statistik Nilai Statistik

Subjek 32 Skor ideal 100 Skor maksimum 43 Skor minimum 20 Rentang skor 23 Skor rata-rata 34.22 Variansi 52.43 Standar deviasi 7.24

40

Berdasarkan nilai tes awal (pra siklus) sebelum diterapkannya model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division), dapat diketahui bahwa pengetahuan awal siswa mengenai materi sistem peredaran darah berdasarkan pengkategorian hasil belajar masih sangat rendah atau kurang, dimana nilai rata-rata yang diperoleh dari tes awal atau pra tindakan yaitu 34.22 dari jumlah siswa yang mengikuti tes yaitu 32 orang. Hasil dari tes awal atau pra tindakan yang diberikan menunjukkan bahwa tidak ada satu orangpun siswa yang tuntas atau mencapai nilai KKM (75). Maka dari itu, setiap nilai yang diperoleh siswa dari pra tindakan/pra siklus akan digunakan untuk membentuk kelompok siswa berdasarkan kemampuan kognitifnya sebelum masuk pada tahap pelaksanaan, dan menjadi acuan bagi peneliti untuk meningkatkan hasil belajar siswa hingga indikator keberhasilan dalam penelitian ini tercapai.

Adapun deskripsi model tindakan masing-masing siklus diuraikan sebagai berikut:

1. Siklus I

a. Perencanaan (Planning)

1) Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti melakukan observasi dan berdiskusi mengenai hasil belajar biologi siswa pada salah-satu guru biologi di SMA Negeri 3 Luwu Timur.

2) Peneliti melakukan analisis silabus untuk menentukan kompetensi dasar dan indikator yang akan disampaikan pada siswa.

41

3) Membuat perangkat pembelajaran seperti RPP, LKS, lembar observasi guru, lembar observasi siswa, soal kuis dan alat evaluasi pembelajaran lainnya.

b. Pelaksanaan (Acting)

1) Memberikan arahan kepada siswa mengenai pentingnya proses pembelajaran dalam berkelompok.

2) Guru menerapkan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division).

c. Observasi dan Evaluasi

1) Melakukan observasi selama kegiatan pelaksanaan pembelajaran berlangsung dengan mengamati dan mengisi lembar observasi guru dan lembar observasi siswa.

2) Siklus I dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan penyajian materi dan 1 kali pertemuan untuk kegiatan evaluasi atau tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang diberikan berbentuk soal pilihan ganda sebanyak 30 nomor. Berikut merupakan data nilai hasil belajar siswa pada siklus I:

42

Tabel 4.2 Statistik nilai hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur Siklus I

Statistik Nilai Statistik

Subjek 32 Skor ideal 100 Skor maksimum 80 Skor minimum 40 Rentang skor 40 Skor rata-rata 60.56 Variansi 211.15 Standar deviasi 14.53

Jumlah siswa yang mencapai KKM (75) 10

Data nilai hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan skor rata-rata (mean) hasil belajar biologi siswa setelah diterapkan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) yaitu 60.56 dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100. Dari data tersebut, menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan nilai rata-rata (mean) yang dicapai siswa pada siklus I dari nilai rata-rata-rata-rata yang dicapai siswa pada pra siklus/ pra tindakan meskipun masih tergolong kurang jika dilihat berdasarkan pengkategorian hasil belajar.

Hal tersebut disebabkan karena kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap pembelajaran biologi, siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan melakukan aktivitas lain seperti bercerita dengan orang yang berada disekitarnya pada saat pembelajaran berlangsung. Selain itu, pada waktu mengerjakan tugas kelompok dalam bentuk LKS masih didominasi oleh siswa yang pintar saja, sedangkan siswa yang lain masih kurang berpartisipasi, dan ada beberapa siswa yang

43

mengalami gangguan internet, pada saat pembelajaran sehingga harus keluar dan masuk dalam aplikasi pembelajaran. Hal tersebut menyebabkan siswa sulit dalam memahami materi yang sedang berjalan dan mengganggu konsentrasi siswa lainnya.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur (Siklus I)

Interval Nilai

Keterangan Frekuensi Persentase (%) 93-100 Sangat Baik 0 0 84-92 Baik 0 0 75-83 Cukup 10 31.25 < 75 Kurang 22 68.75 Jumlah 32 100

Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam 4 kategori, maka terlihat pada tabel 4.3, dimana pada siklus I terdapat 31.25% nilai siswa yang masuk dalam kategori cukup, dan 68.75% nilai siswa berada pada kategori kurang. Persentase siswa yang berada pada kategori kurang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang nilainya berada pada kategori cukup. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran biologi, siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan melakukan aktivitas lain seperti bercerita dengan orang yang berada disekelilingnya pada saat pembelajaran berlangsung. Selain itu, pada waktu mengerjakan tugas kelompok dalam bentuk LKS masih didominasi oleh siswa yang pintar saja, sedangkan siswa yang lain masih kurang

44

berpartisipasi sehingga hal tersebut sehingga siswa kurang memahami materi yang sedang berlangsung.

Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.4:

Tabel 4.4 Deskripsi ketuntasan klasikal siswa Siklus I Tingkat

Ketuntasan

Kategori Frekuensi Persentase (%)

≥ 75 Tuntas 10 31.25

< 75 Tidak Tuntas 22 68.75

Jumlah 32 100

Terlihat bahwa pada tabel ketuntasan klasikal siswa pada akhir siklus I terdapat 22 siswa (68.75%) yang masuk dalam kategori tidak tuntas dan 10 siswa (31.25%) yang masuk dalam kategori tuntas sehingga dapat dikatakan bahwa ketuntasan klasikal pada siklus I masih jauh dari nilai klasikal yang telah ditentukan yaitu 75% siswa tuntas.

c. Refleksi

Proses pembelajaran pada siklus I telah berjalan dengan baik, namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Dalam proses pembelajaran masih kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran biologi, masih banyak siswa yang melakukan aktivitas lain. Selain itu, pada waktu mengerjakan tugas kelompok dalam bentuk LKS masih didominasi oleh siswa yang pintar saja, sedangkan siswa yang lain masih kurang berpartisipasi, siswa juga masih kurang antusias dalam mengikuti kuis yang diberikan, masih banyak siswa yang kurang bekerja

45

sama dalam diskusi kelompoknya, dan ada beberapa siswa yang mengalami gangguan internet sehingga harus keluar dan masuk dalam aplikasi pembelajaran dan terlambat pada saat proses pembelajaran. Hal tersebut menyebabkan konsentrasi siswa menjadi terganggu dan tentunya menyebabkan siswa kurang memahami materi yang sedang berlangsung.

Tetapi pada siklus I ini, terjadi peningkatan hasil belajar siswa, yakni nilai rata-rata dan nilai klasikal yang diperoleh siswa dari tes awal yaitu 34.22 dengan ketuntasan klasikal yaitu 0% tuntas meningkat pada siklus I dengan nilai rata-rata 60.56 dengan ketuntasan klasikal mencapai 31.25%. Namun demikian, hasil belajar siswa atau indikator keberhasilan belum tercapai seperti yang diharapkan dengan kondisi masih banyak siswa yang belum tuntas dalam belajar dan belum mencapai ketuntasan klasikal yang telah ditentukan yaitu 75% siswa tuntas.

Untuk memperbaiki kelemahan atau kekurangan di siklus I, maka peneliti bersama dengan guru biologi merancang perbaikan pembelajaran ke siklus II dengan cara lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan, membuat siswa lebih fokus dan aktif dalam pembelajaran dengan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Salah-satu cara yang dilakukan yaitu menyiapkan reward berupa hadiah pada beberapa kelompok yang mendapatkan nilai kuis tertinggi, namun bersikap lebih tegas jika ada siswa yang

46

melakukan aktivitas lain pada jam pembelajaran, mengawasi setiap kelompok secara bergiliran dengan bantuan guru maupun peneliti, dan tetap memberikan motivasi pada setiap kelompok agar saling bekerja sama dengan anggota kelompoknya, mengingatkan siswa untuk masuk dalam aplikasi pembelajaran 10 menit sebelum pembelajaran dilaksanakan dan mengarahkan siswa untuk mencari tempat atau lokasi yang memiliki jaringan internet yang stabil.

Adanya perlakuan atau perbaikan yang dilakukan di siklus ke II diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih mudah memahami materi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada siklus ke II.

2. Siklus II

a. Perencanaan (Planning)

Hasil refleksi siklus I digunakan untuk merencanakan tindakan pada siklus II. Adapun kegiatan-kegiatan dalam tahap perencanaan, antara lain:

1) Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas hasil refleksi siklus I. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

2) Membuat siswa lebih fokus dan aktif dalam pembelajaran dengan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan.

47

3) Bersikap lebih tegas jika ada siswa yang melakukan aktivitas lain pada jam pembelajaran.

4) Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran dengan bantuan guru maupun peneliti.

5) Memberikan motivasi kepada siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran.

6) Lebih intensif dalam membimbing kelompok belajar yang mengalami kesulitan.

7) Mengingatkan siswa untuk masuk ke dalam aplikasi pembelajaran 10 menit sebelum pembelajaran dilaksanakan dan mengarahkan siswa untuk mencari lokasi atau tempat yang memiliki jaringan internet yang stabil.

8) Menyiapkan penghargaan berupa hadiah kepada siswa yang diberikan diakhir siklus.

b. Pelaksanaan (Acting)

1) Melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) .

2) Melakukan kegiatan-kegiatan yang telah dibahas pada tahap perencanaan siklus II.

c. Observasi dan Evaluasi

1) Melakukan observasi selama kegiatan pelaksanaan pembelajaran berlangsung dengan mengamati dan mengisi lembar observasi guru dan lembar observasi siswa.

48

2) Tes hasil belajar diberikan di akhir siklus II, berbentuk soal pilihan ganda sebanyak 30 nomor. Berikut merupakan data skor hasil belajar biologi siswa:

Tabel 4.5 Statistik nilai hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur Siklus II

Statistik Nilai Statistik

Subjek 32 Skor ideal 100 Skor maksimum 90 Skor minimum 46 Rentang skor 44 Skor rata-rata 75.60 Variansi 137.60 Standar deviasi 11.73

Jumlah siswa yang mencapai KKM (75) 25

Berdasarkan tabel 4.5, menunjukkan bahwa skor rata-rata (mean) hasil belajar biologi siswa setelah diterapkan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) pada siklus II yaitu 75.60. Data tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata yang dicapai siswa dari pra siklus ke siklus I yaitu dari 34.22 meningkat menjadi 60.56, tetapi belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan sehingga dilanjutkan di siklus ke II dengan berbagai perbaikan dari siklus I sehingga pada siklus II hasil belajar siswa dapat meningkat dari siklus I dengan nilai rata-rata 60.56 meningkat di siklus II menjadi 75.60. Berikut merupakan grafik peningkatan nilai rata-rata hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 1 pada materi Sistem Peredaran Darah melalui model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Divison).

49

Gambar 4.1 Peningkatan Nilai Rata-rata (Mean) Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA I SMA Negeri 3 Luwu Timur

Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam 4 kategori, maka didapatkan data seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur (Siklus II)

Interval Nilai

Keterangan Frekuensi Persentase (%) 93-100 Sangat Baik 0 0 84-92 Baik 7 21.87 75-83 Cukup 18 56.25 < 75 Kurang 7 21.87 Jumlah 32 100

Berdasarkan tabel 4.6, terlihat bahwa pada siklus II persentase siswa yang berada pada kategori kurang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang nilainya berada pada kategori cukup. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II telah mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Dimana pada siklus I hanya 31.25% siswa yang masuk dalam kategori cukup dan 68.75%

Rata-rata (Mean) Pra Siklus 34.22 Siklus I 60.56 Siklus II 75.6 0 10 20 30 40 50 60 70 80

50

yang masih dalam kategori kurang yang berarti bahwa pada siklus I persentase siswa yang berada pada kategori kurang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang nilainya berada pada kategori cukup. Sedangkan hasil pra tindakan/ pra siklus terdapat 100% siswa masuk dalam kategori kurang.

Berikut merupakan grafik peningkatan kategori hasil belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 3 Luwu Timur:

Gambar 4.2 Peningkatan Kategori Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI IPA I SMA Negeri 3 Luwu Timur

Apabila hasil belajar siswa pada siklus II dianalisis maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.7 Deskripsi ketuntasan klasikal siswa Siklus II Tingkat

Ketuntasan

Kategori Frekuensi Persentase (%)

≥ 75 Tuntas 25 78.13

< 75 Tidak Tuntas 7 21.87

Jumlah 32 100

Pra Siklus Siklus I Siklus II

Sangat Baik 0 0 0 Baik 0 0 7 Cukup 0 10 18 Kurang 32 22 7 0 5 10 15 20 25 30 35

51

Berdasarkan tabel 4.7, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur pada materi Sistem Peredaran Darah setelah dilakukan tindakan dengan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) pada siklus II terdapat 25 siswa (78.13%) yang masuk dalam kategori tuntas dan 7 siswa (22.87%) yang masuk dalam kategori tidak tuntas. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar biologi siswa dan juga ketuntasan klasikal dari setiap siklusnya. Dimana pada pra tindakan tidak ada satu orang siswa yang tuntas atau mencapai nilai KKM, sedangkan pada siklus I jumlah siswa yang tuntas hanya mencapai 10 orang (31.25%) dan meningkat di siklus ke II dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai 25 orang (78.13%). Berikut merupakan grafik peningkatan ketuntasan klasikal yang diperoleh siswa pada siklus I dan siklus II setelah diterapkannya model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) pada materi sistem peredaran darah.

Gambar 4.3 Peningkatan Ketuntasan Klasikal Siswa Kelas XI IPA I SMA Negeri 3 Luwu Timur

Ketuntasan Klasikal (75%) Pra Siklus 0% Siklus I 31% Siklus II 78% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%

52

d. Refleksi

Proses pembelajaran pada siklus II telah berjalan dengan sangat baik, dimana semangat dan antusias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran telah memperlihatkan kemajuan, proses pembelajaran kelompok tidak lagi didominasi oleh siswa yang pintar saja, siswa telah mahir menggunakan aplikasi zoom dalam pembelajaran, dan nilai hasil belajar kognitif siswa telah meningkat dari nilai pada tes sebelumnya. Berdasarkan data hasil pengamatan, perbaikan pembelajaran siklus II dapat dikatakan telah berhasil karena siswa telah memperlihatkan semangat dan antusiasnya dalam belajar kelompok dan tidak lagi didominasi oleh siswa yang pintar saja sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat dan mencapai bahkan melebihi nilai klasikal yang telah ditentukan yaitu 75% siswa tuntas.

Dalam tes siklus II ini, terdapat 7 orang siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran, namun jika dilihat dari nilai tes awal, tes siklus I, hingga tes siklus II, ternyata ketujuh siswa tersebut juga mengalami peningkatan hasil belajar setiap siklusnya walaupun diakhir siklus II belum mencapai nilai KKM (75). Hal tersebut terjadi karena siswa-siswa tersebut beberapa kali tidak hadir pada proses pembelajaran sehingga ada beberapa sub materi yang terlewatkan.

Berikut merupakan tabel peningkatan hasil belajar kognitif siswa dari pra siklus, siklus I hingga siklus ke II:

53

Tabel 4.8 Statistik peningkatan nilai hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur

Statistik Nilai Statistik

Pra Siklus Siklus I Siklus II

Subjek 32 32 32 Skor ideal 100 100 100 Skor maksimum 43 80 90 Skor minimum 20 40 46 Rentang skor 23 40 44 Skor rata-rata 34.22 60.56 75.60 Variansi 52.43 211.15 137.60 Standar deviasi 7.24 14.53 11.73 Ketuntasan Klasikal (%) 0.00 31.25 78.12

Keberhasilan perbaikan proses pembelajaran pada siklus II tidak terlepas dari kegiatan refleksi yang dilakukan antara guru dan peneliti pada siklus I. berdasarkan hal tersebut, guru dan peneliti melakukan diskusi dan menyatakan bahwa proses pembelajaran pada siklus II dikatakan telah berhasil.

B. Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 September – 20 Oktober 2020, bertempat di rumah masing-masing dengan subyek penelitian kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur yang berjumlah 32 orang terdiri dari 14 laki-laki dan 18 perempuan. Adapun objek dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur pada materi Sistem Peredaran Darah melalui model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division).

Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklusnya terdiri dari 3 kali pertemuan untuk kegiatan pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk

54

kegiatan tes yang dilaksanakan disetiap akhir siklus. Untuk mengetahui pengetahuan awal siswa maka dilakukan tes awal sebelum tindakan siklus 1 dilaksanakan (pra tindakan/ pra siklus). Hasil dari tes awal juga digunakan untuk membentuk kelompok secara heterogen berdasarkan kemampuan kognitif siswa dan dijadikan sebagai acuan bagi peneliti untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, ditemukan beberapa kendala pada siklus I dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division), diantaranya adalah: (1) siswa masih kurang aktif dan antusias dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang melakukan aktivitas lain seperti berbicara dengan orang di sekitarnya, (2) pembelajaran kelompok hanya didominasi oleh siswa yang pintar saja, (3) ada beberapa siswa yang tinggal di daerah dengan jaringan internet yang kurang stabil sehingga harus keluar dan masuk dalam aplikasi pembelajaran yang menyebabkan pembelajaran menjadi terhambat, (4) guru dan siswa belum mahir dalam menggunakan aplikasi zoom sebagai media pembelajaran.

Kendala atau permasalahan yang didapatkan pada siklus I menyebabkan hasil belajar siswa masih tergolong rendah yang dilihat dari masih banyaknya siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran dibandingkan dengan jumlah siswa yang tuntas. Maka dari itu, peneliti bersama guru biologi melakukan berbagai perbaikan pada siklus ke II dari kekurangan-kekurangan yang ada di siklus I dengan cara: (1) lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami

55

kesulitan dalam pembelajaran dan senantiasa mengarahkan siswa maupun guru dalam menggunakan aplikasi zoom, (2) membuat siswa lebih fokus dan aktif dalam pembelajaran dengan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Salah-satu cara yang dilakukan yaitu menyiapkan reward berupa hadiah pada beberapa kelompok yang mendapatkan nilai kuis tertinggi yang akan diberikan di akhir siklus, (3) bersikap lebih tegas jika ada siswa yang melakukan aktivitas lain pada jam pembelajaran dan mengawasi atau mengontrol setiap kelompok secara bergiliran pada tahap diskusi atau kerja sama kelompok dengan bantuan guru maupun peneliti, (4) memberikan motivasi pada setiap kelompok agar saling bekerja sama dengan anggota kelompoknya, (5) mengingatkan siswa untuk masuk dalam aplikasi pembelajaran 10 menit sebelum pembelajaran dilaksanakan dan mengarahkan siswa untuk mencari tempat atau lokasi yang memiliki jaringan internet yang stabil.

Adapun kekurangan dalam penerapkan model pembelajaran STAD (Srudent Team Achievement Division) yang dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom yaitu sulitnya guru dalam mengontrol dan mengawasi setiap kelompok pada tahap diskusi atau pembelajaran kelompok, dikarenakan guru tidak bisa mengontrol kelompok secara keseluruhan sampai tahap diskusi kelompok selesai. Oleh karena itu, dalam tahap diskusi kelompok, guru dan peneliti bekerja sama dalam mengawasi dan mengontrol setiap kelompok secara bergiliran dengan bersikap tegas memberikan sanksi berupa teguran dan pengurangan nilai kelompok atau memberikan tambahan tugas kepada siswa jika melakukan aktivitas lain di diluar jam pembelajaran. Pemberian sanksi

56

edukatif pada siswa juga dikemukakan dalam buku Yaumi (2016: 86), yang menyatakan bahwa dengan adanya sanksi edukatif yang diberikan kepada siswa yang melanggar, maka akan membuat siswa lebih santun dan terarah sebagaimana yang diharapkan.

Penerapan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) dalam pembelajaran pada materi sistem peredaran darah di kelas XI IPA I SMA Negeri 3 Luwu Timur dapat meningkatkan keaktifan siswa dan membuat siswa lebih fokus dalam proses pembelajaran, karena dalam tahapannya siswa dituntut untuk bisa memahami materi, belajar untuk dirinya sendiri dan saling bekerja sama dengan anggota kelompoknya untuk mendapatkan nilai tertinggi dari kuis maupun tes yang diberikan. Seperti yang dikemukakan oleh Gusniar (2013) , dimana dalam pembelajaran dengan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) terjadi peningkatan hasil belajar, sikap, dan kinerja siswa yang dilihat dari meningkatnya pemahaman siswa pada materi yang dipelajari, terjadi kerjasama yang baik selama proses pembelajaran terutama dalam mengerjakan tugas kelompok, dan menjadi pendengar yang baik selama proses pembelajaran.

Selain itu dengan adanya penghargaan atau reward berupa hadiah yang diberikan pada beberapa kelompok dengan nilai tertinggi akan menambah semangat bagi siswa untuk aktif dalam pembelajaran, meningkatkan kerja sama kelompok sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok. Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Suparsawan (2020),

57

dimana pemberian penghargaan kelompok dalam model pembelajaran tipe STAD (Student Team Achievement Division) dilakukukan sebagai suatu penilaian atas keberhasilan usaha siswa selama pembelajaran. Penghargaan dapat berupa pujian dengan kata-kata ataupun berupa nilai dan hadiah material, sehingga dapat meningkatkan semangat, motivasi, dan keaktifan siswa dalam melakukan yang lebih baik lagi ketika pembelajaran berlangsung.

Adanya peningkatan pada nilai rata-rata dan ketuntasan klasikal siswa disetiap siklus yang juga telah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini, membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada materi sistem peredaran darah di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Luwu Timur. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Irawati (2019), dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik melalui

Penerapan Model Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD)”, dimana penerapan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: FITRIANI NURHIDA (Halaman 54-73)

Dokumen terkait