• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

yang relevan

2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru

1) Memberikan gambaran kemampuan keterampilan proses yang terdapat dalam diri siswa sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk lebih memperhatikan keterampilan proses siswa di kelas. 2) Memberikan informasi guru untuk penilaian formatif sehingga

informasi tersebut dapat digunakan sebagai sarana evaluasi untuk meningkatkan proses pembelajaran kedepannya.

b. Bagi Sekolah

1) Memberikan informasi implementasi keterampilan proses pada pembelajaran IPA, sehingga semua alat dan sumber belajar yang ada disekolah dapat dioptimalkan.

2) Selain itu, hasil penelitian dapat dijadikan bahan kajian evaluasi sejauh mana implementasi kurikulum telah mampu dilaksanakan.

BAB II KAJIAN TEORI

10

A. Tinjuan Tentang Pembelajaran IPA 1. Pengertian Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar tercipta kondisi yang memungkinkan terjadinya belajar pada diri siswa. Dalam suatu kegiatan pembelajaran siswa dapat dikatakan belajar, apabila proses perubahan perilaku terjadi pada dirinya sebagai hasil dari suatu pengalaman. Untuk itu, tujuan pokok penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di sekolah secara operasional adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi dirinya sendiri (Dimyani dan Mudjiono, 2006:136).

Sementara itu, Oemar Hamalik (2010: 54) menyatakan bahwa pembelajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Keduanya menunjukkan aktivitas yang seimbang hanya saja memiliki peranan yang berbeda. Siswa bukan saja penentu dalam berlangsungnya proses dalam belajar, tetapi guru ikut berperan serta dalam membantu menciptakan iklim belajar anak dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan hakikat pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru (Syaiful Sagala, 2010: 61). Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam proses pembelajaran dikembangkan melalui pola pembelajaran yang menggambarkan kedudukan serta peran pendidik dan peserta didik.

11

Berdasarkan pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui proses aktif sesuai peranannya masing-masing. Pembelajaran hendaknya memberikan pengalaman siswa, berupa cara-cara penting untuk memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang menjadi kebutuhannya.

2. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam

Sains atau yang dikenal dengan Ilmu Pengetahuan Alam diterjemahkan dari bahasa Inggris ‘natural science’, secara singkat disebut Science. IPA secara harafiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam (Srini M Iskandar, 1996/1997: 2). Abruscato & DeRosa (2010: 11) mengungkapkan bahwa, “Science seeks explanations of the nature world, it consists of the following components: A Systemic quest for explanations;the dynamic body of knowledge generad

through a systemic quest for explanations”. Hal ini mengandung makna bahwa IPA bukan hanya kumpulan pengetahuan, tetapi merupakan proses pencarian yang sistematis dan berisi berbagai strategi dimana menghasilkan kumpulan pengetahuan yang dinamis.

IPA juga dipandang sebagai cerminan dari hubungan antara produk pengetahuan, metode ilmiah serta nilai sikap yang terkandung dalam proses pencarianya. Seperti yang diungkapkan Trowbridge & Bybee, bahwa IPA merupakan representasi dari suatu hubungan dinamis menyangkut tiga faktor utama, yaitu “ the extant body of scientific knowledge, the value of science and

12

the method and processes of science” (Siti Fatonah dan Zuhdan K. Prasetyo, 2013: 8). Dari hakikatnya memberi penekanan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam bukan hanya kumpulan pengetahuan fakta untuk dihafal, tetapi ada proses aktif penemuan menggunakan pikiran dan sikap dalam mempelajarinya.

Hal ini sejalan diungkapkan Patta Bundu (2006: 10) menyatakan bahwa IPA adalah proses kegiatan yang dilakukan para saintis dalam memperoleh pengetahuan dan sikap terhadap proses kegiatan tersebut. Dalam hal ini, IPA sejatinya merupakan proses penemuan pengetahuan dan sikap ilmiah sehingga bukan hanya kumpulan pengetahuan yang merupakan produk dari kegiatan ilmiah.

Berdasarkan pengertian diatas dapat diketahui bahwa Ilmu Pengetahuan Alam adalah kumpulan pengetahuan yang berupa teori-teori mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya dan telah diuji kebenarannya, melalui proses metode ilmiah dari pengamatan, studi, dan pengalaman disertai sikap ilmiah di dalamnya. Dapat dijabarkan, IPA secara garis besarnya memiliki tiga komponen yaitu:

a. IPA sebagai produk, merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan analitik yang dilakukan para ilmuan dalam bentuk fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori yang dapat menjelaskan dan memahami alam serta berbagai fenomena di dalamnya.

b. IPA sebagai proses, merupakan sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam sebagai proses Sains dalam mendapatkan pengetahuan

13

Sains tersebut, meliputi kemampuan observasi, klasifikasi, kuantifikasi, inferensi, komunikasi dan proses sains lainnya.

c. IPA sebagai sikap ilmiah, merupakan sikap ilmiah yang biasa ditunjukan dalam mencari dan mengembangkan pengetahuan dari objektif terhadap fakta hati-hati, kritis dan sebagainya.

Hal ini memberi penekanan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam bukan hanya kumpulan pengetahuan fakta untuk dihafal, tetapi ada proses aktif penemuan menggunakan pikiran dan sikap dalam mempelajarinya.

3. Pembelajaran IPA di SD

Ilmu Pengetahuan Alam dibangun atas dasar proses dan sikap ilmiah dalam memperoleh pengetahuan. Sesuai hakikat tersebut, belajar IPA bukanlah sekedar mengumpulkan dan menghafal fakta-fakta pengetahuan yang tersaji dalam suatu materi pembelajaran, tetapi pembelajaran mengandung dimensi yang menekankan perubahan tingkah laku dan pengalaman. Menurut Prihanto Laksmi (Trianto, 2010: 142), pendidikan IPA di sekolah mempunyai tujuan yaitu a) memberikan pengetahuan kepada siswa tentang dunia dan bagaimana bersikap; b) menanamkan sikap hidup ilmiah; c) memberikan keterampilan untuk melakukan pengamatan; d) mendidik siswa mengetahui cara kerja serta menghargai para penemu; dan e) menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan permasalahan.

Proses pembelajaran IPA hendaknya membawa peserta didik untuk belajar mengamati serta melakukan percobaan serta penanaman sikap hidup ilmiah. Pendapat yang sama dikemukakan Cullingford (Usman Samatowa,

14

2010: 9), bahwa dalam pembelajaran IPA anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan sikap ingin tahu dan berbagai penjelasan logis. Siswa tidak hanya sekedar mengetahui tanpa memahami proses dari teori dapat terbentuk. Pada akhirnya, siswa bukan hanya menghafal pengetahuan tetapi dapat memahami.

Dalam penerapannya, proses pembelajaran IPA disesuaikan dengan struktur kognitif anak-anak. Di sekolah dasar, siswa mulai dapat berfikir abstrak yang sederhana misalnya memahami konsep berat, gaya dan ruang (Hendro Darmojo dan Jenny R. E Kaligis, 1991/1992: 20). Menurut Patta Bundu (2006: 23) tujuan pembelajaran IPA siswa diarahkan dapat mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep. Lebih lanjut, diperoleh IPA yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. Akhirnya, siswa dapat menghargai alam sekitar dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

Di sisi lain, Ilmu Pengetahuan Alam untuk anak-anak didefinisikan oleh Paolo dan Marten (Srini M. Iskandar, 1996/1997: 15) antara lain:

a. Mengamati apa yang terjadi.

b. Mencoba memahami apa yang diamati.

c. Mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang akan terjadi.

15

d. Menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat apakah ramalan tersebut benar.

Dengan demikian, pembelajaran IPA untuk tingkat Sekolah Dasar, berorientasi pada pencapaian Sains dari segi produk, proses dan sikap keilmuannya (Patta Bundu, 2010: 18). Segi produk, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep Sains berupa fakta, konsep, prinsip, hukum maupun teori dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari; dari proses, siswa diharapkan memiliki kemampuan dalam proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan, dan menerapkan konsep yang diperolehnya untuk menjelaskan masalah dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari; dari segi sikap dan nilai siswa diharapkan mempunyai minat untuk mempelajari benda-benda di lingkungannya, bersikap ingin tahu,tekun, kritis, mawas diri, bertanggungjawab dapat bekerja sama dan mandiri serta memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar.

Berdasarkan pendapat ahli tersebut, peneliti dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA merupakan interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui proses aktif dalam menemukan pengetahuan. Pembelajaran IPA hendaknya memberikan pengalaman siswa, berupa cara-cara penting untuk memproses dan memperoleh pengetahuan melaui keterampilan proses dan sikap ilmiah yang mengirinya.

16

B. Keterampilan Proses IPA

1. Pengertian Keterampilan Proses IPA

Pembelajaran IPA hendaknya memberikan pengalaman siswa, berupa cara-cara penting untuk memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang menjadi kebutuhannya. Sesuai hakikat IPA bukan hanya kumpulan pengetahuan, tetapi merupakan proses pencarian yang sistematis dan berisi berbagai strategi dimana menghasilkan kumpulan pengetahuan yang dinamis. Dengan demikian, siswa dalam pembelajaran IPA difasilitasi untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses (keterampilan ilmiah) dalam memperoleh pengetahuan ilmiah tentang alam sekitar, bukan hanya sekedar menghafal produk.

Keterampilan proses merupakan keterampilan intelektual yang dimiliki dan digunakan oleh Ilmuan dalam meneliti fenomena alam (Usman Samatowa, 2006: 137). Hal ini sejalan diungkapkan, Srini M, Iskandar (1996: 5) menjelaskan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan yang digunakan ilmuan dalam usaha memecahkan misteri-misteri di alam, berupa mengamati, mengklasifikasi, mengukur, mengidentifikasi dan mengendalikan variabel, merumuskan hipotesa, merumuskan hipotesa, dan merancang experimen. Lebih jauh, keterampilan ini disebut juga keterampilan belajar seumur hidup sebab keterampilan-keterampilan ini dapat dipakai untuk kehidupan sehari-hari untuk bidang yang lainnya.

Melalui keterampilan proses, siswa diberi kesempatan mengembangkan sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara

17

tertentu untuk memperoleh ilmu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya. Adanya keterampilan proses siswa dapat mempelajari IPA sesuai dengan apa yang dilakukan para Ilmuan, yakni melalui pengamatan, klasifikasi, inferensi, merumuskan hipotesis, dan melakukan eksperimen (Patta Bundu, 2006:12). Siswa dapat mempelajari keterampilan proses sains yang digunakan oleh para ilmuan tersebut dalam bentuk yang lebih sederhana sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Berdasarkan pengertian diatas dapat diketahui bahwa keterampilan proses IPA adalah suatu keterampilan proses penemuan dalam memperoleh pengetahuan sehingga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan intelektual, fisik, mental dan sosial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan mampu menemukan dan mengembangkan fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai. Keterampilan proses juga turut merangsang pengembangan kemampuan intelektual, fisik dan mental pada dasarnya telah dimiliki anak meskipun masih sederhana untuk menunjukan jati dirinya serta sebagai dasar untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pentingnya Keterampilan Proses IPA

Melatihkan keterampilan proses merupakan salah satu upaya untuk memperoleh keberhasilan belajar siswa yang optimal. Melalui keterampilan proses siswa diarahkan mampu memahami IPA menurut cara-cara yang diperbuat oleh ilmuan, untuk menemukan dan mengembangkan sendiri fakta

18

dan konsep sehingga pengalaman yang diperoleh dapat diingat dalam kurun waktu yang relatif lama.

Menurut Trianto (2010:148), keterampilan proses mempunyai peran-peran penting diantaranya sebagai berikut: a) siswa belajar mengembangkan pikirannya, b) memberi kesempatan untuk melakukan penemuan. c) meningkatkan daya ingat, d) Memberi kepuasan intrinsik bila dapat berhasil melakukan sesuatu, dan e) membantu mempelajari konsep-konsep.

Sementara itu, Jenny dan Hendro (1991: 52) menyatakan ada dua alasan penting keterampilan proses penting untuk dikembangkan kepada diri anak.

Pertama, Adanya perkembangan ilmu dan tehnologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan tehnologi menjadi pesat sehingga anak perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak hanya dari guru. Kedua, IPA memang dapat dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan proses. Melalui keterampilan proses anak mendapat ilmu lebih dari sekedar memahami tetapi dapat memproduksi IPA.

Oleh karena itu, tujuan-tujuan melatihkan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA menurut Muhammad (Trianto, 2010: 148), ialah sebagai berikut:

a. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, karena dalam aktivitas keterampilan proses siswa dipicu untuk berpartisipasi secara aktif dan efisien dalam belajar.

19

b. Mengarahkan pada hasil belajar secara serentak, baik keterampilan produk, proses, maupun keterampilan kinerja.

c. Menemukan dan membangun sendiri konsepsi serta dapat mendefenisikan secara benar untuk mencegah terjadinya misconsepsi.

d. Untuk memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajarinya karena latihan keterampilan proses siswa yang berusaha mencari dan menemukan konsep tersebut.

e. Mengembangkan pengetahuan teori atau konsep dengan kenyataan dalam kehidupan masyarakat.

f. Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat karena siswa telah dilatih keterampilan dan berfikir logis dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian, Keterampilan proses mutlak diperlukan anak sebagai bekal dalam kehidupannya pada masa akan datang. Materi pelajaran akan mudah dipelajari, dipahami, dihayati dengan pengalaman langsung dari peristiwa belajar tersebut. Lebih jauh, siswa dapat belajar untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari melalui cara-cara yang rasional.

3. Aspek-Aspek Keterampilan Proses IPA

Menurut Srini M. Iskandar (1996/1997: 49), membagi keterampilan proses IPA ke dalam 8 aspek yaitu:

a. Pengamatan b. Pengklasifikasian c. Pengukuran

20

d. Pengidentifikasian dan pengendalian variabel e. Perumusan hipotesa

f. Perancangan eksperimen g. Penyimpulan hasil eksperimen h. Pengkomunikasian hasil eksperimen

Menurut Hendro dan Jenny (1991: 51) senada pendapat tersebut, dan menambah 3 keterampilan proses yaitu prediksi, inferensi dan aplikasi. Sementara itu, Abruscato (Patta Bundu, 2006:23) membuat penggolongan keterampilan proses Sains (IPA) menjadi dua tingkatan, yaitu:

Tabel 1. Pengelompokkan Keterampilan Proses Sains

Basic Skills (keterampilan dasar) Integrated Skills (keterampilan terintegrasi)

a. Observing (mengamati)

b. Using space relationship (menggunakan hubungan ruang) c. Using number (menggunakan

angka) d. Classifying (mengelompokkan) e. Measuring (mengukur) f. Communicating (mengkomunikasikan) g. Predicting (meramalkan) h. Inferring (menyimpulkan) a. Controlling variable (mengontrol variable) b. Interpreting data (menafsirkan data) c. Fomulating hypothesis (menyusun hipotesis) d. Defining operationally (menyususn definisi operasional) e. Experimenting (melakukan percobaan)

Sedangkan menurut Rezba, et. al. (1995: 1), Keterampilan proses tingkat dasar meliputi: observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inferensi. Keterampilan proses terpadu meliputi : menentukan variabel, menyusun tabel data, menyusun grafik, memberi hubungan variabel, memproses data, menganalisis penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan variabel secara operasional, merencanakan penyelidikan, dan melakukan eksperimen. Keterampilan proses IPA dasar merupakan cara yang dilakukan ketika mereka menemukan pengetahuan, sedangkan

21

keterampilan proses IPA lanjutan dipergunakan untuk melakukan beberapa mempertimbangkan terakhir di pemecahan masalah pengetahuan melalui percobaan.

Keterampilan proses IPA dasar sangat ditekankan pada sekolah dasar (Patta Bundu. 2006:19). Dengan keterampilan proses dasar Sains akan membentuk fondasi untuk kemudian dan keterampilan pemikiran lebih rumit. Oleh karena itu, untuk tingkat pendidikan dasar di SD maka penguasaan proses IPA difokuskan pada keterampilan proses sains dasar (basic science process skills) yang meliputi:

1) Keterampilan observasi (pengamatan)

Kegiatan pengamatan merupakan keterampilan dasar dalam penyelidikan ilmiah dan penting dalam mengembangkan keterampilan proses lainnya seperti komunikasi, menyimpulkan, prediksi, mengukur dan klasifikasi (Funk, dkk. 1995: 3). Pengamatan dilakukan menggunakan indera-indera untuk melihat, mendengar, mengecap, meraba, dan membau. Senada dengan pendapat tersebut, Srini M. Iskandar (1996/1997:49) menyatakan bahwa pengamatan ilmiah adalah proses pengumpulan informasi dengan mempergunakan semua indera atau memakai alat untuk membantu indera misalnya, kaca pembesar. Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah pengumpulan informasi dengan menggunakan semua panca indera untuk melihat, mendengar, mengecap, meraba dan membau untuk dapat dikembangkan dalam keterampilan lainnya.

22

2) Keterampilan Klasifikasi (penggolongan)

Pengklasifikasian adalalah mengorganisasikan materi kejadian atau fenomena ke dalam kelompok logis (Patta Bundu: 26). Dengan kata lain, mengelompokan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu baik ukuran, bentuk, warna, atau fenomena lannya. Sedangkan menurut Usman Samatowa (2006: 95) menyatakan mengelompokan merupakan suatu proses pemilihan objek-objek atau peristiwa-peristiwa berdasarkan persamaan dan perbedaan sifat atau cirri-ciri dari suatu objek atau peristiwa tersebut. Kegiatan mengelompokan dapat dapat berupa mencari persamaan, perbedaan atau membandingkan antar objek. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menggolongkan adalah pengorganisasian objek-objek dengan mencari persamaan, perbedaan, ataupun membandingkan berdasarkan menurut sifat-sifat tertentu baik ukuran, bentuk, warna, atau fenomena lannya.

3) Keterampilan Pengukuran

Mengukur merupakan pencarian ukuran suatu objek untuk menentukan panjang, masaa maupun ruang yang ditempati objek (Trianto, 2010: 146). Dalam prosesnya objek dibandingkan dengan suatu pengkuran standar dengan alat atau satuan sesuai. Keterampilan mengukur penting untuk melakukan pengamatan kuantitatif, membandingkan, dan klasifikasi objek serta mengkomunikasikan secara efektif (Funk, dkk. 1995: 43). Jadi mengukur merupakan penentukan

23

ukuran suatu objek didasarkan pada pengukuran standar baik panjang, masa, volume yang dapat menentukan dalam keterampilan proses lainnya secara efektif.

4) Keterampilan Inferensi (menyimpulkan)

Inferensi merupakan penarikan kesimpulan dan penjelasan dari hasil pengamatan (Patta Bundu 2006: 28). Hasil yang telah terkumpul dari pengamatan selajutnya dilakukan penafsiran atau penjelasan. Senada pendapat tersebut menurut Trianto (2010: 145) mengiferensi adalah pengajuan hasil-hasil yang dihasilkan dari suatu pengamatan. Dalam inferensi kesimpulan yang diperoleh bersifat tentative atau sementara saat itu dan selalu terbuka untuk diuji lebih lanjut. Dengan demikian, mengiferensi adalah penarikan kesimpulan sebagai hasil dari penafsiran yang didasarkan pada hasil pengamatan terhadap objek dan bersifat tentatif.

5) Keterampilan Komunikasi

Komunikasi adalah kemampuan untuk menyampaikan hasil pengamatan atau pengetahuan yang dimiliki kepada orang lain baik secara lisan maupun tertulis (Patta Bundu. 2006: 26). Bentuknya dapat berupa grafik, laporan, gambar, diagram, atau tabel. Sementara Dimyati dan Mudjiono (2006:150), mengkomunikasikan adalah menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara visual. Komunikasi merupakan dasar

24

untuk memecahkan masalah maupun mengemukakan ide dan gagasan sehingga dapat dipahami dan mengerti orang lain. Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian hasil pengamatan baik lisan maupun tertulis berupa grafik, laporan, gambar, diagram, atau tabel untuk memecahkan masalah atau mengemukan ide sehingga dapat dipahami dan mengerti.

6) Keterampilan Prediksi

Prediksi merupakan pengajuan hasil-hasil yang mungkin dihasilkan dari suatu percobaan (Trianto. 2010: 145). Hasilnya didasarkan pada pengamatan dan inferensi sebelumnya. Senada dengan pendapat tersebut, Patta Bundu (2006: 27) menyatakan prediksi adalah suatu perkiraan yang spesifik pada bentuk observasi yang akan datang. Kemampuan prediksi akan mempermudah kemampuan beriteraksi dengan lingkungannya belajar kemungkinan terjauh datang dengan mempelajari pola-pola yang sebelumnya terjadi. Dengan demikian, prediksi adalah perkiraan yang didasarkan pada pengamatan dan inferensi sebelumnya untuk dapat melihat pola-pola yang terjadi yang akan datang.

4. Indikator Keterampilan Proses IPA Siswa SD

Dalam keterampilan proses siswa melakukan sebuah pembelajaran yang aktif. Siswa menggunakan semua indra untuk untuk mengamati objek dan peristiwa dan mereka menemukan pola dari hasil pengamatan. Mereka mengklasifikasi untuk menemukan konsep baru dengan mencari persamaan dan

25

perbedaan. Dengan lisan maupun tertulis, mereka mengkomunikasikan apa yang mereka ketahui dan mampu untuk lakukan. Untuk penjelasan kuantitatif dari suatu objek dan peristiwa mereka mengukur. Mereka menyimpulkan untuk menjadi sebuah informasi baru yang ada. Serta mereka memprediksi kemungkinan terjauh datang sebelum mereka mengamati sebenarnya.

Tabel. 2 Indikator Keterampilan Proses Sains

Keterampilan Proses Ciri Aktivitas

Observasi (mengamati)

Menggunakan alat indera sebanyak mungkin, mengumpukan fakta yang relevan dan memadai Klasifikasi

(menggolongkan)

Mencari perbedaan, mengontraskan, mencari kesamaan, membandingkan, mencari dasar penggolongan.

Aplikasi konsep (menerapkan

konsep)

Menghitung, menjelaskan peristiwa, menerapkan konsep yang dipelajari pada situasi baru

Prediksi

(mengamalkan)

Menggunakan pola, menghubungkan pola yang ada, dan memperkirakan peristiwa yang akan terjadi Interpretasi

(menafsirkan)

Mencatat hasil pengamatan, menghubungkan hasil pengamatan, membuat kesimpulan

Menggunakan alat Berlatih menggunakan alat/bahan, menjelaskan mengapa dan bagaimana alat digunakan

Eksperimen

(merencanakan dan melakukan

percobaan)

Menentukan alat dan bahan yang digunakan, menentukan variabel, menentukan apa yang diamati, diukur, menentukan langkah kegiatan, menentukan bagaimana data diolah dan disimpulkan

Mengkomunikasikan Mengidentifikasi grafik, tabel, atau diagram, menjelaskan hasil percobbaan, mendiskusikan hasil percobaan, dan menyampaikan laporan secara sistematis

Mengajukan pertanyaan

Bertanya, meminta penjelasan, bertanya tentang latar belakang hipotesis

26

Secara terperinci, Trianto (2010: 144) mengemukakan sejumlah keterampilan proses tersebut dengan ciri-ciri yang perlu dilatihkan pada siswa SD, yaitu

a. Observasi

1) Menggunakan indera-indera tidak hanya penglihatan 2) Mengidentifikasi banyak sifat

3) Melakukan pengamatan kuantitatif 4) Melakukan pengamatan kualitatif b. Pengklasifikasian

1) Mengindetifikasi suatu sifat umum

2) Memilah-milah dengan menggunakan dua sifat atau lebih. 3) Mengorganisasi objek-objek menurut satu sifat tertentu c. Pengukuran

1) Mengukur panjang, volume, massa, temperature, dan waktu dalam satuan yang sesuai.

2) Memilih alat dan satuan yang sesuai untuk tugas pengukuran tertentu. d. Penginferensian

1) Mengaitkan pengamatan dengan pengalaman atau pengetahuan terdahulu

2) Mengajukan penjelasan-penjelasan untuk pengamatan-pengatan. e. Peramalan

1) Menggunakan data dan pengamatan yang sesuai 2) Menafsirkan generalisasi tentang pola-pola

27

3) Menguji kebenaran dari ramalan-ramalan yang sesuai f. Komunikasi

1) Memaparkan pengamatan atau dengan menggunakan perbendaharaan kata yang sesuai.

2) Mengembangkan grafik atau gambar untuk menyajikan pengamatan dan peragaan data.

3) Merancang poster atau diagram untuk menyajikan data untuk menyakinkan orang

5. Pengembangan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran

Keberhasilan suatu pembelajaran bergantung bagaimana interaksi antara guru dan siswa (Masclichah Asy’ri, 2006: 37). Guru memegang peranan penting dalam penanaman keterampilan proses siswa. Secara umum peranan guru adalah melibatkan siswa dengan berbagai pengalaman yang membantu mengembangkan keterampilan proses yang dimiliki. Untuk dapat mengajarkan keterampilan proses pada siswa dan menerapkannya dalam suatu kurikulum, sebelumnya guru harus mempelajari untuk dirinya sendiri (Rezba, et.al. 1995: 1). Melalui pemahaman yang baik, guru dapat merancang kegiatan yang dapat memberkan kesempatan siswa menggunakan keterampilan prosesnya.

Menurut Harlen (Patta Bundu, 2006: 32) menyatakan ada lima aspek yang perlu dilakukan guru dalam mengembangkan keterampilan proses siswa yaitu:

a. Memberikan kesempatan menggunakan keterampilan proses dalam

Dokumen terkait