BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Hasil penelitian didapat dari proses analisis data yang sesuai dengan prosedur analisis pada bab III. Proses analisis data pada penelitian kuantitatif menggunakan analisis statistik. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa dokumen hasil pengerjaan soal pretest dan posttest dari kelas kontrol dan kelas eksperimen yang diolah menggunakan program SPSS 20.00. Deskripsi data penelitian hasil pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2
Deskripsi Data Penelitian Statistics Pretest Kontrol Posttest Kontrol Pretest Eksperimen Posttest Eksperimen N Valid 19 19 20 20 Missing 0 0 0 0 Mean 64.74 83.68 66.00 91.50 Std. Error of Mean 3.77 2.88 4.49 1.95 Median 60.00 90.00 65.00 90.00 Mode 60 90 60.00 90a
Pretest Kontrol Posttest Kontrol Pretest Eksperimen Posttest Eksperimen Std. Deviation 16.455 12.566 20.10499 8.751 Minimum 20 60 30.00 70 Maximum 90 100 100.00 100 Sum 1230 1590 1320.00 1830
Tabel 4.2 merupakan tabel yang berisi deskripsi pretest dan posttest. Rata-rata hasil skor pretest kelompok kontrol sebesar 64,74 dan kelompok eksperimen sebesar 66,00. Skor terendah untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada pretest berbeda. Kelompok kontrol memiliki skor terendah 20, sedangkan kelompok eksperimen memiliki skor terendah 30. Skor tertinggi untuk kedua kelompok menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda, kelompok kontrol memiliki skor 90 dan kelompok eksperimen memiliki skor 100. Rata-rata hasil posttest pada kelompok kontrol sebesar 83,68 dan 91,50 untuk kelompok eksperimen. Skor terendah untuk kelompok kontrol sebesar 60, sedangkan untuk kelompok eksperimen sebesar 70. Skor tertinggi untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan angka yang sama yaitu 100. Data mengenai hasil pretest dan posttest untuk kelompok kontrol dan eksperimen dirangkum dalam tabel 4.3.
Tabel 4.3
Tabel skor pretest dan posttest
Keterangan
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Skor Pretest Skor Posttest Skor Pretest Skor Posttest Rata-rata 64.73 83.68 66 91.5 Skor Tertinggi 90 100 100 100 Skor Terendah 20 60 30 70
Kenaikan Skor (Skor posttest –
Tabel 4.3 menjelaskan rata-rata, skor tertinggi, skor terendah, kenaikan skor, dan presentase. Kenaikan skor diperoleh dari skor posttest dikurangi skor pretest untuk masing-masing kelas kontrol dan eksperimen. Kelas kontrol memiliki kenaikan skor sebesar 18,95, sedangkan kelas eksperimen memiliki kenaikan skor sebesar 25,5. Presentase kenaikan skor diperoleh dari kenaikan skor dibagi skor rata-rata pretest dikali 100 %. Presentase yang diperoleh oleh kelas kontrol adalah 29,27 dan 38, 63 untuk kelas eksperimen.
Gambar 4.1. Grafik perbandingan hasil skor pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen
Gambar 4.1 menunjukkan perbandingan hasil skor pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Grafik menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami kenaikan skor. Kelompok kontrol mengalami kenaikan rata-rata skor sebesar 18,95 atau sebesar 29,27 % dari hasil pretest sebesar 64,73 dan hasil posttest sebesar 83,68. Kelompok eksperimen mengalami kenaikan rata-rata
64.73 83.68 66 91.5 0 20 40 60 80 100 Pre-test Post-test
Grafik Perbandingan Hasil Skor Pretest & Posttest
Kontrol Eksperimen
skor sebesar 25,5 atau sebesar 38,63 % dari hasil pretest sebesar 66 dan hasil posttest sebesar 91,5.
1. Uji Skor Pretest
Pengujian skor pretest bertujuan untuk melihat kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengujian skor pretest dilakukan melalui tiga tahap yaitu uji normalitas, uji homogenitas , dan uji independent t-tes. a. Uji Normalitas Pretest
Uji normalitas skor pretest dilakukan dengan dengan uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan program SPSS Statistic 20.00. Uji normalitas pada skor pretest dilakukan untuk melihat normal atau tidaknya sebaran data skor pretest. Hipotesis untuk uji normalitas skor pretest adalah:
Ho : Sebaran data tidak berbeda dengan curve normal atau data tidak normal. Ha : Sebaran data berbeda dengan curve normal atau data normal.
Berikut merupakan ketentuan pengambilan keputusan:
3) Jika harga sig (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak,
artinya sebaran data tidak berbeda curve normal.
4) Jika harga sig (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha ditolak, artinya
sebaran data berbeda curve normal.
Hasil perhitungan uji normalitas skor pretest untuk kelompok kontrol dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Pretest Kelompok Kontrol
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kontrol
N 19
Normal Parametersa,b Mean 64.74
Std. Deviation 16.455
Most Extreme Differences
Absolute .229
Positive .140
Negative -.229
Kolmogorov-Smirnov Z .997
Asymp. Sig. (2-tailed) .273
Tabel 4.4 adalah output SPSS 20.00 untuk perhitungan uji normalitas skor pretest kelompok kontrol. Nilai sig (2-tailed) menunjukkan nilai hasil uji normalitas. Nilai sig (2-tailed) menunjukkan angka 0,273. Nilai 0,273 menunjukkan sig (2-tailed) ≥ 0,05. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Ho
gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data skor pretest berbeda dengan curve normal.
Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan melihat visualisasi grafik P-P Plot. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor pretest menggunakan P-P Plot adalah:
3) Jika titik-titik data pada grafik p-p plot berada atau mendekati garis diagonal yang ideal, artinya data skor pretest terdistribusi normal.
4) Jika titik-titik data pada grafik p-p plot tidak berada atau menjauhi garis diagonal yang ideal, artinya data skor pretest tidak terdistribusi normal.
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Gambar 4.2 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Pretest Kelompok Kontrol
Hasil uji normalitas pada gambar 4.2 dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dan visualisasi grafik P-P Plot menunjukkan data terdistibusi normal. Curve pada histogram yang tampak pada gambar sebelah kiri menunjukkan curve normal. Penyebaran titik berdasarkan data yang tampak pada gambar sebelah kanan berada pada garis diagonal. Kesimpulan yang dapat diambil dari gambar 4.2 adalah data skor pretest kelompok kontrol terdistribusi normal.
Pengujian normalitas data juga dilakukan pada hasil skor pretest kelompok eksperimen. Hasil perhitungan uji normalitas skor pretest untuk kelompok eksperimen dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Pretest Kelompok Eksperimen
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Eksperimen
N 20
Normal Parametersa,b Mean 66.00
Std. Deviation 20.105
Most Extreme Differences
Absolute .133
Positive .117
Negative -.133
Kolmogorov-Smirnov Z .593
Asymp. Sig. (2-tailed) .873
Tabel 4.5 adalah output SPSS 20.00 untuk perhitungan uji normalitas skor pretest kelompok eksperimen. Nilai sig (2-tailed) menunjukkan nilai hasil uji normalitas. Nilai sig (2-tailed) menunjukkan angka 0,873. Nilai 0,873 menunjukkan sig (2-tailed) ≥ 0,05. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Ho
gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data skor pretest berbeda dengan curve normal.
Pengujian normalitas data skor pretest kelompok eksperimen juga menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Visualisasi grafik p-p plot untuk kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.3.
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Gambar 4.3 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Pretest Kelompok Eksperimen
Hasil uji normalitas pada gambar 4.3 dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dan visualisasi grafik P-P Plot menunjukkan data terdistibusi normal. Curve pada histogram yang tampak pada gambar sebelah kiri menunjukkan curve normal. Penyebaran titik berdasarkan data yang tampak pada gambar sebelah kanan berada pada garis diagonal. Kesimpulan yang dapat diambil dari gambar 4.3 adalah data skor pretest kelompok eksperimen terdistribusi normal. Pengujian normalitas skor pretest pada kedua kelompok menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki sebaran data yang terdistribusi normal, sehingga dapat dilanjutkan dengan uji homogenitas skor pretest atau menggunkan statistik parametris.
b. Uji Homogenitas Pretest
Data pretest yang diperoleh dari penelitian dianalisis dan diuji homogenitasnya menggunakan Levene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas skor pretest dengan menggunakan program SPSS 20.00 adalah:
Ho: Tidak ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau skor pretest kedua kelompok homogen (σ ² =
σ ²).
Ha: Ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau skor pretest kedua kelompok tidak homogen (σ ² ≠ σ ²). Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji homogenitas skor pretest adalah:
3) Jika harga sig (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak,
artinya tidak ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau data skor pretest kedua kelompok homogen. 4) Jika harga sig (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagalditolak, artinya
ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau data skor pretest kedua kelompok tidak homogen.
Hasil perhitungan uji homogenitas skor pretest dapat dilihat pada tabel 4.6 dengan menggunakan program SPSS 20.00.
Tabel 4.6
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Skor Pretest
Levene’s Test for
Equality of Variances
F Sig.
Pretest Equal variances assumed 1.057 .311 Equal variances not assumed
Tabel 4.6 adalah output SPSS 20.00 untuk perhitungan uji homogenitas skor pretest kedua kelompok. Nilai sig. pada kolom Lavene’s test menunjukkan hasil homogenitas skor pretest. Nilai sig. menunjukkan angka 0,311. Nilai 0,311 menunjukkan sig. ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada
perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau data skor pretest kedua kelompok homogen. Hasil uji homogenitas menunjukkan varian data kedua kelompok homogen, maka analisis data dilanjutkan dengan uji independent t-test untuk skor pretest.
c. Uji Independent t-test Skor Pretest
Uji Independent t-test dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji Independent t-test dilakukan menggunakan program SPSS 20.00. Hipotesis yang digunakan dalam uji independent t-test skor pretest adalah:
Ho : tidak ada perbedaan rata-rata skor pretest antara kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen. (μ = μ )
Ha : ada perbedaan rata-rata skor pretest antara kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen. (μ ≠ μ )
Kriteria pengambilan keputusan pada pengujian independent t-tes yang digunakan adalah:
3) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak,
artinya tidak ada perbedaan rata-rata skor pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
4) Jika harga Sig. (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan rata-rata skor pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Hasil perhitungan uji independent t-test skor pretest dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7
Hasil Perhitungan Uji Independent t-test Skor Pretest
Group Statistics
kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
pretest
kontrol 19 64.74 16.455 3.775
eksperimen 20 66.00 20.105 4.496
Independent Samples Test
t-test for Equality of Means
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper pret est
Equal variances assumed -.214 37 .832 -1.263 5.901 -13.220 10.693
Equal variances not
assumed -.215 36.228 .831 -1.263 5.870 -13.166 10.640
Tabel 4.7 menunjukkan hasil perhitungan independent t-test skor pretest. Nilai Sig. (2-tailed) menunjukkan nilai hasil uji independent t-test. Nilai Sig. (2-tailed) menunjukkan angka 0,832. Nilai 0,832 menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) ≥ 0,05
yang berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata skor pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen maka pengujian dapat dilanjutkan dengan langkah uji prasyarat analisis untuk uji independent t-test skor posttest.
2. Uji Skor Posttest
Prosedur analisis yang selanjutnya adalah uji prasyarat analisis untuk uji independent t-tes skor posttest. Tahap pada uji analisis untuk uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas skor posttest, uji homogenitas skor posttest, dan independence. Uji normalitas skor posttest digunakan untuk mengetahui apakah
data kedua kelompok sampel terdistribusi normal atau tidak. Uji homogenitas skor posttest digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara skor posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Independence merupakan deskripsi data dari penelitian ini yang menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak saling berpengaruh. Pengujian telah dilakukan dengan bantuan program SPSS 20.00.
a. Uji normalitas skor posttest
Uji normalitas posttest kedua kelompok dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis untuk uji normalitas skor posttest adalah:
Ho : Sebaran data tidak berbeda dengan curve normal atau data tidak normal. Ha : Sebaran data berbeda dengan curve normal atau data normal.
Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor posttest adalah:
3) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak,
artinya sebaran data tidak berbeda dengan curve normal.
4) Jika harga Sig. (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha ditolak, artinya
sebaran data berbeda dengan curve normal.
Hasil uji normalitas skor posttest untuk kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Posttest Kelompok Kontrol
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kontrol
N 19
Normal Parametersa,b Mean 83.68
Std. Deviation 12.566
Most Extreme Differences
Absolute .271
Positive .150
Negative -.271
Kolmogorov-Smirnov Z 1.183
Asymp. Sig. (2-tailed) .122
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Tabel 4.8 adalah output SPSS 20.00 untuk perhitungan uji normalitas skor posttest kelompok kontrol. Nilai Sig. (2-tailed) menunjukkan angka 0,122. Nilai 0,122 menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) ≥ 0,05. Kesimpuan yang dapat diambil
adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data skor posttest berbeda dengan curve normal.
Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan melihat visualisasi grafik P-P Plot. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor posttest menggunakan visualisasi grafik P-P Plot adalah:
3) Jika titik-titik data pada grafik p-p plot berada atau mendekati garis diagonal yang ideal, artinya data skor posttest terdistribusi normal.
4) Jika titik-titik data pada grafik p-p plot tidak berada atau menjauhi garis diagonal yang ideal, artinya data skor posttest tidak terdistribusi normal.
Gambar4.4 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Posttest Kelompok Kontrol
Hasil uji normalitas pada gambar 4.4 dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dan visualisasi grafik P-P Plot menunjukkan data terdistibusi normal. Curve pada histogram yang tampak pada gambar sebelah kiri menunjukkan curve normal. Penyebaran titik berdasarkan data yang tampak pada gambar sebelah kanan berada pada garis diagonal. Kesimpulan yang dapat diambil dari gambar 4.4 adalah data skor posttest kelompok kontrol terdistribusi normal.
Pengujian normalitas data juga dilakukan pada hasil skor posttest kelompok eksperimen. Hasil perhitungan uji normalitas skor posttest untuk kelompok eksperimen dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.9.
Tabel 4.9
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Posttest Kelompok Eksperimen
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
eksperimen
N 20
Normal Parametersa,b Mean 91.50
Std. Deviation 8.751
Most Extreme Differences
Absolute .234
Positive .168
Negative -.234
Kolmogorov-Smirnov Z 1.048
Asymp. Sig. (2-tailed) .222
Tabel 4.9 adalah output SPSS 20.00 untuk perhitungan uji normalitas skor posttest kelompok eksperimen. Nilai Sig. (2-tailed) menunjukkan angka 0,222. Nilai 0,222 menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) ≥ 0,05. Kesimpulan yang dapat
diambil adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data skor posttest kelompok eksperimen terdistribusi normal.
Pengujian normalitas data skor pretest kelompok eksperimen juga menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Visualisasi grafik p-p plot untuk kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.5.
Gambar 4.5 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Posttest Kelompok Eksperimen
Hasil uji normalitas pada gambar 4.5 dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dan visualisasi grafik P-P Plot menunjukkan data terdistibusi normal. Curve pada histogram yang tampak pada gambar sebelah kiri menunjukkan curve normal. Penyebaran titik berdasarkan data yang tampak pada gambar sebelah kanan berada pada garis diagonal. Kesimpulan yang dapat diambil dari gambar 4.5 adalah data skor posttest kelompok eksperimen terdistribusi normal. Pengujian normalitas skor pretest pada kedua kelompok menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki sebaran data yang terdistribusi normal, sehingga dapat dilanjutkan dengan uji homogenitas skor posttest atau menggunkan statistik parametris.
b. Uji Homogenitas Skor Posttest
Data posttest yang diperoleh dari penelitian dianalisis dan diuji homogenitasnya menggunakan Levene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas skor posttest dengan menggunakan program SPSS 20.00 adalah:
Ho: Tidak ada perbedaan varian antara skor posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau skor posttest kedua kelompok homogen (σ ² =
σ ²).
Ha: Ada perbedaan varian antara skor posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau skor posttest kedua kelompok tidak homogen (σ ² ≠ σ ²). Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji homogenitas skor posttest adalah:
1) Jika harga sig (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak,
artinya tidak ada perbedaan varian antara skor posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau data skor posttest kedua kelompok homogen. 2) Jika harga sig (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak,
artinya ada perbedaan varian antara skor posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau data skor posttest kedua kelompok tidak homogen.
Hasil perhitungan uji homogenitas skor posttest dapat dilihat pada tabel 4.10 dengan menggunakan program SPSS 20.00.
Tabel 4.10
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Skor Posttest
Levene’s Test for
Equality of Variances
F Sig.
Posttest Equal variances assumed 3.768 .060 Equal variances not assumed
Tabel 4.10 adalah output SPSS 20.00 untuk perhitungan uji homogenitas skor posttest kedua kelompok. Nilai sig. pada kolom Lavene’s test menunjukkan
hasil homogenitas skor posttest. Nilai sig. menunjukkan angka 0,060. Nilai 0,060 menunjukkan sig. ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada
perbedaan varian antar skor posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau data skor posttest kedua kelompok homogen.
c. Independence
Prasyarat analisis yang ketiga adalah independence. Analisis prasyarat ini tidak dilakukan menggunakan program SPSS 20.00. Data hasil penelitian dikatakan memenuhi kreteria independence karena data yang diperoleh berasal dari dua kelompok yang terpisah. Kedua kelompok menerima perlakuan yang tidak sama sehingga tidak saling mempengaruhi. Kelompok eksperimen menerima perlakuan dengan menggunakan media gambar, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima perlakuan dengan menggunakan media gambar. Perlakuan yang berbeda pada kedua kelompok dan tidak adanya saling keterkaitan menunjukkan bahwa data penelitian bersifat independence.
3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan independent t-test. Penggunaan independent t-test didasarkan pada terpenuhinya ketiga prasyarat analisis yaitu sebaran data skor posttest terdistribusi normal, varian data skor posttest homogen, dan diperoleh dari data yang independence. Hipotesis yang digunakan dalam uji independent t-test skor posttest adalah:
Ho : tidak ada perbedaan rata-rata skor posttest antara kelompok kontrol dan
Ha : ada perbedaan rata-rata skor posttest antara kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen. (μ ≠ μ )
Kriteria pengambilan keputusan pada pengujian independent t-tes yang digunakan adalah:
9. Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, maka
tidak ada perbedaan rata-rata skor posttest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen artinya tidak ada perbedaan hasil belajar atas penggunaan media gambar.
10.Jika harga Sig. (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, maka
ada perbedaan rata-rata skor posttest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen artinya ada perbedaan hasil belajar atas penggunaan media gambar.
Hasil perhitungan uji independent t-test skor posttest dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.11.
Tabel 4.11
Hasil Perhitungan Uji Independent t-test Skor Posttest
Group Statistics
kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
posttest
kontrol 19 83.68 12.566 2.883
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa t hitung pada tingkat kepercayaan 95 % pada baris equal variances assumed adalah -2.264 dengan Sig. (2-tailed) adalah 0,030. Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji dua pihak maka hasil Sig. (2-tailed) langsung dibandingkan dengan 0,05. Nilai 0,030 menunjukkan Sig. (2-tailed) ˂ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak maka ada perbedaan rata -rata skor posttest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, artinya ada perbedaan hasil belajar atas penggunaan media gambar.
Tabel 4.11 merupakan perhitungan independent t-tes dengan bantuan program SPSS.20.00. Bukti manual mengacu rumus independent t-tes pada bab III gambar 3. 7 sebagai berikut:
sp2 =(n −1)s12+ (n −1)s22 n1+ n2−2 sp2=(19−1)(12,56)² + (20−1)(8,75)² 19 + 20−2 sp2=(18)(157,75) + (19)(76,56) 37 sp2 =2839,5 + 1454,68 37 sp2 =4294,18 37 sp2 = 116,05
Independent Samples Test
t-test for Equality of Means
t df Sig. (2-tailed) Mean Differen ce Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper postt est Equal variances assumed -2.264 37 .030 -7.816 3.452 -14.811 -.820
Equal variances not
t = � − � 2 + 2 = 83,68− 91,50 116,05 19 + 116,05 20 = −7,82 6,11 + 5,81 = −7,82 11,92 =−7,82 3,45 =−2,26
Perhitungan t-test secara manual menggunakan rumus independent t-test terbukti sama dengan perhitungan menggunakan program SPSS 20.00. Hasil perhitungan independent t-test untuk pengujian hipotesis ini telah dapat menjawab rumusan masalah. Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu ada perbedaan hasil belajar atas penggunaan media gambar.
4. Uji Besar Efek
Uji besar pengaruh dilakukan karena hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar atas media gambar. Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan media gambar terhadap hasil belajar. Analisis dilakukan dengan menggunakan rumus effect size. Perhitungan effect size pada penelitian ini adalah:
r = ² ² + = (−2.264)² −2.264 2+ 37 = 5.125 5.125 + 37 = 5.125 42.125 = 0.122 = 0.349
Perhitungan effect size menunjukkan nilai r = 0,349. Nilai r termasuk dalam kategori medium effect (efek sedang). Presentase besar pengaruh penggunaan media gambar dapat diketahui melalui perhitungan rumus koefisien determinasi. Hasil perhitungan koefisien determinasi dilihat pada tabel 4.12.
Tabel 4.12
Hasil uji koefisien determinasi Komponen Hasil t -2,264 df 37 r 0,349 r² 0,122 R² 12,2 %
Kesimpulan yang bisa ditarik berdasarkan hasil analisis data adalah bahwa secara umum kelompok eksperimen (M = 91,50: SE = 1,957) memiliki rata-rata skor posttest lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (M = 83,68; SE = 2,883). Perbedaan skor tersebut signifikan t(37) = -2,264 dan memiliki medium effect size sebesar r = 0,349. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa R² = 12,2% yang berarti bahwa peningkatan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh
penggunaan media pembelajaran sebesar 12,2% sedangkan sisanya sebesar 87,8% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
5. Uji Signifikan Selisih
Uji signifikan selisih rata-rata dilakukan untuk mengetahui perbedaan atau signifikansi selisih rata-rata skor pretest dan posttest pada masing-masing kelompok.
a. Uji Signifikansi Selisih Rata-Rata Skor Pretest dan Posttest Kontrol
Hipotesis uji signifikansi selisih menggunakan paired t-test pada kelompok kontrol adalah:
Ho: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pretest dan posttest pada kelompok kontrol. (μ = μ )
Ha: Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pretest dan posttest pada kelompok kontrol. (μ ≠μ )
Kriteria pengambilan keputusan dengan menggunakan paired t-test untuk kelompok kontrol adalah:
3) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak artinya