BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Upaya untuk mewujudkan aktivitas penyelenggaraan sektor pemerintahan secara baik dan benar (good governance) maka tentunya sektor pelayanan publik unsur-unsur dasar yakni aktor penyelenggaran pemerintahan dan pelayanan publik disektor unsur profesionalisme. Pertimbangan terkait dengan penempatan pegawai yang dilakukan proses mutasi perlu berdasarkan asas profesionalisme yakni kepangkatan, kompetensi, prestasi kerja dan syarat-syarat lainnya yang ditetapkan secara objektif tanpa ada unsur diskriminatif yang membedakan suku, agama, jenis kelamin, rasa atau golongan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan yang ditunjang melalui data sekunder sebagai data pendukung dengan ini pelaksanaan mutasi pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar sebagai narasumber yang dianggap mampu dan dapat memberikan informasi yang akurat mengenai pelaksanaan mutasi pejabat struktural di Pemerintah Daerah
Kabupaten Takalar, bahwa tujuan dilakukannya mutasi adalah bentuk penyegaran organisasi daerah pemerintahan khususnya di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar dalam meningkatkan kinerja pegawai agar menjadi lebih baik.
Menurut MIA selaku Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar mengatakan bahwa:
“Mutasi dilakukan untuk menyegarkan kembali organisasi-organisasi perangkat daerah atau OPD supaya aktivitasnya itu kita direfresh kembali (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Pendapat tersebut didukung oleh RL selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar menyatakan bahwa:
“Mutasi itu dilakukan untuk memberikan penyegaran, artinya pegawai-pegawai itu ditata kembali sehingga ada hal yang baru lagi dan semangat kerja meningkat (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Lebih lanjut sepadan yang dikatakan oleh SA selaku Kepala Bidang Mutasi dan Promosi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, mengungkapkan bahwa:
“Mutasi dimaksudkan dalam rangka mau disegarkan artinya disterilkan atau ditata kembali ini organisasi supaya ada kebaharuannya dan pegawai juga tidak jenuh (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dianalisis dan disimpulkan bahwa pelaksanaan mutasi jabatan pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar merupakan suatu langkah upaya untuk mensterilkan atau menyegarkan kembali Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar para pejabat
tidak jenuh dan bosan dalam suasana lingkungan kerjanya sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja.
Mutasi merupakan tindak lanjut dari hasil penilaian prestasi dari sebuah kinerja. Mutasi merupakan perubahan arah jabatan baik dalam suatu jabatan/posisi, tempat dan atau pekerjaan yang dilakukan baik secara vertikal (promosi dan demosi) maupun secara horizontal (rotasi) sehingga dalam tujuan sebuah mutasi adalah untuk melakukan penyegaran dalam rangka meningkatkan produktivitas seorang pejabat dalam mencapai kinerja yang lebih baik dan tepat sasaran.
1. Mutasi Horizontal (Rotasi)
Rotasi merupakan perpindahan suatu tempat jabatan dari organisasi perangkat daerah (OPD) ke organisasi perangkat daerah (OPD) lain namun tetap berada pada jenjang eselon jabatan yang sama. Rotasi dilakukan karena adanya pertimbangan oleh faktor kejenuhan para pejabat dan suasana lingkungan kerja yang kurang mendukung dalam menyesuaikan pekerjaan sehingga dilakukan rotasi.
Tabel 3
Daftar Rotasi ASN Januari 2018 - Juni 2020 Kab. Takalar
No Tahun Mutasi
Rotasi
1 2018 2 23 39
2 2019 5 63 143
3 2020 2 20 54
Jumlah 9 106 236
Sumber : Data sekunder BKPSDM Kab. Takalar (2020)
Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa pejabat yang dirotasi selama dalam kurung kurang lebih 2 tahun sejak bulan Januari 2018 sampai bulan Juni 2020 mayoritas yang dirotasi ditekankan pada jenjang eselon IV yakni sebanyak 236 orang pegawai negeri sipil jika dibandingkan dengan jenjang eselon II dan jenjang eselon III. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai negeri sipil di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar yang dimutasi lebih diprioritaskan pada jenjang eselon yang lebih rendah yakni eselon IV dibandingkan dengan eselon yang lebih tinggi dikarenak sebagi bentuk pengembangan karir dan eselon IV lebih banyak jika dibandingkan dengan lainnya.
Berdasarkan data tersebut maka adapun hasil wawancara dari informan penelitian tentang indikator dalam pelaksanaan mutasi (rotasi) yakni adalah sebagai berikut:
a. Kejenuhan
Kejenuhan merupakan bentuk sikap yang dialami oleh pegawai seperti minimnnya semangat kerja, munculnya rasa kebosanan, kurang efektif dan efisien dalam bekerja, selalu malas dan menunda-nunda pekerjaan sehingga berpotensi untuk dimutasi.
Sehubungan dengan narasi tersebut maka ditampilkan hasil wawancara yang diperoleh dari MIA selaku Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, yang mengungkapkan bahwa:
“Rotasi dilakukan agar ini yah pegawai itu tidak jenuh, supaya itu kita geser atau rotasi maka ada beberapa pengalaman kerjanya walaupun singkat lalu itu diputuskan dan diserahkan keputusan akhir oleh Bupati (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Hal ini senada dengan RL selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, menyatakan bahwa:
“Rotasi dilakukan artinya adalah penyegarannya sifatnya digeser seperti itu, walaupun hanya menjabat beberapa bulan saja (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Pendapat tersebut juga didukung oleh SA selaku Kepala Bidang Mutasi dan Promosi Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Takalar, memberi pendapat bahwa:
“Rotasi dikarenakan ada penyegaran sehingga memungkinkan untuk dipindahkan atau dirotasi jadi sifatnya baik jenuh atau tidak, tetapi kita tetap rotasi agar
punya pengalaman untuk beradaptasi dengan lingkungan kerjanya (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”. Hasil wawancara tersebut disimpulkan bahwa pelaksanaan rotasi pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar dilakukan untuk proses penyegaran pegawai walaupun hanya rentang waktu singkat menjabat. Dengan kata lain hal ini dimaksudkan agar pegawai mendapat pengalaman yang baru pada suasana lingkungan kerjanya sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja yang lebih baik.
Berikut ini hasil wawancara dari NF selaku pejabat eselon II yang dirotasi, berpendapat bahwa:
“Saya dirotasi tapi selama saya bekerja tidak pernah jenuh. Sebelum saya dirotasi jadi Kepala Dinas Kesehatan itu kurang lebih 2 tahun. Kalau pandangan saya karena pemerintah melihat kita dirotasi untuk mengembangkan potensi yang ada bukan hanya sekedar disitu saja kemudian agar wawasan kita luas lebih terbuka lagi ketiga melihat kinerja kita artinya ketika kinerja kita bagus otomatis dengan dirotasi akan mendapatkan pengalaman lagi dan kita bisa memperlihatkan kinerja kita (Hasil wawancara pada tanggal 16 Juni 2020)”.
Sejalan dengan pandangan tersebut, SH selaku pegawai eselon III yang dirotasi, juga mengatakan bahwa:
“Saya memang ini dirotasi tapi sejak saya jadi ASN saya tidak pernah jenuh ataupun bosan sampai sekarang itupun sebelum saya dirotasi kesini hanya menjabat beberapa yakni 2-4 bulan saja dan tidak pernah punya konflik, bahkan ada yang dirotasi menduduki jabatan
sebelumnya tidak cukup 1 bulan jadi yah kita kembali lagi bahwasanya mutasi atau rotasi itu tergantung ke Pak Bupatinya (Hasil wawancara pada tanggal 15 juni 2020)”.
Selain itu pandangan EI selaku pegawai eselon IV yang dirotasi, menegaskan bahwa:
“Selama saya dirotasi saya sangat tidak pernah bosan, jenuh bahkan sebagainya karena selama saya ASN bekerja dengan giat dan rajin, biasanya itu orang dirotasi ada kesalahan atau ada yang laporkan ke Bupati bilang malas dan tidak mau bertanggung jawab pekerjaannya (Hasil wawancara pada tanggal 16 Juni 2020)”.
Hasil wawancara dari pejabat yang dirotasi baik eselon II, eselon III dan eselon IV menunjukkan bahwa pelaksanaan rotasi pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar tidak berdasarkan apakah pejabat bersangkutan jenuh ataupun merasa bosan selama bekerja. Tidak hanya itu pun juga melainkan dikarenakan rotasi ini dilakukan atas dasar hasil tim penilai kinerja bukan merupakan hasil rapat keputusan akhir, melainkan juga pejabat yang dirotasi harus melalui keputusan akhir dari Bupati.
Keputusan akhir bukan dari hasil keputusan tim penilai kinerja melainkan hasil akhir berada pada tangan tertinggi yakni Bupati. Padahal Bupati tidak mengetahui secara dengan baik kinerja dari pejabat yang dirotasi apakah pejabat ini bosan ataupun jenuh. Diketahui adanya pegawai yang belum mengetahui secara jelas
alasannya mereka dirotasi, ada pula pegawai yang menduduki jabatan sebelumnya dirotasi hanya beberapa bulan saja sehingga belum mengetahui apa tugas dan fungsinya selama bekerja.
Berdasarkan hasil wawancara dari informan penelitian disimpulkan bahwa pelaksanaan rotasi pada pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar belum sepenuhnya diperhatikan dengan baik dari segi kejenuhan dan masa kerja yang sangat singkat, serta adanya faktor lain yakni pertimbangan dari keputusan Bupati sebagai pengambilan keputusan akhir.
b. Suasana Lingkungan Kerja
Suasana lingkungan kerja merupakan perpindahan posisi tempat kerja oleh pejabat namun tetap pada jenjang eselon yang sama dikarenakan pegawai merasakan hal yang kurang nyaman yakni baik sakit maupun sejenisnya sehingga memungkinkan untuk dipindah tempatkan di lingkungan kerja yang lebih baik lagi dan kondusif.
Sehubungan dengan narasi tersebut, adapun pendapat dari MIA selaku Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, menyatakan bahwa:
“Sebetulnya suasana lingkungan kerja itu berpengaruh besar pada rotasi, walaupun sudah dirapatkan di tim penilai kinerja kita tetap berada pada putusan akhir
yakni Bupati (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Hal ini senada dengan RL selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, menegaskan bahwa:
“Dirotasi itu kita lihat keadaan tempat kerjanya, jadi pimpinan itu melihat apakah selama bekerja berkembang atau tetap begitu saja, jadi bukan pegawai yang meminta untuk dipindahkan tapi pimpinan, karena pegawai itu ditempatkan dimana saja baik jenuh ataupun tidak (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Sedangkan juga pandangan dari SA selaku Kepala Bidang Mutasi dan Promosi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, berpendapat bahwa:
“Kalau suasana lingkungan kerjanya baik atau pun tidak itukan tergantung nantinya dikeputusan akhir, jadi bukan hasil akhirnya berada pada rapat tim penilai kinerja tapi yah kepada atasankan (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Hasil wawancara dari informan menunjukkan bahwa pejabat yang dirotasi diperhatikan suasana lingkungan kerjanya namun apakah suasana tersebut baik ataupun tidak akan tetapi hasil akhir dari rapat tim penilai kinerja bukan hal yang menentukan akan tetapi hasil keputusan dari pimpinan tertinggi yakni Bupati.
Berikut ini pandangan dari NF selaku eselon II yang dirotasi yakni mengatakan bahwa:
“Selama bekerja suasana lingkungan kerja saya baik-baik saja yang pentingkan kita didukung oleh tim-tim dimana kita bekerja, kalau mereka solidaritas dan mendukung apa yang menjadi target kinerja kita, saya kira ndak ada
bedanya tapi selama saya bekerja hanya menjalankan perintah dan amanah sesuai yang diberikan tugas kepada saya dan rotasi bisa mengembangkan potensi diri yang ada diri sendiri (Hasil wawancara pada tanggal Juni 2020)”.
Pandangan ini senada dengan SH selaku pejabat eselon III yang dirotasi, menyatakan bahwa :
“Barangkali saya dirotasi itu karena pengembangan karir tapi selama saya bekerja suasana lingkungan kerja saya baik-baik saja karena penilain Pak Bupati kenapa saya dirotasi kesini kesitu itu ingin melihat sejauh mana mampu bekerja jadi mau atau tidak mau kita tetap harus mengikuti karena kita kan bawahan (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Selanjutnya pendapat tersebut juga ditunjang EI oleh selaku pejabat eselon IV yang dirotasi, menegaskan bahwa :
“Suasana selama bekerja sama seperti biasa bekerja kalau ada tugas diselesaikan secepatnya, kalau konflik saya kira saya tidak pernah sakit pun tidak bahkan jarang absen, penilaian atasankan dirotasi karena mencari pengalaman atau pengembangan seperti itu (Hasil wawancara pada tanggal 16 Juni 2020)”.
Hasil wawancara menunjukan bahwa suasana lingkungan kerja pejabat yang dirotasi baik-baik saja namun penilaiannya dirotasi bukan dikarenakan faktor suasana yang buruk melainkan pengambangan karir untuk seorang pejabat bersangkutan untuk dirotasi. Baik buruknya suasana lingkungan kerja bukan menjadi
pertimbangan pimpinan, akan tetapi sebagai bentuk pengembangan karir bagi pejabat yang dirotasi.
Berdasarkan hasil wawancara informan dapat disimpulkan bahwa baik buruknya suasana lingkungan kerja pejabat untuk dirotasi itu bergantung pada hasil keputusan akhir dari atasan dalam hal ini Bupati, karena dianggap yang menentukan dan memutuskan bahwa pejabat ini yang dirotasi. Pelaksanaan rotasi ini dilaksanakan dalam rangka suatu bentuk pengalaman tambahan dalam meningkatkan produktivitas kinerja bukan berdasarkan pada asas suasana lingkungan kerja yang tidak nyaman.
2. Mutasi Vertikal a. Promosi
Promosi merupakan kenaikan pangkat maupun jabatan atau perpindahan posisi baik jabatan maupun tempat ke jenjang eselon yang lebih tinggi dikarenakan sebagai bentuk pengembangan karir untuk jabatan yang akan dijabat bagi pejabat di ruang lingkup Pemerintah Daerah kabupaten Takalar.
Tabel 4
Daftar Promosi ASN Januari 2018 - Juni 2020 Kab. Takalar
No Tahun Mutasi
Promosi
1 2018 8 37 68
2 2019 6 42 72
3 2020 0 23 31
Jumlah 14 102 171
Sumber : Data Sekunder BKPSDM Kab. Takalar (2020)
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan promosi lebih dominan oleh pejabat eselon IV jika dibandingkan dengan pejabat eselon III dan eselon II. Pejabat yang dipromosi mayoritas eselon IV yakni sebesar 171 pegawai negeri sipil sedangkan pejabat yang paling sedikit yakni eselon II dengan sebesar 14 orang pegawai negeri sipil.
1) Kepangkatan
Kepangkatan merupakan promosi jabatan setelah pejabat yang bersangkutan memenuhi syarat kepangkatan berdasarkan jenjang eselon yang dijabat. Jenjang pangkat juga merupakan syarat utama sebagai dasar pelaksanaan promosi ke jenjang yang lebih tinggi dari jabatan sebelumnya.
Menurut MIA selaku Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, menegaskan bahwa:
“Promosi itu syarat utama itu dalam kepangkatan, kalau pangkat kita itu tidak memenuhi syarat, itu tidak bisa dipromosi, sejak awal ketika diusulkan oleh tim itu
sudah gugur (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Pandangan tersebut sejalan dengan RL selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, menyatakan bahwa:
“Pangkat menjadi persyaratan dalam mutasi jabatan serta itu harus dan sudah sesuai (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Pendapat tersebut didukung oleh SA selaku Kepala Bidang Mutasi dan Promosi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, mengatakan bahwa:
“Mengenai kepangkatannya, artinya ketika akan dipromosi diusulkan pangkatnya kemudian yang pangkatannya tidak sesuai maka harus ditinjau ulang sesuai dengan PP No. 17 ini begitu, tapi diusahakan sesuai itulah fungsi tim penilai kinerja, dan saya kira selama mutasi sudah sesuai dengan kepangkatannya baik satu tingkat dibawah pangkat dasar atau di atasnya (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Hasil wawancara informan menunjukkan bahwa pelaksanaan promosi itu sudah sesuai dengan syarat-syarat kepangkatannya, apakah setingkat di bawah pangkat dasar atau setingkat di atas pangkat dasar yang sesuai dengan aturan perundang-undangan. Dikarenakn bahwa aturan syarat kepangkatan dalam promosi adalah hal yang pokok dan paling utama dalam pelaksanaan mutasi jabatan.
Berikut ini hasil wawancarai dari MH selaku pejabat eselon II yang dipromosi, menyatakan bahwa:
“Syarat kepangkatan sudah jelas dalam UU Kepegawaian, bahwa syarat kepangkatan itu dia eselon IV Kepala seksi itu dia minimal berpangkat III B kemudian kepala bidang berpangkatkan III C Kalau dia sekretaris minimal pangkat III D Sebenarnya pangkat dasarnya satu tingkat lebih tinggi di atasnya tapi boleh menduduki satu tingkat di bawahnya pangkat dasar (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Pendapat tersebut didukung oleh SN selaku pejabat yang dipromosi dieselon III, menegaskan bahwa:
“Pada saat saya dipromosi sudah memenuhi pangkat dan golongan, disisi lain saya melihat bahwa selama mutasi ini sudah sesuai dengan aturan karena syarat wajib, kepangkatan ini tidak bisa dipaksakan kalau tidak sesuai itukan saya melanggar dan pimpinan juga (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Sedangkan pandangan dari SN selaku pejabat yang dipromosi dieselon IV, mengatakan bahwa:
“Selama pegawai itu dimutasi termasuk saya, sudah sesuai dengan aturan bahwa pangkat itu adalah syarat utama apakah memenuhi atau tidak, saya kira kalau saya itu sudah memenuhi mutasi artinya dipromosi itu sesuai pangkatnya (Hasil wawancara pada 16 Juni 2020)”.
Hasil wawancara dari pejabat yang promosi menunjukkan bahwa pelaksanaan promosi sudah sesuai dengan peraturan-peraturan syarat kepangkatan setiap jenjang eselon, pelaksanaan mutasi sesuai dengan aturan baik setingkat di bawah pangkat dasar ataupun juga setingkat lebih tinggi dari pangkat dasar sebelumnya.
Berdasarkan hasil wawancara dari informan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan promosi pejabat struktural di
Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar sudah memenuhi syarat-syarat kepangkatan yang telah ditentukan sesuai dengan jenjang eselon masing-masing bahwa kepangkatan merupakan syarat dasar dan paling utama untuk melakukan mutasi bagi pejabat yang akan dipromosi. Hal ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 13 Tahun 2002 tentang jenjang pangkat, golongan dan ruang.
2) Keikutsertaan Diklatpim
Diklatpim merupakan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan pejabat yang dijadikan sebagai syarat yang akan menduduki jenjang eselon yang baru dan lebih tinggi sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan untuk jabatan yang akan dijabat pada sebuah jabatan yang dipromosi.
Berdasarkan narasi tersebut, adapun pendapat dari MIA selaku Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, mengungkapkan bahwa:
“Diklatpim itu sesungguhnya mendukung, itu sebagai syarat tambahan saja sesungguhnya. Misalnya saya diklatpim II itu seharusnya itu kita lewati pada saat sebelum atau sesudah kita menduduki eselon II, kalau belum pada saat kita eselon II itu diharapkan kita ikut, jadi bisa duduk dulu baru dididik atau sebaliknya. Jadi kalau misalnya juga belum tapi dia sudah duduk itu bisa setelah promosi (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Pandangan tersebut juga didukung oleh RL selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, mengatakan bahwa:
“Kebijakan itu ada istilahnya duduk dulu baru di didik, jadi itu dimungkinkan untuk ikut diklatpim, terus dia sudah menjabat nanti pada saat menjabat baru diikutkan, ada di didik dulu baru duduk atau duduk dulu baru di didik kan seperti itu regulasinya pemerintah sekarang (Hasil wawancara pada tanggal 16 Juni 2020)”.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, SA selaku Kepala Bidang Mutasi dan Promosi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Takalar, menegaskan bahwa:
“Diklatpim sebenarnya syarat tambahan, tapi juga harus dilakukan kalau mau menduduki jabatan jadi begitu aturannya kan. Tapi ada juga beberapa pejabat di promosi belum ikut diklat baru duduk tapi sebenarnya harus didiklat dulu kalau di PP tapi hasil akhir dari PPK (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Hasil wawancara tersebut maka dianalisis bahwa diklatpim merupakan hanya menjadi persyaratan tambahan saja pada pelaksanaan mutasi promosi pada pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar. Diklatpim tidak serta merta menjadi persyaratan wajib dikarenakan pegawai yang dipromosi dapat melakukan diklatpim setelah menduduki jabatan sesuai dengan tingkat jenjang eselon jabatan yang dijabat masing-masing.
Berikut ini pandangan dari MH selaku pejabat eselon II yang dipromosi, mengungkapkan bahwa:
“Diklatpim itu boleh sebelum menduduki dan boleh sementara menduduki tergantung kemampuan masing-masing kantor, sekarang anggaran diklatpim itu di kantor masing-masing untuk mengurangi beban dari BKPSDM (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juni 2020)”.
Pandangan tersebut senanda dengan SM selaku eselon III yang dipromosi, menyatakan bahwa:
“Sebenarnya Diklatpim itu adalah sim artinya kalau kita mau mengendarai sebuah motor harus punya SIM, tapi kita itu disini bisa sebelum menduduki dulu suatu jabatan baru ikut diklatpim atau bisa sementara menduduki jabatan baru kita itu karena ini hanya syarat tambahan kebijakan Bupati (Hasil wawancara pada tanggal 11 Juni 2020)”.
Sesuai dengan pernyataan tersebut, hal ini juga ditegaskan oleh SN selaku pejabat eselon IV yang dipromosi, mengungkapkan bahwa:
“Diklatpim saya pernah ikut dan itu sesuai jenjang eselon kita dan untuk menduduki suatu jabatan yang baru tergantung diklatpim berapa misal waktu itu saya ikuti Diklatpim IV (Hasil wawancara pada tanggal 16 Juni 2020)”.
Hasil wawancara dari informan menunjukkan bahwa pelaksanaan promosi pada pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar untuk keikutsertaan Diklatpim pejabat dapat dilakukan sebelum dipromosi atau setelah duduk dalam jabatan. Hal ini didasari sebagai kebijakan dari pemerintah daerah selaku
tim penilai kinerja dapat dilakukan diklat sebelum dan setelah promosi.
Berdasarkan hasil wawancara dari informan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanan mutasi pejabat struktural di Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar masih belum sepenuhnya memperhatikan syarat diklatpim dengan baik. Hal ini dilihat bahwa terdapat pejabat yang dipromosi dapat mengikuti sebelum atau sesudah duduk jabatan baru lalu ikut diklatpim. Artinya bahwa pejabat struktural yang belum ikut diklatpim tetap harus diikutkan dikarenakan sebagai syarat dalam aturan pemerintah walaupun sudah menduduki jabatan baru.
3) Kompetensi
Kompetensi merupakan sikap perilaku pengetahuan dan keterampilan dalam menjalan pekerjaan oleh pegawai negeri sipil. Kompetensi juga merupakan bentuk promosi jabatan yang dilakukan oleh pejabat sebagai bentuk jenjang karir dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan pegawai.
Berdasarkan narasi tersebut, pandangan MIA selaku Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, mengungkapkan bahwa:
“Kompetensi itu penting karena sebagai dasar untuk modal dalam kinerjanya, kompetensi itu ada yang sesuai atau pun tidak, tapi beberapa dinas ada yang lebih khusus contohnya Dinas KB dan Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian terkhsus eselon II saja,