BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV berikut ini beisikan uraian mengenai penjelasan dari bab yang sebelumnya. Uraian tersebut terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan.
4.1 Hasil Penelitian
Subbab ini menguraikan proses penelitian dan persiapan sampai dengan pelaksanaan yang meliputi yaitu penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, uji coba lapangan persiapan, revisi dan pelaporan hasil pengembangan.
4.1.1 Penelitian dan Pengumpulan Informasi
Pada tahap ini, peneliti melakukan penelitian dan pegumpulan informasi yang ada melalui observasi dan wawancara serta menganalisis kebutuhan guru dalam mengahadapi siswa yang mengalami kecemasan. Potensi yang ditemukan oleh peneliti di SD Kanisius Minggir berupa kecemasan fisik pada siswa ketika melakukan pembelajaran olahraga seperti melakukan lompat jauh, lari, dan roll depan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, peneliti menemukan permasalahan kecemasan siswa dalam menghadapi kegiatan aktifitas fisik.
Hal ini karena pada saat mengajar guru tidak melihat keadaan atau kondisi setiap siswa ketika berlangsungnya pembelajaran olahraga. Sehingga siswa ketika ingin melakukan beberapa kegiatan olahraga merasa cemas, karena banyak hal yang mereka takutkan seperti cidera, tidak bisa, dan takuk diejek teman-temannya. Selanjutnya, peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan kuesioner analisis kebutuhan untuk mengetahui kebutuhan guru dan siswa terhadap skala kecemasan
48
media pembelajaran. Kuesioner analisis kebutuhan diberikan kepada guru dan siswa dan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat desain produk guna mengatasi masalah yang terjadi. Berikut ini merupakan penjabaran dari subbab identifikasi masalah dan analisis kebutuhan.
4.1.1.1 Identifikasi Masalah
Pada tahap ini peneliti melakukan identifikasi masalah yang berkaitan dengan sikap yang ditunjukkan oleh siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Identifikasi masalah dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil observasi dan wawancara kemudian dianalisis oleh peneliti.
1) Observasi
Peneliti melakukan observasi sebanyak dua kali yaitu pada saat siswa mengikuti pembelajaran di dalam kelas dan pembelajaran di luar kelas. Peneliti melakukan observasi di luar kelas pada saat siswa mengikuti pembelajaran olahraga. Observasi dilakukan pada tanggal 26 Febuari 2018. Pelajaran olahraga diikuti oleh seluruh siswa kelas II pada jam pelajaran yang sama. Hasil observasi pada saat siswa melakukan pembelajaran diluar kelas dapat dilihat melalui tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Observasi Pembelajaran diluar Kelas
Objek yang diamati Jawaban Catatan
Siswa yang mengikut
pembelajaran olahraga
dengan aktif
Ya Sebagian besar dapat mengikuti
pembelajaran olahraga dengan aktif, namun 8 siswa yang tidak aktif di dalam kelas ternyata tidak aktif juga di dalam pembelajaran olahraga.
49
ditunjuk oleh guru untuk memperakan sebuah gerakan.
tenang pada saat ditunjuk oleh guru untuk memperakan sebuah gerakan, namun 8 siswa terlihat tidak tenang dalam pada saat ditunjuk.
Guru memberikan instruksi dengan jelas.
Ya Guru memberikan instruksi
dengan jelas, terkadang guru mengajak siswa untuk bersenang-senang agar mereka tidak tegang pada saat mengikuti pelajaran olahraga
Siswa melaksanakan instruksi dari guru.
Ya Masih ada siswa yang
melaksanakan isntruksi jika
diminta secara berulang
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa dalam pembelajaran di luar kelas masih ada siswa yang kurang aktif. Dari 19 siswa di kelas II, terdapat 8 siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran olahraga. Kesepuluh siswa tersebut terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 2 perempuan. Pada saat melakukan gerakan-gerakan olahraga siswa terlihat tidak tenang dan terlihat cemas. Hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa siswa mengalami kecemasan pada saat mengikuti pembelajaran di luar kelas yaitu pada saat pelajaran olahraga.
Observasi pembelajaran di dalam kelas dilakukan pada tanggal 28 Febuari 2018 yaitu di kelas II. Pedoman observasi yang digunakan oleh peneliti dapat dilihat pada tabel 3.1. Hasil observasi pembelajaran di dalam kelas dapat dilihat melalui tabel 4.2.
50 Objek yang diamati Jawaban Catatan
Siswa mengikuti pembelajaran di dalam kelas dengan aktif
Tidak Siswa lebih banyak diam dan
menundukan kepala ketika
ditunjuk dan ditanya oleh guru. Siswa terlihat tenang ketika
ditunjuk oleh guru untuk
menjawab pertanyaan
Tidak Siswa terlihat terbata-bata ketika
menjawab pertanyaan dari guru. Guru memberikan instruksi
dengan jelas.
Ya Guru memberikan instruksi
dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami.
Siswa melaksanakan instruksi dari guru.
Tidak Beberapa siswa sulit memahami
instruksi dari guru, sehingga guru harus menjelaskan lebih dari satu kali.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, peneliti mengetahui bahwa masih ada siswa yang kurang aktif pada saat mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Siswa yang tidak aktif dapat dilihat ketika guru memberikan pertanyaan dan siswa hanya diam dan menundukan kepala saja tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Siswa yang ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan terlihat tidak tenang. Hal tersebut dapat dilihat dari cara menjawab siswa yang terbata-bata ketika mengucapkan atau menjelaskan jawabannya. Dari 19 siswa di kelas II, terdapat 8 siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Kesepuluh siswa tersebut terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 2 perempuan. Hasil observasi tersebut membuat peneliti tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang masalah yang dihadapi oleh siswa.
Hasil dari observasi menunjukkan bahwa bagaimana cara seorang guru dalam memberikan instruksi atau perintah dan pemahaman kepada siswa, namun pada kenyataanya siswa masih kesulitan dalam memahami hal tersebut. Ketika pelajaran olahraga dengan melakukan aktifitas fisik, siswa kurang aktif dalam
51
mengikuti kegiatan aktifitas fisik. Siswa lebih banyak diam dan cenderung menghindar. Dari hasil observasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami kecemasan ketika mengikuti pembelajaran olahraga yang berkaitan dengan aktifitas fisik.
2) Wawancara
Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas II dan guru olahraga. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 4 Maret 2018. Wawancara yang pertama dilakukan kepada guru kelas II sesuai dengan pedoman wawancara yang sudah disusun pada tabel 3.2. Transkrip wawancara dengan guru kelas II dapat dilihat melalui lampiran. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru kelas II yang dapat dilihat melalui tabel 4.3.
Tabel 4. 3 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas II
Topik Pertanyaan No. Item Hasil Wawancara
Informasi berkaitan
dengan keaktifan siswa
1 dan 2 Guru mengajar dengan menggunakan
metode cerama. Masih ada beberapa siswa yang belum bisa memahami materi yang dijelaskan oleh guru. Siswa yang pasif dapat dilihat pada saat guru memberikan pertanyaan dan siswa hanya diam saja..
Informasi tentang
aktivitas fisik yang
dilakukan siswa
3 dan 4 Guru menjelaskan ada beberapa dari
siswa memiliki berat badan yang lebih gemuk. Kondisi keadaan berat badan yang yang dialami siswa, akhirnya siswa ini sangatlah malas dalam melakukan kegiatan aktifitas fisik.
Pemahaman tentang
kecemasan
5 dan 6 Kecemasan dapat diartikan sebagai rasa
gugup dan takut yang dirasakan dalam segala hal yang membuat dirinya
merasa terancam. Seseorang yang
mengalam kecemasan akan merasa tidak tenang sehingga pemikirannya menjadi terbatas dan kacau. Salah satu
52
perbedaan antara pemikiran dan
pengucapan. Penelitian yang pernah
dilakukan di sekolah berkaitan dengan skala kecemasan
7 Guru menyatakan bahwa belum ada
penelitian tentang skala kecemasan aspek fisik untuk kelas II sekolah dasar.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas II, peneliti mengetahui bahwa guru sudah memahami arti dari kecemasan dan kegemukan atua obesitas. Guru menyebutkan ada 8 siswa yang mengalami
kecemasan di kelas II. Kecemasan yang dialami siswa dapat dilihat ketika siswa
mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Guru menjelaskan bahwa siswa lebih pendiam dari pada teman-teman yang lainnya. Siswa yang cenderung pendiam tersebut merupakan siswa yang memiliki rata-rata tubuh gemuk. Guru menyatakan bahwa membutuhkan skala kecemasan untuk melihat tingkat kecemasan yang dimiliki siswa.
Peneliti juga melakukan wawancara dengan guru olahraga. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran di luar kelas. Peneliti memilih guru olahraga karena pada saat olahraga guru dapat mengamati dengan jelas keadaan fisik yang dimiliki siswa. Peneliti telah menyusun pedoman wawancara untuk guru olahraga. Pedoman tersebut dapat dilihat pada tabel 3.3. Transkrip wawancara dengan guru olahraaga dapat dilihat melalui lampiran. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru olahraga yang dapat dilihat melalui tabel 4.4.
53
Tabel 4. 4 Hasil Wawancara dengan Guru Olahraga
Topik Pertanyaan No. Item Hasil wawancara
Informasi berkaitan
dengan aktivitas fisik yang dilakukan siswa
1 dan 2 Secara keseluruhan siswa terlihat
antusias dan semangat dalam
mengikuti pembelajaran olahraga.
Siswa dapat menirukan gerakan-gerakan dalam olahraga dengan baik. Guru menjelaskan bahwa siswa yang tergolong memiliki badan gemuk
merasa sedikit kesulitan dalam
mengikuti gerakan dengan baik.
terutama pada kegiatan seperti lompat jauh, lari, dan roll depan. Ketika siswa yang memiliki badan gemuk merasa bosan dengan gerakan yang tidak bisa dan sulit dilakukan olehnya, maka mereka lebih memilih menghindar dan mencari keasikan sendiri. Ada pula siswa yang hanya berdiam diri dan hanya melihat.
Kecemasan yang
dialami siswa dalam
melakukan aktivitas
fisik
3 Guru menjelaskan bahwa kecemasan
merupakan sebuah perasaan gugup, takut, dan tidak percaya diri yang dimiliki oleh setiap individu siswa. Kecemasan fisik yang dialami oleh
siswa pada saat mengikuti
pembelajaran olahraga dapat dilihat ketika guru meminta siswa untuk melakukan gerakan-gerakan seperti lompat jauh, roll depan, dan lari siswa dengan perasaan gugup dan takuk pasti mencari-cari alasan untuk tidak
mengikuti pembelajaran olahraga.
Alasan tersebut digunakan siswa untuk menghindar dari kegiatan yang tidak disukai.
54
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru olahraga, peneliti mengetahui bahwa siswa yang mengalami kecemasan pada saat siswa diminta untuk melakukan gerakan-gerakan olahraga. Kecemasan siswa muncul ketika siswa diminta untuk memperagakan sebuah gerakan yang dianggap sulit oleh siswa. Hasil wawancara menunjukkan bahwa masih ada siswa yang mengalami kecemasan dalam melakukan kegiatan olahraga. Menurut penjelasan dari guru, siswa yang mengalami kecemasan merupakan siswa yang berbadan gemuk. Siswa berbadan gemuk kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik dan mereka mencari alasan untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga. Guru memaparkan bahwa membutuhkan skala kecemasan aspek fisik untuk mengetahui tingkat kecemasan pada siswa.
4.1.1.2 Analisis Kebutuhan
Berdasarkan data siswa yang diberikan oleh guru maka peneliti mengumpulkan informasi mengenai keenam siswa tersebut. Informasi yang diperoleh peneliti yaitu berupa daftar nama siswa, usia siswa, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan. Informasi tersebut kemudian dianalisis oleh peneliti. Berkaitan dengan hasil observasi dan wawancara, siswa yang mengalami kecemasan adalah siswa yang memiliki badan gemuk. Oleh sebab itu peneliti menghitung indeks massa tubuh siswa untuk mengetahui gizi dari siswa tersebut. Peneliti menggunakan rumus pada gambar 2.1 yang kemudian dicocokkan dengan tabel 2.1 untuk mengetahui status gizi dari kesepuluh siswa tersebut. Hasil perhitungan yang telah dilakukan peneliti dapat dilihat pada tabel 4.5.
55
Tabel 4. 5 Status Gizi Siswa
Nama Jenis Kelamin Usia Berat Badan (Kg) Tinggi Badan (m) Indeks Massa Tubuh(IMT) Status gizi PUP P 8 23 1,02 22,10 Obesitas BAR L 8 26,5 1,08 22,71 Obesitas ALX L 9 27 1,05 24,48 Obesitas PES L 9 28 1,06 24,91 Obesitas GJR L 8 30 1,08 25,72 Obesitas BGA P 8 31 1,10 25,61 Obesitas PHS L 8 32 1,04 29,58 Obesitas DIN L 8 30 1,01 29,40 Obesitas
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa keenam siswa memiliki tubuh yang masuk kedalam status gizi obesitas. Oleh sebab itu maka penelitian ini membahas tentang penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar yang dibatasi pada siswa yang mengalami obesitas.
4.1.2 Perencanaan
Dalam tahap ini akan diuraikan mengenai perencanaan penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar. Hasil indentifikasi masalah dan analisis kebutuhan menunjukkan bahwa guru membutuhkan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar. Oleh sebab itu maka peneliti menyusun sebuah rancangan dalam penyusunan skala kecemasan aspek fisik yang diawali dengan kajian teori yang telah diuraikan pada bab II dan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan blue-print skala kecemasan aspek fisik serta penyusunan lembar validasi produk.
56 4.1.2.1 Penyusunan Blue-print Skala Kecemasan Aspek Fisik
Salah satu ahli yang memaparkan tentang indikator kecemasan adalah Jeffrey S. Nevid. Menurut Nevid (2003:164) kecemasan dapat dilihat dari tiga aspek yaitu aspek fisik, aspek behavioral, dan aspek kognitif. Setiap aspek memiliki indikator kecemasan masing-masing. Indikator-indikator kecemasan dalam setiap aspek dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4. 6 Indikator Kecemasan menurut Nevid (2003)
No Aspek Indikator
1 Fisik (Nevid,2003) kegelisahan mulut dan kerongkongan terasa kering
Tangan atau anggota tubuh gemetar
kekencangan pada pori-pori kulit perut atau dada Sensasi dari pita ketat yang
mengangkat di sekitar dah
jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang Sulit berbicara Nafas pendek
telapak tangan yang berkeringat
Pusing pening atau pingsan Sulit bernafas kerongkongan merasa
tersekat
Leher atau pinggang terasa kaku
Merasa lemas atau mati rasa terdapat gangguan sakit perut atau mual
Sulit menelan Panas dingin tangan dingin dan lembab Wajah memerah
Sering buang air kecil merasa sensitif atau mudah marah
Diare
Berdasarkan tabel 4.6 terdapat 23 indikator kecemasan aspek fisik. Peneliti tidak menggunakan selurih indikator dalam menyusun produk skala kecemasan aspek fisik. Peneliti memilih indikator-indikator yang mudah diamati dan dirasakan oleh siswa. Pemilihan indikator tersebut juga merupakan saran dari guru, supaya guru dapat mengamati indikator kecemasan yang dialami oleh siswa. Indikator kecemasan yang telah dipilih oleh peneliti sesuai dengan saran yang
57
diberikan oleh guru kemudian disusun menjasi sebuah blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar.
Blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar dapat dilihat pada tabel 3.4. Blue-print yang telah disusun oleh peneliti mendapatkan kritik dan saran dari ahli yang disampaikan secara lisan bahwa jumlah komponen favorable dan unfavorable harus sama. Berdasarkan saran tersebut maka peneliti memperbaiki Blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar yang dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4. 7 Perbaikan Blue-print Penyusunan Skala Kecemasan Aspek Fisik dalam Bentuk Angka
No Aspek Kecemasan
Indikator Nomor butir pernyataan Jumlah Bobot
Favorabel unfavorabel 1 Fisik Anggota tubuh gemetar 5,7 6,8 4 100 % Gelisah 1,3 2,4 4 Jantung berdebar lebih cepat 9 10 2 Leher dan punggung terasa kaku 11,13 12,14 4 Suara yang bergetar 15 16 2 Berkeringat 17,19 18,20 4 Wajah memerah 21 22 2 Lemas 23,25 24,26 4 Sulit Bernafas 27 28 2 Jumlah 14 14 28 100%
58 Blue-print juga disusun dalam bentuk kalimat pernyataan yang dapat dilihat
pada tabel 3.5. Hasil perbaikan blue-print yang disusun dalam bentuk kalimat pernyataan dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4. 8 Perbaikan Blue-print Penyusunan Skala Kecemasan Aspek Fisik dalam Bentuk Kalimat Pernyataan
Aspek Indikator Jumlah item
Favorabel Unfavorabel
Fisik Gelisah 1. Saya sulit duduk dengan tenang ketika menunggu giliran untuk melakukan lompat jauh.
2. Ketika bersiap untuk lompat jauh saya merasa santai.
3. Saya takut gagal saat melakukan lompat jauh.
4. Saya merasa tenang ketika diminta untuk lompat jauh.
Anggota tubuh gemetar
5. Kaki saya gemetar saat bersiap untuk lompat jauh.
6. Saya dapat mengatur kekuatan kaki saya saat akan melakukan lompat jauh.
7. Tangan saya terasa gemeteran saat ingin melakukan lompat jauh.
8. Saya dapat mengatur anggota tubuh saya ketika melakukan aktivitas. Jantung
berdebar lebih cepat
9. Pada saat guru meminta melakukan lompat jauh, detak jantung saya berdebar lebih cepat.
10. Pada saat menunggu giliran untuk melakuan lompat jauh detak jantung saya berdebar seperti biasa.
Leher dan punggung terasa kaku
11. Leher saya terasa sulit digerakan ketika ingin melakukan lompat jauh.
12. Saya merasa bersemangat ketika melakukan lompat jauh.
13. Punggung saya terasa kaku ketika inging melakukan lompat jauh.
14. Saya merasa santai saat melakukan lompat jauh. Suara yang
bergetar
15. Saya terbata-bata ketika menjawab pertanyaan dari guru
16. Saya senang ketika dapat menjawab pertanyaan dari guru tentang olahraga lompat jauh.
Berkeringat 17. Tubuhku keringat dingin sebelum melakukan lompat jauh.
18. Tubuh saya merasa segar setelah melakukan lompat jauh.
59
Blue-print yang telah diperbaiki oleh peneliti dapat dilihat pada tabel 4.7 dan tabel 4.8. Blue-print yang telah diperbaiki menjadi pedoman dalam penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar. Penyusunan produk skala kecemasan akan dijelaskan lebih lanjut pada subbab pengembangan bentuk awal produk.
2.1.1.2 Penyusunan Instrumen Validasi Produk
Produk yang telah disusun oleh peneliti kemudian divalidasi oleh para ahli. Validasi ini dilakukan oleh ahli psikologi, ahli bahasa, guru kelas II, dan guru olahraga. Hasil validasi tersebut menunjukkan kualitas dari produk yang telah disusun oleh peneliti. Peneliti melakukan perbaikan sesuai dengan saran yang diberikan oleh para ahli. Instrumen validasi yang digunakan oleh peneliti dapat dilihat pada tabel 3.6.
Hasil validasi kemudian dikaji oleh peneliti untuk dapat melihat kualitas dari produk yang telah disusun oleh peneliti. Kriteria kelayakan produk dapat
19. Telapak tangan saya basah ketika ingin melakukan lompat jauh.
20. Saya merasa santai ketika ingin melakukan lompat jauh.
Wajah memerah
21. Wajah saya memerah saat diminta melakukan lompat jauh.
22. wajah saya memerah ketika guru memuji saya
Lemas
23. Kaki saya terasa lemas saat ingin melakukan lompat jauh.
24. Saya selalu semangat saat mengikuti olahraga lompat jauh. 25. saya merasa badan saya
lemas saat guru memanggil nama saya
26. Saya merasa badan terasa segar setelah melakukan lompat jauh
Sulit Bernafas
27. Saya merasa sesak nafas ketika diminta guru untuk lompat jauh.
28. Saya dapat mengatur nafas saya saat melakukan lompat jauh.
60
dilihat pada tabel 3.8. Hasil validasi dapat dilihat pada tahap pengembangan bentuk awal produk.
4.1.3 Pengembangan Bentuk Awal Produk
Pengembangan bentuk awal produk yang dilakukan oleh peneliti berupa penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar. Berikut akan diurakan mengenai pengembangan bentuk awal produk yang berkaitan dengan sampul buku, isi buku, dan hasil validasi oleh para ahli.
4.1.3.1 Sampul Buku Skala Psikologi
Sampul merupakan bagian paling awal yang akan dilihat oleh siswa. Oleh sebab itu peneliti menyusun sampul buku agar terlihat menarik untuk siswa. Peneliti memilih gambar yang menarik untuk siswa dan disesuaikan dengan judul penelitian. Gambar sampul buku dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4. 1 Sampul Buku
Peneliti memilih warna perpaduan hijau, biru dan putih sebagai warna dasar pada sampul buku. Warna merupakan warna yang melambangkan
61
kesehataan, ketenangan, ketentraman, kedamaian, pengetahuan, dan keindahan. Pemilihan warna ini bertujuan agar siswa merasa tenang pada saat mengisi skala kecemasan aspek fisik yang telah disusun oleh peneliti. Terdapat sesorang sedang menggambar tentang bagaimana keindahan alam disekitar. Peneliti memilih gambar ini karena kita mengajarkan sejak dini untuk menyayangi, menjaga, dan perlunya alam sekitar untuk kelangsungan hidup. Oleh sebab ini maka peneliti memilih keindahan alam sekitar sebagai wujud rasa peduli terhadap lingkungan. `
Sampul buku skala kecemasan yang telah disusun oleh peneliti berjudul “SKALA PSIKOLOGI SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR” yang ditulis dengan menggunakan jenis huruf Arialblack ukuran 22 pt. Jenis huruf tersebut dipilih oleh peneliti karena bentuknya yang mudah dibaca oleh siswa. Judul diletakkan pada bagian atas tengah sampul dengan spasi 1mm. Buku yang telah disusun oleh peneliti tidak diberi judul “skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas II sekolah dasar” dengan tujuan agar siswa tidak mengetahui arah atau tujuan akhir dari pengisian skala. Jika siswa mengetahuinya dengan jelas maka siswa akan merasa tidak nyaman dalam mengisi skala tersebut.
4.1.3.2 Isi Buku Skala Psikolog
Setelah menyusun sampul buku, peneliti kemudian menyusun layout isi buku skala kecemasan. Isi buku terdiri dari lembar permohonan, petunjuk pengisian, skala kecemasan, dan ucapan terima kasih. Peneliti memilih ukuran dan jenis huruf yang mudah dibaca oleh siswa. Isi buku dicetak dengan menggunakan kertas HVS 80 gram.
62
Bagian lembar permohonan berisi tentang salam pembuka dari peneliti, permohonan peneliti untuk meminta bantuan kepada siswa dalam mengisi skala kecemasan, dan ucapan terima kasih. Jenis huruf yang digunakan dalam penulisan lembar permohonan pengisian skala adalah jenis huruf Times New Roman dengan ukuran 11pt. Lembar permohonan pengisian skala dapat dilihat pada gambar 4.2.
Gambar 4. 2 Lembar Permohonan Pengisian Skala
Setelah lembar permohonan pengisian skala, peneliti menyusun petunjuk pengisian skala. Petunjuk pengisian skala terdiri dari 7 nomor pernyataan. Peneliti juga menggunakan jenis huruf Times New Roman dengan ukuran 11pt. Petunjuk pengisian skala dapat dilihat pada gambar 4.3.
63
Gambar 4. 3 Petunjuk Pengisian
Peneliti kemudian menyusun skala kecemasan yang terdiri dari 28 butir pernyataan. Setiap butir pernyataan mengacu pada indikator kecemasan yang dapat dilihat pada Blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk kelas