HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Uji Analisis Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran umum tentang objek penelitian yang dijadikan sampel. Penjelasan data melali statistik deskriptif diharapkan memberikan gambaran awal tentang masalah yang diteliti. Statistik deskriptif difokuskan pada nilai maximum, minimum, rata-rata (mean), dan standar deviasi.
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic Ukuran
Sumber : Data Primer (diolah dari SPSS 21, 2021)
62
Dari tabel deskriptif diatas dapat dilihat bahwa dalam penelitian ini dimana sampel (N) yang digunakan sebanyak 30 data pada perincian data analisis deskriptif masing-masing variabel independen dan variabel dependen.
Tabel tersebut menunjukkan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ukuran perusahaan (X1), Rasio Leverage (X2), Rasio Likuiditas (X3), Rasio Aktivits (X4), dan Kapitalisasi Pasar (Y).
Ukuran Perusahaan (X1) memiliki nilai minimum sebasar 21,00, nilai maximum sebesar 32,00 dan nilai rata-rata sebesar 28,40. Rasio Laverage memiliki nilai minimum sebasar -2,00, nilai maximum sebesar 2,00 dan nilai rata-rata sebasar 0,6333. Rasio likuiditas memiliki nilai minimum sebesar 0,00, nilai maximum sebesar 9,00 dan nilai rata-rata sebesar 2,433. Rasio Aktivitas memiliki nilai manimum sebesar 0,00, nilai maximum sebesar 1261,00 dan nilai rata-rata sebesar 90,5667. Kapitalisasi pasar memiliki nilai minumum sebesar 540724,00, nilai maximum sebesar 130030274,00 dan nilai rata-rata sebesar 25481799,20.
2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik terdiri dari ui normalitas, multikolineritas, autokorelasi dan hoterorkedastisitas. Hasil pengujian dapat dilihat sebagai berikut :
a. Uji Normalitas
Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan kolmogrov-Smirnov Test. Penggunaan uji kolmogrof- Smirnof atau uji k-s termasuk golonagan
non-parametrik karena peneliti belum mengetahui apakah data yang digunakan termasuk data parametik atau bukan. Pada uji K-S data dikatakan normal apabila sign>0,05.
Hasil pengujian normalitas untuk semua variabel dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Sumber : Data Diolah (diolah dari SPSS 21,2021)
Berdasarkan tabel diatas bahwa One-Sampel Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan nilai Z untuk variabel Unstandardized predicted value adalah sebesar 0,763. Oleh karena itu variabel penelitian mempunyai nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,606.
Nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,606 lebih besar dar 0,05 sehingga dapat disimpulkn bahwa semua variabel dalam penelitian ini berdistribusi normal.
b. Uji Autokorelasi
64
Syarat untuk pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi dalam suatu model yang digunakan, maka nilai benchmark DW hitung mendekati angka 2. Jika nilai DW hitung mendekati atau seketar 2 maka model terbebas dari asumis klasik autokorelasi.
Tabel 4.3 Uji Autokorelasi
Model R R Square Adjusted R
Square
Durbin-Watson
1 ,678a ,460 ,374 ,424
a. Predictors: (Constant), RasioAktivitas (RTO), Ukuran Perusahaan, Rasio Laverage (DER), RasioLikuiditas (Current Ratio)
b. Dependent Variable: Kapitalisasi pasar
Sumber : Data Diolah (diolah dari SPSS 21,2021)
Nilai benchmark Durbin Watson sebesar 0,424. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini terbebas dari asumsi klasik autokorelasi atau tidak terjadi masalah korelasi dari suatu obsrvasi ke observasi lainnya.
a. Uji Hiteroskedastisitas
Cara mndeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dalam model regresi adalah dengan uji Glasjer atau menggunakan metode grafik plot Regression Standardized Value dengan Regression Studentized Residual. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (nergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka mengndikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yanhg jelas maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah yang hemoskedatisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Sumber : Data Diolah (diolah dari SPSS 21,2021)
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa penyebaran (titik) disekitar garis regresi (diagonal) dan penyebaran titik-titik data searah mengikuti garis diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi layak digunakan karena tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dan data tersebut memenuhi uji asumsi klasik pada uji heteroskedastisitas.
66
b. Uji Multikolinearitas
Untuk mengetahui ada atau tidak adanya terdapat masalah multikolinearitas adalah dengan melihat nilai Variance factor (VIF) dan Tolerance (TOL). Mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi salah satunya dilihat dari : (1) nilai tolerance dan lawannya; dan (2) variabce inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance <0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10 (Ghozali 2016)
Hasil uji multikolinearitas berdasarkan nilai TOL dan VIF dapat dilihat pada tabel berikut :
Ukuran Perusahaan 12150053,545 2828363,916 ,477 2,096 Rasio Laverage (DER) -167537,000 5932953,719 ,930 1,076 Rasio Likuiditas (Current
Ratio)
8869777,170 3562239,900 ,478 2,090
Rasio Aktivitas (RTO) -10989,597 21647,066 ,921 1,086 a. Dependent Variable: Kapitalisasi pasar
Sumber : Data Diolah (diolah dari SPSS 21,2021)
Berdasarkan tabel di atas, bahwa nilai VIF pada setiap variabel menunjukkan nilai yang lebuh besar dari 0,10 dan korelasi antar variabel independen yang digunkan untuk mengetahui ada
tidaknya gejala multikolinearitas terhadap variabel penelitian adalah di atas 0,10. Sementara itu nilai Tolerance setiap variabel menunjukkan nilai yang lebih kecil daro 0,10.
Karena nilai yang terdapat pada setiap variabel lebih besar dari 0,10 maka tidak ada gejala multikolinearitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas antara variabel independen.
(Constant) -340061447,976 86717974,087 -3,921 ,001
Ukuran Perusahaan 12150053,545 2828363,916 ,914 4,296 ,000 Rasio Laverage (DER) -167537,000 5932953,719 -,004 -,028 ,978 Rasio Likuiditas
(Current Ratio)
8869777,170 3562239,900 ,529 2,490 ,020
Rasio Aktivitas (RTO) -10989,597 21647,066 -,078 -,508 ,616 a. Dependent Variable: Kapitalisasi pasar
Sumber : Data Primer (diolah dari SPSS 21, 2021)
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat diketahui persamaan regresi berganda adalah sebagai berikut:
Y=-340061447,976 + 12150053,545X1-167537,000X2 + 8869777,17X3-10989,597X4+ e
Model persamaan regresi pada Unstandardized Coefficients nilai koefisiennya sebagai berikut :
68
1. Nilai konstanta sebesar -340061447,976 yang berarti bahwa Kapitalisasi pasar (Y) akan konstan sebesar -340061447,976 yang dipengaruh oleh variabel Ukuran Perusahaan. Rasio Laverage (DER), Rasio Likuiditas dan Rasio Aktivitas.
2. Nilai koefisien regresi variabel Ukuran Perusahaan (X1) sebesar 12150053,545, artinya bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap Kapitalisasi pasar (Y). Hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan 1% pada kapitalisasi pasar, maka akan terjadi peningkatan Ukuran Perusahaan sebesar 121150053,545 dan begitupun sebaliknya, dengan asumsi bahwa variabel lain tetap.
3. Nilai koefisien variabe Rasio Laverage (X2) sebesar -167537,000 artinya bahwa Rasio Laverage berpengaruh negatif terhadap kapitalisasi pasar (Y). Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengurangan 1% pada rasio laverage, maka akan terjadi penurunan kapitalisasi pasar sebesar -167537,000 dan begitupun sebaliknya, dengan asumsi lain tetap
4. Nilai koefisien regresi untuk variabel Rasio Likuiditas (X3) sebesar 8869777,170 artinya bahwa Rasio Likuiditas berpengaruh positif terhadap Kapitalisasi pasar (Y). Hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan 1% pada rasio likuiditas, maka akan terjadi peningkatan kapitalisasi pasar sebesar 8869777,170 dan begitupun sebaliknya, dengan asumsi variabel lain tetap.
5. Nilai koefisien regresi variabel Rasio Aktivitas (X4) sebesar -10989,597, artinya bahwa Rasio Aktivitas berpengaruh negatif terhadap kapitalisasi pasar (Y). Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengurangan 1% rasio aktivitas, maka akan terjadi pengurangan kapitalisasi pasar sebesar -10989,597 dan begitupun sebaliknya, dengan asumsi variabel lain tetap.
(Constant) -340061447,976 86717974,087 -3,921 ,001
Ukuran Perusahaan 12150053,545 2828363,916 ,914 4,296 ,000 Rasio Laverage (DER) -167537,000 5932953,719 -,004 -,028 ,978 Rasio Likuiditas
(Current Ratio)
8869777,170 3562239,900 ,529 2,490 ,020
Rasio Aktivitas (RTO) -10989,597 21647,066 -,078 -,508 ,616 a. Dependent Variable: Kapitalisasipasar
Sumber : Data Primer (diolah dari SPSS 21, 2021)
Dari Hasil Uji Persial(Uji-t) memperlihatkan bahwa : 1. Ukuran Perusahaan
Kriteria pengujian uji t pada tabel diatas adalah apabila nilai thit> ttab maka Ha1 diterima dan H01 ditolak. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa besarnya nilai thit sebasar 4,296, sedangkan besarnya ttab pada tingkat kepercayaan 95% dan derajat bebas (30-1-1=28) maka diperoleh nilai kepercayaan sebesar 2,048407. Nilai terebut diperoleh dari excel dengan rumus
= TINV (5%:28). Karena nilai thit lebih besar dari nilai ttab dengan
70
tingkat kekeliruan 5% maka Ha1 diterima H01 ditolak. Ini berarti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Artinya bahwa modal akan tinggi jika ukuran perusahaan juga tinggi.
2. Rasio Laverage (X2)
Besarnya nilai thit pada variabel X2 adalah (-0,028), sedangkan besarnya ttab pada tingkat kepercayaan 95% dan derajat bebas (30-1-1= 28) maka diperoleh nilai sebesar 2,048407.
Karena nilai thit lebih kecil dari nilai ttab dengan tingkat kekeliruan 5% maka Ha1 ditolak dan H01diterima. Ini berarti bahwa rasio laverage berpengaruh tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar.
Artinya bahwa tinggi atau baiknya rasio laverage tidak menjamin kapitalisasi modal baik atau tinggi.
3. Rasio Likuiditas (X3)
Besarnya nilai thit pada variabel X3 adalah 2,490, sedangkan besarnya ttab pada tingkat kepercayaan 95% dan derajat bebas (30-1-1 = 28) maka diperoleh nilai sebesar 2,04847.
Nilai tersebut diperoleh dari excel dengan rumus =TINVT(5%:28).
Karena nilai thit lebih besar dari nilai ttab dengan tingkat kekeliruan 5% maka Ha1 diterima dan H01 ditolak. Ini berarti bahwa rasio likuiditas berepengaruh signifikan terhadap kapitalisasi pasar . Artinya bahwa Kapitalisasi Pasar akan tinggi jika rasio likuiditas juga tinggi.
4. Rasio Aktivitas
Besarnya nilai thit pada variabel rasio aktivitas (X4) adalah -0,58 sedangkan besarnya ttab pada tingkat kepercayaan 95% dan derajat bebas (30-1-1 = 28) maka diperoleh nilai sebesar maka diperoleh nilai sebesar 2,04807. Nilai tersebur diperoleh dari excel dengan rumus =TINVT(5%:28). Karena nilai thit lebih kecil dari nilai ttab dengan tingkat kekeliruan 5% maka Ha1 ditolak dan H01
diterima. Ini berarti bahwa rasio aktivitas berpengaruh tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Artinya bahwa tinggi atau baiknya rasio efektivitas tidak menjamin kapitalisasi pasar baik atau tinggi.
c. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Dalam penelitian ini koefisien determinasiyang dipakai adalah nilai adjusted R square. Tabel berikut menyajikan nilai koefisien determinasi dari model penelitian.
Tabel 4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 ,678a ,460 ,374 29708289,75455
a. Predictors: (Constant), Rasio Aktivitas (RTO), Ukuran Perusahaan, Rasio Laverage (DER), Rasio Likuiditas (Current Ratio)
b. Dependent Variable: Kapitalisasi Pasar
Sumber : Data Primer (diolah dari SPSS 21, 2020)
Pada tabel Coefficient menunjukkan bahwa nilai R square sebesar 0,460 yang memiliki makna bahwa variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabel independen sebesar 46%. Artinya bahwa variabel independen dalam penelitian mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 46% sedangkan sisanya 54% dijelaskan atau
72
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diikuti atau tidak diamati dalam penelitian ini.
C. Pembahasan
1. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Kapitalisasi
Ukuran perurusahaan merupakan suatu indikator yang menggambarkan besar-kecilnya suatu perusahaan. Putu Ayu dan Gerianta (2018) ukuran perusahaan merupakan suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan diukur dengan total akvita, jumlah penjualan, nilai saham dan sebagaianya.berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ukuran perusahaan memiliki regresi positif yang berarti bahwa ukuran perusahaan yang tinggi berpengaruh dalam meningkatkan kapitalisasi pasar. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi ukuran perusahaan maka akan memberikan pengaruh semakin tinggi terhadap kapitalisasi pasar.
Sementara itu, berdarkan uji persial diketahui bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kapitalisasi modal. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai ukuran perusahaan dapat membuat nilai kapitalisasi saham meningkat karena salah satu ukuran yang dilihat seorang investor ketika akan melakaukan investasi adalah ukuran perusahaan.
Hasil penelitian ini searah dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arifin (2016) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kapitalisasi pasar dan sejalan dengan penelitian ini
2. Pengaruh Rasio Leverage Terhadap Kapitalisasi Modal
Rasio laverage adalah rasio yang menjelaskan bahwa bagaimana kemampuan perusahaan dibiaya oleh utang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rasio laverage (DER) memiliki koefisien regresi negatif terhadap kapitalisasi modal yang berarti bahwa rasio laverage (DER) yang tinggi tidak berpengaruh terhadap kapitalisasi pasar. Hal ini berarti bahwa rasio laverage (DER) yang tinggi tidak akan tidak memberikan pengaruh yang tinggi terhadap kapitalisasi pasar.
Sementara itu berdasarka uji persial diketahui bahwa rasio laverage (DER) rasio laverage berpengaruh tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Artinya bahwa tinggi atau baiknya rasio laverage tidak menjamin kapitalisasi modal baik atau tinggi. Ini berarti bahwa rasio laverage (DER) yang tinggi tidak akan mampu membuat nilai kapitalisasi pasar suatu perusahaan juga tinggi karena utang yang lebih tinggi dibandingkan dengan modal sendiri dapat membuat tidak stabil secara finansial sehingga akan membuat harga saham turun.
Hal ini mengndikasikan bahwa semakin tinggi rasio laverage (DER) belum tentu membuat nilai kapitalisasi pasar di perusahaan meningkat. Hal ini disebabkan karena Rasio Laverage (DER) adalah perbandingan antara jumlah modal dengan jumalah utang. Apabila pihak manajemen membuat suatu kebijakan untuk memperbesar hutang maka akan membuat tingkat resiko likuiditas yang tinggi. Hal ini akan membuat respon para investor bahwa dimasa yang akan datang akan terjadi ketidakmampuan perusahaan membayar
74
kewajban perusahaan yang tentuya juga akan berdampak padadeviden yang akan diperoleh oleh para investor sehingga akan mengakibatkan para investor akan melepaskan saham sehingga akan mengakibatkan jumlah saham juga ikut menurun, jumlah saham yang
menurun akan berakibat juga pada nilai kapitalisasi pasar ikut turun.
Hasil Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Daniel 2015 yang menyatakan bahwa Receivable Turnover tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
3. Pengaruh Rasio Likuiditas Terhadap Kapitalisasi pasar
Rasio likuiditas (current ratio) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
berdasarkan hasil penelitian diketahui rasio likuiditas (current ratio) memiliki regresi positif yang berarti bahwa yang berarti bahwa rasio likuiditas (current ratio) rasio likuiditas yang tinggi berpengaruh dalam meningkatkan kapitalisasi modal. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi rasio likuiditas (current ratio) perusahaan maka akan memberikan pengaruh terhadap kapitalisasi pasar.
Sementara itu, berdasarkan uji persial diketahui bahwa rasio likuiditas (current ratio) berpengaruh signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Artinya bahwa tingginya tingkat likuiditas yang dimiliki oleh perusahaan akan menjamin bahwa kapitalisasi pasar akan meningkat.
Hal ini disebabkan karena perusahaan sangat likuid memiliki jumlah aset lancar yang lebih dibandingkan dengan kewajiban lancar perusahaan. Sehingga membuat perusahaan mampu untuk melunasi utang jangka pendeknya. Sehingga membuat para investor tertarik
untuk menanamkan modalnya karena investor akan melihat kinerja perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya sangat baik, hal ini akan memberikan dampak terhadap harga saham menjadi naik, harga saham yang naik akan mebuat nilai kapitalisasi pasar juga akan ikut naik. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Fitrianingsing dan Budiansyah 2018 yang menyatakan bahwa Rasio Likuiditas (current ratio) berpengaruh terhadap nilai saham.
4. Pengaruh Rasio Aktivitas Terhadap Kapitalisasi pasar
Rasio Aktivitas merupakan rasio seberapa efektif perusahaan menggunakan asetnya dan liabilitasnya untuk menghasilakan penjualan dan memaksimalkan laba. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rasio aktivitas (RTO) berpengaruh negatif terhadap kapitalisasi pasar hal ini berarti bahwa nilai rasio aktivitas (RTO) yang tinggi tidak akan tidak memberikan pengaruh yang tinggi terhadap kapitalisasi pasar.
Sementara itu berdasarkan uji persial diketahui bahwa rasio aktivitas berpengaruh tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar Artinya bahwa tinggi atau baiknya rasio efektivitas tidak menjamin kapitalisasi pasar baik atau tinggi. Hal ini berarti bahwa para investor dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi tidak begitu memperhatikan piutang perusahaan, karena nilai piutang yang tinggi dapat membuat perusahaan mengalami penundaan penerimaan kas sehingga dapat membuat nilai piutang tak tertagih semakin tinggi akibatnya akan mengurangi laba perusahaan, dan dapat mengurangi
76
nilai dari deviden dan membuat investor tidak ingin lagi menanamkan sahamnya sehingga nilai saham perusahaan tersebut dapat turun.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Manisem 2013 yang menyatakan bahwa Rasio Aktivitas tidak bepengaruh terhadap return saham dalam jakarta Islamic Index.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti serta pembahasan yang telah ditulis oleh penelitian pada bab sebelumnya, dimana penelitian ini memiliku tujuan untuk mengetahui apakah pengaruh ukuran perusahaan, rasio Laverage, rasio Likuiditas dan rasio aktivitas terhadap kapitalisasi pasar.sehinggah peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ukuran perusahaan bepengaruh poitif dan tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar yang mana dengan ukuran perusahaan yang tinggi dapat membuat investor karena salah satu ukuran yang dilihat seorang investor ketika hendak menanamkan modalnya dalam satu perusahaan adalah Ukuran Perusahaan jadi apabila ukran perusahaan tinggi maka akan membuat tingkat kapitalisasi pasar juga tinggi.
2. Rasio Laverage berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Karena jika dibandingkan nilai modal yang lebih kecil dari nilai total utang yang dimiliki oleh perusahaan sendri dapat membuat tidak stabil secara finansial sehingga akan membuat harga saham yang dimiliki oleh perusahaan akan turun.
Apabila harga saham turun maka nilai kapitalisasi pasar akan turun..
3. Rasio likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Hal ini disebabkan karena perusahaan sangat
78
likuid memiliki jumlah aset lancar yang lebih dibandingkan dengan kewajiban lancar perusahaan. Sehingga membuat perusahaan mampu untuk melunasi utang jangka pendeknya
4. Rasio aktivitas berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kapitalisasi pasar. Karena nilai piutang yang tinggi dapat membuat perusahaan mengalami penundaan penerimaan kas sehingga dapat membuat nilai piutang tak tertagih semakin tinggi akibatnya akan mengurangi laba perusahaan, dan dapat mengurangi nilai dari deviden dan membuat investor tidak ingin lagi menanamkan sahamnya sehingga nilai saham perusahaan tersebut dapat turun.
B. Saran
Dari hasil kesimpulan yang dituliskan oleh penulis di atas, sehingga saran yang diberikan penulis adalah:
1. Perusahaan manufaktur yang menjadi sampel penelitian perlu memperhatikan ukuran perusahaan dan rasio likuiditas agar nilainya tinggi, karena penelitian yang telah peneliti lakukan yang mana menunjukkan ukuran perusahaan serta rasio likuiditas mempunya pengaruh positif terhadap kapitalisasi pasar.
2. Bagi peneliti yang in gin meneliti mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapitalisasi pasar disarankan untuk menggunakan variabel yang berpengaruh terhadap kapitalisasi pasar dan juga menggunkana objek penelitian yang berbeda.
78