• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-Langkah Formulasi Kebijakan Pengembangan Budaya Mutu di SD N Ungaran 1 Yogyakarta

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.Deskripsi Lokasi Penelitian

B. Hasil Penelitian

5. Langkah-Langkah Formulasi Kebijakan Pengembangan Budaya Mutu di SD N Ungaran 1 Yogyakarta

Terdapat empat langkah yang dilakukan oleh SD N Ungaran 1 Yogyakarta dalam formulasi kebijakan pengembangan budaya mutu pada sekolah yaitu perumusan masalah, penyusunan agenda kebijakan, pemilihan alternatif kebijakan, dan penetapan kebijakan. Dalam tahap formulasi kebijakan ini anggota rapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok guru dan pegawai. Sedangkan Kepala Sekolah dan Komite Sekolah berperan dalam memimpin jalannya rapat. Proses tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian berikut ini:

a. Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh sekolah dalam proses formulasi kebijakan. Tujuan dari perumusan masalah ini adalah untuk mendiagnosis permasalahan-permasalahan apa saja yang terjadi di sekolah pasca regrouping. Dalam proses perumusan masalah para anggota rapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok guru dan kelompok pegawai. Tujuannya addalah untuk memperoleh informasi-informasi terkait dengan masalah-masalah yang mereka hadapi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

86

Dari kelompok guru diperoleh 4 informasi terkait permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

1) Pemberian nama sekolah pasca regrouping karena menggunakan nama SD N Ungaran 1 Yogyakarta. Hal ini menimbulkan kecemburuan pada sekolah yang diregrouping yaitu SD N Ungaran 2 Yogyakarta dan SD N Ungaran 3 Yogyakarta. Guru meminta agar nama sekolah diganti dan sama sekali tidak menggunakan nama SD Ungaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Dulu masalah yang muncul karena penamaan sekolah kenapa kok yang dipakai SD N Ungaran 1 Yogyakarta. Guru pinginnya ganti (maksudnya ganti nama sekolah dan idak menggunakan nama SD Ungaran agar adil)” (WAW/DAS/16 Des 2016)

2) Masalah munculnya gep yaitu guru, siswa, dan murid masih suka berkumpul sesuai dengan asal sekolahnya masing-masing sehingga lingkungan sekolah menjadi tidak kondusif. Hal ini berdampak pada kualitas kerja guru dan pegawai yang semestinya dapat saling bekerja sama. Namun karena masih adanya gep, maka kerja sama yang dijalinpun menjadi kurang baik karena mereka kurang akrab sehingga canggung untuk saling bertanya jika membutuhkan bantuan. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

87

“Waktu itu dari pihak guru sendiri ya bilang, masalah yang kami hadapi itu masih adanya gep. Belum mau kita membaur bersama. Masih ngumpul sama masing-masing sekolah.” (WAW/LST/21 Des 2016)

“Pengaruhnya ke kinerja guru dan pegawai juga ternyata. Masih ada gep diantara mereka. Mengelompok-mengelompok. Jadi ya nggak bisa akrab padahal notabennya kita ini sudah menjadi satu rumh dan satu keluarga tapi tidak saling mengenal. Keluarga kan harus bekerjasama padahal. Tapi bagaimana bisa bekerjasama dengan baik wong suasana juga tidak memungkinkan untuk menjalin kerjasama karena nggak ada keakraban satu sama lain. Nggak kondusif to jadinya kalau masih ada gep. (WAW/DAS/16 Des 2016)

3) Masing-masing masih sering mengunggul-unggulkan sekolahnya asalnya. SD N Ungaran 1 Yogyakarta lebih unggul dalam bidang akademik meskipun demikian bukan berarti SD N Ungaran 2 dan SD N Ungaran 3 memiliki kualitas yang tidak baik. Hanya saja SD N Ungaran 1 memiliki kualitas atau prestasi akademik yang lebih menonjol. Hal ini menimbulkan saling ketidaksukaan antar guru dan pegawai dari masing-masing sekolah asal yang berakibat pada kualitas kinerja mereka yang menurun. Pekerjaan-pekerjaan administrasi menjadi lebih lama terselesaikan karena adanya saling ketidaksukaan sehingga mereka enggan untuk bekerjasama mengerjakan tugas dan administrasi sekolah. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

88

“Pencapaian nilai akademik juga berbeda. SD 1 lebih unggul nilainya. SD 2 juga tidak kalah unggul walaupun SD 1 tetap nomor 1. SD 3 berada di posisi ketiga. Hal ini menyebabkan sekolah masih sering mengunggul-unggulkan sekolahnya masing-masing.”(WAW/LST/21 Des 2016) 4) Penggantian seragam identitas sekolah untuk siswa sebagai

identitas baru untuk sekolah. Pihak guru meminta agar diadakan pergantian seragam identitas untuk memberikan ciri khas baru bagi sekolah pasca regrouping. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Dulu juga masalah seragam sekolah ada yang minta diganti biar baru punya identitas baru.” (WAW/DAS/16 Des 2016)

Sedangkan dari kelompok pegawai diperoleh 2 informasi terkait permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

1) Masih terjadi gep antara pegawai sekolah dari masing-masing sekolah yang menimbulkan adanya sekat atau pemisah di antara mereka. Pegawai masih suka berkumpul dengan pegawai lain sesuai dengan sekolah asalnya. Padahal dalam melakukan tugas khususnya administrasi sekolah mereka dituntut untuk saling bekerja sama mengingat beban kerja yang lebih banyak pasca regrouping karena bertambahnya jumlah murid dan guru. Seharusnya dengan regrouping ini jumlah pegawai bertambah banyak dan bisa meringankan beban kerja pegawai tetapi karena adanya gep ini maka mereka masih sering bekerja sendiri-sendiri. hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian sebagai berikut:

89

“…..tapi diantara kami masih ada gep yaaa karena juga ruangan masih terpisah-pisah sesuai asal sekolah masing-masing. Padahal sudah jadi satu pasti nanti aka nada butuhnya dengan pegawai yang dari sekolah lainnya. Jauh dan buang-buang waktu. Malah jadi nggak bisa saling mengenal satu sama lain to mbak.”(WAW/LNM/27 Des 2016)

Adanya masalah gep ini juga ternyata terjadi karena masih terpisahnya ruangan-ruangan pegawai sesuai asal sekolah masing-masing sehingga intensitas untuk bertemu dan saling mengenal kurang dan mengakibatkan adanya kettidakakraban di antara mereka.

2) Administrasi sekolah pasca regrouping dituntut untuk bisa dilakukan lebih cepat dan tepat untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pelanggan. Selama ini belum semua pegawai mahir dalam menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Padahal pasca regrouping beban kerja bertambah besar karena bertambahnya jumlah siswa dan guru terutama dalam mengurus administrasi mereka. Kebanyakan masih manual ataupun meminta tolong kepada pegawai lain yang bisa mengoperasikan komputer. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Masalah administrasi sekolah mbak. Wah, tantangannya luar biasa sekali itu kami sebagai pegawai. Ketambahan murid dan guru kami harus mengurus administrasi sekolah itu tentu lebih besar beban kerjanya mbak. Sedangkan dari kami masih belum banyak yang bisa pakai komputer padahal kami dituntut untuk melakukan administrasi dengan cepat, baik, dan tepat. Kalau manual ya lama itu mbak.” (WAW/LNM/27 Des 2016)

90 b. Penyusunan Agenda Kebijakan

Tahap kedua yang dilakukan oleh sekolah dalam formulasi kebijakan sekolah adalah tahap penyusunan agenda kebijakan. Agenda kebijakan dipilih berdasarkan masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya. Terdapat 3 Masalah-masalah yang masuk ke dalam agenda kebijakan adalah sebagai berikut:

1) Adanya gep yaitu guru, siswa, dan pegawai masih suka berkumpul berdasarkan asal sekolahnya masing-masing. Jika tidak segera diselesaikan akan memunculkan masalah baru bagi keberlangsungan sekolah. Guru dan pegawai akan sulit bekerjasama dalam melakukan pekerjaan sekolah karena tidak saling mengenal satu sama lain. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya untuk dapat mengakrabkan mereka yang juga dapat meningkatkan kualitas kerja mereka. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

Masalahe ki ternyata yang paling urgent ki masalah adaptasi (masalahnya yang paling penting adalah adaptasi). Lha kalau susah beradaptasi yo ngaruh e mbak neng kualitas sekolah (ya ngaruh ke kualitas sekolah). Apalagi Ungaran 1 ki terkenal apik mutune (apalagi Ungaran 1 terkenal baik mutunya). Guru dan pegawai masih egois-egoisan belum mau membaur dengan yang lain dari sekolah lain. Padahal guru ki kudu profesional to. Ngajar neng endi wae kudu profesional. (padahal seharusnya guru itu harus profesional. Dimanapun dia mengajar).” (WAW/DAS/19 Des 2016)

91

2) Warga sekolah masih mengunggulkan asal sekolahnya masing-masing padahal sekolah ini sudah menjadi satu. Sehingga timbullah saling ketidaksukaan satu sama lain yang ternyata juga berakibat pada menurunnya kualitas kerja mereka. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Masalah lainnya ya itu mengunggul-unggulkan sekolahnya masing-masing ini. Pingine sing dianggep apik ki sekolah asale. Padahal kabeh ki apik mbak. Akibatnya ya itu terus jadi saling tidak suka. Ini kan bahaya wong satu keluarga kok nggak suka. Ya sebenarnya nggak semuanya gitu mbak. Yang bisa membaur juga ada tapi yang susah membaur juga ada. Kalau nggak akrab mau bekerjasamapun juga akhirnya kaku.” (WAW/DAS/19 Des 2016)

3) Administrasi sekolah pasca regrouping dituntut untuk bisa dilakukan lebih cepat dan tepat untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap siswa. Namun ternyata masih ada pegawai yang masih belum mahir dalam menggunakan komputer. Padahal saat ini kegiatan administrasi sekolah dituntut untuk menggunakan sistem komputer. Hal ini berdampak pada lebih lamanya pekerjaan-pekerjaan mereka terselesaikan karena menggunakan sistem manual atau meminta bantuan pegawai lain untuk mengerjakannya. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Masalah administrasi sebenarnya kami ini. Beban tugas yang lebih besar ini kami terima pasca regrouping. Mengurus administrasi guru dan murid jadi lebih banyak. Seringnya manual kalau nggak minta bantuan teman lain. Tidak bisa juga kalau manual harus ada cara yang cepat misal dengan otomasi sistem komputerisasi. Tapi kendalanya adalagi ternyata banyak dari kami yang belum

92

mahir menggunakan komputer. Maka ini perlu ternyata dicarikan solusinya.” (WAW/LNM/27 Des 2017)

Ketiga masalah tersebut dipilih karena ternyata berdampak pada kualitas kerja guru dan pegawai. Siswa yang masih sering berkumpul-kumpul sesuai sekolahnya masing-masing berdampak juga berdampak pada kurang kondusifnya suasana kekeluargaan di sekolah. Dikhawatirkan dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut maka akan berdampak pada penurunan kualitas SD N Ungaran 1 Yogyakarta. Sehingga harus segera dicarikan solusi-solusinya.

Sedangkan masalah-masalah yang tidak dipilih untuk masuk ke dalam agenda kebijakan adalah sebagai berikut:

1) Pemberian nama sekolah pasca regrouping karena menggunakan nama SD N Ungaran 1 Yogyakarta. Hal ini menimbulkan kecemburuan pada sekolah yang diregrouping yaitu SD N Ungaran 2 Yogyakarta dan SD N Ungaran 3 Yogyakarta. Namun ternyata masalah penggantian nama ini akan berdampak pada siswa karena siswa akan kehilangan NIS (Nomor Induk Siswa). Jika siswa tidak memiliki NIS maka tidak akan bisa mengikuti Ujian Nasional. Sedangkan untuk bisa mendapatkan NIS sekolah harus mengurus kembali ke Jakarta untuk mendapatkan NIS baru dan ini memakan waktu yang lama. Jika masih menggunakan salah satu nama sekolah maka siswa tidak akan kehilangan NISnya dan hanya tinggal melakukan mutasi guru dan siswa saja. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian berikut ini:

93

“Dulu masalah yang muncul karena penamaan sekolah kenapa kok yang dipakai SD N Ungaran 1 Yogyakarta. Guru pinginnya ganti tapi ternyata itu malah mempersulit kita nantinya harus ngurus-ngurus sampai ke Jakarta karena siswa kehilangan NISnya. Kasian kalau kelas 6 mau ujian nggak ada NIS padahal ngurus ke Jakarta juga lama sekali. Akhirnya ini bisa diatasi dan guru tidak lagi mempermasalahkan itu mbak. Kalau pakai salah satu nama kan jadinya tinggal mutasi saja mbak. Yang paling sulit adalah mengakrabkan mbak adaptasinya ini lho.” (WAW/DAS/14 Des 2016)

2) Penggantian seragam identitas sekolah untuk siswa sebagai identitas baru untuk sekolah. Sebelum diregrouping sendiri ketiga sekolah tersebut sudah memiliki seragam identitas yang sama. Karena hanya akan mengakibatkan pemborosan dana sekolah saja sementara pengelolaan sekolah pasca regrouping masih membutuhkan dana yang besar. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Dulu juga masalah seragam sekolah ada yang minta diganti biar baru punya identitas baru. Tapi dirasa ini nggak terlalu penting dan malah boros dana sekolah kan mbak karena kami dari sebelum regroupingpun sudah sama seragamnya mbak cm beda identitas. Seragam identitas yang batik itu juga sama malah dulu kami bekerjasama kan dalam pengadaan seragam dan itu sengaja tidak diberi bet nama sekolah. Jadi kalau sudah sama ya kenapa harus diganti sementara masih banyak yang harus dipikirkan.” (WAW/DAS/14 Des 2016)

c. Pemilihan Alternatif Kebijakan

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh sekolah dalam formulasi kebijakan sekolah adalah tahap pemilihan alternatif kebijakan sesuai dengan agenda kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini Kepala Sekolah kembali membuat dua kelompok, yaitu kelompok

94

guru dan kelompok pegawai. Sedangkan Kepala Sekolah bersama dengan Komite Sekolah dalam satu kelompok. Berikut ini adalah alternatif-alternatif kebijakan yang diusulkan oleh Kepala Sekolah dan Komite Sekolah:

1) Menyediakan Fasilitas yang Dapat Menunjang Proses Belajar Siswa dan Dapat Diakses oleh Seluruh Siswa

Hal ini bertujuan untuk memberikan fasilitas yang terbaik dan berkeadilan kepada seluruh siswa, serta dapat diakses oleh semua siswa baik yang berada di blok timur maupu barat. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Sekolah menyediakan fasilitas belajar yang lengkap, bisa diakses oleh seluruh siswa mulai dari blok barat sampai blok timur………….” (WAW/DAS/14 Des 2016)

2) Mensosialisasikan Kegiatan SEMUTLIS (Sepuluh Menit untuk Tanaman dan Lingkungan Hidup) Kepada Siswa, Guru, dan Karyawan dari Masing-Masing Sekolah yang Merupakan Kegiatan Bawaan dari SD N Ungaran 1 Yogyakarta

Alasannya karena lahan sekolah yang luas dan banyaknya tanaman-tanaman di lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan untuk menanamkan budaya cinta lingkungan. Selain itu dengan adanya kegiatan ini dapat mengakrabkan seluruh warga sekolah karena kegiatan ini berbentuk kerja bakti rutin dengan membersihkan lingkungan sekolah dan menyiram tanaman-tanaman secara bersama setiap 10 menit sebelum bel masuk

95

berbunyi sekaligus memberikan ciri khas bagi SD N Ungaran 1 Yogyakarta. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Agar sekolah baru punya ciri khas kami usulkan masukkan kembali kegiatan SEMUTLIS itu. Pendidikan lingkungan hidup kan itu karena halaman sekolah luas jadi bisa ditanami pepohonan. Nanti kan ada kerja bakti juga itu tiap pagi mbak. Bisa itu untuk mengakrabkan warga sekolah. Kerja baktinya ya bareng-bareng rutin dilakukan. Selain dari bisa mengakrabkan bisa juga malahan menciptakan lingkungan bersih dan sehat.” (WAW/DAS/14 Des 2016)

3) Meningkatkan Partisipasi Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Tujuannya adalah untuk mendukung upaya preventif terhadap penuruan kualitas SD N ungaran 1 Yogyakarta karena orang tua adalah mitra sekolah sehingga diharapkan orang tua juga dapat memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran maupun materi yang dapat membantu sekolah dalam mengembangkan budaya mutu sekolah pasca regrouping. Selain itu juga dapat mengakrabkan orang tua dan guru. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

”Kami juga mengusulkan agar bisa melibatkan orang tua dalam pendidikan anak. Orang tua kan mitra sekolah jadi diharapkan nanti bisa juga membantu kami misal dengan rapat rutin orang tua dengan membentuk forum. Nanti bisa mengakrabkan orang tua dengan guru-guru dari sekolah yang lain.” (WAW/DAS/14 Des 2016)

96

Selanjutnya alternatif-alternatif yang diusulkan oleh guru adalah sebagai berikut:

1) Meningkatkan Profesionalitas Guru Melalui Pelatihan dan Workshop Pengembangan Metode Pembelajaran bagi Seluruh Guru untuk Memperkaya Metode Pembelajaran

Tujuan diusulkannya alternatif ini agar guru lebih kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran karena pasca regrouping mereka akan menghadapi siswa-siswa dengan karakter yang baru dari sekolah lainnya. Guru harus memahami karakteristik siswanya sehingga diharapkan metode pembelajaran yang mereka gunakan dapat sesuai dengan karakteristik siswa yang dihadapinya. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Usulan kelompok guru sendiri yaitu kami minta dilakukan peningkatan skil guru lewat workshop atau pelatihan. Ini tentang pengembangan metode pembelajaran juga. Biar metode banyak, yang kami hadapi kan muridnya tambah banyak, karakteristiknya juga beda-beda. Guru harus memahami mbak siswa dari sekolah ini seperti ini jadi harus kreatif guru itu utamanya dalam cara mengajar.” (WAW/LST/21 Des 2016)

2) Meningkatkan Keakraban antar Siswa Melalui Roling Kelas untuk Menghindari Adanya Gap antar Siswa dari Masing-Masing Sekolah

Tujuannya adalah agar siswa dapat saling mengenal satu sama lain. Ketika siswa dari sekolah satu digabung dengan siswa dari sekolah lainnya maka siswa akan dapat saling mengenal

97

sehingga timbul keakraban di antara mereka. Selain itu tujuan dari diusulkannya alternatif kebijakan ini adalah untuk menghindari munculnya gep atau kelompok-kelompok siswa sesuai dengan sekolah asalnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Lalu rolling kelas biar dicampur antara siswa dari sekolah satu dengan lainnya. Biar saling mengenal juga jadi nggak cuma guru dan pegawai……..” (WAW/LST/21 Des 2016) 3) Membentuk Kelas Parallel bagi Tiap-Tiap Tingkatan Kelas agar

Siswa dari Masing-Masing Sekolah Lebih Dekat dan Akrab Tujuan diusulkannya alernatif kebijakan ini adalah sama seperti yang telah penulis bahas pada poin kedua di atas, yaitu untuk mengakrabkan siswwa satu sama lain karena dalam 1 tingkatan dibuat 1 rombel yang saling berjajar. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“…………atau kelas dibuat parallel tiap tingkatan satu jejer mbak. Kami itu seperti memberikan pilihan saja silahkan mana yang dirasa paling baik (maksudnya pilihan jika alternatif rolling kelas tidak diterima). (WAW/LST/21 Des 2016)

4) Mengatur Ulang Pengelolaan Perpustakaan dengan Membangun Perpustakaan Baru

Tujuan diusulkannya alternatif kebijakan ini adalah agar seluruh siswa dapat memperoleh fasilitas dan pelayanan perpustakaan yang baik juga dapat meningkatkan intensitas bertemu dari para siswa. Selain itu juga dapat meningkatkan

98

budaya baca siswa sehingga dengan satu alternatif kebijakan ini bisa didapatkan berbagai manfaat sekaligus. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Lalu ada lagi karena perpustakaan ini masih sendiri-sendiri jadi kami mengusulkan untuk membuat perpustakaan baru yang lebih besar dan ukurannya sesuai standar nasional mbak. Yang tempatnya strategis dan bisa di jangkau oleh seluruh siswa dari masing-masing blok. Ini juga bisa memberikan intensitas bertemu bagi para siswa kalau sudah jadi satu gini. Kan kalau masih sendiri-sendiri nanti juga ketemunya Cuma saam itu-itu aja. Kalau dijadikan satu kan nanti mereka bisa saling bertemu juga to mbak. Selain itu juga bisa meningkatkan minat baca siswa karena otomatis koleksi buku jadi tambah banyak kalau digabung.” (WAW/LST/21 Des 2016)

5) Menciptakan Pendidikan Berbasis Budaya Lokal untuk Membentuk Kekhasan yang Dimiliki oleh Sekolah.

Kelompok guru mengusulkan agar sekolah tidak hanya memiliki ciri khas pada prestasi akademik siswa saja tetapi juga pada bidang lain seperti dalam bidang budaya. Alasannya karena SD N Ungaran 1 Yogyakarta berada di tengah kota yang kental dengan nuansa budaya jogja. Sehingga guru menginginkan adanya kegiatan yang mendukung pelestarian budaya jogja dan juga dapat melestarikan budaya jogja. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Kami juga mengusulkan agar ada sesuatu yang khas dari sekolah. Jadi nggak harus selalu prestasi akademik saja. Karena sekolah kami berada di tengah kota yang kental budaya jogjanya maka kami pingin ada ciri khas budaya lokal itu.” (WAW/LST/21 Des 2016)

99

6) Menyediakan wadah bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakatnya melalui kegiatan ekstrakurikuler

Tujuan diusulkannya alternatif kebijakan ini adalah agar siswa juga dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka di luar akademik. Kegiatan ini diharapkan juga dapat lebih mengakrabkan siswa karena adanya intensitas bertemu di luar jam pelajaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“Lalu juga kami mengusulkan agar minat dan bakat siswa di luar akademik ini juga bisa di kembangkan lagi. Lewat kegiatan ekstrakurikuler nanti mereka dapat mengembangkan itu. Apalagi kalau itu dilakukan bersama-sama pasti seneng anak-anak. Punya temen baru bisa saling kenal satu sama lainnya.” (WAW/LST/21 Des 2016)

Sedangkan usulan alternatif-alternatif kebijakan dari kelompok pegawai sekolah adalah sebagai berikut:

1) Menciptakan Keakraban antar Guru dan Pegawai Sekolah untuk Terciptanya Suasana Kerja yang Kondusif dengan Penggabungan Ruang Kerja

Tujuan diusulkannya alternatif kebijakan ini adalah untuk menciptakan kualitas kerja yang baik, dengan akrabnya para guru dan pegawai diharapkan mereka dapat saling bekerjasama satu sama lain dalam melakukan pekerjaan. Dengan kualitas kerja yang baik maka diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas atau mutu sekolah. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

100

“Yaa usulannya terkait dengan bagaimana agar kami ini bisa menyatu dan membaur satu dengan yang lainnya. Selain minta digabung ruangannya………” (WAW/LNM/27 Des 2016)

2) Meningkatkan Kemampuan Pegawai dalam Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Terhadap Siswa maupun Orangtua

Tujuan diusulkannya alternatif kebijakan ini adalah agar pegaeai dapat mahir atau menguasai penggunaan Teknologi Komunikasi dan Informasi khususnya komputer. Dengan demikian pegawai bisa dengan cepat dan tepat dalam melakukan pekerjaan terkait dengan administrasi sekolah. hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara berikut ini:

“……….kami pinginnya kami dilatih lagi dalam menggunakan komputer mbak. Kan kegiatan administrasi dituntut untuk cepat tepat. Itu penting mengingat banyak dari kami yang masih gaptek juga. Pelatihan TIK mbak itu juga usulan juga dari kami dan guru.” (WAW/LNM/27 Des 2016)

d. Penetapan Kebijakan

Langkah terakhir yang dilakukan oleh SD N Ungaran 1 Yogyakarta dalam formulasi kebijakan adalah penetapan kebijakan. Pada tahap ini para aktor perumus kebijakan memilih manakah alternatif-alternatif yang sekiranya tepat untuk dijadikan sebagai kebijakan sekolah dan dapat menjawab permasalahan-permasalahan