• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

B. Hasil Penelitian

a. Variabel Kepercayaan Konsumen

Sebelum dilakukan analisis korelasi, perlu mengetahui kenormalan dari suatu data. Data yang akan diuji adalah data

Kepercayaan Konsumen. Untuk menguji data berdistribusi normal atau tidak, dapat digunakan Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S). Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.2

Hasil Uji Normalitas Kepercayaan Konsumen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kepercayaan_Konsumen

N 57

Normal Parametersa,,b Mean 88.5614

Std. Deviation 1.34984 Most Extreme Differences Absolute .152 Positive .152 Negative -.136 Kolmogorov-Smirnov Z 1.151

Asymp. Sig. (2-tailed) .141

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.2, diperoleh nilai Kolmogorov – Smirnov sebesar 1,151 dengan signifikansi 0,141 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya data Kepercayaan Konsumen berdistribusi normal.

b. Variabel Openness

Sebelum dilakukan analisis korelasi, perlu mengetahui kenormalan dari suatu data. Data yang akan diuji adalah data

Openness. Untuk menguji data berdistribusi normal atau tidak, dapat digunakan Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S). Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.3

Hasil Uji Normalitas Openness One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Openness

N 57

Normal Parametersa,,b Mean 49.3333

Std. Deviation 4.04587 Most Extreme Differences Absolute .156

Positive .156

Negative -.151

Kolmogorov-Smirnov Z 1.179

Asymp. Sig. (2-tailed) .124

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.3, diperoleh nilai Kolmogorov – Smirnov sebesar 1,179 dengan signifikansi 0,124 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya data Openness berdistribusi normal.

c. Variabel Conscientiousness

Sebelum dilakukan analisis korelasi, perlu mengetahui kenormalan dari suatu data. Data yang akan diuji adalah data

Conscientiousness. Untuk menguji data berdistribusi normal atau tidak, dapat digunakan Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S). Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.4

Hasil Uji Normalitas Conscientiousness One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Conscientiousness

N 57

Normal Parametersa,,b Mean 49.2456

Std. Deviation 4.51695 Most Extreme Differences Absolute .165 Positive .140 Negative -.165 Kolmogorov-Smirnov Z 1.249

Asymp. Sig. (2-tailed) .088

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.4, diperoleh nilai Kolmogorov – Smirnov sebesar 1,249 dengan signifikansi 0,088 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya data Conscientiousness berdistribusi normal.

d. Variabel Extraversion

Sebelum dilakukan analisis korelasi, perlu mengetahui kenormalan dari suatu data. Data yang akan diuji adalah data

Extraversion. Untuk menguji data berdistribusi normal atau tidak, dapat digunakan Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S). Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.5

Hasil Uji Normalitas Extraversion One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Extraversion

N 57

Normal Parametersa,,b Mean 54.2281

Std. Deviation 2.25212 Most Extreme Differences Absolute .178 Positive .172 Negative -.178 Kolmogorov-Smirnov Z 1.344

Asymp. Sig. (2-tailed) .054

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.5, diperoleh nilai Kolmogorov – Smirnov sebesar 1,344 dengan signifikansi 0,054 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya data Extraversion berdistribusi normal.

e. Variabel Agreeableness

Sebelum dilakukan analisis korelasi, perlu mengetahui kenormalan dari suatu data. Data yang akan diuji adalah data

Agreeableness. Untuk menguji data berdistribusi normal atau tidak, dapat digunakan Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S). Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.6

Hasil Uji Normalitas Agreeableness One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Agreeableness

N 57

Normal Parametersa,,b Mean 51.4035

Std. Deviation 5.25717 Most Extreme Differences Absolute .167 Positive .167 Negative -.112 Kolmogorov-Smirnov Z 1.263

Asymp. Sig. (2-tailed) .082

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.6, diperoleh nilai Kolmogorov – Smirnov sebesar 1,263 dengan signifikansi 0,082 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya data Agreeableness berdistribusi normal.

f. Variabel Neuroticism

Sebelum dilakukan analisis korelasi, perlu mengetahui kenormalan dari suatu data. Data yang akan diuji adalah data

Neuroticism. Untuk menguji data berdistribusi normal atau tidak, dapat digunakan Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S). Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.7

Hasil Uji Normalitas Neuroticism One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Neuroticism

N 57

Normal Parametersa,,b Mean 40.6140

Std. Deviation 5.46337 Most Extreme Differences Absolute .158 Positive .158 Negative -.152 Kolmogorov-Smirnov Z 1.196

Asymp. Sig. (2-tailed) .114

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.7, diperoleh nilai Kolmogorov – Smirnov sebesar 1,196 dengan signifikansi 0,114 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya data Neuroticism berdistribusi normal.

2. Analisis Korelasi Kepercayaan Konsumen Terhadap Openness Analisis korelasi bertujuan untuk melihat seberapa kuat hubungan dari variabel satu dengan lainnya. Dalam analisis

korelasi, ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu data antar variabel harus berdistribusi normal. Pada Tabel 4.5 dan 4.6 diketahui bahwa variabel Kepercayaan Konsumen dan Openness berdistribusi normal. Untuk menguji ada atau tidaknya korelasi dan seberapa besar korelasi tersebut dapat digunakan Korelasi Pearson. Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Tidak ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Openness

H1 : Ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Openness

Tabel 4.8

Hasil Korelasi Kepercayaan Konsumen dan Openness Correlations Kepercayaan_Konsumen Openness Kepercayaan_Konsumen Pearson Correlation 1 .560** Sig. (2-tailed) .000 N 57 57 Openness Pearson Correlation .560** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 57 57

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.8, diperoleh nilai Korelasi Pearson sebesar 0,560 dengan signifikansi 0,000 < α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima, artinya ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan

Openness sebesar 0,560, artinya hubungan yang terjadi antar variabel tersebut sebesar 56%.

3. Analisis Korelasi Kepercayaan Konsumen Terhadap Conscientiousness

Analisis korelasi bertujuan untuk melihat seberapa kuat hubungan dari variabel satu dengan lainnya. Dalam analisis korelasi, ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu data antar variabel harus berdistribusi normal. Pada Tabel 4.5 dan 4.7 diketahui bahwa variabel Kepercayaan Konsumen dan Conscientiousness berdistribusi normal. Untuk menguji ada atau tidaknya korelasi dan seberapa besar korelasi tersebut dapat digunakan Korelasi Pearson. Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Tidak ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Conscientiousness

H1 : Ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Conscientiousness

Tabel 4.9

Hasil Korelasi Kepercayaan Konsumen dan Conscientiousness Correlations Kepercayaan_Konsumen Conscientiousness Kepercayaan_Konsumen Pearson Correlation 1 .510** Sig. (2-tailed) .000 N 57 57

Conscientiousness Pearson Correlation

.510** 1

Sig. (2-tailed) .000

N 57 57

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.9, diperoleh nilai Korelasi Pearson sebesar 0,510 dengan signifikansi 0,000 < α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima, artinya ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Conscientiousness. Nilai korelasi antara Kepercayaan Konsumen dan Conscientiousness sebesar 0,510, artinya hubungan yang terjadi antar variabel tersebut sebesar 51%.

4. Analisis Korelasi Kepercayaan Konsumen Terhadap Extraversion Analisis korelasi bertujuan untuk melihat seberapa kuat hubungan dari variabel satu dengan lainnya. Dalam analisis korelasi, ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu data antar variabel harus berdistribusi normal. Pada Tabel 4.5 dan 4.8 diketahui bahwa variabel Kepercayaan Konsumen dan Extraversion berdistribusi normal. Untuk menguji ada atau tidaknya korelasi dan seberapa besar korelasi tersebut dapat digunakan Korelasi Pearson. Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Tidak ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Extraversion

H1 : Ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Extraversion

Tabel 4.10

Hasil Korelasi Kepercayaan Konsumen dan Extraversion Correlations Kepercayaan _Konsumen Extraversion Kepercayaan_Konsume n Pearson Correlation 1 .521** Sig. (2-tailed) .000 N 57 57 Extraversion Pearson Correlation .521** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 57 57

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.10, diperoleh nilai Korelasi Pearson sebesar 0,521 dengan signifikansi 0,000 < α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima, artinya ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Extraversion. Nilai korelasi antara Kepercayaan Konsumen dan Extraversion sebesar 0,521, artinya hubungan yang terjadi antar variabel tersebut sebesar 52,1%.

5. Analisis Korelasi Kepercayaan Konsumen Terhadap Agreeableness

korelasi, ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu data antar variabel harus berdistribusi normal. Pada Tabel 4.5 dan 4.9 diketahui bahwa variabel Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness berdistribusi normal. Untuk menguji ada atau tidaknya korelasi dan seberapa besar korelasi tersebut dapat digunakan Korelasi Pearson. Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Tidak ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness

H1 : Ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness

Tabel 4.11

Hasil Korelasi Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness Correlations Kepercayaan_ Konsumen Agreeablenes s Kepercayaan_Konsume n Pearson Correlation 1 .516** Sig. (2-tailed) .000 N 57 57 Agreeableness Pearson Correlation .516** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 57 57

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.11, diperoleh nilai Korelasi Pearson sebesar 0,516 dengan signifikansi 0,000 < α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1

diterima, artinya ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness. Nilai korelasi antara Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness sebesar 0,516, artinya hubungan yang terjadi antar variabel tersebut sebesar 51,6%.

6. Analisis Korelasi Kepercayaan Konsumen Terhadap Neuroticism Analisis korelasi bertujuan untuk melihat seberapa kuat hubungan dari variabel satu dengan lainnya. Dalam analisis korelasi, ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu data antar variabel harus berdistribusi normal. Pada Tabel 4.5 dan 4.10 diketahui bahwa variabel Kepercayaan Konsumen dan Neuroticism berdistribusi normal. Untuk menguji ada atau tidaknya korelasi dan seberapa besar korelasi tersebut dapat digunakan Korelasi Pearson. Hipotesis yang digunakan yaitu:

H0 : Tidak ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Neuroticism

H1 : Ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Neuroticism

Tabel 4.12

Hasil Korelasi Kepercayaan Konsumen dan Agreeableness Correlations Kepercayaan_ Konsumen Neuroticism Kepercayaan_Konsumen Pearson Correlation 1 .507** Sig. (2-tailed) .000

Neuroticism Pearson Correlation

.507** 1

Sig. (2-tailed) .000

N 57 57

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.12, diperoleh nilai Korelasi Pearson sebesar 0,507 dengan signifikansi 0,000 < α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima, artinya ada hubungan antara Kepercayaan Konsumen dan Neuroticism. Nilai korelasi antara Kepercayaan Konsumen dan Neuroticism sebesar 0,507, artinya hubungan yang terjadi antar variabel tersebut sebesar 50,7%.

7. Analisis Varian Satu Arah (One Way ANOVA)

Secara pengertian ANOVA merupakan salah satu teknik statistik yang digunakan untuk menguji adanya perbedaaan rata-rata (mean) dari data lebih atau sama dengan dua kelompok. ANOVA sendiri terdiri dari One Way ANOVA dan Two Way ANOVA. One Way ANOVA digunakan untuk satu faktor saja sedangkan Two Way ANOVA lebih dari satu faktor.

Pada penelitian ini, Konsumen Kepercayaan akan dianalisis menggunakan One Way ANOVA dengan faktor Agama. Faktor agama pada penelitian ini dibagi berdasarkan kategori muslim dan nonmuslim. Muslim dikategorikan dengan angka 1 sedangkan

analisis ANOVA satu arah, asumsi yang harus dipenuhi adalah data berdistribusi normal dan varian antar kelompok harus homogen. Pada Tabel 4.2, data Kepercayaan Konsumen berdistribusi normal. Sebelum melakukan uji analisis ANOVA satu arah maka diperlukan uji kesamaan varian antar kelompok dengan hipotesis sebagai berikut:

H0 : Varian data antar kelompok bersifat homogen H1 : Varian data antar kelompok tidak bersifat homogen

Tabel 4.13

Hasil Homogenitas Kepercayaan Konsumen dengan Kelompok Agama Test of Homogeneity of Variances

Kepercayaan_Konsumen

Levene Statistic df1 df2 Sig.

1.007 1 55 .320

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.13, diperoleh nilai Levene Statistic sebesar 1,007 dengan signifikansi 0,320 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya varian data Kepercayaan Konsumen dengan Faktor Kelompok Agama bersifat homogen.

Setelah homogenitas dari data Kepercayaan Konsumen terpenuhi maka dapat dilanjutkan uji analisis varian satu arah (One Way ANOVA) untuk menguji apakah ada perbedaan antara islam dan kristen protestan dalam pemilihan produk Oriflame The One Colour Lipstick dengan

H0 : Tidak ada perbedaan rata-rata Kepercayaan Konsumen antara Islam dan Kristen Protestan

H1 : Ada perbedaan rata-rata Kepercayaan Konsumen antara Islam dan Kristen Protestan

Tabel 4.14

Hasil One Way ANOVA Kepercayaan Konsumen ANOVA

Kepercayaan_Konsumen Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 4.946 1 4.946 2.802 .100

Within Groups 97.089 55 1.765

Total 102.035 56

Berdasarkan output SPSS 17.0 yang disajikan dalam Tabel 4.14, diperoleh nilai F hitung pada Between Groups (Antar Kelompok) sebesar 2,802 dengan signifikansi 0,100 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, artinya tidak ada perbedaan rata-rata Kepercayaan Konsumen antara islam maupun krosten protestan dalam pemilihan produk Oriflame The One Colour Lipstick.

Dokumen terkait