BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV ini berisi tentang hasil penelitian yang terdiri dari: 1) Penjelasan prosedur pengembangan prototipe buku nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam cara memainkan gamelan, 2) kualitas prototipe buku nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam cara memainkan gamelan, dan 3) pembahasan.
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini membahas tentang prosedur pengembangan mulai dari melihat masalah yang ada sampai menguji kualitas produk.
4.1.1 Prosedur Pengembangan Prototipe Buku Pendidikan
Prodedur pengembangan dalam penelitian ini terdiri dari enam tahap yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain dan uji coba produk.
4.1.1.1 Potensi dan Masalah
Langkah awal peneliti untuk pengembangan prototipe buku pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam memainkan gamelan (untuk SD) adalah dengan membagikan angket pra penelitian untuk mengetahui pemahaman siswa SD mengenai gamelan dan melakukan wawancara dengan dua praktisi. Peneliti menyusun angket kebutuhan anak. Sebelum dibagikan, angket terlebih dahulu divalidasi kepada dua orang praktisi. Angket ini selanjutnya dibagikan kepada 15 siswa-siswi yang mengikuti ekstrakurikurer karawitan. Peneliti membagikan angket di kelas V SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta. Pembagian angket dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2017.
Dari hasil wawancara tersebut, peneliti mendapatkan informasi nilai-nilai budi pekerti dalam instrumen gamelan. Nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan dapat digunakan sebagai sarana untuk pengembangan karakter anak. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, peneliti mengetahui gamelan sebaiknya diajarkan sejak dini karena alat musik ini memiliki banyak nilai budi pekerti yang sangat baik untuk
41 membentuk karakter siswa. Para praktisi mengatakan belum banyak buku sederhana yang berisi nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan untuk anak SD.
Berdasarkan angket dan hasil wawancara yang telah dibagikan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa terdapat nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam gamelan. nilai-nilai tersebut sangat baik untuk membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, sebaiknya siswa diajarkan gamelan sejak dini. Buku sederhana mengenai gamelan sangat membantu siswa untuk mendapatkan informasi mengenai nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan.
4.1.1.2 Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dari angket dan wawancara. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket di SD Kanisius Kumendaman pada tanggal 10 Juni 2017. Dari penyebaran angket tersebut didapatkan total 15 siswa-siswi yang mengisi angket tersebut. Kuisioner terdiri dari 10 pertanyaan. Pertanyaan pertama mengenai memainkan gamelan pertama kali. Pertanyaan kedua mengenai instrumen gamelan yang pernah dimainkan. Pertanyaan ketiga mengenai gending (lagu) yang pernah dimainkan. Pertanyaan keempat mengenai asal gamelan. Pertanyaan kelima mengenai pakaian yang harus dikenakan saat pementasan gamelan. Pertanyaan keenam mengenai hal yang dilakukan sebelum memainkan gamelan. Pertanyaan ketujuh mengenai hal yang dilakukan pada saat memainkan gamelan. Pertanyaan kedelapan mengenai hal yang dilakukan setelah memainkan gamelan.Pertanyaan kesembilan mengenai pengalaman yang mengesankan saat memainkan gamelan. Pertanyaan kesepuluh mengenai pernah atau tidak membaca buku tentang memainkan gamelan. Tabel hasil rekap angket analisis kebutuhan dapat dilihat pada lampiran 7c hal 81.
Hasil angket menunjukkan sebelum memainkan gamelan 73,33% siswa berdoa, 26,67% siswa mengambil dan menata alat pukul. Pada saat memainkan gamelan sebanyak 80% siswa berkonsentrasi, 20% memperhatikan instruksi dan setelah memainkan gamelan 66,67% siswa berdoa dan 33,33% siswa merapikan alat pukul yang telah digunakan. Berdasarkan hasil angket yang telah dibagikan, sebanyak
42 73,33% siswa belum pernah membaca buku-buku yang berkaitan dengan nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan.
Peneliti melakukan wawancara kepada 2 orang praktisi gamelan. Praktisi gamelan pertama adalah seorang guru gamelan SD, sedangkan praktisi kedua adalah seorang dosen yang mengajar gamelan di ISI. Wawancara dilakukan pada tanggal 5 Mei 2017. Wawancara ini berpedoman pada 5 butir pertanyaan. Butir pertanyaan pertama mengenai alasan praktisi tertarik terhadap gamelan; butir soal kedua mengenai nilai-nilai budi pekerti dalam cara memainkan gamelan; butir soal ketiga mengenai perasaan dan pikiran praktisi saat mendengarkan musik gamelan; butir soal keempat mengenai perlunya pengenalan gamelan pada anak; butir soal kelima mengenai diperlukan atau tidak buku sederhana yang berisi nilai-nilai budi pekerti pada gamelan untuk anak SD. Berdasarkan lima pertanyaan tersebut, dua praktisi mengatakan saat mendengarkan suara gamelan menimbulkan perasaan senang. Ada nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan yaitu religius, kerjasama, kesabaran, kesopanan, dsb. Kedua praktisi mengatakan bahwa gamelan perlu diperkenalkan sejak dini karena dapat mengajarkan nilai-nilai budi pekerti bagi siswa. Menurut praktisi, buku yang memuat informasi mengenai gamelan yang memiliki nilai-nilai budi pekerti sangat sulit ditemukan terutama buku untuk anak usia SD.
Data tersebut menjadi acuan peneliti untuk melakukan penelitian pengembangan dalam mengembangkan desain produk. Produk yang disusun berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam memainkan gamelan untuk SD. Hal tersebut dimaksudkan agar produk yang akan dikembangkan oleh peneliti bermanfaat bagi siswa menambah informasi mengenai gamelan. Selain itu, produk ini juga berisi nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan.
4.1.1.3 Desain Produk
Pada tahap ini, peneliti membuat kisi-kisi produk. Peneliti mendesain sebuah produk berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam memainkan gamelan (untuk SD). Prototipe buku pendidikan terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama adalah sebuah artikel yang berisi informasi tentang nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan. Bagian kedua berisi tentang cergam yang berjudul “Bermain
43 Gong Melatih Konsentrasiku”. Cergam tersebut menceritakan pengalaman seorang anak yang dipercaya oleh pelatihnya untuk memainkan instrumen gong pada saat pementasan parade gamelan anak. Saat bermain gong anak tersebut dilatih untuk selalu berkonsentrasi mendengarkan gending yang sedang dimainkan sehingga ia dapat memainkan gong dengan tepat. Kisi-kisi pembuatan prototipe buku nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan dapat dilihat pada lampiran 8a hal 83. Kisi-kisi prototipe terdiri dari cover, kata pengantar, daftar isi, bagian 1 dan bagian 2.
Peneliti kemudian membuat sebuah artikel sederhana yang berisi tentang gamelan, nilai-nilai budi pekerti dalam instrumen gamelan dan nilai-nilai budi pekerti saat memainkan gamelan. Artikel yang disusun menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh siswa SD. Selanjutnya peneliti membuat sebuah alur cerita untuk cergam yang mudah dipahami untuk siswa SD. Dalam cerita yang peneliti buat, peneliti menonjolkan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam instrumen gamelan dan nilai-nilai budi pekerti saat memainkan gamelan. Setelah membuat cerita, peneliti mulai membuat sketsa gambar yang sesuai dengan cerita. Peneliti meminta bantuan kepada ilustrator gambar untuk membuat prototipe lebih menarik dan lebih mudah dipahami oleh siswa SD. Berikut sketsa gambar yang dibuat oleh ilustrator cergam.
Gambar 4.1 Sketsa gambar yang dibuat oleh ilustrator
44 Sekelompok anak berlatih gamelan Berdoa sebelum pementasan
45 Gambar 4.2 Cover Prototipe
Cover Awal
Cover Bagian I
46 4.1.1.4 Validasi Desain
Produk yang peneliti buat berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam memainkan gamelan untuk SD. Prototipe buku pendidikan terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama adalah sebuah artikel yang berisi informasi tentang nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan. Bagian kedua berisi tentang cergam yang berjudul “Bermain Gong Melatih Konsentrasiku”.Validasi desain adalah proses penilaian yang dilakukan untuk memperoleh beberapa kritik dan saran dari para ahli. Produk divalidasi oleh 2 orang validator. Data validasi yang diberikan oleh satu ahli gamelan SD dan ahli bahasa menunjukkan kualitas produk prototipe buku yang akan diujicobakan. Tabel hasil validasi prototipe dapat dilihat pada lampiran 8d hal 89.
Berdasarkan validasi yang telah dilakukan oleh ahli gamelan SD didapatkan skor “3,78” (interval skala 1-4). Produk dinyatakan siap untuk diujicoba setelah dilakukan revisi sesuai dengan saran validator. Pada aspek isi, validator memberikan saran untuk menambahkan istilah gayar (gawangan dalam gong) pada artikel yang telah peneliti buat.
Berdasarkan validasi yang dilakukan oleh ahli bahasa, didapatkan skor “4”. Prototipe buku dinyatakan layak untuk diuji coba setelah dilakukan revisi sesuai dengan saran validator. Saran yang diberikan pada aspek yang dinilai yaitu bahasa dan cergam. (1) Pada aspek bahasa validator memberikan saran dalam penulisan setiap paragraf terdiri dari 5-6 kalimat. (2) Pada bagian cergam, ahli bahasa menyarankan agar ditambahkan keterangan tentang SD tempat Anita sekolah dan kesukaan ayah Anita menonton pertunjukkan wayang. Dari hasil validasi kedua ahli tersebut didapatkan skor rata-rata 3,89 dengan kategori sangat baik.
4.1.1.5 Revisi Desain
Revisi desain dilakukan berdasarkan saran dan komentar yang diperoleh dari validator. Saran dan komentar validator digunakan peneliti untuk melakukan perbaikan sehingga diperoleh prototipe buku pendidikan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam gamelan yang lebih baik dari sebelumnya. Saran yang diberikan validator adalah: (1) perlu menambahkan istilah gayar (gawangan gong) pada artikel
47 yang telah dbuat oleh peneliti, (2) perlu diperhatikan dalam penulisan setiap paragraf cergam terdiri dari 5-6 kalimat, (3) perlu ditambahkan keterangan tentang SD tempat Anita sekolah dan kesukaan ayah menonton pertunjukkan wayang.
Pada bagian pertama prototipe buku halaman 6 belum memuat istilah mengenai gayar (gawangan gong). Validator memberikan saran perlu menambahkan istilah gayar (gawangan gong). Peneliti melakukan revisi pada bagian pertama buku halaman 6 dengan menambahkan istilah gayar.
Gambar 4.2 Revisi artikel halaman 6
Pada bagian kedua halaman sebelas belum memuat keterangan SD Anita bersekolah. Validator memberikan saran untuk menambahkan keterangan tempat Anita bersekolah. Peneliti melakukan revisi pada bagian kedua halaman 11 dengan menambahkan keterangan sekolah Anita.
48 Gambar 4.3 Revisi isi cergam halaman 11
Sebelum revisi Sesudah revisi
Pada bagian kedua halaman 12, penulisan cergam belum terdiri dari 5-6 kalimat. Validator memberikan saran untuk menambahkan 1-2 kalimat. Peneliti melakukan revisi pada bagian kedua halaman 12 dengan menambahkan 1-2 kalimat.
Gambar 4.4 Revisi isi cergam halaman 12
Sebelum revisi Sesudah revisi
Pada bagian kedua halaman 14, penulisan cergam belum terdiri dari 5-6 kalimat. Validator memberikan saran untuk menambahkan 1-2 kalimat. Peneliti melakukan revisi pada bagian kedua halaman 14 dengan menambahkan 1-2 kalimat.
49 Gambar 4.5 Revisi isi cergam halaman 14
Sebelum revisi Sesudah revisi
4.1.1.6 Uji Coba Produk
Desain produk yang telah direvisi kemudian diuji cobakan kepada siswa SD Kanisius Kumendaman kelas V. Uji coba dilaksanakan pada hari Senin, 12 Maret 2018. Produk diujicobakan kepada 15 anak. Uji coba dilakukan dengan memberikan produk berupa prototipe buku pendidikan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam gamelan. Tujuan dari uji coba produk adalah untuk mengetahui keefektifan dan kualitas produk, apakah produk prototipe yang telah dibuat dapat membantu siswa untuk mengetahui nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan dan memberikan pemahaman siswa lebih lanjut mengenai gamelan terutama instrumen gong.
Pada kegiatan awal uji coba produk, peneliti memberikan pengantar prototipe buku untuk siswa-siswi kelas V sebagai bagian dari kegiatan literasi di sekolah. Prototipe yang dibagikan terdiri dari dua bagian yaitu artikel sederhana dan cergam yang berisi kekhasan instrumen gong.
50
Gambar 4.6 Peneliti memulai kegiatan membaca buku (literasi)
Kemudian dilanjutkan dengan membagikan prototipe buku kepada 15 siswa-siswi SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta yang mengikuti kegiatan uji coba ini.
Gambar 4.7 Siswa membaca prototipe
Setelah selesai membaca, siswa mengisi lembar refleksi yang diberikan peneliti untuk mengetahui pemahaman mereka mengenai isi prototipe. Lembar refleksi memang terdapat pada buku, namun agar produk prototipe dapat digunakan secara berulang-ulang, maka peneliti menyediakan lembar refleksi tersendiri.
51
Gambar 4.8 Siswa mengisi lembar refleksi
4.1.2 Kualitas Produk
Kualitas produk ditentukan oleh hasil validasi dan hasil uji coba. Validasi dilakukan oleh 2 orang validator yaitu ahli gamelan SD dan guru Bahasa Indonesia.
a. Kualitas produk menurut ahli gamelan
Hasil validasi yang dilakukan oleh ahli gamelan SD didapatkan skor 3,78 (interval skor 1-4). Hasil ini masuk dalam kategori sangat baik. Penilaian produk tersebut berdasarkan bahasa yang digunakan, format penulisan buku, isi artikel dan cergam. Pada aspek isi, ahli gamelan memberikan saran untuk menambahkan istilah gayar (gawangan dalam gong) pada artikel yang telah peneliti buat.
b. Kualitas produk menurut ahli bahasa
Hasil validasi yang dilakukan oleh ahli bahasa didapatkan skor 4 (interval skor 1-4). Hasil validasi ahli bahasa masuk dalam kategori sangat baik. Penilaian produk yang dilakukan berdasarkan bahasa yang digunakan, format penulisan buku, isi artikel dan cergam. Ahli bahasa memberikan saran pada aspek bahasa dan cergam. (1) Pada aspek bahasa validator memberikan saran dalam penulisan setiap paragraf terdiri dari 5-6 kalimat. (2) Pada bagian cergam, ahli bahasa menyarankan agar ditambahkan keterangan tentang SD tempat Anita sekolah dan kesukaan ayah Anita menonton pertunjukkan wayang. Dari hasil validasi kedua ahli tersebut, didapatkan skor rata-rata 3, 89. Hal tersebut menunjukkan produk yang dihasilkan oleh peneliti memiliki kualitas “sangat baik”.
52 c. Kualitas produk menurut hasil uji coba
Produk yang telah divalidasi kemudian diperbaiki sesuai saran dari para ahli. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki desain produk. Peneliti kemudian melakukan uji coba produk kepada 15 siswa SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta. Uji coba dilakukan dengan memberikan produk berupa prototipe buku pendidikan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam instrumen gamelan. Setelah membaca produk prototipe, peneliti kemudian memberikan lembar refleksi. Refleksi tersebut bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan. Refleksi terdiri dari 4 (empat) pertanyaan. Pertanyaan pada lembar refleksi yaitu 1) informasi yang didapatkan setelah membaca prototipe, 2) salah satu nilai budi pekerti yang menurut siswa penting saat memainkan gamelan, 3) cara memainkan gong, 4) arti konsentrasi saat memainkan gong. Jawaban siswa pada lembar refleksi selanjutnya dikonversi menjadi nilai 1-4 menggunakan pedoman yang disusun oleh peneliti. Nilai yang diperoleh pada setiap jawaban akan dijadikan acuan untuk menentukan kualitas produk yang telah dibuat. Pedoman penilaian refleksi dapat dilihat pada lampiran 10 hal 95.
Berdasarkan pertanyaan mengenai informasi yang didapatkan setelah membaca prototipe sebanyak 3 siswa menjawab mendapatkan informasi tentang gamelan dan nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan. Sebanyak 10 siswa menjawab mendapatkan informasi tentang nilai-nilai budi pekerti dalam gamelan. Sebanyak 2 siswa menjawab dapat mengetahui lebih dalam mengenai alat musik gamelan. Jawaban siswa tersebut kemudian dinilai dan diperoleh hasil rata-rata 3,07.
Berdasarkan pertanyaan mengenai salah satu nilai budi pekerti yang menurut siswa penting saat memainkan gamelan sebanyak 9 siswa menjawab nilai budi peketi yang penting saat memainkan gamelan adalah kerjasama. Sebanyak 3 siswa menjawab nilai budi pekerti yang penting saat memainkan gamelan adalah konsentrasi, 1 siswa menjawab nilai budi pekerti yang penting saat memainkan gamelan adalah kesabaran, 1 siswa menjawab nilai budi pekerti yang penting saat memainkan gamelan adalah kesopanan, dan 1siswa menjawab nilai budi pekerti yang penting saat memainkan gamelan adalah instrumen kendang. Jawaban tersebut
53 kemudian dinilai menggunakan panduan penilain yang telah disusun oleh peneliti. Nilai rata-rata yang diperoleh pada soal ini adalah 3,8.
Berdasarkan pertanyaan mengenai cara memainkan gong, sebanyak 15 siswa menjawab gong dimainkan dengan cara dipukul. Berdasarkan pedoman yang digunakan peneliti, semua jawaban yang ditulis oleh siswa ditulis secara lengkap dan jelas. Semua siswa mendapat skor 4. Sehingga pada pertanyaan ini mendapatkan skor rata-rata 4.
Berdasarkan pertanyaan mengenai arti konsentrasi saat memainkan gong, sebanyak 14 siswa menjawab harus berkonsentrasi mendengarkan gending yang sedang dimainkan sehingga aku dapat memainkan gong dengan tepat. Sebanyak 1 siswa menjawab instrumen gong hanya dibunyikan pada saat-saat tertentu dan harus mendengarkan gending. Pada pertanyaan ini diperoleh nilai rata-rata 3,93.
Rata-rata yang didapatkan dari soal refleksi kemudian dijumlahkan dan dibagi jumlah soal refleksi dan didapatkan nilai rata-rata keseluruhan refleksi. Rata-rata keseluruhan dari refleksi sebesar 3,7 (rentang interval 1-4). Berdasarkan pedoman penggolongan nilai yang digunakan oleh peneliti, raata-rata refleksi tersebut masuk dalam kategori “sangat baik”. Berdasarkan jawaban yang telah dituliskan, siswa memperoleh informasi mengenai nilai-nilai budi pekerti dalam instrumen gamelan. Siswa juga mendapatkan informasi mengenai cara memukul gong dan nilai yang didapatkan saat memainkan gong. Dengan demikian, produk yang telah diuji coba peneliti memiliki kualitas yang baik karena dapat memberikan informasi kepada siswa mengenai nilai-nilai budi dalam memainkan gamelan.