HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 12-15 Februari 2014.Dari data yang dikumpulkan terdapat 40 responden yang dijadikan sampel yang merupakan seluruh populasi bidan yang bekerja diruang Nicu dan ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.Data dikumpulkan melalui kuesioner,data dari hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi sebagai berikut :
1. Analisa univariat
a. Pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Bidan Terhadap penanganan asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Di ruang Nicu Dan Ruang bersalin
Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2014
Berdasarkan tabel 4.1 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 40 responden yang diteliti ditemukan sebagian besar Bidan memiliki pengetahuan kurang baik yaitu sebanyak 26 responden (65,0 %).
No Pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru
lahir
frekuensi (%)
1 Baik 14 35,0
2 Kurang baik 26 65,0
Jumlah 40 100,0
b. Pendidikan
Tabel 4.2
Tabel Frekuensi Pendidikan Bidan Diruang Nicu Dan Ruang Bersalin
Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien meulaboh
No Pendidikan Bidan frekuensi (%)
Berdasarkan tabel 4.2 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 40 responden yang diteliti ditemukan sebagian besar Bidan memiliki tingkat pendidikan sedang yaitu sebanyak 35 responden (87,5 %).
c. Umur
Tabel 4.3
Tabel Frekuensi Umur Bidan Diruang Nicu Dan Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien meulaboh
No Umur Bidan frekuensi (%)
1 Dewasa awal 31 77,5
2 Dewasa pertengahan 9 22,5
3 Dewasa akhir 0 0
Jumlah 40 100,0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2014
Berdasarkan tabel 4.3 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 40 responden yang diteliti ditemukan sebagian besar Bidan memiliki tingkat umur dewasa awal yaitu sebanyak 31 responden (77,5 %).
d. Pengalaman bekerja
Tabel 4.4
Tabel Frekuensi Pengalaman Bekerja Bidan Diruang Nicu Dan Ruang Bersalin
Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien meulaboh No Pengalaman Bekerja Frekuensi (%)
1 Belum lama 29 72,5
2 Lama 11 27,5
Jumlah 40 100,0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2014
Berdasarkan tabel 4.4 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 40 responden yang diteliti ditemukan sebagian besar Bidan memiliki tingkat pengalaman kerja yang belum lama yaitu sebanyak 29 responden (72,5 %).
e. Pelatihan
Tabel 4.5
Tabel Frekuensi Pelatihan Bidan Diruang Nicu Dan Ruang Bersalin
Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien meulaboh
No Pelatihan Bidan frekuensi (%)
1 Ada 10 25,0
2 Tidak ada 30 75,0
Jumlah 40 100,0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2014
Berdasarkan tabel 4.5 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 40 responden yang diteliti ditemukan sebagian besar Bidan belum mengikuti pelatihan manajemen asfiksia yaitu sebanyak 30 responden (75,0 %).
2. Analisa Bivariat
a. Pengaruh Pendidikan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir
Tabel 4.6
Pengaruh Pendidikan Bidan
Terhadap Penanganan asfiksia Pada bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
No Pendidikan
Berdasarkan Tabel 4.6 diatas,diketahui dari 5 responden yang memiliki pendidikan tinggi terdapat 4 responden (80,0%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 35 responden yang memiliki pendidikan sedang terdapat 25 responden (71,4%) yang mempunyai pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh p-value 0,024 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh tingkat pendidikan dengan
pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.
b. Pengaruh umur bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Tabel 4.7
Pengaruh umur bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah cut Nyak Dhien
Meulaboh
Berdasarkan tabel 4.7 diatas,dari 31 responden yang mempunyai tingkatan umur dewasa awal terdapat 7 responden (22,6%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 9 responden yang mempunyai tingkatan umur dewasa pertengahan terdapat 2 responden (22,2%) yang mempunyai pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh p-value 0,002 yang berarti
lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh umur dengan pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.
c. Pengaruh pengalaman bekerja bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Tabel 4.8
Pengaruh pengalaman bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah cut Nyak Dhien
Meulaboh
Berdasarkan tabel 4.8 diatas,dari 29 responden yang mempunyai pengalaman bekerja yang belum lama terdapat 5 responden (17,2%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 11 responden yang mempunyai pengalaman bekerja yang sudah lama terdapat 2 responden (18,2%) yang mempunyai pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh p-value 0,000 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh pengalaman bekerja dengan pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.
d. Pengaruh pelatihan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Tabel 4.9
Pengaruh pelatihan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah cut Nyak Dhien
Meulaboh
Berdasarkan tabel 4.9 diatas,dari 30 responden yang belum pernah mengikuti pelatihan manajemen asfiksia terdapat 5 responden (16,7%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 10 responden yang pernah mengikuti pelatihan manajemen asfiksia terdapat 1 responden (10,0%) yang mempunyai
pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh p-value 0,000 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh pelatihan manajemen asfiksia dengan pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.
4.2.1 Pembahasan
1. Pengaruh Pendidikan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapa diketahui bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Hal ini dapat di lihat dari tabel 4.6 diatas,dari 5 responden yang memiliki pendidikan tinggi terdapat 4 responden ( 80,0%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 1 responden (20,0%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 35 responden yang memiliki pendidikan sedang terdapat 10 responden (28,6%) yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 25 responden (71,4%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaaan 95 % diperoleh nilai p-value 0,043 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pendidikan terhadap pengetahuan bidan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Pengetahuan adalah hasil dari tahu,dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan,pendengaran,penciuman ,rasa dan raba.sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh dari indera mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang atau dengan arti lain pengetahuan mempunyai pengaruh sebagai motivasi awal bagi seseorang dalam berperilaku.(Notoatmodjo, 2007)
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang karena dapat membuat seseorang untuk lebih menerima ide-ide atau teknologi baru. ( Notoatmodjo, 2007)
Penelitian yang dilakukan oleh Safrina (2011) tentang pengaruh karakteristik individu (pendidikan, masa kerja, pengalaman kerja, pelatihan) dan motivasi (tanggung jawab, pengakuan, pengembangan, kondisi kerja, imbalan) terhadap kompetensi bidan dalam manajemen asfiksia bayi baru lahir di RSIA Pemerintah Aceh. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan bidan merupakan salah satu factor yang
mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Nilai p value 0,001.
Dari literatur dan hasil penelitian yang ditemui,peneliti berasumsi bahwa pendidikan mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir.Pada penelitian ini ditemukan masalah terdapat 25 responden yang memiliki pendidikan sedang dan memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,hal tersebut disebabkan oleh bidan memiliki pengetahuan yang terbatas dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,misalnya bidan hanya mempelajari teori asfiksia pada bayi baru lahir saja dan kurang melakukan praktek penanganan asfiksia pada bayi baru lahir pada saat menempuh pendidikannya.
2. Pengaruh umur bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapa diketahui bahwa umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Hal ini dapat di lihat dari tabel 4.7 diatas,dari 31 responden yang memiliki umur dewasa awal terdapat 7 responden ( 22,6%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 24 responden (77,4%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 9 responden yang memiliki umur dewasa pertengahan terdapat 7 responden (77,8%) yang memiliki
pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 2 responden (22,2%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaaan 95 % diperoleh nilai p-value 0,004 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh umur terhadap pengetahuan bidan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian karena berhubungan dengan angka kesakitan ataupun kematian dan orang dapat membacanya dengan mudah serta melihat pola sehingga kesakitan ataupun kematian dapat diperhatikan menurut umur (heri p 2004).
Semakin muda usia seseorang semakin sedikit pengalaman yang dimiliki seseorang, namun sebaliknya semakin tinggi tingkatan umur seseorang pengalaman yang didapat semakin lebih banyak oleh karena itu sangat penting bila umur dapat dikaitkan dengan pengetahuan seseorang (Heri, 2004).
Memori atau daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur (Sarwono 2008). Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa dengan bertambahnya umur seseorang maka, dapat berpngaruh pada bertambahnya pengetahuan yang diperoleh Dalam teori Hurlock yang dikutip oleh semakin cukup tingkat kematangan dan kekuatan seseorang,
maka akan lebih matang orang tersebut dalam berfikir dan berkerja. Hal ini sebagai akibat dari kematangan jiwanya ( Nursalam, 2003).
Dari literature dan hasil penelitian yang ditemui, peneliti berasumsi bahwa umur mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Pada penelitian ini ditDari literature dan hasil penelitian yang ditemui, peneliti berasumsi bahwa umur mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Pada penelitian ini diemukan masalah terdapat 24 responden yang memiliki umur dewasa awal dan memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,hal tersebut disebabkan oleh umur bidan yang relatif muda sehingga belum mempunyai tingkat kematangan dan kekuatan dalam berfikir dan bekerja.
3. Pengaruh pengalaman bekerja bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa penglaman bekerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Hal ini dapat di lihat dari tabel 4.8 diatas,dari 29 responden yang belum memiliki pengalaman bekerja terdapat 5 responden ( 17,2%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 24 responden (82,%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Dari 11 responden yang memiliki pengalaman bekerja terdapat 9 responden (81,8%) yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 2 responden (18,2%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaaan 95 % diperoleh nilai p-value 0,000 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05).Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pengalaman bekerja bidan terhadap pengetahuan bidan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Lama bekerja dapat diartikan dengan pengalaman seseorang selama memberikan pelayanan kebidanan baik di instansi pemerintah atau swasta.
(Mangkuprawira, 2004,)
Pengalaman merupakan guru yang terbaik (experient is the best teacher). Pepatah tersebut bisa diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh suatu kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat dijadikan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan persoalan yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmojo, 2007).
Kepercayaan masyarakat lebih cenderung kepada bidan yang telah lama bekerja, masyarakat menganggap bahwa orang yang sudah lama bekerja memiliki pengalaman yang lebih di bandingkan orang yang baru bekerja. Semakin lama bekerja semakin banyak pengalaman dan semakin banyak kasus yang ditangani sehingga membuat masyarakat berpikiran bahwa seorang tersebut mahir dan terampil dalam menyelesaikan pekerjaannya. (Notoatmojo, 2007 ).
Penelitian yang dilakukan oleh Safrina (2011) tentang pengaruh karakteristik individu (pendidikan, masa kerja, pengalaman kerja, pelatihan) dan motivasi (tanggung jawab, pengakuan, pengembangan, kondisi kerja, imbalan) terhadap kompetensi bidan dalam manajemen asfiksia bayi baru lahir di RSIA Pemerintah Aceh. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman bidan merupakan salah satu faktor yang memprngaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Nilai p value 0,029.
Dari literatur dan hasil penelitian yang ditemui,peneliti berasumsi bahwa pengalaman mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir.Pada penelitian ini ditemukan masalah terdapat 29 responden yang belum memiliki pengalaman bekerja dan memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,hal tersebut disebabkan oleh bidan memiliki pengetahuan yang terbatas dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,misalnya bidan hanya mempelajari teori asfiksia pada bayi baru lahir
saja dan kurang melakukan praktek penanganan asfiksia pada bayi baru lahir pada saat menempuh pendidikannya.
4. Pengaruh pelatihan manajemen asfiksia terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa penglaman bekerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.9 diatas,dari 30 responden yang belum mendapatkan pelatihan manajemen asfiksia terdapat 5 responden ( 16,7%) yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir dan25 responden (83,3%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.Dari 10 responden yang sudah mendapatkan pelatihan manajemen asfiksia terdapat 9 responden (90,0%) yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir dan 1 responden (10,0%) yang memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaaan 95 % diperoleh nilai p-value 0,000 yang berarti lebih kecil dari α-value (0,05). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pelatihan manajemen asfiksia terhadap pengetahuan bidan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Pelatihan didefinisikan oleh Ivancevich sebagai “usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan dijabatnya segera”. Selanjutnya, sehubungan dengan definisinya tersebut, Ivancevich (2008) mengemukakan sejumlah butir penting yang diuraikan di bawah ini: Pelatihan (training) adalah
“sebuah proses sistematis untuk mengubah perilaku kerja seorang/sekelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi”. Pelatihan terkait dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan yang sekarang dilakukan. Pelatihan berorientasi ke masa sekarang dan membantu pegawai untuk menguasai keterampilan dan kemampuan (kompetensi) yang spesifik untuk berhasil dalam pekerjaannya.
Pelatihan menurut Gary Dessler (2009) adalah proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”. Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam dunia kerja. Karyawan, baik yang baru ataupun yang sudah bekerja perlu mengikuti pelatihan karena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah akibat perubahan lingkungan kerja, strategi, dan lain sebagainya.
Pelatihan menurut Gary Dessler (2009) adalah Proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”. Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam
dunia kerja. Karyawan, baik yang baru ataupun yang sudah bekerja perlu mengikuti pelatihan karena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah akibat perubahan lingkungan kerja, strategi, dan lain sebagainya.
Dari literatur dan hasil penelitian yang ditemui,peneliti berasumsi bahwa pelatihan manajemen asfiksia mempengaruhi pengetahuan bidan terhadap penanaganan asfiksia pada bayi baru lahir.Pada penelitian ini ditemukan masalah terdapat 25 responden yang belum mendapatkan pelatihan manajemen asfiksia dan memiliki pengetahuan yang kurang baik terhadap penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,hal tersebut disebabkan oleh bidan memiliki pengetahuan yang terbatas dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir,misalnya bidan hanya mempelajari teori asfiksia pada bayi baru lahir saja dan kurang melakukan praktek penanganan asfiksia pada bayi baru lahir pada saat menempuh pendidikannya.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan data dan hasil penelitian pada distribusi frekuensi,peneliti membuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada pengaruh pendidikan terhadap pengetahuan bidan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh,di tandai dengan nilai p-value (0,024) < α-value (0,05).
2. Ada pengaruh umur terhadap pengetahuan bidan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh,ditandai dengan nilai p-value (0,002) < α-value (0,05).
3. Ada pengaruh pengalaman terhadap pengetahuan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh,ditandai dengan nilai p-value (0,000) < α-value (0,05).
4. Ada pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh,ditandai dengan nilai p-value (0,000) < α-value (0,05).
5.2 Saran
1. Bagi tempat penelitian
Diharapkan agar pihak Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh dapat memberikan perhatian yang lebih besar kepada bidan-bidan yang bekerja dalam lingkungan RSUD CND Meulaboh dengan memberikan pelatihan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir sehingga dapat menambah pengetahuan para bidan dalam hal tersebut.
2. Bagi responden
Agar para bidan yang bekerja dalam lingkungan RSUD CND Meulaboh terus termotivasi untuk belajar dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bekerja sesuai dengan kompetensi bidan.
3. Bagi peneliti
Sebagai sarana pembelajaran melakukan penelitian sekaligus mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dan semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi penelitian selanjutnya