• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

a. Identitas Informan

Setelah peneliti melakukan penelitian di Kecamatan Sajoanging, Pasangan yang tidak memiliki akta perkawinan masih marak terjadi, bahkan hampir disetiap kelurahan ataupun desa ada. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat informasi yang didapat peneliti terdapat 44 KK yang tidak memiliki akta nikah. Namun informanya terlalu banyak maka peneliti mengambil 20 KK sebagai informan penelitian dari 8 desa dan 1 kelurahan di Kecamatan Sajoanging yang berarti terdapat 20 pasangan yang informan penelitiannya 10 pasangan yang tidak memiliki akta nikah dan 10 pasangan yang memiliki akta nikah. Berdasarkan usia informan pada penelitian yaitu usia 20-60 tahun. Adapun menurut pendidikannya, rata-rata dilakukan oleh masyarakat yang belum tamat Sekolah Dasar atau hanya yang sudah lulus Sekolah Dasar. Berdasarkan mata pencahariannya masyarakat yang kebanyakan petani, nelayan, dan ibu rumah tangga.

Tabel 4.2. Jumlah Masyarakat Yang Memiliki Akta Nikah dan Masyarakat Yang Tidak Memiliki Akta Nikah Menurut Desa/Kelurahan Di Kecamatan Sajoanging. No Desa/Kelurahan Jumlah Kepala Keluarga Jumlah yang memiliki akta nikah Jumlah yang tidak memiliki akta nikah 1. Assoajang 559 557 2 2 Akkajeng 1232 1228 4 3 Minangae 529 525 4 4 Akkotengeng 582 579 3 5 Alewadeng 518 516 2 6 Barangmamase 1116 1096 20 7 Salobulo 780 777 3 8 Towalida 357 355 2 9 Sakkoli 869 865 4 Jumlah 6542 6498 44

b. Tingkat Kesadaran Hukum Masyarakat Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo Terhadap Kepemilikan Akta nikah

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesadaran hukum masyarakat Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo untuk memiliki akta nikah. Data penelitian ini diperoleh dengan cara melakukan wawancara langsung kepada keluarga yang melakukan perkawinan tanpa akta nikah dan yang mempunyai akta nikah, sebagaimana dapat dilihat sebagai berikut:

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang berinisial E, bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 25 Tahun, diwawancarai mengenai pengetahuan tentang kepemilikan akta perkawinan berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan sebagaimana diubah UU No.16 Tahun 2019, beliau mengatakan: “Saya kurang tahu Undang- Undang tentang perkawinan yang saya tahu kepemilikan akta perkawinan itu pasangan yang melakukan pencatatan perkawinan di KUA akan memilki akta perkawinan atau buku nikah”. ( wawancara, 08 Juli 2020).

Pendapat lain dari informan yang tidak memiliki akta nikah yang berinisial I bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 19 tahun, beliau mengatakan: “Kepemilikan akta perkawinan atau buku nikah hanya pasangan yang mencatatkan perkawinanya di KUA sedangkan seperti saya tidak memiliki akta perkawinan atau buku nikah karena waktu saya menikah saya masih dibawah umur kalau masalah Undang-Undang perkawinan saya tidak tahu”.( wawancara, 08 Juli 2020).

Selanjutnya dikemukakan oleh informan yang tidak memiliki akta nikah yang berinisial AU bekerja sebagai nelayan, berumur 35 tahun, beliau mengatakan :

“Kepemilikan buku akta perkawinan itu adalah pernikahan yang melalui proses pencatatan KUA dan saya tidak tahu Undang-Undang perkawinan”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Lebih lanjutnya berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta perkawinan yang berinisial S bekerja sebagai petani, berumur 54 tahun beliau mengatakan :

“Saya tidak tahu dengan kepemilikan buku nikah dan Undang-Undang itu tetapi buku nikah itu sebagai bukti pernikahan”. ( wawancara, 08 Juli 2020). Sedangkan berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta perkawinan atau buku nikah yang bernama bapak Ridwan bekerja sebaga petani, berumur 32 tahun beliau mengatakan:

“Yang saya tahu kepemilikan buku nikah merupakan perkawinan yang dilakukan melalui proses KUA akan mendapatka buku nikah dan kalau

perkawinan tidak dihadapkan ke KUA maka tidak memiliki buku nikah sedangkan Undang-Undangnya saya tidak tahu”. ( wawancara, 08 Juli 2020). Pendapat lain dari informan yang memiliki akta nikah yang berinisial A bekerja sebagai petani, berumur 37 tahun beliau mengatakan:

”Sepengetahuan saya adalah perkawinan yang melalui proses KUA perkawinan yang memiliki buku akta nikah itu sendiri, dan sebaliknya sedangkan Undang-Undangnya saya tidak tahu”. (wawancara 10 Juli 2020). Senada dengan hal tersebut yang disampaikan oleh informan sebelumnya, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta nikah atau buku nikah yang berinisial R bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 26 tahun beliau mengatakan:

“Perkawinan yang dilakukan melalui proses KUA akan mendapatka buku nikah dan kalau perkawinan tidak dihadapkan ke KUA maka tidak memiliki buku akta nikah dan saya tidak tahu Undang-Undang perkawinan”.(wawancara 10 Juli 2020).

Sedangkan berdasarkan penjelasan hasil obrolan wawancara informan yang berinisial MY sebagai Kepala KUA Kecamatan Sajoanging, berumur 51 Tahun, beliau mengatakan :

“Kepemilikan buku akta nikah itu adalah perkawinan yang dicatatkan di KUA sesuai aturan hukum yaitu Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 sedangkan perkawinan yang tidak dicatatkan di KUA itu sah menurut agama islam tetapi dalam aturan hukum di Indonesia di wajibkan perkawinan dicatatkan di KUA”. ( wawancara, 03 Juli 2020).

2. Pemahaman tentang kepemilikan akta nikah

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial E, bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 25 Tahun, diwawancarai mengenai pemahaman tentang kepemilikan akta nikah, beliau mengatakan:

“Kepemilikan akta perkawinan adalah sebagai bukti terjadinya pernikahan tetapi saya kurang paham maksud dan tujuan terhadap kepemilikan akta nikah itu sendiri karena saya belum mengurus buku nikah”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Pendapat lain dari informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial I, bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 19 tahun, beliau mengatakan: “Saya tidak terlalu memahami kepemilikan buku nikah tetapi setahu saya perkawinan yang memiliki buku nikah akan lebih mudah mengurus dokumen penting seperti akta kelahiran anak. Karena akta perkawinan merupakan salah satu syarat dalam membuat akta kelahiran. Seperti halnya saya pernah mengurus akta kelahiran anak saya tetapi tidak bisa karena saya belum memiliki buku nikah”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Selanjutnya dikemukakan oleh informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial AU bekerja sebagai nelayan, berumur 35 tahun, beliau mengatakan:

“Saya paham terhadap kepemilikan buku nikah meskipun saya melakukan perkawinan melalui hukum agama tapi saya paham bagaimana konsekuensi apabila tidak memiliki buku nikah itu sendiri karena pernikahan sebelumnya saya memiliki buku nikah”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Lebih lanjutnya berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial S bekerja sebagai petani, berumur 54 tahun beliau mengatakan :

“Saya tidak tahu tentang kepemilikan buku nikah itu untuk paham tentang kepemilikan buku nikah itu sendiri tentu saya tidak paham karena saya tidak tahu masalah hukum”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta perkawinan atau buku nikah yang inisial R bekerja sebaga petani, berumur 32 tahun beliau mengatakan:

“Pemahaman saya masalah kepemilikan buku nikah adalah pernikahan yang melalui proses KUA dan perkawinan yang akan dilindungi oleh hukum serta sebuah bukti dalam sebuah pernikahan”. (wawancara, 08 Juli 2020). Pendapat lain dari informan yang memiliki akta nikah yang inisial A bekerja sebagai petani, berumur 37 tahun beliau mengatakan:

“Pemahaman saya perkawinan yang memiliki buku nikah adalah perkawinan yang akan di lindungi oleh hukum dan di akui oleh hukum”. (wawancara 10 Juli 2020).

Senada dengan hal tersebut yang disampaikan oleh informan sebelumnya, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta

perkawinan atau buku nikah yang inisial R bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 26 tahun beliau mengatakan:

“Sepemahaman saya kepemilikan buku nikah adalah salah satu bukti sahnya dalam sebuah pernikahan. (wawancara, 10 Juli 2020).

Sedangkan berdasarkan penjelasan hasil obrolan wawancara dari informan inisial MY sebagai Kepala KUA Kecamatan Sajoanging, berumur 51 Tahun, beliau mengatakan :

“Kepemilikan akta perkawinan adalah perkawinan yang memiliki buku nikah yang sah dimata agama maupun hukum yang berlaku di Indonesia yang akan di lindungi oleh hukum dan di akui oleh hukum”. (wawancara, 03 Juli 2020).

3. Sikap hukum mengenai setuju atau tidak setuju dengan adanya kepemilikan akta nikah

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial E, bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 25 Tahun, diwawancarai mengenai setuju atau tidak setuju dengan adanya kepemilikan akta nikah itu, beliau mengatakan:

“Seharusnya pencatatan perkawinan itu tidak perlu, karena merepotkan orang yang menikah saja apalagi secara agama perkawinan sudah sah tanpa dicatatkan”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Pendapat lain dari informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial I bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 19 tahun, beliau mengatakan: “Pada saat saya melangsungkan perkawinan saya tidak melalui proses pencatatan perkawinan karena masih dibawah umur maka dari tu saya tidak pernah melakukan pengurusan tentang akta nikah. Tapi karena saya sudah mempunyai anak yang nantinya membutuhkan akta kelahiran, dan untuk mendapatkan akta kelahiran tersebut saya harus mempunyai buku nikah itu, jadi mau tidak mau saya harus mendaftarkan perkawinan saya melalui ITSBAT nikah”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Selanjutnya dikemukakan oleh informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial AU bekerja sebagai nelayan, berumur 35 tahun, beliau mengatakan :

“Saya setuju karena kepemilikan akta perkawinan sebenarnya sangat di perlukan karena dipernikahan sebelumnya saya sering menggunakan buku nikah saya untuk pengurusan dokumen penting tetapi setelah saya menikah yang kedua saya belum mengurus akta perkawinan karena proses pernikahan saya hanya sesuai hukum agama yang tidak dicatatkan di KUA”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Lebih lanjutnya berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial S bekerja sebagai petani, berumur 54 tahun beliau mengatakan :

“ Menurut saya akta nikah tidak perlu karena merepotkan saja orang yang ingin menikah”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta nikah atau buku nikah yang inisial R bekerja sebaga petani, berumur 32 tahun beliau mengatakan:

“Sangat setuju, sebab kalu perkawinan tidak memiliki buku nikah maka perkawinan itu tidak ada menjadi bukti yang jelas dalam pernikahan”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Pendapat lain dari informan yang memiliki akta nikah yang inisial A bekerja sebagai petani, berumur 37 tahun beliau mengatakan:

“Saya sangat setuju dengan adanya kepemilikan akta nikah itu”. (wawancara, 10 Juli 2020).

Senada dengan hal tersebut yang disampaikan oleh informan sebelumnya, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta nikah atau buku nikah yang inisial R bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 26 tahun beliau mengatakan:

“Sangat setuju, sebab kalu perkawinan tidak memiliki buku nikah maka perkawinan itu tidak memiliki bukti pernah melakukan perkawinan”. (wawancara, 10 Juli 2020).

Sedangkan berdasarkan penjelasan hasil obrolan wawancara dari informan yang inisial MY sebagai Kepala KUA Kecamatan Sajoanging, berumur 51 Tahun, beliau mengatakan :

“Saya sangat setuju dengan adanya kepemilikan buku akta perkawinan itu sendiri karena dengan adanya buku nikah itu dapat memberikan perlindungan

hukum bagi kelurga yang memilikinya dan juga mendapatkan kepastian hukum serta jelas status anaknya kelak termasuk hak warisnya”. (wawancara, 03 Juli 2020).

4. Perilaku hukum pernah atau tidak pernah melakukan pengurusan dalam kepemilikan buku akta nikah

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial E bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 25 Tahun, diwawancarai mengenai mengenai pernah atau tidak pernah melakukan pengurusan dalam kepemilikan buku akta nikah, beliau mengatakan:

“Kalau untuk kepengurusan buku nikah saya belum pernah mengurusnya berhubungan juga belum tahu cara mengurusnya”. (wawancara, 08 Juli 2020). Pendapat lain dari informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial I bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 19 tahun, beliau mengatakan: “Dalam mengurus kepemilikan buku akta nikah saya belum pernah mengurusnya tetapi tahun ini saya rencana akan mendaftarkan perkawinan saya melalui ITSBAT nikah karena anak saya membutuhkan akta kelahiran berhubung juga umur saya sudah 19 tahun”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Selanjutnya dikemukakan oleh informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial AU bekerja sebagai nelayan, berumur 35 tahun, beliau mengatakan :

“Saya pernah mengurus buku perkawinan waktu pernikahan pertama saya sedangkan pernikahan kedua ini saya belum pernah mengurusnya”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Lebih lanjutnya berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang tidak memiliki akta nikah yang inisial S bekerja sebagai petani, berumur 54 tahun beliau mengatakan :

“Saya tidak pernah melakukan pengurusan dalam kememilikan buku akta nikah atau buku nikah itu karena tidak saya mengerti masalah kepemilikan akta nikah itu apa lagi masalah mengurusnya”. (wawancara, 08 Juli 2020).

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta perkawinan atau buku nikah yang inisial R bekerja sebaga petani, berumur 32 tahun beliau mengatakan:

“Saya pernah melakukan pengurusan dalam kepemilikan buku akta nikah, karena pernikahan kami melalui proses pencatatan KUA”.(wawancara, 08 Juli 2020).

Pendapat lain dari informan yang memiliki akta nikah yang inisial A bekerja sebagai petani, berumur 37 tahun beliau mengatakan:

“Ya, saya pernah melakukan pengurusan dalam kepemilikan buku akta nikah, karena pernikahan kami melalui proses pencatatan KUA kalau masalah pengurusanya saya tidak mengurus lansung saya hanya memberikan dokumen yang diminta pak Imam yang menjadi syarat untuk mendapatkan buku nikah itu”. (wawancara, 10 Juli 2020).

Senada dengan hal tersebut yang disampaikan oleh informan sebelumnya, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang memiliki akta perkawinan atau buku nikah yang inisial R bekerja sebagai ibu rumah tangga, berumur 26 tahun beliau mengatakan:

“ Saya melakukan keperusan akta nikah itu sendiri karena pernikahan saya melalui proses KUA”.(wawancara, 10 Juli 2020).

c. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Masyarakat Di Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo Tidak Memiliki Akta Nikah

Setiap warga Negara hendaknya melaksanakan setiap peraturan yang telah di tetapkan oleh pemerintah, sebab semua peraturan pada hakekatnya bertujuan untuk kepentingan masyarakat demikian juga dalam hal perkawinan.

Sebuah hukum yang hanya diketahui akan berdampak seketika itu juga, maka akan mempunyai taraf kesadaran hukum masyarakat yang masih relatif rendah. Perilaku masyarakat yang dapat dikategorikan sesuai dengan hukum yang berlaku, maka tidak berarti kesadaran hukum masyarakatnya juga akan

berdampak tinggi. Hal ini disebabkan kesadaran hukum ditentukan oleh berbagai faktor.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang didapat oleh peneliti ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat di Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo tidak memiliki akta nikah yaitu:

1. Ketidak tahuan masyarakat atas pentingnya kepemilikan akta perkawinan 2. Adanya pernikahan kedua

3. Tingkat kehidupan sosial ekonomis

4. Kurangnya sosialisasi undang-undang perkawinan

Dokumen terkait