BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
catatan dokumentasi sebagai pendukung dalam penelitian ini.
1. Penelitian sebagai pengamat penuh dan kehadirannya diketahui statusnya sebagai peneliti itu sendiri oleh informan.
2. Lembar observasi, berisi catatan yang diperoleh oleh penelitian pada saat melakukan pengamatan langsung dilapangan.
3. Panduan wawancara merupakan seperangkat daftar pertanyaan yang sudah disiapkan oleh peneliti sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan peneliti yang akan dijawab melalui proses wawancara. Pedoman wawancara sebagai salah satu cara atau metode yang digunakan dalam pengumpulan data.
4. Catatan dokumentasi adalah data pendukung yang dikumpulkan sebagai penguatan data observasi dan wawancara yang berupa gambar, data sesuai dengan kebutuhan penelitian
5. Kamera, ponsel sebagai alat dokumentasi setiap kegiatan peneliti 6. Buku catatan, alat tulis dan laptop sebagai penunjang.
G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan 3 teknik pengumpulan data yaitu :
a. Library research (Riset ke pustakaan) yaitu dengan mengumpulkan data yang di peroleh melalui studi kepustakaan, dengan cara mengumpulkan data-data atau dokumen-dokumen perusahaan maupun literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian.
b. Field Research, yaitu mengumpulkan data melalui penelitian lapangan, dengan menggunakan metode sebagai berikut :
1). Metode Observasi
Observasi merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat, menganalisa secara sistematis terhadap gejala atau fenomena atau objek yang akan diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah pengamatan ini dilakukan dengan cara observasi partisipan, dengan menggunakan alat bantu seperti alat tulis menulis dan sebagainya.
2). Metode Wawancara
Wawancara adalah percakapan antar periset (Seseorang yang berharap mendapatkan informan) dan informan (Seseorang yang di asumsikan mempunyai informasi penting tentang suatu objek). Yang dimaksud dengan wawancara adalah pengambilan data melalui seseorang atau biasa dinamakan dengan informan dari daerah tempat penelitian. Pengambilan dilakukan dengan sekurang-kurang nya 5 orang dari seluruh warga yang ada ditempat atau di daerah yang diteliti.
3). Dokumentasi
Dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang berisi data yang menunjunjang analisis dalam penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam pengolahan data dalam penelitian ini akan di bahas sebagai berikut.
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengorganisasikan dan mengurutkan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan tempat dirumuskan melalui hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Dengan demikian data yang telah terkumpul dari hasil wawancara dan studi kepustakaan akan di analisa sehingga dapat dipahami dan dihubungkan dengan masalah penelitian. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk narasi dan kutipan langsung oleh hasil wawancara.
I. Teknik Keabsahan Data
Analisis data kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang, dan terus menerus, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling susul menyusul analisis Miles dan Huberman Model Penelitian Kualitatif Versi BOG dan Biklen Bogdan dan Biglen membedakan waktu analisis menjadi dua yaitu : Analisis waktu masih di kancah dan analisis sesudah selesai dilapangan langkah-langkah analisis di kancah.
1. Adakan penelitian yang mendalam
2. Membuat keputusan sesuai dengan tipe penelitian 3. Kembangkan pertanyaan analisis
4. Rencanakan pengumpulan data yang akan ditemukan melalui pengamatan 5. Tulis beberapa komentar pengamatan tentang ide-ide umum
6. Menulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang sedang diteliti 7. Uji coba tema terhadap subjek
8. Memulai meluncurkan literatur sementara anda sewaktu masih di lapangan 9. Bermain dengan methapor, analogi-analogi dan konsep-konsep
J. Etika Penelitian
Etika penelitian adalah standar tata perilaku penelitian selama melalukan penelitian dan menyusun desain penelitian, mengumpulkan data lapangan ( melalukan wawancara, observasi dan pengumpulan data dokumen ).
Adapun etika penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu :
1. Peneliti meminta izin terlebih dahulu kepada Petugas atau Pelaksana yang terkait apayang akan dilakukan selama proses penelitian.
2. Meminta izin terlebih dahulu kepada calon informan untuk melakukan wawancara dan menjelaskan tujuan penelitian ini di lakukan.
3. Meminta izin kepada informan ketika akan melakukan wawancara sambil observasi dan mengumpulkan dokumentasi melalui kamera atau HP. 4. Menjaga kerahasiaan informan jika informan merasa sensitive.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Gambaran Wilayah
Bantaeng bermula dari kata bantaya yaitu berarti tempat pembantaian hewan bahkan manusia pada zaman dahulu. Prof. Mattualda dalam buku Propancandi zaman majapahit sebagai salah satu kerajaan di Sulawesi di abad XIII. Nama Bantayan berubah menjadi Bontain pada zaman pemerintah Belanda . Kabupaten Bantaeng adalah satu dari 28 dan kota di Sulawesi Selatan. Daerah ini membentang dari barat ke timur pada bagian jazirah selatan provinsi sulawesi selatan, daerah ini berada pada posisi 521‟13” sampai 5‟3526” lintang selatan dan 11951‟42” sampai 120‟0527” bujur timur dengan luas wilayah 539,83 km2. Ibu kota Kabupaten Bantaeng terletak sekitar 123 km2 arah selatan Kota Makassar. Terbagi atas 8 kecamatan, 41 Daerah dan 21 Kelurahan dengan jumlah penduduk 168.828 jiwa.
Salah satu kelurahan yang ada di kabupaten Bantaeng Kecamatan Bissappu Yaitu Kelurahan Bonto Sunggu. Kelurahan Bonto Sunggu terletak di Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Kelurahan Bonto Sunggu adalah central kecamatan Bissappu Yaitu Kelurahan dengan jumlah populasi terbsesar diantara 11 Kelurahan dengan jumlah kepala keluara sebanyak 1749 dan jumlah masyarakat sebanyak 6714. Kelurahan Bonto sunggu berbatasan dengan kelurahan Bonto Lebang dan Bonto Atu. Wilayah Bonto sunggu terdiri dari 2 RW
yang merupakan wilayah pesisir dan 5 Rw Lainnya merupakan perbukitan dan dataran rendah.
Kelurahan Bonto sunggu merupakan wilayah yang terdiri dari 3 dimensi (pesisir, dataran dan ketinggian). Tiga dimensi tersebut dapat digambarkan bahwa untuk wilayah pesisir terletak di Perkampungan TangngaTangnga, Cabodo, Bungung Bambang dan wilayah dataran terletak diperkampungan poccibuttayya dan Sasayya serta wilayah pegunungan terletak diperkampungan Bira-bira ketinggian dari permukaan laut 500M.
Kelurahan Bonto Sunggu memiliki iklim tropis dan dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya mulai awal bulan Desember sampai Awal bulan Juni. Pada musim ini petani memanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman pertanian seperti mangga, jagung, sayur-sayuran, rumput laut dan lain-lain. Sedangkan musim kemarau biasanya terjadi pada awal bulan Juli sampai akhir bulan November.
B. Letak Geografis dan Administratif
Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat ke timur kota dan wilayah daratannya mulai dari tepi laut flores sampai ke pegunungan selkitar Gunung Lompobattang dengan ketinggian tempat dari permukaan laut 0-25 m sampai dengan ketinggian lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut. Secara administratif, Kabupaten Bantaeng memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Bulukumba
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto
Untuk lebih jelasnya mengenai pembagian wilayah administratif dapat dilihat pada tabel 1 dan peta administratif Kabupaten Bantaeng.
Tabel 1 Pembagian Wilayah Administratif di Kabupaten Bantaeng Tahun 2017
No. Kecamatan LuasWilayah (Km2) Persentase (%)
1. Bisappu 32,84 8,30 2. Uluere 67,29 17 3. Sinoa 43,00 10,86 4. Bantaeng 28,85 7,29 5. Eremerasa 45,01 11,37 6. Tompobulu 76,99 19,45 7. Pajukukang 48,90 12,35 8. Gantarangkeke 52,95 13,38 Jumlah 395,83 100
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa yang mempunyai presentase luas wilayah tertinggi yaitu Kecamatan Tompobulu dengan presentase 10,86% sedangkan wilayah yang memiliki presentase luas wilayah terkecil yaitu Kecamatan Bantaeng dengan persentase 7,29%.
C. Keadaan Sosial Ekonomi
Secara umum masyarakat Kelurahan Bonto Sunggu bermata pencaharian sebagai petani. Yang berstatus petani rumput laut, sawah dan kebun sekitar 289 kepala rumah tangga, yang berstatus sebagai PNS, 226 kepala rumah tangga pedagang dan pengusaha, 169 kepala rumah tangga tukang batu dan tukang kayu, 172 kepala rumah tangga nelayan, penjuaal ikan, pedagang kecil, 268 kepala rumah tangga tukang becak, tukang ojek dan buruh 324 kepala rumah tangga.
D. Keadaan Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat di Kelurahan Bonto Sunggu terdiri dari : masyarakat yang tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, masih sekolah di SD, tamat SD, belum sekolah, masih SLTP, tamat SLTA, tidak tamat SLTA dan Diploma. Adapun presentase menunjukan bahwa 10,36% perempuan dan 9,76% Laki-laki masyarakat Kelurahan Bonto Sunggu yang tamat sekolah dasar, 3,49% laki-laki dan 3,93% perempuan yang tamat SLTP, yang tamat SLTA 8,30% Laki-laki dan 6,93% Perempuan dan 2,43% Laki-laki dan 2,74% yang tamat S1, sedangkan di sisi lain masih banyak yang tidak pernah sekolah 4,09% Laki-laki dan 4,29% Perempuan.
Masih banyaknya masyarakat yang tidak memiliki pendidikan ini di sebabkan masih adanya orangtua yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan, faktor lain adalah kurangnya kemampuan menyekolahkan anaknya. Tamatan sekolah lanjutan seperti SLTP dan SLTA tetap di dominasi
oleh masyarakat di RW 2 dengan jumlah tamatan SLTP 57 jiwa laki-laki dan 55 jiwa perempuan, tamatan SLTA 166 jiwa laki-laki dan 153 jiwa perempuan.
Banyak masyarakat tamatan SLTA yang tidak melanjutkan pendidikan nya keperguruan tinggi karena keterbatasan biaya dan lebih memilih membantu orang tua mencari nafkah sedangkan tamatan S1 55 jiwa laki-laki dan 57 jiwa perempuan yang berdomisili di RW 2 dan 29 jiwa laki-laki dan 34 jiwa perempuan di RW 4.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng
Dari beberapa peran pemerintah, peran pemerintah berfungsi terhadap kesejahteraan masyarakat yang merupakan suatu proses yang rasional untuk dapat melepaskan masyarakat ke arah yang lebih baik tanpa adanya hambatan untuk memproleh kemajuan. Untuk itu dalam melaksanakan dan mengatur tugas pokok dan fungsi daerah sebagai penentu kebijakan, pemerintah kabupaten Bantaeng telah membagikan secara merata mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh tiap Dinas terkait. Pemberian tugas ini dilakukan karena pemerintah Kabupaten Bantaeng menginginkan kemajuan yang tercapai pada tiap tiap sektor perekonomian daerah. Seperti halnya sektor jasa, kelautan dan perikanan, pertanian dan perkebunan dan tentunya terhadap sektor industri. Maka salah satu misi yang di jalankan oleh pemerintah Kabupaten Bantaeng adalah “Wilayah Terkemuka Berbasis Desa Mandiri”.
Pelaksanaan kegiatan dan dukungan terhadap misi pemerintah mendapat respon yang positif dari jajaran pejabat kabupaten bantaeng yaitu mulai dari DPRD Bantaeng, Sekda, Para Kepala Dinas, Camat dan Kepala Desa serta tidak ketinggalan dari dukungan dari para masyarakat Kabupaten Bantaeng. Dalam proses menumbuh kembangkan Kegiatan yang mengarah kepada perbaikan prasarana, pemerintah menuntut kepada jajaran pemerintahan
untuk membrikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Hasilnya adalah, banyak masyarakat mampu bersaing dan berproduksi tinggi terhadap apa yang mereka tekuni.
Seperti halnya dukungan dan tugas yang diberikan oleh pemerintah terhadap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantaeng tentang bagaimana mengembangkan laut dan perikanan di Kabupaten Bantaeng. Maka Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantaeng yang merupakan salah satu SKPD di lingkungan pemerintah di Kabupaten Bantaeng yang tugas dan fungsinya di sektor Kelautan dan Perikanan. Melakukan pengidentifikasian berbagai permasalahan terkait dengan tugas dan fungsi Dinas, maka dipetakan permalsahan sebagai berikut
Tabel 4.1 Pemetaan permasalahan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantaeng
Aspek Kajian Permasalahan Faktor Yang Mempengaruhi Gambaran
Organisasi SKPD
Belum optimalnya pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang dijalankan oleh staf dinas
Jumlah staf yang masih minim
Tingkat pendidikan (SDM) yang berhubungan langsung dengan disiplin Ilmu Perikanan dan Kelautan masih sangat minim dalam lingkungan dinas
Rasio antara jumlah sarana pendukung kerja serta meubeler dan staf Dinas belum berimbang Usaha Perikanan
Tangkap
Produktifitas, efisisensi usaha nelayan dan kualitas hasil tangkapan masih rendah
Dominasi armada penangkapan skala kecil Kelengkapan sarana dan
pra sarana belum memadai
Usaha
Pembudidayaan Rumput Laut
Produksi rumput laut brlum maksimal
Pengembangan lahan belum optimal
Sarana dan prasarana pengembanganareal rumput laut belum mencukupi
Usaha budidaya Ikan Air Tawar
Produksi bibit unggul ikan air tawar masih minim
Sarana dan prasarana balai benih ikan belum Representatif
Belum bersertifikasi nya benih ikan unggul air tawar
Pesisir Dan Kelautan
Perda pembagian zona wilayah pesisir belum rampung
Pemanfaatan ruang oleh masyarakat yang dapat mengakibatkan konflik
Usaha Pengolahan dan Pemasaran Olahan Hasil Perikanan
Mutu pasca hasil panen yang masih rendah
SDM kelompok pengolah hasil-hasil perikanan masih relative rendah
Selanjutnya Dinas terkait melakukan telaah visi dan misi sehingga pelaksanaan dapat di jalankan dengan baik. Dimana visi merupakan gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai. Visi pembangunan perikanan dan kelautan merupakan salah satu koridor utama yang mengawal kesinergian dan optimalisasi sektor perikanan dan kelautan menuju kondisi yang di cita-citakan.Sebagai bagian dari perekonomian Kabupaten Bantaeng, visi sektor perikanan dan kelautan selayaknya dapat menyokong visi pembangunan Kabupaten Bantaeng. Misi adalah ungkapan eksistensi sebuah organisasi yang dipaparkan dalam bentuk rangkaian kalimat dalam rangka mencapai visi.
Kegiatan budidaya rumput laut dengan luas pemanfaatan yang sangat berkembang, sehingga diperlukan pengaturan karena data penelitian menjelaskan bahwa budidaya telah menjorok ke laut sehingga 3-4 Km. Pegembangan petani rumput laut sebenarnya merupakan tugas wajib pemerintah dalam mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera. Masyarakat petani pula merupakan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil kekayaan lautyaitu baik perikanan, kelautan, ataupun penangkaran dan budidaya rumput laut. Seperti yang telah dikembangkan oleh sebagian besar masyarakat provinsi Sulawesi Selatan. Sehingga dalam pelaksanaannya pemerintah yaitu baik Provinsi, Kota/Kabupaten dan Dinas-dinas terkait serta pemerintah kecamatan dan Desa harus saling bekerja sama dalam meningkatkan pengembangan masyarakat petani.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah Kabupaten Bantaeng dan Kecamatan Bissappu telah memberdayakan masyarakat dalam mengikuti pelaksanaan Undang-Undang tentang pemberdayaan Masyarakat petani rumput laut. Maka salah satu program yang ditempuh dalam melaksanakan pengembangan msyarakat tersebut adalah pengembangan budidaya rumput laut di Kecamatan Bissappu. Hal ini pula sejalan dengan kebijakan umum program Kabupaten Bantaeng. Disamping adanya lkebijakan tersebut, strategi arah kebijakan yang ditempuh oleh Dinas Kelautan dan Perikanan sangat sejalan yaitu mengembanglkan kesempatan usaha dengan dukungan sarana dan prasarana perikanan dan kelautan sangat memadai.
Pelaksanaan ini telah berjalan dan sangat memberikan perubahan bagi masyarakat petani. Untuk itu, pemerintah Kabupaten Bantaeng dalam hal ini Bupati serta Dinas terkait telah melakukan suatu kegiatan di Kecamatan Bissappu yaitu pengembangan masyarakat petani rumput laut dengan meningkatkan kegiatan budidaya rumput laut. Pelaksanaan ini mendapat respon yang posistif baik dari pemerintah dan masyarakat, sebagai mana hasil wawancara yang telah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2021 dengan Ibu DM mengatakan bahwa :
“Sebenarnya kegiatan ini telah lama di rencanakan pihak pemerintah dan Dinas Kelautan begitu juga dengan pihak Kecamatan sebagai penyedia sarana. Tapi khususnya sektor Kelautan dan Perikanan barulah pada tahun 2013 dimulai pengembangannya yang dimulai dengan pemberdayaan masyarakat yang berfokus diperikanan sebagai nelayan.”
Dengan adanya kebijakan tersebut , diharapkan peran pemerintah dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap masyarakat di Kampung Tangnga-Tangnga mendapat hasil yang maksimum. Masyarakat yang dianggap mampu mengembangkan nya berikutnya akan menjadi sumber daya manusia yang baru dimana keberadaannya sebagai manusia yang berpotensi mengelola kreativitasnya dan persediaan alam. Sebab dilihat dari sisi alam Kabupaten Bantaeng, Untuk sektor kelautan dan Perikanan potensi pembudidayaan rumput laut memang sangat cocok dengan kondisi alam dan gelombang laut Kabupaten Bantaeng.
Awalnya aktifitas ini memang sangat dirasakan susah untuk dikembangkan oleh sebagian besar masyarakat di Kampung Tangnga-Tangnga, sebab kegiatan ini memerlukan pengetahuan mengenai prediksi cuaca dimana cuaca yang dimaksud adalah cuaca penanaman rumput laut yang masih baru. Berbagai cara
dilakukan oleh masyarakat dalam mengembangkan kegiataan budidaya dan pada Tahun 2008/2009 masyarakat pesisir Kampung Tangnga-Tangnga terbilang mampu mengembangkan sendiri budidaya mereka karena mampu memproduksi rumput laut yang masih basah sekitar 50 ton dari beberapa petani.
Pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras dari masyarakat dan tentu dukungan dari beberapa elemen pemerintahan di Kabupaten Bantaeng. Adanya ketersinambungan antara kebijakan pemerintah dan keinginan masyarakat menjadi pemicu utama pencapaian masyarakat menggugah banyak perhatian utamanya bagi masyarakat pesisir yang masih bertahan sebagai nelayan tangkap untuk beralih profesi. Maka pada tahun berikutnya yakni pada tahun 2015 dapat dikatakan bahwa masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan tangkap sudah tinggal hitungan jari saja khususnya masyarakat pelaut di Kampung Tangnga-tangnga. Budidaya rumput laut seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian besar masyarakat sebab pekerjaannya tidak serumit dengan nelayan tangkap pada umumnya. Hal ini dipertegas oleh salah satu masyarakat petani rumput laut yaitu sodari AU yang mengatakan :
“ Rumput laut sekarang yang sedang kami tekuni merupakan suatu ladang baru bagi kami masyarakat untuk mencari nafkah. Dikatakan ladang baru karena rumput laut ini mampu mengubah hidup para petani yang sebelumnya menjadi nelayan yang terbilang dikatakan sulit untuk mendapatkan hasil setelah beralih profesi sebagai petani rumput laut hasilnya melimpah. Pemerintah pula yakni Kepala Dinas Kelautan serta pak Camat memberikan pengarahan yang cukup menggembirakan bagi masyarakat petani karena diberikan bantuan berupa bibit dan petani yang berprestasi diberikan pembinaan khusus.”
Terobosan yang dilakukan oleh masyarakat sebelumnya terbilang sangat beresiko untuk dikembangkan. Resikonya adalah para petani belum mengetahui
teknik yang sebenarnya untuk pembudidayaan rumput laut. Masyarakat hanya bermodal nekat dan mengerti arus pantai sebagai lahan untuk menananm. Selain itu pemerintah tidak tinggal diam dalam mengembangkan potensi sumber daya di Kampung Tangnga-tangnga. Perwakilan pemerintah yakni Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai pengawas harian dan sekaligus terlibat dalam penyelenggaraan beberapa pelatihan sampai tahun 2019 kemarin “Budidaya Rumput Laut”.
Tidak mengejutkan apabila Kabupaten Bantaeng dalam setiap tahunnya menggulung keuntungan yang sangat besar bagi masyarakatnya yang bergelut sebagai petani rumput laut. Dikatakan demikian karena pemerintah dan masyarakat telah melibatkan segala aspek sosial untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan layak. Dalam hal ini, aspek sosial yang dimaksud adalah mampu nya terpenuhi kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat dikarenakan adanya kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang mampu berproduksi dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dominannya dan besarnya pengaruh harga rumput laut dipasaran membuat warga pesisir meningkatkan produktifitas mereka dengan sebaik-baiknya. Penggunaan Lahan ini dibenarkan lagi oleh salah satu warga yaitu Ibu R Petani rumput laut yang mengatakan dalam sesi wawancara bahwa :
“Sebenarnya awalnya itu kita telah dihimbau oleh Pemerintah Kabupaten dalam hal ini disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan bahwa bagi masyarakat yang punya lokasi kosong diwilayah pesisir sebaiknya digunakan sebagai lokasi penanaman rumput laut. Dengan alasan mengingat sebagian masyarakat pesisir banyak yang kurang bahkan tidak produktif atau dalam kategori menganggur.”
Dari perkembangan luas areal pembudidayaan rumput laut di Kabupaten Bantaeng menjadikan wilayah pesisir sebagai wilayah yang terbaik sebagai lokasi budidaya rumput laut. Hal ini dipertegas oleh kepala Bidang Perikanan Budidaya bapak MF dalam sesi wawancara mengatakan bahwa :
“ Budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng sangatlah tepat dan sesuai dengan kondisi alam serta gelombang lautnya. Sehingga perkembangan yang terjadi sudah menjadikan rumput laut sebagai aktivitas tersibuk untuk masyarakat pesisir dibeberapa wilayah di Kecamatan. Perkembangan ini pula tidak luput dari aktivitas yang dilakukan para petani yang semakin hari semakin menjadikan rumput laut sebagai bagian hidup masyarakat.”
Berikut ini data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait mengenai sebaran masyarakat yang berprofesi sebagai pembudidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Tabel 5.2 persentase jumlah Penduduk Petani Rumput Laut Wilayah Kecamatan Pesisir di Kabupaten Bantaeng
No. Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Jumlah % L P 1. Bantaeng 19.876 20.073 39.949 39.0 2. Bissappu 15.923 16.077 32.000 31.2 3. Pajukukang 15.137 15.410 30.547 29.8 Total 50.936 51.560 102.496 100
Dari tabel diatas terlhat bahwa kecamatan yang dominan memiliki penduduk terbanyak petani rumput laut adalah kecamatan Bantaeng, Menyusul Kecamatan Bissappu dan kemudian menyusul Kecamatan Pajukukang. Akan
tetapi Kecamatan Pajukukang untuk sekarang ini memiliki prioritas utama dalam pembudidayaan rumput laut. Sebab kecamatan Pajukukang dijadikan sebagai wilayah percontohan dan lokasi observasi terhadap rumput laut di Kabupaten Bantaeng dan umumnya di Sulawesi Selatan.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pemerintah Dalam Pembudidayaan Rumput Laut
Keberhasilan yang dicapai Oleh Pemerintah Bantaeng dan Masyarakat Pesisir Kabupaten Bantaeng tentu memiliki beberapa faktor pendukung dan penghambat. Untuk itu, berikut ini beberapa faktor pendukung dan penghambat baik dari sisi pemerintahan , masyarakat dan pembeli.
a. Faktor Pendukung
1. Penyuluhan dan Pendampingan
Penyuluhan yang diberikan pihak pemerintah terhadap masyarakat petani rumput laut merupakan usaha mandiri pemerintah Kabupaten Bantaeng. Hal ini dilakukan karena mengingat bahwa rumput laut merupakan kegiatan yang memberikan manfaat terhadap kehidupan masyarakat. Akan tetapi pelaksanaan ini tidak dapat berjalan apabila dalam kegiatan ini tidak ada yang memfasilitasi termasuk pelatihan yang diberikan.