• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

RSUP H. Adam Malik Medan beralamat di Jalan Bunga Lau No. 17, Medan, Km.12, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Subjek

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 191 orang yaitu seluruh pasien OMA yang berobat di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2014 dan 2015. Dari keseluruhan subjek yang ada, diperoleh gambaran mengenai perbandingan karakteristik penderita OMA yaitu usia, jenis kelamin, gejala klinis, stadium OMA, sisi telinga yang terkena OMA dan terapi yang dilakukan ke atas pasien OMA.

5.1.3. Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Usia Perbandingan distribusi frekuensi pasien OMA berdasarkan usia di RSUP H.

Adam Malik Medan Tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 5.1. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Usia di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2014 dan 2015

Tahun 2014

Usia(bln/tahun) Frekuensi (n) Persen(%)

1-12 bln 6 4.2

Usia(bln/tahun) Frekuensi (n) Persen (%)

1-12 bln 9 18.4

Pada tahun 2014, diketahui bahwa dari 142 pasien OMA, proporsi yang tertinggi terdapat pada usia 51-60 tahun (16.9%) sedangkan proporsi terendah terdapat pada usia 21-30 tahun (10.6%). Hal ini berbeda jika dibandingkan pada tahun 2015, yaitu dari 49 pasien OMA, proporsi yang tertinggi terdapat pada usia 1-10 tahun (32.7%) sedangkan proporsi terendah terdapat pada usia 41-50 tahun (2%).

5.1.4. Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Jenis Kelamin

Perbandingan distribusi frekuensi pasien OMA berdasarkan jenis kelamin di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada Tabel 5.2 di bawah.

Tabel 5.2. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2014 dan 2015

Tahun 2014

Jenis kelamin Frekuensi(n) Persen(%)

Laki laki 62 43.7

perempuan 80 56.3

Jumlah 142 100

Tahun 2015

Jenis kelamin Frekuensi(n) Persen(%)

Laki laki 23 46.9

perempuan 26 53.1

Jumlah 49 100

Pada tahun 2014, diperoleh proporsi lebih besar pada jenis kelamin perempuan (56.3%), sedangkan proporsi lebih kecil terdapat pada laki-laki (43.7%). Hal ini sama dengan tahun 2015 yaitu proporsi lebih besar pada jenis kelamin perempuan (53.1%), sedangkan proporsi lebih kecil terdapat pada laki-laki (46.9%).

5.1.5. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Gejala Klinis Perbandingan distribusi frekuensi pasien OMA berdasarkan gejala klinis di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada tabel 5.3 dibawah.

Tabel 5.3 Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Gejala Klinis di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2014 dan 2015

Tahun 2014

Gejala klinis Frekuensi (n) Persen (%)

Nyeri telinga 67 47.2

Keluar cairan pada telinga 90 63.4

Rasa penuh dalam telinga 25 17.6

Demam 17 12.0

Pendengaran menurun 18 12.7

Gelisah atau susah tidur 1 7

Tahun 2015

Gejala klinis Frekuensi (n) Persen (%)

Nyeri telinga 26 53.1

Keluar cairan pada telinga 48 98.0

Rasa penuh dalam telinga 26 53.1

Demam 2 4.1

Pada tahun 2014, diketahui bahwa gejala klinis yang paling banyak diderita pasien OMA adalah keluar cairan dari telinga (63.4%). Keluhan yang paling sedikit diderita pasien OMA adalah gelisah dan sukar tidur (7%). Hal ini sama pada tahun 2015, yaitu bahwa gejala klinis yang paling banyak diderita pasien OMA adalah keluar cairan dari telinga (98%). Keluhan yang paling sedikit diderita pasien OMA adalah gelisah dan sukar tidur (2%).

5.1.6. Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Stadium OMA

Perbandingan distribusi frekuensi pasien OMA berdasarkan stadium OMA di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada tabel 5.4 dibawah.

Tabel 5.4. Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Stadium OMA di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2014 dan 2015

Pada tabel 2014, diketahui proporsi tertinggi pasien OMA berdasarkan stadium OMA adalah stadium perforasi (53.5%) dan yang terendah adalah stadium oklusi tuba (7%). Hal ini sama dengan tahun 2015, diketahui proporsi tertinggi pasien OMA berdasarkan stadium OMA adalah stadium perforasi (87.8%) dan yang terendah adalah stadium oklusi (0%).

5.1.7. Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Sisi Telinga yang Terkena OMA

Perbandingan distribusi frekuensi pasien OMA berdasarkan sisi telinga yang terkena OMA di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada tabel 5.5 dibawah..

Tabel 5.5. Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Sisi Telinga yang terkena OMA di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2014 dan 2015.

Tahun 2014

Sisi yang Terkena Frekuensi (n) Persen (%)

Kanan 40 28.2

Kiri 58 40.8

Bilateral 44 31.0

Jumlah 142 100

Tahun 2015

Sisi yang Terkena Frekuensi (n) Persen (%)

Kanan 19 38.8

Kiri 25 51.0

Bilateral 5 10.2

Jumlah 49 100

Pada tahun 2014, diperoleh proporsi sisi telinga yang terkena OMA lebih tinggi pada unilateral (kiri) (40.8%), sedangkan diperoleh proporsi lebih rendah pada unilateral (kanan) (28.2%). Hal ini sama dengan tahun 2015 yaitu diperoleh proporsi sisi telinga yang terkena OMA lebih tinggi pada unilateral (kiri) (51%), sedangkan diperoleh proporsi lebih rendah pada bilateral (38.8%).

5.1.8.Perbandingan distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Terapi Perbandingan distribusi frekuensi pasien OMA berdasarkan terapi di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada tabel 5.6 dibawah.

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Terapi di RSUP

Pada tahun 2014, diperoleh terapi OMA yang paling tinggi adalah pemberian antibiotik (88%), sedangkan diperoleh proporsi lebih rendah pada timpanosintesis (0%). Hal ini sama dengan tahun 2015 yaitu paling tinggi adalah pemberian antibiotik (83.7%) dan yang paling rendah adalah timpanosintesis (0%).

5.2. Pembahasan

5.2.1. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Usia Dari hasil penelitian yang ditemukan, diketahui bahwa dari 191 pasien OMA, proporsi yang tertinggi terdapat pada usia 51-60 tahun yaitu sebanyak 25 orang (16.9%) pada tahun 2014 dan pada usia 1-10 tahun sebanyak 16 orang (32.7%) pada tahun 2015. Proporsi terendah terdapat pada usia 21-30 tahun yaitu sebanyak 15 orang (10.6%) pada tahun 2014 dan pada usia 41-50 tahun sebanyak 1 orang (2%) pada tahun 2015. Menurut penelitian yang dilakukan di poliklinik THT-KL BLU RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado dari tahun 2012-2013 menyatakan bahwa bayi dan anak anak lebih sering terkena OMA berbanding dewasa.6 Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Osazuwa pada tahun 2011 yang juga mengatakan bahawa OMA sering terjadi pada anak anak berbanding orang dewasa yaitu 81.4%.23

Anak-anak lebih sering menderita OMA kerana tuba Eustachiusnya lebih pendek, lebar dan letaknya lebih horizontal. Menurut Worral 2007, OMA merupakan infeksi yang sering terjadi pada anak-anak dan mulai hilang setelah usia 5 tahun. Demam yang merupakan tanda inflamasi dan infeksi sering tidak muncul pada neonatus dan bayi, sehingga bayi tersebut sering dianggap tidak menderita OMA. Pada anak yang lebih tua, keluhan tambahan lain yang dialami seorang anak juga dilaporkan muncul, seperti sakit kepala, hipoaktif, batuk, rhinitis, gangguan pencernaan dan kongesti sinus, sehingga tanda dan gejala klinis ini tidak spesifik untuk OMA, bahkan sering disalah artikan sebagai tanda dan gejala penyakit lain.19

5.2.2. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian, diperoleh proporsi lebih besar pada jenis kelamin perempuan sebanyak 80 orang (56.3%) pada tahun 2014 dan 26 orang (53.1%) pada tahun 2015, sedangkan proporsi lebih kecil terdapat pada laki-laki sebanyak 62 orang (43.7%) pada tahun 2014 dan 23 orang (46.9%) pada tahun 2015. Pada penelitian yang dilakukan di poliklinik THT-KL BLU RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado dari tahun 2012 hingga 2013 menyatakan bahwa pasien perempuan lebih banyak menderita OMA berbanding laki-laki.6 Dari 20 subjek penelitian tersebut, terdapat 11 pasien perempuan (55%) dan 9 pasien laki laki (45%). Dari beberapa penelitian yang dilakukan sebelum ini, tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dan insiden terjadinya OMA.

5.2.3. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Gejala Klinis

Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa gejala klinis yang paling banyak diderita pasien OMA pada tahun 2014 adalah keluar cairan dari telinga sebanyak 90 orang (63.4%), diikuti nyeri telinga 67 orang (47.2%), rasa penuh pada telinga 25 orang (17.6%), pendengaran menurun 18 orang (12.7%) dan demam sebanyak

orang (98%), diikuti nyeri telinga 26 orang (53.1%), rasa penuh pada telinga 26 orang (53.1%), pendengaran menurun 21 orang (42.9%) dan demam sebanyak 2 orang (4.1%). Menurut Djaafar 2015, kebanyakan pasien OMA yang hanya mengalami gejala nyeri telinga lebih memilih untuk berobat ke klinik terdekat atau membeli obat sendiri di apotek. Ketika pasien mengalami gejala lain berupa keluarnya cairan yang berulang dari telinga, pasien merasa cemas dan datang ke rumah sakit. Hal ini menyebabkan proporsi keluhan keluarnya cairan dari telinga lebih tinggi daripada gejala yang lain. Adanya cairan keluar dari telinga disebabkan oleh rupturnya membran timpani sehingga sekret berupa nanah mengalir ke liang telinga luar.18

5.2.4. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Stadium OMA

Dari hasil penelitian, diketahui proporsi tertinggi pasien OMA berdasarkan stadium OMA pada tahun 2014 adalah stadium perforasi sebanyak 76 orang (53.5%) dan yang terendah adalah stadium oklusi sebanyak 1 orang (7%) manakala pada tahun 2015 stadium perforasi sebanyak 43 orang (87.8%) dan yang terendah adalah stadium supuratif sebanyak 2 orang (4.1%). Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Untuk stadium oklusi tuba, gejala klinis yang timbul berupa retraksi membran timpani tetapi membran timpani kadang-kadang tetap normal dan tidak ada kelainan atau hanya berwarna keruh pucat. Selain itu, pada stadium ini belum timbul gejala klinis berupa demam. Menurut penelitian yang dilakukan di instalasi rawat jalan poliklinik THT Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2009 menyatakan bahwa stadium perforasi adalah paling tinggi yaitu 66.3%. Tingginya proporsi pasien OMA pada stadium perforasi dibandingkan dengan stadium lainnya disebabkan pada stadium tersebut pasien merasa cemas dan datang ke rumah sakit karena mengalami gejala keluarnya cairan yang berulang dari telinga.27

5.2.5. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Sisi Telinga yang terkena OMA

Pada penelitian ini, menunjukkan proporsi sisi telinga yang terkena OMA lebih tinggi pada unilateral (kiri) yaitu 58 orang (40.8%), sedangkan diperoleh proporsi lebih rendah pada unilateral (kanan) yaitu 40 orang (28.2%) pada tahun 2014. Proporsi sisi telinga yang terkena OMA pada tahun 2015 lebih tinggi pada unilateral (kiri) yaitu 25 orang (51.0%), sedangkan diperoleh proporsi lebih rendah pada bilateral yaitu 5 orang (10.2%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Titisari (2005) di Departemen THT FKUI RSCM & poli THT RSAB Harapan Kita bahwa proporsi tertinggi adalah unilateral sebesar 79,1%, sedangkan pada bilateral hanya (10)%. Namun dari penelitian terdahulu tidak disebutkan penyebab proporsi unilateral lebih tinggi daripada bilateral. 26

5.2.6. Perbandingan Distribusi Frekuensi Pasien OMA Berdasarkan Terapi OMA

Pada penelitian ini menunjukkan semua pasien yang mengalami OMA diterapi dengan menggunakan antibiotik. Pengobatan OMA biasanya tergantung pada stadium penyakitnya. Pada penelitian ini terapi yang paling tinggi digunakan adalah terapi antibiotik yaitu sebanyak 125 orang (88%) pada tahun 2014 dan 41 orang (83.7%) pada tahun 2015. Terapi yang paling sedikit digunakan dalam penelitian ini adalah terapi adenoidektomi yaitu 6 orang (4.2%) pada tahun 2014 dan 3 orang (6.1%) pada tahun 2015. Menurut Djaafar 2015, penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakit yaitu:

1. Stadium Oklusi : diberikan obat tetes hidung HCL efedrin 0,5%, dan pemberian antibiotik.

2. Stadium Presupurasi : analgetika, antibiotika (biasanya golongan ampicillin atau penisilin) dan obat tetes hidung.

3. Stadium Supurasi : diberikan antibiotika dan obat-obat simptomatik. Dapat juga dilakukan miringotomi bila membran timpani menonjol dan masih utuh untuk mencegah perforasi.

4. Stadium Perforasi : Diberikan H2O2 3% selama 3-5 hari dan diberikan antibiotika yang adekuat.

Pemberian obat merupakan pendekatan pertama dalam terapi OMA, terapi pembedahan perlu dipertimbangkan pada anak dengan OMA rekuren, otitis media efusi (OME), atau komplikasi supuratif seperti mastoiditis dengan osteitis.

Beberapa terapi bedah yang digunakan untuk penatalaksanaan OMA termasuk timpanosintesis, miringotomi, dan adenoidektomi. Miringotomi adalah tindakan insisi pada pars tensa membrane timpani agar terjadi drenase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar.timapanosintesis berarti pungsi pada membran timpani untuk mendapatkan sekret guna pemeriksaan mikrobiologik.18

BAB 6

Dokumen terkait