• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

Dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap responden, diperoleh hasil yang berkaitan dengan Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin Terhadap Sesama Jenis.

1. Proses Perkembangan Terbentuknya Daya Tarik Interpersonal Penyuka Sesama Jenis

60

Daya tarik interpersonal berkaitan dengan hubungan antar pribadi yang mencakup bagaimana terjadinya suatu hubungan interpersonal.

Mulai dari daya tarik interpersonal, faktor–faktor yang mempengaruhi, aspek yang menentukan bagaimana hubungan akhirnya terjalin pada saat awal SMP di salah satu SMP Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Proses perkembangan mulainya menyukai seseorang biasanya dimulai dari perjumpaan awal kemudian adanya perhatian yang sering terfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang tercipta dari daya tarik awal menjadi hubungan yang lebih akrab. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Dulu waktu kecil aku bermain teman–temanku baik sesama jenis maupun lawan jenis, tetapi seringnya bermain dengan teman laki–laki dan aku perempuan sendiri. Aku pernah bermain sepakbola dengan tetanggaku. Aku menyadari diriku memiliki karakter kelaki–lakian itu semenjak SD kelas 3. Aku lebih memilih pakai celana panjang jeans dan kaos dibandingkan baju perempuan. Aku juga mengetahui bahwa dahulu waktu aku di dalam kandungan, orangtua menginginkan anak laki–laki, namun yang lahir adalah anak perempuan yaitu aku. Ketika aku sudah masuk SMP setelah sudah mengalami pubertas, aku mulai tertarik dengan teman sekelasku. Lalu kami berdua dekat dan berpacaran, namun kami tidak bertahan lama dalam hubungan pacaran kemudian putus awal kelas VIII. Lalu aku bertemu dengan kakak ini, kemudian ia memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepadaku.

Hal ini yang dulunya pernah hilang, aku mendapatkan kembali melalui kakak ini. Ketika aku kelas 6 SD bapak ibuku cerai dan aku tinggal bersama dengan nenek dari ibuku dan aku sudah tidak mendapatkan kasih sayang lagi. (N/ PP-1, 009-011; 012-013; 016-018; 020-023; 027-033; 043-047).

61

Pada saat masa kecil ia lebih sering bermain dengan laki–laki serta adanya kondisi perceraian keluarga yang menyebabkan ia kehilangan perhatian dan kasih sayang. Responden mencari perhatian dan kasih sayang kepada orang lain yang bisa membuatnya lebih nyaman.

Kemudian respoden mulai menyadari bahwa ia menyukai sesama jenis.

Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Bulan Desember aku sedang marahan dengan Tutik. Jadi aku sama dia tidak ada komunikasi sama sekali karena ada sesuatu yang kenyamanan dengan laki–laki yang mendekatiku. Kemudian aku kembali dekat dengan Tutik, dan merasakan kenyamanan dari sinilah aku menganggap diriku menyukai Tutik. Aku mendapatkan kasih sayang, perhatian dan memenuhi kebutuhan di saat orangtuaku tidak bisa memberikan keinginan yang aku butuhkan”. (N/ PP-2, 081-083; 083-085).

Adanya suatu konflik membuat dia tidak ada komunikasi dengan Tutik. Mencoba dekat dengan lawan jenis tetapi tidak merasakan kenyamanan. Namun akhrirnya Tutik menghubungi dia lagi. Sejak itulah dia merasakan kenyamanan yang lebih dan menganggap dia sudah menyukai sesama jenis. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Aku mulai menyadari jika menyukai sesama jenis ketika bulan Februari 2021. Aku dekat dengan kakak ini sudah lama, waktu kelas VIII.

62

Keluarga aku juga kenal dia dan tahu kalau kami dekat. Kakak yang mengurusi aku dan kebutuhan aku. Bahkan aku selalu curhat tentang masalah aku ke Tutik. Terus Tutik juga memperlakukan aku baik dari aku SMP sampai sekarang”. (N/ PP-3, 096-097).

Responden menyadari bahwa si kasus mulai menyukai sesama jenis sejak duduk dibangku SMP. Hal ini dikarenakan semua kebutuhan si kasus selalu dipenuhi oleh Tutik serta diperlakukan dengan baik oleh Tutik. Responden juga menunjukan sikap cemburunya dengan Tutik. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Ya cemburu takut Tutik kenal dengan orang yang baru dikenal terus ninggalin aku dan lupa sama aku. Waktu aku tidak ada komunikasi dengan kakak sebenarnya aku tuh marah dengan pasangannya dia. Jadi waktu aku main ke rumah kakak, aku membuka dan membaca pesan dari pasanganya ada salah satu pesan yang isinya mengenai, kalau dia tidak suka kalau Tutik memperbolehkan orang lain untuk masuk ke kamarnya.

Mulai dari sini aku marah dengan pasangan Tutik”. (N/ PP-4, 115-139).

Rasa cemburu yang dirasakan responden terhadap Tutik dikarenakan takut jika berkenalan dengan orang baru Tutik akan meninggalkan serta melupakan dia. Ada hal yang membuat responden cemburu terhadap Tutik. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Banyak hal, misalnya adanya orang yang baru kenal terus mendekati Tutik aku cemburu. Kami berdua juga sudah sepakat tidak boleh dekat dengan orang lain yang baru dikenal selain orang yang sudah dikenal. Komunikasi dengan orang lain/baru melalui media sosial.” (N/ PP-5, 142-146;149-150).

Responden mengungkapkan merasa takut ditinggalkan oleh Tutik karena responden merasa takut keburukkan dan rahasia yang pernah

63

dilakukan akan terbongkar. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Iya aku takut ditinggalkan oleh Tutik, karena jika aku sudah tidak bersama lagi dengan Tutik maka keburukkanku, dan rahasiaku yang diketahuinya akan terbongkar. Oleh sebab itu, aku merasa takut jika sudah tidak bersama lagi.” (N/PP-6, 154;154-159).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa proses perkembangan terbentuknya keinginan/kecenderungan pereferensial seksual menyukai sesama jenis responden berawal dari perhatian Tutik kepada responden, kondisi perceraian kedua orangtuanya yang dialami pada saat responden masih SD, adanya rasa cemburuan yang dialaminya dan merasa takut kehilangan pasangannya.

64

Gambar X.X. Visualisasi Proses Perkembangan Terbentuknya Daya Tarik Interpersonal Penyuka Sesama Jenis

2. Pandangan Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin terhadap Sesama Jenis

Perempuan yang memiliki penampilan yang tidak terlalu feminim dan cenderung sedikit mengarah kepada maskulin. Sering digambarkan memiliki kesan yang lebih feminim dalam cara berpakaian dan potongan rambutnya. Secara emosional dan fisik tidak mengesankan bahwa Perjumpaan awal

65

mereka adalah pribadi yang kuat atau tangguh. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Sebelum aku tertarik dengan Tutik, dahulu aku melihat dia biasa saja. Karena aku masih menyukai laki–laki. Namun seiringnya berjalannya waktu aku mulai dekat dengan Tutik dan merasakan hal yang dahulu pernah hilang kembali lagi setelah mengenal Tutik. Aku mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, dan selalu ada jika aku membutuhkan untuk menemani”. (N/ PD-1, 155-157; 158-168; 171-177).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa daya tarik interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis menurut responden perempuan yang mengarah kepada maskulin secara emosional dan fisik tidak mengesankan pribadi yang kuat atau tangguh, dan seiring berjalannya waktu responden mulai dekat dan merasakan hal yang dahulu pernah hilang kembali lagi setelah mengenal Tutik.

Gambar X.X. Visualisasi Pandangan Daya Tarik Interpersonal Siswi

Maskulin terhadap Sesama Jenis

Pandangan interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis

Perempuan yang mengarah kepada maskulin secara emosional dan fisik tidak mengesankan pribadi yang kuat atau tangguh

Seiring berjalannya waktu responden mulai dekat dengan Tutik dan merasakan hal yang dahulu perna hilang kembali

lagi setelah mengenal Tutik

66

3. Faktor yang Mempengaruhi Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin Menjadi Penyuka Sesama Jenis.

Pangkahila (2000) mengemukakan faktor–faktor penyebab daya tarik interpersonal penyuka sesama jenis antara lain: Faktor biologis, yaitu adanya kelainan di otak atau genetik.

a. Faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan dalam perkembangan psikoseksial pada masa kanak–kanak.

b. Faktor sosiokultural, yaitu faktor adat istiadat yang memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan tertentu yang tidak benar.

c. Faktor lingkungan, yaitu keadan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat. Contohnya, seorang perempuan mengalami kegagalan pacaran berkali–kali dengan lawan jenis

Dari penjelasan diatas bahwa faktor–faktor penyebab daya tarik interpersonal penyuka sesama jenis adalah faktor bilogis, psikodimanik, sosialkultural dan lingkungan. Hal ini juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh responden sebagai berikut:

“Aku mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, selalu ada jika aku membutuhkan orang lain untuk menemani aku, dan juga memenuhi kebutuhan yang kuinginkan menjadi terpenuhi. Semua aku dapatkan dari kakak ini bukan dari keluarga” (N/ FM-1, 171-177).

Kasih sayang, perhatian yang tulus dan selalu ada jika responden membutuhkan menyebabkan reponden lebih merasa nyaman terhadap pasanganya yang sesama jenis dibandingkan dengan lawan jenis. Hal ini

67

dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Tidak mengalami trauma dengan laki–laki sebenarnya, tetapi aku tidak mendapatkan kenyamanan, kasih sayang dan perhatian dari laki–laki”. (N/ FM-2, 180-183).

Responden tidak mengalami trauma dengan laki–laki melainkan tidak merasakan kenyamanan terhadap laki–laki. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Bisa dibilang begitu. Tapi memang kebetulan aku mendapatkan kebutuhan yang tidak ada dalam keluarga dan kebutuhan tersebut dipenuhi oleh Tutik”. (N/ FM-3, 188-191).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi interpersonal siswi maskulin menjadi menyukai sesama jenis yaitu penyebabnya responden mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, Tutik selalu ada jika responden membutuhkannya.

Hal seperti ini tidak didapatkan dari keluarga responden. Responden merasa tidak mengalami trauma pada saat menjalin hubungan dengan laki–laki karena responden hanya tidak merasakan kenyamanan, kasih sayang ketika dekat dengan laki–laki.

68

Gambar X.X. Visualisasi Faktor yang Mempengaruhi Daya Tarik

Interpersonal Siswi Maskulin menjadi Penyuka Sesama Jenis

4. Peran Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin dalam Menjalin Relasi dengan Sesama Jenis

Peran interpersonal siswa maskulin dalam menjalin relasi dengan sesama jenis adalah menjalankan kesamaan pandangan atau sama–sama setuju mengenai peran yang akan dipenuhi masing–masing pihak. Ada yang berperan sebagai laki–laki dan ada yang berperan sebagai perempuan. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai beriku:

“Peran yang aku jalani bersikap seperti laki–laki. Bergaya dan berpakian laki–laki, namun rambutku tetap panjang”. (N/ PI-1, 195-198).

Faktor yang mempengaruhi interpersonal siswi maskulin menjadi menyukai sesama jenis

Tidak mengalami trauma pada saat menjalin hubungan dengan laki–laki Faktor penyebab responden

menyukai sesama jenis

Responden mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, Tutik

selalu ada jika responden membutuhkannya. Hal seperti ini

tidak didapatkan dari keluarga responden

Responden hanya tidak merasakan kenyamanan, kasih sayang ketika dekat

dengan laki–laki

69

Adanya peran yang dijalankan masing–masing pihak layaknya seperti orang–orang yang menyukai lawan jenis. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai beriku:

“Pada saat ini relasi kami semakin dekat lagi setelah bertengkar, tidak komunikasi selama kurang lebih dari dua bulan. Relasi kami berdua pada saat ini seperti memperbaiki hubungan yang telah rusak dan sekarang menjadi lebih baik dari sebelumnya”. Komitment yang kami buat yaitu tidak ada orang baru atau orang lain menjadi pihak ketiga kami, dan selalu berkata dan bersikap jujur” (N/ PI-2, 204-210;

N/PI-3, 213-216).

Pertengakaran yang sempat terjadi antara responden dengan pasanganya membuat hubungan mereka semakin membaik. Tidak ada orang baru atau pihak ketiga menjadi komitmen responden dengan pasangannya.

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa peran interpersonal siswi maskulin dalam menjalin relasi dengan sesama jenis yaitu responden berperan sebagai androgyn yang bersikap seperti laki–

laki, bergaya dan berpakaian seperti laki–laki. Untuk relasi hubungan semakin dekat, setelah responden dengan pasangannya bertengkar.

Mereka melakukan komitmen untuk tidak ada orang lain sebagai pihak ketiga. Komitmen yang dibuat membuat hubungan mereka semakin kuat.

70

Gambar X.X. Visualisasi Peran Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin dalam Menjalin Relasi dengan Sesama Jenis

5. Bentuk Orientasi Daya Tarik Interpersonal Seksual Siswi Maskulin terhadap Sesama Jenis

Bentuk orientasi daya tarik interpersonal seksual siswi maskulin terhadap sesama jenis baik secara emosional. Hal ini terlihat dalam wawancara dengan responden sebagai berikut:

“Keterikatan dengan pasangan secara emosional, tidak mau pasangan aku dekat dengan orang lain atau kenal dengan orang yang baru dikenal, ketika membalas respon percakapan lama maka aku akan marah. Hal itu adalah ungkapan sayangku kepada pasanganku jika aku peduli dan sayang takut akan kehilangan dirinya”. (N/ BO-1, 215-222).

Keterikatan secara emosional antara si kasus dan pasangan cukup kuat. Hal ini terbukti dari munculnya rasa cemburu dan sayang.

Responden akan merasa marah jika keinginannya tidak bisa terpenuhi Responden bersikap seperti laki–laki

bergaya dan berpakaian seperti laki–laki

Adanya komitmen antara responden dengan pasanganya untuk tidak ada orang lain

sebagai pihak ketiga. Komitmen yang dibuat membuat hubungan mereka semakin

kuat

Peran Interpersonal Siswi Maskulin dalam menjalin relasi dengan sesama Jenis

Peran yang dijalani sebagai androgyn Relasi hubungan semakin dekat, setelah responden dengan pasanganya bertengkar.

71

oleh pasangannya. Hal ini dapat dilihat dari wancara dengan si kasus sebagai berikut:

“Keterikatan secara seksual dengan pasanganku dengan berpelukan, kadang aku teringat dan kangen dipeluk dengan pasanganku. Jika aku kangen atau rindu dengan pasangan aku namun pasangan aku sedang sibuk tidak bisa bertemu maka aku akan marah dan ngambek agar pasangan aku dapat bertemu dengan aku”. (N/ BO-2, 225-232).

Ketertarikan secara seksual si kasus merasa akan lebih nyaman dengan berpelukan. Jika tidak terpenuhi si kasus akan marah kepada pasanganya. Si kasus merasa jika bertemu dengan pasangannya akan lebih bergaira. Hal ini terbukti dari wawancara dengan si kasus.

“Iya pasti penuh gairah dan semangat, karena bertemu dengan pasangan sendiri berbeda jika bertemu dengan orang lain dan teman.

Walaupun jaraknya jauh namun masih satu kota masih ada rasa semangat dan usaha untuk bertemu dengan pasangan. Semakin sering kita bertemu maka untuk mempertahankan hubungan semakin kuat” (N/

BO-3, 235-243).

Si kasus merasa bertambahnya gairah jika bertemu dengan pasangannya dibandingkan bertemu dengan orang lain. Jika kebutuhan si kasus tidak dapat terpenuhi, si kasus akan tetap memaksa. Hal ini terbukti dari wawancara dengan si kasus sebagai berikut:

“Tidak mau pulang ke rumah, masih ingin bersama–sama dan memaksa untuk menginap atau tinggal di rumah pasangan aku agar bisa tetap bersama–sama. Jika tidak dibolehin untuk menginap di rumahnnya maka aku membuat perjanjian atau permintaan yang harus dituruti” (N/

BO-4, 248-255).

Si kasus akan memaksa kepada pasanganya jika ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Dan bahkan menginap agar tetap bisa bersama–

72

sama. Namun si kasus belum memiliki fantasi tentang hubungan seksual.

Hal ini terbukti dari hasil wawancara sebagai berikut:

“Tidak pernah berfikir sampai ke situ. Fantasi intim yang pernah ku lakukan hanya sebatas berpelukan dan cium kening dan pipi saja”(N/

BO-5, 259-262).

Si kasus tidak penah berfikir mengenai fantasi hubungan intim.

Hanya sebatas berpelukan dan mencium kening serta pipi. Hubungan intim si kasus dengan pasanganya belum terlalu jauh. Hal ini terbukti dari hasil wawancara dengan si kasus sebagai berikut:

“Pernah tidur bersama di satu ranjang namun tidak melakukan apa-apa karena hanya tidur saja. Pernah berpelukan dan cium pipi dan kening saja, hanya sebatas itu seperti pasangan yang berpacaran pada umumnya” (N/ BO-6, 265-270).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa bentuk orientasi seksual interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis yaitu bentuk orientasi secara emosional, keterikatan secara seksual, fantasi tentang hubungan seksual. Bentuk orientasi secara emosional,si kasus tidak ingin pasangannya dekat dengan orang lain. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang terhadap pasangannya. Keterikatan secara seksual si kasus dan pasangannya melakukan berpelukkan, cium kening, dan pipi. Jika keinginan si kasus tidak dipernuhi maka si kasus akan kesal. Fantasi tentang hubungan seksual si kasus dan pasangannya hanya berpelukan, cium kening dan pipi saja.

73

Gambar X.X. Visualisasi Bentuk Orientasi Daya Tarik Interpersonal Seksual Siswi Maskulin terhadap Sesama Jenis Baik Secara Emosional

6. Dampak dari LGBT yang dirasakan Selama Berinteraksi dengan Orang Lain.

Dampak dari LGBT tidak hanya dari segi lingkungan tetapi juga keluarga. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan si kasus dalam wawancara sebagai berikut:

“Orangtua dan keluarga aku mengetahui kedekatan kami berdua, namun mereka tidak mengetahui bahwa kami berdua mempunyai rasa cemburu satu sama lain dan aku menyukai kakak ini.

Ketika aku pergi keluar dan lupa untuk berpamitan dengan nenek, nenekku mencariku dengan menghubungi kakak ini disaat handphone ku mati dan susah di hubungi. (N/ DD-1, 219-228).

Keluarga si kasus mengetahui kedekatan si kasus dengan pasangannya hanya sebatas pertemanan, tetapi tidak mengetahui bahwa si kasus menyukai pasanganya. Relasi yang sangat dekat dengan

74

keluarga si kasus terlihat ketika si kasus sulit dihubungi kemudian menelpon Tutik tersebut. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan si kasus dalam wawancara sebagai berikut:

“Untuk relasi aku dengan keluarga biasa saja dan baik–baik saja. Walaupun sudah pisah rumah dengan bapak, tetapi bapak tidak lepas tanggung jawab untuk menafkahi keluarga walaupun sekarang sedang susah ekonomi”. (N/ DD-2, 231-236).

Relasi si kasus dengan keluarga baik-baik saja meskipun saat ini si kasus berpisah dengan bapaknya. Dan tanggungjawab bapak si kasus terhadapnya tetap dilaksanakan. Si kasus juga menjalani intrekasi dengan orang lain seperti teman, tetangga.

“Biasa saja sebenarnya, karena mereka tidak tahu dengan kedekatan kami berdua. Tapi tidak tahu dibelakangku seperti apa.

Sepertinya pada bicarain aku dengan kakak ini. Kalau di depanku aman–aman saja sampai saat ini”. (N/ DD-3, 240-245).

Interaksi antara si kasus dengan teman, tetangga biasa saja tetapi si kasus tidak mengetahui jika dibelakangnya. Si kasus merasa mereka membicarakan kedekatan si kasus dengan Tutik.

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa dampak dari LGBT yang dirasakan selama berinteraksi dengan orang lain yaitu keluarga si kasus tidak mengetahui kedekatan si kasus dengan pasangannya. Keluarga si kasus hanya mengetahui kedekatan si kasus dengan pasangannya hanya sebatas pertemanan biasa saja.

75

Gambar X.X. Visualisasi Dampak dari LBGT yang dirasakan Selama Berinteraksi dengan Sesama Jenis

7. Harapan Masa Depan yang Ingin diraih.

Harapan untuk bisa normal kembali terlihat dari penjelasan si kasus, sebagai berikut:

“Keinginan untuk berubah menuju kesana ada”. (N/ HM-1, 303-304).

Si kasus memilki keinginan untuk berubah dan kembali menyukai laki–laki. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan si kasus dalam wawancara sebagai berikut:

“Pasangan yang bisa menerima latarbelakang aku terlebih dahulu.pada saat ini hanya itu saja kemauan aku untuk bisa memiliki pasangan yang menerima apa adanya”. (N/ HM-2, 307-311).

Memiliki pasangan yang bisa menerima latar belakang si kasus adalah hal terpenting. Harapan untuk menjadi perempuan sejati dan terlepas dari Tutik terlihat dalam wawancara dengan si kasus sebagai berikut:

Dampak LGBT yang dirasakan selama berinteraksi dengan orang lain

Keluarga tidak mengetahui kedekatan responden dengan pasangannya

Keluarga responden hanya mengetahui kedekatan responden dengan pasanganya

hanya sebatas pertemanan biasa saja.

76

“Ada harapan yang ingin diraih dan dirubah yaitu menjadi perempuan sejati sesuai deratanya. Harapan aku bisa terlepas dari kakak ini, agar bisa kembali normal ke jalan yang benar, bisa bertanggung jawab dalam hal apapun, bisa diandalkan, dan bisa menjalin relasi baik dengan semua orang. (N/ HM-3, 314-316; HM-4, 319-324).

Si kasus ingin menjadi perempuan sejati dan bisa terlepas dari kakak. Supaya bisa bertanggungjawab, diandalkan dalam hal apapun, serta bisa menjalin relasi yang baik dengan semua orang.

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa harapan masa depan yang ingin diraih si kasus yaitu bisa kembali normal dan menyukai laki–laki, bisa menjadi perempuan sejati, dan bisa bertanggungjawab, bisa diandalkan serta bisa menjalin relasi dengan semua orang.

Gambar X.X. Visualisasi Harapan Masa Depan yang Ingin diraih Harapan masa depan yang ingin

diraih

Harapan untuk bisa kembali normal

Si kasus berharap bisa mejadi perempuan sejati dan bisa

77 D. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa si kasus memiliki ketertarikan dengan sesama jenis dan merasa lebih nyaman saat menjalani hubungan dengan sesama jenis dibandingkan dengan lawan jenis .

1. Proses Perkembangan Terbentuknya Daya Tarik Interpersonal Penyuka Sesama Jenis

Awal proses si kasus mulai menyadari dirinya mulai menyukai lawan jenis adalah ketika duduk dibangku SMP kelas VIII. Si kasus merasa menemukan kenyaman dengan Tutik karena selalu memberikan perhatian, kasih sayang semenjak kedua orangtuanya bercerai.

Adanya rasa suka si kasus kepada sesama jenis untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang yang tidak di dapatkan dari keluarganya dikarenakan keduan orangtuanya bercerai sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Kenyon (Widiastuti, 1998) mengemukakan 6 faktor

Adanya rasa suka si kasus kepada sesama jenis untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang yang tidak di dapatkan dari keluarganya dikarenakan keduan orangtuanya bercerai sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Kenyon (Widiastuti, 1998) mengemukakan 6 faktor

Dokumen terkait