BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA 2 MAN 2 Bojonegoro tahun ajaran 2011/2012. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah asam basa, dengan alokasi waktu pembelajaran 4 jam dalam satu minggu. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan menggunakan model experiental learning, dimana setiap siklus terdiri atas empat tahapan utama yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang berulang secara siklis. Setiap akhir kegiatan siklus, diadakan refleksi sehingga kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam setiap siklus dapat diperbaiki pada siklus selanjutnya. Setiap siklus dilengkapi dengan indikator pencapaian yaitu 85% peserta didik harus memiliki nilai . 70 dan tingkat pencapaian motivasi dengan skor minimal 60%. Secara rinci prosedur penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini meliputi:
a. Menentukan kompetensi dasar dan indikator dari setiap materi yang akan diajarkan
b. Membuat skenario pembelajaran setiap sub pokok bahasan berupa Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP) termasuk lembar kegiatan peserta didik
c. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar ketika diterapkan model pembelajaran experiental learning d. Membuat kuesioner/angket tanggapan peserta didik
e. Menyiapkan sumber belajar. f. Menyiapkan format evaluasi.
43 2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat untuk siklus I dan siklus II.
3. Observasi
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah observasi terhadap pelaksanaan tindakan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi aktivitas afektif dan psikomotorik peserta didik. Aspek afektif yang diamati meliputi memperhatikan penjelasan guru, kedisiplinan, kerjasama, tanggungjawab dan kemampuan menjawab pertanyaan. Sedangkan aspek psikomotorik yang diamati meliputi partisipasi melaksanakan observasi, bekerjasama dalam kelompok, bertanya dan berpendapat, membuat laporan observasi dan kemampuan menyimpulkan.
4. Refleksi
Dalam tahap ini merupakan kegiatan menganalisa, mensintesa dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran yang berlangsung pada tiap siklus, dan diadakan ulangan harian untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep kimia materi asam basa. Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis supaya diketahui kelemahan-kelemahannya untuk diperbaiki pada siklus selanjutnya. Secara ringkas, alur penelitian ini digambarkan pada Gambar 4.1 berikut ini:
Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Tindakan Observasi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Tindakan Observasi ?
Gambar 4.1. Alur Penelitian Tindakan Kelas SIKLUS I
44 Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama satu bulan mulai tanggal 19 Maret – 14 April 2012 sebanyak 8x pertemuan dengan alokasi waktu tiap pertemuannya 4 x 45 menit. Adapun uraian pokok materi yang disampaikan pada tiap-tiap pertemuan disajikan pada Tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1. Uraian Pokok Materi Tiap Pertemuan Pertemuan Waktu Materi
1 2 x 45 menit Pretest
2 2 x 45 menit Teori asam basa 3 2 x 45 menit Indikator asam basa 4 2 x 45 menit Tes siklus I
5 2 x 45 menit Konsep pH dan pengukurannya
6 2 x 45 menit Reaksi penetralan asam basa dan penghitungan pH 7 2 x 45 menit Tes siklus II
8 2 x 45 menit Posttest
Proses pembelajaran experiental learning selengkapnya dapat dilihat pada RPP yang terlampir dalam Lampiran 4 dan 5. Sedangkan instrumen yang dijadikan evaluasi pada penelitian ini disajikan dalam Lampiran 19 dan 23.
1. Analisis Data hasil penelitian
Data yang diperoleh dari setiap faktor yang diselidiki, dianalisis secara deskriptif analitis dalam bentuk presentase, rata-rata skor pada setiap siklus yang selanjutnya dibahas sesuai tujuan penelitian yang dirumuskan.
a. Penguasaan konsep peserta didik
Hasil tes penguasaan konsep peserta didik diperoleh dari nilai pretest, tes akhir tiap siklus dan posttes. Pretest digunakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum mendapat perlakuan dengan menggunakan model experiental learning. Soal pretest ini berbentuk pilihan ganda berjumlah 30 soal dengan lima pilihan jawaban. Data hasil pretest ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut ini:
45 Tabel 4.2. Data Hasil Tes Penguasaan Konsep Peserta Didik (Pretest)
No. Keterangan Pretest
1. Nilai Tertinggi 63
2. Nilai Terendah 30
3. Rata-rata 51,36
4. % Ketuntasan Klasikal 0,00 %
5. Kategori Kurang
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, nilai rata-rata peserta didik pada saat sebelum diadakannya pembelajaran dengan experiental learning sebesar 51,36 dengan kategori kurang. Nilai tertinggi yang didapatkan peserta didik yaitu 63, sedangkan nilai terendahnya 30. Nilai yang didapatkan masih jauh di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah yaitu sebesar 70. Sehingga presentase ketuntasan minimal pada saat pretest ini masih 0,00%. Data hasil pretest selengkapnya disajikan pada Lampiran 10. Setelah diadakan pretest, dilaksanakan pembelajaran experiental learning selama dua siklus. Data hasil tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus I dan II maasing-masing digambarkan pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 berikut ini:
Tabel 4.3 Data hasil Tes Penguasaan Konsep Kimia Peserta Didik Siklus I
No. Keterangan Siklus I
1. Nilai Tertinggi 92
2. Nilai Terendah 59
3. Rata-rata 76,95
4. % Ketuntasan Klasikal 81,82%
46 Tabel 4.4 Data hasil Tes Penguasaan Konsep Kimia Peserta Didik Siklus II
No. Keterangan Siklus II
1. Nilai Tertinggi 98
2. Nilai Terendah 68
3. Rata-rata 83,13
4. % Ketuntasan Klasikal 95,45%
5. Kategori Baik sekali
Dari Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 diatas, diketahui bahwa nilai rata-rata peserta didik mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dari data hasil tes penguasaan konsep kimia peserta didik dengan nilai rata-rata sebesar 76,95 pada siklus I menjadi 83,13 pada siklus II. Presentase ketuntasan belajar peserta didik juga meningkat dari 81,82% pada Siklus I menjadi 95,45% pada Siklus II. Untuk lebih jelasnya, rekapitulasi hasil tes penguasaan konsep Kimia peserta didik pada siklus I dan II selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 26 dan 27. Sedangkan untuk melihat ada tidaknya peningkatan penguasaan konsep Kimia peserta didik setelah mendapat perlakuan dengan menggunakan model experiental learning digunakan posttest. Data hasil posttest selengkapnya disajikan pada Lampiran 12. Deskripsi Data hasil tes penguasaan konsep Kimia peserta didik pada saat posttest digambarkan pada Tabel 4.5 di bawah ini:
Tabel 4.5. Data Hasil Tes Penguasaan Konsep Peserta Didik (Posttest)
No. Keterangan Posttest
1. Nilai Tertinggi 97
2. Nilai Terendah 70
3. Rata-rata 86,52
4. % Ketuntasan Klasikal 100 %
5. Kategori Baik sekali
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, nilai rata-rata peserta didik pada saat posttest sebesar 86,52 dengan kategori baik sekali. Nilai tertinggi yang didapatkan peserta
47 didik yaitu 97, sedangkan nilai terendahnya 70. Presentase ketuntasan belajarnya sebesar 100%.
b. Ketuntasan belajar peserta didik
Kriteria Ketuntasan Minimal merupakan kriteria yang diberlakukan oleh sekolah untuk menyatakan apakah peserta didik tersebut lulus atau tidak pada satu mata pelajaran. KKM pada mata pelajaran Kimia di MAN 2 Bojonegoro yang menjadi tempat penelitian adalah 70. Jumlah peserta didik yang menjadi objek penelitian berjumlah 44. Peserta didik yang tuntas pada pembelajaran dengan model experiental learning dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 4.6. Presentase Ketuntasan Penguasaan Konsep Kimia Peserta Didik Sebelum dan Setelah diterapkan Experiental Learning
Keterangan Tidak Tuntas Tuntas
Pretest Jumlah peserta didik 44 0 Presentase 100% 0,00% Siklus 1 Jumlah peserta didik 8 36
Presentase 18,18% 81,82%
Siklus II Jumlah peserta didik 2 42
Presentase 4,55% 95,45%
Postest Jumlah peserta didik 0 44
Presentase 0% 100%
Berdasarkan Tabel 4.6 diatas, dapat diketahui bahwa rata-rata ketuntasan belajar peserta didik setelah diterapkannya experiental learning sebesar 82,20. Jumlah peserta didik yang tuntas selalu mengalami kenaikan setiap siklusnya. Pada Siklus I jumlah peserta didik yang tuntas berjumlah 36. Sedangkan 8 orang masih dibawah nilai KKM. Sedangkan pada Siklus II Jumlah peserta didik yang tuntas adalah 42 orang, sedangkan yang belum tuntas 2 orang peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model experiental learning dapat meningkatkan penguasaan konsep peserta didik pada mata pelajaran Kimia materi asam basa.
48 c. Angket Motivasi Peserta Didik
Angket peserta didik digunakan untuk mengetahui motivasi peserta didik terhadap pembelajaran experiental learning sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan konsep peserta didik pada materi asam basa kelas XI. Pengisian angket dilakukan pada akhir pembelajaran tiap akhir siklus oleh semua objek penelitian sebanyak 44 orang. Angket yang digunakan adalah angket skala Likert dengan memilih 5 jawaban yaitu Sangat Setuju Sekali (SSS), Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (S). Indikator yang digunakan meliputi empat macam yaitu Attention (Perhatian), Relevance (Relevansi), Confidence (keyakinan/rasa percaya diri siswa), dan Satisfaction (Kepuasan). Kisi-kisi dan bentuk angket motivasi peserta didik dapat dilihat pada Lampiran 37 dan Lampiran 38. Sedangkan perhitungan angket motivasi peserta didik Siklus I dan Siklus II selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 39 dan Lampiran 40. Berdasarkan hasil rekapitulasi tersebut diketahui jumlah skor perhitungan pada Siklus I sebesar 4217 dengan nilai rata-rata 63,695. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan dengan jumlah skor 4928, dengan nilai rata-rata sebesar 74,67. Dengan demikian motivasi peserta didik selalu mengalami peningkatan tiap siklusnya.
Adapun deskripsi jumlah skor tiap-tiap indikatornya pada Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 di bawah ini:
Tabel 4.7. Persentase Tiap Indikator Angket Motivasi Peserta Didik Siklus I
Indikator No. Item Jumlah Skor %
Perhatian 1,3,5,12,14,18,24,27 1149 65,28 Relevansi 4,6,8,10,23,26 1320 65,91 Percaya diri 7,9,11,16,20,22,25,29 966 54,89 Kepuasan 2,13,15,17,19,21,28,30 1232 70,00 Jumlah 4217 Rata-rata 63,89
49 Tabel 4.8.Persentase Tiap Indikator Angket Motivasi Peserta Didik Siklus II
Indikator No. Item Jumlah Skor %
Perhatian 1,3,5,12,14,18,24,27 1334 75,79% Relevansi 4,6,8,10,23,26 955 72,35% Percaya diri 7,9,11,16,20,22,25,29 1248 70,91% Kepuasan 2,13,15,17,19,21,28,30 1391 79,03% Jumlah 4928 Rata-rata 74,67
Berdasarkan Tabel 4.7 dan 4.8 diatas diketahui bahwa motivasi peserta didik selalu mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan jumlah skor tiap indikatornya. Rerata jumlah skor angket motivasi peserta didik meningkat dari 63,89 pada Siklus I menjadi 74,67 pada Siklus II. Dengan demikian pembelajaran experiental learning mampu meningkatkan motivasi peserta didik.
d. Observasi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran
Observasi digunakan untuk mengetahui tahap-tahap kegiatan/aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar. Bentuknya berupa lembar observasi kemampuan afektif dan psikomotorik yang sudah dirinci menampilkan aspek-aspek dari proses yang harus diamati. Penilaian sikap afektif peserta didik yang diamati pada siklus I dan siklus II meliputi aspek: memperhatikan penjelasan guru, kedisiplinan, kerjasama, tanggung jawab dan kemampuan menjawab pertanyaan. Sedangkan penilaian sikap psikomotorik peserta didik yang diamati pada siklus I dan siklus II meliputi aspek: partisipasi melaksanakan observasi, bekerjasama, membuat laporan observasi, kemampuan menyimpulkan dan kemampuan bertanya dan berpendapat.
Perlu diketahui juga bahwa pada saat penelitian berlangsung, peneliti dibantu oleh dua orang observer yang merupakan mahasiswi UNSURI (Universitas Sunan Giri). Kedua mahasiswi tersebut bernama Siti Zulaikah sebagai observer I dan Istiqomah sebagai observer 2. Observasi dilakukan pada
50 setiap pertemuan. Secara lebih rinci lembar observasi aktivitas afektif dan psikomotorik masing-masing terdapat pada Lampiran 28 dan 29. Lembar observasi aktivitas afektif dan psikomotorik Siklus I dan Siklus II oleh observer 1 dapat dilihat pada Lampiran 30 dan Lampiran 31, sedangkan lembar observasi aktivitas afektif dan psikomotorik Siklus I dan Siklus II oleh observer 2 dapat dilihat pada Lampiran 32 dan Lampiran 33. Rekapitulasi hasil penilaian observasi aktivitas afektif peserta didik siklus I dan siklus II terdapat pada Lampiran 30 dan 32. Rekapitulasi hasil penilaian observasi aktivitas psikomotorik peserta didik siklus I dan siklus II terdapat pada Lampiran 34 dan 35. Pada Tabel 4.9 dan Tabel 4.10 di bawah ini disajikan hasil penilaian aspek afektif dan psikomotorik peserta didik siklus I.
Tabel 4.9. Hasil Penilaian Aspek Afektif dan Psikomotorik Siklus I
Kategori Afektif Psikomotorik
Pertemuan ke-2 2488 2494 Pertemuan ke-3 2652,5 2612
Jumlah 5140,5 5106
Rerata 58,41 58,02 Klasifikasi Cukup Cukup
Tabel 4.10. Hasil Penilaian Aspek Afektif dan Psikomotorik Siklus II
Kategori Afektif Psikomotorik
Pertemuan ke-5 3106 2866 Pertemuan ke-6 3236 2936 Jumlah 6342 5802 Rerata 72,06 65,93 Klasifikasi Baik Cukup
Berdasarkan Tabel 4.9 dan Tabel 4.10 di atas, Terdapat peningkatan aktivitas afektif dan psikomotorik peserta didik. Hal tersebut ditunjukkan oleh jumlah penilaian aspek afektif pada pertemuan kedua dan ketiga pada siklus I yaitu 5140,5 dengan nilai rata-rata sebesar 58,41 dengan kategori cukup.
51 Sedangkan jumlah penilaian aspek afektif pada pertemuan kelima dan keenam pada siklus II adalah 6342 dengan nilai rata-rata sebesar 72,06 dengan kategori Baik. Sedangkan jumlah penilaian aspek psikomotorik pada pertemuan kedua dan ketiga pada siklus I adalah 5106 dengan nilai rata-rata penilaian aspek psikomotorik tersebut sebesar 58,02 dengan kategori cukup. Jumlah penilaian aspek psikomotorik pada pertemuan kelima dan keenam pada siklus II adalah 5802 dengan nilai rata-rata penilaian aspek psikomotorik tersebut sebesar 65,93 dengan kategori cukup. Dengan demikian pembelajaran experiental learning mampu meningkatkan aktivitas peserta didik tiap siklus.