• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

Pengumpulan data pada penelitian ini dilaksanakan di Universitas Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan secara online dengan menggunakan google form dan link disebarkan melalui sosial media. Subjek penelitian yang diambil merupakan subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi.

Penelitian ini membahas karakteristik data dari responden yang meliputi usia, jenis kelamin, fakultas, pekerjaan orangtua, sumber infomasi, dan riwayat responden dengan orang henti jantung yang berperan dalam menilai tingkat pengetahuan mahasiswa non kesehatan di Universitas Sumatera Utara tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Tabel 4.1 Distribusi Berdasarkan Usia Responden

Usia n (%) usia 20 tahun 116 orang (28,2%), usia 21 tahun sebanyak 143 orang (34,7%), usia

22 tahun sebanyak 35 orang (8,5%), usia 23 tahun sebanyak 8 orang (1,9%) dan usia 24 tahun sebanyak 1 orang (0,2%). Data tersebut menunjukkan bahwa responden terbanyak adalah usia 21 tahun.

Tabel 4.2 Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin n (%)

Perempuan 283 68,7

Laki-laki 129 31,3

Total 412 100,0

Tabel 4.2 menunjukkan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 283 orang (68,7%) sedangkan laki-laki sebanyak 129 orang (31,3%). Data tersebut menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan.

Tabel. 4.3 Distribusi Berdasarkan Fakultas Responden

Fakultas n (%)

Tabel 4.3 menunjukkan responden pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebanyak 59 orang (14,3%), Fakultas Hukum 10 orang (2,4%), Fakultas Ilmu Budaya 29 orang (7,0%), Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi 23 orang (5,6%), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 14 orang (3,4%), Fakultas Kehutanan 13 orang (3,2%), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 41 orang (10,0%), Fakultas Pertanian 164 orang (39,8%) dan Fakultas Teknik 59 orang (14,3%). Hasil data tersebut menunjukkan bahwa responden terbanyak adalah dari Fakultas Pertanian.

Tabel 4.4 Distribusi Berdasarkan Pekerjaan Orangtua Responden

Pekerjaan Orangtua n (%)

Tenaga Medis 18 4,4

Non Medis 394 95,6

Total 412 100,0

Tabel 4.4 menunjukkan responden yang memiliki orangtua yang bekerja sebagai tenaga medis sebanyak 18 orang (4,4%) sedangkan non medis 394 orang (95,6%). Data tersebut menunjukkan mayoritas pekerjaan orangtua responden adalah non medis.

Tabel 4.5 Distribusi Berdasarkan Sumber Informasi Responden

Saudara/keluarga/teman 46 11,2

Total 412 100,0

Tabel 4.5 menunjukkan responden yang belum pernah mendapatkan informasi tentang RJP sebanyak 181 orang (43,9%), responden yang mendapat informasi dari internet sebanyak 147 orang (35,7%), media cetak 2 orang (0,5%), media elektronik 25 orang (6,1%), petugas kesehatan 11 orang (2,7%) dan dari saudara/keluarga/teman 46 orang (11,2%). Hasil data ini menunjukkan bahwa sebanyak 43,9% responden belum pernah mendapat informasi tentang RJP.

Tabel 4.6 Distribusi Berdasarkan Pengalaman Respoden Dengan Orang Henti Jantung

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebanyak 22 orang (5,3%) responden pernah memiliki pengalaman dengan pasien henti jantung dan 390 orang (94,7%) memilih tidak.

Tabel 4.7 Distribusi Jawaban Benar dan Salah Pada Setiap Pertanyaan

Pertanyaan

Jawaban Benar Jawaban Salah

n (%) N (%)

Henti jantung adalah kondisi gawat darurat dan dapat menyebabkan kematian pada korban dalam hitungan menit

357 (86,7%) 55 (13,3%)

Resusitasi jantung paru adalah tindakan yang terdiri dari pijat jantung, pembebasan jalan napas, dan pemberian bantuan pernapasan

283 (68,7%) 129 (31,3%)

Tindakan pijat jantung hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis

166 (40,3%) 246 (59,7%)

Pijat jantung sangat dibutuhkan korban henti jantung karena dapat mengembalikan fungsi jantung korban dan penolong aman karna merupakaan keadaan gawat darurat

120 (29,1%) 292 (70,9%)

Penolong harus memeriksa apakah ada respon dari korban goyangkan

230 (55,8%) 182 (44,2%)

pundaknya dan tanyakan “Apakah anda baik-baik saja?”

Ketika melihat orang dalam kondisi tidak sadar lakukan tindakan pijat jantung segera tanpa meminta bantuan

174 (42,2%) 238 (57,8%)

Untuk penolong awam yang belum terlatih harus segera menghubungi nomor gawat darurat dan mengikuti perintah dari petugas

348 (84,5%) 64 (15,5%)

Untuk penolong awam yang sudah terlatih hubungi bantuan kemudian periksa pernapasan korban, jika tidak ada lakukan pijat jantung segera dilakukan oleh orang yang sudah terlatih dari mulut ke mulut atau mulut ke hidung

78 (18,9%) 334 (81,1%)

Pijat jantung dilakukan dengan tekanan yang cepat dan kuat

155 (37,6%) 257 (62,4%)

Ketika menemukan korban henti jantung segera lakukan pijatan dua jari di atas ulu hati

175 (42,5%) 236 (57,3%)

Ketika ada korban henti jantung maka saya akan melakukan pijatan

59 (14,3%) 353 (85,7%)

di atas jantung secara berulang Pijat jantung harus terus dilakukan sampai korban menunjukkan tanda-tanda kesadaran

270 (65,5%) 142 (34,5%)

Pijat jantung tidak dapat dihentikan walaupun penolong merasa

kelelahan demi keselamatan nyawa korban

83 (20,1%) 329 (79,9%)

Jika tenaga medis telah tiba penolong dapat menghentikan tindakan pijat jantung

266 (64,6%) 146 (35,4%)

Pijat jantung harus terus dilkakukan walaupun sudah ada tanda-tanda kematian pasti yaitu kebiruan, kekakuan dan pembusukan yang nyata

166 (40,3%) 246 (59,7%)

Tabel 4.7 menunjukkan frekuensi responden yang menjawab benar dan salah pada tiap pertanyaan. Pada pertanyaan RJP adalah tindakan darurat untuk menyelamatkan korban henti jantung responden menjawab pertanyaan dengan benar sebanyak 316 orang (76,7%) dan yang menjawab salah sebanyak 96 orang (23,3%). Responden yang menjawab pertanyaan henti jantung adalah kondisi gawat darurat dan dapat menyebabkan kematian pada korban dalam hitungan menit dengan benar 357 orang (86,7%) dan mejawab salah 55 orang (13,3%).

Responden yang menjawab pertanyaan RJP adalah tindakan yang terdiri dari pijat jantung, pembebasan jalan napas, dan pemberian bantuan pernapasan dengan benar 283 orang (68,7%) dan menjawab salah 129 orang (31,3%). Responden yang menjawab pertanyaan tindakan pijat jantung hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis dengan benar 166 orang (40,3%) dan menjawab salah 246 orang (59,7%). Responden yang menjawab pertanyaan pijat jantung sangat dibutuhkan korban henti jantung karena dapat mengembalikan fungsiqq jantung menjadi normal dengan benar 304 orang (73,8%) dan menjawab salah 108 orang (26,2%).

Responden yang menjawab pertanyaan tindakan pijat jantung harus langsung dilakukan tanpa perlu memastikan lingkungan di sekitar korban dan penolong aman karna merupakaan keadaan gawat darurat dengan benar 120 orang (29,1) dan menjawab salah 292 orang (70,9%). Responden yang menjawab pertanyaan penolong harus memeriksa apakah ada respon dari korban goyangkan pundaknya dan tanyakan “Apakah anda baik-baik saja?” dengan benar 230 orang (55,8%) dan menjawab salah 182 orang (44,3%). Responden yang menjawab pertanya ketika melihat orang dalam kondisi tidak sadar lakukan tindakan pijat jantung segera tanpa meminta bantuan dengan benar 174 orang (42,2%) dan menjawab salah 238 orang (57,8%). Responden yang menjawab pertanyaan untuk penolong awam yang belum terlatih harus segera menghubungi nomor gawat darurat dan mengikuti perintah dari petugas dengan benar 348 orang (84,5%) dan menjawab salah 64 orang (15,5%). Responden yang menjawab pertanyaan untuk penolong awam yang sudah terlatih hubungi bantuan kemudian periksa pernapasan korban, ika tidak ada lakukan kompresi dada segera dengan benar 311 orang (75,5%) dan menjawab salah 101 (24,5%). Responden yang menjawab pertanyaan tindakan pijat jantung harus diawali dengan pemberian napas buatan terlebih dahulu dengan benar 81 orang (19,7%) dan menjawab salah 331 orang (80,3%).

Responden yang menjawab pertanyaan penyelamat awam yang sudah ataupun belum terlatih dapat memberikan napas untuk memberikan oksigenasi dengan benar 60 orang (14,6%) dan menjawab salah 352 orang (85,4%). Responden yang menjawab pertanyaan pemberian bantuan napas dapat dilakukan oleh orang yang sudah terlatih dari mulut ke mulut atau mulut ke hidung dengan benar 78 orang (18,9%) dan menjawab salah 334 orang (81,1%). Respoden yang menjawab pertanyaan pijat jantung dilakukan dengan tekanan yang cepat dan kuat dengan benar 155 orang (37,6%) dan menjawab salah 257 orang (62,4%). Responden yang menjawab pertanyaan ketika menemukan korban henti jantung segera lakukan pijatan dua jari di atas ulu hati dengan benar 175 orang (42,5%) dan menjawab salah 236 orang (57,3%). Responden yang menjawab pertanyaan ketika ada korban henti jantung, maka Saya akan melakukan pijatan di atas jantung secara berulang dengan benar 59 orang (14,3%) dan menjawab salah 353 orang

(85,7%). Responden yang menjawab pertanyaan pijat jantung harus terus dilakukan sampai korban menunjukkan tanda-tanda kesadaran dengan benar 270 orang (65,5%) dan menjawab salah 142 orang (34,5%). Responden yang menjawab pertanyaan pijat jantung tidak dapat dihentikan walaupun penolong merasa kelelahan demi keselamatan nyawa korban dengan benar 83 orang (20,1%) dan yang menjawab salah 329 orang (79,9%). Responden yang menjawab pertanyaan jika tenaga medis telah tiba penolong dapat menghentikan tindakan pijat jantung dengan benar 266 orang (64,6%) dan menjawab salah 146 orang (35,4%). Dan untuk pertanyaan pijat jantung harus terus dilkakukan walaupun sudah ada tanda-tanda kematian pasti yaitu kebiruan, kekakuan dan pembusukan yang nyata responden yang menjawab dengan benar sebanyak 166 orang (40,3%) dan yang menjawab salah 246 orang (59,7%).

Tabel 4.8 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Tentang RJP

Tingkat Pengetahuan n (%)

Baik 29 7,0

Cukup 110 26,7

Kurang 273 66,3

Total 412 100,0

Tabel 4.8 menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa tentang RJP.

Mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 29 orang (7,0%), pengetahuan cukup 110 orang (26,7%), pengetahuan kurang 273 orang (66,3%).

Data tersebut menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang paling banyak.

Tabel 4.9 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Usia kategori usia. Responden usia 17 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 0,0%, pengetahuan cukup 0,5%, dan pengetahuan kurang sebanyak 0,5%. Responden usia 18 tahun yang memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 0,7%, pengetahuan cukup 2,4%, dan pengetahuan kurang 4,4%.

Responden usia 19 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 0,7%, pengetahuan cukup 3,2%, dan pengetahuan kurang 14,1%. Responden usia 20 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 2,5%, pengetahuan cukup 8,0%, dan pengetahuan kurang 17,7%. Responden usia 21 tahuan memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 2,9%, pengetahuan cukup 10,4% dan pengetahuan kurang 21,4%. Respoden usia 22 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 0,2%, pengetahuan cukup 1,2%, dan pengetahuan kurang 7,0%. Responden usia 23 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 0,0%, pengetahuan cukup 1,0% dan pengetahuan kurang 1,0%.

Sedangkan responden usia 24 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik 0,0%, pengetahuan cukup 0,0% dan pengetahuan kurang 0,2%.

Tabel 4.10 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Tingkat Pengetahuan

Baik Cukup Kurang

Total

n (%) n (%) n (%)

Perempuan 24 (5,7%) 71 (17,2%) 188 (45,6%) 283 (100%) Laki-laki 5 (1,3%) 39 (9,5%) 85 (20,7%) 129 (100%) Total 29 (7,0%) 110 (26,7%) 273 (66,3%) 412 (100%)

Tabel 4.10 menunjukkan tingkat pengetahuan berdasarkan kategori jenis kelamin. Tingkat pengetahuan responden perempuan sebanyak 5,7% memiliki pengetahuan baik, 17,2% pengetahuan cukup dan 45,6% memiliki pengetahuan kurang. Sedangkan dari responden laki-laki memiliki pengetahuan baik sebanyak 1,3%, pengetahuan cukup 9,5% dan pengetahuan kurang 20,7%.berdasarkan hasil tersebut sebagian besar responden perempuan maupun laki-laki memiliki tingkat pengetahuan yang kurang.

Tabel 4.11 Distribusi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Fakultas Responden responden. Hasil dari data tersebut pada Fakultas Kehutanan responden yang memiliki pengetahuan baik 0,0%, pengetahuan cukup 0,7% dan pengetahuan kurang 2,4%. Fakultas Ekonomi dan Bisnis memiliki tingkat pengetahuan baik 0,2%, pengetahuan cukup 3,2% dan pengetahuan kurang 1,9%. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik memiliki tingkat pengetahuan baik 0,0%, pengetahuan cukup 1,5% dan pengetahuan kurang 1,9%. Fakultas Teknik memiliki tingkat pengetahuan baik 1,0%, pengetahuan cukup 4,4% dan pengetahuan kurang 9,0%. Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi memiliki tingkat pengetahuan baik 1,0%, pengetahuan cukup 1,0% dan pengetahuan kurang

3,6%. Fakultas Ilmu Budaya memiliki tingkat pengetahuan baik 0,2%, pengetahuan cukup 1,2% dan pengetahuan kurang 5,7%. Fakultas Pertanian memiliki tingkat pengetahuan baik 3,5%, pengetahuan cukup 12,1% dan pengetahuan kurang 24,3. Fakultas Hukum memiliki tingkat pengetahuan baik 0,2%, pengetahuan cukup 0,2% dan pengetahuan kurang 1,9%. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam memiliki tingkat pengetahuan baik 1,0%, pengetahuan cukup 2,4% dan pengetahuan kurang 6,6%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa Fakultas Pertanian memiliki tingkat pengetahuan kurang tentang RJP terbanyak.

Tabel 4.12 Distribusi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Pekerjaan Orangtua

Pekerjaan pekerjaan orangtua. Pada responden yang memiliki orangtua yang bekerja sebagai tenaga medis hasilnya 1,0% memiliki tingkat pengetahuan baik, 1,0%

pengetahuan cukup dan 2,4% pengetahuan kurang. Sedangkan pada responden yang orangtuanya bukan tenaga medis 6,0% memiliki tingkat pengetahuan baik 25,7% memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 63,9% memiliki tingkat pengetahuan kurang. Maka dari hasil data tersebut responden yang memiliki orangtua yang bekerja sebagai tenaga medis atau pun non medis mayoritas memiliki tingkat pengetahuan kurang tentang RJP.

Tabel 4.13 Distribusi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Sumber Informasi internet memiliki pengetahuan baik sebanyak 1,9%, pengetahuan cukup 11,4%

dan pengetahuan kurang 22,3%. Responden yang mendapat sumber informasi dari saudara/keluarga/teman memiliki hasil pengetahuan baik 1,4%, pengetahuan cukup 3,7% dan pengetahuan kurang 6,2%. Responden yang mendapat informasi dari media cetak memiliki hasil pengetahuan baik 0,0%, pengetahuan cukup 0,0% dan pengetahuan kurang 0,5%. Responden yang mendapat informasi dari media elektronik memiliki hasil pengetahuan baik 1,2%, pengetahuan cukup 1,9% dan pengetahuan kurang 2,9%. Responden yang mendapat informasi dari petugas kesehatan memiliki tingkat pengetahuan baik 0,2%, pengetahuan cukup 1,7% dan pengetahuan kurang 0,7%. Responden yang belum pernah mendapat informasi tentang RJP memiliki tingkat pengetahuan baik 2,3%, pengetahuan cukup 8,0% dan pengetahuan kurang 33,7%.

Tabel 4.14 Distribusi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Pengalaman Responden

Tabel 4.14 menunjukkan hasil bahwa responden yang memiliki pengalaman dengan orang henti jantung memiliki pengetahuan baik 0,0%, pengetahuan cukup 1,5% dan pengetahuan kurang 3,8%. Sedangkan responden yang tidak memiliki pengalaman dengan orang henti jantung memiliki pengetahuan baik 7,0%, pengetahuan cukup 25,2% dan pengetahuan kurang 62,5%. Responden yang memiliki atau tidak meiliki pengalaman dengan orang henti jantung mayoritas memiliki tingkat pengetahuan yang buruk tentang RJP.

4.2 PEMBAHASAN

Pembahasan pada penelitian ini difokuskan tentang karakteristik responden, pengetahuan responden tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang bersedia menjadi responden pada penelitian ini berusia 21 tahun yakni sebesar 34,7% usia tersebut termasuk kategori dewas tengah. Tuntutan kognitif dari kehidupan sehari-hari pada masa dewasa tengah terkadang lebih menantang. Dewasa tengah adalah waktu untuk memperluas tanggung jawab pada pekerjaan, kehidupan di masyarakat, dan di rumah. Untuk menjalankan peran dengan efektif, dewasa tengah perlu memperluas kemampuan intelektual meliputi akumulasi pengetahuan, kemampuan berbicara, memori, kecepatan menganalisa informasi, penalaran, pemecahana masalah, dan keahlian di bidang mereka masing-masing (Martin

Mike & Zimprich Daniel, 2005). Oleh karena itu usia dewasa tengah sangat perlu memperluas kemampuan dan ilmu pengetahuan terkait RJP.

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden terbanyak adalah perempuan yaitu sebesar 68,7. Perbedaan kognitif antara perempuan dan laki-laki tidak selalu muncul dalam berbagai bidang, ada kalanya menghilang di bidang lain, dan ketika mereka muncul hanya sedikit yang terlihat (Santrock, John W.

2003). Kesimpulannya pada penelitian ini perempuan dan laki-laki memiliki tingkat pengetahuan yang kurang tentang RJP namun belum tentu pada bidang lain.

Pada penelitian ini tingkat pengetahuan juga dipengaruhi oleh sumber informasi yang didapat responden terbukti sebanyak 43,9 % responden yang belum pernah mendapatkan informasi terkait RJP memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu 33,7%. Pada penelitian Hidayati (2020) sumber informasi tentang RJP terbanyak didapatkan responden melalui media televisi sejalan dengan penelitian Erawati (2015) juga menemukan bahwa 48,8% masyarakat mendapat informasi tentang RJP melalui media elektronik. Selain media visual, tenaga kesehatan harusnya dapat menjadi sumber informasi. Secara teori, tenaga kesehatan memiliki ilmu tentang RJP, namun pada penelitian ini hanya 2,7% yang mendapat informasi tentang RJP dari tenaga kesehatan. Hasil ini dapat disebabkan masih terbatasnya jumlah petugas kesehatan yang melakukan edukasi tentang RJP pada masyarakat awam.

Tingkat pengetahuan mahasiswa non kesehatan di Universitas Sumatera Utara tentang RJP secara umum kurang yaitu sebesar 66,3%. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Hidayati (2020) dimana sebanyak 55,6% masyarakat di wilayah Jakarta Utara masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Sedangkan penelitian yang dilakukan Erawati (2015) menunjukkan bahwa sebagian masyarakat memiliki tingkat pengetahuan baik. Perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terjadi karena kuesioner dan sampel yang digunakan berbeda.

Pengetahuan adalah informasi yang diketahui dan dapat dipelajari secara umum. Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan perilaku tetapi pengetahuan sangat penting diberikan sebelum suatu tindakan dilakukan.

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan biasanya akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan yang tanpa pengetahuan. Tinggi atau rendahnya pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : usia, pendidikan, pengalaman, dan informasi (Notoadmodjo, 2012).

BAB V

Dokumen terkait