BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Penegakan Aturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros
Kedisiplinan pegawai merupakan fungsi operasional manajemen sumber daya manusia yang sangat penting bagi kelangsungan organisasi, karena semakin baik kedisiplinan pegawai, semakin tinggi prestasi kerja yang dicapainya. Tanpa adanya disiplin kerja yang baik dari pegawai, sulit bagi setiap instansi pemerintah mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan. Oleh karenanya, adalah sangat penting penegakan disiplin kerja Pegawai Negeri Sipil dalam setiap instansi pemerintah, terutama untuk memotivasi pegawai agar dapat mendisiplinkan diri dalam melaksanakan pekerjaan, baik secara perorangan maupun kelompok, untuk mematuhi dan menyenangi peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik. Seperti halnya dengaan Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros dimana menegakkan disiplin kerja pegawai dengan baik.
a. Menaati ketentuan jam kerja
Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros merupakan salah satu instansi pemerintah yang melayani masyarakat dalam hal keagamaan sehingga membutuhkan penegakkan disiplin kerja pegawai dengan baik. Penegakan disiplin kerja akan berjalan dengan optimal jika ada kesadaran dalam diri setiap pegawai. Misalnya pegawai datang ke kantor dengan tepat waktu dan mentaati semua peraturan-peraturan yang berlaku. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M.T selaku Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Berdasarkan hasil wawancara dengan Beliau menyatakan bahwa:
“Jadi gini dek, berbicara tentang penegakkan disiplin kerja kepada pegawai, maka tentunya kami lakukan itu mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010. Dalam peraturan itu kan disebutkan bahwa salah satu pihak yang paling berperan dalam penegakkan disiplin kerja Pegawai Negeri Sipil adalah atasan. Dalam penegakkan disiplin kerja pegawai, saya menggunakan self imposed dicipline yaitu pelaksanaan disiplin yang timbul dari seorang pegawai atas dasar kerelaan dan kesadaran. Mengapa hal ini saya lakukan? karena disiplin kerja itu kan bisa ditegakkan ketika ada kesadaran dalam diri pegawai itu sendiri. Kan kasus-kasus yang banyak kita liat, itu tidak pernah keluar dari kurangnya kepedulian pegawai terhadap disiplin, mangkir bekerja atau meninggalkan tugas, dan tidak menjalankan tugas yang diberikan. Nah, makanya saya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe ini, menegakkan beberapa upaya dalam penegakkan disiplin kerja dan sudah dua orang saya berikan teguran secara lisan dan dua orang juga saya berikan teguran secara tertulis”.
“Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa Bapak Mr mengacu pada PP NO. 53 Tahun 2010 serta dalam penegakan disiplin kerja pegawai berjalan dengan baik dia menggunakan penegakan disiplin self imposed dicipline yakni pelaksanaan timbul atas dasar kerelaan dan kesadaran”.
b. Mencapai sasaran kerja pegawai
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ms selaku Staff Tata Usaha Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Berbicara mengenai penegakkan disiplin tentu berbicara pula mengenai pelanggaran. Kalo saya memperhatikan pelanggaran disiplin itu terjadi karena tidak adanya kesadaran dari pegawai itu sendiri. Misalnya, pegawai tidak bisa datang dan pulang tepat waktu. Nah dalam kondisi seperti ini membutuhkan keteladanan seorang pemimpin”.
“Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa apabila tingkat kedisiplinan pemimpin tinggi maka akan mencapai sasaran kerja pegawai dan disini membutuhkan keteladanan seorang pemimpin apabila seorang pemimpin datang tepat waktu maka otomatis bawahannya akan ikut juga rajin juga”.
c. Memberikan pelayanan
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Hd selaku Staff Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Dikantor kami ini dek, penegakkan disiplin kerja itu betul-betul diterapkan dengan baik oleh pimpinan kami. Saya memperhatikan dek, Bapak (Kepala KUA) orangnya sangat terbuka dan selalu memberikan kami pembinaan mengenai kedisiplinan kerja. Beliau selalu menyampaikan kepada kami bahwa apa yang kita lakukan itu selalunya berhubungan dengan ukhrawi kita. Membangun kepercayaan kepada masyarakat itu adalah hal sangat penting. Oleh karenanya, jangan sekali-kali membuat masyarakat kecewa atas pelayanan yang diberikan. Kan tidak ada susahnya kalo pulang kantor sesuai jamnya.‟‟
Berdasarkan Hasil wawancara dengan Fitriani selaku masyarakat, Desa Ciekang Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa;
„‟Saya selaku masyarakat, selama berurusan di KUA ini, sama sekali saya tida mendapatkan kesulitan-kesulitan. Mereka orangnya bae-bae semua.
Mereka ramah, sopan, dan pelayanannya bagus. Mereka selalu memberikan petunjuk kepada kami tentang proses pengurusan.‟‟
“Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan pelayanan harus maksimal jangan sampai mengecewakan masyarakat dengan pelayanan sebagai ASN dia harus menjadi panutan bagi masyarakat agar masyarakat dapat terpuaskan dengan pelayanan”.
d. Larangan menerima hadiah
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Mhd selaku pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Sebagai manusia, tentunya tidak ada yang tidak mau menerima pemberian dari orang yang sudah kita bantu. Istilahnya kan ucapan terima kasihnya. namun demikian dek (peneliti), di Kantor kami menerima hadiah dari orang yang kami bantu itu tidak boleh. ini tegas di sampaikan oleh Bapak (Kepala KUA) ke kami agar tidak menerima sesuatu atau hadiah dari orang yang kita bantu. tentunya kan kita bertanya-tanya, kenapa sih tidak boleh? karena ini akan berdampak pada pelayanan kepada masyarakat, akan ada perbedaan bentuk pelayanan. perbedaan bentuk pelayanan ini tida boleh terjadi.”
“Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa meskipun kita bantu tidak diperbolehkan untuk menerima hadiah dan tanda terima kasih karena pada hakikatnya PNS memberikan pelayanan masayarakat sebaik-baiknya”.
e. Tidak melakukan tindakan yang mempersulit
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sy selaku pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Perlu dek (peneliti) ketahui bahwa visi kami adalah memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Nah, jika ingin pelayanan bagus dimata masyarakat, tentunya kita tidak boleh mempersulit masyarakat ketika mereka berurusan dalam kantor. Kami tida boleh memberikan pelayanan yang kurang responsive, apalagi misalnya tidak mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Lagian, aktivitas keseharian kami kan berhubungan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.”
“Berdasarkan hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa dalam pelayanan dikantor tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang mempersulit karena bersentuhan langsung dengan masyarakat”.
Berdasarkan beberapa hasil wawancara tersebut, menunjukan bahwa penegakkan disiplin kerja Pegawai Negeri Sipil di Kecamatan Moncongloe itu berjalan dengan baik. Kepala Kantor Urusan Agama melakukan pendekatan self imposed dicipline dalam penegakkan disiplin kerja pegawai, karena kedisiplinan pegawai bisa berjalan dengan baik ketika ada kesadaran dalam diri pegawai yang bersangkutan. Disamping itu, keteladanan yang ditunjukan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe memberikan dampak positif dalam penegakkan disiplin kerja.
2. Penerapan Hukuman Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros
Suatu disiplin akan dapat ditegakan, bila disamping aturan tertulis yang terjadi pegangan bersama, juga perlu sanksi hokum. Sanksi hukum tidak hanya tertulis diatas kertas saja, tetapi benar-benar dilaksanakan dalam praktek sehari-hari. Maka perlu adanya keberanian
pimpinan untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya.
Sanksi hukum adalah hukuman yang dijatuhkan pada seseorang yang melanggar hukum. Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai. Karena dengan adanya sanksi hukuman yang semakin berat, pegawai akan semakin takut melanggar peraturan-peraturan organisasi, sikap dan perilaku indisipliner pegawai akan berkurang. Berat ringannya sanksi hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi baik buruknya kedisiplinan pegawai. Penerapan hukuman yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros berdasarkan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan dari hukuman ringan, hukuman sedang dan hukuman berat.
a. Hukuman ringan
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak M.T selaku Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, Beliau menyatakan bahwa:
“Saya sebagai pimpinan di Kantor ini dek, dalam penerapan hukuman disiplin kepada pegawai itu tetap mengacu pada Peraturan Pemerintah.
Kita tidak boleh asal memberikan hukuman kepada pegawai karena didasari oleh ketidakcocokan, tetapi berdasarkan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan Pemerintah mulai dari hukuman ringan, sedang dan hukuman berat. Saya kasi contoh, misalnya jika ada salah satu dari bawahan saya yang sering terlambat masuk kerja, bersantai-santai dan meninggalkan kantor sebelum waktu yang telah ditetapkan, pertama akan diberikan peringatan secara lisan dan jika pegawai tersebut masih mengulanginya maka akan diberi surat teguran secara tertulis. Jika masih mengulanginya maka akan dihukum sesuai dengan prosedur yang ada, bahkan jika pelanggarannya sudah tidak bisa ditoleril maka sanksi hukuman berat pasti diberikan. Tapi, alhamdulillah selama saya menjadi
Kepala Kantor Urusan Agama di Kecamatan ini belum ada pegawai yang saya layangkan teguran secara tertulis dan penjatuhan sanksi berat”.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Hd selaku Staff Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Penerapan hukuman disiplin itu sangat mempengaruhi kami sebagai Pegawai di Kantor ini, bagaimana tidak, karena Peraturan Pemerintah itu sangat jelas terhadap karier kami kedepan. Dikantor kami ini penerapan hukuman ringan yang sering diberikan atasan kami. Kami sangat-sangat menyadari hal itu karena Beliau (Kepala KUA) selalu memberikan kami teguran secara lisan dengan sangat sopan. Teguran diberikan untuk mengarahkan dan memperbaiki perilaku kami dan bukan untuk menyakiti kami. Penerapan hukuman disiplin kerja pegawai dikantor ini, menurut kami sudah berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang disiplin pegawai. Bapak (Kepala KUA) itu orangnya sangat disiplin dengan aturan”
Berdasarkan hasil wawancara dengan S.A selaku Penyuluh Agama Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Penerapan hukuman disiplin di Kantor kami ini dek sudah berjalan dengan baik. Sanksi hukum dilakukan untuk memupuk disiplin pegawai dalam bekerja. Dengan sanksi hukuman, pegawai akan semakin takut melanggar peraturan-peraturan, sikap, dan perilaku indisipliner pegawai akan berkurang. Peranan sanksi hukuman terhadap pegawai harus dilakukan secara adil melalui prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.
Saya memperhatikan, tindakan disiplin yang dilakukan oleh Bapak (Kepala KUA) merupakan langkah terakhir yang digunakan dalam melakukan pengawasan atau supervise kepada para pegawai. Bagi kami, Bapak (Kepala KUA) telah menerapkan hukuman disiplin sesuai dengan prosedur”.
“Berdasarkan hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa apabila ada pegawai yang melanggar aturan maka akan diberikan teguran secara lisan dan apabila masih melakukannya maka akan diberikan secara tertulis”.
b. Hukuman sedang
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Mhd selaku pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Sepengetahuan saya, pimpinan belum pernah memberikan sanksi hukuman sedang kepada kami. Kenapa saya katakana demikian?. karena kami tidak pernah mengalami penurunan gaji, dan penundaan kenaikan pangkat kami. ”
“Berdasarkan hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa tidak adanya pemberian hukuman sedang”.
c. Hukuman berat
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sy selaku pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, menyatakan bahwa:
“Jadi gini dek (peneliti), jangankan hukuman berat, hukuman sedang saja, pimpinan kami tidak pernah melayangkan kepada kami. Kan hukuman berat itu dilayangkan ketika hukuman sedang tidak bisa lagi memiliki nilai manfaat, begitupun dengan hukuman sedang. sepengetahuan saya belum ada salah seorang pegawai disini yang diturunkan jabatannya, non job, atau pemberhentian secara tidak hormat. Sama sekali belum ada yang saya lihat. lagian kan sanksi hukuman berat itu ketika ASN melakukan pelanggaran yang sangat fatal dan memang pelanggaran itu tidak dapat ditoleril lagi.”
Berdasarkan beberapa hasil wawancara diatas menunjukan bahwa penerapan hukuman disiplin yang dilakukan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan prosedur perundang-undangan. Penerapan sanksi hukuman kepada Pegawai Negeri Sipil memberikan dampak positif kepada pegawai karena akan semakin takut melaggar peraturan-peraturan organisasi, sikap, dan perilaku indisipliner pegawai akan berkurang.