Pada bab ini akan dibahas hasil analisis dan pembahasan. Data yang dianalisis didapatkan dari novel Gugur Bunga Kedaton. Berikut adalah deskripsi data yang didapatkan selama penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) Mendeskripsikan karakter utama dalam novel Gugur Bunga Kedaton karya Wahyu H.R menggunakan kajian antropologi sastra. 2) Mendeskripsikan plot dan peristiwa dalam novel Gugur Bunga Kedaton karya Wahyu H.R menggunakan kajian antropologi sastra.
Abrams dalam Nurgiyantoro (2005:165), mengungkapkan bahwa tokoh cerita (karakter) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang diakukan dalam tindakan.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memilki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Dalam penelitian ini, hanya dibahas tentang tokoh sentral dalam novel gugur Bunga kedaton. Hasil temuan penelitian tentang tokoh utama (sentral) tersebut adalah sebagai berikut.
Tokoh utama atau tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu:
c. Tokoh sentral protagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.
No Nama Tokoh Kutipan
1 Sultan Trenggono
Pangeran Trenggono termanggu-manggu
“Waktu mendesak, harap Pangeran segera mengambil sikap. Jika terlambat, kami khawatir tahta akan berpindah ke pangeran Kikin, yang bukan dari Jalur Sunan Ampel,” Kyai Mat Ngali bernada mendorong agar Pangeran Trenggno melakukan tindakan.
“Apakah para wali akan mendukung saya? Bila Tidak Ada jaminan, saya segan maju
(GBK, 2016:258)
“Baiklah akan saya pikirkan lebih dulu. Saya perlu mendapat petunjuk Allah!”
Pangeran perlu melakukan Shalat Istikharah pada tiga perempat malam!”
“Saya lebih senang melakukan Shalat Tahajud!” “BAiklah, terserah Pangeran saja!”
(GBK, 2016:258)
Hati-hati bicaramu! Dinding dan rumput pun punya telinga! Pangeran Trenggono mengingatkan anaknya yang bejiwa panas.
(GBK, 2016:260)
“Apa yang aku takuti? Sekalipun Kanjeng Sunan Kudus sendiri aku tidak takut!”
“Hmmm… Anak muda jangan takabur bicaramu! Diatas langit masih ada langit lagi! (GBK, 2016:260) “Apakah sebelumnya kau sudah minta ijin kepada gurumu yang lama?”
“buat apa minta ijin? Pasti dlarang! Aku sudah tidak cocok dengan paham Kanjeng Sunan Kudus yang kelewat ortodok dan konservatif, “ jawab Raden Mukmin
(GBK. 2016: 260)
“Aku nasehti kamu, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Bagaimanapun juga kanjeng Sunan Kudus adalah Wali Tanah Jawa yang telah ikut berjasa meletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam. Beliau adalah guru para sultan terdahuu, juga guru para pangeran serta bangsawan. Walau secara pribadi aku tidak menyukai warna dan gaya penyampaian ilmunya, namun aku tetap menghormati beliau.” (GBK, 2016:261)
Apa yang terjadi selama tiga purnama itu? Tanya Raden Mukmin
“Aku akan mencari jalan terbaik dan bijaksana! Jawab Pangeran Trenggono
“Jika itu sudah menjadi keputusan Ayahanda.” (GBK, 2016:261)
“Jangan berandai-andai, sesuatu yang masih di awang-awang. Itu tidak baik!”
“Menurut Kanjeng Romo, seberapa pentingkah undangan itu bagi kita?”
(GBK, 2016: 280)
“Jangan su’udzon tergesa-gesa menilai orang lain! “tegur Ayahandanya
“Setelah dukungan belliau terhadap muridnya sendiri untuk menjadi Raja?!”
Sambil menghela nafas berat, Pangeran Trenggono mencoba bersabar. (GBK, 2016: 281)
“Tapi jika aku tak datang memenuhi undangan beliau, maka akan ada penilaian buruk tentang diriku.
diperhitungkan orang, beliau masih menjabat sebagai Imam Agung Masjid Demak, kepala Dewan Walisongo yang bias menentukan siapa yang berhak menjadi Raja Demak berikutnya.”
(GBK, 2016: 281)
“Hmmm, jadi kau bukan utusan Sunan Kudus?” Pancing Pangeran Trenggono
“Kau boleh menebak sendiri, tapi Pangeran Jipan Panolan berkepentingan atas kematianmu. Keluarkan segala ilmu yang kau miliki. Bersiaplah!” kata Ki Blegor jumawa (GBK, 2016: 285)
“Jika kita tidak bertindak tegas, aku khawatir negara ini akan jatuh! Kata Sultan Trenggono memulai pembicaran.
“Ayahanda harus mewaspadai kelompok sempalan yang muncul di Cirebon.”
(GBK, 2016: 357)
“ Hmmm, masalah pribadi Gustimu Rara Galuh tidak semestinya kau mencampuri!”
(GBK, 2016: 630)
2 Rara Galuh “Jangan berkata musuh, musuh, musuh,. Aku kesal mendengarnya. Apa kau sangka bayi ini juga bukan bagian dari diriku, he? Aku juga di dalam bayi ini,” kata Rara Galuh menahan kepedihan hatinya.
(GBK, 2016: 628)
Rara Galuh sudah tidak peduli. Yang ia inginkan Cuma menyelamatkan bayi dalam kandungannya, agar kelak bisa menjadi penghiburnya, untuk menemani masa hari tuanya, dan anaknya tidak perlu tahu siapa ayahnya yang sesungguhnya (GBK, 2016: 628)
Rara Galuh terdiam beberapa saat. Ia merasa lebih dekat dengan Syarifa ketimbang dengan bunga melur. Karena Syarifa dipandang lebih dewasa dan lebih matang diantara mereka bertiga. Membunuh saudara angkat sama dengan mematikan tali persaudaraan yang pernah mereka ikat bersama. Seperti halnya ia pernah dipaksa untuk membunuh janin dalam kandungannya. Jika ia dipaksa membunuh Syarifa, ia pasti menolaknya.
(GBK, 2016: 636)
“Mari kita bicara baik-baik! Ajak Rara Galuh ikut mendinginkan suasana (GBK, 2016: 638)
“Kakangmbok Syarifa, di dunia ini ada berbagai kejadian yang tidak semuanya kita ketahaui, apa dan bagaimana akhir dari kehidupan, “ kata Rara Galuh seperti berteka- teki.
(GBK, 641)
Jangan ragu Adikku, demi perjuangan suci kita harus berani melakukan! Kata Bunga Melur member semangat dan Tekad kepada Rara Galuh (GBK, 2016:625)
Rara Galuh masih termanggu-mangu, matanya menerawang jauh. Menembus batas melewati angan, mengembara ke angkasa, melampui rumah, pohon, jalan, sungai, hutan, dan akhirnya singgah ke tempat tinggalnya, Desa Kedaton di Ujung Galuh.
“Adikku? Kau masih bimbang? Tegur Bunga Melur. Rara Galuh menghembuskan nafas, mencoba membuang sesak di dada
(GBK, 2016: 625)
Mata Rara Galuh terbelalak tak percaya mendengar usul Bunga Melur.
“Kau telah menjadi gila ya Kakangmbok?” pekiknya marah.
(GBK, 2016: 628)
“Kita belum tahu, apa posisi Kakangmbok Syarifa di dalam pasukan. Apa pengaruhnya jika melihat kita berada di pihak musuh. Sebaiknya kita tak berspekulasi membuat langkah yang justru akan menimbulkan sesal di kemudian hari. Aku tak setuju! Katanya mantap setelah berpikir sejenak (GBK, 2016: 637)
“ Aku butuh waktu Kakangmbok. Aku butuh berpikir jernih…..,” bisik Rara Galuh.
(GBK, 2016: 693)
“Aku datang tidak membawa apa-apa, maka aku pergi juga tidak membawa apa-apa!” (GBK, 2016: 717)
Berdasarkan tabel diatas, karakter tokoh utama adalah Rara Galuh sang Selir dengan Sultan Trenggono. Digambarkan Rara galuh adalah selir Raja yang mengikuti Raja berperang kemana-mana. Rara Galuh adalah wanita pemberani yang bersedia berkorban apa saja demi negaranya tercinta Bang Wetan. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan.
Kutipan 1
sungai, hutan, dan akhirnya singgah ke tempat tinggalnya, Desa Kedaton di Ujung Galuh.
“Adikku? Kau masih bimbang? Tegur Bunga Melur.
Rara Galuh menghembuskan nafas, mencoba membuang sesak di dada (GBK, 2016: 625)
Dalam kutipan tersebut, Rara Galuh sedang dilanda cinta kepada Sultan Tenggono yang seharusnya dibunuhnya, karena Sultan Trenggono adalah musuh negara. Namun, Rara Galuh harus memilih antara tugas dan cintanya. Karena sama-sama pelik, maka Rara Galuh memutuskan untuk berdiam diri sejenak dan memikirkan jalan keluar. Selain cinta kepada negaranya, karakter Rara Galuh yang lain adalah penuh kasih sayang. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan;
Kutipan 2
Jangan berkata musuh, musuh, musuh,. Aku kesal mendengarnya. Apa kau sangka bayi ini juga bukan bagian dari diriku, he? Aku juga di dalam bayi ini,” kata Rara Galuh menahan kepedihan hatinya.(GBK, 2016: 628)
Dalam kutipan tersebut, Rara Galuh tidak menganggap janin yang ada dalam dirinya adalah anak musuh sebab janin itu adalah anak kandungnya sendiri. Dia menyayangi janin dalam kandungannya itu dan ingin mempertahankannya. Keinginannya itu dipertegas pada kutipan;
Kutipan 3
Rara Galuh sudah tidak peduli. Yang ia inginkan Cuma menyelamatkan bayi dalam kandungannya, agar kelak bisa menjadi penghiburnya, untuk menemani masa hari tuanya, dan anaknya tidak perlu tahu siapa ayahnya yang sesungguhnya (GBK, 2016: 628)
Dalam kutipan tersebut Rara Galuh bertekad untuk tidak memperdulikan orang lain. Ia ingin menyelamatkan anaknya untuk menemaninya kelak di hari
tua. Dia bertekad bahwa anak itu tidak perlu mengetahui siapa bapaknya. Sebab, tugas untuk membunuh bapaknya ada di tangan Rara Galuh.
Kutipan 4
Rara Galuh terdiam beberapa saat. Ia merasa lebih dekat dengan Syarifa ketimbang dengan bunga melur. Karena Syarifa dipandang lebih dewasa dan lebih matang diantara mereka bertiga. Membunuh saudara angkat sama dengan mematikan tali persaudaraan yang pernah mereka ikat bersama. Seperti halnya ia pernah dipaksa untuk membunuh janin dalam kandungannya. Jika ia dipaksa membunuh Syarifa, ia pasti menolaknya.(GBK, 2016: 636)
Dalam kutipan tersebut, Rara Galuh adalah orang yang penuh kasih. Dia tidak menyakiti mereka yang telah dianggap saudara. Sebab memutuskan tali silaturahmi adalah hal yang tidak benar.
Kutipan 5
“Mari kita bicara baik-baik! Ajak Rara Galuh ikut mendinginkan suasana (GBK, 2016: 638)
Dalam kutipan diatas, Rara Galuh adalah orang yang berpikir panjang dan tidak menyukai keributan. Dia mengajak Syarifah yang berkelahi dengan Dyah Palupi untuk mendinginkan kepala dulu. Sebab emosi tidak akan meyeleesaikan masalah.
Kutipan 6
“Kakangmbok Syarifa, di dunia ini ada berbagai kejadian yang tidak semuanya kita ketahaui, apa dan bagaimana akhir dari kehidupan, “ kata Rara Galuh seperti berteka- teki.
Syarifa heran melihat perubahan sikap Rara Galuh.(GBK, 641)
Rara galuh digambarkan bijaksana dan penuh teka-teki. Bahasa yang digunakan Rara Galuh mengandung pesan bersayap yang tidak mudah diartikan
Berdasarkan kutipan diatas, karakter Rara Galuh adalah pemberani, pejuang, berkepala dingin dengan tidak tergesa-gesa bertindak dan penuh kasih sayang. Karakter Rara Galuh sangan kontras dengan tugas yang diembannya yaitu membunuh Sultan Trenggono. Meskipun pada akhirnya Rara Galuh benar-benar membunuh Sultan Trenggono, tapi penyesalannya kemudian membuat Rara Galuh memilh mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Karakter protagonis yang berikutnya adalah Sultan Trenggono. Sebelum menjadi Raja di Demak, beliau terlibat perseteruan dengan Pangeran Kikin yang sama-sama berhak mewarisi tahta demak. Berikut adalah penggambaran karakter Sultan Trenggono.
Kutipan 7
Pangeran Trenggono termanggu-manggu
“Waktu mendesak, harap Pangeran segera mengambil sikap. Jika terlambat, kami khawatir tahta akan berpindah ke pangeran Kikin, yang bukan dari Jalur Sunan Ampel,” Kyai Mat Ngali bernada mendorong agar Pangeran Trenggno melakukan tindakan.
“Apakah para wali akan mendukung saya? Bila Tidak Ada jaminan, saya segan maju
(GBK, 2016:258)
Dalam kutipan tersebut, Pangeran Trenggono adalah seorang yang berhati-hati dalam bertindak. Beliau memerlukan jaminan sebelum melakukan langkah yang lebih besar. Hal ini dikarenakan untuk menjaga rasa aman bagi dirinya. Selain berhati-hati, karakter sultan trenggono adalah religius. Beliau melaksanakan shalat untuk bisa lebih jernih mengambil keputusan. Dapat dilihat pada kutipan;
Pangeran perlu melakukan Shalat Istikharah pada tiga perempat malam!” “Saya lebih senang melakukan Shalat Tahajud!”
“Baiklah, terserah Pangeran saja!”(GBK, 2016:258).
Dalam kutipan tersebut, Sultan Trenggono memilih melakukan shalat tahajud. Dalam kutipan tersebut digambarkan watak sultan trenggono yang etguh, sebab dia memilih sholat tahajud alih-alih shalat istikharah.
Sultan Trenggono adalah orang yang waspada dan berhati-hati. Dapat dilihat dalam kutipan.
Kutipan 9
Hati-hati bicaramu! Dinding dan rumput pun punya telinga! Pangeran Trenggono mengingatkan anaknya yang bejiwa panas. (GBK, 2016:260)
“Apa yang aku takuti? Sekalipun Kanjeng Sunan Kudus sendiri aku tidak takut!” Hmmm… Anak muda jangan takabur bicaramu! Diatas langit masih ada langit lagi! (GBK, 2016:260)
Kehati-hatian Sultan Trenggono dan rasa hormatnya kepada seseorang yang dianggap gurunya juga dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
Kutipan 10
“Apakah sebelumnya kau sudah minta ijin kepada gurumu yang lama?”
“buat apa minta ijin? Pasti dilarang! Aku sudah tidak cocok dengan paham Kanjeng Sunan Kudus yang kelewat ortodok dan konservatif, “ jawab Raden Mukmin (GBK. 2016: 260)
Dalam kutipan diatas, dapat diketahui bahwa Sultan Trenggono adalah seorang yang hati-hati dan menghormati para gurunya dengan sepenuh hati meskipun sebenarnya beliau tidak menyukai sikap yang diambil oleh gurunya itu. Sikap Sultan Trengono yang menghormati gurunya meskipun tidak sepaham juga dapat dilihat dalam kutipan.
Kutipan 11
“Aku nasehati kamu, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Bagaimanapun juga kanjeng Sunan Kudus adalah Wali Tanah Jawa yang telah ikut berjasa meletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam. Beliau adalah guru para
sultan terdahuu, juga guru para pangeran serta bangsawan. Walau secara pribadi aku tidak menyukai warna dan gaya penyampaian ilmunya, namun aku tetap menghormati beliau.”(GBK, 2016:261)
Selain menghormati gurunya dan bertindak hati-hati, Sultan Trenggono juga tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dan beliau bijaksana. Hal tersebut terdapat dalam kutipan.
Kutipan 12
Apa yang terjadi selama tiga purnama itu? Tanya Raden Mukmin
“Aku akan mencari jalan terbaik dan bijaksana! Jawab Pangeran Trenggono “Jika itu sudah menjadi keputusan Ayahanda.”(GBK, 2016:261)
Berdasarkan kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter Sultan Trenggono adalah berhati-hati dan selalu waspada. Beliau adalah orang yang religius dan teguh pada pendiriannya sendiri.
d. Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
No Nama
Tokoh Kutipan
1 Ki Ajar Sosrobirawa
“Sabar, sabar, jangan sampai kemarahan yang menggumpal di hati kalian menutup kewaspadaan dan kehati-hatian. Walau kita marah, kesal, kecewa, sakit hati, dendam…tapi hendaknya kita bias bersikap tetap tenang dan tidak terbawa oleh emosi sesaat. Dalam keadaan tenang, kita bias berpikir jernih, masuk akal dan benar. Demak sekarang telah tumbuh menjadi kekuatan baru yang sulit dihadapi. Apalagi oleh kita yang tidak memiliki kekuatan pasukan segelar papan, “ kata orang tua itu menenangkan pengikutnya. (GBK, 2016: 271) Orang tua yang dipanggil Ki Ajar Sosrobirawa itu mengelus-elus jenggotnya yang putih. Ia memang sudah merencanakan sesuatu, tipu muslihat untuk jangka panjang.
(GBK, 2016:272)
“ Apa yang sudah kita usahakan ini belumlah cukup untuk melampiaskan dendam kesumat leluhur kita. Sebelum Demak runtuh dan hancur, anak cucu keturunan kita akan
selalu dihantui rasa bersalah, mengaa bangsa asing yang membawa masuk keyakinan baru dapat berkuasa di tanah sendiri? Oleh sebab itu aku perintahkan kepada kalian semua agar tetap kuat, menjaga persaudaraanm dan menjunjung tinggi perjuangan ini melebihi nyawa kita sendiri, “ Orang tua itu membuka penjelasan (GBK, 2016:272)
“Kekuatan jangan dilawan dengan kekerasan apabila kita tidak mampu. Itu sama saja dengan bunuh diri, mati konyol. Sebaliknya dengan kecerdikan kita bisa mengalahkan lawan yang lebih kuat dan lebih perkasa dari kita.”
(GBK, 2016:273)
“Racun yang kalian taruh pada makanan Pangeran renggono apa berhasil?”
Wajah semua yang hadir kembali menunduk sambil menggeleng lemah
(GBK, 2016: 273)
“Baik, laksanakan tugasmu. Tapi ingat, kau berjalan sendiri, tidak ada kaitannya dengan perkumpulan kita. Jika misimu gagal, musuh tidak akan curiga kepada kita!”
(GBK, 2016: 275)
Salah seorang pengikutnya,menangis menyesali kegagalan tugas yang diembannya.
“Saya minta maaf ki Ajar, Saya gagal meracuni Pangeran Trenggono!”
“Jangan putus asa!setidaknya kau telah berusaha. Untung aku membantu kalian dengan meninggalkan sepucuk surat yang seolah-olah dikirim oleh pihak Jipan Panolan, “ Kata Ki Ajar Sosrobirawa.
(GBK, 2016: 275)
“Hahahaha! Aku pastikan sekarang ini pihak Pangeran Trenggono mulai mencurigai pihak Pangeran Kikin. Setidaknya api curiga telah merayap membakar hati dan pikiran mereka. Tinggal kita menunggu hasilnya, apa yang akan dilakukan oleh pihak Pangeran Trenggono. Aku menduga akan ada suatu kejutan luar biasa yang akan menjadi pintu masuk pertentangan di antara keluarga keturunan Semopati Jimbun Al- Fath. Hahahaha…!”\
(GBK, 2016: 276)
“Aku tidak akan memaafkan penghianat! Siapa pun diantara kalian yang berkhianat kepada gerakan rahasia kita ini, maka aku bersumpah akan menghabisi seluruh keluarga kalian hingga tidak bersisa. Apakah kalian sudah siap menerima resikonya?!”
Tokoh antagonis dalam novel ini adalah Ki Ajar Sosrobirawa, berikut adalah penggambaran karakternya;
Kutipan 13
Sabar, sabar, jangan sampai kemarahan yang menggumpal di hati kalian menutup kewaspadaan dan kehati-hatian. Walau kita marah, kesal, kecewa, sakit hati, dendam…tapi hendaknya kita bias bersikap tetap tenang dan tidak terbawa oleh emosi sesaat. Dalam keadaan tenang, kita bias berpikir jernih, masuk akal dan benar. Demak sekarang telah tumbuh menjadi kekuatan baru yang sulit dihadapi. Apalagi oleh kita yang tidak memiliki kekuatan pasukan segelar papan, “ kata orang tua itu menenangkan pengikutnya. (GBK, 2016: 271)
Dalam kutipan tersebut, karakter Ki Ajar Sosrobirawa adalahpenyabar seperti singa yang menunggu mangsa. Beliau mengajarkan anak buahnya untuk bersabar dan waspada. Sebab jika ceroboh mereka bisa celaka. Karakter Ki Ajar Sosrobirawa yang licik dapat dilihat dalam kutipan;
Kutipan 14
Orang tua yang dipanggil Ki Ajar Sosrobirawa itu mengelus-elus jenggotnya yang putih. Ia memang sudah merencanakan sesuatu, tipu muslihat untuk jangka panjang. (GBK, 2016:272)
Selain licik, Ki Ajar Sosrobirawa juga dikenal sebagai lelaki yang pendendam. Beliau ingin menghancurkan demak sampai hancurtidask bersisa. Dapat diliht dalam kutipan.
Kutipan 15
“ Apa yang sudah kita usahakan ini belumlah cukup untuk melampiaskan dendam kesumat leluhur kita. Sebelum Demak runtuh dan hancur, anak cucu keturunan kita akan selalu dihantui rasa bersalah, mengaa bangsa asing yang membawa masuk keyakinan baru dapat berkuasa di tanah sendiri? Oleh sebab itu aku perintahkan kepada kalian semua agar tetap kuat, menjaga persaudaraanm dan menjunjung tinggi perjuangan ini melebihi nyawa kita sendiri, “ Orang tua itu membuka penjelasan (GBK, 2016:272)
Namun, Ki Ajar Sosrobirawa juga adalah seorang yang cerdik dan menguasai taktik. Beliau mengajarkan anak buahnya untuk janga melawan kekuatan dengan kekerasan. Sebab itu sma dengan bunuh diri.
Kutipan 16
“Kekuatan jangan dilawan dengan kekerasan apabila kita tidak mampu. Itu sama saja dengan bunuh diri, mati konyol. Sebaliknya dengan kecerdikan kita bisa mengalahkan lawan yang lebih kuat dan lebih perkasa dari kita.”(GBK, 2016:273)
Berdasarkan kutipan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Ki Ajar Sosrobirawa adalah seorang yang licik, penuh perhitungan, waspada. Cerdik dan penuh dendam kesumat. Dengan berbagai cara dia akan menyiapkan siasat untuk menghncurkan Demak.
2. Plot dan peristiwa dalam novel Gugur Bunga Kedaton menggunakan kajian antropologi sastra.
Stanton dalam Nurgiyantoro (2010:113) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Kenny dalam Nurgiyantoro (2010:113) mengemukakan plot sebagai peristiwa-peritiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.
(1) Hanya Arya Mataram yang ragu-ragu.
Karena ia tahu, kedudukan Pangeran Trenggono sebagai anak yang dilahirkan dari rahim permaisri diibaratkan adalah Putra Mahkota. Sangat
kuat dan didukung oleh banyak elemen masyarakat, mengingat Pangeran Trenggono selain sebagai Putra Mahkota juga keturunan langsung dari Sunan Ampel yang menjadi guru para Wali Tanah Jawa. Posisinya lebih menguntungkan disbanding ayahnya, yang kebetulan menjadi kakak tertua dari putra-putri Senopati Jimbun Al-Fath. Diantara para Wali Tanah Jawa terjadi perpecahan pendapat, sebagian menginginkan yang menjadi Raja Demak berikutnya adalah putra Mahkota. Tapi ada pula yang bersikeras bahwa pengganti Pangeran Sabrang Lor adalah Pangeran Kikin yang menjadi putra tertua pendiri Kerajaan Demak Bintoro ini. Peta kekuatannya boleh dibilang hamper seimbang. KArena walau banyak yang mendukung Pangeran Trenggono, namun kebanyakan mereka tidak mau tampil di depan. Sementara yang mengusung Ayahnya, Pangeran Kikin hanya gurunya sendiri, yakni Sunan Kudus dan para Ulama di Tajug. Hari-hari berikutnya menjelang pemilihan dan pelantikan Raja Demak yang baru, kehidupan bernegara tampak menunjukkan adanya persaingan keras di bawah permukaan. Demak Bintoro seolah terbelah menjadi dua kubu yang saling mendukung jagonya. Imbas persaingan politik di Demak itu akhirnya sampai juga di rakyat. Rakyat gelisah, masing-masing kubu mengekspresikan melalui tindakan nyata dan mengerucut menjadi benturan di lapangan. (GBK, 2016: 264).
Dalam kutipan tersebut diketahui plot yang ada adalah asal-usul kedua kandidat kuat untuk menjadi raja Demak berikutnya. Karena kedua pihak merasa mereka erhak mewarisi tahta, maka persaingan politik mereka berimbas kepada ketentraman rakyat.
(2) Pertarungan politik tidak bisa dielakkan. Masing-masing kubu telah membentuk persekutuan atau aliansi kekuatan baru. Semakin dekat waktu pemilihan dan penobatan Raja Demak yang baru, suasana kehidupan masyarakat Demak semakin khawatir, bahwa bisul yang membuat sakit